Kutukan Keris Berdarah
By John Halmahera
Publish 46
Dia tidak ingat lagi tujuan semula hanya ingin menguji ilmu-silat si gadis, kini dia menyerang makin gencar, tidak berpikir apakah itu akan melukai atau menewaskan si gadis. Tidak disadarinya rasa iri dan dengki membuat adat anehnya kian menjadi-jadi.
“Kalau anaknya cantik, pasti ibunya cantik. Kurangajar mas Purwo, dia melupakan aku dan kawin dengan wanita cantik.”
Si gadis sudah terdesak ke bibir jurang, empat langkah mundur dia akan jatuh kedalam jurang. Dia bertahan tetapi sia-sia. Tiba-tiba bayangan muncul menyerang Ganggati dengan beringas, tongkat besi panjang bergetar lentur menyergap beberapa titik kematian Ganggati. “Jangan takut dinda, aku datang. Berani mengganggu kekasihku, kulumat kamu nenek buruk rupa.” Seru pemuda itu dengan gagah berani.
Serangan itu membuat langkah Ganggati menyamping untuk mengelak dan menghindar. Dia kaget juga mendapat serangan bertenaga dan cukup mematikan. Kesempatan itu digunakan si gadis melompat ringan ke samping, yang meloloskan dari ancaman jatuh ke jurang. Dia berdiri berdampingan dengan pemuda tinggi tegap yang menggenggam tongkat sepanjang satu meter.
“Siapa dia Tir?” Tanya si pemuda kepada si gadis yang namanya Kitiran.
“Kamu terlambat mas Suryo, aku sudah hampir jatuh di jurang. Aku tidak kenal, tapi dia galak tahu-tahu menyerang dan ingin meringkus aku, katanya mau dibawa ke Timur.”
“Kurangajar nenek tak tahu diri.” Seru Suryo berang.
“Anak bau kencur berani berlagak didepanku.” Ganggati tidak hanya marah dan memaki tetapi menyerang dengan jurus ganasnya. Tahu-tahu ada perasaan dengki dan tidak senangnya melihat dua sejoli yang sama-sama tampan dan cantik serta saling mencinta itu.
Dalam sekejap Suryo berdua Kitiran melayani dengan jurus lenyam-lenyom dan pangkelang-pangkelung. Dua ilmu-silat ini dimainkan dengan kerjasama yang justru menjadi jurus pasangan yang saling mengisi. Serang dan bertahan, keduanya saling mengisi, saling membantu dan mendukung. Ini ciptaan baru Purwo mengawinkan jurus-jurus itu menjadi jurus pasangan terpadu.
Ganggati terkejut, meskipun dia menguasai kedua ilmu itu dengan sempurna, tetapi dia heran ketika dua jurus itu bisa saling mengisi, saling bantu dalam bertahan dan menyerang. Sepuluh jurus berlalu tanpa Ganggati bisa mendesak.
Hal ini membuatnya murka. “Beraninya kalian menggunakan lenyam-lenyom dan pangkelang-pangkelung tanpa ijin dari pewarisnya, itu sama haknya mencuri dan setiap pencuri ilmu harus dihukum mati. Itu peraturanku!” Dia melancar serangan mematikan.
“Siapa bilang kami pencuri, kami mewarisinya dari guru Purwo,” Kata Suryo.
Kalah tenaga-dalam, penguasaan ilmu tersebut dan pengalaman tarung membuat sepasang muda-mudi itu perlahan-lahan mulai keteter. Lalu dua bayangan muncul bersamaan, disusul satu lainnya. Kagendra dan Wayasa, dua kakak Kitiran serta seorang gadis cantik Delima, murid Purwo.
Tanpa basa-basi tiga muda-mudi ikut menyerang. “Pengacau harus diusir. Beraninya datang mengacau perguruan kita,” teriak Kagendra yang paling tua. Lima muda-mudi ini mengurung dan menyerang Ganggati yang tentu saja kewalahan.
Pertarungan menjadi tidak terkendali lagi. Tampaknya memasuki fase hidup-mati.
Tiba-tiba terdengar suara membentak. “Mundur semua!”
PELANGGARAN HUKUM HAK CIPTA BAGI SIAPA YANG MENERBITKAN ATAU PUBLISH NOVEL INI DI WEBSITE/ONLINE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!
Tiba-tiba berdiri seorang wanita berusia empatpuluh, cantik berwibawa dengan pakaian ketat yang membungkus tubuhnya yang ramping, tinggi dan langsing. “Terimalah hormatku, kamu tentunya Ganggati, bekas isteri kangmas Purwo?”
“Kamu siapa?” teriak Ganggati yang marah disebut bekas isteri.
“Namaku Srimawar, isteri kangmas Purwo.” Suaranya merdu dan ramah.
“Pelacur rendah, beraninya menyebut aku bekas isteri, kubunuh kamu!” Ganggati marah, semarah gunung Merapi yang melepas awan panasnya.
“Hei mengapa marah, apakah tidak bisa kita bicara baik-baik?” Teriak Srimawar.
“Kamu mati dulu baru kita bicara.” Teriak Ganggati.
“Benar kata mas Purwo, adatmu aneh dan mau menang sendiri. Tak punya sopan santun, liar dan kejam.” Teriak Srimawar yang langsung melayani serangan Ganggati.
“Jangan gunakan lenyam-lenyom dan pangkelang-pangkelung, kamu tidak punya hak mewarisi ilmu ciptaan bapakku.” Teriak Ganggati yang menyerang dengan jurus mematikan.
“Ganggati, aku tidak pernah mempelajari jurus milik suamiku, karena aku punya warisan sendiri. Kamu lihat apakah ini jurus bapakmu atau bukan?” Srimawar menggelar ilmu-silatnya mamaca sambartaka (tumbak-tumbak pelangi) yang diwarisinya dari sang bapak Giriwara, pendekar besar lereng gunung Lawu.
Namanya tumbak-tumbak pelangi yang ibaratnya bermacam jenis dan ukuran tumbak, panjang dan pendek namun tidak kalah garangnya jika dimainkan dengan tangan kosong. Pukulan lurus, ke berbagai arah berupa kepalan tinju, tusukan jari, tebas tapak tangan, tamparan kipas, totokan satu jari.
Tenaga-dalam dan ringan-tubuh yang mumpuni yang tidak kalah dari Ganggati membuat tarung menjadi imbang. Makin lama makin seru. Ganggati tak pernah menyangka musuhnya yang juga isteri kangmasnya, memiliki ilmu-silat setinggi itu.
Beberapa kali ketika Ganggati terdesak, Srimawar sengaja mengendur. “Aku tak punya permusuhan denganmu, marilah kita hentikan tarung dan kita bicara baik-baik, apa perlumu datang kemari?”
Ganggati menggeram, mengerahkan segenap tenaga-dalam. Dia ingin melumat-hancur tulang-tulang wanita cantik yang kemolekannya membuat dia hampir mati saking dengkinya. “Pelacur rendah, kamu telah merebut suamiku, kubunuh kamu!”
Kini Srimawar benar-benar marah, belum pernah orang mengatai dia pelacur. Dia ingin membalas dengan makian sama kotornya, tetapi mulutnya tidak terbiasa. “Kamu benar-benar liar dan kejam. Kamu pikir aku takut?” Dia kini tidak segan-segan lagi, ”mana tongkatmu Suryo, lempar kemari!” Teriaknya.
Srimawar berkelebat menangkap tongkat calon menantunya. “Cabut senjatamu!” Teriaknya kepada Ganggati yang sudah menggenggam kerisnya.
Pada saat itu terdengar teriak keras. “Hentikan!”
Seorang laki-laki berusia enampuluhan dengan tubuh yang masih segar dan kekar berdiri di dekat Srimawar. “Kangmas, untung kamu segera datang.”
“Mas Purwo, ayo ikut aku, tinggalkan perempuan ini!” Seru Ganggati memerintah seperti masa lalu ketika masih menjadi isteri Purwo.
Purwo menggeleng. “Tidak bisa!”
Dulu kala, Purwo terbiasa mengikuti perintah isterinya, tetapi kini keadaan sudah banyak berubah. Karenanya Purwo bisa menolak tegas. Hal ini membuat Ganggati kaget. Seketika suasana hening, hanya terdengar desir angin pegunungan yang sejuk dingin.
Suryo berbisik di telinga Kitiran. “Kita lihat kamu yang benar atau aku?”
“Apa maksudmu Mas?”
“Katamu, ayahmu lemah, tidak punya pendirian, tidak bisa tegas. Kataku, ayahmu atau guruku itu tegas, galak dan bisa kejam, tetapi selalu lembut pada keluarga dan muridnya. Nah kita lihat dia bisa tegas atau tidak menghadapi persoalan ini?” Kata Suryo.
“Kamu harus ikut aku,” suara Ganggati tinggi. “Aku istrimu, anak dari gurumu!”
“Bukan, kamu hanya bekas isteri, aku yang isterinya, isteri sah kangmas Purwo, aku ibu dari tiga anaknya!” Srimawar tak mau basa-basi lagi. Tahu persis Ganggati orangnya aneh dan liar sehingga harus bicara jelas dan transparan tak perlu sindir-sindiran.
“Mas Purwo, katakan kepada pelacurmu itu, aku isterimu, hanya aku isterimu. Kamu dulu mengemis minta cintaku, menciumi lututku, minta sanggama, kamu lupa?” Teriak Ganggati.
“Ganggati, kendalikan mulutmu! Srimawar adalah istriku, jangan katai dia pelacur!”
“Tapi aku isterimu. Bapakku, gurumu yang kawinkan kita, kamu lupa?”
“Ganggati, dulu tetap dulu, tak bisa disamakan dengan masa kini. Aku tidak lagi cinta padamu, sudah lenyap, duapuluh tahun lebih tidak bertemu, kamu bukan isteriku lagi, tak ada ikatan kecuali kamu adalah adik perguruanku.”
Suasana hening lagi.
Ganggati menangis. Dia semakin merasa sendiri, tak ada siapapun, Roro dan Kangsa pun sudah tiada. Kini Purwo juga tidak lagi mengakuinya sebagai isteri.,
Suryo memeluk Kitiran. “Lihatlah, aku yang benar. Kamu yang salah. Guru tegas dan tega mengatakan hal-hal yang benar, tidak perduli membuat Ganggati menangis.”
“Kamu selalu benar, mas.” Kitiran mencubit lengan Suryo.
“Sekarang apa?” Tantang Suryo.
“Tarung.” Kata Kitiran.
“Yah tarung!” Kata Suryo.
“Mas Purwo, kamu semena-mena, kamu menghina aku.” Desak Ganggati.
“Tidak. Aku biasa saja.” Kata Purwo.
Srimawar tak bisa menahan sabar lagi. Ganggati telah mengharu-biru suasana keluarganya. “Kamu mau apa datang kemari, mas Purwo itu suamiku, kami sudah punya tiga anak, kamu mau mengacau rumahtanggaku?”
Purwo menengahi. “Katakan apa maumu Ganggati?”
“Gurumu. Kamu hutang budi, hutang nyawa pada gurumu, benar atau salah?”Ganggati bertanya dengan suara keras, penuh tekanan.
“Benar. Aku tak pernah lupa budi dan jasa guruku.” Jawab Purwo.
“Sekarang ini gurumu dicaci-maki, dihujat dan dihina didepan umum, kamu marah atau malah tertawa?” Kata Ganggati.
“Siapa berani menghina guruku?” Seru Purwo.
“Katakan apakah kamu mau membela nama gurumu atau tidak? Jawab itu dulu!” Ganggati merasa telah menemukan cara menarik Purwo mengikutinya.
“Tentu saja aku marah dan tidak terima baik, tetapi siapa dia, apakah musuh guru?”
“Namanya Wisang Geni, dia pendekar nomor satu tanah Jawa, dia yang menghina nama gurumu, guru kita, katanya si tua dari gunung limas banyak dosa, banyak berbuat salah, makanya dia mati dimakan cacing tanah, dia perampok harta orang, pemerkosa anak perawan dan suka melacur.” Kata Ganggati.
“Benarkah dia bicara sekotor itu?” Purwo mulai terpengaruh.
“Kamu kira aku bohong, dusta, apakah mau aku menghina ayahku sendiri dengan mengarang cerita bohong? Mengatai ayahku pemerkosa yang suka melacur? Aku bukan anak durhaka dan aku masih waras, mas Purwo.” Seru Ganggati, nadanya tinggi.
Purwo mengepal tinju. Urat-urat lehernya menonjol. “Aku akan mencari Wisang Geni memaksa dia minta maaf.”
“Tidak cukup itu saja, kamu harus membunuhnya, sebab dia hanya tarung untuk membunuh atau dibunuh.” Kata Ganggati. Lalu melanjutkan dengan tekanan suara yang lebih keras dan menantang. “Ingat Purwo, kamu hutang budi dan hutang nyawa kepada gurumu, tidak ada dia maka kamu tidak pernah hidup didunia. Camkan itu! Mau ikut aku atau tetap saja disini pelukan sama isterimu dan menjadi murid durhaka selama hidupmu.”
Purwo menoleh pada isterinya, Srimawar. “Aku tahu saat-saat seperti ini akan datang. Srimawar, aku harus pergi. Aku pasti akan kembali padamu.”
“Aku ikut!” Tegas Srimawar. Matanya menyirat ketegasan yang tak mau dibantah apalagi ditolak. Dia tidak mau suaminya pergi berduaan dengan wanita liar itu.
Purwo berkata kepada tiga anaknya, ”Kalian bertiga dan semua murid tetap disini. Sampaikan kepada kakek kalian, aku dan ibumu pergi ke Timur. Kami akan kembali secepatnya.”
Jadilah mereka bertiga berkuda menuju kali Bangsal.
“Kamu tahu jalan, kamu didepan, kami dibelakangmu.” Kata Purwo kepada Ganggati.
Sepanjang jalan Ganggati berdiam diri, dalam hatinya dia marah dan kesal pada isteri Purwo. Tadinya dia ingin rujuk kembali, menjahit kembali luka lama yang ada didada Purwo lalu menyerahkan dirinya untuk bercinta. Dia akan merancang persanggamaan yang istimewa untuk menarik kembali Purwo kedalam pelukannya. Namun melihat tubuh seksi Srimawar, wajah yang cantik segar kemerahan serta ilmu-silatnya yang tinggi, gagal rencananya. Ganggati pun semakin terpuruk.
“Sungguh buruk perjalanan karmaku, bagaimana aku bisa terdampar dalam karma seperti ini, berjalan dengan Purwo tapi kangmas Purwo tidak bisa dijamah karena isterinya selalu menghalangi.” Dan dia tak berdaya strategi apapun untuk merebut atau memisahkan Purwo dari isterinya. “Aku tidak tega membunuh kangmas, tetapi Srimawar akan kubunuh begitu ada kesempatan.” Janjinya dalam hati. Pikiran ini membuatnya tenang.
PELANGGARAN HUKUM HAK CIPTA BAGI SIAPA YANG MENERBITKAN ATAU PUBLISH NOVEL INI DI WEBSITE/ONLINE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!
Ini perebutan suami antara dua macan betina. Tidak sejengkalpun Srimawar mau mundur. Hidupnya sangat bergantung pada suaminya, lelaki yang dia cintai sejak dia masih remaja lugu duapuluh lima tahun silam.
Giwara, ayah Srimawar, seorang pendekar yang terkenal harum namanya sebagai penolong kaum lemah, diwilayah Barat, daerah sekitar gunung Lawu. Namanya kondang. Ilmu-silatnya yang terkenal jurus mamaca sambartaka (tumbak-tumbak bianglala) yang sulit diduga arah pukulan dan jenis pukulannya. Pukulan terkam, cakar, tinju, tendang, semuanya serba cepat dan menyambar bagaikan kilat. Semakin tinggi ringan-tubuh dan tenaga-dalamnya, jurus ini makin mematikan. Tigapuluh satu jurus yang kaya perubahan tapi sulit dipelajari.
Suatu ketika Giwara yang berdiam di lereng Selatan bertemu Purwo di kediamannya di lereng Timur. Keduanya terlibat tarung menjajal ilmu-silat. Dalam seratus jurus barulah Purwo bisa dikalahkan. Sekali melihat wajah Purwo, Giwara bisa mendalami sengsara derita yang dipikul laki-laki itu. Giwara menyukainya dan mengundang Purwo yang usianya sepuluh tahun lebih muda kerumahnya.
Singkat cerita, Purwo jatuh cinta dengan gadis lugu Srimawar, putri kesayangan Giwara yang masih remaja enambelasan tahun. Giwara mengawinkan Purwo dengan putri tunggalnya karena ingin Srimawar mendapat suami yang berbudi luhur dengan ilmu-silat mumpuni. Isteri Giwara pun setuju.
Srimawar semula membayang akan mendapatkan suami seorang pangeran tampan seperti dalam dongeng pewayangan dan yang ilmu-silatnya tinggi, sebagaimana angan-angan birahi seorang gadis remaja. Namun kesabaran Purwo yang tidak mau menyentuhnya hingga suatu ketika dia mau dengan sendiri, telah meruntuhkan benteng pertahanannya.
Dia jatuh cinta pada Purwo. Dan sekali jatuh cinta Srimawar yang lugu dan jujur itu tumplek habis. Pengakuan jujur Purwo bahwa dia pernah beristeri tetapi isterinya kabur dengan laki-laki lain, tidak membuat surut cintanya.
Sekarang wanita itu muncul lagi, setelah menghilang duapuluhan tahun dan yang telah membuat kangmasnya menderita. Perempuan itu ingin merebut suaminya, mana mau Srimawar mengalah apalagi toleransi.
Dalam perjalanan itu Srimawar mengawal dan melayani suaminya, tak pernah memisahkan diri sekejap pun. Setelah dua hari perjalanan, Purwo mengetahui anak dan muridnya ikut serta secara diam-diam. Tiga anaknya Kagendra, Wayasa dan Kitiran serta dua kekasih anaknya Suryo dan Delima.
Continue published 47 / August 13th
Note : Novel (part Two) ini belum pernah diterbitkan sebagai buku novel dan belum pernah dipublish di website lain.
No comments:
Post a Comment