Tuesday, August 2, 2011

Wisang Geni part Two Bab 14

Kutukan Keris Berdarah

By John Halmahera

Bab Empatbelas

Marahnya Keraton

Hari itu terakhir Nenek Jubah Kuning menyembuhkan Gayatri. Racun bius telah punah. Gayatri telah sembuh. Pulih kembali, tampak tubuhnya lebih terang dan bersih, begitu juga parasnya yang jelita.

Nenek jubah kuning tidak hanya menyembuhkan, juga telah menguras isi perut dan mencuci darah dalam tubuh Gayatri. “Kamu sudah bersih, racun sudah lenyap. Tak ada lagi bekas dari laki-laki jahat itu. Ibaratnya kamu sudah pulih kembali sebagaimana sebelum bertemu penjahat itu, seperti kisah Sinta Obong dalam kisah Ramayana.” Kata gurunya.

Dalam episode Ramayana itu, Sinta isteri Sri Rama, disandera selama berbulan-bulan oleh Rahwana si penjahat. Ketika Sri Rama berhasil membebaskannya, Sinta melakukan upacara obong, melompat ke dalam lautan api, untuk mencuci fisiknya dari aroma busuk Rahwana. Dia keluar dari api tanpa sehelai rambut pun yang hangus. Hanya bedanya, Gayatri dicuci dengan bantuan tenaga-dalam serta ramuan obat dari sang guru.

DILARANG COPY/MENERBITKAN/PUBLISH DI WEBSITE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!

Selama beberapa hari dia menghafal isi kitab lhakeswara sekaligus cara melatihnya. Gurunya juga membimbing cara melatih tenaga-dalam. Gurunya tidak mengubah tenaga-dalam muridnya, hanya mengajarinya bagaimana memperdalam dan meningkatkan tenaga yang sudah ada. Tenaga-dalam dilatih sambil mematangkan jurus-jurus tarung yang sudah dimilikinya maupun tambahan jurus baru. Tanpa terasa ilmu-silatnya maju pesat, baik jurus maupun tenaga-dalam.

Setiap hari di waktu luangnya Gayatri menyempatkan diri bermain dengan Anggreni, malam harinya semedi dan melatih jurus-jurus hebat lhakeswara. Dia kesulitan tidur karena pikirannya melayang-layang melamun suaminya. Dan selalu pertanyaan itu muncul, “apa yang telah kuperbuat, mengkhianati suamiku?”

Dia menangis hampir setiap malam. Menyesal dan juga merindu.

Rindu yang amat sangat pada suaminya. Dia membayang kisah cinta dengan suaminya. Membayang ketika digubuk ditengah hutan pertama kali dia bertemu Wisang Geni yang nakal dan usil, yang menggunakan nama samaran Ambara. Lalu terbayang bagaimana elusan tangan suaminya, kejantanan yang merenggut perawannya di kamar penginapan.

“Nasibku buruk. Aku kepala batu. Seandainya aku tidak menolak ikutsertanya suamiku ke Jedung mengantar keluargaku, mungkin nasib buruk itu tidak datang. Mengapa karma perlakukan aku dengan tidak adil? Karma mempertemukan aku dengan Arjapura, membiarkan penjahat itu menipu dan meracuni aku.”

Hampir setiap hari dia mandi dan berenang di danau. Dia tahu dirinya telah sembuh dan sudah bersih dari aroma busuk Arjapura. Namun dia sepertinya masih ingin mandi terus-menerus, mencuci tubuhnya. Pagi, siang dan sore dia mandi dan mengajari Angga berenang. Malam harinya dia mandi sendirian.

Dia ingin mandi setiap hari, bahkan berendam seterusnya didanau untuk membersihkan tubuhnya yang sudah ternoda oleh Arjapura. Ingin melepas semua derita bathin dan mimpi buruk itu kedalam danau. Biarkan air danau yang sejuk dingin melarutkan semua deritanya. Dia ingin tubuhnya kembali bersih seperti ketika perawannya dinikmati suaminya di malam yang penuh arti dan makna cinta. “Kalau waktu bisa berputar kembali, aku akan memintanya meskipun mahal harganya. Aku ingin tidak pernah bertemu dengan penjahat itu.” Bisiknya.

Berhari-hari dilalui Gayatri dengan berlatih silat dibawah bimbingan gurunya. Tenaga-dalam makin tangguh. Jurus barunya dari sang guru makin lancar dan mulus. Gayatri tahu kanuragannya kini maju pesat. Disela-sela aktifitas berlatih silat dia berenang di danau bersama putrinya. Kadang-kadang sang guru ikut berenang dan bermain, menyelam dan menggoda Anggreni.

Gayatri melaluinya dengan gembira, hanya malam hari ketika dia sendirian menatap bintang, mendengar debur air terjun, pikirannya menerawang sosok suaminya. ”Betapa aku merindumu, Geni. Seakan ingin kembali ke masa lalu agar aku bisa memperbaiki semua kesalahanku.”

Siang itu hari kedua awal bulan Iyestha suasana perkampungan di Welirang sunyi dan hening. Hanya terdengar suara kicau burung dan gemuruh air terjun. Wisang Geni duduk diserambi rumah, memandang kerimbunan hijau alam sekitarnya.

Kemarin sore dia bersama rombongannya tiba di Welirang. Sepanjang malam, bahkan juga sejak pagi tadi dia masih belum bisa menetapkan keputusannya.

Dia memandang danau, yang kecipak airnya tampak mengilat disinari matahari siang yang terik.

Dia tahu ditepi danau nun diseberang, di rumah kecil itu putrinya menunggu. Mungkin si kecil itu sedang bermain-main dengan ibunya. Dia kangen Anggreni. Tetapi juga merindu Gayatri. Sejak memijak kaki di Welirang, sosok Gayatri dan Anggreni membayang terus.

“Gayatri, lakon karmamu sungguh buruk. Aku bingung, mungkinkah menerima kamu kembali dalam pelukanku? Pikiranku berteriak kamu telah diperkosa, tubuhmu sudah dimasuki laki-laki lain. Sanggupkah aku mengatasi pikiran ini?” Dia bertanya kepada diri sendiri, namun tidak menemukan jawaban.

Ingin dia bertanya kepada angin, kepada pepohonan, kepada air terjun, untuk menemukan jawaban dari pergulatan hati dan benaknya. Menerima Gayatri kembali, mungkinkah? Atau melupakan Gayatri, menutup kisah cintanya dengan pendekar Himalaya yang telah memberinya seorang anak itu.

Dia mengingat kilas balik pengalaman cintanya bersama Gayatri, dulu sampai masa-masa bahagia di Welirang. Lalu dia ingat pukulan yang dilakukan Gayatri di hutan Kandangan yang membuat dia lumpuh sehingga pukulan maut Arjapura telah melukainya, dia nyaris tewas.

Berganti-ganti bayangan isterinya menari dibenaknya. Dia menghirup udara, memenuhi paru dengan udara pegunungan yang sejuk. Dia menenggak tuak, tabung yang kedua. “Apa yang harus kulakukan?” Bisiknya.

Dia mendengar desir angin dan langkah orang. Dia menoleh, melihat Sekar menghampiri.

Isterinya itu duduk disampingnya. “Katakan, apa yang membuatmu risau?”

“Tidak tahu. Aku bingung.”

“Gayatri? Kamu memikirkan Gayatri?” Sekar bertanya ramah, suaranya merdu sambil dia mengelus tangan suaminya.

“Aku tak tahu harus berbuat apa terhadap Gayatri. Aku kangen Angga, kalau mau ketemu Angga, pasti bertemu Gayatri. Lantas bagaimana sikapku?” Paras Wisang Geni tampak kusam petanda pikirannya sangat gundah dan bingung.

“Sebaiknya aku tidak memberi pendapat, semua terserah kamu.” Kata Sekar yang sebenarnya tak ingin Gayatri masuk kembali dalam kehidupannya. Hadirnya seorang Atis sebagai saingan telah membuatnya menderita. Cemburu. Dia tak ingin ada wanita lain dalam kehidupannya bersama Wisang Geni.

“Dia bersalah padaku, aku harus menghukumnya,” Wisang Geni diam sejenak lalu melanjutkan. “Itu aturan kependekaran. Kalau tidak kuhukum, aku akan menjadi tertawaan semua muridku. Tetapi dia itu ibunya Angga.”

Bersikap hati-hati supaya tidak ada kesan cemburu atau iri, Sekar menyahut datar. “Kamu laki-laki berilmu tinggi, kamu pasti tahu apa yang harus kamu lakukan.”

“Apa pendapatmu jika aku mengampuni Gayatri?” Bisik Wisang Geni, suaranya gemetar, ada rasa takut dan bimbang. Dia butuh dukungan Sekar. Jika Sekar setuju dan mendukungnya, rasanya dia sanggup mengatasi semua persoalan menyangkut Gayatri.

“Mengapa bertanya padaku?”

“Bagiku, pendapatmu, setuju atau menolak Gayatri, sangat penting artinya bagiku.” Tutur Wisang Geni lirih.

“Keputusan ada ditanganmu. Aku tak punya pendapat tentang itu.” Kata Sekar. Dalam hati dia menyumpahi kebodohannya. “Mengapa aku berbohong, seharusnya aku jawab tidak perlu menerima Gayatri kembali dalam keluarga.”

Gayatri sedang bermain-main dengan Anggreni didalam rumah ketika Wisang Geni muncul mendadak. Dia memandang paras suaminya, tapi tak berani lama-lama meski begitu besarnya keinginan melempar diri kedalam pelukan suaminya.

Diam-diam dia melirik suaminya. Tampak air muka Wisang Geni sulit ditebak. Tak ada emosi yang tampak. Hanya begitu mendengar teriak Anggreni, “Geni, Geni!” Air muka laki-laki itu tampak berseri-seri.

“Angga si cantik, sayangku.” Tangannya mengembang, angin tenaga-dalamnya yang lembut mengangkat tubuh anak kecil itu, perlahan-lahan melayang ke arahnya.

“Ibu, ibu, aku terbang.” Seru Anggreni gembira. Saat berikut dua tangannya yang mungil memeluk leher bapaknya. “Geni, aku sudah lama menunggu kamu. Mana mas Seno?”

Wisang Geni memeluk putrinya, memandang wajahnya yang cantik lucu. Lesung pipitnya dan tahi lalatnya. “Mas Seno, berlatih silat di laut kidul.”

“Aku juga berlatih silat, eyang guru mengajari aku.” Kata Anggreni.

“Siapa eyang guru?” Tanya Wisang Geni.

Mendadak terasa angin lembut berkesiur di ruangan. Nenek Jubah Kuning muncul di hadapan Wisang Geni, jaraknya lima meter. Tak ada bunyi tapak kakinya, petanda ringan-tubuh yang sangat mumpuni. Wisang Geni tidak bereaksi, tidak curiga, karena bisa menebak dialah Nenek yang diceritakan Prastawana, pendekar wanita yang telah menyembuhkan Gayatri dari racun bius dan menolong Anggreni dari ancaman Arjapura.

“Aku eyang gurunya, maafkan aku Ki Wisang Geni, karena sudah lancang mengajari anakmu, terus terang aku tidak tahan melihat bakat luar biasa yang dimiliki putrimu. Dia bakal jadi pendekar besar.”

Wisang Geni masih memeluk putrinya, membungkuk memberi hormat. “Terimalah hormat dan terimakasihku karena telah menyelamatkan isteriku dan anakku.” Sambil dia menoleh memandang Gayatri yang duduk bersimpuh ditanah seperti pesakitan.

Jantung Gayatri berdebar kencang melihat tatapan suaminya. Sejak kehadiran, baru sekali itu Wisang Geni memandangnya. Dan tatapan itu sangat misterius. Keringat dingin keluar dari pori-pori kulitnya, Gayatri ketakutan.

“Maafkan aku yang telah mengangkat Gayatri sebagai muridku.” Kata si nenek.

Wisang Geni tersenyum. Matanya menatap tajam mata si Nenek yang tampak bening bagai sumur tanpa dasar. “Terimakasih atas kebaikanmu. Boleh aku tahu, kisah pertemuanmu dengan isteriku?”

Nenek itu menutur singkat pertemuannya dengan Gayatri yang sakit parah. Bagaimana dia mengeluarkan racun bius dari tubuh muridnya. Betapa jahat dan hebatnya racun bius itu yang dari hari ke hari akan membuat Gayatri berubah menjadi tengkorak hidup dan mati dalam waktu tigapuluh hari.

“Terlambat sepuluh hari, aku pun tak akan sanggup menolong Gayatri. Tetapi sekarang semua sudah berlalu, Gayatri sudah sembuh, tubuhnya sudah bersih, semua kotoran dalam tubuhnya telah keluar. Tidak ada lagi bekas peninggalan penjahat itu dalam tubuh Gayatri.”

Anggreni yang sibuk memainkan rambut panjang bapaknya, berkata. “Eyang guru, hari ini kita main apa?”

“Sekarang sudah sore.” Kata Nenek Jubah Kuning. “Kita pergi ke batu besar, duduk-duduk, berlatih silat, dan meniup suling.”

“Tadi pagi, aku berenang sama ibu, aku naik dipunggung ibu, lalu ibu berenang cepat. Aku tidak jatuh.”

“Kamu tidak jatuh?” Kata Wisang Geni sambil menciumi leher anaknya.

“Aku memegang pundak ibu,” Angga tertawa geli. “Aduh Geni, cambangmu tajam.”

“Aku gemas, sebab kamu cantik.” Kata Wisang Geni.

“Geni, kamu janji mau ajak aku ketemu mas Seno?”

“Kamu masih ingat?” Tanya Wisang Geni. “Iya, nanti kita pergi ke rumah mas Seno.”

“Anakmu itu sangat cerdas, sekali kuajarkan langsung dia mengerti, ingatannya tajam, ini bakat yang sangat langka.” Potong Nenek Jubah Kuning. Dia mengulur dua tangannya. “Ayo Angga, ikut eyang, kita main-main di batu besar, mau?”

“Mau!” Seru Anggreni, lalu berkata kepada bapaknya. “Geni jangan pergi lagi, aku masih kangen, tapi sekarang aku main dulu dengan eyang guru.”

Wisang Geni merasa ada tenaga besar yang menarik putrinya, sesaat dia menahan anaknya. Terjadi benturan tenaga. Keduanya serentak melepas tenaga.

Nenek tertawa. “Tenagamu besar, pantas dijuluki nomor satu ditanah Jawa.”

“Itu pujian kosong, tenaga-dalam Nenek yang luar biasa, pantas Arjapura kabur setelah kamu sentil dengan kerikil.” Wisang Geni melepas dan mendorong putrinya ke arah si Nenek yang langsung mendekap dan menciumi.

“Geni, boleh aku panggil namamu begitu saja?” Kata si Nenek.

“Boleh, silahkan.” Kata Wisang Geni.

“Geni, anakmu ini anugerah untuk aku dihari tuaku, aku bahagia berada didekatnya. Terimakasih, kamu telah membolehkan aku mengajari anakmu, aku akan menurunkan semua ilmu-silatku kepadanya. Boleh?”

“Tentu saja boleh. Tetapi sebagai apa, cucu murid atau murid?”

“Cucu murid. Selama hidup aku tak punya murid apalagi cucu murid. Gayatri muridku, jadi Angga cucu murid.” Dia hendak pergi, berhenti sesaat. “Geni, isterimu sudah bersih, dia sudah seperti Gayatri sediakala.”

Nenek itu berkelebat pergi sambil menggendong cucu muridnya. “Angga, kita berlatih silat dan meniup suling dulu, setelah itu tangkap ikan.” Suaranya terdengar jauh.

Wisang Geni berkata. “Ilmu-silatnya sangat tinggi, tidak terukur.”

Ketika itulah Gayatri yang masih duduk bersimpuh diatas lutut, merayap cepat dan memeluk kaki suaminya. “Ampuni aku Mas, ampun.” Suaranya bercampur isak tangis.

Heran. Sejuta rasa heran menerpa benak Wisang Geni. Tak pernah sebelumnya Gayatri mau bersimpuh apalagi mencium kaki suaminya. Wanita itu terlalu angkuh dan merasa diri lebih tinggi derajat.

Gayatri masih memeluk dan mencium kaki suaminya. “Bunuh aku, kangmas Geni. Bunuh aku. Kesalahanku sangat besar padamu. Aku berkhianat berupaya membunuhmu. Tak ada ampun bagi kesalahan seperti itu.”

Wisang Geni diam. Memandang rambut isterinya yang ikal hitam.

“Sejak lama aku yakin kamu masih hidup dan akan mencari aku. Bunuh aku Mas. Aku tak akan melawan, aku rela dibunuh. Aku legowo meninggalkan Angga karena tahu ayahnya sangat mencintainya, sangat sayang pada putrinya.” Lalu dia menangis.

Wisang Geni mengamati punggung isterinya yang masih telungkup memeluk kakinya.

Gayatri kurus. Tubuhnya yang gemuk, susut banyak sekali. Tapi bokongnya itu masih semok. Pinggangnya kecil ramping. “Kemana tubuhnya yang gemuk dulu?” Gumamnya dalam hati.

Airmata Gayatri membasahi punggung kaki Wisang Geni yang diam mematung. “Mas bunuh aku, biarkan aku mati. Dosa dan penyesalan ini hanya bisa dibayar dengan kematian. Bunuh aku Mas, aku rela. Kamu pasti merawat Angga dengan baik. Kamu ayah dan suami yang baik, kamu sempurna. Selama ini aku banyak berbuat salah, terlalu mementingkan diri, terlalu sombong, tidak manut padamu, sering membantah, selalu curiga padamu, iri hati pada Sekar dan isterimu yang lain, kelakuanku buruk. Hari itu ketika di Jedung, aku bisa melihat semua kesalahanku, aku sadar dan berjanji akan memperbaiki diri menjadi isterimu yang manut. Tetapi ketika itulah nasib buruk datang padaku. Aku tidak membela diri, kesalahanku sangat besar, bunuh aku Mas, aku rela mati.”

Gayatri tetap mencium kaki suaminya. Menangis dan berkata-kata diatas punggung kaki Wisang Geni.

Dia gemetar ketika tangan suaminya menariknya berdiri. “Mas bunuh aku.” Katanya.

“Tidak.” Sahut Wisang Geni.

“Kamu membenciku.”

“Tidak.”

“Kamu tidak pantas mengampuni aku. Ijinkan aku bunuh diri.”

“Tidak.”

“Bunuh aku supaya aku terlepas dari mimpi buruk setiap malam, mimpi akan dosaku padamu.” Gayatri menangis, tetap merunduk tidak berani memandang wajah suaminya.

“Kamu harus hidup. Angga perlu kamu. Aku juga butuh kamu.”

“Mas kamu layak membenciku.”

“Tidak. Aku tidak membencimu.” Tangan Wisang Geni memegang lengan isterinya, memandang wajah Gayatri yang belepotan air mata. “Kamu kurus, Gayatri.” Bisiknya.

Tidak tahu apa yang ada didalam benak suaminya, Gayatri hanya mengangguk. Terbata-bata dia berkata lirih. “Bunuh aku Mas, cepat lakukan, mumpung Angga tidak melihat.”

“Mengapa harus membunuhmu?”

Gayatri memandang suaminya, tetapi hanya sedetik, dia merunduk memandang dada suaminya. Matanya menatap gambar kelelawar di dada bidang itu. Tanpa sadar dia bertanya, “ada gambar kelelawar didadamu.”

Saat berikut dia terdiam sadar akan situasi. Dia terkejut ketika suaminya menjawab. “Iya gambar kelelawar. Guruku kan bergelar lalawa.”

“Siapa yang gambar?”

“Atis.”

“Seorang gadis, isteri baru?”

“Iya isteri baru.”

“Kamu sudah dapat ganti, bunuh aku atau ijinkan aku bunuh diri.” Ada nada cemburu. Gayatri sendiri merasa heran mengapa tiba-tiba muncul rasa cemburunya.

“Mengapa harus membunuh kamu?”

“Aku tidak pantas diampuni, dosaku kelewat besar. Tubuhku kotor.”

“Kamu memukul aku karena pengaruh sihir penjahat itu. Aku tidak akan membunuhmu, aku tidak akan menyakiti isteriku yang sudah begini menderita.” Lalu tangan Wisang Geni menarik Gayatri kedalam pelukannya. “Kata gurumu, tubuhmu sudah bersih. Tak ada lagi kotoran bekas penjahat itu.”

Tubuh Gayatri bergetar. Menggigil diharubiru emosinya.

Wisang Geni memeluk erat isterinya, mengelus ubun-ubun kepalanya. Lalu memegang dua pipinya dan menengadahkan wajahnya, menatap sepasang mata indah itu yang masih saja berbinar menyirat cinta dan birahinya. Mata yang basah.

Tetapi mata wanita itu berkedip-kedip tidak keruan.

“Tatap aku Gayatri!”

Mata itu berusaha menetap pada mata suaminya. Tetapi tidak bisa lama, dia memejam mata, namun dia sempat menemukan sinar birahi dalam mata lelaki itu. Cinta dan birahi itu masih ada. Seketika tubuhnya gemetar.

Lalu laki-laki yang sebenarnya dia cintai dengan sepenuh hati itu, mengecup mulutnya. Gayatri terkejut, dia gemetaran. Ingin membalas ciuman melepas rindu dan kasmarannya tetapi tak ada keberanian. Dia takut itu hanya mimpi.

Sesaat kemudian dia merasa bukan ilusi, membuat hatinya berbunga-bunga, dan birahi serta kegembiraannya menyeruak tanpa batas. Dia tak sanggup menahan diri. Saat itu juga dia lunglai. Pingsan.

Wisang Geni meletakkan isterinya di lantai kayu gubuk mungil itu. Dia mengamati tubuh isterinya. Kurus langsing dan seksi. Parasnya cantik rupawan. Dia berjongkok, merunduk dan mencium mulut seksi itu.

“Bangun Gayatri. Jangan pura-pura pingsan.” Bisiknya mesra.

Bibir itu bergerak. “Aku takut, aku tak mau bangun dari mimpi indah ini.”

“Ini bukan mimpi. Coba katakan apakah ini mimpi?” Sambil dia mencium lagi mulut isterinya.

Mereka ciuman. Tangan Gayatri melingkar di leher suaminya.

“Kamu masih bernafsu, Mas.” Suara Gayatri bergetar.

Wisang Geni. “Kamu benar. Aku rindu.”

“Terlebih-lebih aku. Satu bulan tinggal disini, setiap detik aku merindu kamu.”

“Kalau begitu kamu ikut aku kembali ke rumah.”

“Aku tidak membantah, sejak saat ini aku tidak akan berani membantahmu. Tetapi aku malu bertemu Sekar dan murid-murid Lemah Tulis lainnya. Aku belum sanggup bertemu mereka. Aku malu akan kesalahanku dulu. Aku butuh waktu.”

“Dirumah itu ada Sekar dan Atis.” Kata Wisang Geni yang duduk dilantai, kepala isterinya berada di pangkuannya.

DILARANG COPY/MENERBITKAN/PUBLISH DI WEBSITE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!

“Mas, aku tidak membunuh Mano dan Westi, penjahat itu yang membunuh.”

“Aku sudah tahu.”

Gayatri mengalih pembicaraan. “Kamu memang harus punya banyak isteri. Sekarang isterimu dua, Sekar dan Atis.”

“Tiga. Kamu masih yang nomor dua, setelah Sekar.”

“Aku tidak masuk hitungan.” Mata itu menatap tajam dengan kerlingan yang menggoda.

“Kamu masih isteriku.” Dia mengelus paras cantik itu, menyentuh hidung, bibir, leher dan rambutnya.

Gayatri larut dalam belaian suaminya. Dia menuntun tangan suaminya ke payudara. “Kamu masih menerima aku sebagai isterimu?”

“Aku tidak pernah mengusir kamu dari hatiku.”

“Aku tahu. Hanya aku saja yang bodoh, keras kepala dan suka curiga.”

“Sekarang?” Wisang Geni ingin tahu.

“Kini tidak lagi Mas. Kamu majikanku, aku manut padamu, tak akan pernah membantah, aku akan selalu mendahulukan kamu dari kepentinganku.”

“Benarkah?”

Gayatri menyentuh wajah suaminya. “Dahimu mulai berkerut, kamu banyak berpikir, banyak masalah yang kamu hadapi.”

“Aku sudah tua.”

“Tidak. Usiamu belum empatpuluh. Belum tua. Kamu masih muda, tenaga wiwaha akan membuatmu awet muda.” Dia mengelus mulut suaminya, memainkan bibirnya yang tebal. “Sekarang tubuhku kurus. Kamu suka tubuhku sekarang ini atau perlu gemuk lagi?”

“Jangan, begini sudah bagus, seksi.”

Gayatri menciumi tangan suaminya. “Kamu telah mengampuni aku. Aku bahagia.”

Dua insan itu larut dalam cinta dan birahi.

Sore hari Nenek Jubah Kuning dan Anggreni kembali ke gubuk. Mereka makan bersama. Wisang Geni mengajak isteri dan putrinya, kembali ke rumah besar. Wisang Geni mengajak Nenek Jubah Kuning ikut, tetapi si nenek menolak.

“Aku akan menetap disini, setiap hari berlatih dan main-main dengan Angga.” Kata nenek itu. “Gayatri juga masih perlu mematangkan ilmu-silatnya.”

“Mas, aku belum siap bertemu orang-orang.” Ujar Gayatri.

“Pada saatnya nanti mereka harus menerima kamu. Tidak boleh ada pandangan menghina pada isteriku. Mereka harus tunduk padaku. Semua tak ada kecuali.” Suara lelaki itu terdengar tegas.

“Mereka akan menganggapmu lemah, tidak punya pendirian. Menganggap aku wanita iblis yang memengaruhi kamu.” Kata Gayatri.

“Aku ingin tahu siapa orangnya yang berani berkata seperti itu.” Wisang Geni agak kesal karena tahu pikiran seperti itu pasti akan ada bahkan juga di lingkungan murid Lemah Tulis. Tetapi dia tak perduli.

“Aku malu akan perbuatanku yang lalu dan malu bertemu Sekar.” Kata Gayatri.

“Aku mau menyelesaikan masalah ini secepatnya, mengakurkan kalian isteriku.” Wisang Geni memegang tangan Gayatri, isyarat bagi isterinya untuk melangkah.

Gayatri memberanikan diri melangkah.

“Besok kita semua pergi ke Lemah Tulis, aku mau bertemu semua murid dan juga guru Padeksa.” Wisang Geni berkata datar.

“Aku dan Angga akan menantimu disini.” Ujar Gayatri lirih.

“Tidak. Kamu ikut ke Lemah Tulis.”

“Aduh Mas, mati aku. Mereka, murid-muridmu akan memandang hina padaku. Aku tidak sanggup menghadapi situasi seberat itu. Tolong Mas, aku tetap disini saja.”

“Bukan kamu yang memukul aku. Arjapura yang memukul dan melukai aku.” Suara Wisang Geni terdengar datar tanpa emosi.

Gayatri terkejut. “Bukan begitu kejadiannya. Aku telah melukai kamu, membuat tenaga wiwaha tercerai berai, kamu ingat, kamu berkata padaku, mengapa kamu memukul aku? Kamu ingat kan suamiku?”

“Memang aku berkata demikian. Tetapi sesungguhnya pukulanmu itu tidak melukai aku dan tenaga wiwaha tidak bercerai-berai. Pukulan Arjapura yang melukai aku! Seandainya pukulanmu telah mencerai-beraikan tenaga wiwaha, bisakah aku bertahan dari pukulan telak Arjapura yang mengandung bisa kalajengking biru?”

“Tapi, tapi…” Gayatri berhenti melangkah, dan memandang wajah suaminya, mencari menemukan antara kebenaran atau kebohongan di wajah itu.

“Mana bisa tenaga pukulanmu melukai aku, isteriku?” Wisang Geni melotot memandang isterinya yang langsung merunduk.

“Iya, aku tahu, ilmu-silatmu jauh unggul diatas aku.” Gayatri berbisik.

Wisang Geni tertawa, senang bahwa kebohongannya untuk meringankan pikiran bersalah isterinya berjalan lancar.

“Penjahat itu bisa melukai aku karena perhatianku tersedot kecantikan parasmu, aku lengah. Tidak sempat mengelak, aku hanya kerahkan tenaga wiwaha dan memutar tubuhku memberikan lenganku sebagai sasaran. Sayang hanya sebagian wiwaha yang melapis tubuhku. Tetapi itu sudah cukup untuk menyelamatkan aku.” Kata Wisang Geni.

Tiba-tiba Gayatri menjatuhkan diri, memeluk kaki suaminya. Dia menangis.

Terisak-isak Gayatri berkata. “Aku tidak bodoh kangmasku, aku tahu kamu menghiburku. Terimakasih suami sesembahanku. Kamu makin menarik aku kedalam jurang cinta yang dalam, dimana setiap saat dan setiap tarikan nafasku aku mencintaimu, manut padamu dan mementingkan dirimu. Aku bangga menjadi bagian dari hidupmu.”

Kejadian itu terjadi di pekarangan rumah.

Sekar dan hampir semua murid Lemah Tulis menyaksikan pemandangan luar biasa itu. Seorang suami berdiri tegar dengan menggendong putrinya, sementara isterinya bersimpuh memeluk kaki suaminya sambil menengadah mengucap serangkai kata yang tidak terdengar oleh mereka.

Sekar menarik nafas panjang, terharu melihat luluhnya kesombongan Gayatri sampai pun mau berlutut memeluk kaki Wisang Geni didepan banyak orang. Dia masuk kedalam rumah diikuti Atis.

Wisang Geni menarik tangan isterinya. “Sudahlah, orang-orang melihat.”

“Biarkan mereka melihat betapa aku menyembah padamu, aku tidak malu, bahkan bangga bisa mencium kaki suami, seorang suami yang begini sempurna.” Gayatri berdiri.

Wisang Geni menuntun tangan isterinya, satu tangan lainnya menggendong Anggreni.

Dia tersenyum membalas tegur sapa para murid.

Didalam kamar, Sekar duduk bersama Atis menunggu kedatangan Wisang Geni bertiga Gayatri dan Angga.

Wisang Geni menyapa. “Sekar aku bawa sahabatmu.”

Sekar memandang Gayatri kemudian berseru. “Gayatri!”

Pada saat yang sama Gayatri lari menghampiri dan menjatuhkan diri. Posisinya jongkok sambil dua tangannya meraih kaki Sekar. Dia merunduk hendak mencium kaki Sekar yang saking terkejutnya melompat mundur.

“Mbakyu Sekar, ampuni kesalahanku.” Dia beringsut maju.

Sekar berkata. “Apa yang kamu lakukan?”

“Aku mau mencium kakimu, mohon ampunanmu, kesalahanku banyak.”

“Jangan pakai cara ini, aku maafkan kamu, tapi kamu tak perlu merendah seperti itu. Kita bersahabat, dulu dan juga sekarang.” Sekar memegang pundak Gayatri, menariknya berdiri. Keduanya berpelukan. Tapi perasaan berbeda mereka berbeda. Gayatri senang bisa kembali ke rumahnya. Sekar kecewa.

Airmata membasahi pipi, Gayatri berkata tersendat-sendat. “Keluargaku sudah pergi, aku tak punya siapa-siapa lagi. Terimalah aku dalam keluarga mas Geni.”

“Kamu sahabatku, kamu bagian dari keluarga ini.” Kata Sekar.

“Aku akan manut padamu Mbakyu. Aku sudah berubah.” Gayatri berkata lirih.

Sekar mengelus kepala sahabatnya.”Kita tetap bersahabat, adik.”

Wisang Geni tersenyum melihat adegan bersahabat itu berkata kepada putrinya. “Angga mau tidur dengan siapa, dengan eyang guru atau ibu?”

“Aku tidur sama ibu. Tapi nanti eyang guru mau jemput aku.”

