Wisang Geni Part Two (publish no 2)
Kutukan Keris Berdarah
(published No 2/dated 18 June 2011)
Pagi itu Arjapura melakukan perjalanan cepat ke lereng gunung Welirang, dia sudah punya gambaran tempat tinggal Wisang Geni dan keluarga Yudistira dari cerita sepasang suami isteri murid Yudistira itu.
Tetapi dia tidak berbuat sesuatupun. Dia hanya menyelidiki. Melihat dan memeta rumah-rumah yang dihuni Wisang Geni dan keluarga besar Yudistira. Itulah perkampungan kecil dengan beberapa rumah. Tampak aktifitas penghuninya.
Samar-samar dia mengetahui penghuni kawasan kecil itu semuanya orang-orang yang menguasai ilmu-silat. Dia tak berani gegabah, sadar Wisang Geni berilmu tinggi, apalagi ada Yudistira dan keluarganya. Maka dia semakin memastikan akan menyerang Wisang Geni hanya jika Yudistira sekeluarga pulang ke Himalaya.
“Guru masih mau menetap satu atau dua tahun lagi. Setelah itu mereka akan kembali ke kampung halaman.” Tutur murid Yudistira waktu itu.
Selama satu tahun menetap di tanah Jawa, Arjapura sudah mahir bahasa Jawa yang dipelajarinya dari Minten. Memasuki tahun kedua perkawinannya, Minten hamil besar. Dia juga mendirikan rumah kecil di daerah perbukitan desa Karambang.
Dari rumah itu dia bisa melayangpandang ke pelabuhan Jedung bahkan sampai perairan dimulut pelabuhan. Seringkali Minten istirahat di rumah di perbukitan sementara warungnya di Jedung dijaga adik laki-lakinya dan para pembantunya.
Pada tahun kedua itu Minten melahirkan seorang bayi perempuan diberi nama Lastri.
Dibalik keanehan dan kekejaman sifat egoisnya Arjapura tetaplah manusia biasa yang mencintai anak darah daging sendiri. Lahirnya Lastri menjadi semacam perekat hubungan Arjapura dengan Minten.
Arjapura hidup menyepi, menjauh dari pandangan umum baik dirumah di Karambang maupun di warung Jedung. Hanya Minten dan para pembantunya yang bergaul rapat dengan penduduk setempat. Dia sendiri tetap menyembunyikan nama dan asal usulnya, penduduk sekitar mengenalnya sebagai Pura si Pedagang dari Tanah Seberang.
Rumah kecilnya di Karambang strategis, berada di perbukitan tinggi dekat kali Porong, dimana dia bisa memantau lalulintas sekitar pelabuhan Jedung, kapal-kapal asing yang datang dan pergi ke negeri seberang. “Jika Yudistira pulang ke Himalaya, aku akan segera mengetahuinya, saat itulah tiba saatnya perburuanku dan kematian bagi Wisang Geni serta anak isterinya.”
Memenuhi hasrat birahinya yang besar Arjapura sering melakukan perjalanan ke desa-desa sekitar dan secara sembunyi meniduri wanita-wanita yang disukainya. Tetapi dia tak pernah lupa melatih jurus-jurus silatnya. Setiap hari senggang dia semedi memperdalam kekuatan batinnya untuk menambah bobot sihirnya. Ada waktu-waktu tertentu di malam hari dia berlatih jurus silat di tempat sepi.
Di Himalaya di kawasan yang menjadi wilayah kekuasaannya dia tak punya tandingan, semua orang segan dan takut. Kemana dia pergi, orang akan menghormati dan menaruh rasa takut dan segan. Banyak pendekar sudah takluk dan bertekuk-lutut dibawah kakinya.
Orang-orang di kawasannya membayar upeti kepadanya sebagai balas jasa proteksi yang dia janjikan, bahkan putri mereka pun disodorkan untuk menjadi isterinya. Di kawasannya Arjapura adalah raja tanpa mahkota, raja yang menentukan mati hidup dan nasib orang-orang disekitarnya.
“Hanya Yudistira yang bisa menandingiku! Tapi kini dengan ilmu ciptaanku yang baru, aku pasti bisa mengatasi Yudistira!” Dia memandang langit. “Aku tak perlu takut terhadap Yudistira. Dulu aku kalah. Tetapi sepuluh tahun terakhir ilmu-silatku sudah meningkat jauh. Jika Yudistira membantu Wisang Geni, akan kulibas semua, tanpa ampun!”
Arjapura tenggelam dalam pemikiran tentang ilmu-silat Wisang Geni.
Membandingnya dengan bobot kualitas ilmu-silat Wasudeva, putranya. Dia tahu sampai dimana tingkat kualitas ilmu-silat putranya, namun jika menurut cerita murid dan pelayan Yudistira itu maka jelaslah ilmu Wisang Geni lebih tinggi dari Wasudeva.
Ilmu sapno tasafar haimeri dilka yeh bhawarhai (inilah perjalanan impian, pusaran tujuan hatiku) yang memiliki perubahan 11 jurus mematikan. Ilmu is mein doobjana zarasa lamha chupata khwab milgaya (banyak waktu yang lenyap kini telah kembali) terdiri 17 jurus. Atau ilmu hum samundar ke andaarchale (menuju kedalaman laut samudera) dengan 7 jurus pukulan bercampur sihir kuat. Juga 5 jurus bahutzara hashtato tothodasa pagal chaknahai (tertawalah terus dan kamu akan seperti orang gila) yang sangat diandalkan.
Ternyata semuanya bisa dimentahkan Wisang Geni.
Dia berpikir keras. Meskipun tenaga-dalam Wasudeva kalah dari Wisang Geni, namun dengan tenaga-dalam seperti yang dimiliki putranya serta jurus-jurus mematikan bercampur sihir kuat, seharusnya Wasudeva tidak akan kalah. Jadi kalau sampai kalah dan terbunuh, jelaslah tenaga-dalam dan ilmu Wisang Geni tidak bisa dianggap remeh. Apalagi cerita keberhasilannya mengalahkan jago-jago Kuangchou sehingga dia dinobat sebagai pendekar nomor satu tanah Jawa.
Arjapura tiba pada satu kesimpulan bahwa Wisang Geni adalah musuh yang tak mudah dikalahkan. Namun dia yakin ilmu-silat yang dimilikinya, tenaga-dalamnya yang dilatihnya puluhan tahun serta jurus-jurus baru gubahannya dua tahun terakhir di Himalaya. Terutama pukulan tapak tangannya yang mengandung racun mematikan.
Selama lima tahun terakhir dia tekun melatih jurus-jurus yang diwarisinya dari gurunya pendekar gunung putih yang sangat ditakuti di wilayah Himalaya. Dia melatih tangan salju, memasukkan tangan ke bongkah salju paling dingin dan menyerap racun dari kalajengking biru yang sangat berbisa, piaraan sang guru. Dari gurunya dia juga melatih ilmu sihir penakluk dewa dan berbagai jenis racun berikut pemunahnya.
Pukulan tangan salju atau terkadang disebutnya pukulan kalajengking biru atau pukulan racun dingin, jika mengena tubuh lawan serta merta akan mengirim racun dingin kedalam tubuh musuh yang dalam hitungan satu sampai tiga hari akan mati keracunan.
Bagian tubuh yang kena pukulan akan berwarna biru. Tanda biru itu akan menjalar ke bagian tubuh lain sedikit demi sedikit tergantung lemah kuatnya tenaga-dalam musuh. Jika warna biru itu mencapai bagian dada maka jantung akan berhenti berdetak.
Awalnya ambisi Arjapura mengubah jurus-jurus baru yang mumpuni karena ingin memenangi persaingannya dengan Yudistira. Dia hanya ingin memperlihatkan kepada Satyawati, isteri Yudistira, wanita yang dicintainya itu, bahwa dia kini lebih unggul dari Yudistira. Hanya itu.
Tetapi dalam perkembanganya ketika gurunya siluman gunung putih Himalaya mulai menambah bobot sihir kedalam jurus pukulannya, dia terperosok kedalam misteri sihir yang lalu disadarinya akan menjadi kekuatan ilmu silatnya. Dia makin tekun mendalami sihir memasukkan kekuatan magis itu kedalam jurus-jurus pukulan barunya.
Jadilah beberapa jurus mematikan yang berbau sesat, dingin membeku menuju nirvana, jembatan asmara melayang diangkasa, pijar api dari neraka, panas membakar bumi, dingin membeku alam, bunga-bunga mengharumi bidadari, asmara ditengah badai salju, bunga salju tidak sanggup memadam birahi.
Delapan jurus ini disempurnakannya dengan memasukkan unsur sihir kedalamnya. Jurus yang sulit diduga, tenaga-dalamnya yang tinggi hasil latihan puluhan tahun, racun dingin pada tapak tangannya, tiga unsur ini telah meningkatkan ilmu-silatnya dua kali lipat dari sebelumnya. Ditambah lagi sihir kuat pada setiap pukulan dari delapan jurus itu maka jadilah gerakan itu sebagai jurus mematikan.
Pada akhir pendalaman ilmu-silatnya dia mengawinkan delapan jurus barunya kedalam ilmu andalannya “bahutzara hashtato tothodasa pagal chaknahai” (tertawalah terus dan kamu akan seperti orang gila) yang tadinya hanya 5 jurus menjadi 13 jurus.
Ilmu itu tidak hanya untuk ilmu-silat tangan kosong tetapi bisa dimainkan dengan senjata sabuk lemas yang terbuat dari baja lentur berwarna putih mengilat. Sabuk yang melilit di pinggangnya itu sewaktu-waktu bisa berubah menjadi senjata mematikan.
Dia yakin ilmu andalannya ini akan mengangkatnya sebagai pendekar nomor satu Himalaya dimasa datang. Tak dinyana, ilmu dahsyat itu akan dijajalnya di tanah Jawa ini, dan tubuh orang yang jadi sasarannya tidak lain Wisang Geni.
Seringkali dimalam hari dihutan kawasan desa Karambang, Arjapura berlatih ilmu-silat memainkan semua jurus-jurus miliknya. “Wisang Geni akan kubunuh secara mengerikan,” janjinya dalam hati setiap dia melatih pukulannya.
continue no 3 (will be publish 19 June 2011)
Note :
1.Saya sedang mencari Penerbit untuk menerbitkan Wisang Geni Part Two.
2. Tidak seluruh cerita Wisang Geni Part Two akan saya publish di blog saya ini, karena masih mengharap adanya Penerbit yang berminat.
3. Tetapi Anda masih akan bisa menikmati cerita ini, paling tidak sekitar 30 s.d 50 persen.
4. Wisang Geni (Part One) bisa Anda beli di toko buku Gramedia dll.
No comments:
Post a Comment