Monday, June 20, 2011

Wisang Geni part TWO (4)

Wisang Geni Part Two (4)

Kutukan Keris Berdarah

(published No 4/dated 20 June 2011)

Bab Dua

Penguasa Brantas

Warung makan di desa Gondang dekat kali Brantas siang itu banyak pengunjung. Hampir semuanya murid kelompok Brantas. Pemilik dan dua pelayan warung sibuk meladeni pesanan sekitar duapuluhan orang, melayani dengan senang, karena tahu, jualannya laris.

Di pojok bagian dalam dekat jendela, Warok sang ketua Brantas, duduk dilayani lima selirnya. Dia tak pernah mau punya isteri dan anak. Usianya empat puluhan, tubuh tidak tinggi tapi kekar berotot. Kumis dan janggut lebat.

Pakaiannya serba hitam, celana sebatas lutut dan baju tanpa lengan yang bagian dadanya terbuka memperlihatkan dada bidang yang berbulu kasar. Warok hidup layaknya seorang raja. Dengan anak murid yang mencapai ratusan orang, tidak heran jika perguruan ini menguasai perairan kali Brantas sampai kali Porong.

Brantas memperoleh hak monopoli transportasi sungai, dari pelabuhan Jedung ke tempat-tempat tertentu. Semua angkutan air, perahu kecil sampai perahu layar besar, milik Warok. Brantas juga memperoleh uang jasa tugasnya sebagai pelindung dan pengatur keamanan pelabuhan Jedung.

Sesungguhnya penguasa tunggal perguruan adalah Manyar Edan, ayah Warok, pendekar liar dan aneh usia enampuluhan. Dia sudah lama menghilang dari rimba persilatan, tetapi sekali-sekali berkunjung ke perguruan, datang secara dadakan.

Dan setiap datang dia memperoleh layanan wanita cantik, bahkan terkadang selir Warok pun diminta melayaninya. Sewaktu mendirikan Brantas dia mengawini banyak selir, yang melahirkan sebelas anak, semuanya menguasai ilmu-silat kelas satu.

Beberapa tahun lalu dia menunjuk Warok sebagai pemimpin dengan aturan keras. Tak boleh ada sengketa sesama saudara, melainkan harus saling membantu. Tak ada ampun bagi pengkhianat. Putra Manyar yang tertua, Sampurna dihukum mati, dengan tangan Manyar sendiri, lantaran memberontak hendak merampas kursi ketua.

Suasana di warung ramai. Namun mendadak sunyi ketika seorang wanita cantik muncul. Wanita muda itu berbaju hitam melangkah masuk warung. Dia mengenakan selendang merah yang diselempang di bahunya. Parasnya cantik dengan potongan tubuh molek. Gagang keris nyembul dari balik punggungnya.

Semua mata lelaki terpesona akan kecantikan si pendekar.

Belut Ireng salah seorang hulubalang Brantas menyapa si wanita yang celingukan mencari tempat kosong. Dia lelaki kekar berusia tigapuluhan terkenal mata keranjang. “Wong ayu, semua tempat terisi, silahkan duduk di tempatku.” Dia mempersilahkan si wanita sambil tangannya menjulur hendak memegang lengannya.

Si wanita menangkis.

Dua tangan bentrok. “Desss…”

Belut Ireng berseru, “wooh galak, cantik dan galak.”

Terdengar tawa orang-orang Brantas. Suasana jadi hiruk pikuk.

Tersinggung dan malu ajakannya ditolak, Belut Ireng mulai memaksa. Dia menyerang dengan jurus berantai, niatannya tetap hendak melumpuhkan si wanita, memeluk dan membawanya ke tempat duduknya.

Ternyata wanita itu bukan lawan ringan. Dia tak hanya mengelak dan menangkis juga menyerang balik. Seketika terjadi tarung tukar pukulan disela-sela meja dan kursi yang tentu saja ruang geraknya sempit.

Enam jurus berlalu. Wanita cantik menggerutu. “Modal ilmu silat sejengkal mau mempermalukan aku, mana bisa.” Dia menyerang lebih gencar.

Belut Ireng kewalahan. “Duukkk, Tassss.” Pukulan si wanita mengena pundak dan pipi Belut Ireng. Awalnya menggoda, kini Belut Ireng marah, mencabut keris.

Merasa terancam ditengah-tengah banyak orang Brantas, wanita itu menjejak kaki melompat mundur keluar warung. Gerakannya ringan, petanda ringan tubuhnya mumpuni.

Saat bersamaan seorang wanita tua berjubah hijau dengan laki-laki bertubuh kekar menghampiri warung. Keduanya berdiri di pinggiran pekarangan.

“Ohhh ada keramaian, seorang wanita dikeroyok banyak orang.” Seru si wanita tua. Suaranya tidak keras tapi terdengar jelas.

Kala itu wanita baju hitam bertolakpinggang ditengah kepungan orang-orang Brantas. “Kalian mau ngeroyok?” Seru si wanita cantik mengejek.

Orang-orang Brantas yang mengepung dengan senjata terhunus, seketika diam.

Belut Ireng maju, “siapa bilang main keroyok, sebenarnya aku lebih suka memeluk kamu katimbang memukul dan melukai kulitmu yang mulus.”

“Kamu tidak punya modal ilmu-silat untuk melukai aku, laki-laki bodoh tak tahu diri.” Berkata demikian wanita itu bergerak pesat, jejak langkahnya aneh. Perlu waktu satu detik tangannya sudah menyerang Belut Ireng. Tampaknya dia tidak main-main, jurusnya aneh. Selendangnya menampar bagai pecut, tangannya mencengkeram dan menebas, menampar dan memukul.

Belut Ireng berusaha keras mengelak. Tapi kalah cepat. Dua kali pundaknya kena gelontor. Dia terpental. Belasan kawannya meluruk membantu temannya.

Saat bersamaan bayangan seseorang bergerak pesat, sedemikian pesatnya sehingga tidak tampak siapa orangnya. Tiga belas pengepung jatuh terjengkang ke sana kemari, senjata ditangan mereka mental ke udara.

Bayangan itu berhenti bergerak. Ternyata si nenek tua. Orang-orang Brantas seketika mundur, tahu nenek itu seorang pendekar berilmu tinggi.

Selendang Merah menoleh pada si nenek. “Guru, kamu tidak perlu mengotori tangan, aku bisa hadapi mereka.”

Si nenek tertawa senang. “Aku tahu Roro. Tapi aku perlu juga main-main melemaskan otot.”

Terdengar suara serak parau. “Nenek tua kalau mau main-main jangan memukul anak buahku, hadapi aku Manyar Edan.”

Belum selesai ucapannya, bayangan Manyar Edan berkelebat, berhenti sepuluh meter didepan nenek tua itu. Dia mengibas dua tangan pada anak buahnya. “Kalian jangan ikut campur, minggir semua.”

Orang-orang Brantas mundur dan berdiri di depan warung.

Nenek berkata kepada muridnya. “Roro, kamu minggir, gabung dengan Kangsa. Gurumu ingin tahu sampai dimana hebatnya Manyar Edan dedengkotnya Brantas.”

Roro bergeser mendekati kakak perguruannya.

“Kamu sudah tahu namaku Manyar Edan, nah sebut namamu, siapa kamu?” Desak Manyar Edan dengan pongahnya.

“Aku Ganggati, dari Gunung Limas.”

“Heran ilmu silatmu tinggi tapi aku tidak pernah dengar namamu.”

Ganggati tertawa. “Jangan banyak omong, kakek tua bangkotan kayak tengkorak, gelar jurus-jurusmu!”

Manyar Edan paling marah jika disebut kakek tua, apalagi pakai embel-embel bangkotan kayak tengkorak. Dia menggeram. Saking marahnya Manyar Edan langsung menggelar pukulan yang paling diandalkan watanti mangungsir biyada (burung sakti memburu gadis) yang bercabang puluhan jurus pukulan aneh dan telengas. “Kubikin kamu merangkak ditanah minta ampun, dasar nenek genit.”

Ganggati tidak manda diserang. Melihat musuhnya menyerang dengan jurus telengas, Ganggati tadinya hanya mau main-main memuncak amarahnya. Dia tak ragu lagi menggelar jurusnya yang aneh.

Dalam sekejap terjadi tarung tukar pukulan. Dua orangtua itu bergerak pesat, debu mengepul dari pijakan dan geseran kaki, tanda mereka menggelar tenaga-dalam yang tinggi.

Tertawa keras, Ganggati mengubah jurusnya. Sambil menyerang gencar mulutnya berceloteh. “Lihat Roro dan Kangsa, aku mainkan dua pukulan lenyamlenyom dan pangkelangpangkelung secara bergantian, kalian harus bisa bedakan. Tidak lama lagi si kakek Manyar goblok ini akan terkencing-kencing di celana. Jangan pandang enteng, setiap pukulan mengandung seratus lebih jurus tergantung situasi keadaan dan pemikiran kita. Semakin cerdas seseorang makin banyak jurus yang bisa dia mainkan. Lihat dan amati baik-baik!”

Manyar Edan marah merasa dirinya dijadikan kelinci percobaan latihan guru dan murid. Tetapi dia tak berdaya, lantaran sibuk mengelak, menghindar atau menangkis. Tak punya kesempatan menyerang, dia dalam desakan gencar.

Keringat dingin mengalir deras dari pori-pori tubuhnya. “Gila, tak kusangka nenek ini memiliki kepandaian tinggi. Celaka, habis sudah nama besarku.” Manyar Edan memikir cara menyelamatkan diri.

Jurus Ganggati sangat aneh, selain berhawa panas yang tajam. Pukulan itu seperti lidah biawak yang bercabang bolak-balik, masuk-keluar, gerakannya telengas cepat dan tak kenal ampun. Jurusnya bisa lemas, berliuk-liuk atau lurus keras. Sepasang kaki nenek tua itu tak menginjak tanah, seperti melayang-layang.

Dua puluh jurus berlalu dan Manyar Edan sudah terdesak hebat. Beruntung dia, karena Ganggati tak punya niatan mencelakakan atau membuatnya malu besar.

Tiba-tiba saja Ganggati berhenti, melayang pergi dan berdiri disamping dua muridnya. “Ah Manyar Edan, aku bosan main-main. Sebenarnya aku tidak berniat tarung, cuma mau melemaskan otot. Selamat tinggal, aku pergi.”

Dia melayang pergi. “Kangsa ikut aku. Biar Roro selesaikan urusannya sendiri.”

Kangsa ikut melayang pergi.

Manyar Edan menggumam yang didengar anak-buahnya. “Gila, dari mana muncul pendekar kosen macam Ganggati. Dia dari Gunung Limas, tetapi aku belum pernah dengar namanya?” Menutup rasa malunya dia berkelebat pergi.

continue no 5 (will be publish 21 June 2011)

No comments: