Thursday, August 18, 2011

Wisang Geni part Two (52)

Kutukan Keris Berdarah

By John Halmahera

Publish 52

Ketika masuk rumahnya di Lemah Tulis Gayatri tidak menemukan Wisang Geni dan Atis. Dia tahu mereka bepergian. Kemana dan berapa lama, dia tak tahu.

“Aku menunggu mas Geni dan Atis disini, jika tiga hari belum juga datang, aku akan ke Welirang menemui Angga dan guruku.” Katanya kepada Dyah Mekar, Sawitri dan Mingasi.

Tiga wanita itu datang sambil membawa makanan. Mereka bersantap sambil ngobrol. Keempat wanita tampak santai.

Dyah Mekar menanyakan keadaan Sekar.

Gayatri sudah siap dengan jawaban. “Aku ketemu Sekar ditengah jalan. Dia bersama seorang pendekar berbaju serba hitam, tampan, usia sekitar empatpuluhan. Pendekar itu penolongnya ketika dia diculik penjahat dari kubu Linggapati.”

“Jadi Sekar masih hidup?” Tanya Sawitri nadanya senang. “Mengapa tidak kembali kesini bersamamu?”

Gayatri meniru ucapan Sekar. “Katanya padaku, katakan kepada mereka yang di Lemah Tulis, aku sudah cerai dan bukan lagi isteri Wisang Geni. Alasanku, aku bosan hidup dengan suami yang punya isteri banyak. Aku sering harus menunggu giliran, atau membujuk dia jika ingin bercinta.”

Tiga murid wanita terkejut, bahkan sampai melongo. “Sekar itu isteri yang manut, setia dan melayani suaminya. Mengapa bisa begitu tegas?” Tukas Sawitri. “Gara-gara ketua melupakannya, lebih mencintai dan lebih memanjakan Atis. Aku rasa itu yang memicu keputusan Sekar meninggalkan ketua kita. Tetapi aku pantas memujinya, lantaran berani mengambil sikap tegas.”

“Aku bisa merasakan apa yang dia rasakan, seperti katanya kepada kita waktu itu bahwa untuk bisa bercinta dengan suaminya dia harus menunggu giliran atau harus antri. Dia bosan.” Kata Mingasi.

“Harus kuakui Sekar wanita luar biasa, begitu sabar menghadapi ketua dan begitu manut setia menjalani hidup sebagai isteri ketua yang beristeri banyak. Tetapi dia berani mengambil keputusan besar, pergi meninggalkan suaminya. Sungguh tindakan berani. Aku kagum padanya.” Kata Dyah Mekar.

“Apalagi pesannya, hanya itu?” Tambah Dyah Mekar. Dalam hatinya Dyah Mekar tidak setuju gurunya beristeri banyak karenanya bisa mengerti alasan Sekar pergi. Namun dia menyayangkan kepergian Sekar begitu saja tanpa pamitan.

“Dia pesan untuk memberitahu mas Geni bahwa dia tak mau bertemu atau pamitan. Putus. Cerai. Dia telah menemukan suami yang hanya beristeri satu.” Tutur Gayatri. “Untuk meyakinkan mas Geni, bahwa aku bertemu dengannya, dia memberiku kalung emas yang dikenal mas Geni sebagai benda miliknya, kalung emas itu dia hadiahkan untuk Angga.”

“Dia telah menemukan suami, mungkinkah pendekar baju hitam itu?” Tukas Sawitri. “Katamu dia tampan dan berusia empatpuluhan, siapa namanya?”

“Menurut cerita Sekar, dialah suaminya sekarang, dia lebih tampan dan lebih jantan dari Mas Geni, mereka pernah bertemu empat tahun lalu dan sejak itu si pendekar tak pernah melupakannya. Itu sebagian rahasianya yang dia ceritakan padaku. Rahasia lainnya dia sekap untuk diri sendiri. Tetapi hari itu kulihat dia sangat gembira dan tampak bahagia.” Kata Gayatri. “Kupikir penolongnya itu telah menjerat hatinya. Mereka berdua tampak senang dan gembira, jalan bergandengan.”

“Akhirnya Sekar menemukan jalan hidupnya sendiri. Dia wanita istimewa, layak mendapat apa yang dia inginkan.” Kata Sawitri, nadanya senang.

Malam itu Gayatri tidur sendirian. Dia bolak balik sulit memejam mata. Ada rasa cemburu terhadap Atis. Ada rasa minder terhadap Atis jika teringat dia ternoda oleh penjahat cabul itu. Tetapi dia masih yakin Wisang Geni mencintainya. Hari itu pertama kali bertemu setelah peristiwa Kandangan ketika suaminya mengampuni semua kesalahannya, mereka bercinta. Dan Gayatri tahu suaminya masih kasmaran padanya, masih mencintainya, cinta yang panas membara.

Pada kesempatan itu Wisang Geni berbisik mesra kepadanya usai mereka bercinta. “Aku haus akan cintamu Gayatri, jangan tinggalkan aku. Aku letih berlari mengejar sesuatu yang aku tidak tahu apa itu. Aku ingin berhenti berlari dan berada dalam pelukanmu, selamanya.”

Gayatri merasa hatinya nyeri bagaikan ditusuk-tusuk jarum. “Dia suami yang sempurna, yang bisa menerima kembali isterinya yang dia sudah tahu bahkan semua orang sudah tahu isterinya itu sudah ditiduri berulangkali oleh penjahat itu. Dia mengampuni kesalahanku yang sudah berlaku curang memukulnya, yang nyaris menewaskannya. Dia mengampuniku dan masih mau menerimaku kembali. Sungguh dia berjiwa besar.” Gayatri menangis.

“Tidak ada orang yang sempurna. Dia juga tidak sempurna. Belakangan dia tidak hirau padaku, dia lebih mencintai Sekar. Tetapi sekarang Sekar sudah pergi. Hanya tinggal Atis. Aku harus bisa mengusir perasaan minder, cemburu yang hanya akan menjauhkan dia dariku. Dia tidak tahu apa yang kuinginkan jika aku tidak mengatakannya. Seharusnya aku bicara langsung dan blak-blakan, minta kembali masa-masa bercinta sebelum Angga lahir.”

Gayatri menghapus air matanya. “Betapa bodohnya aku.” Lalu semangatnya muncul, berapi-api. “Aku tidak akan bodoh lagi, aku akan merebut kembali apa yang sudah kumiliki dulu. Aku akan merebut kembali Wisanggeniku, kekasihku yang pertama dan yang terakhir. Bagiku, tidak akan ada lagi laki-laki selain Wisanggeniku.” Dia tersenyum dan memejam mata, dia puas telah memutuskan langkah apa yang harus dia jalani besok dan hari yang akan datang. “Datanglah kamu Wisanggeniku kedalam mimpiku.” Bisiknya.

Dua hari kemudian Wisang Geni dan Atis tiba di Lemah Tulis.

Atis bertanya pada Gayatri. “Mbakyu kamu ketemu mbakyu Sekar?”

“Aku bertemu dia.” kata Gayatri.

PELANGGARAN HUKUM HAK CIPTA BAGI SIAPA YANG MENERBITKAN ATAU PUBLISH NOVEL INI DI WEBSITE/ONLINE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!

“Dimana dia? Aku tidak melihatnya, aku mau ketemu dia!” Tegas Atis.

Gayatri menghela nafas, memandang bergantian Atis dan Wisang Geni. Lalu dia berkata ditujukan kepada Wisang Geni. “Aku bawa pesan dari Sekar, dia tak mau lagi bertemu denganmu Mas Geni, dia sudah cerai dari Wisang Geni. Kisah Sekar sebagai isteri Wisang Geni sudah tamat, kini Sekar membuka lembaran baru kehidupan cintanya, begitu kata-katanya padaku.”

Atis terkejut, nafasnya seakan terhenti. Tangannya menutup mulutnya.

Wisang Geni kaget, tak percaya apa yang didengarnya. “Jangan main-main, Gayatri! Ceritakan yang sebenarnya.”

“Aku tidak main-main, leontin ini bukti aku bertemu dengannya.” Dia memperlihatkan kalung emas. “Kalung ini hadiahnya untuk Angga.”

Wisang Geni menatap leontin hadiah Raja Ranggawuni ketika mereka bergabung dengan pasukan keraton untuk menyerang pasukan Linggapati. “Iya ini leontin miliknya hadiah dari Raja.”

Gayatri melanjutkan, mengulang lagi pesan Sekar. “Dia menyampaikan pesannya, bahwa dia tak ingin bertemu kamu lagi dan tak ingin kembali kesini.” Tutur Gayatri.

Terdengar isak tangis Atis. Gagap dia bertanya, lebih mirip keluh kesah. “Mengapa? Mbakyu marah padaku? Dia tak pernah menyinggung masalah marahnya padaku, tapi mengapa dadakan dia pergi dan cerai dari mas Geni.”

“Atis, dia tidak berpesan apapun untuk kamu.” Kata Gayatri.

Wisang Geni terdiam. “Mengapa dia marah? Selama ini dia mementingkan aku bahkan menolongku dengan mempertaruhkan nyawanya. Mengapa tiba-tiba dia menceraikan aku?”

Lamunannya buyar mendengar teriak Atis. “Kangmas, kamu yang salah. Pasti kamu yang salah, mbakyu itu isteri yang manut, setia dan selalu mementingkan kamu. Dia tak pernah berbuat salah, tidak pernah menyakitimu. Kesalahan pasti ada padamu!”

Wisang Geni membentak. “Atis!”

Atis menatap mata suaminya dengan berani. “Mau apa kamu? Mau menyakiti aku seperti kamu menyakiti mbakyu? Aku tidak takut, kamu dengar kangmas Geni, aku tidak takut padamu!” Air mata membasahi pipinya yang merona merah menahan amarah.

Wisang Geni diam, berusaha menekan emosinya. Tapi wajahnya pucat, suaranya parau dan agak gemetar. “Katamu ada pesan?” Tanyanya kepada Gayatri.

“Dia mengatakan, dia bukan lagi isterimu. Dia sudah menemukan suami yang hanya beristerikan dia sendiri, agar kalau kasmaran tidak perlu menunggu giliran.” Gayatri menatap tajam suaminya. “Jangan mencarinya, jika kamu hendak membunuh suaminya langkahi dulu mayatnya. Dia tidak membencimu, tapi tak mau bertemu denganmu lagi.”

“Kalau itu keputusannya, terserah dia, semoga dia bahagia.” Suara Wisang Geni datar. Ada cemburu, sakit hati dan amarah.

“Mas Geni, ada pesan dan permohonan Sekar, agar Seno berlatih silat pada neneknya, setelah remaja akan diserahkan kepadamu. Seperti Angga yang berguru pada guruku.” Kata Gayatri dengan hati berdebar-debar.

Wisang Geni menyahut datar, tanpa emosi. “Tidak. Dua anakku akan menetap di Lemah Tulis bersamaku.”

Tiba-tiba Atis menyela. “Neneknya mbakyu Sekar menyayangi Seno, Nenek Jubah Kuning menyayangi Angga, biarkan mereka mendidiknya. Kamu tidak rugi sesuatu, lagipula kalau disini aku dan Gayatri tidak bebas bergerak harus mengawasi anak-anakmu.”

“Kamu membangkang?” Wisang Geni berkata geram.

“Itu usulan, bukan membangkang.”

“Bagiku itu pembangkangan dari seorang isteri. Menantang aku?”

“Terserah kamu. Pikirmu aku takut kamu cerai? Aku masih muda dan cantik, banyak lelaki yang mau menjadi suamiku. Tapi tahukah kamu, kalau memang kita cerai, aku akan menceritakan kepada murid-muridmu, semua keburukanmu dan perilaku terhadap isterimu, semuanya akan kubongkar. Bahwa kamu punya banyak wanita simpanan diluaran.” Kata Atis dengan sopan tetapi tegas.

“Kamu mengancam aku?”

“Benar, aku mengancammu. Selama ini tidak ada isteri yang berani mengancam kamu, sebab kamu pendekar nomor satu tanah Jawa. Nah, sekarang ini aku yang mengancam.” Suara Atis tegas dan keras. “Oh kangmas Geni, kamu harus bersikap wajar, normal, terhadap isterimu kamu jangan bertindak semena-mena.”

Gayatri tertawa dalam hati, merunduk tak berani melihat mimik marah Wisang Geni yang sampai meremas tangannya sendiri.

“Sudahlah kangmasku, jangan marah.” Atis membujuk sambil mengelus dada suaminya.

Wisang Geni menyahut. “Aku tidak marah.” Amarahnya luruh oleh elusan Atis.

“Jadi kamu ijinkan anakmu dididik nenek Sekar dan guru Gayatri?”

Wisang Geni tak berdaya. “Kalian berdua yang mengaturnya.”

Dalam hati Gayatri tertawa. “Aku akan mengatur rencana merebut kembali suamiku, menjadikan aku isteri utama dan Atis hanya seorang selir. Jika bercinta aku akan memeragakan gaya-gaya kamasutra yang pernah dilakukan Arjapura padaku. Pasti Geni akan kasmaran lagi padaku. Tetapi Atis tak boleh tahu, dia tak boleh mencontoh jurus-jurus hebat itu. Ternyata dibalik derita ditipu Arjapura ada untungnya juga.”

Continue published 53 / August 19th

Note : Novel (part Two) ini belum pernah diterbitkan sebagai buku novel dan belum pernah dipublish di website lain.

No comments: