Kutukan Keris Berdarah
By John Halmahera
Publish 51
Before :
“Kamu tinggal dimana?”Gayatri bertanya.
“Aku percaya padamu, tapi belum waktunya kuberitahu.” Sekar tertawa. “Aku sendiri belum kesana.”
Tiga hari kemudian. Sekar dan Samba tiba di lembah Cemara, menjenguk Antaseno dan dua neneknya.
Dengan hati berdebar-debar Samba menemui dua nenek yang tingkahnya menurut Sekar sangat aneh. Dia memberi hormat dengan membungkuk badan. “Aku Samba sekarang ini telah menjadi suami Sekar, memberi hormat kepada nenek berdua.”
Dewi Obat dan Nenek Sapu Lidi terkejut, parasnya sampai pucat. “Sungguh mirip dengan Antaseno.” Kata Dewi Obat yang nama aslinya Kunti.
“Bagaikan pinang dibelah dua. Bagaimana bisa kejadian aneh seperti ini?” Kata Nenek Sapu Lidi.
“Apanya yang aneh?” Seru Sekar yang tampak gembira menggendong putranya.
“Anakmu mirip dengan dia.” Tukas Nenek Sapu Lidi yang nama aslinya Murni.
Tiba-tiba Nenek Kunti berseru. “Aku ingat! Kamu senopati Samba, adik mahapatih Pranaraja yang dulu menawan aku dan Sekar.” Lalu dia menoleh pada cucunya. “Ayo Sekar ceritakan semuanya, mengapa dia jadi suamimu, dan apa yang terjadi dengan Wisang Geni?”
Sekar menghampiri Samba, mengangkat putranya sehingga wajahnya nempel ke wajah Samba. “Lihat Nek, kemiripan mereka, mereka ayah dan anak.” Lalu dia memberi isyarat pada suaminya. “Mas kamu bermain-main dengan Seno. Tapi ingat jangan beritahu rahasia anakmu.”
Tanpa disuruh dua kali, Samba menggendong Seno, menciumi dia dengan sayang, lalu menurunkannya di tanah. “Ayo kamu lari, aku kejar kamu.”
Antaseno gembira. Dia segera berlari, gerakannya pesat membuat Samba takjub. “Ini pasti hasil latihan ringan tubuh yang kamu ceritakan, wimanasara gerak secepat panah sakti dan tenaga-dalam segoro. Hasilnya sungguh luar biasa, anak sekecil ini sudah bisa bergerak sepesat kijang.” Seru Samba ditujukan kepada Sekar.
Sekar tertawa dan mengiyakan.
Nenek Murni memegang lengan Sekar dan menepuk pantatnya. “Ayo ceritakan, jangan membuat kami berteka-teki.” Serunya.
Sekar menceritakan kejadiannya. Semula Pranaraja ingin mengambilnya sebagai selir, tetapi kemudian diserahkan kepada adiknya. Sejak sore hari Samba melayani Sekar di kemahnya sendirian. Sekar yang tak bertenaga karena dibius hanya bisa pasrah, tetapi Samba tidak memaksa. Mereka ngobrol sambil makan dan minum tuak. Dan malamnya Sekar tak lagi bisa bertahan, membiarkan Samba memasuki tubuhnya. “Tak ada paksaan Nek, itu suka sama suka.”
Nenek Kunti berseru. “Aku ingat. Dua malam kita nginap di tempat itu, kemahmu selalu gelap dan aku mendengar kamu tertawa dan menjerit senang. Tiap malam?”
“Iya Nek setiap malam sampai pagi. Selama lima malam berturutan.” Tegas Sekar sambil tertawa. “Nek, saat itu, firasatku bicara, terjadi pembuahan dalam tubuhku.”
“Aku tidak heran, enambelas purnama kamu di laut kidul bersamaku kamu menahan birahimu. Jadi begitu bertemu Samba yang tampan dan pandai merayu, kamu jatuh cinta.” Tutur Murni si Sapu Lidi.
“Dia mencintaimu Nduk?” Tegas Kunti.
“Empat tahun dia mencintaiku Nek, kemarin dia berhasil menculik aku.” Sekar menceritakan detail pertarungan di bukit Gundu sampai kejadian dia dibawa ke goa. Sekar juga menceritakan sakit hatinya terhadap Wisang Geni yang sudah terpikat Atis yang genit.
Dua nenek itu menyumpahi Wisang Geni dan Atis.
Samba dan Sekar menginap beberapa malam.
Siang hari Sekar ngobrol dengan dua neneknya, bermain-main dengan putranya, malam harinya pelukan dengan Samba di pondok kecil.
“Nenek sangat menyayangi aku. Kini kasih sayangnya tumpah pada Antaseno. Tidak usah heran kalau mereka menuntut kamu memperlakukan aku dengan baik, lebih baik dari perlakuan Wisang Geni kepadaku.” Kata Sekar.
“Aku bersumpah dan memperlihatkan jari kelingking kiriku. Nenekmu puas.”
Sebelum meninggalkan lembah cemara, Sekar berjanji pada nenek dan Antaseno, dia dan Samba akan sering menjenguk.”Sekali-sekali nenek bertiga ke rumahku.”
Dua hari perjalanan dari lembah cemara Samba dan Sekar tiba di desa Panton di Tanjung Gerinting. Begitu masuk rumah Samba memanggil semua selirnya. “Ini isteriku Sekar yang kuceritakan pada kalian.” Katanya memperkenalkan Sekar.
Sekar tertawa, “Ternyata kamu benar-benar menceritakan aku kepada mereka.”
Sekar berkeliling memperhatikan rumah dan lokasi. Rumah besar dan mewah, terletak di ketinggian berjarak jauh dari bibir pantai. Desa itu berada dikaki bukit yang dipadati pepohonan.
Di pekarangan rumah ada sumur kecil yang airnya bening. Ada pohon-pohon mangga, nangka, sawo, juwet, durian. Ada kebun bunga, kebun singkong. Serambi rumah menghadap matahari terbenam di Barat. Pemandangan indah, ke laut lepas dan kaki langit yang jauh disana.
Perempuan bernama Harum, muda dan cantik, menghampiri Sekar yang sedang memandang matahari senja di kaki langit Barat.
Dia jongkok merunduk dan berkata, suaranya merdu, bicaranya sopan. “Ndoro putri, silahkan masuk. Kami sudah sediakan air kembang untuk mandi, siap memandikan Ndoro putri.” Dia tetap jongkok ketika Sekar melangkah melewatinya.
“Tuanmu dimana?” Tanya Sekar.
“Tiduran dikamar, menanti Ndoro putri.”
“Aku mandinya dimana?”
“Dikamar, kata Paduka dia ingin menyaksikan kami memandikan isterinya.”
Pertamakalinya dalam hidup, Sekar pendekar yang biasa bergelut di dunia kasar, seorang wanita desa, merasakan nikmat dimandikan para pelayan.
Dia berendam didalam bak besar. Tiga pelayan menggosok sekujur tubuhnya. Membersihkan dengan lembut, daki-daki yang mungkin sudah bertahun-tahun melekat ditubuhnya, di selangkangan, ketiak dan lekuk tubuh lainnya. Payudaranya yang montok tegak, dielus dan digosok lembut membangkitkan birahinya.
“Kangmas, kamu sudah mandi?” Seru Sekar yang mengejutkan para pelayan.
“Sudah.”
“Siapa yang memandikan?” Suara Sekar bernada cemburu.
“Mandi sendiri.”
“Bagus kalau begitu.”
Samba tertawa dalam hati mengetahui isterinya cemburu. Dia bertanya kepada para pelayan. “Sudah selesai mandinya?”
“Sudah selesai Paduka, Ndoro putri akan segera diantar ke pembaringan.” Sahut Harum.
Sekar berdiri dibak mandi yang terbuat dari kayu keras. Air menetes dari tubuhnya. Harum bergegas menyelimuti Sekar dengan kain sutera yang langsung nempel dan memeta tubuh molek yang bak gitar.
“Ndoro putri cantik jelita bagaikan dewi-dewi.” Puji Harum.
Hati Sekar berbunga mendengar pujian tulus itu. Dia melangkah ke pembaringan. Bagaikan putri keraton menuju kamar pengantin.
Para pelayan cepat menarik tirai biru muda dari bahan sutera, sebagai sampiran penutup pembaringan. “Kami menanti diluar, jika memerlukan sesuatu silahkan panggil.” Suara si pelayan sopan dan santun.
Para pelayan keluar kamar meninggalkan pasangan suami isteri itu.
“Aku tidak mau memanggil dengan teriak-teriak .…” Seru Sekar.
“Semua tersedia dewiku. Itu ada tali, jika kamu tarik, genta di ruang tengah akan berbunyi dan pelayan masuk, siap melayani kamu.” Samba tertawa senang.
“Mereka memanggilmu Paduka, kamu seperti raja.” Sekar mengerling.
“Di rumah ini aku memang raja dan kamu permaisuri, diluaran kita rakyat biasa. Karena aku menggaji mereka, keping emas perak dan perhiasanku banyak, aku juga punya permaisuri yang cantik jelita, seksi dan liar ditempat tidur. Apalagi yang kucari? Semua sudah kumiliki sekarang ini.”
“Kita juga membawa banyak keping emas dan perhiasan peninggalan Linggapati. Juga baju-baju Dedes Ayu, semuanya bagus dan cocok untuk aku.” Kata Sekar. “Nantinya aku ingin baju yang baru bukan yang bekas.”
Sekar benar-benar terbuai dengan kesenangan ibarat putri-putri kerajaan yang hidup di keputren. Dia mencium mesra kekasihnya.
“Kangmas, aku sudah putuskan, bahwa aku tidak akan kembali ke Barat, aku tetap disini, menjadi isterimu, setia disampingmu dan aku akan mulai mencintaimu, setiap hari cintaku akan tumbuh subur, tapi jangan lupa bereskan syaratku, tentang selir-selirmu tadi.”
“Sudah kuatur. Besok pagi mereka pergi, semuanya.”
PELANGGARAN HUKUM HAK CIPTA BAGI SIAPA YANG MENERBITKAN ATAU PUBLISH NOVEL INI DI WEBSITE/ONLINE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!
“Pelayan penggantinya?” Tanya Sekar yang makin manja.
“Besok pagi mereka sudah datang sebelum yang muda pergi. Tiga pelayan berusia limapuluhan, mungkin ibu para pelayan muda itu. Mereka penduduk desa sini. Kalau masih kurang, bisa ditambah lagi. Mereka semua mengikuti perintahmu Sekar.”
“Aku mau yang janda, biar nginap disini. Tapi usianya limapuluhan.”
“Mengapa harus yang tua-tua, kamu cemburu?”
“Sudah kukatakan, aku tak mau ada saingan di rumahku ini. Hanya aku seorang isterimu, aku akan melayani semua kebutuhanmu.” Sekar tersenyum.
Continue published 52 / August 18th
Note : Novel (part Two) ini belum pernah diterbitkan sebagai buku novel dan belum pernah dipublish di website lain.
No comments:
Post a Comment