Kutukan Keris Berdarah
By John Halmahera
Publish 56
Before :
Gayatri memotong. “Aku ingat ayah bertutur bahwa Arjapura memiliki ilmu-silat dan sihir tinggi yang diperoleh dari gurunya si iblis gunung putih. Lima tahun Arjapura berguru pada iblis tua Himalaya itu. Dia mewarisi pukulan dingin beracun yang diserap dari racun kalajengking biru yang hidup di dalam gundukan salju. Juga ilmu sihir penakluk bumi serta berbagai jenis racun dan pemunahnya.”
Seruling Kencana menghela nafas. “Biasanya orang yang menguasai ilmu-silat campur sihir dan racun ganas, hatinya kejam dan bengis, tak punya rasa kasihan. Juga licik dan penuh tipu daya. Sebaiknya kamu bersikap tegas dan keras. Jangan ragu membunuhnya. Sedikit saja kamu lengah, atau berbelas kasihan, akibatnya pasti akan merugikan kamu.” Tutur orangtua itu.
Wisang Geni mengucap terimakasih atas nasehat Seruling Kencana.
“Dua pertarungan yang harus kuselesaikan. Yang pertama, memenuhi tantangan Ganggati beberapa hari ini di desa Trawas. Dari Trawas aku Gayatri dan Atis mampir di lembah cemara. Setelah itu aku mencari Arjapura di desa Jedung, menyelesaikan urusan dendam antara kami berdua.” Wisang Geni berhenti sesaat kemudian melanjutkan.
“Sudah lama Angga ingin bertemu Seno, makanya aku berniat mengajaknya ke lembah Cemara. Aku titipkan Angga di lembah Cemara kemudian aku ke Jedung. Jika aku masih hidup, aku akan menemui mereka di Lembah Cemara dan Welirang.” Kata Wisang Geni.
Seruling Kencana diam, tampaknya berpikir. “Aku punya usulan, karena kamu akan tarung di Trawas. Bagaimana kalau aku yang membawa Angga, kami berdua menunggumu di lembah cemara.” Dia berhenti sesaat. “Aku kenal Kunti si Dewi Obat dan kakaknya Murni si Sapu Lidi.”
“Itu lebih baik,” kata Gayatri. “Guru bisa bertemu mereka, mungkin bisa nginap disana supaya Angga dan Seno punya waktu lama untuk bergaul.”
“Mereka pasti terkejut bertemu aku.” Kata Seruling Kencana. Apa maksudnya dengan terkejut, sulit ditebak.
“Begitu juga bagus. Baiklah, kita bertemu di lembah cemara. Beberapa hari lagi.” Kata Wisang Geni. Tampaknya dia yakin akan sanggup menyelesaikan urusannya dengan Ganggati dan tetap hidup untuk pergi ke lembah cemara.
PELANGGARAN HUKUM HAK CIPTA BAGI SIAPA YANG MENERBITKAN ATAU PUBLISH NOVEL INI DI WEBSITE/ONLINE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!
Pagi itu Wisang Geni memanggil Prastawana, Dipta, Daraka, Gajah Nila, Gajah Lengar kumpul di rumahnya. “Empat hari lagi waktunya tantangan Ganggati. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi, itu sebab aku minta pendapat kalian.”
“Kami mendengar banyak murid yang ingin menyaksikan tarung itu, katanya untuk dapat pelajaran langsung dari guru.” Tutur Daraka.
“Menurutku sebaiknya guru memberi kesempatan para murid untuk belajar dari tarung tersebut.” Tegas Gajah Lengar.
“Dibatasi, pilih mereka yang berbakat dan bisa memetik pelajaran dari tarung ini. Satu hal lagi, pertarungan ini antara aku dan Ganggati, kalian para murid hanya sebagai penonton.”
Rombongan tiba satu hari sebelum waktu tarung, nginap di desa Trawas dengan menyewa beberapa rumah. Mereka desak-desakan dalam satu rumah, murid perempuan kumpul sesama perempuan, berpisah sementara dengan suami.
