Saturday, June 18, 2011

Wisang Geni part Two - publish No 3

Wisang Geni Part Two ( published 3)

Kutukan Keris Berdarah

(published No 3/dated 19 June 2011)

Kawasan desa Karambang dan pelabuhan Jedung rame dengan pedagang asing dan pedagang negeri, para pelancong dan penjual jasa. Peredaran uang dan juga sistem barter menjadi pemasukan besar bagi keraton.

Kapal-kapal layar besar dari Asia Barat maupun Asia Timur hampir setiap bulan merapat. Para pedagang asing pun sibuk mencari barang domestik sambil menjual atau membarter dengan barang dagangan bawaannya. Perahu layar besar dari tanah Jawa belahan Barat atau dari kerajaan di Sumatera dan Kalimantan, ikut meramaikan perdagangan di pelabuhan Jedung.

Setiap bulan purnama semua pedagang dan pemilik warung setor pajak atau upeti kepada Kepala Desa Karambang. Pajak itu dibagi separuh untuk keraton, tigapuluh bagian untuk desa dan duapuluh bagian untuk perguruan Brantas.

Keraton Tumapel adalah pemilik wilayah. Perguruan Brantas penjaga ketertiban dan keamanan. Perusuh, pencopet, perampok atau pencuri jika tertangkap dibunuh ditempat. Setiap hari kelima awal bulan, orang-orang dari keraton Tumapel yang diwakili adipati Gajah Pringgon, penguasa pelabuhan Jedung datang mengambil pajak. Begitu juga wakil perguruan Brantas yang menagih uang jasa keamanan.

Selain itu perguruan Brantas punya hak monopoli transportasi sungai, mengantar jemput para pedagang ke tempat tertentu. Mengandalkan murid-muridnya yang lihai silatnya dan yang berjumlah ratusan maka tidak pernah terjadi pedagang asing dirampok atau dibunuh. Para perampok hutan hanya akan merampok pedagang yang berjalan sendiri dan tidak menggunakan jasa perguruan Brantas.

Dari hak monopoli ini perguruan Brantas membayar upeti kepada keraton dalam jumlah yang ditentukan keraton. Beberapa tahun silam, ketua Brantas, Manyar Edan yang tabiatnya aneh, memberontak dan menolak membayar pajak.

Keraton mengirim pasukan pemukul dan pemanah masing-masing terdiri 50 prajurit yang dipimpin tujuh dari 18 pendekar Tumapel.

Hanya dalam setengah hari penyerangan. Panah api, panah biasa, tombak dan tarung dengan keris, perguruan Brantas luluh lantak. Kocar kacir.

Satu kapal besarnya rusak dilalap api. Tiga perahu kecil tenggelam. Lima puluh tujuh muridnya tewas.

Dan sang ketua, Manyar Edan, mengemis-ngemis minta ampun.

Keraton memberi pengampunan tapi dengan perjanjian seumur hidup membayar upeti sebagai tanda setia. Brantas patuh.

Mungkin karena malu Manyar Edan mengundurkan diri. Dia mengangkat putranya yang sulung, Warok menjadi ketua. Sejak itu perguruan Brantas tidak berani lancang membentur orang-orang keraton.

Mereka terikat janji mengawal utusan keraton yang datang mengambil upeti dari pelabuhan dan mengawalnya sampai perbatasan istana Tumapel.

Arjapura pendekar berilmu-tinggi. Dia percaya kemampuan ilmu-silatnya. Tetapi dia seorang yang sangat berhati-hati dan waspada. Menurutnya jika mampu mengalahkan dan membunuh Wasudeva dalam kombat satu lawan satu, itu petanda Wisang Geni memiliki ilmu-silat yang sangat mumpuni. Sampai dimana tingkatannya, dia tidak tahu.

Untuk itulah dia melakukan perjalanan rahasia ke Lemah Tulis. Dia ingin mengetahui lebih banyak seluk beluk perguruan yang konon satu dari dua perguruan paling hebat di tanah Jawa selain Mahameru. “Aku ingin tahu pola dan gaya silat mereka, jurus-jurusnya agar lebih mudah bagiku dalam tarung nanti.”

Selama dua tahun menetap di tanah Jawa, tiga kali dia mengintai gunung Welirang.

Satu diantaranya dia berhasil mendekat sampai di danau dekat perumahan. Dia mengintai dan menghitung jumlah keluarga besar itu. Dia sempat melihat, dari jauh, Yudistira berlatih silat dengan isteri dan putra serta menantunya.

Dia pernah dua kali menyamar sebagai pengemis dan mendekat ke perguruan Lemah Tulis. Diam-diam dia mengakui Lemah Tulis sebagai perguruan besar dengan jumlah muridnya yang mencapai ratusan. Perkampungan Lemah Tulis sangat luas, teratur rapi sudah merupakan desa yang ramai. Sekitar seratusan rumah, tampak anak-anak bermain di pekarangan rumah dan yang dewasa bekerja atau berlatih silat.

Arjapura mendengar cerita di kalangan pendekar Brantas yang sering mampir di Jedung bahwa Lemah Tulis banyak menyimpan pendekar handal yang kemampuan silatnya hampir setara dengan Wisang Geni. Dua sesepuh Gajah Watu dan Padeksa jarang berkelana, lebih sering menghabiskan waktu semedi dan menciptakan jurus-jurus baru.

Wisang Geni tidak lagi bermukim di Lemah Tulis, dia menetap di gunung Welirang bersama anak isterinya bahkan juga beberapa murid yang datang nginap bergantian. Namun pendekar itu masih sering mondar-mandir Welirang ke Lemah Tulis dan gemar berkelana.

Belakangan Wisang Geni tidak lagi menjabat ketua perguruan. Ketuanya yang baru, Prastawana, yang ilmu-silatnya bahkan sudah menyamai sesepuh Padeksa dan Gajah Watu. Tetapi yang sebenarnya, Wisang Geni masih tetap dianggap sebagai ketua Lemah Tulis. Prastawana dan semua murid masih memanggilnya dengan sebutan ketua.

“Bahwa Wisang Geni menjadi ketua dari perguruan sebesar Lemah Tulis, petanda dia memang pendekar yang mumpuni. Dan kalau kalangan pendekar menobatkannya sebagai pendekar nomor satu tanah Jawa, jelas dia memiliki ilmu silat yang sangat tinggi. Aku tak boleh sembrono.” Gumamnya.

Dalam perjalanan kali ini Arjapura membatasi diri hanya selama sepuluh hari. Dia sudah harus kembali ke pelabuhan Jedung sebelum sepuluh hari. Khawatir datangnya kapal layar besar dan rombongan Yudistira berangkat tanpa sepengetahuannya.

Dia harus tahu kapan Yudistira dan keluarganya pulang ke Himalaya, karena saat itulah dimulainya perburuan membunuh Wisang Geni serta anak-isterinya.

Menurut hitungannya saat-saat kepulangan Yudistira makin mendekat. Pada mulanya Arjapura tidak berani meninggalkan pelabuhan Jedung atau berada jauh dari desa Karambang, khawatir dia tidak mengetahui kepulangan rombongan Yudistira.

Tetapi hari itu dia memperoleh kabar gelombang pasang dan pusaran angin sedang menggila dilautan. Dalam separuh bulan ini tidak akan ada kapal dan perahu besar berani berlayar. Dari ketinggian bukit desa Karambang dia menyaksikan tingginya gelombang di mulut pelabuhan. Itu sebab dia berani meninggalkan Jedung untuk beberapa hari.

Dia melakukan perjalanan dengan menunggang kuda.

Hari itu, empat hari setelah meninggalkan Jedung dia tiba di batas desa Sajan.

Hari sedang hujan, dia meneduh di gubuk kecil yang tidak dihuni di batas hutan. Dia melihat pemandangan menarik. Hujan cukup deras karenanya dia heran melihat seorang penunggang kuda bergegas melecut tunggangannya menuju Sajan. “Dilihat dari cara menunggang kuda, dia pasti seorang pendekar. Ini jalanan menuju Lemah Tulis, mungkin dia salah seorang murid Lemah Tulis yang hendak pulang ke perguruannya.” Gumamnya.

Memandang lebih teliti ternyata si penunggang kuda seorang gadis belia yang cantik. Pakaiannya yang basah kuyup mencetak potongan tubuhnya yang indah diatas kuda.

Timbul hasrat birahi pendekar Himalaya itu.

Cepat dia mengejar dengan ilmu-ringan tubuh.

Tetapi dia terlambat.

Gadis itu telah memasuki batas desa Sajan menuju warung makan. Dan Arjapura tidak mau berlaku ceroboh. Kalau hendak menculik dan memerkosa si gadis, harus dilakukan dengan diam-diam.

Arjapura mengintai dari pepohonan dibatas hutan. Menunggu si gadis keluar dari warung makan. Menunggu sambil membayang tubuh si gadis yang masih remaja dan segar. Nafsu hewaninya telah menguasai alam pikiran dan tubuhnya.

continue no 4 (will be publish 20 June 2011)

Note :

1.Saya sedang mencari Penerbit untuk menerbitkan Wisang Geni Part Two.

2. Tidak seluruh cerita Wisang Geni Part Two akan dipublish di blog ini karena masih mengharap adanya Penerbit yang berminat.

3. Tetapi Anda masih akan bisa menikmati cerita ini, paling tidak sekitar 50 persen.

4. Wisang Geni (Part One) bisa Anda beli di toko buku Gramedia dll.

No comments: