Kutukan Keris Berdarah
By John Halmahera
Publish 47
Bab Tujuhbelas
Cinta Yang Tertunda
Perasaannya sangat gembira Samba mendaki lereng gunung sambil memanggul Sekar wanita idamannya. Dia tahu tempat yang paling aman, dan paling rahasia, persembunyian yang tak mungkin bisa dilacak orang.
Samar-samar dibawah cahaya bulan di penghujung malam itu dia menemukan tempatnya. Dia menguak semak, hati-hati supaya tidak merusak penampakan asli. Semak-semak itulah yang menutupi dinding batu yang kasar dan keras bagai batu granit. Siapa pun tak akan mengira diantara dinding cadas yang luas membentang, ada pintu goa seukuran satu kali satu meter.
Hatinya gembira melihat goa yang dicarinya, dia lalu menggeser batu besar penutup goa. Kemudian sambil memanggul tubuh Sekar dia menghilang ke dalam goa. Dari dalam dia menutup goa kembali dengan mendorong batu. Aman, tak ada orang yang tahu.
Goa itu terbentuk secara alamiah, cukup luas bisa memuat sepuluh orang. Dindingnya merupakan tebing cadas yang keras. Mulut goa ditutupi batu besar yang bisa didorong atau digeser. Tebing bagian belakang terbelah, bagaikan pintu, menuju jurang yang curam tidak tampak dasarnya. Dari celah itu menghembus angin dingin yang menyegarkan udara dalam goa.
Dekat celah yang menghadap jurang, ada sebuah pembaringan kayu yang menempel di dinding goa. Pembaringan beralaskan jerami dan rumput kering ditutupi seprei warna hitam. Pada waktu tertentu Samba memanfaatkan goa ini untuk istirahat dan berlatih.
Dia temukan goa ini secara kebetulan namun belakangan dia merapikan isi goa. Dia berpikir goa inilah tempat persembunyian untuk menyelamatkan diri jika terjadi pertarungan besar dan pihak Linggapati kalah. Tidak diduganya justru goa itu jadi tempat persembunyian bersama wanita pujaannya.
Hati-hati Samba meletakkan tubuh Sekar di pembaringan. Memandang sesaat, dia kemudian membungkuk mencabut panah sekecil jari kelingking di leher Sekar, lalu mencium paras cantik yang penuh debu itu. Sekar masih belum sadar.
Samba berpikir keras. Keningnya berkerut. Dia melangkah mondar-mandir sambil melirik Sekar yang masih belum juga sadar. Dia mendekat, duduk di pinggir pembaringan memandangi paras wanita yang dia mimpikan selama empat tahun. Mimpi yang penuh rindu asmara. “Tidak kusangka akhirnya aku bisa memiliki Sekar, apapun yang terjadi nanti, jika dia marah dan membunuhku, aku tidak akan melawan. Aku rela mati ditangannya. Oh Sekar betapa aku mencintaimu.”
Angin semilir yang menerobos dari celah dinding belakang goa membawa udara dingin di penghujung malam. Udara berembun dan dingin. Sekar menggigil dingin. Kesadarannya pulih. Tiba-tiba matanya terbuka, dia sadar. Dia melompat, tapi tak ada tenaga. Tenaga-dalamnya melemah akibat panah bius itu.
“Siapa kamu? Dimana aku? Apa yang telah kamu perbuat?” Mata Sekar melotot marah. Dia memegang dada dan mengetahui kebaya masih menutupi dadanya. Sekali lagi hendak mengerahkan tenaga, dia gagal. Tidak ada tenaga.
Samba merasa agak takut menatap sepasang mata indah yang sarat amarah itu. “Tidak. Aku tidak berbuat sesuatu.”
“Dimana aku?” Suara Sekar tinggi dan mendesak. Dia memaksa duduk, lalu berdiri. Tatapan mata Sekar masih kesana-kemari belum fokus kepada penculiknya.
“Dalam goa.” Samba menyahut lirih.
Sekar berdiri, matanya memandang sekeliling. Cahaya bulan meskipun sangat remang masih bisa menerangi isi goa.
Goa itu cukup luas, dindingnya tebing. Dia meraba pembaringan kayu, jerami dan dedaunan tebal berfungsi semacam kasur, dialas seprei warna hitam bersih. Di pojokan, beberapa kendi air minum yang mulutnya ditutupi daun dan diikat. Tampak juga beberapa tabung bambu berisi tuak dan periuk tanah liat yang mungkin berisi makanan.
PELANGGARAN HUKUM HAK CIPTA BAGI SIAPA YANG MENERBITKAN ATAU PUBLISH NOVEL INI DI WEBSITE/ONLINE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!
Di pojokan tampak buntalan pakaian, sebuah busur dan seonggok anak panah serta keris panjang yang tersembunyi dalam sarung.
Sekar menatap Samba, samar-samar dia seperti mengenali.
Mendadak ingatannya mengenal lelaki itu. Samba! Senopati Kediri yang muda, tampan dan jantan. Laki-laki yang kasmaran padanya, menawarkan menjadi isterinya, sebagai wanita yang akan dipujanya.
Lelaki yang telah menidurinya selama lima malam tanpa henti ketika dia berada dalam tawanannya. Itu suka sama suka, bukan pemerkosaan. Asmara dan birahi yang tak pernah dia lupakan selama ini meskipun Wisang Geni berada disisinya.
Seketika parasnya memerah rona malu, jantungnya berdebar kencang. Begitu kencang debaran hatinya seakan terdengar oleh telinganya.
“Kita pernah bertemu, waktu itu aku masih senopati kerajaan Kediri Maharaja Tohjaya, namaku Samba.”
“Oh aku ingat, dulu beberapa tahun silam kamu menawanku, menyandera aku, sekarang juga kamu menawanku, mau apa kamu?” Sekar berusaha mengerahkan tenaga dalamnya. Sekar tidak menyebut kejadian dia dengan sukarela bercinta dengan lelaki itu.
“Aku hanya mau selamatkan kamu.”
“Apa yang terjadi denganku, bagaimana aku bisa berada di goa ini?” Samar-samar dia ingat sedang bertarung lalu limbung dan selanjutnya dia tak ingat. “Aku pingsan? Luka parah?”
“Iya kamu pingsan tapi tidak luka. Kamu nyaris terluka parah, lalu anak buahku menyelamatkan kamu. Kemudian aku membawamu ke goa ini.” Tutur Samba.
“Bagaimana aku bisa pingsan?”
“Anak buahku menyumpit kamu dengan paku bius, itu sebab kamu pingsan, tapi sebelum jatuh ditanah aku sudah membopong kamu.”
Sekar memandang dengan mata melotot. “Tenaga-dalamku hilang?”
“Hanya sementara, siang hari nanti tenagamu sudah akan pulih, panah bius itu tidak berbahaya hanya untuk melemahkan seseorang.” Kata Samba.
“Jangan coba-coba memerkosa, aku akan bunuh diri.” Seru Sekar.
“Mengapa berpikiran aku akan memerkosamu?” Tanya Samba. “Dulu kamu mengaku kasmaran padaku, lima malam kita sanggama seperti layaknya suami isteri yang saling menyinta, kamu tak perlu berpura-pura lagi, kamu isteriku.”
“Dulu, adalah dulu. Sekarang adalah sekarang. Lantas sekarang ini apa maumu menculik aku?” Sekar berdiri ditengah goa, berkacak-pinggang, dua tangannya berada di pinggul. Aksi gayanya makin mempertegas sosok tubuhnya yang seksi menggoda.
“Tidak tahu. Aku tidak tahu.” Samba masih bingung, pikirannya bertanya-tanya mengapa Sekar marah, bukankah dulu mereka telah bercinta selama lima malam?
Sekar tertegun, tidak menyangka jawaban Samba. “Tidak tahu? Kalau tidak tahu, mengapa menculik aku? Aku tahu kamu pendekar sejati, lepaskan aku, biarkan aku pergi.”
Samba diam, hanya bisa memandang wanita yang dicintainya itu.
Suara Sekar setengah menjerit, marah dan putus asa. “Kamu banci. Coba hadapi suamiku Wisang Geni, bunuh dia, baru kamu merebut aku, itu namanya jantan.” Itu memang keinginan dalam hatinya yang tersembunyi sekian tahun, sejak malam Samba memasuki tubuhnya. Dia ingin Samba menaklukkan Wisang Geni dan memboyong dia ke istana Kediri dan menjadikan dia isteri utamanya.
“Tarung lawan Wisang Geni, aku pasti kalah. Ilmu-silatnya lebih unggul. Tapi aku bukan banci, aku jantan, laki-laki sejati.” Paras Samba merah padam. Malu dan marah. “Kamu pernah mengakui kejantananku, dulu, empat tahun lalu. Mengapa menyebutku banci?”
Sekar menambahkan, “kalau jantan, bebaskan aku, kita tarung hidup atau mati, lebih baik mati daripada menanggung malu diperkosa.” Kata-kata itu meluncur begitu saja, dia memang ingin Samba memerkosanya, agar dia tak perlu lagi mengkhianati suaminya untuk kedua kalinya.
“Apa guna tarung. Kalau begitu membenciku dan mau membunuhku, silahkan bunuh, aku tidak akan melawan. Aku juga tidak akan memerkosa kamu, buat apa? Tidak ada nikmatnya memerkosa, lagipula itu perbuatan pengecut. Itu akan menghapus kenangan bercinta dengan kamu dulu. Kamu tahu Sekar, empat tahun aku menderita kasmaran memikirkan kamu? Tahukah kamu?”
“Lantas apa maksudmu menawan aku?” Sekar sudah tahu maksud Samba menculiknya, tetapi dia masih juga bertanya, ingin tahu jawaban yang jujur.
Samba merunduk. “Aku tidak tahu. Empat tahun lebih, aku memendam rindu, kasmaran padamu, mencintai kamu begitu rupa sehingga dalam tidurpun sosokmu terbayang terus.”
Sekar diam. Jantungnya berdetak keras. “Dulu, ketika menawanku, dia telah mengungkap rasa cinta dan kasmarannya. Tak kusangka sampai detik ini dia masih kasmaran padaku. Kukira waktu itu hanya nafsu birahi belaka, bahwa setelah percintaan selama lima malam itu masing-masing akan lupa. Aku memang sudah melupakan dia, pada awalnya sosok kejantanan dia masih sulit kulupakan, tetapi lambat laun Wisang Geni lebih menyita perhatian dan rinduku. Namun belakangan setelah aku dilupakan Geni, bayangan Samba yang lebih tampan, lebih perkasa dan lebih jujur kembali mengganggu tidurku. Tak dinyana sekarang ini aku berhadapan dengan dia.” Gumamnya dalam hati.
Timbul rasa iba. Dia mengamati laki-laki itu yang hanya mengenakan celana hitam sebatas lutut. Tubuh atasnya telanjang memperlihatkan dada bidang yang berotot dan dipenuhi bulu-bulu hitam. Tampak luka dibeberapa tempat yang masih berdarah. Bekas tarung di desa Bangu.
Dia tampan, berotot, tinggi langsing, kulit kuning sawo. Rambut hitam ikal sebatas leher. Hidung bangir, mulut dihiasi bibir tebal, sepasang mata jernih dengan alis tebal, paras agak bulat.
Memerhatikan Samba membuat jantung Sekar lagi-lagi berdebar kencang. Dulu dia tak sempat memerhatikan sosok perkasa ini, apalagi mereka bercinta dalam gelap gulitanya malam.
“Aku sudah bersuami!” Sekar berseru keras, spontan.
“Aku tahu!”
“Aku sudah punya anak!”
Samba diam, hanya memandang dengan mata mendelong, mengagumi kecantikan Sekar yang semakin cantik jika marah. “Aku tidak perduli, kamu punya anak atau belum punya anak, aku mencintaimu, sangat mencintaimu!”
Keduanya bertatapan. Tiba-tiba Sekar merasa jengah, malu, pipinya memerah. “Sekali lagi aku tanya, apa maksudmu menculik aku?”
PELANGGARAN HUKUM HAK CIPTA BAGI SIAPA YANG MENERBITKAN ATAU PUBLISH NOVEL INI DI WEBSITE/ONLINE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!
“Aku tidak tahu.” Samba berkata jujur. “Tadinya ingin memerkosa kamu, sosokmu selalu terbayang selama empat tahun, setiap malam memimpikan kamu.”
“Kamu gila!” Teriak Sekar. Marah tapi juga merasa bangga ada laki-laki tampan, seorang pendekar dan senopati Kediri yang selama empat tahun kasmaran dan tergila-gila padanya. ”Ternyata lima malam bersamaku itu menjadikan dia kasmaran dan tak pernah bisa melupakan aku.” Katanya dalam hati.
Samba merunduk malu. “Iya Sekar, aku sudah gila. Aku mencintaimu, memujamu. Aku tak ingin memerkosa, tapi ingin bercinta seperti dulu, seperti layaknya suami isteri, setelah itu bunuhlah aku dan kamu bebas pergi.”
“Angan-anganmu tak mungkin kukabulkan, kamu tahu aku masih punya suami dan masih terikat pada suamiku.” Teriak Sekar. “Dan aku tidak akan mengkhianati suamiku.”
“Meskipun suamimu mengkhianati kesetiaanmu, menyandingkan kamu dengan beberapa isterinya yang lain? Dia banyak isteri dan selir, kamu tidak cemburu?”
“Jangan ikut campur urusanku. Sekarang lepaskan aku pergi.” Teriak Sekar. Dia marah karena secara kebetulan kata-kata Samba suatu kenyataan yang menusuk relung hatinya, dia mengakuinya dalam hati, “kamu benar Geni telah mengkhianati kesetiaanku.”
Mendadak Sekar berteriak. “Dia mengkhianati cintaku yang tulus dan suci. Aku setia pada janjiku. Tapi dia ingkar.” Saat itu Sekar hilang kendali akan dirinya, lapar dan letih bertarung, putus asa ditawan orang dan Wisang Geni tidak menolongnya.
Dia marah mengapa Samba begitu bodohnya tidak memerkosa dia. Dia bingung bagaimana harus bersikap kepada Samba. Minta dipeluk dan dicumbu, tak mungkin dia lakukan. Meskipun terbersit dalam benaknya untuk berterusterang bahwa dia ingin bercinta seperti empat tahun lalu.
Sekar membanting kaki, memukul-mukul dada Samba, sambil berkata dengan nada tinggi setengah menjerit. “Katanya aku adalah isteri yang paling utama, ternyata dia membohongi aku, mendustai aku. Wisang Geni itu jahat dan culas.”
Sekar balik badan dan melempar tubuhnya keatas pembaringan, dia telentang dengan nafas terengah-engah, dia bagaikan kehabisan tenaga, dua tangannya membekap wajahnya dan menangis keras.
Lalu berdiri lagi dan berteriak agak histeris. Putus asa.
“Dia berjanji akan membahagiakan aku, katanya tidak akan ada wanita lain dalam hidupnya. Tapi dia ingkar, mulutnya penuh dusta, dia menghimpun semua wanita cantik dalam rumahnya, dia biarkan mereka bersaing dengan aku, malah dia bangga memiliki banyak isteri.” Sekar berhenti, nafasnya memburu, lagi.
Dia melanjutkan masih dengan kemarahan. “Katanya aku wanita utama dalam hidupnya, aku sisiannya. Tapi belakangan dia berpaling pada Atis isteri barunya yang lebih cantik, lebih muda, lebih segar, lebih centil. Perempuan itu penggoda, pelacur hina. Dia menikam aku dari belakang, aku menolongnya tapi dia membalas dengan tikaman beracun. Atis itu sama jahat dan culas seperti Geni.” Sekar menangis, tubuhnya bergoyang-goyang menahan isak.
Samba menghampiri dan memeluknya, khawatir wanita itu jatuh. Samba tetap menutup mulut, diam, membiarkan Sekar memuntahkan segenap isi hati, kesal dan kemarahannya. Dia tahu semua riwayat Sekar, bahwa Wisang Geni memiliki banyak isteri dan juga wanita simpanan.
Continue published 48 / August 14th
Note : Novel (part Two) ini belum pernah diterbitkan sebagai buku novel dan belum pernah dipublish di website lain.
No comments:
Post a Comment