Gayatri serumah dengan Atis, Dyah Mekar, Sawitri dan lain-lain. Wisang Geni dikamar sendiri tapi serumah dengan Prastawana dan murid lain.
Esok paginya rombongan Ganggati tiba. Mereka sedang mencari-cari.
Kisti, seorang murid wanita Lemah Tulis menemui mereka dan mengantar ke lapangan terbuka mirip alun-alun yang letaknya ditengah desa. Lapangan itu tidak luas, tetapi lumayan untuk tempat anak-anak dan penduduk desa bermain-main.
Kisti kemudian mengajak rombongan Ganggati ke sebuah rumah kosong. “Silahkan istirahat disini, isteri ketua kami akan menemui anda. Sementara tugas saya selesai disini.”
Ganggati memaki. “Apa maunya Wisang Geni berpura-pura baik. Mungkin dia mengatur siasat licik. Kita harus waspada.”
Purwo dan isterinya, Srimawar hanya diam, tidak memberi komentar sedikitpun. Mereka duduk di beranda rumah. Tak lama tampak seorang wanita mendatangi.
PELANGGARAN HUKUM HAK CIPTA BAGI SIAPA YANG MENERBITKAN ATAU PUBLISH NOVEL INI DI WEBSITE/ONLINE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!
Atis bersama Dyah Mekar, Rahayu dan Sawitri menghampiri rombongan Ganggati. Mereka membawa beberapa bungkus nasi serta lauknya.
“Aku Atis isteri Wisang Geni mewakili sebagai juru bicara. Karena kami datang satu hari lebih awal dan sudah beristirahat, silahkan kalian istirahat seperlunya. Kami akan menunggu. Rombongan kami jumlahnya besar, para murid ingin menyaksikan tarung, ingin belajar dari tarung itu, kami tidak akan membantu ketua Wisang Geni atau mengeroyok kalian.”
Ganggati menyela dengan memaki. “Mana perempuan bernama Sekar? Hari ini aku akan menghabisi hidupnya, dia telah membunuh muridku Roro Gandis. Mana itu Prastawana yang membunuh muridku Kangsa? Jangan sembunyikan mereka.”
“Mereka tidak akan ikut campur, ini pertarungan karena tantangan sampean kepada suamiku, beberapa waktu lalu.” Kata Atis.
Dyah Mekar menyodorkan beberapa bungkus nasi. “Ini makanan yang kami pesan dari warung. Kami sendiri yang mengawasi sampai ketika nasi dibungkus. Tidak ada racun apapun. Nasi itu bersih.” Kata Dyah Mekar.
“Bawa pergi, aku tidak percaya. Sekali licik dan pengecut tetap saja licik.” Seru Ganggati dengan nada tinggi. “Kalian penjahat busuk.”
Sawitri marah.
“Ganggati, apakah kamu pura-pura tidak tahu, selama bulan-bulan terakhir orang-orang Brantas mengeroyok dan membunuh murid Lemah Tulis, yang wanita diperkosa dan dibunuh, yang laki-laki digorok. Kamu lupa, waktu kita ingin bicara damai, tiba-tiba kalian menyerang dengan hujan panah dadakan, kalian menyewa pasukan Rodra dari Kediri, tigapuluh satu murid kami tewas. Kalian yang memulai jadi jangan salahkan jika kami balas menghancurkan Brantas. Lemah Tulis selamanya bersikap baik kepada siapapun tetapi akan membalas setiap perbuatan keji terhadap anak muridnya. Dan kami tidak pernah bermain dengan racun.” Sawitri memperlihatkan sikapnya yang tegas.
Dyah Mekar kemudian mengajak temannya balik. Tetapi langkah mereka terhenti.
“Jangan pergi. Kebetulan kami belum makan pagi.” Suara itu datang dari wanita usia empatpuluhan yang duduk agak jauh dari Ganggati.
Atis dan teman-temannya menghampiri wanita itu.
“Aku, Srimawar, isteri kangmas Purwo yang akan tarung dengan pendekar Wisang Geni. Kangmas Purwo adalah kakak perguruan dari Ganggati. Jadi inilah tugas yang diemban Mas Purwo mewakili gurunya. Kami datang dari tempat jauh. Tiba kemarin siang. Kami sudah istirahat di hutan. Tetapi terimakasih atas rumah ini dan juga makanan. Aku percaya kejujuran kalian sebagai murid Lemah Tulis.” Kata Srimawar sambil memerintah anaknya menerima bingkisan nasi dari tangan Dyah Mekar dan temannya.
Ganggati benar-benar marah. Dia membanting-banting kakinya. “Aku tidak sudi makan nasi dari musuhku. Dasar pengecut.” Tidak jelas, siapa orangnya yang dia sebut pengecut.
Dyah Mekar mengajak teman-temannya kembali. Ditengah jalan Dyah Mekar memeluk Sawitri. “Lagakmu macam kamu murid senior Lemah Tulis, membela nama dan kehormatan Lemah Tulis, membuat aku kagum padamu adik kecil.”
“Lagi-lagi kamu menyebutku anak kecil,” tukas Sawitri. .
“Bukan anak kecil tetapi adik kecil, apakah kamu mau kupanggil kakak? Mbakyu atau kakak, padahal aku lebih tua?” Dyah Mekar tertawa menggoda.
“Tidak mau.” Sahut Sawitri tertawa.
Rahayu menoleh kepada Atis. “Terus sekarang apa langkahmu, Tis?” Tanya Rahayu. Tampaknya dalam beberapa hari belakangan para murid wanita makin kagum akan sikap dan kecerdasan isteri ketuanya.
“Kita kabari Mas Geni, bahwa yang tarung dengannya adalah Purwo, kakak perguruan Ganggati yang tentu saja ilmu-silatnya lebih mumpuni dari nenek tua cerewet itu.” Kata Atis.
Mendengar laporan isteri dan muridnya, Wisang Geni berkomentar singkat. “Hmmm, bukan lagi masalah, siapa yang menjadi lawanku hari ini. Berdua sekaligus juga aku masih bisa mengatasi.” Suaranya lirih tapi tegas dan mengandung percaya diri tinggi.
Wisang Geni tak lagi bicara. Melanjut semedi menjalankan pernafasan. Tenaga wiwaha bermain-main disekujur tubuhnya. Dia merasa nyaman, bebas merdeka. Bebas seperti angin, tak ada yang bisa menghalangi. Tak ada hambatan. Lalu dia berkidung. Suaranya lantang, tidak keras namun jelas terdengar dimana-mana.
Ilmu dari seberang,
Tak boleh tepuk dada,
Di tanah Jawa ini
Dari gunung Lejar,
Jurus penakluk raja,
Ilmu dari segala ilmu
Dari lembah kera,
Jurus Lalawa mengepak sayap
Menembus awan
Melenggang ke barat,
Meluruk ke timur,
Merangsak ke utara,
Merantau ke selatan
Tak ada lawan,
Tak ada Tandingan,
Ilmu dari segala ilmu
Di rumah tempatnya nginap, Purwo dan Srimawar termenung mendengar kidungan itu. “Apakah ada orang dengan tenaga-dalam sehebat itu. Suaranya terang bening jelas terdengar dimana-mana tanpa kita tahu dari mana asalnya. Jelas dia memiliki tenaga-dalam tidak terukur, diakah Wisang Geni?” Purwo berbisik.
Lima anak muda merasa gentar mendengar kidung itu. Kagendra, Wayasa, Kitiran, Suryo dan Delima saling pandang. “Diakah Wisang Geni pendekar nomor satu tanah Jawa itu?” bisik Kitiran sambil meremas tangan Suryo saking tegangnya.
“Arti kidung itu temberang, sangat sombong dan membanggakan diri sebagai yang paling hebat, tak ada lawan, tak ada tandingan, ilmu dari segala ilmu.” Tukas Kagendra. “Apakah memang dia memiliki kemampuan seperti itu?”
“Sombong, merasa diri paling hebat, mungkin pujian orang kepadanya sebagai pendekar nomor satu tanah Jawa hanya isapan jempol,” Potong Suryo dengan nada tinggi.
Tidak demikian dengan Srimawar. “Kangmas, hati-hati dia memiliki tenaga-dalam tidak terukur, hindari adu pukulan.” Bisiknya tegang.
Purwo tidak menjawab. Dia tenggelam dalam semedi menetralisir debar hati dan rasa tegang memikirkan hebatnya lawan. Bagaimanapun juga sebagai pendekar silat yang berusia enampuluhan yang sarat pengalaman, Purwo pun percaya akan kemampuan sendiri.
Matahari mulai tinggi tetapi belum sampai dititik tertinggi.
Purwo pamitan dengan isteri dan anak-anaknya. Dia memandang adik perguruannya, Ganggati. “Guruku telah memberi aku kehidupan. Aku hutang budi kepada bapak guru, mati pun aku legowo untuk membalas budinya. Ini baktiku, untuk mencuci namanya yang telah dihina orang.” Kata Purwo yang ditujukan tidak saja kepada Ganggati juga kepada anak isterinya. “Kalaupun aku mati, kalian anak isteriku jangan membalas dendam, ini tarung antar dua pendekar yang membela kebenaran di pihak masing-masing.”
Purwo melangkah ke tengah arena.
Wisang Geni melangkah ke tengah arena.
Keduanya berhadapan, saling menatap dengan mata yang bagaikan mata elang.
Wisang Geni memberi hormat, berkata sopan. “Aku hadir disini memenuhi tantangan yang diucapkan Ganggati, sesungguhnya aku tak punya permusuhan dengan tuan pendekar.”
“Ganggati, adik perguruanku, mengatakan sampean telah menghina dan menista nama baik guruku. Aku hadir disini untuk membersihkan nama baik guruku.” Tegas Purwo. Tak ada getar ketakutan dalam suaranya. Dia sudah pasrah.
Wisang Geni mengerut kening. “Ganggati telah meracuni pikiran kakak perguruannya.” Berpikir demikian, dia berkata. “Aku tidak kenal gurumu, bahkan tidak tahu siapa dia jadi bagaimana mungkin aku menghina dan menista nama baiknya?”
Purwo terkejut. “Ganggati telah menipuku?” Gumamnya dalam hati.
Wisang Geni berpikir. “Apakah aku harus membunuh seorang pendekar yang matanya memperlihatkan kejujuran dan ketulusan seperti dia? Yang isterinya dengan tulus percaya kepada Dyah Mekar bahwa makanan itu tidak beracun?” Lalu dia berkata dengan nada penuh duka. “Apakah tuan pendekar membawa serta anak isteri untuk menyaksikan tarung ini? Para muridku juga hanya nonton, ingin belajar dan menarik pelajaran dari tarung ini. Aku telah berpesan bahwa kehormatanku dan kehormatan Lemah Tulis melarang mereka untuk campur tangan apapun yang terjadi pada diriku, seandainya pun aku mati.”
“Tuan pendekar nomor satu tanah Jawa, tenaga-dalam tuan ketika berkidung tadi, bukti kuat bahwa tuan sangat mumpuni. Siapa bilang tuan akan mati?” Tegas Purwo. Lalu dia menambahkan. “Pertarungan ini tidak ada hubungannya dengan anak-isteriku. Mereka tidak akan balas dendam.”
Continue published 57 / August 27th
Note : Novel (part Two) ini belum pernah diterbitkan sebagai buku novel dan belum pernah dipublish di website lain.
No comments:
Post a Comment