Sekar mendorong halus Gayatri, lalu menyambar Anggreni. Dia menciumi dengan rasa gemas. “Bibi Sekar kangen sama kamu. Kamu mau main apa sama eyang guru?”

“Pergi ke hutan, eyang guru tangkap rusa, aku naik dipunggung rusa.”

Atis berkenalan dan berpelukan dengan Gayatri.

“Kamu tidak jatuh?” Atis bertanya kepada Anggreni.

Anggreni memandang heran, dia baru pertama melihat Atis. “Namamu siapa?”

“Namaku Atis, kamu panggil aku bibi Atis.” Jawab Atis.

“Rusanya mana, Angga?” Sekar bertanya.

“Aku menunggang rusa, aku pegang tanduknya. Setelah main-main dengan aku, eyang guru menyuruh rusa pergi kembali ke hutan.”

Sebelum keluar kamar Wisang Geni berkata. “Besok kita semua ke Lemah Tulis.”

Sepeninggal Wisang Geni, tiga wanita itu berbincang-bincang. Mereka tahu sebagai isteri Wisang Geni, harus bersatu-padu. Namun masing-masing tahu bahwa sebenarnya persaingan merebut cinta Wisang Geni merupakan halangan untuk bisa bersatu-padu.

Sekar bahkan semakin kesal dengan situasi dan kondisi sekelilingnya. Kedatangan Gayatri kembali dalam rumahtangga suaminya, Sekar merasa bakal makin tersingkir. Melihat paras Gayatri yang ceria berseri-seri dan sikap Wisang Geni yang bersemangat, Sekar memastikan keduanya telah bercinta. Dia makin kesal.

“Huhh! Dalam perjalanan menuju lembah kera dia mengatakan sakit hati akibat perbuatan Gayatri dan tak akan mengampuni orang yang telah mengkhianatinya. Kini melihat tubuh Gayatri yang kembali seksi seperti dulu, pasti dia bernafsu dan mengajak bercinta. Dasar lelaki tak punya pendirian.” Sekar memaki suaminya dalam hati. Dia semakin kecewa terhadap Wisang Geni yang telah melupakannya. “Aku isteri pertama dan utama setelah meninggalnya Walang Wulan. Semua isterinya yang lain datang setelah aku. Mengapa kini aku dibuang begitu saja? Apakah tak ada lagi ingatannya akan jasa-jasaku dan cintaku yang tulus kepadanya?”

Istana Tumapel penjagaannya ketat. Ibarat seekor lalat pun sulit menerobos penjagaan yang berlapis. Bangunan berlapis dan saling berhubungan. Di beberapa tempat tersebar pendopo, bangunan yang luas terbuka tanpa dinding atau sekat disediakan untuk para pengawal khusus lingkar-dalam keraton.

Disalah satu bangunan-dalam, terdapat keputren yang bersebelahan dengan istana emas Ranggawuni, raja Tumapel yang bergelar Wisnuwhardhana. Ada pintu besar menghubung istana emas dengan keputren.

Untuk bisa masuk kesini seseorang harus sangat dikenal dan mendapat ijin langsung dari sang raja. Penjagaan berlapis dan sangat ketat. Para pengawal didalam istana adalah orang-orang pilihan dengan kesetiaan dan ilmu-silat tinggi, mereka pengawal khusus raja dan permaisuri. Kesetiaan mereka tak diragukan lagi, siap menukar keselamatan sang majikan dengan nyawa mereka.

Ranggawuni tidak pernah melupakan bantuan tiga orang yang berperan besar dalam hidupnya sampai menjadi raja Tumapel.

Pertama-tama, dua bersaudara anak Maharaja Kediri Bhatara Parameswara alias Mahisa Wunga Teleng, yakni Waning Hyun yang lahir dari permaisuri dan Mahisa Cempaka anak dari selir.

Waning Hyun adalah pewaris sah kerajaan Kediri. Menikahi putri jelita Waning Hyun membuat Ranggawuni alias Seminingrat menjadi pewaris kerajaan Kediri.

Ranggawuni sendiri adalah pewaris sah kerajaan Tumapel dari ayahnya Anusapati yang dibunuh dan direbut tahtanya oleh Tohjaya. Sebagai pewaris kerajaan Tumapel dan juga Kediri, maka Ranggawuni bersama isteri Waning Hyun dan Mahisa Cempaka menjadi buronan Tohjaya dan pasukannya yang dipimpin Mahamenteri Pranaraja dan Samba.

Adalah Sang Pamegat Apanji Patipati yang menyembunyikan dan melindungi mereka bertiga, bahkan dia membantunya menggalang kekuatan menggulingkan Raja Tohjaya dan merebut tahta Tumapel.

Setelah memenangkan tahta raja Tumapel otomatis timbul keharusan menyatukan dua kerajaan itu, Kediri dan Tumapel.

Gelombang protes pun bermunculan. Namun dengan dukungan Mahisa Cempaka dan Sang Pamegat, maka Raja Wisnuwardhana bisa meredam protes terutama dari pihak aliran keras.

DILARANG COPY/MENERBITKAN/PUBLISH DI WEBSITE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!

Raja Wisnuwardhana semakin mencintai dan memanjakan isterinya ketika lahir putra mahkota yang belakangan menjadi penggantinya dengan gelar Sri Kertanagara.

Dia memberi hadiah, pangkat dan jabatan kepada Mahisa Cempaka sebagai wakil Raja atau ratu angabhaya dengan gelar Narasingamurti. Juga penghargaan dan hadiah kepada Sang Pamegat yang diangkat sebagai dharmadikarana atau hakim agung bergelar Mpu Kapat.

Hubungan antara empat manusia utama ini, tiga lelaki dan satu wanita terpelihara sampai bertahun-tahun kedepan berdasar kesetiaan dan persahabatan.

Sebagai wakil raja, Mahisa Cempaka memimpin pasukan keamanan lingkar-dalam maupun lingkar-luar dengan kekuasaan tak terbatas. Dalam urusannya dia mempercayakan Sang Pamegat sebagai kepala pasukan urusan luar keraton.

Otomatis Sang Pamegat punya kekuasaan memerintah delapanbelas pendekar Tumapel serta sembilan sesepuh jubah putih pengawal istana. Dalam pelaksanaan keduanya saling melapor tapi Mahisa Cempaka sebagai pemimpin yang memutuskan. Menyangkut kebijakan penting, keputusan berada ditangan Raja Wisnuwardhana.

Keputren tempat istirahat raja dan permaisuri serta putra mahkota Kertanegara tampak sibuk siang hari itu. Akan ada pertemuan penting. Hal ini diluar kebiasaan. Jarang sekali keputren menjadi tempat pertemuan. Biasanya raja berada dikeputren pada malam hari untuk istirahat. Rapat atau pertemuan atau penerimaan tamu biasanya dilakukan di istana emas.

Keputren merupakan bagian istana yang paling indah dan sejuk. Beberapa kamar besar tempat istirahat Raja, Permaisuri dan Putra Mahkota dijaga sangat ketat.

Halaman depan keputren dilingkari taman luas yang penuh dengan aneka pepohonan seperti mangga, jeruk, delima yang berbuah lebat. Juga dihiasi berbagai macam bunga aneka warna, bunga-bunga pilihan dan yang terbaik di wilayah kerajaan. Ditengah-tengah taman terdapat sebuah pendopo besar.

Pendopo itu cukup luas, ukuran dua puluh orang duduk. Bangunan megah dan indah ditunjang delapan tiang besar berukir emas menopang atap. Tersedia empat kursi besar berlapis emas bersarung kain beludru warna emas. Seputar pendopo terpisah belasan meter para pengawal khusus berjaga-jaga dipimpin sembilan sesepuh dan delapanbelas pendekar.

Raja Wisnuwardhana tersenyum kepada isterinya dan dua sahabatnya Mahisa Cempaka dan Sang Pamegat. Empat dayang sibuk mengatur jamuan diatas meja besar. Dua orang kepala pelayan separuh baya mengawasi dengan teliti.

Keduanya adalah dayang dan inang pengasuh permaisuri Waning Hyun sejak masih gadis di kerajaan sang ayah di Kediri. Keduanya sangat teliti, dari sejak bahan mentah sampai kepada masakan siap saji, tak sedikitpun lolos dari pengamatannya. Jangankan racun, lalat pun tak bisa menerobos makanan bagi Raja dan permaisuri.

Dalam pertemuan yang akan membahas rapat penting menyangkut keputusan besar. Raja dan permaisuri bicara dalam logat dan bahasa kependekaran. Pada saat demikian tata krama keraton ditinggalkan menjadikan suasana akrab dan pertemanan makin menonjol.

Mereka bersantap sambil membincang hal-hal penting.

“Jadi Wisang Geni masih hidup? Dia muncul di karangplosos, terjadi keributan dengan dua sesepuh jubah putih, bagaimana ceritanya?” Ranggawuni tertawa. “Kakak perguruanmu makin suka ugal-ugalan.” Katanya kepada sang permaisuri.

“Bukannya aku membela, tapi pasti ada sebab musababnya.” Tegas Waning Hyun sambil memandang Sang Pamegat. “Paman, kamu yang tahu ceritanya. Wisang Geni tidak bersalah, benar pendapatku?”

Sang Pamegat menutur kejadian di warung. Termasuk hebatnya ilmu-silat Wisang Geni yang sanggup melukai dua sesepuh jubah putih. “Salah faham. Tetapi para ponggawa itu berbuat tidak senonoh dengan mengolok-olok isteri Wisang Geni sebagai pelacur yang tentu saja memancing kemarahan si pendekar.”

“Tingkah laku tak senonoh ponggawa kerajaan seperti itu tidak bagus bagi citra Tumapel. Harus ada teguran keras, kalau perlu hukuman agar kejadian memalukan itu tidak terulang lagi.” Itulah sabda sang Raja.

“Sudah dilakukan tindakan. Para ponggawa yang bersalah akan menjalani hukuman kurungan dan denda.” Sahut Sang Pamegat.

Kemudian dia menambahkan telah mengajak Wisang Geni ikut membantu kerajaan jika saatnya menyerang markas Linggapati. Ada alasan pendekar Lemah Tulis itu bersedia, karena ingin balas dendam pada pasukan rodra yang telah membunuh banyak murid Lemah Tulis dan Mahameru di hutan Kandangan. Sang Pamegat juga melapor perampokan di hutan Karangan, dan desa Karambang.

“Banyak bukti. Beberapa kali terjadi perampokan kereta dan harta milik keraton terutama beras. Ini usaha makar, ada kelompok besar yang sedang bersiap-siap menyerang keraton. Itu sebab mereka butuh beras untuk konsumsi pasukannya. Sebelum itu dua orang mata-mata yang berhasil menyusup kedalam pasukan rodra memberi informasi letak markas kaum pemberontak dan persiapannya terutama rekrutmen pasukan panah.” Tutur Mahisa Cempaka.

“Linggapati!” Suara Ranggawuni lirih tetapi terdengar jelas.

“Linggapati yang mencuri keris prabakara. Kini dengan keris itu ditangannya dia yakin dan percaya akan menjadi penguasa tanah Jawa yang tidak terkalahkan. Menjadi raja yang dipertuan di Tumapel dan tanah Jawa. Tak seorangpun sanggup menandingi keampuhan keris pembawa bencana yang berhawa panas itu.” Nada suara sang Raja seakan berita itu tidak menakutkan, bahwa itu hanya berita kecil dan sepele.

“Keris itu seampuh dan sehebat keris gandring, jika seorang dengan kepandaian ilmu-silat yang biasa-biasa bertarung menggunakan keris itu, dia menjelma menjadi pendekar kelas utama. Jika pendekar kelas utama yang bersenjatakan keris itu, maka kepandaiannya akan tidak tertandingi dan keris itu akan menjadi senjata pembunuh paling menakutkan.” Tutur Ranggawuni. “Jika pendekar itu punya pasukan besar maka dia akan menjadi raja.”

Semua diam.

Maharaja Wisnuwardhana bangkit dari duduknya.

Dia melangkah pelan-pelan, tangannya saling genggam dibokong, wajahnya tengadah memandang langit-langit pendopo. Lalu suaranya terdengar sangat wibawa, hilang sudah keakraban sebagai teman dan sahabat, kini berubah menjadi Maharaja Tumapel penguasa tanah dan kehidupan di seantero tanah Jawa.

“Aku pewaris sah tahta Tumapel. Permaisuriku Waning Hyun pewaris sah tahta Kediri bersama saudaranya Mahisa Cempaka. Jadinya aku penguasa pewaris tahta Tumapel Besar, aku yang menyatukan dua kerajaan besar itu menjadi Tumapel yang jaya dan subur.

Selama wanita utama bernama Waning Hyun yang disembah-tauladani semua wanita di tanah Jawa duduk bersanding sebagai permaisuriku, maka tak akan ada sesuatu kejadian pun, tidak juga seorang manusia yang sanggup mencabut hak milikku dari tahta tanah Jawa. Mustahil seorang penjahat yang tidak berdarah biru sanggup merebut tahtaku!

Tidak tahukah dia bahwa Waning Hyun telah mewarisi kewibawaan, kebesaran, kecantikan dan keutamaan seorang permaisuri dari eyang putri Ken Dedes? Tidak tahukah dia bahwa tanah Jawa telah menulis karma dan darma-bakti eyang putri Ken Dedes yang akan melahirkan raja-raja besar penguasa tanah Jawa? Tidak tahukah dia bahwa Hyun permaisuriku adalah emas berlian yang menyinari tahta kerajaanku, yang meniupkan kehidupan dan kesuburan di seantero tanah Jawa? Linggapati sungguh sembrono menggadaikan jiwa kotornya untuk mimpi yang sudah pasti tidak akan terjadi.”

Lalu menyambung dengan sumpah serapah. “Orang itu akan tenggelam dalam panasnya lahar gunung berapi, tidak punya kuburan untuk raganya yang bakal hancur lebur!”

Mereka yang mendengar terdiam, bulu roma berdiri.

Waning Hyun merunduk, tubuhnya gemetar dan hatinya menangis haru betapa suaminya, laki-laki yang sangat dia cintai, raja sesembahannya begitu memuliakan dirinya. Dia memang cucu Ken Dedes dari perkawinan dengan Ken Arok yang melahirkan bapaknya, Mahisa Wunga Teleng alias Bhatara Prameswara. Tetapi Ranggawuni, suaminya, juga cucu dari eyang putri Ken Dedes dari perkawinannya dengan Tunggul Ametung yang melahirkan Baginda Anusapati. Dia tahu mereka berdua setara, sama-sama pewaris tahta yang sah.

Dia memiliki ilmu karma-amamadang yang diwarisinya langsung dari eyang putri Ken Dedes dan telah melatihnya. Ilmu itu telah merasuk dalam tubuh, rahim dan alat betinanya sejak masih berusia sepuluh tahun. Keberuntungan sebagai pemilik ilmu karma-amamadang telah dia rasakan sendiri dimasa petualangan bersama Ranggawuni, Mahisa Cempaka dan Sang Pamegat. Dalam situasi kritis mereka lolos dari kesulitan dan kematian.

PELANGGARAN HUKUM HAK CIPTA BAGI SIAPA YANG MENERBITKAN ATAU PUBLISH NOVEL INI DI WEBSITE/ONLINE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!

Sesungguhnya ilmu itu rahasianya sendiri, tak seorang pun tahu. Tetapi suaminya bisa begitu waspada dan waskita bahwa keberuntungan dan kejayaan sebagai raja Tumapel berkat adanya isteri setia yang bernama Waning Hyun.

Dari mana suaminya tahu?

Dan betapa bangganya melihat dirinya begitu dihargai dan dicintai serta dimuliakan sang suami. Namun betapapun tak terbersit sedikitpun rasa bangga dan temberang membanggakan diri melebihi suaminya. Dia berbisik. “Kamu sesembahanku, paduka raja, kekasih permata hatiku.” Bisiknya lirih yang didengar tiga lelaki yang hadir. Dia mengucap kata-kata itu dengan air mata yang sebening mutiara.

Raja Wisnuwardhana tersenyum memandang permaisurinya. “Aku Ranggawuni pemilik keris gandring pusaka tanah Jawa, paku-bumi tanah Jawa. Keris Prabakara akan kehilangan tuah dan saktinya jika berhadapan dengan Gandring, itulah ibarat palsu ketemu asli. Sama halnya Linggapati ketemu aku, palsu ketemu asli. Aku diramalkan akan menurunkan raja-raja pewaris tanah Jawa. Semuanya berasal dari eyang putri Ken Dedes. Aku tidak terkalahkan selama masih memiliki isteri Waning Hyun.”

Dia melangkah menghadapkan wibawanya kepada dua sahabatnya. “Aku akan menghukum Linggapati, mencabut nyawanya dari tubuh kotornya, mengambil kembali keris prabakara dan menyimpannya di keraton Tumapel.” Lalu dengan suara wibawa dia memerintah dua sahabatnya. “Siapkan pasukan pemukul, secepatnya kita membumihangus markas kaum penjahat dan perampok itu.”

Perintah sang Raja jelas, bagai terangnya halilintar di gelapnya malam. Keraton Tumapel akan menyerang dan menghancurkan markas Linggapati. Itu juga sebabnya pertemuan itu hanya dihadiri empat manusia utama. Rahasia itu tak akan bocor keluar.

Ranggawuni meraih tangan isterinya, meninggalkan ruang pendopo.

Mahisa Cempaka dan Sang Pamegat saling pandang.

“Sudah jelas sekarang, kita menyerang dan menumpas Linggapati. Berapa lama pasukan kita siap?” Mahisa Cempaka bertanya.

“Pasukan sudah siap. Hanya tinggal mempersiapkan perbekalan yang akan disesuaikan dengan perencanaan. Esok lusa kita sudah siap berangkat ke medan perang.”

“Kangmas, sejarah masa lalu jadi pelajaran bagi kita, kekalahan pasukan Kediri di Ganter disebabkan kebocoran strategi. Beberapa ponggawa penting membawa rencana itu kepada pasukan Tumapel. Itu sebabnya pasukan Tumapel bisa memasang perangkap dan mengalahkan Kediri.” Kata Mahisa Cempaka.

“Kita beraksi diam-diam. Selesai mengatur strategi kita menghadap Baginda Raja lagi. Dan tak boleh seorang pun tahu bahwa kita akan menyerang Linggapati, biarkan semua ponggawa dan anggota pasukan bertanya-tanya.”

Keduanya siap-siap meninggalkan tempat. Sang Pamegat berbisik. “Aku sudah mengatur strategi dengan Gajah Pringgon. Dia akan mengirim sekumpulan penelik, mata-mata, masuk desa Bangu. Satu atau dua orang diantaranya akan menuju kemari, melapor apa yang telah dilihatnya. Aku ingin tahu, penduduk desa itu orang awam biasa atau semuanya kumpulan penjahat yang hendak berontak?”

“Kalau semuanya penjahat pemberontak, lebih mudah bagi kita menyerang, anggap saja semua penduduk adalah pemberontak yang harus kita tumpas.” Tegas Mahisa Cempaka. ***

Note : Novel (part Two) ini belum pernah diterbitkan sebagai buku novel dan belum pernah dipublish di website lain.

***

No comments: