Kutukan Keris Berdarah
By John Halmahera
Publish 39
Before :
“Mana Korowelang?” teriak Narapati. Dia pernah mendapat laporan dua keponakan murid Mahameru dibunuh dengan kejam oleh Korowelang, murid wanitanya diperkosa lebih dahulu baru dibunuh. Kejadiannya sudah satu tahun, tetapi baru hari ini Narapati menemukan musuh yang dicari-carinya.
“Aku Korowelang, siapa yang mau mati ditanganku?”
“Kamu pembunuh dan pemerkosa murid Mahameru, kubunuh kamu!” Seru Narapati. “Sudah lama aku mencarimu, akan kukirim kamu ke neraka!”
Korowelang tertawa keras, temberang, memandang enteng Narapati. “Wanita cantik itu, dua hari aku menikmati tubuhnya setelah itu kugorok lehernya, siapa dia? Apakah dia isterimu, mbakyumu, atau anakmu?”
Narapati meledak amarahnya, segera menggelar ilmu brahmanagra yang terdiri 21 jurus penuh kawikaran (perubahan) basis gereh (guntur) dan sedung (badai). Serangannya telengas tak kenal kasihan. Dua tangannya bergerak macam kitiran menguar angin keras. Itulah jurus yang mengandalkan tenaga besar yang hanya bisa digelar seorang pendekar dengan tenaga-dalam mumpuni.
Suara angin dan letupan dari dua tangan Narapati memaksa Korowelang harus memusat perhatian sepenuhnya jika mau selamat. Dia pun melancarkan tangkisan dan serangan balasan memompa semua tenaga-dalam dan menggunakan jurus-jurus andalannya. Dalam sekejap pertarungan masuk ke wilayah mati hidup.
Janda Ngargoyoso berdua Korowelang mengunjungi Ganggati menagih janji bergabung dengan pasukan Linggapati justru datang pada waktu dan tempat yang salah. Jika Korowelang ditantang Narapati, Janda Ngargoyoso ketemu tarung lawan Gayatri. Tidak terhindar lagi pertarungan berdarah antara mereka.
Tarung massal ditingkat bawah berlangsung tak kalah serunya. Para murid dua perguruan satu tingkat lebih tinggi ilmu-silatnya, apalagi dengan serangan mendadak, tidak heran banyak jatuh korban di pihak Brantas.
Di kubu dua perguruan beberapa murid terluka, mereka ditolong temannya ditempatkan di gubuk-gubuk bekas milik orang-orang Brantas. Ada beberapa murid yang bertugas merawat temannya yang luka. Sementara beberapa murid lain menjaga dengan senjata terhunus.
PELANGGARAN HUKUM HAK CIPTA BAGI SIAPA YANG MENERBITKAN ATAU PUBLISH NOVEL INI DI WEBSITE/ONLINE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!
Setelah berlangsung satu jam, ketika matahari mulai muncul di ufuk Timur, banyak murid Brantas dan pendukungnya tewas. Sebagian lain yang masih selamat, melarikan diri.
Ketika para murid Brantas berlarian sambil menjerit-jerit menyelamatkan diri, pada saat itu pertarungan Sekar lawan Roro Gandis memasuki fase berbahaya. Sekar berada diatas angin, namun belum berani merangsek lebih dekat. Keris pusaka Roro Gandis tidak hanya menguar hawa panas namun juga bau bacin. Itulah keris yang sudah dicelup dalam racun mematikan.
Mengandalkan ilmu ringan tubuhnya wimanasara (gerak secepat panah sakti) yang makin sempurna setelah dibimbing suaminya, Sekar melayang-layang ringan. Senjatanya, tongkat hitam dari logam keras dengan ujung tajam bagai silet. Ilmu pukulan sapwatanggwa meski hanya tujuhbelas jurus namun banyak perubahan, dimainkan dengan tenaga-dalam segoro menempatkan Sekar diatas angin.
Puluhan jurus berlalu jangankan melukai musuhnya, menyentuh saja dia tidak mampu. Hal ini membuat Roro Gandis yang dikuasai amarah semakin kalap, semakin menggila ingin menebas tangan Sekar dan menghunjam kerisnya kedada musuh yang sangat dibencinya. Dia pun menyerang tanpa memikirkan pertahanan.
Menurut pikirannya serangan gencar dan kejam akan membuat Sekar kesulitan menyerang balik. Ilmu andalan lenyamlenyom dan pangkelangpangkelung berganti-ganti dimainkan sehingga menyesatkan, dan sulit diduga arah serangannya. Pada mulanya Sekar berlaku sabar, mempelajari gerak serangan lawan.
Sekar mengerti jenis serangan keris lawan meskipun sangat aneh namun hanya bervariasi tusuk dan potong. Tampaknya Roro Gandis ingin membuntungi tangan atau menghunjam kerisnya ke dada dan leher. Saking marahnya setiap menyerang Roro Gandis berseru, “mati kamu, kurobek dadamu, jantungmu kumakan mentah-mentah, kuminum darahmu.”
Sekar melayani dengan sabar dan semakin mengerti arah serangan lawan.
Hanya sekali-sekali dia menangkis dengan tongkatnya. Khawatir tongkatnya rusak beradu dengan keris pusaka lawan, dia berlaku cerdik. Saat benturan dia mengedut senjatanya seakan hanya menampar badan keris lawan dan menarik kembali. Tak ada benturan keras sepenuh tenaga. Sekar tak mau senjata warisan Nenek Sapu Lidi itu rusak.
Tarung melampaui jurus tujuhpuluh dua macan betina itu sudah mandi keringat disiram mentari pagi. Daya tahan Sekar semakin tangguh, tenaga segoro ibarat makin bekerja makin panas dan makin tangguh. Sebaliknya Roro Gandis yang malas berlatih dan malas meningkatkan kualitas tenaga-dalamnya mulai keteter. Ulahnya yang sering mengumbar hawa nafsu bercinta dengan lelaki, membuat tenaganya melemah. Tidak tahan bertarung dalam durasi panjang.
Sadar kekuatannya mulai menurun Roro Gandis menggeram mengerahkan segenap tenaga dan melancar serangan beruntun. Dalam sekejap dia melancar tusukan ke berbagai jalan darah mematikan, mengarah leher, pelipis, dahi, pundak, dada, ketiak bervariasi dengan tebas potong kearah pergelangan tangan, siku, lutut dan kaki.
Serangannya sangat mematikan. Adu jiwa, hidup atau mati, membunuh atau mati. Lebih baik mati bersama musuh yang paling dia benci ini daripada mati sendirian. Itulah tekadnya.
Sekar sadar kekuatan musuh mulai berkurang dan serangan mematikan itu adalah adu jiwa. Mana mau dia adu-jiwa. Tidak ada gunanya melayani jurus maut musuhnya dengan beradu langsung. Dia tertawa sinis, dengan ringan-tubuh memainkan jurus “cumangkrama” (menyetubuhi). Jurus membusung dada dan perut itu indah tetapi dahsyat dan mematikan sebab tujuannya memancing musuh masuk kemudian menyerang balik.
Memainkan jurus-jurus itu membuat posisi tubuh Sekar membusung dada dan perut kemudian menggentak menarik kedalam diiringi gerak kaki wimanasara yang mumpuni.
Keris Roro Gandis hanya terpaut satu jengkal dari payudara Sekar. Namun tangannya sudah terjangkau maksimal, untuk bisa menusuk dan mencongkel dada montok musuhnya, mau tidak mau Roro Gandis harus melangkah maju untuk memanjangkan jangkauannya.
Dan Roro Gandis saking bencinya dan besarnya keinginan menembus dada musuhnya, tak lagi memikir resiko jebakan lawan. Dia melangkah maju sambil tetap menusuk dan mencongkel, sasaran dada atau leher. “Mati kamu!” Teriaknya bersemangat.
Saat itulah tubuh Sekar meliuk-putar dengan gerakan pinggul, itulah jurus aneh lainnya yang namanya pun tidak kalah uniknya “manguswapujeng” (mencium lutut). Tubuh langsing Sekar meliuk setengah membungkuk, posisi menyamping dengan wajahnya memandang musuh dengan sinis, kakinya terentang-ngangkang, tangan kanan menusuk dengan tongkatnya sekaligus dia memutar lagi sambil tangan kirinya memukul dengan tenaga segoro.
Kesudahannya hebat. Ujung tongkat hitam yang tajam bagai silet menembus uluhati Roro Gandis semudah pisau menembus batang pisang, satu detik berikut pukulan Sekar mengena sisi perut.
Roro Gandis meliuk kesakitan, kerisnya jatuh, dia berteriak, “guuurrrruuu…!”
Tidak berhenti disitu, Sekar menyabet perut Roro Gandis. Lalu dia tertawa puas. Saat berikut Sekar melesat mencari musuh lain, membabat murid Brantas tanpa kenal kasihan. Dia tak perlu melihat lagi Roro Gandis yang sempoyongan, kemudian roboh bersimbah darah. Mati!
Ganggati terkejut, melirik sesaat melihat murid kesayangannya limbung dan jatuh, bahkan dia sempat melihat tubuh muridnya berlepotan darah segar.
Namun Ganggati tak sempat berbuat sesuatupun karena pada saat itu Wisang Geni menambah bobot serangan membuatnya tak bisa leluasa bergerak. Ganggati bahkan tak mampu berseru atau menyahut teriakan muridnya. Dia sendiri sibuk mengimbangi tekanan Wisang Geni. Jurus-jurus mematikan Wisang Geni membuatnya harus konsentrasi.
Kangsa tidak kalah kagetnya mendengar teriakan adik seperguruan dan kekasihnya. Dia yang sedang terlibat tarung mematikan lawan Prastawana hanya bisa melihat Roro Gandis meliuk tubuh sambil memegang uluhati dan perutnya yang belepotan darah.
Kangsa berteriak, melengking, “Rorrrroooo.”
Roro Gandis, wanita cantik yang hidupnya malang dan selalu mengumbar hawa nafsu mengejar mimpi dan ambisinya hanya bisa memandang kearah Kangsa. Matanya memancar sejuta rasa cinta yang misterius. Diakhir hidupnya dia merasa sangat mencintai kakak seperguruannya. Sungguh tragis akhir hidup seorang wanita cantik yang bagaikan robot mengikuti perintah sang guru.
Kangsa menggeram. Hatinya menangis menyaksikan nasib tragis kekasih dan juga adik seperguruannya. Amarahnya meledak bagai gunung berapi memuntah lahar panas yang membakar apa saja yang dilewati. Dia melimpahkan amarahnya dalam tarung menghadapi Prastawana. Sudah limapuluh jurus berlalu, kekuatan masih imbang.
Beberapa saat sebelum Roro Gandis mati, Gayatri bertarung lawan Janda Ngargoyoso. Gayatri yang semakin mahir memainkan jurus-jurus hebat kitab lhakeswara justru berada diatas angin dan menekan Janda Ngargoyoso.
Dia bergerak cepat menghantam Janda Ngargoyoso dengan jurus barunya dari kitab Lhakeswara membuat musuhnya mundur. Sesaat Janda Ngargoyoso bimbang, ingin melarikan diri. Dia memandang sekeliling banyak murid Brantas tewas dan sebagian lain kabur, sekitar tempat dia berdiri beberapa pendekar dua perguruan yang sudah selesai tarung, memerhatikan. Dia tahu tak mungkin bisa meloloskan diri, makanya dia menyerang adu jiwa tanpa memikirkan keselamatan.
Pada saat itu Gayatri melolos senjata bor yang diikat dengan tali tipis yang ulet dan tak mudah putus. Saat berikut terdengar desing senjata bor yang mengincar titik kematian Janda Ngargoyoso. Janda genit ini terdesak, tergopoh-gopoh mundur dan menangkis dengan kerisnya. Terdengar denting bentrok bor yang berputar bagai gasing dengan keris.
Gayatri menyerang gencar dengan jurus andalannya dinak din naachu mein gae dil jumne zamana (aku menari, hati menyanyi dan dunia bergembira) yang membuat bornya melayang pesat menimbulkan suara desing bagai puluhan lebah. Dibanding dulu sebelum dibimbing Nenek Jubah Kuning, sekarang ini ilmu-silat Gayatri berlipat dua kali. Tenaga-dalamnya pun maju pesat.
Gayatri mengendalikan bagian tengah tali sehingga senjatanya memecah menjadi dua. Kedua bor itu mengejar mencecar Janda genit seperti bayangan. Senjata dan jurus aneh itu akhirnya melukai lengan dan pundak Janda Ngargoyoso yang berteriak kesakitan.
Continue published 40 / August 5th
Note : Novel (part Two) ini belum pernah diterbitkan sebagai buku novel dan belum pernah dipublish di website lain.
No comments:
Post a Comment