Saturday, July 23, 2011

Wisang Geni part Two Bab Satu

Kutukan Keris Berdarah

Bab Satu

Dendam Himalaya

Arjapura, laki-laki separuh baya bertubuh besar tapi tidak terlalu tinggi, berdiri disisi kapal layar besar yang mengarungi samudera Hindia. Dia memandang lautan luas yang sedang bergelora. Ombak besar dan angin kencang mengombang-ambing kapal seperti juga perasaan dalam dirinya yang berkecamuk amarah dendam.

“Wisang Geni, kamu telah membangunkan raksasa tidur. Kamu bunuh putraku, apakah kamu pikir semudah itu, setelah membunuh kamu bisa hidup tenang? Balas dendamku sangat kejam, akan kubunuh anak-anakmu, memerkosa isteri-isterimu, membiarkan kamu merasakan sakit hati seperti yang kurasakan. Setelah itu baru giliranmu kubunuh. Kamu pendekar nomor satu tanah Jawa, pikirmu bisa menahan ilmu dari gunung putih Himalaya? Aku datang membawa dendam berdarah dari Himalaya. Kamu tidak tahu aku datang, tetapi aku tahu kamu ada disana.”

Dia berkata kepada diri sendiri. Suaranya yang parau dan serak, ditelan gemuruh angin dan ombak samudera Hindia. Dia mengepal jari-jari tangannya, terdengar suara gemeretak, buku-buku jarinya memutih, kontras dengan kulit tubuhnya yang agak hitam. “Aku bersumpah, kamu akan mati secara mengerikan. Ingin aku meremas hancur dan mengunyah tubuhmu!”

Seakan sumpah dendamnya didengar lautan biru kehitaman seketika ombak dan gemuruh angin semakin besar. Laut bergolak. Beberapa saat kemudian laut menjadi lebih tenang. Ombak dan angin kencang kembali ke fase normal.

Arjapura telah menempuh perjalanan jauh dari Himalaya. Saking ingin cepat-cepat tiba di tanah Jawa, dia menempuh jalur berbahaya dan angker dinegeri Nanzhao Yunnan, Burma. Dia melayari sungai Ayeyarwadi dari utara ke selatan. Beberapa kali dihadang perampok dan penjahat tetapi ilmu-silatnya yang tinggi tak memberi peluang para penjahat untuk menjarah barang dagangannya. Barang-barang akan dijualnya di pelabuhan Jedung sebagai modal dagang dan hidup. Dia tak tahu berapa lama akan menetap, mungkin juga tak akan kembali ke Himalaya, karena tahu untuk melakukan tarung balas dendam, seseorang harus menggali dua liang lahat.

Berlayar sendirian menuju tanah Jawa sungguh perbuatan yang kelewat berani. Demi dendam yang menyiksa dirinya, yang membuat tidurnya tidak nyenyak, dia rela meninggalkan isteri dan anak-anaknya serta kehidupan damai di kawasan Himalaya. Bagaimanapun juga dia teringat akan keluarganya, isteri pertamanya, isteri-isteri mudanya dan anak-anaknya serta murid-murid yang sedang belajar di perguruannya.

Satu bulan sebelumnya dia bersama isteri pertama Pujadewi, ibu kandung Wasudeva. dan tiga adik Wasudeva pergi ke perguruan Yudistira. Mereka menanyakan keberadaan Wasudeva dari dua murid utama Yudistira yang baru pulang dari tanah Jawa. Sudah dua tahun Wasudeva pergi dan tak ada kabar beritanya.

Mereka terkejut mendengar kabar kematian Wasudeva dalam pertarungan di tanah Jawa. Arjapura marah, wajahnya yang hitam merona merah. Pujadewi menangis. Bismata dan dua adiknya berteriak marah. Suasana riuh. Murid dan pelayan di perguruan Yudistira ketakutan tapi diam-diam bersikap waspada.

“Bagaimana matinya?” Tanya Arjapura.

“Dia mati terhormat, tuan. Tarung satu lawan satu.”

Arjapura memukul meja. Empat kaki meja amblas ke dalam tanah. Permukaan meja pecah berantakan. Wajahnya memerah tanda kemarahan luar biasa. Terdengar suara geramnya macam harimau raksasa ngamuk.

Suami isteri murid Yudistira merunduk dengan tubuh gemetar ketakutan, berkata lirih. “Maaf, tuan. Kami tidak campur tangan, guru Yudistira dan keluarganya juga tidak campur tangan, itu pertarungan dua pendekar. Tuan Wasudeva tarung secara ksatria dengan pendekar tanah Jawa. Kami semua berharap kemenangan di pihak tuan Wasudewa, tetapi apa hendak dikata, karma dewata menentukan putra tuan mati dalam tarung.”

“Siapa namanya, laki-laki yang membunuh putraku?”

“Wisang Geni.”

“Siapa orang itu?

“Dia ketua perguruan Lemah Tulis, ilmu silatnya tinggi, orang-orang menjulukinya pendekar nomor satu tanah Jawa. Dia pernah mengalahkan beberapa pendekar utama dari Kuangchou. Dia, suami Gayatri. Tadinya guru sangat marah mendengar Gayatri menikah dengan Wisang Geni. Tapi entah bagaimana mungkin karena sayang pada putrinya, guru Yudistira akhirnya mau menerima Wisang Geni sebagai anak mantunya.”

“Gurumu mengakui dia sebagai anak menantu sebelum atau sesudah kematian putraku?”

“Sesudah kematian putra tuan.”

“Mereka tinggal di Lemah Tulis?” Desak Arjapura.

“Tidak. Wisang Geni dan keluarga guru tinggal di lereng Timur gunung Welirang.” Tutur murid Yudistira.

“Ceritakan selengkapnya.” Desis Pujadewi. Matinya Wasudeva putra tertuanya, suatu pukulan berat baginya. Putranya itu calon pengganti ayahnya sebagai ketua perguruan Arjapura. Kini dia mengandalkan putra keduanya, Bismata dan dua adiknya.

Murid Yudistira menceritakan detail pertarungan Wisang Geni lawan Wasudeva di atas geladak kapal.

Lima tamu dari perguruan Arjapura terpahna, terpengaruh cerita tarung dahsyat itu. Arjapura marah tetapi masih bisa mengendalikan diri dan menekan emosi keluarganya.

Murid Yudistira memberi hormat. “Maafkan kami suami isteri, jika cerita ini membuat tuan sekeluarga marah dan berduka. Sesungguhnya kami semua, guru Yudistira dan keluarga besar, ikut berduka, tetapi kata guru, kami semua tidak bisa berbuat apa-apa, tidak bisa ikut campur, itu pertarungan dua ksatria yang tidak bisa terhindarkan.”

Arjapura kembali ke perguruannya mengatur segala sesuatu. Menyerahkan perguruan ke tangan isteri dan anak-anaknya. Dia berpesan. “Kalian atur perguruan dengan baik, jika aku tidak kembali dalam waktu tiga tahun itu artinya aku mati. Dan kalian tidak boleh pergi ke tanah Jawa untuk mencari aku atau membalas dendam. Matinya Wasudeva maka aku tetapkan Bismata sebagai ketua perguruan, dia akan didampingi ibunya Pujadewi. Tidak boleh ada perkelahian antar sesama saudara dan semua keluarga harus bersatu dan hidup dalam keharmonisan. Ingat itu.”

***

Arjapura tiba di pelabuhan Jedung. Dia menyamar sebagai pedagang, membawa banyak barang dagangan. Yang pertama-tama dia lakukan, mencari tempat tinggal. Dia menyewa rumah kecil di desa Karambang, desa cukup besar dan rame yang bertetangga dengan pelabuhan Jedung. Dia menggelar barang jualannya di emperan rumah.

Menggunakan sedikit bahasa Jawa yang dipelajarinya dari seorang pedagang diatas kapal disertai bahasa isyarat tangan, dia bisa melakukan transaksi jual beli.

