Thursday, August 4, 2011

Wisang Geni part Two (40)

Kutukan Keris Berdarah

By John Halmahera

Publish 40

Tidak berhenti sampai disitu Gayatri melayang kesamping sambil memutar tubuhnya, jurus yang dipelajarinya dari Nenek Jubah Kuning, jurus dadakan, sambil dia mengarahkan senjata bornya ke arah leher dan pelipis lawan. Dia bergerak terus, melancar serangan dari jurus warisan dan andalan ayahnya Yudistira, jurus “atehai zaminpar kabhiyeh chand sitare” (kadang bulan dan bintang pun turun ke bumi).

Janda Ngargoyoso tak pernah menyangka ada jurus seaneh itu namun yang membuat dia tak mampu berkutik. Belum sempat dia sadar, serangan Gayatri sudah terpaut satu jengkal dari tubuhnya.

Dia sempat menepis satu bor menuju pelipis, namun gagal melindungi lehernya dari terkaman bor kedua. Dan bor itu dengan kejamnya melubangi tenggorokannya. Selain itu pukulan tangan Gayatri jitu dan telak menerpa dadanya. Janda Ngargoyoso mati sebelum tubuhnya menyentuh tanah.

Para murid dua perguruan yang menonton tarung itu diam-diam kagum akan kehebatan ilmu-silat isteri Wisang Geni itu.

Pada saat yang sama, beberapa saat sebelum Roro Gandis mati. Atis terlibat tarung lawan salah seorang anak Manyar Edan, yakni Belut Ireng. Tarung tidak seimbang, Atis tidak punya pengalaman tarung sehingga gerakannya kaku. Selain itu Atis juga dilanda ketakutan melihat banyak korban tewas. Jerit dan erangan orang sekarat membuat hatinya keder.

Tanpa sadar posisi Atis semakin jauh dari teman-temannya. Tampak dia sendirian harus menolong diri dari serangan gencar Belut Ireng. Dan Atis hanya tertolong berkat ilmu ringan-tubuhnya waringinsungsang yang handal.

Berkali-kali dia meloloskan diri dari beberapa serangan yang nyaris melukainya. Keringat dingin mengalir diparasnya, dia melirik melihat Dyah Mekar. Kontan dia teriak. “Mbak Dyah tolong aku!”

Dyah Mekar bertiga Sawitri dan Laras sedang berada diatas angin, satu per satu murid Brantas rontok. Pedang dan keris mereka sudah basah simbah darah. Begitu mendengar teriakan Atis, Dyah Mekar segera meluruk menyerang musuhnya.

Belut Ireng terkejut.

Bagaimana pun juga ilmu-silat Belut Ireng belum sepadan dibanding kiprah Dyah Mekar yang sudah menguasai sempurna jurus garudamukha prasidha bahkan sudah mulai melatih jurus penakluk raja meski belum sempurna.

Melihat Dyah Mekar menyerang Belut Ireng, seketika Atis berdiam, hanya menonton. Parasnya masih pucat. Hal ini tidak luput dari pengamatan Dyah Mekar. “Sebagai cucu Ki Sagotra yang terkenal mumpuni itu, pasti ilmu-silat Atis cukup lumayan. Seharusnya bisa mengimbangi musuh ini. Tapi tak punya pengalaman tarung satu hal yang terkadang membuat seseorang ketakutan.” Gumam Dyah Mekar dalam hati.

Dyah Mekar menyerang Belut Ireng dengan serangkaian jurus prasidha andalannya, agniwisa (bisa api, pijar, brajamusti), sumujugtundaghata (menukik ke bawah) dan prasada atishasha (menara tinggi bukan main).

Belut Ireng terdesak, hanya bisa menangkis dan menghindar. Dia heran ketika Dyah Mekar menunda dan memperlunak serangannya. Tapi hanya sesaat karena begitu dia hendak menyerang seketika tangan Dyah Mekar menerobos dan memukul lengannya.

Dyah Mekar berseru. “Atis jangan diam begitu, maju serang musuhmu. Gunakan jurus warisan kakekmu.”

Atis masih seperti orang bingung.

Dyah Mekar membentak. “Atis! Maju! Serang musuhmu.”

Saking kaget Atis bergerak spontan menyerang dengan salah satu dari tujuh jurus bang bang alum alum yakni bahni anempuh toya (api menyerang air), serangan itu mengarah dada dan kepala lawan. Belut Ireng kaget, pukulan Atis mendatangkan kesiur angin tajam.

Terdengar seruan Dyah Mekar. “Terus lanjutkan menyerang, jangan beri dia kesempatan istirahat.”

PELANGGARAN HUKUM HAK CIPTA BAGI SIAPA YANG MENERBITKAN ATAU PUBLISH NOVEL INI DI WEBSITE/ONLINE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!

Dan Atis menyusul dengan jurus berikut bhaskarogra (matahari memuncak panasnya) dan nanawidha (beraneka warna).

Ganti Belut Ireng terdesak mundur dua langkah.

“Lihat musuhmu kini yang terdesak. Kamu harus percaya diri, serang terus dan bunuh dia, kalau tidak kamu bunuh dia akan membunuhmu. Ayo Atis.” Seruan Dyah Mekar memicu semangat Atis. Keberhasilan memukul mundur Belut Ireng menjadikan dia lebih bebas dan percaya-diri menyerang dan memainkan tujuh jurus bang bang alum alum.

Ilmu andalan Ki Sagotra yang dijuluki pendekar Merapi itu memiliki banyak perubahan, sehingga meskipun diulang-ulang, gerakannya tidak sama. Apalagi digelar dengan ringan-tubuh waringinsungsang maka serangan Atis makin membuat musuhnya kalang kabut.

Sejak Atis mulai menyerang, Dyah Mekar sudah mengundurkan diri.

“Mengapa kamu membantu dia, biarkan saja dia mati!” Bisik Sawitri dengan nada tinggi. Kekesalannya terhadap Atis masih belum lenyap.

Dyah Mekar heran. “Mengapa kamu bicara seperti itu, dia kan isteri ketua?”

“Dia genit, sengaja menggoda ketua Geni dan menjauhkan Sekar dari suaminya. Aku benci dia.” Bisik Sawitri masih dengan nada tinggi.

Seketika Dyah Mekar mengerti. “Aku juga prihatin akan nasib Sekar. Tapi kalau Atis mati sedangkan kita berdua berada didekatnya, entah bagaimana sikap ketua terhadap kita nantinya.”

Keduanya melanjutkan tarung dengan murid Brantas sambil memerhatikan Atis yang sedang tarung satu-satu lawan Belut Ireng. “Aku tidak suka situasi seperti ini karena bagaimanapun juga Sekar adalah sahabatku. Sahabat setia yang selalu menyenangkan hatiku tempat aku tukar pikiran kanuragan.” Sawitri mengeluh.

Kini berbeda, kalau tadinya Atis hanya mengelak dengan waringinsungsang kini dia menyerang gencar. Ternyata Belut Ireng tak mampu mengimbangi gesitnya sepak-terjang Atis yang sudah salin rupa menjadi pendekar yang percaya diri.

Setelah melampaui jurus limapuluh Atis berhasil mendaratkan dua pukulan telak yang menghantam dada Belut Ireng yang sempoyongan mundur. Atis memburu dan menghajar dada musuhnya dengan pukulan paling bertenaga. Belut Ireng tewas ditempat.

Atis memandang musuhnya dengan mata membelalak, seakan tak percaya dia mampu membunuh musuhnya. Terdengar tepuk tangan. Atis menoleh, melihat senyum Dyah Mekar. Disamping Dyah Mekar, berdiri Sawitri dengan wajah kaku. “Seharusnya kita biarkan kamu mati.” Bisiknya dalam hati.

“Mbakyu Dyah, terimakasih yah.” Sesaat Atis masih terpaku, menyaksikan manusia pertama yang dibunuhnya.

“Selalu akan ada pengalaman pertama dalam segala urusan.” Dyah Mekar tertawa. Saat berikut tawanya berhenti ketika melihat paras Sawitri yang kaku. “Kau tampaknya sulit memaafkan Atis.”

“Aku tak akan pernah memaafkan Atis. Bagiku Sekar itu seorang teman yang jujur, penuh cinta dan selalu membela teman, wanita yang sangat setia dan manut pada suami, isteri yang matang tapi dia dicampakkan suaminya karena suaminya tergoda kegenitan wanita tak tahu malu ini.” Desis Sawitri. Dyah Mekar mendengar omelan teamnnya, tetapi Atis yang berdiri agak jauh tidak mendengar.

Dyah Mekar menggamit lengan Sawitri. “Lihat, hebatnya sepakterjang Sekar. Selama ini dia bertarung dalam semua pertarungan suaminya. Benar katamu, adik kita Sekar adalah wanita utama yang setia, manut dan membela suaminya.”

“Itu sebabnya aku kesal dan tidak rela melihat dia diperlakukan sedemikian tidak adilnya oleh Atis dan juga ketua Geni. Kalau bisa aku akan protes pada ketua.”

“Jangan! Jangan Witri, kita jangan mencampuri urusan pribadi ketua.” Tegas Dyah Mekar dengan wajah tegang. Dia khawatir temannya berlaku nekat memprotes ketua Wisang Geni.

Paras Sawitri tampak keras, mulutnya menutup erat-erat.

Keduanya memandang sekeliling, masih menyaksikan saat-saat terakhir Sekar membunuh Roro Gandis. Begitupun sepakterjang Gayatri membunuh Janda Ngargoyoso.

Agak jauh dekat tepian kali, Narapati berhasil melumpuhkan Korowelang. Pukulannya keras dan panas menerpa dada, punggung dan pinggul musuh jahatnya itu. “Kamu lumpuh tak akan sanggup berjalan, apalagi mau bersilat. Aku tidak membunuhmu karena mati terlampau enak buat kamu. Biarlah dalam sisa hidupmu kamu bertobat dan merenung betapa kejamnya kamu telah memerkosa wanita-wanita yang tidak berdaya kemudian membunuh mereka.”

“Bunuh aku…. Bunuh aku… jangan biarkan aku tersiksa begini…” Korowelang menangis, menjerit-jerit kesakitan, namun lebih sakit lagi adalah membayang bahwa dia harus hidup sebagai orang lumpuh selamanya. Narapati mendengus kemudian meludahi wajah penjahat itu.

Pertarungan sudah selesai, Brantas sudah luluh, dimana-mana mayat bergelimpangan tak beraturan. Banyak murid Brantas tewas, hanya beberapa orang yang berhasil selamat dengan melarikan diri. Hampir semua anak dan menantu Manyar Edan, tewas, termasuk Santiyaki yang tewas ditangan Dipta. Begitu juga Prabowo yang dibunuh Gajah Nila. Sementara dua perguruan hanya belasan murid yang luka-luka dan sedang dalam perawatan di salah satu gubuk yang tadinya ditempati musuh.

Pertarungan masih menyisakan dua partai. Wisang Geni menghadapi Ganggati dan Prastawana melawan Kangsa. Para murid dua perguruan menyaksikan dari pinggiran. Tarung memasuki tahapan kritis.

Continue published 41 / August 6th

Note : Novel (part Two) ini belum pernah diterbitkan sebagai buku novel dan belum pernah dipublish di website lain.

No comments: