Kutukan Keris Berdarah
By John Halmahera
Publish 58
Before :
“Aku mohon tolonglah isteriku.” Tukas Purwo tanpa merasa malu.
Terdengar isak tangis, Kitiran berkata dengan suara parau. “Paman, tolong ibuku, tolong dia, aku tak mau kehilangan ibu.”
Parasaan Wisang Geni tergugah, batinnya terguncang melihat pemandangan itu. Refleks dia melunjur dua tangannya, menempel punggung Srimawar, mengerahkan tenaga-dalamnya. Tenaga panasnya membanjir menerobos tubuh Srimawar.
Sepenanakan nasi berlangsung Wisang Geni mengerahkan segenap tenaganya, namun tidak banyak menolong. Srimawar masih dalam keadaan pingsan dengan nafas perlahan, tak ada gerakan lain.
Wisang Geni merasa malu dan rikuh. Tetapi dia harus mengatakan hal yang benar dengan jujur. “Pukulan Ganggati menerpa dada isterimu. Tenaga-dalamku tak banyak menolong jika melewati punggung.” Dia memandang mata Purwo dan beralih ke mata Kitiran. “Maafkan aku kangmas Purwo.”
Mendadak sepasang mata Srimawar membuka. Redup.
Purwo berbisik kepada isterinya. “Isteriku, aku rela dia memegang dadamu agar supaya penyembuhan itu bisa berhasil. Kamu juga harus rela.”
Srimawar tak bisa bergerak, hanya diam, matanya redup.
Purwo lalu berembuk dengan anak-anaknya.
Tiga anak dan dua muridnya merasa haru. Lalu Kitiran berkata lirih. “Demi nyawa ibuku, lakukan itu ayah.”
“Lakukan pengerahan tenaga-dalam lewat dada, kami rela. Kamu, pendekar besar yang memegang kehormatan diatas segalanya, ini situasi darurat, jika tidak cepat mengambil keputusan, isteriku akan mati. Kami semua sangat mencintainya, tak mungkin membiarkan dia mati. Cepat lakukan penyembuhan itu, pendekar Geni.”
Wisang Geni masih menggeleng kepala. Lalu Gayatri menyeru dengan suara tinggi. “Apa yang membuatmu ragu. Lihat mereka semua menaruh harapan padamu, singkirkan rasa malu dan keberatan. Lakukan Mas Geni. Aku isterimu ingin kamu melakukan penyembuhan itu.”
“Mas Geni, tolonglah mereka, cepat, jangan banyak pikir dan pertimbangan.” Seru Atis.
Saat semakin kritis. Wisang Geni memejam matanya, memegang pinggang Srimawar dan memutarnya sehingga mereka berhadapan. Srimawar masih tak mampu bergerak sehingga duduk dipangkuan Kitiran putrinya.
“Tutupi tubuh Mbakyu ini dengan sewek.” Ujar Wisang Geni tegas. Lalu berkata kepada Delima. “Tolong buka kebaya di bagian depan.”
Kitiran menyamber sewek dari buntalannya dan mengerubungi tubuh atas ibunya. Lalu tangan Delima menerobos ke balik sewek, membuka kebaya bagian depan gurunya.
Tangan Geni menjulur kedepan, menerobos ke balik sewek tepat diatas dada yang terasa panas membara. Meskipun tidak melihat luka didada itu, namun Wisang Geni memastikan bekas pukulan Ganggati itu meninggalkan bekas merah biru, bengkak dan berair.
“Kitiran kamu tahan punggung ibumu dengan dua tanganmu. Jika panas atau dingin menyerang tanganmu sampai ke siku katakan padaku, jangan gunakan tenaga-dalam, gunakan tenaga manusia biasa. Bisa kamu lakukan?”
“Bisa paman!”
“Kangmas Purwo, tolong kamu carikan bahan ramuan untuk mengusir racun, pengobatan harus dilakukan dari luar selain dengan bantuan tenaga-dalamku, tenaga panas dan dingin.” Dia kemudian menyebut beberapa nama akar pohon dan dedaunan. “Semuanya dicampur lalu tumbuk sampai hancur, airnya ditampung untuk diminum isterimu. Ramuan itu kamu tempel di luka. Tetapi sebelum itu aku akan menolongnya dengan tenaga-dalam.” Kata Wisang Geni.
Beberapa orang lantas menyebar mencari bahan-bahan.
Wisang Geni konsentrasi pada tenaga-dalamnya, tidak mau tergugah perasaan ketika tangannya menyentuh dada Srimawar yang masih pingsan.
Sepenanakan nasi berlangsung, dari ubun-ubun Wisang Geni samar-samar tampak keluar uap tipis warna putih. Uap itu sangat tipis, tampak seperti bayangan. Paras Wisang Geni basah keringat. Dadanya yang telanjang basah keringat.
“Paman panasnya mencapai siku tanganku, aku tak tahan lagi.” Seru Kitiran.
Wisang Geni tidak menyahut, hanya menggerak kedua pundaknya sambil mengeluarkan suara gerungan dari mulutnya. Dalam sesaat menarik tenaga panasnya sekaligus mengganti dengan tenaga dingin.
PELANGGARAN HUKUM HAK CIPTA BAGI SIAPA YANG MENERBITKAN ATAU PUBLISH NOVEL INI DI WEBSITE/ONLINE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!
Tenaga panas di tangan Kitiran lenyap. “Panasnya hilang, Paman.”
Uap tipis semakin menebal. Tempat duduk Wisang Geni tampak basah dengan keringat. Sekujur tubuhnya bagaikan mandi, kuyup oleh keringat. Aroma badannya menguar kemana-mana. Semua orang memandang takjub.
Beberapa lama kemudian Srimawar membuka matanya. Wajahnya mulai berkeringat. Dia menatap Wisang Geni yang memejam mata.
Purwo dan anak serta muridnya merasa lega melihat Srimawar siuman. Bahkan tampak parasnya mulai kemerahan. Tetapi mereka tidak tahu sejak beberapa saat sebelumnya wanita itu sudah siuman, namun tahu bahwa tangan seorang lelaki menempel dadanya.
Meskipun dia sadar itu pertolongan yang menyelamatkan dia dari kematian, mau tidak mau dia merasa malu yang amat sangat. Tetapi ketika dia memerhatikan paras Wisang Geni yang kuyup keringat dan sepasang matanya memejam, hatinya lega. Perlahan-lahan malunya hilang. Dia melirik memandang suami dan orang-orang disekitarnya sambil tersenyum.
Kemudian dia memejam matanya lagi, merasakan terobosan tenaga dalam yang berputar-putar di sekujur tubuhnya. Seluruh tubuhnya dialiri tenaga dalam pendekar itu, bergantian tenaga panas dan tenaga dingin, diam-diam dia kagum, itulah tenaga-dalam paling tinggi yang pernah ditemuinya dimiliki seorang pendekar. Bahkan jauh lebih unggul dari ayahnya.
Setelah dua jam melakukan penyembuhan Wisang Geni lalu menghentikan pertolongan, dan tersenyum memandang paras Srimawar yang tampak kemerahan.
“Terimakasih kamu telah selamatkan nyawaku, pendekar Geni.” Srimawar malu-malu.
Wisang Geni tampak kelelahan, menyahut lirih. “Aku mohon maaf karena situasi darurat sehingga harus menolongmu dengan cara itu. Bagaimana rasanya badanmu?”
“Linu, dingin, panas, dan sakit seperti ditusuk-tusuk jarum. Rasanya aku sedang menuju kematian.”
“Ibu jangan mati.” Seru Kitiran yang masih memangku ibunya yang tak bertenaga itu.
“Mas Purwo, aku akan istirahat beberapa saat, makan dan tidur. Kamu balurkan ramuan dan minumkan airnya. Jika ada perubahan buruk, bangunkan aku.” Kata Wisang Geni sambil melahap makanan yang disediakan Gayatri dan Atis. Beberapa saat kemudian dia telentang dan ngorok. Dia tidur pulas.
Kitiran merebahkan ibunya di lantai papan. Sewek masih menutupi dada ibunya lalu dengan kasih sayang dia melabur bubuk ramuan setelah sebelumnya meminumkan air jamu.
Srimawar mulai bernafas normal. Matanya dibuka.
Semua orang gembira.
“Bagaimana rasanya?” Tanya Purwo.
“Kupikir aku sudah mati, tetapi kemudian ada tenaga yang merebus tubuhku, saat berikut diserang hawa dingin, berganti-ganti.” Dia diam sejenak, mengerahkan tenaga. “Aku masih lemas, sepertinya tak punya otot dan tulang.”
Selama dua hari Wisang Geni melakukan penyembuhan dengan cara yang sama. Kondisi Srimawar makin membaik. Dia sudah bisa bergerak. Wisang Geni punya waktu banyak untuk istirahat dan memulihkan tenaga-dalamnya yang banyak terkuras.
Pada hari keempat, tenaga-dalam Wisang Geni sudah pulih bagai semula. Dan Srimawar pun sudah jauh membaik. Meskipun masih lemas, namun dia tak perlu lagi dipangku saat menerima bantuan tenaga-dalam Wisang Geni.
“Dibantu tenaga-dalam suamimu, mungkin dalam sepuluh hari tenagamu mulai pulih. Ketika itulah kalian suami isteri melakukan pengobatan dengan tenaga-dalam mungkin dalam waktu dua purnama berikut, akan sembuh total. Namun ramuan itu harus tetap diminum dan dilabur, tiga kali dalam sehari.”
Anak-anak muda itu hanya bisa mengucap. “Terimakasih pendekar Wisang Geni.”
Wisang Geni membalas hormat. “Kangmas Purwo, aku menghormatimu, maafkan aku telah membunuh adikmu Ganggati.” Dia memandang wajah Srimawar yang saat itu juga sedang menatapnya.
Keduanya berpandangan. Paras Srimawar merona merah malu. “Maafkan aku telah menyembuhkan kamu dengan cara itu, tetapi hanya itu satu-satunya jalan menolong kamu.”
“Terimakasih, kamu telah menolongku.” Sahut Srimawar malu.
“Maaf, paman apakah tak ada cara lain menolong Ibu?” Tanya Suryo.
“Ada. Tapi lebih celaka lagi. Tubuh bagian atas yang menolong dan yang ditolong harus telanjang, dada nempel dada, pengerahan tenaga lewat dada ke dada, akan jauh lebih cepat dan lebih manjur.”
PELANGGARAN HUKUM HAK CIPTA BAGI SIAPA YANG MENERBITKAN ATAU PUBLISH NOVEL INI DI WEBSITE/ONLINE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!
Karuan Srimawar menahan nafas, tak bisa membayang jika harus ditolong melalui jalan itu. “Mungkin aku akan memilih mati.” Katanya dalam hati.
Suryo dan yang lain menahan nafas. Mereka pernah mendengar penyembuhan tenaga-dalam melalui jalan itu.
Tiba-tiba Atis berkata. “Aku pernah ditolong Mas Geni dengan cara itu. Kondisi tubuhku jauh lebih parah dari Mbakyu, karena aku terkena pukulan racun dingin pendekar Himalaya. Itupun hanya menahan bekerjanya racun, dan racun baru lenyap setelah aku makan ramuan obat.” Atis tidak menceritakan tentang lembah kera.
“Aku senang memperoleh sahabat kamu, kamu lebih muda usia, sebaiknya kupanggil Dimas.” Kata Purwo menghindari pembicaraan mengenai Ganggati.
“Justru aku yang beruntung mendapat kamu sebagai sahabatku.” Wisang Geni merendah.
“Pendekar Geni, kamu harus datang ke lereng gunung Lawu, kami akan menjamu dengan masakan yang enak-enak.” Kata Suryo, kekasih Kitiran.
“Kamu bertarung sambil berkidung dan menangis namun justru jurus-jurusmu semakin mematikan. Namanya ilmu dari segala ilmu? Benarkah paman pendekar?” Tiba-tiba Kitiran sadar telah salah omong. “Oh maaf aku ngomong sembarangan.”
Gayatri tertawa, sambil melirik Atis. “Aku isterinya tak pernah tahu dia memiliki jurus segila itu tarung sambil menangis dan berkidung, kapan kamu ciptakan ilmu aneh itu?”
“Aku tidak tahu, benarkah ada kejadian seperti itu?” Wisang Geni berpura-pura.
Hari masih siang. Rombongan Purwo meninggalkan desa Trawas setelah mengubur mayat Ganggati di hutan. Wisang Geni dan rombongan masih menginap satu malam lagi, esok harinya berangkat ke lembah cemara untuk kemudian berlanjut ke Jedung.
Rombongan dipecah dua. Wisang Geni dan dua isterinya singgah di lembah cemara, di batas hutan cemara mereka bertemu Nenek Seruling Kencana yang menuntun Anggreni. Para murid Lemah Tulis menuju Jedung menunggu kedatangan sang ketua.
Wisang Geni bersama Gayatri, Atis, Nenek Jubah Kuning dan Anggreni tiba di batas pepohonan cemara. Wisang Geni mengerahkan tenaga-dalam mengirim suara. “Nenek Dewi Obat, aku Wisang Geni mohon bertemu.”
Selang beberapa saat dua pendekar wanita separuh abad berlarian keluar dari pepohonan. Keduanya berdiri dalam jarak dua tombak. “Wisang Geni apa yang kamu perbuat terhadap cucuku Sekar?” Tegur si Sapu Lidi. Suaranya bernada marah.
“Aku tidak berbuat sesuatu. Mendadak dia menceraikan aku.” Wisang Geni menyahut datar, menganggapnya bukan masalah penting.
“Kamu ingkar janji, kamu menyakiti cucu Surayagad, apakah karena sekarang jurusmu sudah kelewat hebat sehingga kamu begitu temberang?” Tegas Sapu Lidi. “Kamu semena-mena, membuang cucuku begitu saja.”
Wisang Geni tersudut. Dia memang merasa bersalah terhadap Sekar. Teguran Nenek Sapu Lidi bagaikan pisau menikam jantungnya.
Melihat suaminya diperlakukan dengan kasar, Atis tak lagi bisa menahan diri. “Kamu tidak tahu diri, tingkahmu kasar.” Suara Atis terdengar ketus dan tajam.
Mata Sapu Lidi mendelik. Meneliti Atis. “Namamu Atis?”
Wisang Geni hendak mencegah, tapi terlambat. Atis menyahut ketus. “Aku Atis, mau apa kamu?”
Tiba-tiba Sapu Lidi menjerit. “Kamu biang keladinya, Sekar menolongmu, tapi kamu membalasnya dengan fitnah dan pengkhianatan.”
Tidak hanya memaki, saat yang sama Sapu Lidi menerjang.
Continue published 59 / August 30th
Note : Novel (part Two) ini belum pernah diterbitkan sebagai buku novel dan belum pernah dipublish di website lain.
No comments:
Post a Comment