Suatu hari dia kedatangan suami isteri Minten dan Parto yang memiliki warung di pelabuhan Jedung. Itulah rumah besar berfungsi sebagai warung makan merangkap tempat jualan berbagai macam barang keperluan.

Suami isteri itu tertarik dengan barang dagangan yang dibawa Arjapura, menawarkan kerjasama berbagi keuntungan. Arjapura setuju. Dia tidak perlu lagi bersusah-payah menjajakan barang, tetapi memercayakan pada suami isteri itu untuk menjualnya. Dia hanya mengawasi tanpa harus memperlihatkan diri dihadapan publik.

Menetap di warung Minten di pelabuhan Jedung itu dia mendapat satu kamar yang bersebelahan dengan kamar suami isteri itu.

Selama beberapa malam dia mengetahui apa yang terjadi di kamar sebelah. Minten sering menangis mengutarakan kekesalan lantaran suaminya tidak bisa memenuhi hasrat seksnya. Dan Parto hanya bisa membujuk dan minta maaf.

Di siang hari Arjapura bisa menangkap hasrat birahi dari pancaran mata Minten saat keduanya bertatapan. Perempuan itu sering tersenyum, menawarkan makanan, melayani dan menungguinya makan.

Jika melangkah didepan Arjapura, perempuan itu sengaja melenggok memperlihatkan goyangan bokong semoknya yang dibungkus sewek ketat. Jika berbicara soal barang dagangan, perempuan bernama Minten itu sengaja menatapnya dengan pandangan berbinar atau menggerakkan mulutnya dengan genit.

Terbersit akal licik Arjapura.

Menggunakan tenaga batinnya yang sudah mencapai taraf tinggi dia menyalurkan sihir memengaruhi pikiran Minten.

Fantasi perempuan usia duapuluhenam tahun itu mulai melihat kejantanan tetamunya. Dia gelisah dan makin gelisah, hasrat seksnya makin membakar akal sehatnya setiap bertatap muka dengan Arjapura.

Hari itu ketika Parto menjaja barang dagangan ke beberapa desa tetangga, Minten menggoda dan memancing tetamunya. Arjapura tak menyia-siakan peluang yang sudah ditunggu-tunggu, menarik Minten masuk kamarnya.

Beberapa hari setelah perselingkuhan itu, Parto kedapatan mati ditepi kali Porong. Sejak hari itu Arjapura menjadi suami Minten. Tidak perlu ada pesta kawin atau keramaian, orang-orang pun tidak perduli apakah itu suami isteri resmi atau tidak resmi.

Rencana pertama Arjapura sudah terlaksana, menetap di suatu tempat dimana dia bisa memantau kegiatan pelabuhan Jedung, mengetahui masuk keluarnya kapal layar. Dengan demikian dia bisa memantau kepulangan rombongan Yudistira ke Himalaya.

Dia memang menanti saat yang tepat untuk mulai membunuh anak-isteri Wisang Geni, saat dimana keluarga Yudistira tidak lagi kumpul bersama. Target utamanya adalah anak-isteri Wisang Geni, setelah itu baru membunuh musuh besar pembunuh putranya itu.

Untuk membunuh keluarga Wisang Geni, dia harus menunggu saat Yudistira pulang ke Himalaya. Dia tak mau bentrok dengan pendekar Himalaya itu yang sesungguhnya adalah sahabatnya. Meskipun kini merasa mampu mengalahkan Yudistira namun dia merasa tidak bermanfaat bentrok dengan Yudistira.

Dia hanya menginginkan nyawa Wisang Geni, isteri dan anak-anaknya. Dan satu-satunya jalan aman memuluskan rencananya jika rombongan keluarga Yudistira sudah pulang. Dia menunggu saat yang tepat.

“Aku harus sabar. Menunggu saat yang tepat. Sekarang aku berada di tempat gelap, tidak seorang pun tahu siapa aku, Minten pun tidak pernah tahu aku memiliki ilmu-silat tinggi, dikiranya aku pedagang biasa.” Itulah rencananya.

Pada waktu-waktu tertentu dimana air laut pasang dan topan mengamuk di samudera luas, tidak akan ada perahu besar datang atau berangkat meninggalkan pelabuhan Jedung. Saat itu, untuk menjual barang dagangannya dia bersama isterinya pergi ke desa-desa di sekitar. Mereka menggunakan jasa orang-orang Brantas sebagai pengawal dan penunjuk jalan. Dia merasa perlu mengetahui dan mengenal jalanan di tanah Jawa.

Suatu hari mereka tiba di desa Sadayu, tidak jauh dari kaki gunung Welirang.

Dini hari itu setelah bercinta dengan Minten, dia berpesan pada isterinya. “Aku harus pergi ke suatu tempat, ada yang harus kukerjakan. Nanti malam aku sudah kembali.”

Pagi itu Arjapura melakukan perjalanan cepat ke lereng gunung Welirang, dia sudah punya gambaran tempat tinggal Wisang Geni dan keluarga Yudistira dari cerita sepasang suami isteri murid Yudistira itu.

Tetapi dia tidak berbuat sesuatupun. Dia hanya menyelidiki. Melihat dan memeta rumah-rumah yang dihuni Wisang Geni dan keluarga besar Yudistira. Itulah perkampungan kecil dengan beberapa rumah. Tampak aktifitas penghuninya.

Samar-samar dia mengetahui penghuni kawasan kecil itu semuanya orang-orang yang menguasai ilmu-silat. Dia tak berani gegabah, sadar Wisang Geni berilmu tinggi, apalagi ada Yudistira dan keluarganya. Maka dia semakin memastikan akan menyerang Wisang Geni hanya jika Yudistira sekeluarga pulang ke Himalaya.

“Guru masih mau menetap satu atau dua tahun lagi. Setelah itu mereka akan kembali ke kampung halaman.” Tutur murid Yudistira waktu itu.

Selama satu tahun menetap di tanah Jawa, Arjapura sudah mahir bahasa Jawa yang dipelajarinya dari Minten. Memasuki tahun kedua perkawinannya, Minten hamil besar. Dia juga mendirikan rumah kecil di daerah perbukitan desa Karambang.

Dari rumah itu dia bisa melayangpandang ke pelabuhan Jedung bahkan sampai perairan dimulut pelabuhan. Seringkali Minten istirahat di rumah di perbukitan sementara warungnya di Jedung dijaga adik laki-lakinya dan para pembantunya.

Pada tahun kedua itu Minten melahirkan seorang bayi perempuan diberi nama Lastri.

Dibalik keanehan dan kekejaman sifat egoisnya Arjapura tetaplah manusia biasa yang mencintai anak darah daging sendiri. Lahirnya Lastri menjadi semacam perekat hubungan Arjapura dengan Minten.

Arjapura hidup menyepi, menjauh dari pandangan umum baik dirumah di Karambang maupun di warung Jedung. Hanya Minten dan para pembantunya yang bergaul rapat dengan penduduk setempat. Dia sendiri tetap menyembunyikan nama dan asal usulnya, penduduk sekitar mengenalnya sebagai Pura si Pedagang dari Tanah Seberang.

Rumah kecilnya di Karambang strategis, berada di perbukitan tinggi dekat kali Porong, dimana dia bisa memantau lalulintas sekitar pelabuhan Jedung, kapal-kapal asing yang datang dan pergi ke negeri seberang. “Jika Yudistira pulang ke Himalaya, aku akan segera mengetahuinya, saat itulah tiba saatnya perburuanku dan kematian bagi Wisang Geni serta anak isterinya.”

Memenuhi hasrat birahinya yang besar Arjapura sering melakukan perjalanan ke desa-desa sekitar dan secara sembunyi meniduri wanita-wanita yang disukainya. Tetapi dia tak pernah lupa melatih jurus-jurus silatnya. Setiap hari senggang dia semedi memperdalam kekuatan batinnya untuk menambah bobot sihirnya. Ada waktu-waktu tertentu di malam hari dia berlatih jurus silat di tempat sepi.

Di Himalaya di kawasan yang menjadi wilayah kekuasaannya dia tak punya tandingan, semua orang segan dan takut. Kemana dia pergi, orang akan menghormati dan menaruh rasa takut dan segan. Banyak pendekar sudah takluk dan bertekuk-lutut dibawah kakinya.

Orang-orang di kawasannya membayar upeti kepadanya sebagai balas jasa proteksi yang dia janjikan, bahkan putri mereka pun disodorkan untuk menjadi isterinya. Di kawasannya Arjapura adalah raja tanpa mahkota, raja yang menentukan mati hidup dan nasib orang-orang disekitarnya.

“Hanya Yudistira yang bisa menandingiku! Tapi kini dengan ilmu ciptaanku yang baru, aku pasti bisa mengatasi Yudistira!” Dia memandang langit. “Aku tak perlu takut terhadap Yudistira. Dulu aku kalah. Tetapi sepuluh tahun terakhir ilmu-silatku sudah meningkat jauh. Jika Yudistira membantu Wisang Geni, akan kulibas semua, tanpa ampun!”

Arjapura tenggelam dalam pemikiran tentang ilmu-silat Wisang Geni.

Membandingnya dengan bobot kualitas ilmu-silat Wasudeva, putranya. Dia tahu sampai dimana tingkat kualitas ilmu-silat putranya, namun jika menurut cerita murid dan pelayan Yudistira itu maka jelaslah ilmu Wisang Geni lebih tinggi dari Wasudeva.

Ilmu sapno tasafar haimeri dilka yeh bhawarhai (inilah perjalanan impian, pusaran tujuan hatiku) yang memiliki perubahan 11 jurus mematikan. Ilmu is mein doobjana zarasa lamha chupata khwab milgaya (banyak waktu yang lenyap kini telah kembali) terdiri 17 jurus. Atau ilmu hum samundar ke andaarchale (menuju kedalaman laut samudera) dengan 7 jurus pukulan bercampur sihir kuat. Juga 5 jurus bahutzara hashtato tothodasa pagal chaknahai (tertawalah terus dan kamu akan seperti orang gila) yang sangat diandalkan.

Ternyata semuanya bisa dimentahkan Wisang Geni.

Dia berpikir keras. Meskipun tenaga-dalam Wasudeva kalah dari Wisang Geni, namun dengan tenaga-dalam seperti yang dimiliki putranya serta jurus-jurus mematikan bercampur sihir kuat, seharusnya Wasudeva tidak akan kalah. Jadi kalau sampai kalah dan terbunuh, jelaslah tenaga-dalam dan ilmu Wisang Geni tidak bisa dianggap remeh. Apalagi cerita keberhasilannya mengalahkan jago-jago Kuangchou sehingga dia dinobat sebagai pendekar nomor satu tanah Jawa.

Arjapura tiba pada satu kesimpulan bahwa Wisang Geni adalah musuh yang tak mudah dikalahkan. Namun dia yakin ilmu-silat yang dimilikinya, tenaga-dalamnya yang dilatihnya puluhan tahun serta jurus-jurus baru gubahannya dua tahun terakhir di Himalaya. Terutama pukulan tapak tangannya yang mengandung racun mematikan.

Selama lima tahun terakhir dia tekun melatih jurus-jurus yang diwarisinya dari gurunya pendekar gunung putih yang sangat ditakuti di wilayah Himalaya. Dia melatih tangan salju, memasukkan tangan ke bongkah salju paling dingin dan menyerap racun dari kalajengking biru yang sangat berbisa, piaraan sang guru. Dari gurunya dia juga melatih ilmu sihir penakluk dewa dan berbagai jenis racun berikut pemunahnya.

Pukulan tangan salju atau terkadang disebutnya pukulan kalajengking biru atau pukulan racun dingin, jika mengena tubuh lawan serta merta akan mengirim racun dingin kedalam tubuh musuh yang dalam hitungan satu sampai tiga hari akan mati keracunan.

Bagian tubuh yang kena pukulan akan berwarna biru. Tanda biru itu akan menjalar ke bagian tubuh lain sedikit demi sedikit tergantung lemah kuatnya tenaga-dalam musuh. Jika warna biru itu mencapai bagian dada maka jantung akan berhenti berdetak.

Awalnya ambisi Arjapura mengubah jurus-jurus baru yang mumpuni karena ingin memenangi persaingannya dengan Yudistira. Dia hanya ingin memperlihatkan kepada Satyawati, isteri Yudistira, wanita yang dicintainya itu, bahwa dia kini lebih unggul dari Yudistira. Hanya itu.

Tetapi dalam perkembanganya ketika gurunya siluman gunung putih Himalaya mulai menambah bobot sihir kedalam jurus pukulannya, dia terperosok kedalam misteri sihir yang lalu disadarinya akan menjadi kekuatan ilmu silatnya. Dia makin tekun mendalami sihir memasukkan kekuatan magis itu kedalam jurus-jurus pukulan barunya.

Jadilah beberapa jurus mematikan yang berbau sesat, dingin membeku menuju nirvana, jembatan asmara melayang diangkasa, pijar api dari neraka, panas membakar bumi, dingin membeku alam, bunga-bunga mengharumi bidadari, asmara ditengah badai salju, bunga salju tidak sanggup memadam birahi.

Delapan jurus ini disempurnakannya dengan memasukkan unsur sihir kedalamnya. Jurus yang sulit diduga, tenaga-dalamnya yang tinggi hasil latihan puluhan tahun, racun dingin pada tapak tangannya, tiga unsur ini telah meningkatkan ilmu-silatnya dua kali lipat dari sebelumnya. Ditambah lagi sihir kuat pada setiap pukulan dari delapan jurus itu maka jadilah gerakan itu sebagai jurus mematikan.

Pada akhir pendalaman ilmu-silatnya dia mengawinkan delapan jurus barunya kedalam ilmu andalannya “bahutzara hashtato tothodasa pagal chaknahai” (tertawalah terus dan kamu akan seperti orang gila) yang tadinya hanya 5 jurus menjadi 13 jurus.

Ilmu itu tidak hanya untuk ilmu-silat tangan kosong tetapi bisa dimainkan dengan senjata sabuk lemas yang terbuat dari baja lentur berwarna putih mengilat. Sabuk yang melilit di pinggangnya itu sewaktu-waktu bisa berubah menjadi senjata mematikan.

Dia yakin ilmu andalannya ini akan mengangkatnya sebagai pendekar nomor satu Himalaya dimasa datang. Tak dinyana, ilmu dahsyat itu akan dijajalnya di tanah Jawa ini, dan tubuh orang yang jadi sasarannya tidak lain Wisang Geni.

Seringkali dimalam hari dihutan kawasan desa Karambang, Arjapura berlatih ilmu-silat memainkan semua jurus-jurus miliknya. “Wisang Geni akan kubunuh secara mengerikan,” janjinya dalam hati setiap dia melatih pukulannya.

***

Kawasan desa Karambang dan pelabuhan Jedung rame dengan pedagang asing dan pedagang negeri, para pelancong dan penjual jasa. Peredaran uang dan juga sistem barter menjadi pemasukan besar bagi keraton.

Kapal-kapal layar besar dari Asia Barat maupun Asia Timur hampir setiap bulan merapat. Para pedagang asing pun sibuk mencari barang domestik sambil menjual atau membarter dengan barang dagangan bawaannya. Perahu layar besar dari tanah Jawa belahan Barat atau dari kerajaan di Sumatera dan Kalimantan, ikut meramaikan perdagangan di pelabuhan Jedung.

Setiap bulan purnama semua pedagang dan pemilik warung setor pajak atau upeti kepada Kepala Desa Karambang. Pajak itu dibagi separuh untuk keraton, tigapuluh bagian untuk desa dan duapuluh bagian untuk perguruan Brantas.

Keraton Tumapel adalah pemilik wilayah. Perguruan Brantas penjaga ketertiban dan keamanan. Perusuh, pencopet, perampok atau pencuri jika tertangkap dibunuh ditempat. Setiap hari kelima awal bulan, orang-orang dari keraton Tumapel yang diwakili adipati Gajah Pringgon, penguasa pelabuhan Jedung datang mengambil pajak. Begitu juga wakil perguruan Brantas yang menagih uang jasa keamanan.

Selain itu perguruan Brantas punya hak monopoli transportasi sungai, mengantar jemput para pedagang ke tempat tertentu. Mengandalkan murid-muridnya yang lihai silatnya dan yang berjumlah ratusan maka tidak pernah terjadi pedagang asing dirampok atau dibunuh. Para perampok hutan hanya akan merampok pedagang yang berjalan sendiri dan tidak menggunakan jasa perguruan Brantas.

Dari hak monopoli ini perguruan Brantas membayar upeti kepada keraton dalam jumlah yang ditentukan keraton. Beberapa tahun silam, ketua Brantas, Manyar Edan yang tabiatnya aneh, memberontak dan menolak membayar pajak.

Keraton mengirim pasukan pemukul dan pemanah masing-masing terdiri 50 prajurit yang dipimpin tujuh dari 18 pendekar Tumapel.

Hanya dalam setengah hari penyerangan. Panah api, panah biasa, tombak dan tarung dengan keris, perguruan Brantas luluh lantak. Kocar kacir.

Satu kapal besarnya rusak dilalap api. Tiga perahu kecil tenggelam. Lima puluh tujuh muridnya tewas.

Dan sang ketua, Manyar Edan, mengemis-ngemis minta ampun.

Keraton memberi pengampunan tapi dengan perjanjian seumur hidup membayar upeti sebagai tanda setia. Brantas patuh.

Mungkin karena malu Manyar Edan mengundurkan diri. Dia mengangkat putranya yang sulung, Warok menjadi ketua. Sejak itu perguruan Brantas tidak berani lancang membentur orang-orang keraton.

Mereka terikat janji mengawal utusan keraton yang datang mengambil upeti dari pelabuhan dan mengawalnya sampai perbatasan istana Tumapel.

Arjapura pendekar berilmu-tinggi. Dia percaya kemampuan ilmu-silatnya. Tetapi dia seorang yang sangat berhati-hati dan waspada. Menurutnya jika mampu mengalahkan dan membunuh Wasudeva dalam kombat satu lawan satu, itu petanda Wisang Geni memiliki ilmu-silat yang sangat mumpuni. Sampai dimana tingkatannya, dia tidak tahu.

Untuk itulah dia melakukan perjalanan rahasia ke Lemah Tulis. Dia ingin mengetahui lebih banyak seluk beluk perguruan yang konon satu dari dua perguruan paling hebat di tanah Jawa selain Mahameru. “Aku ingin tahu pola dan gaya silat mereka, jurus-jurusnya agar lebih mudah bagiku dalam tarung nanti.”

Selama dua tahun menetap di tanah Jawa, tiga kali dia mengintai gunung Welirang.

Satu diantaranya dia berhasil mendekat sampai di danau dekat perumahan. Dia mengintai dan menghitung jumlah keluarga besar itu. Dia sempat melihat, dari jauh, Yudistira berlatih silat dengan isteri dan putra serta menantunya.

Dia pernah dua kali menyamar sebagai pengemis dan mendekat ke perguruan Lemah Tulis. Diam-diam dia mengakui Lemah Tulis sebagai perguruan besar dengan jumlah muridnya yang mencapai ratusan. Perkampungan Lemah Tulis sangat luas, teratur rapi sudah merupakan desa yang ramai. Sekitar seratusan rumah, tampak anak-anak bermain di pekarangan rumah dan yang dewasa bekerja atau berlatih silat.

Arjapura mendengar cerita di kalangan pendekar Brantas yang sering mampir di Jedung bahwa Lemah Tulis banyak menyimpan pendekar handal yang kemampuan silatnya hampir setara dengan Wisang Geni. Dua sesepuh Gajah Watu dan Padeksa jarang berkelana, lebih sering menghabiskan waktu semedi dan menciptakan jurus-jurus baru.

Wisang Geni tidak lagi bermukim di Lemah Tulis, dia menetap di gunung Welirang bersama anak isterinya bahkan juga beberapa murid yang datang nginap bergantian. Namun pendekar itu masih sering mondar-mandir Welirang ke Lemah Tulis dan gemar berkelana.

Belakangan Wisang Geni tidak lagi menjabat ketua perguruan. Ketuanya yang baru, Prastawana, yang ilmu-silatnya bahkan sudah menyamai sesepuh Padeksa dan Gajah Watu. Tetapi yang sebenarnya, Wisang Geni masih tetap dianggap sebagai ketua Lemah Tulis. Prastawana dan semua murid masih memanggilnya dengan sebutan ketua.

“Bahwa Wisang Geni menjadi ketua dari perguruan sebesar Lemah Tulis, petanda dia memang pendekar yang mumpuni. Dan kalau kalangan pendekar menobatkannya sebagai pendekar nomor satu tanah Jawa, jelas dia memiliki ilmu silat yang sangat tinggi. Aku tak boleh sembrono.” Gumamnya.

Dalam perjalanan kali ini Arjapura membatasi diri hanya selama sepuluh hari. Dia sudah harus kembali ke pelabuhan Jedung sebelum sepuluh hari. Khawatir datangnya kapal layar besar dan rombongan Yudistira berangkat tanpa sepengetahuannya.

Dia harus tahu kapan Yudistira dan keluarganya pulang ke Himalaya, karena saat itulah dimulainya perburuan membunuh Wisang Geni serta anak-isterinya.

Menurut hitungannya saat-saat kepulangan Yudistira makin mendekat. Pada mulanya Arjapura tidak berani meninggalkan pelabuhan Jedung atau berada jauh dari desa Karambang, khawatir dia tidak mengetahui kepulangan rombongan Yudistira.

Tetapi hari itu dia memperoleh kabar gelombang pasang dan pusaran angin sedang menggila dilautan. Dalam separuh bulan ini tidak akan ada kapal dan perahu besar berani berlayar. Dari ketinggian bukit desa Karambang dia menyaksikan tingginya gelombang di mulut pelabuhan. Itu sebab dia berani meninggalkan Jedung untuk beberapa hari.

Dia melakukan perjalanan dengan menunggang kuda.

Hari itu, empat hari setelah meninggalkan Jedung dia tiba di batas desa Sajan.

Hari sedang hujan, dia meneduh di gubuk kecil yang tidak dihuni di batas hutan. Dia melihat pemandangan menarik. Hujan cukup deras karenanya dia heran melihat seorang penunggang kuda bergegas melecut tunggangannya menuju Sajan. “Dilihat dari cara menunggang kuda, dia pasti seorang pendekar. Ini jalanan menuju Lemah Tulis, mungkin dia salah seorang murid Lemah Tulis yang hendak pulang ke perguruannya.” Gumamnya.

Memandang lebih teliti ternyata si penunggang kuda seorang gadis belia yang cantik. Pakaiannya yang basah kuyup mencetak potongan tubuhnya yang indah diatas kuda.

Timbul hasrat birahi pendekar Himalaya itu.

Cepat dia mengejar dengan ilmu-ringan tubuh.

Tetapi dia terlambat.

Gadis itu telah memasuki batas desa Sajan menuju warung makan. Dan Arjapura tidak mau berlaku ceroboh. Kalau hendak menculik dan memerkosa si gadis, harus dilakukan dengan diam-diam.

Arjapura mengintai dari pepohonan dibatas hutan. Menunggu si gadis keluar dari warung makan. Menunggu sambil membayang tubuh si gadis yang masih remaja dan segar. Nafsu hewaninya telah menguasai alam pikiran dan tubuhnya.

***

No comments: