Wisang Geni Part Two (5)
Kutukan Keris Berdarah
(published 21 June 2011)
Dia melayang pergi. “Kangsa ikut aku. Biar Roro selesaikan urusannya sendiri.”
Kangsa ikut melayang pergi.
Manyar Edan menggumam yang didengar anak-buahnya. “Gila, dari mana muncul pendekar kosen macam Ganggati. Dia dari Gunung Limas, tetapi aku belum pernah dengar namanya?” Menutup rasa malunya dia berkelebat pergi.
Roro Gandis berdiri sendirian di depan warung.
Dia masuk warung. Tak ada rasa takut di wajahnya yang cantik berada ditengah-tengah puluhan orang Brantas yang angker. Kini anak buah Brantas hanya duduk manis di kursi memandang lenggok pantat Roro yang cantik gemulai.
Seorang laki-laki muda, tampan, berusia sekitar tiga puluhan, menyapa ramah. “Silahkan duduk di mejaku, aku ingin kenalan, namaku Prabowo.”
Sebelum Roro menyahut, terdengar suara dari pojokan. “Prabowo, bawa tamu kita duduk di sini.” Itu perintah Warok dan Prabowo tak berani membantahnya.
“Silahkan mbakyu duduk di meja ketua Brantas.” Prabowo mengantar Roro.
Beberapa murid hampir saling tabrak membawa kursi, meletakkan disisi sang ketua. Wanita itu tersenyum, mengucap terimakasih. Tampak sederet gigi putih dan bibir yang merah ranum, parasnya makin bersinar.
“Kamu tentunya ketua Brantas.” Katanya sambil duduk di kursi bersisian dengan ketua Brantas itu. Tanpa sengaja pahanya menyenggol paha si lelaki.
Jantung lelaki itu terguncang. “Namaku Warok ketua Brantas, mereka ini selirku. Dan kamu wongayu, namamu Roro, hendak bepergian kemana?”
Tanpa ragu Roro melonjorkan tangannya yang kuning sawo hendak meraih paha ayam yang berada di ujung meja. Terpisah beberapa jengkal dari tempat duduknya.
Warok memberi isyarat kepada selirnya untuk menyodorkan pinggan kayu yang berisi beberapa potong paha ayam. Mendadak satu paha ayam itu, melompat dan melesat bagai kilat ke tangan si wanita.
Itu gerakan pendekar kelas utama. Roro tertawa. “Aku tidak pamer ilmu-silat. Tadi anak buahmu mau memegang tubuhku, masih untung hanya kutempeleng.”
Laki-laki kekar, berewokan dan tampak bengis itu tertawa keras. “Pantas. Pantas. Kepandaianmu tinggi. Gurumu juga memiliki ilmu-silat yang sangat tinggi. Kamu sebenarnya mau kemana?”
“Namaku, Roro Gandis, sedang menuju pelabuhan Jedung, rencanaku pesiar ingin melihat-lihat keramaian.”
“Oh kebetulan kita juga sedang menuju Jedung, perahuku besar, banyak kamar, aku akan memberimu satu kamar.”
Roro Gandis, menyenggol paha Warok dengan pahanya. Dan dia sengaja tidak menariknya, paha tetap menempel paha. Meskipun terhalang pakaian, namun gesekan itu membuat birahi Warok bertualang di benaknya.
“Aku harus bayar berapa?” Tanya Roro
“Huah, mengapa harus bayar, tidak perlu bayar, semua makanan dan minuman cuma-cuma untukmu. Aku pemilik perahu dan masih banyak lagi perahu milikku.”
Roro tersenyum. “Terimakasih ketua, kamu baik hati. Kudaku lebih baik kujual, tak mungkin aku membawanya naik perahu.”
“Oh kudamu ikut naik, perahuku besar, hampir sama besar dengan milik keraton Tumapel, bisa menampung seratus orang lebih.” Kata Warok bangga. “Biar anak buahku yang mengurus kudamu.”
Selama dua hari Roro Gandis yang menempati kamar sendiri, dilayani bagaikan permaisuri keraton. Selir-selir Warok yang tadinya menempati posisi penting kini seakan dilupakan, segenap perhatian Warok terpusat pada Roro yang cantik.
Hari ketiga, matahari sembunyi dibalik mendung tebal, Warok mengajak Roro ke anjungan perahu, menikmati pemandangan. Ketua Brantas penasaran belum bisa memeluk tubuh molek itu. Biasanya wanita akan cepat menerima uluran tangannya dan dia tak perlu harus menunggu sampai dua atau tiga hari.
Namun mengetahui Roro berkepandaian tinggi, Warok tak berani gegabah. “Aku harus pakai strategi halus untuk mendapatkan wanita ini. Akan kujadikan isteri. Punya isteri dengan kepandaian tinggi ditambah lagi gurunya yang pendekar kelas utama, pasti menambah kekuatanku sekaligus memperkuat perguruan.”
“Kangsa itu kakak seperguruanmu, dia pasti berkepandaian tinggi.” Kata Warok.
“Ilmu-silatnya lebih mumpuni dari aku, dia murid utama guru.”
“Gurumu punya banyak murid?”
“Hanya dua, Kangsa dan aku.” Kata Roro Gandis.
“Biasanya dua murid berlainan jenis akan terlibat cinta dan menjadi suami isteri, bagaimana kamu dengan Kangsa?”
Roro memandang dengan senyum genit. “Iiih Mas Warok ingin tahu banyak tentang aku, maunya apa?”
Warok makin tenggelam dalam fantasi melihat senyum menggoda itu. “Setahuku wanita cantik berkepandaian tinggi macam kamu, pasti banyak lelaki melamarmu. Kangsa adalah lelaki paling dekat denganmu, kalian suami isteri?”
“Dia kakak perguruanku, sudah seperti saudara kandung, sudah seperti ayahku karena beda usia belasan tahun. Dia sangat memanjakan aku.” Tutur Roro genit.
“Jadi kamu belum punya suami, belum punya kekasih, masih sendirian.”
“Usiaku dua puluh lima, aku ini janda, kawin tiga bulan terus cerai.”
“Kenapa cerai?” Desak Warok.
“Dia selingkuh, jadi kubunuh dia.” Suaranya datar. Roro tertawa dalam hati, semua cerita itu bualan belaka. Kangsa memang kakak perguruan, tetapi juga kekasih dan sering bercinta dengannya. Dan dia belum pernah punya suami.
Warok merinding. “Kamu bunuh dia?”
“Iya. Kubunuh dia. Aku tidak suka laki-laki pembohong.” Tutur Roro.
Warok memberanikan diri, dia sudah terlanjur kasmaran. “Kalau misalnya kamu ketemu laki-laki kaya yang punya banyak selir, lalu kamu dilamar jadi isterinya, apa pendapatmu?”
Tiba-tiba Roro meremas paha Warok. “Aku tidak mau menjawab pertanyaan yang pakai misal-misalan, kalau jadi laki-laki harus blak-blakan dan terang-terangan.”
“Dia memancing supaya aku melamarnya.” Warok menelan ludah. “Roro ini cantik dan seksi, mendapatkan dia sebagai isteri ibarat memperoleh bulan dimalam hari. Aku harus berani tegas seperti katanya.”
“Jeng Roro Gandis, aku kasmaran padamu, ingin menjadikan kamu isteriku, apa pendapatmu?” Suaranya bergetar, ada rasa takut dan segan.
Roro Gandis tertawa. “Peletku sudah bekerja. Dia sudah masuk perangkap, satu langkah lagi dia jadi budakku.” Dia mengelus tangan kasar ketua Brantas. “Mas, aku punya adat aneh. Kadang-kadang ingin sendiri. Kalau kita jadi suami isteri, terkadang aku ingin sendirian dua hari misalnya, kamu harus bisa nerimo ini. Pada waktu itu kalau kamu sedang birahi kamu boleh sanggama sama selirmu. Jadi selirmu itu boleh kamu pelihara, tapi cukup dua orang dan mereka harus jadi pelayanku. Kamu mau?”
Tanpa pikir panjang lagi, Warok mengaku setuju. Dia hendak memeluk tetapi Roro menolak halus.
“Ada lagi Mas. Aku akan setia padamu. Kamu harus setia padaku dan perlihatkan cintamu padaku. Umumkan pada anakbuahmu, jangan ada yang kurangajar melotot mengagumi bokong dan dadaku, mereka harus patuh padaku seperti mereka patuh padamu sebab aku isteri ketua Brantas. Mau kamu?”
“Siap Jeng Roro.”
“Aku mau kamu kumpulkan semua anak buahmu dan umumkan aku jadi isterimu dan wakil ketua Brantas.” Melihat Warok agak ragu, dia melanjutkan, “umumkan sekarang supaya nanti malam kamu bisa memeluk aku.”
Mendengar itu, membayangkan malam nanti dia bisa memeluk tubuh Roro Gandis semalaman sampai pagi, seketika akal sehat Warok terbang. “Baik. Sekarang kita umumkan, ini peristiwa besar yang membahagiakan ketua Brantas.”
Malam harinya Warok mengumpulkan anak buah, memberitahu Roro Gandis telah resmi menjadi isterinya dan wakil ketua Brantas.
Usai pengumuman semua anak buah berpesta, makanan dan minuman tuak tak habis-habisnya. Pesta di geladak itu bertambah riuh karena para sinden yang diundang naik kapal ikut berpesta.
Warok menggandeng lengan isterinya, melangkah menuju kamar pribadinya yang sudah disulap jadi kamar pengantin. Dua selirnya jongkok didekat pembaringan. Selir lain sudah diserahterimakan kepada anak buahnya.
Kedua pelayan mendadani Roro di ruangan yang hanya dibatasi kerai bambu, melulur tubuh molek Roro dengan air bunga yang wangi semarak. Setelah selesai, mereka keluar kamar. Tak lama kemudian masuk lagi membawa beberapa tabung tuak yang baunya keras-keras harum.
Dua pelayan itu keluar sambil menutup pintu. Di luar kamar dua penjaga dengan senjata terhunus menjaga. Di pembaringan Warok menanti dengan gelisah.
Selama tiga hari itu Roro Gandis telah membuat Warok mabuk kepayang. Jinak bagai burung merpati, tetapi tidak terjamah. Dan Warok yang terbiasa mendapatkan perempuan yang dia maui semakin tenggelam dalam fantasi memabukkan.
Beberapa saat kemudian Roro melangkah keluar dari balik tirai.
Roro mengenakan busana longgar, sewek yang dilingkar di tubuhnya dan diikat sebatas dada. Selendang merahnya melintang di pundak menutupi tonjolan salah satu bukit kembar didadanya. Satu lainnya menonjol dibalik sewek. Dia tersenyum, “mau apa kangmas Warok, aku mau tidur, capek.”
“Aduh Roro jangan tidur dulu, kamu tahu aku sudah kasmaran padamu tiga hari, hampir mati aku mikirin kamu.
“Jangan mati dulu Mas, kan kita baru jadi suami isteri? Aku juga tidak tidur, cuma mau tiduran.” Sambil dia melangkah lenggak-lenggok.
Warok menelan ludah membayang tubuh dibalik sewek itu. “Ini banyak tuak, aku sudah minum satu tabung, ayo kita minum. Kamu suka minum?”
“Suka. Tetapi aku tidak tahan kalau minum banyak.” Dia menarik Warok ke kursi dekat jendela yang terbuka, memandang lepas ke sungai Brantas.
Warok minum.
Roro ikut minum.
Warok tidak keluar lagi dari kamar. Sampai matahari terbit, keduanya masih pulas berpelukan.
continue no 6 (will be publish 22 June 2011)
No comments:
Post a Comment