Tuesday, August 23, 2011

Wisang Geni part Two (55)

Kutukan Keris Berdarah

By John Halmahera

Publish 55

Before :

Sebagian para murid masih belum mau memejam mata. Dirumah masing-masing mereka membayang kembali jurus-jurus yang diperagakan Padeksa, merekam di ingatan agar tidak hilang begitu saja.

Esok paginya mereka melakukan perjalanan menuju Welirang. Masih saja dengan diskusi perihal jurus-jurus garudamukha gubahan Padeksa. Wisang Geni juga melibat diri dalam diskusi dengan para murid. Tidak heran perjalanan amat lambat, beberapa hari kemudian mereka tiba di Welirang.

Memasuki kawasan lereng dekat perumahan mereka dikejutkan suara seruling yang dikumandangkan dengan tenaga-dalam tingkat tinggi. Suara itu mengumandang kemana-mana, dipantul tebing-tebing lereng gunung Welirang, menggema sahut-sahutan bagai tak pernah habis. Alunan suara itu sambung menyambung, sehingga menggema tumpang-tindih yang malah menjadikan lagunya kian menarik, dan memukau.

Kidung asmaradana larabrangta yang terkenal di jaman itu, kisah Mahabrata episode cinta ketika Arjuna si penengah Pandawa kasmaran kepada Dewi Wara Sumbadra. Kidung syair pendekar Pandawa mengemis cinta Sumbadra bergetar sampai menembus kahyangan membuat dewi-dewi swargaloka menangis cemburu, “mengapa bukan aku yang digilai Arjuna?” Protes dewi-dewi itu.

“Itu guruku, dia mahir main seruling.” Seru Gayatri tanpa sadar.

Semua anggota rombongan terpukau. Tidak hanya lagu yang mendayu-dayu mengacak-acak kalbu pendengarnya, juga demonstrasi tenaga-dalam. Suara seruling itu menggema dan memantul kemana-mana suatu pameran tenaga-dalam yang sangat tinggi.

“Pasti dia nenek jubah kuning,” cetus Prastawana. “Nenek itu yang mengusir Arjapura hanya dengan sentilan tujuh kerikil dari jarak jauh. Tenaga-dalamnya sangat tinggi.”

“Tunggu. Aku ingat sekarang. Eyang Sepuh pernah menyebut seorang pendekar wanita yang sangat kosen tetapi yang tak pernah menampak dirinya di dunia kependekaran. Dia bersenjata seruling kencana. Kata Eyang Sepuh, aku tak bisa mengalahkan dia tapi dia juga tak bisa mengalahkan aku. Usianya lebih muda dari aku. Seruling kencana bisa jadi senjata, bisa jadi alat tiup. Sejak bertemu dengannya aku menebak siapa dirinya. Sekarang aku yakin dialah pendekar Seruling Kencana.” Tukas Wisang Geni kepada Gayatri.

Gayatri bingung, melongo. Gurunya sepadan ilmu-silatnya dengan Suyajagad? Itu berita yang tidak terduga, tidak heran gurunya itu bisa mempermainkan sekelompok buaya porong seperti anak kecil bermain-main dengan boneka buaya.

Mereka berjalan terus sampai di rumah.

Tak ada siapapun. Kosong. Gayatri bersama Wisang Geni dan beberapa murid lari ke gubuk di danau.

“Angga? Angga mana?” Seru Gayatri panik.

Suara seruling masih bergema. Tetapi tidak ketahuan dimana sumbernya. Sepertinya sumber suara berada dimana-mana.

Mendadak angin kencang mendesir ke arah mereka. Tahu-tahu Nenek Jubah Kuning berdiri lima meter didepan.

Sambil tersenyum Nenek itu menggendong Anggreni yang tidur pulas. Dua tangannya menggendong Anggreni, tak ada seruling ditangannya. Hebatnya lagi, gema seruling masih bergaung, sesaat kemudian suara gema itu makin lama makin lemah dan akhirnya lenyap.

Suasana hening.

Gayatri berseru. Tetapi Gurunya menaruh telunjuk dimulut, “jangan ribut cucuku sedang tidur, dia seharian menangis.”

“Mengapa dia menangis?” Tanya Gayatri.

“Merengek memanggil ibunya, dia rindu sama kamu.” Kata Nenek itu.

“Guru, mana serulingmu!” Seru Gayatri, suaranya lirih tapi mendesak.

“Mengapa?”

“Aku mau lihat, mau pinjam.”

“Kamu ini aneh, ingin tahu siapa aku?” Dia membuka dua tangannya, kosong. Lalu dia menggerakkan tangannya begitu cepatnya sehingga tidak tertangkap mata biasa, mendadak seruling ada dalam genggamannya. Anehnya lagi, Anggreni melekat didada si nenek padahal dua tangan si nenek tidak menahannya. Itulah pertunjukan tenaga-dalam yang sangat tinggi. Tenaga si nenek mengisap dan menahan tubuh Anggreni sehingga tetap nempel didadanya meskipun tidak ada tangan memegangnya.

Nenek itu tertawa melihat Gayatri dan semua orang terpahna.

“Mau lihat ini, muridku?” Dia menyodorkan kepada Gayatri.

Seruling itu kuning mengilat, bercahaya kemilau diterpa sinar matahari senja.

Anggreni membuka mata. Bangun. Pendekar tua itu menurunkan Angga di tanah, lalu memegang pundaknya. “Itu ibu, itu bapak. Mau kemana kamu pergi?”

“Bukan bapak, dia Geni.” Potong Anggreni.

“Iya dia Geni, nah Angga mau pergi kemana?” Sekali lagi Seruling Kencana bertanya.

Anggreni tidak ragu sedikitpun, berseru, “Ibu!” kemudian lari menghambur kepelukan Gayatri yang lalu memeluk dan menciumi sepuasnya.

“Angga. Angga. Kamu sudah makan?” Tanya Gayatri.

“Sudah.” Dia melihat ke arah Wisang Geni. “Ibu, aku mau memeluk Geni.”

Gayatri menurunkan putrinya yang lari menuju Wisang Geni. Laki-laki ini menggendong dan menciumi putrinya dengan gembira.

Anggreni berteriak. “Geni, ampun Geni, aku geli, brewokmu tajam.”

Para murid meninggalkan tempat, menuju rumah masing-masing. Mereka tidak tahu berapa hari sang ketua nginap di Welirang. “Kita tunggu saja, kupikir ketua juga tidak bergegas, apalagi masih kangen sama putrinya.” Kata Dyah Mekar.

Wisang Geni menetap sembilan hari di Welirang. Selama itu dia menyepi diatas tebing di goa kediamannya. Dia mengingat-ingat kembali semua jurus dan tarung-tarung yang telah dilaluinya. Dia mengingat pengalaman berguru pada Eyang Suryajagad, juga dialog imajiner dengan guru Lalawa. Satu demi satu jurus-jurus dahsyat itu digelarnya diatas tebing, tidak pagi, tidak juga siang atau malam.

Para murid Lemah Tulis melewati hari-hari itu bercengkerama dengan pasangannya dan melatih serta berdiskusi tentang ilmu-silat. Gayatri dan Atis selalu berdua, bagai pasangan kembar, memasak dan mengantar makanan untuk suaminya, juga bercengkerama bercinta di dalam goa tebing. Dua isteri ini melayani dan mendukung suaminya.

Dia mengingat jurus garudamukha yang dimainkan sang kakek. “Ada saatnya nanti aku memperdalam jurus-jurus garudamukha yang aneh itu. Tak mungkin bisa keselami dalam waktu singkat apalagi tanpa bimbingan kakek.”

Jika jurus menunggang angin sudah hampir sempurna sehingga tidak perlu banyak waktu pendalaman, tidak demikian dengan jurus lalawa mengepak sayap menembus awan.

Dia berpikir dan merenungi sihir musuh yang dilebur dalam jurus-jurus tarung Sebelumnya dia pernah tarung lawan Wasudeva yang juga memeragakan sihir dalam jurus tarungnya. Kini pasti sihir musuh lebih sulit dilawan karena tenaga-dalam dan pengalaman tarung Arjapura lebih tinggi dibanding putranya.

Pada akhirnya Wisang Geni menemukan cara menghadapi sihir lawan. “Jangan menatap mulut dan mata lawan!” Itulah strategi menangkal sihir musuh. Itu sebab, dia mendalami jurus warisan guru Lalawa. “Tidak melihat mata dan mulut lawan, artinya aku memandang tubuh bagian bawah lawan. Dia pasti akan mengganggu dengan teriakan dan maki-makian kotor dan aku tak mungkin menutup telingaku karena jurus lalawa justru mengutamakan pendengaran. Aku akan mengimbanginya dengan tawa kera.” Bisiknya.

Ketika malam kelam hanya diterangi sinar rembulan yang terkadang redup dihalangi awan embun dan kabut Wisang Geni berlatih jurus “mengepak sayap menembus awan”. Dia mengulang berulangkali setiap jurus terutama kepekaan indera perasa.

Tujuh hari tujuh malam dia mendalami jurus lalawa. Dia merasa telah mengalami kemajuan pesat, lebih menguasai jurus itu. Di malam kelam, terkadang menutup mata, dia mampu melompat diantara tebing dan jurang.

Malam itu, malam kedelapan dia melatih jurus lalawa. Jantung Gayatri dan Atis berdebar keras saking tegangnya menyaksikan peragaan suaminya memainkan jurus lalawa, melompat dan memukul diantara tebing dan jurang, dengan mata ditutup kain hitam.

Dipenghujung latihan, Wisang Geni masuk kedalam goa. Dua isterinya menyeka keringat di tubuh suaminya. Mereka bersantap malam sambil ngobrol dilanjutkan bercengkerama dan bercinta. Pagi hari, Wisang Geni bangun karena mendengar percakapan dua isterinya. Matahari sudah agak tinggi.

“Kapan kita berangkat?” Gayatri bertanya.

“Hari ini aku main-main dengan Angga. Besoknya kita berangkat ke Lembah Cemara,” katanya pada dua isterinya.

Wisang Geni tak lagi bicara. Dia duduk sila semedi menjalankan pernafasan, membiarkan tenaga wiwaha bermain-main disekujur tubuhnya. Dia merasa nyaman, bebas merdeka. Bebas seperti angin, tak ada yang bisa menghalangi. Tak ada hambatan. Lalu dia berkidung. Suaranya lantang, tidak keras namun jelas terdengar dimana-mana. Bergema ditebing-tebing.

Ilmu dari seberang,

Tak boleh tepuk dada,

Di tanah Jawa ini

Dari gunung Lejar,

Jurus penakluk raja,

Ilmu dari segala ilmu

Dari lembah kera,

Jurus Lalawa mengepak sayap

Menembus awan

Melenggang ke barat,

Meluruk ke timur,

Merangsak ke utara,

Merantau ke selatan

Tak ada lawan,

Tak ada Tandingan,

Ilmu dari segala ilmu

Malam itu dia bersama Gayatri dan Atis terlibat pembicaraan dengan Seruling Kencana.

Wisang Geni meneliti Nenek yang masih cantik diusia enampuluhan. Parasnya bersih, sudah tua tapi pipinya licin. Sepasang matanya tajam dan bening, ditutupi alis ubanan dan bulu mata lentik. Rambutnya lebat panjang, separuh ubanan, diikat dengan pita hitam. Dia tinggi langsing, kulit tubuhnya putih bersih. Celana sebatas lutut, kebaya dan jubah longgar, semuanya serba kuning.

Pendekar tua itu memandang Wisang Geni dengan mimik jenaka. “Sudah kamu putuskan perihal Angga, dia bersamaku untuk beberapa tahun atau kamu sendiri yang mendidiknya?” Dia mengelus-elus rambut Angga yang tertidur pulas dipangkuannya.

“Nenek akan bawa Angga kemana?” Tanya Wisang Geni.

“Aku akan menetap di rumah kecil ini bersama Angga, kadang-kadang aku membawanya merantau sepuluh hari atau satu bulan. Tetapi rumahku tetap disini.”

“Aku bangga jika putriku menjadi muridmu.”

“Cucu murid!” Bisik Seruling Kencana.

PELANGGARAN HUKUM HAK CIPTA BAGI SIAPA YANG MENERBITKAN ATAU PUBLISH NOVEL INI DI WEBSITE/ONLINE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!

“Iya cucu murid dari pendekar Seruling Kencana.” Tegas Wisang Geni.

“Putrimu itu cerdas, dia mulai lincah meniup suling. Kataku padanya, kalau rajin berlatih silat, seruling jadi miliknya. Ternyata dia rajin berlatih silat.”

“Guru, kangmas Geni akan tarung lawan Arjapura, jadi besok pagi kita semua berangkat ke Jedung, tapi mampir beberapa hari di lembah cemara menjenguk Seno.” Kata Gayatri.

“Aku yakin suamimu bisa mengatasi penjahat itu.” Nenek itu menoleh Wisang Geni dan menambahkan. “Tetapi penjahat itu licik.”

Gayatri memotong. “Aku ingat ayah bertutur bahwa Arjapura memiliki ilmu-silat dan sihir tinggi yang diperoleh dari gurunya si iblis gunung putih. Lima tahun Arjapura berguru pada iblis tua Himalaya itu. Dia mewarisi pukulan dingin beracun yang diserap dari racun kalajengking biru yang hidup di dalam gundukan salju. Juga ilmu sihir penakluk bumi serta berbagai jenis racun dan pemunahnya.”

Continue published 56 / August 26th

Note : Novel (part Two) ini belum pernah diterbitkan sebagai buku novel dan belum pernah dipublish di website lain.

No comments: