Friday, August 12, 2011

Wisang Geni part Two Bab 15

Kutukan Keris Berdarah

By John Halmahera

Bab Limabelas

Lemah Tulis Balas Dendam

Perguruan Lemah Tulis sudah berubah. Pagar tinggi yang mengelilingi perguruan sudah tiada. Banyaknya penduduk disekitar perguruan yang mengirim putra-putrinya berlatih silat dan areal tanah didalam pagar yang tidak lagi bisa menampung pertambahan jumlah murid memaksa perguruan mengubah sikap dan kebijakan.

Terjadi pembauran penduduk desa yang tidak mengenal ilmu-silat dengan murid-murid Lemah Tulis yang menguasai ilmu-silat. Lemah Tulis berkembang seperti desa-desa pada umumnya di tanah Jawa yang punya organisasi desa, perdagangan antar penduduk, adanya warung makan, warung serba ada.

Siang hari itu rombongan Wisang Geni tiba di Lemah Tulis. Tentu saja para murid geger dan gempita melihat munculnya sang ketua. Mereka berduyun-duyun memberi selamat dan menyatakan kegembiraannya. Beberapa waktu lalu kabar matinya sang ketua telah membuat seantero perdikan bersedih. Kini kegembiraan dan semangat Lemah Tulis muncul lagi.

Wisang Geni dan tiga isterinya istirahat di rumahnya. Beberapa murid wanita mengantar makanan dan minuman. Menjelang sore, Prastawana menjemput Wisang Geni mengunjungi Padeksa di rumahnya. Orangtua itu merangkul muridnya dengan sukacita. “Kamu bukan saja masih hidup, malah tampak sehat dan bugar.”

Setelah sungkem mencium lutut gurunya, Wisang Geni duduk sila didepan Padeksa. Guru yang terbiasa dipanggil kakek oleh Wisang Geni itu, tertawa-tawa memandang muridnya.

“Ceritakan kejadian yang menimpa kamu, kabar di luaran mengatakan kamu mati dibunuh isterimu.” Kata Padeksa. “Tapi aku tak pernah percaya kamu mati. Hatiku tidak bersedih, tidak ada ketukan keras dijantungku, aku tahu kamu masih hidup. Dan itu sebabnya aku perintahkan Prastawana membawa teman-temannya mencarimu.”

“Nyaris mati, guru. Lukaku cukup parah. Yang memukul aku, Arjapura. Bukan isteriku. Dia dendam, karena putranya mati ditanganku dalam tarung pamungkas beberapa tahun lalu. Akan kuceritakan itu didepan para murid.” Kata Wisang Geni.

Padeksa tersenyum sambil mengelus jenggotnya yang pendek dan putih semuanya. “Ada kabar, kamu telah mengambil-alih ketua. Katanya, kamu mau menyerang Brantas, balas dendam.” Dia tersenyum licik. “Itu maumu sendiri, aku tidak memaksa kamu bertarung.”

Wisang Geni tertawa geli. Sudah lama senyum licik yang unik itu tidak menghiasi wajah guru dan kakeknya itu. “Aku akan memimpin para murid menyerang dan menghancurkan Brantas. Kini saatnya balas menyerang!” Tegas Wisang Geni.

“Aku setuju.” Seru Padeksa geram teringat matinya sang adik Gajah Watu.

“Tetapi kakek tidak ikut.”

Wisang Geni tertawa melihat wajah cemberut guru yang sering dipanggilnya kakek itu.

“Kakek simbol perguruan, sesepuh yang paling dihormati, jadi harus berada di perguruan. Urusan diluar biar muridmu ini yang selesaikan.” Wisang Geni tersenyum memandang kakek yang sangat dicintainya itu. Padeksa tersenyum puas.

Prastawana memotong pembicaraan. “Ketua, para murid sudah menunggu, tampaknya mereka kangen padamu. Ingin mendengar petuahmu.”

Padeksa bertanya. “Geni, dadamu bergambar lalawa.”

“Iya, aku mendapat jurus baru, warisan guru lalawa. Dan aku suka gambar ini, guru.”

“Memang ilmu-silat tak ada batasnya.” Kata Padeksa. “Geni apakah tidak terlintas dalam pikiranmu untuk menciptakan jurus-jurus dari pecahan garudamukha? Kamu punya kemampuan untuk itu, hanya semangatmu yang tidak ada.”

Wisang Geni memandang kakeknya dengan penuh tanda-tanya. “Aku pernah menciptakan tiga jurus langit, jurus perpisahan, rasa suwung wenganing bumi, ngesti suwung wenganing bumi, wong mati ora kesasaban bumi, kakek masih ingat?”

“Maksudku yang lebih khusus yaitu jurus fisik yang bersumber dari garudamukha dan garudamukha prasidha, jangan-jangan kamu mulai melupakan asal-muasal kamu belajar kanuragan di perguruan Lemah Tulis?”

Wisang Geni terkejut mendengar ucapan Padeksa yang sangat tajam itu. “Apakah karena aku belajar jurus-jurus dari guru lalawa membuat kakek tidak senang?” Pikran ini mengganggunya. “Tidak Kek, aku tetap murid Lemah Tulis, tapi mengapa kakek berkata demikian?”

“Aku sudah tua, aku tak mau mati dengan membawa pikiran buruk bahwa ajaran Lemah Tulis mulai hilang dari muka bumi. Aku ingin mewariskan jurus-jurus sakti garudamukha kepada murid-murid Lemah Tulis untuk mempertahankan ajaran kakek buyutku pendiri perguruan ini.”

Padeksa menghirup nafas panjang, menghembus pelan ke udara. “Lupakan saja pembicaraan ini, tidak penting lagi.” Dia melangkah masuk kamar, meninggalkan teka-teki kepada Wisang Geni dan para murid.

PELANGGARAN HUKUM HAK CIPTA BAGI SIAPA YANG MENERBITKAN ATAU PUBLISH NOVEL INI DI WEBSITE/ONLINE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!

Sore hari itu matahari masih terang benderang, limapuluh lebih murid berkumpul di aula. Jumlah itu tidak mewakili semua murid, melainkan hanya para senior.

Melihat munculnya tiga pendekar itu, semua murid bertepuk tangan. Gegap gempita.

“Sudah lama suasana gempita ini tidak terdengar,” kata Padeksa tertawa. Dia duduk sila berhadapan dengan para murid. Disampingnya Prastawana dan Wisang Geni.

“Mulailah, hidupkan kembali semangat perguruan, sama seperti dulu kita membangun Lemah Tulis ini. Ayo Prastawana, mulailah.” Kata Padeksa. “Lihatlah, aku masih belum jompo, masih kuat dan perkasa.” Seketika tubuh pendekar tua itu terangkat dari lantai masih dalam sikap duduk sila. Dan tubuh itu melayang-layang setengah meter dari tanah.

Para murid tercengang dan terpesona melihat peragaan ringan-tubuh dan tenaga-dalam yang mumpuni itu. Seketika mereka bertepuk-tangan dan memuji sang kakek. Tidak demikian dengan Wisang Geni, perilaku guru dan kakeknya itu seperti memberi tanda kepadanya akan ketidakpuasan sang kakek terhadapnya.

Padeksa duduk kembali dan berkata. “Ayo Prastawana mulailah.”

Prastawana berdiri, seketika suasana sunyi senyap. “Teman-teman, kemarin jabatan ketua, kukembalikan kepada ketua Wisang Geni. Selama ini aku hanya mewakili, tak pernah aku menganggap diri sebagai ketua. Dialah ketua, dahulu, sekarang dan masa depan. Jika ada salahku selama ini maafkan aku. Silahkan ketua untuk bicara.” Prastawana berkata dengan wajah berseri penuh kegembiraan.

Sorak sorai dan tepuk tangan ketika Wisang Geni berdiri.

Dia mengacung dua tangannya keatas sehingga tampak jelas ketiaknya yang berbulu. Dadanya yang bidang dengan gambar lalawa, wajah yang angker wibawa, dan sepasang mata tajam yang memandang sana-sini seketika meredam riuhnya sorak sorai.

“Orang-orang Brantas telah mengoyak kehormatan Lemah Tulis, tigapuluh satu saudara kita mati di Kandangan termasuk paman guru Gajah Watu. Aku hanya mendengar cerita, namun amarahku mendidih. Aku akan menyerang Brantas, balas dendam, hutang nyawa bayar nyawa, siapa diantara kalian mau ikut?”

Seketika terdengar teriakan semangat campur amarah para murid lelaki maupun wanita. Mereka bangkit, berdiri sambil mengacung kepalan. “Aku ikut, aku ikut, aku ikut.”

Wisang Geni mengangkat tangannya kembali, semua murid duduk dan suasana seketika hening. “Satu hari sebelum kejadian tragis di Kandangan, aku dilukai Arjapura. Dendamnya padaku sedalam lautan sebab aku membunuh putranya Wasudewa. Bukan isteriku Gayatri yang memukul aku, sekali lagi kukatakan, bukan Gayatri yang memukul aku. Cerita orang bahwa Gayatri memukul dan melukai aku? Itu tidak benar! Aku yang mengalami dan aku tahu apa yang terjadi. Saat itu Gayatri memelukku dan aku terpecah perhatian padanya. Aku lengah. Saat itu Arjapura menyerang, aku mendorong Gayatri menjauh, karenanya gerakanku terlambat. Aku hanya bisa memutar tubuh menghindarkan dadaku dari pukulan. Lenganku yang kena. Mengapa Gayatri bisa muncul bersama penjahat itu? Karena Gayatri kena racun jahat, dia ditawan dan dipaksa menemuiku. Saat itu dia telah memeringati aku, tetapi seperti kataku tadi, aku terlambat.”

Gayatri diam mematung. Terharu suaminya berbohong demi melindungi dirinya. Matanya berkaca-kaca. “Dia tidak hanya mengampuni juga melindungi aku, betapa besar kasih sayang dan pengorbanannya kepadaku.” Katanya dalam hati.

Kalau Gayatri senang mendengar kebohongan itu, tidak demikian Sekar yang tampak sangat kecewa. “Dia berbohong demi membela Gayatri sungguh tidak layak seorang pemimpin perguruan besar bersikap seperti itu. Orang lain boleh percaya, tetapi aku tahu persis apa yang terjadi. Pengkhianatan Gayatri itu kesalahan besar seorang isteri, tak boleh diampuni! Laki-laki lemah!”

Wisang Geni melanjutkan, matanya bersinar tajam, ada percikan amarah didalamnya. “Arjapura telah membunuh dua isteriku Manohara dan Prawesti. Dia pernah datang ke Welirang. Dia gagal membunuh anakku Anggreni karena Gayatri menolong putrinya. Aku tahu Arjapura ingin menyakiti aku, membunuh orang-orang yang kucintai, setelah itu baru dia tarung denganku. Ini urusanku sendiri, akan kutagih hutang darah ini padanya!”

Terdengar suara lantang Gajah Lengar. “Ketua, isteri dan anakmu adalah keluarga Lemah Tulis, kami akan membela mereka. Kami menunggu perintahmu.”

“Ketua, Mahameru kehilangan banyak muridnya yang tewas di Kandangan, kita berjanji sama-sama menyerang Brantas. Bagaimana kalau kita ajak mereka?” Tukas Prastawana.

Wisang Geni menyahut cepat. “Ajak mereka. Biar ramai.”

“Berapa jumlah murid ikut kamu?” Padeksa memotong.

“Empatpuluh murid, Prastawana dan Dipta yang memilih.” Kata Wisang Geni.

Margana, yang bersama Daraka merupakan murid Gubar Baleman, bertanya. ”Kapan kita menyerang? Kami semua sudah lama menahan diri, menunggu datangnya saat ini.”

“Besok kita berangkat.” Jawab Wisang Geni.

Para murid menyambut gembira.

Pertemuan bubar. Semua murid kembali menjalankan kesibukan masing-masing. Wisang Geni berpesan kepada Dipta dan Prastawana menemuinya di rumah malam nanti. “Ajak isteri kalian, kita makan bersama.”

Malam harinya di rumah ketua Lemah Tulis.

Wisang Geni didampingi Sekar, Gayatri dan Atis. Dipta bersama isterinya Mingasi, Prastawana berdua Dyah Mekar. Mereka makan dan ngobrol akrab. Selesai makan Wisang Geni mengungkap rencananya.

“Markas pusat Brantas adanya di perahu besar yang keberadaannya sulit ditebak sebab selalu berpindah-pindah. Rencanaku, kalian berempat melakukan perjalanan mencari tahu lokasinya.” Kata Wisang Geni. “Setelah pasti lokasinya, baru kita menyerang.”

Tiba-tiba saja Atis memotong, suaranya serius. “Itu rencana yang buruk.”

Semua orang menoleh memandangnya, bahkan mata Wisang Geni melotot, seketika Atis kaget. Tanpa sadar tangannya menutup mulutnya.

PELANGGARAN HUKUM HAK CIPTA BAGI SIAPA YANG MENERBITKAN ATAU PUBLISH NOVEL INI DI WEBSITE/ONLINE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!

“Apa katamu?” Wisang Geni bertanya. Matanya melototi Atis.

“Kataku, rencana itu buruk, apa tidak ada rencana lain yang lebih bagus?” Kata Atis.

Tangan Sekar mencubit paha Atis. “Jangan ngawur, Tis.”

“Aku tidak omong sembarangan. Memang rencana itu buruk.” Jawab Atis.

“Katakan apa yang buruk?” Wisang Geni sadar Atis pasti tidak sembarang asal bicara.

Atis memandang suaminya. “Anak buahmu keliling ke beberapa tempat, begitu ketemu lokasi perahu, balik kesini lapor padamu. Lalu kalian berangkat menyerang ke lokasi itu, sudah tentu perahu markas sudah pindah!” Dia memandang mata suaminya yang tadinya tajam mendadak bersinar. “Bisa satu bulan lebih tanpa hasil.”

Wisang Geni ingat isterinya yang cantik kemayu itu selalu punya pemikiran cerdas. “Tis, kamu punya usulan? Katakan!”

Atis tersenyum. “Utus empat kelompok pergi ke empat lokasi yang paling mungkin ditempati perahu itu. Kamu membawa rombongan besar menunggu di tempat yang letaknya ditengah antara empat lokasi itu. Waktunya lebih singkat dan lokasi perahu itu belum akan berpindah. Kalau perlu utus enam kelompok ke enam lokasi.”

Wisang Geni saling pandang dengan dua wakilnya.

Ketiganya tersenyum.

“Ternyata kamu tidak sembarang bicara,” tukas Wisang Geni.

“Aku setuju, ketua.” Ujar Dipta yang terkenal pendiam.

“Menurut kalian, dimana perahu itu sering berlabuh?”

“Setelah peristiwa Kandangan itu, aku keliling ke beberapa tempat, mencari tahu tentang Brantas, kupikir suatu saat keterangan ini pasti akan berguna.” Tutur Dipta yang tidak ikut rombongan mencari ketua ke gunung Lejar. “Lokasi paling memungkinkan, desa Trawas, desa Pute dekat kali Beji, desa Bareng, desa Karambang dekat Jedung, desa Gondang dan Sajen dekat kali Bangsal. Lima lokasi. Sebaiknya rombongan besar bersiap dan menunggu di hutan dekat desa Ngoro.”

“Bagaimana menurutmu Pras?” Tanya Wisang Geni.

“Usulan tepat. Rencana kangmas Dipta bisa dilaksanakan, ketua.” Jawab Prastawana.

Wisang Geni memutuskan nama-nama yang bertugas. “Lima lokasi, artinya lima kelompok. Prastawana, Dipta, Daraka, Gajah Lengar dan Gajah Nila. Masing-masing boleh membawa satu atau dua teman.”

Mingasi, isteri Dipta dan murid Wisang Geni, yang sejak tadi diam ikut nimbrung. “Guru, kamu sekarang punya penasehat ulung.” Katanya pada Wisang Geni sambil menunjuk Atis.

Wisang Geni tertawa senang. Dia memeluk Atis, tanpa merasa malu dihadapan para murid. Dan Atis pun dengan manjanya tertawa senang sambil merebah di dada suaminya.

Sekar menahan diri, berusaha keras untuk tetap ceria. Meskipun dia sangat cemburu dan sakit hati, tetapi orang lain tidak perlu tahu.

Air muka Sekar yang berubah sendu sesaat kemudian ceria kembali tidak luput dari pandangan para murid Lemah Tulis. Para pendekar ini seakan ikut merasakan derita Sekar. Bagaimanapun juga mereka merasa lebih dekat kepada Sekar, karena telah bertahun-tahun bergaul. Adapun Atis hanyalah isteri baru.

Bagi enam pendekar yang menemui Wisang Geni di lembah kera, kelakuan sang ketua yang lebih mesra terhadap Atis dan yang diperlihatkan secara terang-terangan sangat mengganggu mereka. Kini melihat Geni memeluk Atis begitu mesra dan air muka Sekar yang tampak menahan perasaan kecewa, perasaan mereka tergugah.

Sawitri bangkit berdiri. “Aku ingin bicara denganmu.” Sambil dia menarik tangan Sekar yang terpaksa mengikutinya.

“Mau kemana kalian?” Daraka bertanya pada isterinya.

“Ini urusan perempuan Mas.”

Sawitri mengajak Sekar ke pojokan diluar rumah. Dia memegang dua tangan Sekar, memandang air muka wanita itu yang tampak pucat. Tidak tahan melihat derita temannya, Sawitri memeluk Sekar. Tangannya mengelus kepala Sekar. “Sabar, adik. Ada saatnya nanti kamu kembali berada diatas.”

Seketika itu Sekar luluh dalam tangis. “Aku tak tahan lagi. Geni sudah melupakan aku, dia membuang aku dari hatinya.” Kata Sekar terisak-isak. “Dia juga membela Gayatri, aku tahu persis, aku satu-satunya saksi karena Manohara dan Prawesti sudah mati. Gayatri memukul Geni yang tentu saja tidak curiga. Tenaga-dalam Geni lumpuh dan saat itulah pukulan Arjapura mengenainya telak. Mengapa dia berbohong, karena hanya dengan itulah dia bisa memeluk dan meniduri Gayatri lagi.”

Sawitri kaget. “Oh begitu cerita sebenarnya? Tapi bukan kamu satu-satunya saksi, dua lainnya Wisang Geni dan Gayatri. Mungkin sebaiknya kamu rahasiakan.”

“Aku tidak takut. Jika Geni marah, aku akan minggat tanpa ragu sedikitpun! Aku juga sudah bosan diperlakukan tidak adil.”

Esok harinya para murid yang mendapat tugas menyerang Brantas mempersiapkan diri, fisik dan mental. Tampak semangat membara ingin membalas dendam atas kematian sahabat dan saudara di Kandangan.

Pagi hari itu juga sepuluh murid terbagi dalam lima kelompok berangkat ke lima lokasi.

PELANGGARAN HUKUM HAK CIPTA BAGI SIAPA YANG MENERBITKAN ATAU PUBLISH NOVEL INI DI WEBSITE/ONLINE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!

Keesokan harinya, rombongan besar dipimpin Wisang Geni meninggalkan perguruan. Menuju desa Ngoro, tigapuluh lima murid, tidak terhitung ketua dan tiga isterinya. Sebelumnya Prastawana mengirim kabar melalui burung elang ke Mahameru untuk bertemu di desa Ngoro.

Kali ini rombongan Lemah Tulis berangkat dengan semangat tinggi serta kepercayaan diri yang besar. Hadirnya Wisang Geni telah memicu semangat tarung para murid. Mereka membawa beberapa kuda yang tidak ditunggangi antara lain Wulung, Betari, Dawuk. Kuda-kuda itu membawa perbekalan makan dan minum.

Malamnya nginap di hutan, esok siangnya tiba di pinggiran desa Ngoro.

Mereka memilih tempat yang paling rimbun mendirikan gubuk darurat.

Dua hari menanti. Rombongan Mahameru dipimpin Narapati tiba dan bergabung. Hari ketiga, Dipta dan Kumbaka, rombongan pengintai yang terakhir pulang.

Dipta melapor. “Markasnya dilekukan kali Bangsal dekat desa Trawas, tampaknya mereka akan mengadakan pertemuan, semua murid kumpul, sekitar dua ratus orang yang hadir.”

Narapati, pemimpin rombongan Mahameru sangat berhutang budi pada Wisang Geni yang menjodohkannya dengan Kirana, murid pendekar besar itu. “Kangmas Geni, aku membawa tigapuluh murid. Bersama empatpuluhan murid Lemah Tulis, kekuatan kita cukup untuk menghancurkan Brantas. Mungkin sebaiknya kita menyerang dadakan.” Kata Narapati.

Dipta memotong. “Aku setuju, ketua. Kita tidak perlu malu menyerang dadakan, karena mereka melakukan cara pengecut di Kandangan. Kita serang diwaktu malam.”

Pertemuan yang hanya dihadiri segelintir pimpinan, setuju untuk menyerang dadakan. Waktunya malam hari menjelang pagi. “Sore ini semua istirahat dan semedi. Jarak ke Trawas hanya separuh malam. Jika berangkat awal malam, kita tiba dini hari. Artinya malam masih kelam. Atur semua rombongan kita memakai ikat kepala putih.” Kata Wisang Geni.

Prastawana bertanya pada Dipta, kakak seperguruannya. “Kangmas, siapa-siapa pendekar yang ada di markas Brantas saat ini?”

“Aku berdua Kumbaka sempat mendengar pertemuan akan dipimpin ketua Brantas Roro Gandis. Hadir juga gurunya Ganggati, dan kakaknya Kangsa, selain itu Janda Ngargoyoso dan Korowelang pendekar dari Utara.” Tutur Dipta. “Tidak banyak berita yang kuperoleh.”

Wisang Geni tertawa sinis. “Aku pernah tarung dengan Ganggati. Dia bagianku. Dipta, Prastawana dan Narapati bagi-bagi tugas hadapi Kangsa, Korowelang dan Ngargoyoso. Ketua Brantas Roro Gandis biar bagian isteriku Sekar. Murid lainnya, waspada dan saling menjaga, begitu melihat ada lawan yang berilmu tinggi cepat tangani, jangan biarkan anak murid kita jadi korban. Gayatri dan Atis akan membantu.”

Sekar memperlihatkan rasa kesalnya. “Jika urusan tarung kamu mengandalkan tenagaku, jika urusan cinta kamu memilih si genit Atis. Kamu berlaku tidak adil padaku. Aku sudah bosan bertarung untuk kepentinganmu, Roro Gandis itu bukan musuhku, aku tak punya dendam dengannya tapi aku terpaksa tarung dengannya untuk membela kepentinganmu. Hari ini aku tidak takut mati, sebab jika aku mati di medan tarung sakit hatiku hilang.” Bisiknya dalam hati.

Suasana hening di penghujung malam itu. Rombongan Lemah Tulis dan Mahameru sudah mengambil posisi. Samar-samar tampak perahu besar di tepian kali, kelap kelip obor damar di geladak. Di tepian kali puluhan gubuk darurat berjejer. Para murid dua perguruan besar mengindap-indap mendekati gubuk musuh.

Begitu jarak terpisah hanya limapuluh meteran, mereka diam menunggu. Sudah disepakati Wisang Geni, Sekar, Gayatri, Prastawana, Narapati dan Dipta akan meluruk ke perahu besar. Tugasnya menyulut api membakar geladak dan layar kapal. Serangan akan dimulai serentak begitu melihat layar perahu terbakar.

Wisang Geni menggunakan ilmu ringan-tubuh waringinsungsang yang paling handal, cepat dan tidak menimbulkan suara. Pertama menginjak kaki di geladak, dia menghantam pingsan dua penjaga. Mengambil tiga obor damar yang masih menyala, melemparnya ke tiang layar. Sekejap saja, layar itu menyala dan terbakar. Pada saat bersamaan Dipta menghajar mati beberapa penjaga.

Saat berbarengan Sekar, Gayatri, Prastawana, Narapati menerobos palka, membunuh para penjaga, mencari tong kayu yang berisi minyak damar. Mereka memecah beberapa tong dan menyulut api. Dalam sekejab api menyala di palka.

Mereka lari cepat ke atas geladak dengan masing-masing membawa satu tong berisi minyak. Mereka menuang minyak damar diatas geladak kayu, lalu menyulut api. Kebakaran berkobar dimana-mana. Palka dan geladak terbakar, begitu juga layar perahu. Kobaran api tampak mencolok digelapnya malam.

Ketika itu beberapa penjaga menerobos keluar kamar. Mereka teriak-teriak adanya kebakaran. Sebagian penjaga menyerang. Tetapi mereka bukan lawan sepadan Wisang Geni yang amarahnya menggila. Sekar, Gayatri, Prastawana, Dipta, Narapati ikut mengamuk. Satu demi satu para penjaga yang sebagian adalah penjahat bayaran jatuh bersimbah darah. Mati.

Hanya dalam hitungan menit yang singkat kapal itu terbakar.

Di malam hari, api yang membakar layar dan geladak kapal menimbulkan kekacauan. Orang-orang Brantas yang berada diatas kapal berlarian dengan panik.

Murid-murid dua perguruan melihat layar kapal tersulut api serentak menyergap musuh yang masih tidur lelap di gubuk-gubuk.

Para murid Brantas kaget dan panik mendengar teriakan para penyerang. “Bunuh Brantas! Hancurkan Brantas! Pembalasan! Tak ada ampun! Tumpas para penjahat, bunuh, jangan ada yang lolos!”

Diatas perahu markas, para pendekar Brantas dan tamu-tamunya gesit berlarian. Sebagian murid Brantas berteriak-teriak. “Padamkan api! Kebakaran!”

Suasana kacau balau, gegap gempita suara orang Brantas berteriak-teriak bercampur dengan letupan api dari palka bawah. Geladak juga sudah tidak tertolong lagi, api semakin membesar, asap menghalangi penglihatan.

“Mana musuh! Mana penyerangnya!” Terdengar teriakan suara wanita. Roro Gandis!

Paras wanita cantik itu merah padam saking marah, namun dibalik amarahnya dalam hatinya terbersit ketakutan. Besarnya kobaran api dan teriakan panik anak buahnya membuat malam dingin itu menjadi panas mengerikan. Dia memandang ke tepian kali, tampak orang-orang berlarian dan bertarung. Suara hiruk pikuk.

Terjadi pertarungan dimana-mana, diatas kapal maupun di darat. Teriak kesakitan atau jerit amarah bercampur erangan orang sekarat mewarnai pertarungan massal yang melibatkan tigaratusan orang. Satu per satu murid Brantas berjatuhan tewas.

Wisang Geni, Sekar, Gayatri, Prastawana, Dipta dan Narapati melesat turun ke darat, berpindah arena tarung.

Setelah sempat dilanda panik beberapa saat, orang-orang Brantas mulai mengenal para penyerangnya, yakni yang berikat kepala putih. Mereka mulai melawan, menyerang ganas.

Beberapa bayangan melesat turun dari kapal yang sudah bagaikan lautan api. “Menyerang dadakan bukan perbuatan pendekar, ayo unjuk diri, biar kulumat tulang-tulang tubuhmu. Aku Ganggati dari gunung Limas, wanita penghancur tulang dan pengisap darah.”

PELANGGARAN HUKUM HAK CIPTA BAGI SIAPA YANG MENERBITKAN ATAU PUBLISH NOVEL INI DI WEBSITE/ONLINE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!

Gerakan pendekar wanita itu sangat trengginas karena dipicu amarah yang berapi-api. Sepak-terjang Ganggati dikuti beberapa tokoh pendekar lainnya, serta belasan ponggawa Brantas yang cukup tinggi ilmu-silatnya. Terjadi pertarungan massal.

Ganggati tidak memilih lawan, dia menyerang musuh terdekat. Gajah Lengar kebetulan berada didekatnya. Serangan ganas Ganggati sangat mengerikan, keris luk sembilannya mengincar titik kematian. Gajah Lengar terkesiap. Untung saja Narapati berada didekatnya, membantu menyerang sehingga terjadi tarung yang mencekam. Dua pendekar muda mengeroyok Ganggati.

Namun Ganggati sedang berada di puncak amarahnya, nafsu membunuhnya tidak lagi bisa ditahan-tahan. Kebakaran di kapal markas Brantas telah memupus semua mimpinya. Tadinya ingin membawa Brantas menjadi bagian pasukan Linggapati dalam perebutan kekuasaan tanah Jawa. Mimpi itu kini sirna. Tidak heran amarahnya tumpah ruah ke alamat musuhnya. Dia menyerang dengan pukulan tangan dan tikaman keris dahsyat. Kontan Gajah Lengar dan Narapati terdesak hebat.

Wisang Geni melihat sana-sini, tahu pihaknya berada diatas angin. Tiba-tiba dia melihat Gajah Lengar dan Narapati yang terdesak amuk Ganggati, si pendekar wanita tua berilmu tinggi. Dia berkelebat menuju Ganggati sambil berseru. “Ganggati, aku lawanmu!”

Dia menyeruak tarung tiga orang itu,”kangmas berdua silahkan mundur! Nenek tua ini kekasih lamaku.” Dia tertawa keras, tawa kera yang membahana di arena tarung. “Ayo kekasih, kita main-main dulu sebelum bercumbu.”

“Kurangajar, penjahat cabul. Murid Suryajagad si cabul, kubunuh kamu hari ini!” Teriak Ganggati sambil menyerang hebat.

Ilmu andalannya lenyam-lenyom dan pangkelang-pangkelung dimainkan dengan keris luk sembilan yang merah marong. Serangan ganas yang tujuannya membunuh. Tak ada basa-basi, dia mengerahkan segenap tenaga-dalam dengan jurus-jurus mematikan. Keris pusakanya berkelebat ke semua titik kematian menebar hawa maut.

Wisang Geni tertawa senang menemukan lawan tanding yang ganas ini. Beberapa waktu lalu dia pernah tarung lawan wanita perkasa ini, hasilnya imbang alias sama kuat, tarung pun berjalan singkat.

Waktu itu dia belum menemukan ilmu lalawa mengepak sayap menembus awan, sekarang suasana lain. Inilah tarung hidup-mati ditengah-tengah pertarungan massal. Dalam sekejap terjadi pertukaran jurus-jurus maut dua petarung kosen ini.

“Siapa diantara kalian yang bernama Kangsa?” Prastawana menyongsong kelompok pendekar yang melayang turun dari kapal.

Salah seorang bertubuh gempal, tinggi dengan paras tampan berseru. “Aku Kangsa, kamu mencari mati? Sebut namamu!”

“Aku Prastawana dari Lemah Tulis, tugasku membunuh kamu!” Prastawana menyahut dengan dingin. Disinari kobaran api dari kapal besar, parasnya tampak kaku.

“Kalian pengecut hina, menyerang orang sedang tidur, kucincang tubuhmu!” seru Kangsa sambil melancar serangan maut. Terjadilah tarung hidup-mati.

Sekar yang sedang menghajar beberapa prajurit Brantas melihat wanita cantik berpakaian merah mencolok. Kontan dia berseru. “Hei Roro Gandis, aku disini, bagaimana tandamataku di payudaramu, datangi aku biar kutambah lagi codet di dadamu.” Tadinya dia kurang bersemangat tarung karena kecewa terhadap suaminya, namun kini timbul kegembiraan melihat Roro Gandis.

Melihat musuh yang paling dia benci, yang siang malam menjadi mimpi buruknya, Roro Gandis berteriak murka. “Sekar pelacur hina, kubunuh kamu, kuminum darahmu!” Bergerak pesat dia melancar serangan dengan jurus-jurus maut dari kerisnya. Dia kalap!

Dua macan betina ini terlibat tarung mematikan, sedikit lengah nyawa melayang.

“Mana Korowelang?” teriak Narapati. Dia pernah mendapat laporan dua keponakan murid Mahameru dibunuh dengan kejam oleh Korowelang, murid wanitanya diperkosa lebih dahulu baru dibunuh. Kejadiannya sudah satu tahun, tetapi baru hari ini Narapati menemukan musuh yang dicari-carinya.

“Aku Korowelang, siapa yang mau mati ditanganku?”

“Kamu pembunuh dan pemerkosa murid Mahameru, kubunuh kamu!” Seru Narapati. “Sudah lama aku mencarimu, akan kukirim kamu ke neraka!”

Korowelang tertawa keras, temberang, memandang enteng Narapati. “Wanita cantik itu, dua hari aku menikmati tubuhnya setelah itu kugorok lehernya, siapa dia? Apakah dia isterimu, mbakyumu, atau anakmu?”

Narapati meledak amarahnya, segera menggelar ilmu brahmanagra yang terdiri 21 jurus penuh kawikaran (perubahan) basis gereh (guntur) dan sedung (badai). Serangannya telengas tak kenal kasihan. Dua tangannya bergerak macam kitiran menguar angin keras. Itulah jurus yang mengandalkan tenaga besar yang hanya bisa digelar seorang pendekar dengan tenaga-dalam mumpuni.

Suara angin dan letupan dari dua tangan Narapati memaksa Korowelang harus memusat perhatian sepenuhnya jika mau selamat. Dia pun melancarkan tangkisan dan serangan balasan memompa semua tenaga-dalam dan menggunakan jurus-jurus andalannya. Dalam sekejap pertarungan masuk ke wilayah mati hidup.

Janda Ngargoyoso berdua Korowelang mengunjungi Ganggati menagih janji bergabung dengan pasukan Linggapati justru datang pada waktu dan tempat yang salah. Jika Korowelang ditantang Narapati, Janda Ngargoyoso ketemu tarung lawan Gayatri. Tidak terhindar lagi pertarungan berdarah antara mereka.

Tarung massal ditingkat bawah berlangsung tak kalah serunya. Para murid dua perguruan satu tingkat lebih tinggi ilmu-silatnya, apalagi dengan serangan mendadak, tidak heran banyak jatuh korban di pihak Brantas.

Di kubu dua perguruan beberapa murid terluka, mereka ditolong temannya ditempatkan di gubuk-gubuk bekas milik orang-orang Brantas. Ada beberapa murid yang bertugas merawat temannya yang luka. Sementara beberapa murid lain menjaga dengan senjata terhunus.

PELANGGARAN HUKUM HAK CIPTA BAGI SIAPA YANG MENERBITKAN ATAU PUBLISH NOVEL INI DI WEBSITE/ONLINE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!

Setelah berlangsung satu jam, ketika matahari mulai muncul di ufuk Timur, banyak murid Brantas dan pendukungnya tewas. Sebagian lain yang masih selamat, melarikan diri.

Ketika para murid Brantas berlarian sambil menjerit-jerit menyelamatkan diri, pada saat itu pertarungan Sekar lawan Roro Gandis memasuki fase berbahaya. Sekar berada diatas angin, namun belum berani merangsek lebih dekat. Keris pusaka Roro Gandis tidak hanya menguar hawa panas namun juga bau bacin. Itulah keris yang sudah dicelup dalam racun mematikan.

Mengandalkan ilmu ringan tubuhnya wimanasara (gerak secepat panah sakti) yang makin sempurna setelah dibimbing suaminya, Sekar melayang-layang ringan. Senjatanya, tongkat hitam dari logam keras dengan ujung tajam bagai silet. Ilmu pukulan sapwatanggwa meski hanya tujuhbelas jurus namun banyak perubahan, dimainkan dengan tenaga-dalam segoro menempatkan Sekar diatas angin.

Puluhan jurus berlalu jangankan melukai musuhnya, menyentuh saja dia tidak mampu. Hal ini membuat Roro Gandis yang dikuasai amarah semakin kalap, semakin menggila ingin menebas tangan Sekar dan menghunjam kerisnya kedada musuh yang sangat dibencinya. Dia pun menyerang tanpa memikirkan pertahanan.

Menurut pikirannya serangan gencar dan kejam akan membuat Sekar kesulitan menyerang balik. Ilmu andalan lenyamlenyom dan pangkelangpangkelung berganti-ganti dimainkan sehingga menyesatkan, dan sulit diduga arah serangannya. Pada mulanya Sekar berlaku sabar, mempelajari gerak serangan lawan.

Sekar mengerti jenis serangan keris lawan meskipun sangat aneh namun hanya bervariasi tusuk dan potong. Tampaknya Roro Gandis ingin membuntungi tangan atau menghunjam kerisnya ke dada dan leher. Saking marahnya setiap menyerang Roro Gandis berseru, “mati kamu, kurobek dadamu, jantungmu kumakan mentah-mentah, kuminum darahmu.”

Sekar melayani dengan sabar dan semakin mengerti arah serangan lawan.

Hanya sekali-sekali dia menangkis dengan tongkatnya. Khawatir tongkatnya rusak beradu dengan keris pusaka lawan, dia berlaku cerdik. Saat benturan dia mengedut senjatanya seakan hanya menampar badan keris lawan dan menarik kembali. Tak ada benturan keras sepenuh tenaga. Sekar tak mau senjata warisan Nenek Sapu Lidi itu rusak.

Tarung melampaui jurus tujuhpuluh dua macan betina itu sudah mandi keringat disiram mentari pagi. Daya tahan Sekar semakin tangguh, tenaga segoro ibarat makin bekerja makin panas dan makin tangguh. Sebaliknya Roro Gandis yang malas berlatih dan malas meningkatkan kualitas tenaga-dalamnya mulai keteter. Ulahnya yang sering mengumbar hawa nafsu bercinta dengan lelaki, membuat tenaganya melemah. Tidak tahan bertarung dalam durasi panjang.

Sadar kekuatannya mulai menurun Roro Gandis menggeram mengerahkan segenap tenaga dan melancar serangan beruntun. Dalam sekejap dia melancar tusukan ke berbagai jalan darah mematikan, mengarah leher, pelipis, dahi, pundak, dada, ketiak bervariasi dengan tebas potong kearah pergelangan tangan, siku, lutut dan kaki.

Serangannya sangat mematikan. Adu jiwa, hidup atau mati, membunuh atau mati. Lebih baik mati bersama musuh yang paling dia benci ini daripada mati sendirian. Itulah tekadnya.

Sekar sadar kekuatan musuh mulai berkurang dan serangan mematikan itu adalah adu jiwa. Mana mau dia adu-jiwa. Tidak ada gunanya melayani jurus maut musuhnya dengan beradu langsung. Dia tertawa sinis, dengan ringan-tubuh memainkan jurus “cumangkrama” (menyetubuhi). Jurus membusung dada dan perut itu indah tetapi dahsyat dan mematikan sebab tujuannya memancing musuh masuk kemudian menyerang balik.

Memainkan jurus-jurus itu membuat posisi tubuh Sekar membusung dada dan perut kemudian menggentak menarik kedalam diiringi gerak kaki wimanasara yang mumpuni.

Keris Roro Gandis hanya terpaut satu jengkal dari payudara Sekar. Namun tangannya sudah terjangkau maksimal, untuk bisa menusuk dan mencongkel dada montok musuhnya, mau tidak mau Roro Gandis harus melangkah maju untuk memanjangkan jangkauannya.

Dan Roro Gandis saking bencinya dan besarnya keinginan menembus dada musuhnya, tak lagi memikir resiko jebakan lawan. Dia melangkah maju sambil tetap menusuk dan mencongkel, sasaran dada atau leher. “Mati kamu!” Teriaknya bersemangat.

Saat itulah tubuh Sekar meliuk-putar dengan gerakan pinggul, itulah jurus aneh lainnya yang namanya pun tidak kalah uniknya “manguswapujeng” (mencium lutut). Tubuh langsing Sekar meliuk setengah membungkuk, posisi menyamping dengan wajahnya memandang musuh dengan sinis, kakinya terentang-ngangkang, tangan kanan menusuk dengan tongkatnya sekaligus dia memutar lagi sambil tangan kirinya memukul dengan tenaga segoro.

Kesudahannya hebat. Ujung tongkat hitam yang tajam bagai silet menembus uluhati Roro Gandis semudah pisau menembus batang pisang, satu detik berikut pukulan Sekar mengena sisi perut.

Roro Gandis meliuk kesakitan, kerisnya jatuh, dia berteriak, “guuurrrruuu…!”

Tidak berhenti disitu, Sekar menyabet perut Roro Gandis. Lalu dia tertawa puas. Saat berikut Sekar melesat mencari musuh lain, membabat murid Brantas tanpa kenal kasihan. Dia tak perlu melihat lagi Roro Gandis yang sempoyongan, kemudian roboh bersimbah darah. Mati!

Ganggati terkejut, melirik sesaat melihat murid kesayangannya limbung dan jatuh, bahkan dia sempat melihat tubuh muridnya berlepotan darah segar.

Namun Ganggati tak sempat berbuat sesuatupun karena pada saat itu Wisang Geni menambah bobot serangan membuatnya tak bisa leluasa bergerak. Ganggati bahkan tak mampu berseru atau menyahut teriakan muridnya. Dia sendiri sibuk mengimbangi tekanan Wisang Geni. Jurus-jurus mematikan Wisang Geni membuatnya harus konsentrasi.

Kangsa tidak kalah kagetnya mendengar teriakan adik seperguruan dan kekasihnya. Dia yang sedang terlibat tarung mematikan lawan Prastawana hanya bisa melihat Roro Gandis meliuk tubuh sambil memegang uluhati dan perutnya yang belepotan darah.

Kangsa berteriak, melengking, “Rorrrroooo.”

Roro Gandis, wanita cantik yang hidupnya malang dan selalu mengumbar hawa nafsu mengejar mimpi dan ambisinya hanya bisa memandang kearah Kangsa. Matanya memancar sejuta rasa cinta yang misterius. Diakhir hidupnya dia merasa sangat mencintai kakak seperguruannya. Sungguh tragis akhir hidup seorang wanita cantik yang bagaikan robot mengikuti perintah sang guru.

Kangsa menggeram. Hatinya menangis menyaksikan nasib tragis kekasih dan juga adik seperguruannya. Amarahnya meledak bagai gunung berapi memuntah lahar panas yang membakar apa saja yang dilewati. Dia melimpahkan amarahnya dalam tarung menghadapi Prastawana. Sudah limapuluh jurus berlalu, kekuatan masih imbang.

Beberapa saat sebelum Roro Gandis mati, Gayatri bertarung lawan Janda Ngargoyoso. Gayatri yang semakin mahir memainkan jurus-jurus hebat kitab lhakeswara justru berada diatas angin dan menekan Janda Ngargoyoso.

Dia bergerak cepat menghantam Janda Ngargoyoso dengan jurus barunya dari kitab Lhakeswara membuat musuhnya mundur. Sesaat Janda Ngargoyoso bimbang, ingin melarikan diri. Dia memandang sekeliling banyak murid Brantas tewas dan sebagian lain kabur, sekitar tempat dia berdiri beberapa pendekar dua perguruan yang sudah selesai tarung, memerhatikan. Dia tahu tak mungkin bisa meloloskan diri, makanya dia menyerang adu jiwa tanpa memikirkan keselamatan.

Pada saat itu Gayatri melolos senjata bor yang diikat dengan tali tipis yang ulet dan tak mudah putus. Saat berikut terdengar desing senjata bor yang mengincar titik kematian Janda Ngargoyoso. Janda genit ini terdesak, tergopoh-gopoh mundur dan menangkis dengan kerisnya. Terdengar denting bentrok bor yang berputar bagai gasing dengan keris.

Gayatri menyerang gencar dengan jurus andalannya dinak din naachu mein gae dil jumne zamana (aku menari, hati menyanyi dan dunia bergembira) yang membuat bornya melayang pesat menimbulkan suara desing bagai puluhan lebah. Dibanding dulu sebelum dibimbing Nenek Jubah Kuning, sekarang ini ilmu-silat Gayatri berlipat dua kali. Tenaga-dalamnya pun maju pesat.

Gayatri mengendalikan bagian tengah tali sehingga senjatanya memecah menjadi dua. Kedua bor itu mengejar mencecar Janda genit seperti bayangan. Senjata dan jurus aneh itu akhirnya melukai lengan dan pundak Janda Ngargoyoso yang berteriak kesakitan.

Tidak berhenti sampai disitu Gayatri melayang kesamping sambil memutar tubuhnya, jurus yang dipelajarinya dari Nenek Jubah Kuning, jurus dadakan, sambil dia mengarahkan senjata bornya ke arah leher dan pelipis lawan. Dia bergerak terus, melancar serangan dari jurus warisan dan andalan ayahnya Yudistira, jurus “atehai zaminpar kabhiyeh chand sitare” (kadang bulan dan bintang pun turun ke bumi).

Janda Ngargoyoso tak pernah menyangka ada jurus seaneh itu namun yang membuat dia tak mampu berkutik. Belum sempat dia sadar, serangan Gayatri sudah terpaut satu jengkal dari tubuhnya.

Dia sempat menepis satu bor menuju pelipis, namun gagal melindungi lehernya dari terkaman bor kedua. Dan bor itu dengan kejamnya melubangi tenggorokannya. Selain itu pukulan tangan Gayatri jitu dan telak menerpa dadanya. Janda Ngargoyoso mati sebelum tubuhnya menyentuh tanah.

Para murid dua perguruan yang menonton tarung itu diam-diam kagum akan kehebatan ilmu-silat isteri Wisang Geni itu.

Pada saat yang sama, beberapa saat sebelum Roro Gandis mati. Atis terlibat tarung lawan salah seorang anak Manyar Edan, yakni Belut Ireng. Tarung tidak seimbang, Atis tidak punya pengalaman tarung sehingga gerakannya kaku. Selain itu Atis juga dilanda ketakutan melihat banyak korban tewas. Jerit dan erangan orang sekarat membuat hatinya keder.

Tanpa sadar posisi Atis semakin jauh dari teman-temannya. Tampak dia sendirian harus menolong diri dari serangan gencar Belut Ireng. Dan Atis hanya tertolong berkat ilmu ringan-tubuhnya waringinsungsang yang handal.

Berkali-kali dia meloloskan diri dari beberapa serangan yang nyaris melukainya. Keringat dingin mengalir diparasnya, dia melirik melihat Dyah Mekar. Kontan dia teriak. “Mbak Dyah tolong aku!”

Dyah Mekar bertiga Sawitri dan Laras sedang berada diatas angin, satu per satu murid Brantas rontok. Pedang dan keris mereka sudah basah simbah darah. Begitu mendengar teriakan Atis, Dyah Mekar segera meluruk menyerang musuhnya.

Belut Ireng terkejut.

Bagaimana pun juga ilmu-silat Belut Ireng belum sepadan dibanding kiprah Dyah Mekar yang sudah menguasai sempurna jurus garudamukha prasidha bahkan sudah mulai melatih jurus penakluk raja meski belum sempurna.

Melihat Dyah Mekar menyerang Belut Ireng, seketika Atis berdiam, hanya menonton. Parasnya masih pucat. Hal ini tidak luput dari pengamatan Dyah Mekar. “Sebagai cucu Ki Sagotra yang terkenal mumpuni itu, pasti ilmu-silat Atis cukup lumayan. Seharusnya bisa mengimbangi musuh ini. Tapi tak punya pengalaman tarung satu hal yang terkadang membuat seseorang ketakutan.” Gumam Dyah Mekar dalam hati.

Dyah Mekar menyerang Belut Ireng dengan serangkaian jurus prasidha andalannya, agniwisa (bisa api, pijar, brajamusti), sumujugtundaghata (menukik ke bawah) dan prasada atishasha (menara tinggi bukan main).

Belut Ireng terdesak, hanya bisa menangkis dan menghindar. Dia heran ketika Dyah Mekar menunda dan memperlunak serangannya. Tapi hanya sesaat karena begitu dia hendak menyerang seketika tangan Dyah Mekar menerobos dan memukul lengannya.

Dyah Mekar berseru. “Atis jangan diam begitu, maju serang musuhmu. Gunakan jurus warisan kakekmu.”

Atis masih seperti orang bingung.

Dyah Mekar membentak. “Atis! Maju! Serang musuhmu.”

Saking kaget Atis bergerak spontan menyerang dengan salah satu dari tujuh jurus bang bang alum alum yakni bahni anempuh toya (api menyerang air), serangan itu mengarah dada dan kepala lawan. Belut Ireng kaget, pukulan Atis mendatangkan kesiur angin tajam.

Terdengar seruan Dyah Mekar. “Terus lanjutkan menyerang, jangan beri dia kesempatan istirahat.”

PELANGGARAN HUKUM HAK CIPTA BAGI SIAPA YANG MENERBITKAN ATAU PUBLISH NOVEL INI DI WEBSITE/ONLINE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!

Dan Atis menyusul dengan jurus berikut bhaskarogra (matahari memuncak panasnya) dan nanawidha (beraneka warna).

Ganti Belut Ireng terdesak mundur dua langkah.

“Lihat musuhmu kini yang terdesak. Kamu harus percaya diri, serang terus dan bunuh dia, kalau tidak kamu bunuh dia akan membunuhmu. Ayo Atis.” Seruan Dyah Mekar memicu semangat Atis. Keberhasilan memukul mundur Belut Ireng menjadikan dia lebih bebas dan percaya-diri menyerang dan memainkan tujuh jurus bang bang alum alum.

Ilmu andalan Ki Sagotra yang dijuluki pendekar Merapi itu memiliki banyak perubahan, sehingga meskipun diulang-ulang, gerakannya tidak sama. Apalagi digelar dengan ringan-tubuh waringinsungsang maka serangan Atis makin membuat musuhnya kalang kabut.

Sejak Atis mulai menyerang, Dyah Mekar sudah mengundurkan diri.

“Mengapa kamu membantu dia, biarkan saja dia mati!” Bisik Sawitri dengan nada tinggi. Kekesalannya terhadap Atis masih belum lenyap.

Dyah Mekar heran. “Mengapa kamu bicara seperti itu, dia kan isteri ketua?”

“Dia genit, sengaja menggoda ketua Geni dan menjauhkan Sekar dari suaminya. Aku benci dia.” Bisik Sawitri masih dengan nada tinggi.

Seketika Dyah Mekar mengerti. “Aku juga prihatin akan nasib Sekar. Tapi kalau Atis mati sedangkan kita berdua berada didekatnya, entah bagaimana sikap ketua terhadap kita nantinya.”

Keduanya melanjutkan tarung dengan murid Brantas sambil memerhatikan Atis yang sedang tarung satu-satu lawan Belut Ireng. “Aku tidak suka situasi seperti ini karena bagaimanapun juga Sekar adalah sahabatku. Sahabat setia yang selalu menyenangkan hatiku tempat aku tukar pikiran kanuragan.” Sawitri mengeluh.

Kini berbeda, kalau tadinya Atis hanya mengelak dengan waringinsungsang kini dia menyerang gencar. Ternyata Belut Ireng tak mampu mengimbangi gesitnya sepak-terjang Atis yang sudah salin rupa menjadi pendekar yang percaya diri.

Setelah melampaui jurus limapuluh Atis berhasil mendaratkan dua pukulan telak yang menghantam dada Belut Ireng yang sempoyongan mundur. Atis memburu dan menghajar dada musuhnya dengan pukulan paling bertenaga. Belut Ireng tewas ditempat.

Atis memandang musuhnya dengan mata membelalak, seakan tak percaya dia mampu membunuh musuhnya. Terdengar tepuk tangan. Atis menoleh, melihat senyum Dyah Mekar. Disamping Dyah Mekar, berdiri Sawitri dengan wajah kaku. “Seharusnya kita biarkan kamu mati.” Bisiknya dalam hati.

“Mbakyu Dyah, terimakasih yah.” Sesaat Atis masih terpaku, menyaksikan manusia pertama yang dibunuhnya.

“Selalu akan ada pengalaman pertama dalam segala urusan.” Dyah Mekar tertawa. Saat berikut tawanya berhenti ketika melihat paras Sawitri yang kaku. “Kau tampaknya sulit memaafkan Atis.”

“Aku tak akan pernah memaafkan Atis. Bagiku Sekar itu seorang teman yang jujur, penuh cinta dan selalu membela teman, wanita yang sangat setia dan manut pada suami, isteri yang matang tapi dia dicampakkan suaminya karena suaminya tergoda kegenitan wanita tak tahu malu ini.” Desis Sawitri. Dyah Mekar mendengar omelan teamnnya, tetapi Atis yang berdiri agak jauh tidak mendengar.

Dyah Mekar menggamit lengan Sawitri. “Lihat, hebatnya sepakterjang Sekar. Selama ini dia bertarung dalam semua pertarungan suaminya. Benar katamu, adik kita Sekar adalah wanita utama yang setia, manut dan membela suaminya.”

“Itu sebabnya aku kesal dan tidak rela melihat dia diperlakukan sedemikian tidak adilnya oleh Atis dan juga ketua Geni. Kalau bisa aku akan protes pada ketua.”

“Jangan! Jangan Witri, kita jangan mencampuri urusan pribadi ketua.” Tegas Dyah Mekar dengan wajah tegang. Dia khawatir temannya berlaku nekat memprotes ketua Wisang Geni.

Paras Sawitri tampak keras, mulutnya menutup erat-erat.

Keduanya memandang sekeliling, masih menyaksikan saat-saat terakhir Sekar membunuh Roro Gandis. Begitupun sepakterjang Gayatri membunuh Janda Ngargoyoso.

Agak jauh dekat tepian kali, Narapati berhasil melumpuhkan Korowelang. Pukulannya keras dan panas menerpa dada, punggung dan pinggul musuh jahatnya itu. “Kamu lumpuh tak akan sanggup berjalan, apalagi mau bersilat. Aku tidak membunuhmu karena mati terlampau enak buat kamu. Biarlah dalam sisa hidupmu kamu bertobat dan merenung betapa kejamnya kamu telah memerkosa wanita-wanita yang tidak berdaya kemudian membunuh mereka.”

“Bunuh aku…. Bunuh aku… jangan biarkan aku tersiksa begini…” Korowelang menangis, menjerit-jerit kesakitan, namun lebih sakit lagi adalah membayang bahwa dia harus hidup sebagai orang lumpuh selamanya. Narapati mendengus kemudian meludahi wajah penjahat itu.

Pertarungan sudah selesai, Brantas sudah luluh, dimana-mana mayat bergelimpangan tak beraturan. Banyak murid Brantas tewas, hanya beberapa orang yang berhasil selamat dengan melarikan diri. Hampir semua anak dan menantu Manyar Edan, tewas, termasuk Santiyaki yang tewas ditangan Dipta. Begitu juga Prabowo yang dibunuh Gajah Nila. Sementara dua perguruan hanya belasan murid yang luka-luka dan sedang dalam perawatan di salah satu gubuk yang tadinya ditempati musuh.

Pertarungan masih menyisakan dua partai. Wisang Geni menghadapi Ganggati dan Prastawana melawan Kangsa. Para murid dua perguruan menyaksikan dari pinggiran. Tarung memasuki tahapan kritis.

Dilatar belakang tampak kapal besar yang hanya tinggal kerangka hitam hangus masih mengebulkan asap hitam. Kapal markas Brantas itu sudah menjadi puing-puing tidak berharga, sedikit demi sedikit mulai karam.

Amarah Ganggati dan Kangsa tak lagi bisa dibendung, kalap. Kematian Roro Gandis tidak hanya mendatangkan duka tetapi lebih dari itu telah menyulut dendam dan sakit hati yang menggunung. Keduanya benar-benar kalap.

Wisang Geni tertawa keras, tawa kera yang berisi tenaga-dalam wiwaha, suaranya bergelombang. Mendengung kedalam telinga orang yang mendengar. Jantung orang yang mendengar berpacu kencang terutama yang tenaga-dalamnya masih belum mumpuni.

Tidak lama. Tawanya berhenti. “Pras, selesaikan pekerjaanmu, aku sudah bosan main-main dengan kekasihku ini.”

“Penjahat cabul, aku bukan kekasihmu, kubunuh kamu!” Teriak Ganggati kalap.

“Ayolah Ganggati, tidak perlu malu, kebetulan aku belum punya kekasih yang setua kamu,” Wisang Geni mengolok-olok sambil tertawa.

Pada saat itu Kangsa dalam keadaan kalap berteriak. “Kubunuh kamu, rasakan jurus tapak racun panas.” Dia menyerang dengan jurus mematikan. Prastawana melayaninya dengan jurus penakluk raja yang paling mumpuni. Pertarungan makin menegangkan, kedua pendekar menggelar jurus-jurus mematikan. Tak ada jalan mundur, maju terus, mati atau hidup, membunuh atau dibunuh.

Wisang Geni melirik Prastawana, memperhatikan jurus-jurusnya. Dia melihat jurus penakluk raja sudah sempurna dimainkan muridnya itu. “Sepuluh jurus lagi Kangsa akan tewas!” Bisiknya dalam hati. Lalu dia berkata kepada Ganggati. “Kalau mau hidup, pergilah sebelum aku membunuhmu.”

Ganggati berteriak kalap. “Kamu atau aku! Satu harus mati!” Dia menyarung kerisnya, mengerahkan tenaga-dalamnya ke seluruh tubuh. Dia mengubah jurusnya.

Sambil menyerang gencar dia berkata. “Kamu sungguh memandang enteng aku. Rasakan gabungan lenyamlenyom dan pangkelang pangkelung serta tapak racun panas. Kalau kamu bertemu Suryajagad di kuburan, katakan aku Ganggati yang membunuhmu!”

Jurus Ganggati sangat aneh. Pukulannya membawa serta angin panas dan bebauan aneh. Cara memukulnya juga aneh, seperti lidah biawak bolak-balik, masuk-keluar mulutnya, Telengas, cepat dan tak kenal ampun. Terkadang lemas, berliuk-liuk pada saat lain lurus dan keras. Sepasang kaki nenek tua itu tak menginjak tanah, seperti melayang-layang.

Wisang Geni tidak ayal lagi menggelar jurus lalawa mengepak sayap menembus awan dua tangannya mengembang, kakinya menendang tanah, dia melayang, menerjang Ganggati.

PELANGGARAN HUKUM HAK CIPTA BAGI SIAPA YANG MENERBITKAN ATAU PUBLISH NOVEL INI DI WEBSITE/ONLINE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!

Kaki dua pendekar itu tidak memijak bumi, melayang diudara. Pukulan Ganggati bagai air bah melanda, keras dan berhawa panas. Wisang Geni menarik dua tangannya dan mendorong kedepan. Terjadi benturan tenaga di udara. Bunyi ledakan.

“Daaasssss !”

Ganggati kalah tenaga, kakinya turun memijak bumi. Dia menarik nafas dan mengerahkan segenap tenaga, memukul dengan tenaga dua kali lipat. Ini jurus pamungkas, hidup atau mati! Benturan tenaga yang pertama, Wisang Geni tetap diudara, tangannya mengepak lagi dan memukul keras, kali ini dengan tenaga dingin. Terjadi benturan tenaga lagi.

“Daaaassss …. Daassss…. Daaaassss…. Daaassss…. !”

Beberapa kali benturan tenaga, Ganggati merasa darahnya bergolak. Dia tahu tak mungkin sanggup adu tenaga lagi.

Gebrakan berikut dia menghindar. Dia memusatkan dua kaki tertanam di bumi, inilah kuda-kuda paling ampuh. Dia kini menanti serangan Wisang Geni, dia berhasil membalas setiap serangan dengan jurusnya yang aneh.

Pada saat yang sama Prastawana sengaja mengadu pukulan maut Kangsa dengan tenaga-dalam garudamukha dan jurus penakluk raja dengan sikap syura (berani) dan prabhawa (kekuasaan). Dua pukulan beruntun dia mainkan akwamatyana (biarlah aku yang akan membunuh) dan kacakrawartyan (penguasaan dunia).

Terdengar letupan keras ketika dua tangan bertemu, asap mengepul dari benturan dua tangan. Itulah tapak racun panas pukulan Kangsa. Tampak siapa yang lebih mumpuni tenaga-dalamnya. Bentrokan itu membuat tenaga-dalam Kangsa buyar untuk satu dua detik.

Belum sempat dia memulihkan tenaga ketika pukulan susulan Prastawana menerobos masuk. Dalam bentrokan tadi, tenaga-dalam Prastawana tidak mengalami gangguan, bisa mengalir mulus menerobos dan menghantam dada musuhnya.

“Buuukkkk,” Kangsa tak sempat mengeluh atau berteriak. Dia tewas seketika. Dadanya remuk, dia memuntah darah segar.

Melihat murid yang sudah seperti kekasihnya, mati, amarah Ganggati meluap. Hampir dia menangis histeris saking hatinya sakit. Tetapi dia tahu tak boleh merusak konsentrasi diri menghadapi jurus-jurus Wisang Geni yang makin lama makin berbobot maut.

Beberapa jurus berikutnya Ganggati tahu dia akan kalah, lagipula dua murid tersayangnya sudah mati, tak ada lagi keinginannya untuk hidup. “Lebih baik mati daripada menyaksikan kekalahanku apalagi kalau sampai aku luka parah dan lumpuh, itulah aib yang memalukan.”

Ketika serangan Wisang Geni datang beruntun dengan tenaga-dalam panas berganti dingin, Ganggati menyiapkan tenaga benturan.

Merasa tenaga-dalamnya sudah pulih kembali setelah istirahat dengan kuda-kuda diam tadi, Ganggati bertekad mengeluarkan segenap kekuatan, seratus persen tenaga-dalamnya.

“Dasssss …. Dassss…. !”

Dua kali benturan tenaga.

Wisang Geni melangkah surut dua langkah untuk melepas tekanan tenaga besar lawan. Dia hendak maju tetapi langkahnya terhenti ketika melihat Ganggati tidak bergerak dan hanya tersenyum tawar.

“Aku belum kalah, Wisang Geni, aku akan kembali lagi dua puluh hari setelah hari ini, kita bertemu di desa Trawas. Aku hendak membawa dua muridku, aku tak mau jasad mereka dimakan binatang atau menjadi busuk disini.”

“Silahkan pergi, Ganggati. Aku pasti akan menunggumu disini. Seandainya kamu tidak datang dan membatalkan tarung, aku pun tidak kecewa. Aku ikuti apa maumu, sesungguhnya kamu salah satu pendekar paling tangguh yang pernah kuhadapi dalam tarung. Aku menghormati kependekaranmu.” Kata Wisang Geni datar,

Ganggati kemudian mencari-cari kuda tunggangan, menemukan tiga ekor. Satu kuda untuk dua mayat muridnya. Satu lagi untuk dia tunggangi, satu lagi sebagai cadangan. “Aku akan kebumikan dua muridku kemudian mencari kangmas Purwo untuk pertarungan mati hidup dengan Wisang Geni.” Bisiknya dalam hati.

PELANGGARAN HUKUM HAK CIPTA BAGI SIAPA YANG MENERBITKAN ATAU PUBLISH NOVEL INI DI WEBSITE/ONLINE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!

Ganggati melecut kudanya dengan menarik dua ekor dibelakangnya. “Wisang Geni, tunggulah aku pasti datang. Hutang dua nyawa muridku harus kamu bayar dengan nyawamu.” Teriaknya.

Pertarungan selesai. Tak seorang pun murid dua perguruan yang tewas. Tetapi yang terluka cukup banyak. Rombongan berjalan ke Selatan memasuki hutan, menjauhi tempat kejadian yang dipenuhi mayat-mayat orang Brantas.

Tiba di persimpangan mereka istirahat cukup lama. Menjelang sore Narapati dan para murid Mahameru pamitan. Murid dua perguruan saling peluk mengucap kata-kata perpisahan.

Ketika murid Mahameru sudah hilang dari pandangan, Dipta, Prastawana dan semua murid saling pandang memberi isyarat.

“Terimakasih guru.” Serentak Dipta, Prastawana dan semua murid utama Lemah Tulis memberi hormat pada Wisang Geni dengan berlutut.

Wisang Geni terkesiap. “Mau apa kalian?”

“Kami ingin menyempurnakan jurus penakluk raja.” Gajah Lengar berkata lirih.

“Pasti akan kuajarkan. Tetapi tidak perlu ikatan guru dan murid.”

“Harus ada ikatan guru dan murid. Harus.” Seru Dyah Mekar bersemangat.

Dipta berkata tegas, bersemangat. “Guru, kami akan tetap berlutut, dan hanya berdiri jika kamu mengakui kami sebagai murid.”

Semua murid meniru ucapan Dipta, suara mereka macam dengung lebah.

“Baiklah aku terima kalian sebagai muridku!” Wisang Geni berkata dengan senyum.

Satu persatu murid maju dan mencium lutut sang guru yang berdiri diam.

Setelah upacara sederhana itu selesai. Wisang Geni berkata kepada semua muridnya. “Mulai sekarang ada peraturan baru, semua murid Lemah Tulis belum boleh bepergian keluar perguruan jika belum menguasai jurus penakluk raja.”

Para murid saling pandang dan tersenyum. Mengerti, peraturan akan melecut semangat cepat menguasai jurus penakluk raja yang merupakan puncak dan gabungan semua jurus-jurus perguruan Lemah Tulis sejak puluhan tahun lalu.

“Brantas sudah kalah, kemana kita sekarang, pulang ke Lemah Tulis?” Tanya Sawitri.

Wisang Geni berdiam sejenak.

“Sebenarnya yang paling bertanggungjawab atas pembantaian di Kandangan adalah pasukan rodra, pasukan panah didikan Kediri dimasa raja Tohjaya.”

Terdengar bisik-bisik bagai dengung lebah, para murid saling memandang temannya. “Aku akan mengajak kalian untuk membalas dendam. Ini pertarungan paling berbahaya, tidak semudah menghancurkan Brantas. Belum tentu kita bisa pulang dengan selamat. Siapa dari kalian yang mau ikut bersamaku?” Kata Wisang Geni.

Seketika para murid berteriak. “Aku! Aku! Aku ikut!”

Wisang Geni gembira melihat semangat para muridnya. “Tidak semuanya, aku hanya memilih beberapa orang. Isteriku Atis pulang ke Lemah Tulis bersama kalian yang tidak kupilih. Ini perintahku, tidak boleh ada pembangkangan!”

Wisang Geni menyebut nama-nama yang mengikutinya. Prastawana, Dipta, Gajah Lengar, Gajah Nila, Daraka, Sampurno, Margana, Jayasatru, Sekar dan Gayatri. Rombongan termasuk Wisang Geni berjumlah sebelas orang. Tak ada yang protes.

Para murid saling peluk dan mengucap nasihat agar hati-hati. Para isteri menangis harus berpisah dengan suaminya apalagi tahu misi membalas dendam pada pasukan Rodra adalah misi perang yang sangat berbahaya.

Atis memeluk Wisang Geni seakan tak mau melepas suaminya pergi. Dia menangis membasahi dada Wisang Geni dengan airmatanya yang hangat. Dan Wisang Geni begitu terharunya mengelus-elus kepala isteri mudanya.

Tidak jauh dari situ Sekar memandang dengan seribu-satu macam perasaan yang berkecamuk hebat. Saat itu pun Gayatri sadar bahwa Atis telah menjadi isteri kesayangan suaminya. Dia hanya bisa menghela nafas sambil melirik Sekar.

Tiga murid yang berdiri agak jauh saling berbisik.

Sawitri yang berdiri berdampingan dengan Dyah Mekar dan Laras menyaksikan pemandangan romantis itu. “Huhhh air mata buaya, dia itu pantasnya jadi sinden, dan ketua kita makin mabuk kepayang sehingga melupakan Sekar isteri yang begitu setia mendampinginya selama bertahun-tahun.” Bisik Sawitri.

Dyah Mekar diam. Laras ikut berkomentar. “Kasihan Sekar.”

“Apa yang akan kulakukan untuk membantu Sekar?” Sawitri berbisik seakan kepada diri sendiri namun didengar dua temannya.

“Tak ada yang bisa kita lakukan. Apakah berani kita membangkang ketua?” Laras berbisik dengan kesal.

“Itu urusan pribadi Ketua, tak boleh kita campuri. Lagipula laki-laki yang sedang kasmaran begitu mana bisa menerima pendapat orang lain.” Kata Dyah Mekar.

“Witri, kamu jangan masuk wilayah terlarang itu. Jangan-jangan kamu disamber ketua jadi isterinya, hi… hi… hi…” Laras menggoda.

“Aku emoh, mosok mau bercinta mesti antri atau tunggu giliran, aku bisa gila, wong hampir tiap malam birahiku kumat jika berada dekat suamiku. Pasti aku ndak sabar antri atau nunggu giliran.” Sawitri tertawa.

Para murid Lemah Tulis berpisah. Rombongan besar pulang ke Lemah Tulis dan rombongan kecil bersama Wisang Geni menuju medan tarung yang lebih besar.

Note : Novel (part Two) ini belum pernah diterbitkan sebagai buku novel dan belum pernah dipublish di website lain.

***

No comments: