Kutukan Keris Berdarah
By John Halmahera
Publish 53
Bab Delapanbelas
Menjelang Tarung
Malam itu Wisang Geni sulit memejam mata sedangkan Gayatri dan Atis sudah pulas tenggelam dalam mimpi. Dia telentang dengan berbantalkan dua tangannya. Pikirannya melayang ke paras dan tubuh Sekar, wanita yang selama ini mendampinginya, menjadi sisian hidupnya. Sekar adalah sumber inspirasi dan semangat hidupnya. Berkali-kali Sekar mempertaruhkan nyawa, bertarung untuk kepentingannya. “Mencintaiku tanpa pamrih.” Bisiknya dalam hati. “Tak pernah mementingkan dirinya sendiri, selalu mendahulukan kepentinganku.”
Dulu dalam perkenalan pertama, ketika tubuh Sekar masih dipenuhi burik bekas penyakit cacar, gadis perawan itu telah menolongnya dari ancaman Kalayawana dan tiga muridnya dengan mempertaruhkan nyawanya. Dia dan Sekar kemudian ikrar menjadi suami isteri. Dia berjanji akan setia dan mencintai Sekar. Lalu dia merenggut perawan si gadis.
PELANGGARAN HUKUM HAK CIPTA BAGI SIAPA YANG MENERBITKAN ATAU PUBLISH NOVEL INI DI WEBSITE/ONLINE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!
Sejak itu Sekar mewarnai hidupnya dengan cinta dan kesetiaan. Dia membelanya dalam tarung-tarung yang berbahaya. Terakhir kalinya dia meloloskannya dari ancaman maut pertarungan lawan Arjapura. Sekar lalu membawanya ke lembah kera, memberinya spirit untuk sembuh dan berlatih kembali.
“Betapa banyak hutangku padanya. Dia cantik, segar dan selalu melayani keperluanku. Mengapa dadakan begini tanpa pamitan dan tanpa basa-basi dia menceraikan aku, pergi dan tidak mau bertemu aku lagi.” Bisiknya. “Mungkin aku telah berbuat salah kepadanya, tapi mengapa dia tidak menjelaskan apa salahku. Mengapa dadakan dia meninggalkan aku dan menerima cinta lelaki lain?”
Ada rasa menyesal dalam dirinya tidak mengikuti anjuran Dyah Mekar siang hari itu di lereng bukit Gunduk. “Guru, jangan pulang dulu, hari masih siang. Kita bisa menyisir gunung satu kali lagi, mungkin kita akan temukan Sekar.”
Dia merasa tak perlu, sebab percaya bahwa Sekar pasti bisa mengurus dirinya. “Sekarang ataupun besok pulang sama saja keadaannya, kupikir Sekar sudah kembali duluan ke Lemah Tulis.” Katanya waktu itu. Dia lalu memerintahkan semua muridnya pulang ke Lemah Tulis. Seharusnya dia berupaya terus sepanjang hari mencari dan menemukannya.
Tiba-tiba ada kejelasan dalam pikirannya bagai percikan api yang berkelebat.
Atis! Benar Atis! Wanita muda itu telah membuat dia jatuh bangun mencintainya. Tubuhnya yang masih muda dan segar serta kecantikan paras dan kecerdasan akal pikirannya. Atis lebih cantik dari Sekar, dari semua isterinya. Dan Atis telah memainkan peran sebagai isteri yang sempurna.
Atis ibarat candu. Ketika selesai tarung di bukit Gunduk, tiba-tiba muncul birahinya ingin pulang cepat ke Lemah Tulis dan meniduri Atis. Itu juga menyebabkan dia tidak mau berlama-lama mencari Sekar. Dia ingin secepatnya pulang berlabuh dalam pelukan Atis.
Begitu tiba di rumah dia segera mengajak Atis pergi mencari tempat untuk berduaan. Dan dia bahagia, lupa semuanya ketika hanya berdua-duaan dengan Atis.
Dia merenung lebih teliti. Memang dia bersalah, belakangan dia menyakiti Sekar, dia lebih sering meniduri Atis. “Belakangan aku lebih sering meniduri Atis, jarang bercinta dengannya, pasti dia sakit hati karena merasa dilupakan.” Dia menghela nafas, benaknya dipenuhi rasa penyesalan. “Sekarang dia telah pergi, mutung, cerai dari aku, rasanya sangat berat kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupku. Apakah dia tidak merasa kehilangan, ataukah dia merasa sangat disakiti? Ataukah dia benar-benar telah menemukan lelaki yang lebih mencintainya katimbang aku, siapa lelaki itu?”
Wisang Geni menetap di Lemah Tulis beberapa hari, melatih dan membimbing murid terutama mereka yang memasuki tahapan penyempurnaan jurus penakluk raja. Tampak perubahan pembawaan ketua Lemah Tulis itu. Dia kini lebih rendah hati dan bergaul erat dengan murid-muridnya. Perginya Sekar dari sisinya merupakan pukulan keras terhadap kebanggaan dan egonya sebagai lelaki yang merasa dirinya super.
Tampak juga perubahan Gayatri dan Atis. Keduanya kini bergaul aktif dengan para murid wanita. Tadinya ada rasa rendah diri jika berada di perguruan besar itu karena bukan berasal dari Lemah Tulis, kini tidak lagi. Keduanya lebih percaya diri dan lebih leluasa menyatakan sikap dan pendapat.
Padeksa tadinya kurang memerhatikan, kini cenderung menyukai dua wanita itu. Dalam beberapa kesempatan Gayatri dan Atis menemui Padeksa membawakan makanan hasil masakannya yang memang lezat.
Keduanya melayani sesepuh itu bersantap, menemaninya sambil bercerita. Gayatri dan Atis punya wawasan luas, menguasai buku-buku sastra dan pengetahuan umum. Padeksa betah ngobrol dengan dua wanita itu.
Pagi hari itu.
“Kalian sudah bangun?” Wisang Geni memandang dua isterinya.
“Sudah, malah kami sudah mandi,” Sahut Atis dengan wajah berseri-seri.
“Aku telah siapkan kuda-kuda, sekarang kita punya tiga tunggangan, Wulung dan Betari serta Dawuk untuk Atis.” Kata Gayatri.
“Mengapa tidak membangunkan aku?”
“Tidurmu pulas. Lagipula matahari baru saja muncul. Kamu tunggu disini, aku siapkan makanan, kita makan dulu baru berangkat.” Atis bangkit dan berlari keluar kamar.
Wisang Geni memandang paras Gayatri. “Kamu cantik. Siapa meriasmu?”
Gayatri tertawa. “Kami berdua, aku dan Atis saling merias diri. Kami ingin tampil cantik selalu, setiap hari, supaya kamu tidak terpikat perempuan lain.”
“Tubuhmu kurus langsing persis seperti dulu pertama aku mengenalmu.”
“Benarkah aku sudah secantik dulu?”
“Sekarang lebih cantik, lebih segar, lebih matang dan lebih seksi.” Tangan Wisang Geni mengelus rambut ikal Gayatri.
PELANGGARAN HUKUM HAK CIPTA BAGI SIAPA YANG MENERBITKAN ATAU PUBLISH NOVEL INI DI WEBSITE/ONLINE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!
“Dulu aku bertindak bodoh, tidak berusaha mempelajari kemauanmu, kini aku sadar, aku berjanji tidak akan berbuat kebodohan lagi Geni.”
“Katamu, akan memanggilku kangmas seterusnya.” Wisang Geni menggoda.
“Itu kalau didepan orang, didepan murid-muridmu. Kalau berduaan, lebih romantis Geni. Seperti dulu, aku memanggilmu Geni dengan merdu dan penuh rasa cinta.” Lalu Gayatri berbisik agak keras.
“Geni aku ingin mengalami masa-masa dulu, ketika kamu sebagai Ambara, menciumku di tengah hutan, ciuman pertama, dan saat memerawani aku tengah malam di penginapan, aku ingin masa itu kembali lagi. Aku ingin kamu mencintaiku seperti dulu, kasmaran padaku dan aku kasmaran padamu, sehingga apa saja kuberikan padamu. Tidak hanya perawanku tapi juga kehormatanku, aku tidak malu menjadi isterimu setelah Sekar. Dan aku tidak malu didepan orangtuaku bahwa kamu beristeri banyak.” Bisik Gayatri penuh perasaam.
“Aku mencintaimu. Tetapi aku tidak tahu cara mencintaimu.”
Gayatri menangis. “Aku ingin kamu mencintaiku dengan nafsu kejantananmu, dan di malam hari kamu memasuki tubuhku, mengantar aku ke nirwana dan membuat tubuhku lemas tak bertulang. Aku ingin itu Geni.”
Wisang Geni mengelus wajah dan menghapus air mata di pipi isterinya. “Aku bersalah padamu, menjauh darimu, membuat kamu menderita. Maafkan aku.”
“Mas, aku sangat mencintaimu, aku ingin kamu mencintaiku, kasmaran padaku seperti dulu, aku tak akan mengulang kesalahan lagi, aku akan manut padamu.” Gayatri tersenyum.
“Dulu, aku kasmaran, seperti apa tingkah lakuku?”
“Setiap berada disisiku, kamu tak sanggup menahan birahimu, dan akan mengajak aku bercinta, itu kebiasaanmu. Aku ingin kamu kembali seperti dulu.”
Keduanya tertawa.
Cepat sekali Atis kembali membawa nampan berisi masakan yang hangat. “Aku sudah masak sejak tadi, jadi hanya tinggal memanaskan. Sementara ini kami berdua memasak di dapur mbak Dyah, nanti kalau semua urusanmu sudah beres, kami mau bikin dapur dan sumur di rumah ini.”
“Urusan masak juga gantian. Kadangkala aku masak, lain kali Atis yang masak.” Gayatri menyambung penuturan temannya.
“Tadi kami berdua mandi bersama. Banyak yang kami bicarakan. Kami akur dan saling membantu. Termasuk merias diri, lihat aku dirias mbakyu, dan aku merias dia, kami cantik kan? Kami akan melayani kamu Mas, tetapi kamu juga harus adil dan memuaskan kami, harus ada timbal balik.” Tutur Atis.
Wisang Geni tertawa. Dia senang melihat keakraban dua isterinya. “Mana air untuk suamimu cuci muka?” Katanya.
“Biar aku yang ambil.” Kata Gayatri yang melangkah keluar.
Wisang Geni memandang bokong isterinya lalu menghela nafas. “Gayatri kini salin rupa, tadinya pasif kini memperlihatkan dirinya yang asli, melayani aku suaminya. Ini juga yang dia lakukan diawal perkawinan.”
“Aku juga Mas, selalu melayanimu.” Atis memandang suaminya dengan mesra.
Gayatri datang dengan ember kayu berisi air. Dia mencelup kain. Pelan dan lembut dia menyeka wajah suaminya dengan kain basah.
“Kami melayani kamu seperti majikan, tetapi kamu tak boleh kawin lagi. Itu syarat. Kami tak mau ada wanita ketiga dalam kehidupan kita.” Atis berkata sambil menyiapkan makanan untuk suaminya. “Kamu harus berjanji.”
Wisang Geni tertawa. Saat berikut dia berkata, nadanya tegang. “Masih ada satu tarung lagi yang harus kuselesaikan, tarung pamungkas di Jedung lawan Arjapura. Setelah itu selesai, jika aku masih hidup, aku akan hidup damai di rumah ini bersama kalian berdua, tak akan ada wanita lain lagi. Tapi ada syaratnya.”
“Apa syaratnya?” Serentak suara Gayatri dan Atis. Keduanya saling pandang lalu tertawa.
“Kalian harus tetap disampingku, suka dan duka, melayani aku seperti sekarang ini.”
Atis menyahut cepat. “Kamu tak akan pernah sendiri, kami berdua akan mendampingimu, mengawal kemana kamu pergi, kami akan melayanimu, dengan demikian kamu tak punya peluang main mata dengan wanita lain.” Dua wanita itu tertawa senang.
“Mas, ada waktu-waktu tertentu, kita bertiga pergi ke Welirang dan Lembah Cemara menjenguk Seno dan Angga.” Kata Gayatri.
Ketiganya melanjutkan makan sambil bercanda.
Selesai makan, Gayatri merapikan bekas makanan. Dia membawanya keluar. Tak lama dia masuk. “Mas Geni, Di luar Prastawana dan beberapa murid ingin bertemu. Mereka menunggu kamu diluar.”
Hari masih pagi, udara masih diselimuti embun, Wisang Geni menemui beberapa murid yang duduk sila di serambi rumah.
“Ketua benarkah, kamu akan tarung lawan Arjapura?” Gajah Nila bertanya.
“Banyak murid yang ingin menyaksikan tarung itu, katanya mau belajar langsung dengan menyaksikan tarung.” Tutur Daraka.
“Kami semua akan memperoleh pelajaran berharga dengan menyaksikan tarung secara langsung.” Tegas Gajah Lengar.
“Aku tidak keberatan tetapi jumlah dibatasi, hanya para murid yang berbakat. Nanti akan kupilih sendiri. Satu hal lagi, ini tarung pamungkas dan urusan pribadiku, jadi kalian para murid hanya menonton. Apapun yang terjadi kalian tak boleh ikut campur.”
“Kapan ketua berangkat?” Gajah Nila bertanya. Suaranya bergetar saking tegangnya. Dia tahu tarung pamungkas itu akan membahayakan diri ketuanya.
Wisang Geni menoleh pada dua isterinya. “Kami bertiga akan menemui dua anakku di Welirang dan Lembah Cemara. Kemudian menuju Jedung menyelesaikan urusanku dengan Arjapura.”
“Kami ikut.” Seru Dyah Mekar diikuti beberapa murid lain.
“Boleh, dari Welirang kalian langsung menuju ke Jedung, aku dan dua isteriku ke lembah Cemara.”
Malam itu diserambi rumah Padeksa berkumpul para murid. Wisang Geni telah memilih duapuluh murid yang boleh ikut dengannya ke Jedung.
Continue published 54 / August 21st
Note : Novel (part Two) ini belum pernah diterbitkan sebagai buku novel dan belum pernah dipublish di website lain.
No comments:
Post a Comment