Kutukan Keris Berdarah
By John Halmahera
Publish 44
Before :
Tapi Wisang Geni tak menyangka keris prabakara segarang itu. Keris itu bergerak pesat bagai petir penebar hawa maha panas. Ketika keris memotong, terpaut dua jengkal dari tubuhnya, terasa hawa panas seakan membakar dadanya, membuat Wisang Geni terkejut.
Tidak ayal lagi Wisang Geni mengerahkan segenap tenaga wiwaha dinginnya. Pukulan jarak jauhnya bisa mengekang sepak-terjang Linggapati. Pemimpin pemberontak ini lalu menggeram, mengerahkan segenap tenaganya, disalurkan ke badan keris.
Keris ditangannya mengeluarkan cahaya warna warni menyinari wajah angker Linggapati. Dia memainkan jurus andalan “lokamandala nengkeringawiyat” (permukaan bumi naik terbang ke angkasa). Jurus warisan gurunya yang kemudian dia sempurnakan menjadi pamungkas bumi dan matahari. Diantaranya dua jurus maut “dhikara” (kemarahan) dan “kampita” (guncang-goyang) khusus memanfaatkan tuah dan keangkeran keris prabakara.
Lelaki itu berputar-putar, melayang dan menerkam, keris saktinya bergerak bagai ular mematuk dan melilit, saat berikut bagaikan lidah naga yang menyembur api.
Wisang Geni terdesak, hanya bisa berkelit dan menghindar sambil menyerang dengan pukulan jarak jauh mengarah pergelangan dan siku lawannya. Dia pun menggelar lalawa mengepak sayap menembus awan membuat indera rasanya bisa memantau getaran keris musuh. Kepekaan indera jurus lalawa itu sangat membantu Wisang Geni menghadang sepak terjang Linggapati yang trengginas.
Tidak bisa melukai Wisang Geni, gerakan Linggapati dengan kerisnya menelan korban beberapa anggota pasukan pemukul. Mati dengan bagian tubuh yang kena sabetan keris, hangus. Seketika orang-orang menepi ketika Linggapati bergerak maju.
Hawa malam yang seharusnya sejuk dingin, terasa panas membara disekitar arena tarung dimana Linggapati pamer kedigjayaan. Sampai duapuluhan jurus Wisang Geni belum punya harapan mengalahkan lawannya. Sebaliknya Linggapati semakin ganas menyerang ingin cepat menghabisi nyawa pendekar tanah Jawa itu.
Duapuluh pendekar bayaran yang mumpuni dari kubu Linggapati berada diatas angin. Satu demi satu pendekar pasukan pemukul mulai jadi korban. Dipta dan Prastawana berseru agar semua murid Lemah Tulis tarung berdekatan sehingga bisa saling bantu. Hanya dengan demikian maka sepak-terjang musuh bisa ditahan.
Keadaan sangat tidak menguntungkan bagi pihak keraton. Ketika itulah terdengar seruan keras dari Sang Raja Seminingrat. “Kangmas Geni silahkan mundur.”
Agak ragu, apakah Ranggawuni sanggup menahan serangan Linggapati yang bersenjata keris prabakara. Namun keraguannya lenyap ketika Ranggawuni berseru lantang.
“Aku penguasa tanah Jawa, aku pasak bumi tanah Jawa. Karena aku lahir dari ibu pertiwi, Eyang putriku Ken Dedes sudah menjalani karma sebagai ibu yang melahirkan raja-raja tanah Jawa. Itu karma. Tanpa Ken Dedes, tanah Jawa tak akan makmur, tidak akan ada padi yang menguning, Ken Dedes titisan Dewi Sri yang menyuburkan tanah Jawa membuat rakyat kenyang, padi tak pernah habis, dimana-mana padi tumbuh.
Tohjaya memang anak Ken Arok tetapi bukan dari rahim Ken Dedes, karenanya dia tak bisa bertahan lama. Lihat saja gunung Kelud, Arjuno, Bromo mengamuk, awan panas dan lahar api membakar semua yang ada. Gempa bumi lindu dimana-mana. Tanah Jawa ngamuk jika raja dan penguasa asli dicopot. Itu karma! Linggapati, beraninya mencoba merebut tahtaku, tidak tahukah kamu bahwa perbuatanmu ini sia-sia, dan tubuhmu akan hancur lebur.”
Suara dan ucapan kata Sang Raja terdengar sangat berwibawa, sebagian orang berhenti tarung melihat dari dekat sang Raja Seminingrat yang terkenal. Namun hanya sejenak tarung berhenti, saat berikut tarung dimulai. Kali ini Mahisa Cempaka, Sang Pamegat dan enam sepuh jubah putih ikut tarung. Ki Astika dan dua sepuh jubah putih bersiap-siap didekat Sang Raja menjaga segala kemungkinan.
Linggapati berseru. “Ranggawuni, aku tidak menganggapmu raja, kamu pencuri tahta milik Tohjaya. Aku akan mencabut nyawamu dan merebut tahtamu.”
PELANGGARAN HUKUM HAK CIPTA BAGI SIAPA YANG MENERBITKAN ATAU PUBLISH NOVEL INI DI WEBSITE/ONLINE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!
Linggapati menyerang dengan keris prabakara yang menebar cahaya kemilau dan hawa panas. Tidak ayal lagi Ranggawuni mencabut keris gandring dari sarungnya, cahaya kemilau bertebaran. Ada bedanya, jika cahaya prabakara begitu kasar dan mencolok, maka cahaya gandring begitu halus tetapi tampak kuat bagaikan cahaya matahari senja.
Ketika keduanya tarung dengan senjata keris masing-masing. Tampak keanehan, mulanya cahaya keris prabakara terasa kuat dan hawa panasnya begitu membara. Tetapi lambat laun sinar dan cahaya meredup, hawa panas pun berkurang.
Ranggawuni tertawa terbahak-bahak. Tawa yang penuh wibawa. “Lihat keris prabakara semakin redup, tak berdaya menghadapi ki gandring, hukum karma berlaku yang palsu dan jahat tak mungkin bisa menandingi yang asli dan bijak. Menyerahlah Linggapati. Bunuh diri adalah jalan terbaik, itu karma.”
Ternyata kegarangan prabakara sebagai pembawa bencana yang panas membara tak berdaya lawan gandring. Cahaya prabakara jadi redup, sinar kemilau warna warni lenyap memudar, aura panas membara hilang, tidak ada lagi keangkerannya.
Tetapi Ranggawuni tak mau merusak keris prabakara, sengaja menghindar bentrokan keris. Rupanya Linggapati mengerti dan faham, lalu memanfaatkan sebagai kelemahan Sang Raja dan keuntungan bagi dirinya.
Berulangkali dia menyerang sengaja untuk membenturkan keris. Dengan demikian maka Ranggawuni terdesak. Namun Sang Raja penguasa tanah Jawa sangat mumpuni, dia ganti siasat tarung dengan menyerang pergelangan dan siku tangan Linggapati.
Tarung memasuki jurus tigapuluh. Dedes Ayu dan para pembantunya melihat majikannya keteter, tidak mampu menolong. Mendekati arena tarung pun terhalang para pendekar Lemah Tulis dan pasukan pemukul utama serta para sepuh jubah putih.
Tadinya pasukan pemukul utama dan para murid Lemah Tulis keteter tetapi begitu Sang Raja dan para sepuh jubah putih masuk arena, langsung terjadi perubahan. Dari terdesak menjadi berada diatas angin.
Pertarungan disekitar arena tarung Sang Raja Seminigrat, tidak kalah menegangkan. Jurus jurus mematikan digelar untuk membunuh. Prastawana dengan jurus penakluk raja mencecar Sangkapura. Tiga Sepuh Jubah Putih tarung ketat lawan Pulosari, senopati Samba dan Hanggada.
Dewi Kajoran tarung ketat lawan Sekar, sementara Gayatri, Dipta, Gajah Lengar, Gajah Nila, Daraka, Margana, Jayasatru dan Sampurno tarung hidup mati lawan beberapa pendekar gugus dua yang ilmu-silatnya juga mumpuni. Disekitarnya para pendekar Tumapel dipimpin Siki dan Dwi tarung lawan para pendekar gugus dua lainnya, sungguh pertarungan berdarah yang sedikit meleng saja maka nyawa melayang.
Malam masih gelap gulita, hanya diterangi api yang membakar rumah-rumah. Darah sudah mulai membasahi bumi. Banyak pendekar tewas. Ramalan bahwa keris prabakara memancing banjir darah para pendekar tanah Jawa, terjadilah.
Tanpa keris itu Linggapati tidak akan memberontak, yang tentu saja tidak akan terjadi pertarungan berdarah yang menelan korban jiwa ratusan orang. Inilah banjir darah dan malapetaka para pendekar tanah Jawa yang kedua setelah peristiwa Kandangan yang menelan seratus lebih korban jiwa. Semua kejadian banjir darah ini disebabkan keris prabakara yang berada diluar keraton.
Wisang Geni menghadapi keroyokan tiga pendekar gugus dua. Tarung tampak seimbang, namun ketika pendekar Lemah Tulis ini memainkan lalawa mengepak sayap menembus awan seketika terjadi perubahan mencolok. Tiga musuh itu terdesak mundur.
Hanggada sudah terluka parah kena gelontor pukulan Wadung salah seorang sepuh jubah putih, dia muntah darah. Sadar mengalami luka-dalam, Hanggada mengerahkan tenaga dan melesat sambil merogoh sakunya, mengeluarkan sumpit pendek sepanjang jari telunjuk. Dia melayang ke arah Sekar yang sedang tarung sengit dengan Dewi Kajoran. Hanggada berseru kepada majikannya, “kangmas, bawalah wanita idamanmu ini.”
Samba mendengar teriak Hanggada seketika sadar apa yang akan terjadi. Dia menyerang dengan jurus andalannya wrahaspati naracabala handagangi (mentari melepas seribu panah maut) memaksa mundur Sepuh Jubah Putih bernama Wulung. Dia melesat kearah Sekar.
Hanggada rela mengorbankan diri untuk sang majikan, begitu mendekati Sekar, sumpit kecilnya bekerja, dengan satu tiupan bertenaga, panah kecil melesat dan menancap dileher Sekar, tepatdi urat besar.
Dalam keadaan sibuk tarung, Sekar tidak melihat datangnya serangan Hanggada, dia merasa ada sesuatu yang menggigit lehernya.
Ketika itu dia membentur pukulan dengan Dewi Kajoran, tenaga dalamnya guncang. Pada saat itu racun bius panah Hanggada bekerja lebih cepat. Tidak heran Sekar pun limbung, dia tidak tahu apa yang terjadi.
Saat itulah Samba menerobos arena tarung, memukul punggung dekat leher Sekar dengan pukulan lunak sambil satu tangannya mengibas menangkis serangan Dewi Kajoran. “Daaaassss…”
Terjadi benturan tenaga, Dewi Kajoran terkejut melihat Samba menyerangnya. Namun tidak bereaksi lebih lanjut karena Samba menjauh. Samba meraih tubuh Sekar yang ingin teriak memanggil nama suaminya, namun suaranya hanya sampai ditenggorokan. Sekar pingsan tanpa sempat bersuara.
Meminjam tenaga benturan dengan pukulan Dewi Kajoran, Samba melesat sambil memanggul tubuh Sekar yang pingsan. Saat bersamaan, untuk mengalih perhatian orang, Hanggada berseru, “Ranggawuni mati. Raja Tumapel mati!”
Sepuh Jubah Putih Wulung yang mengejar Samba terhenti sesaat mendengar berita buruk. Saat itu Hanggada menyerangnya, memberi waktu Samba melarikan perempuan idamannya. Hanggada telah menepati janjinya, meskipun seandainya harus korban jiwa.
Sepuh Jubah Putih Wulung terkejut sesaat, namun detik berikutnya dia melonjor dua tangannya mengirim pukulan bertenaga raksasa. Hanggada yang sudah luka parah masih sempat berkeluit dan balas menyerang. Tetapi Wulung yang ingin cepat menuju tempat sang Raja menggunakan jurus mautnya.
Pada jurus kelima, pukulannya berbentur dengan pukulan Hanggada, terdengar tulang patah. Hanggada terlempar rubuh ditanah, tapi gebrakannya telah memberi waktu bagi Samba meloloskan diri.
Diantara kerumunan orang yang bertarung, gelapnya malam yang hanya diterangi kobaran api yang membakar rumah-rumah serta teriak kesakitan orang, Samba dengan mudah melarikan Sekar yang dipanggulnya. Samba cerdik, tidak berlari menuruni lereng yang dipenuhi pasukan Tumapel, dia lari mendaki lereng. Dia tahu adanya tempat sembunyi paling aman, tidak percuma dia bermukim lama dimarkas Linggapati.
Suara tawa Ranggawuni seakan mengejek Linggapati yang semakin terdesak. Sang Raja mengincar tangan Linggapati. Ditambah lagi hawa panas membakar yang teruar dari keris gandring semakin menyulitkan Linggapati. Dia tidak hanya terdesak melainkan terancam tewas. Beberapa pendekar gugus dua termasuk para pensehatnya pun dalam keadaan terdesak, bahkan satu demi satu tumbang dengan bersimbah darah.
Tak ada lagi keberuntungan atau keajaiban yang bisa menyelamatkan Linggapati dari maut. Ajal semakin dekat. Tahu tak ada gunanya melanjut tarung, dia melompat mundur memanggil isterinya. “Ayu, larilah.” Lalu dia menusuk dadanya dengan keris prabakara.
Mendengar panggilan suaminya, Dedes Ayu berteriak. “Kangmas…!”
Ketika itu satu per satu penasehat Linggapati tumbang bersimbah darah, Pulosari, Sangkapura dan Dewi Kajoran. Sebagian pendekar gugus dua lainnya melarikan diri, itupun tidak semuanya lolos dari kematian. Panah pasukan keraton mengejar punggung mereka.
Dedes Ayu meninggalkan lawannya, Gajah Nila.
“Minggir!” Teriak wanita cantik itu yang rambutnya awut-awutan. Dia membuka jalan menggunakan kerisnya, beberapa pukulan menimpa tubuhnya, tetapi dia merangsek terus menuju tempat suaminya terkapar.
Continue published 45 / August 11th
Note : Novel (part Two) ini belum pernah diterbitkan sebagai buku novel dan belum pernah dipublish di website lain.
No comments:
Post a Comment