Tuesday, August 9, 2011

Wisang Geni part Two (45)

Kutukan Keris Berdarah

By John Halmahera

Publish 45

Before :

Dedes Ayu meninggalkan lawannya, Gajah Nila.

“Minggir!” Teriak wanita cantik itu yang rambutnya awut-awutan. Dia membuka jalan menggunakan kerisnya, beberapa pukulan menimpa tubuhnya, tetapi dia merangsek terus menuju tempat suaminya terkapar.

Prastawana menyeru pada Gajah Nila, “beri dia jalan!”

Susah payah sempoyongan dengan pakaian compang camping dan tubuh yang luka berdarah disana-sini, Dedes Ayu tiba disisi suaminya.

“Kangmas…. Ooooh sembahanku… mengapa karma memusuhi kita…”

Suara Linggapati serak dan terputus-putus, meregang nyawa. “Maafkan aku dinda, aku gagal mempersembahkan kursi permaisuri untukmu…”

“Tidak mengapa, memang karma kita sampai disini, aku akan pergi bersamamu, kangmas. Kita bertemu sebagai suami isteri dipenitisan akan datang.” Dedes Ayu mencabut keris prabakara, seketika darah menyembur dari luka Linggapati, membasahi dada si wanita.

Dedes Ayu menikam dadanya dengan keris prabakara, lalu menjatuhkan diri diatas tubuh suaminya. Mulutnya mencium mulut suaminya. Tangannya memeluk tubuh sang suami, mereka mati berpelukan.

Sang Pamegat mencabut keris dari tubuh Dedes Ayu, memberikannya kepada Sang Raja. “Apakah harus hamba bersihkan?”

Sang Raja mengangguk. Pamegat lantas membersihkan keris maut itu dengan menggosok ke pakaiannya sendiri. Lalu menyerahkan kepada Sang Raja.

Ketika keris prabakara berada digenggamannya, Sang Raja mengacung ke angkasa. Saat itu juga keris prabakara berkilau dan menyebar hawa panas, kesaktiannya pulih kembali.

“Lihat! Saksikan! Prabakara kembali menjadi keris bertuah, sebab kini berada ditangan penguasa tanah Jawa dan akan selamanya menjadi milik Raja Tanah Jawa.” Suara Ranggawuni sangat berwibawa yang membangkitkan rasa hormat dan segan semua yang mendengarnya. “Sejak saat ini prabakara tidak lagi menebar maut, dia akan sanding dengan penakluknya ki gandring yang tidak terkalahkan.”

Malam masih gelap, semakin gelap ketika api kebakaran mulai padam. Pertarungan sudah usai. Kelompok Linggapati musnah. Semuanya tewas. Hanya beberapa pendekar yang lolos dengan berpura-pura mati. Dewi Kajoran, Pulosari, Sangkapura, Dedes Ayu dan Linggapati tewas, mimpi yang begitu mewah ternyata hanya berbuah kematian.

Senopati Samba lolos bersama Sekar sebagai tawanannya.

Hanya dua orang yang melihat kejadian itu ketika Samba memanggul Sekar dan lari menuju pendakian lereng. Salah seorang adalah Sepuh Jubah Putih bernama Wulung, dia mengenal Sekar sebagai isteri Wisang Geni, tetapi kebenciannya pada Wisang Geni yang mempermalukannya didepan umum di Karangplosos membuat dia bungkam seribu bahasa.

Dia melihat kejadiannya, menyaksikan gebrakan Samba menawan Sekar. Namun dia tidak bergerak menolong Sekar. Itulah bentuk balas dendamnya. Dimana-mana dendam harus dibalas! Dalam bentuk apapun untuk melampiaskan nafsu hewani manusia.

Wisang Geni memandang keliling, meneliti semua murid disekitarnya. “Mana Sekar?” Katanya sambil melangkah mencari-cari diantara mayat-mayat yang gelimpangan.

Bimbang dan ragu, Gayatri diam seribu bahasa. Tadi dia sempat melihat Sekar diculik, dibawa lari, mendaki keatas lereng. Dia tahu, saat itu jika dia teriak kepada Wisang Geni, maka suaminya masih punya kesempatan menolong Sekar. Tetapi saat itu juga pikiran cemburu mencegahnya. “Hilangnya Sekar, hilang saingan utamaku!” Bisiknya. “Biarkan dia pergi. Mas Geni tak perlu tahu.”

Dia tidak lupa kebaikan Sekar, tetapi dia ingin memiliki Wisang Geni. Hal ini membuatnya diam. Dia mengeraskan hati. ”Biarlah aku jadi wanita kejam yang tidak punya hati nurani, wanita yang punya hati culas, yang mengkhianati teman sendiri, tetapi perginya Sekar berarti hilang satu sainganku.”

Para murid Lemah Tulis ikut mencari-cari Sekar. Para pendekar Tumapel yang mengenal Sekar ikut mencari. Tetapi Sekar tidak ditemukan diantara begitu banyak mayat. Wisang Geni agak lega mengetahui isterinya tidak tewas, namun tetap saja dia panik. Dia termenung, “Kemana perginya Sekar? Lenyap begitu saja. Mayatnya tidak ditemukan, artinya dia masih hidup, tapi kemana dia? Kemana harus kucari?”

Ketika matahari mulai tinggi mengusir embun dan kabut. Tampak desa Bangu yang penuh dengan puing-puing terbakar yang masih menguar asap hitam. Mayat bergelimpangan dimana-mana. Rombongan Tumapel bebenah pergi meninggalkan tempat kejadian.

Ranggawuni mengucap terimakasih atas ikutsertanya Wisang Geni dan anak muridnya. Dia mengucap ikut berduka belum diketemukannya Sekar. “Isterimu pasti masih hidup, mungkin berada di suatu tempat di kawasan ini.”

“Yah bisa saja, dia bertarung dengan seseorang dan terpisah jauh.” Sahut Mahisa Cempaka sambil menawarkan bantuan tenaga prajurit untuk ikut mencari

“Terimakasih atas perhatian dan bantuan Baginda Raja, pasti akan hamba temukan.” Sahut Wisang Geni merendah hati.

PELANGGARAN HUKUM HAK CIPTA BAGI SIAPA YANG MENERBITKAN ATAU PUBLISH NOVEL INI DI WEBSITE/ONLINE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!

Wisang Geni dan rombongannya memecah diri, mencari kesemua pelosok.

Matahari menapak ke puncak, panasnya mulai menyengat. Pencarian tetap sia-sia, Sekar tidak ditemukan, hilang bagai ditelan bumi.

Memandang jauh keatas gunung, dia mengajak Prastawana dan Dipta mendaki lereng dan mencari-cari. Wisang Geni berteriak mengerahkan tenaga-dalam memanggil nama isterinya “Seeeekkkkkkaaaarrr” yang menggema kemana-mana diseantero gunung.

Pencarian dibagian bawah, disekeliling gapura bahkan sampai ke hutan seberang juga sia-sia. Matahari mulai condong ke Barat akan segera memasuki peraduannya, rombongan Lemah Tulis akhirnya menyerah. Mereka kembali ke Lemah Tulis.

Esok harinya, di tengah perjalanan Gayatri mendekati suaminya, berbisik. “Kangmas, aku mohon ijin pergi ke lembah cemara, mungkin bisa menemukan Sekar.”

Wisang Geni tampak ragu dan khawatir akan keselamatan Gayatri. Tetapi wanita Himalaya itu meyakinkan suaminya. “Tidak akan terjadi apa-apa, aku akan berhati-hati, apalagi aku menunggang Betari, aku akan menjumpaimu di Lemah Tulis.”

Dan Wisang Geni tak lagi berusaha mencegah niat Gayatri, pikirannya telah melayang jauh ke Lemah Tulis dimana Atis menunggu dengan cinta yang panas.

***

Dari desa Trawas tepian kali Bangsal ke gunung Lawu butuh waktu lima hari berkuda siang dan malam. Memang jauh. Tapi amarah telah membakar dada Ganggati mewujudkan semangat gigih yang tak kenal menyerah. Dia menunggang satu kuda sendiri, dua kuda lainnya mengikutinya dengan menarik tali kekangnya. Seekor tanpa penumpang, satu lainnya dibebankan dua mayat muridnya yang diikat di punggung kuda.

Sepanjang jalan Ganggati menangis tetapi mulutnya mengeluarkan makian kotor serta mengutuk Suryajagad, Wisang Geni dan perguruan Lemah Tulis. “Orang-orang pengecut menyerang musuhnya yang sedang tidur pulas. Memang itu ajaran Suryajagad, menyerang dikala musuh tidak berjaga-jaga. Akan kubalas, membunuh muridmu, menghancurkan Lemah Tulis, biar kamu menangis dikuburan seperti tangisku. Kamu sakiti aku, permainkan cintaku, hubunganku dengan suamiku putus semua gara-garamu.”

Setengah hari perjalanan dia tiba di sebuah desa Bareng, berhenti di tepi kali Gunting. Dia berdiri lama memerhatikan buaya-buaya Porong yang hanya tampak sebagian moncong dan sepasang matanya yang lapar, sabar mengintai mangsa.

“Kalian berdua kulepas di sungai, menjadi mangsa buaya. Kamu akan tetap hidup dalam diri buaya–buaya itu. Mereka hidup dan kalian juga hidup. Mereka akan jadi kawanku, dimana aku bisa bicara dengan kalian.” Ganggati melempar dua mayat muridnya ke sungai. Buaya-buaya berebut mangsa, bertarung sesamanya.

Ganggati memang aneh. Perlakuannya terhadap mayat dua muridnya pun sesuatu yang belum pernah dipikirkan manusia. Aneh dan gila.

Dia melanjutkan perjalanan menuju gunung Lawu. Sepanjang jalan dia bicara sendiri, mirip orang yang kurang waras. Matinya dua murid kesayangannya yang sudah seperti anak sendiri sangat memukul batinnya. Terutama Kangsa, murid dan juga kekasihnya yang setia. Dia tidak memperoleh cinta setia dari Suryajagad, tapi mendapatnya dari Kangsa, muridnya.

Matinya Kangsa, ibarat mencabut roh dari tubuh Ganggati. Masih terbayang sehari jelang serangan dini hari Lemah Tulis dan Mahameru, di kamarnya di kapal Brantas itu, Ganggati dan Kangsa bercinta. Malam itu Ganggati menangis saking cintanya kepada si murid, dan Kangsa hanya bisa membelai tubuh sang guru sambil membisik kata rayuan cinta.

Sampai matinya Kangsa tetap mencintai dua kekasihnya, Ganggati gurunya dan Roro Gandis adik perguruannya. Dua wanita yang dia cintai sepanjang hidupnya.

“Aku akan membunuhmu Wisang Geni, mencabik dan mencopot anggota tubuhmu, kulempar ke sungai menjadi makanan buaya, biar kamu bergabung dengan dua muridku.” Dia diam sejenak.

Lalu melanjutkan. “Tapi ilmu-silatnya tinggi, tak mungkin aku bisa mengalahkan dia. Aku akan paksa dan membujuk kangmas Purwo membantuku. Bagaimana pun caranya Wisang Geni harus mati, juga Sekar si perempuan jahat yang menyakiti hati Roro dan membunuh Roro, murid yang sudah seperti anakku sendiri.” Ganggati hanya beristirahat untuk makan dan tidur malam. Meski ditunggangi bergantian, tetap saja tiga ekor kuda itu kehabisan tenaga.

Hari itu hari kelima perjalanannya, siang hari dia tiba di lereng gunung Lawu. “Kangmas Purwo masih hidupkah dia? Sekarang ini usianya sudah enampuluhan. Apakah dia sudah beristeri dan punya anak? Berapa anaknya? Siapa isterinya, cantikkah? Sampai dimana tingkat kepandaian kangmas Purwo? Tentu jauh diatasku, pasti dia mampu membunuh Wisang Geni.” Pikiran itu mendera benaknya sepanjang mendaki lereng.

Tiga kudanya sudah kelelahan. Dia berhenti di tempat rindang dan ditumbuhi rerumputan. Dia mengikat tiga ekor kudanya. Lalu melanjutkan perjalanan dengan menggunakan ilmu ringan-tubuh.

Tidak berapa lama, dia tiba ditengah pendakian. Dari jauh tampak perumahan. Sekitar duapuluh rumah berdiri dilamping gunung yang bertebing dan curam. Tampak olehnya gadis remaja berusia sekitar empatbelasan tahun. Sedang berlari-lari dan melompat diantara tebing-tebing, berlatih ilmu ringan-tubuh. Gadis itu sangat muda belia, tubuhnya tinggi langsing.

Melihat seorang berpakaian hitam berdiri diatas tebing tidak jauh dari perkampungan, gadis itu berlari-lari menghampiri. Keduanya berhadapan.

Gadis itu tidak begitu cantik namun enak dipandang. Parasnya kemerahan berkeringat kena sinar matahari dan udara sejuk pegunungan. Kulit tubuhnya putih bersih. Matanya bulat agak besar, hidung bangir, mulut lebar dengan bibir tebal, rambut ikal agak keriting terurai sebatas leher. “Gadis ini mirip kangmas Purwo sewaktu masih muda, apakah dia putrinya?” Pikirnya.

“Siapakah nenek? Mau cari siapa? Adakah yang bisa kubantu?” Suara si gadis merdu.

Ganggati mendengus. “Aku ingin jajal ilmu-silatnya.” Berpikir demikian Ganggati melonjor tangan kanan menyerang dengan totokan ke leher, tangan kirinya menyusul dengan incaran dada si gadis. Serangan sangat cepat dan mendadak. Tampaknya si gadis tak akan bisa meloloskan diri.

Namun diluar dugaan, gadis belia itu bergerak gesit.Menghindar dengan gerak langkah kaki yang ringan serta agak aneh. Tidak hanya mengelak, dia mengikutinya dengan serangan balasan. “Tidak menjawab baik-baik, malah menyerang, apa maunya nenek?” Dia bertanya masih dengan nada sopan.

“Jangan banyak bacot, aku akan meringkus dan membawamu ke daerah Timur.” Ancam Ganggati dengan nada serius. “Kamu anak Purwo?”

PELANGGARAN HUKUM HAK CIPTA BAGI SIAPA YANG MENERBITKAN ATAU PUBLISH NOVEL INI DI WEBSITE/ONLINE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!

“Kalau iya kamu mau apa? Pikirmu mudah meringkus aku?” Dia tak mau lagi menyebut nenek. Menurutnya Ganggati tidak sopan sehingga tidak perlu dihormati.

Ganggati menyerang makin gencar. Si gadis kewalahan, bagaimanapun juga kematangan memainkan jurus dan perbedaan tenaga-dalam sangat menentukan. Tanpa mengetahui siapa lawannya si gadis menggunakan jurus lenyam lenyom dan pangkelang-pangkelung, tentu saja menjadi makanan empuk bagi Ganggati yang lebih mahir jurus itu.

Beberapa jurus berlalu si gadis keteter, kemana arah serangannya, belum juga pukulan mendekati lawan Ganggati telah memotongnya. Liciknya Ganggati justru menggunakan jurus yang bukan lenyam-lenyom dan pangkelang-pangkelung.

Si gadis makin terdesak, dia dipaksa mundur menuju jurang dibelakangnya. Dia tahu jurang menganga yang dalamnya tidak terkirakan, akan menjadi kuburannya jika jatuh. Tak heran dia mulai keluar keringat dingin, dia pun bersiul panjang.

“Kamu panggil bantuan, siapa yang mau menolongmu? Purwo? Panggil Purwo setelah kamu jatuh di jurang.” Ganggati berkata sinis.

Sebenarnya dia tak punya permusuhan dengan si gadis atau Purwo. Tetapi sifat aneh Ganggati kian menjadi-jadi setelah kematian dua muridnya. Kedatangannya adalah minta tolong pada kakak perguruannya Purwo membantunya membunuh Wisang Geni. Bukannya datang dengan baik-baik malah bikin onar.

Ganggati sejak masih gadis suka membawa maunya sendiri. Dimanja bapaknya, dan disegani Purwo sang suami, membuat dia akhirnya terjerumus bercinta dengan Suryajagad. Ketika mengetahui Suryajagad hanya menginginkan tubuhnya dan tak mau mengakuinya sebagai isteri, gengsi dan kehormatan Ganggati terusik yang membuahkan dendam kesumat. Tetapi dia tak pernah bisa melupakan Suryajagad, berkali-kali marah dan memutus hubungan tetapi begitu ketemu dia runtuh oleh rayuan Suryajagad yang tampan dan berilmu tinggi.

Tidak heran, adat anehnya mendorong dia menyerang hebat.

Continue published 46 / August 12nd

Note : Novel (part Two) ini belum pernah diterbitkan sebagai buku novel dan belum pernah dipublish di website lain.

No comments: