Tuesday, August 16, 2011

Wisang Geni part Two (50)

Kutukan Keris Berdarah

By John Halmahera

Publish 50

Before :

“Waktu itu aku bersikap bodoh. Tetapi kamu lebih bodoh lagi, mengapa kamu tidak memaksakan niatmu. Bawa lari aku ke istana Kediri. Kamu punya kesempatan, karena aku sudah pasrah.” Bisik Sekar sambil mengelus kepala Samba yang masih menciumi perutnya.

“Tapi kamu memohon dengan tangis ingin ke Argowayang menemui suamimu, untuk pamitan.” Bisik Samba. Tanpa sadar Samba telah tekuk-lutut, rela menciumi perut isterinya dan membiarkan sang isteri mengelus kepalanya seperti anak kecil.

“Kenapa kamu mau, seharusnya kamu paksa saja aku, bagaimanapun juga kamu sudah mendapat diriku, kamu tahu apa reaksiku waktu kita bercinta, itu reaksi wanita yang siap menjadi isterimu dan ibu dari anak-anakmu.” Potong Sekar.

“Tetapi aku tak berdaya menolak permintaanmu.”

“Aku wanita, waktu itu aku punya suami, tidak semudah itu aku harus mengaku cinta padamu dan mau kamu boyong ke istana. Lagipula aku pikir kamu hanya mau senang-senang dengan tubuhku, dan bahwa janjimu itu semuanya bohong hanya karena kamu sedang bernafsu menikmati tubuhku.”

“Oh bodohnya aku. Kebodohan yang membuat aku sengsara selama empat tahun. Kamu benar, seharusnya aku memaksamu.” Dia diam sesaat. “Eh Sekar, Seno itu anakku? Apakah ada yang tahu selain kita berdua?”

“Tak seorangpun tahu. Ini rahasia terbesar dalam hidupku. Setelah kejadian aku menjadi isterimu sekarang, terlebih-lebih tak boleh ada yang tahu. Aku tidak percaya kepada Wisang Geni, mungkin saja dia dendam dan akan mencelakai Seno.”

“Apakah mungkin?”

“Aku kenal Wisang Geni, lebih dari siapa pun mengenalnya. Aku lebih kenal dirinya daripada dia mengenal dirinya sendiri.” Bisik Sekar.

Samba telentang dipangkuan Sekar. Tangannya mengelus perut dan pinggul. “Jadi kapan aku bisa melihat Antaseno? Dimana dia sekarang?”

“Katamu Tanjung Gerinting diarah Timur. Berarti ditengah perjalanan menuju rumahmu kita bisa mampir di rumah nenekku, mereka berdua yang mendidik dan melatih Seno.”

“Dewi Obat dan Nenek Sapu Lidi?” Ada rasa tegang dalam suara Samba.

“Kenapa? Kamu tak perlu takut, kini kamu sudah jadi suamiku. Akan kukenalkan sebagai suami yang lebih jujur dan setia.” Sekar tersenyum.

“Juga akan perkenalkan aku kepada Seno, bahwa aku adalah ayahnya?”

Sekar mengelus-elus kepala suaminya. “Belum sekarang, sangat berbahaya. Dia masih kecil tak bisa berbohong, jika bertemu dengan Geni dan dia mengaku kamu sebagai ayahnya. Keadaan bisa berbahaya.”

“Kapan menurutmu?”

“Setelah dewasa kita akan menjelaskan kepadanya, dua nenekku akan membantu menjelaskan.” Kata Sekar.

“Sekarang nenekmu yang melatih silat padanya. Tetapi aku ingin mengajari dia jurus perguruanku.” Tiba-tiba Samba berseru. “Guruku. Dia akan kukirim ke guruku yang mulia. Di kaki gunung Slamet.”

“Dimana gunung Slamet itu?”

“Jauh di kawasan Barat.”

“Siapa gurumu, kalau aku boleh tahu?” Tanya Sekar.

“Kamu memang harus tahu. Dia bergelar pendekar bayangan gunung Slamet. Aku dan kangmas Pranaraja hanya mewarisi separuh dari ilmunya. Kami tidak sempat menyelesaikan ilmunya lantaran tugas kerajaan memanggil.”

Melihat Sekar diam. Samba melanjutkan. “Percayalah guruku tak kalah hebat dari sesepuh Lemah Tulis Pendekar Suryajagad, guru Wisang Geni itu.”

Sekar tertawa. “Eyang Suryajagad itu kakekku, dia suami nenek Murni yang bergelar Sapu Lidi.”

Kaget. Tapi Samba kemudian tertawa. “Tak kusangka nenek dan kakekmu, dua pendekar yang ilmunya tidak terukur.”

“Kangmas, aku setuju Seno berguru pada gurumu, kamu itu bapaknya Seno, kamu punya hak penuh atas pendidikan anakmu. Tetapi biarkan sementara ini dia dilatih nenek. Setelah dewasa dia kita bawa ke gunung Slamet. Lebih bagus buat dia memiliki kepandaian dari dua aliran perguruan.”

“Apakah dia akan tinggal bersama kita di Tanjung Gerinting?”

“Kupikir dalam waktu lima-sepuluh tahun ini biarkan dia tinggal bersama Nenek, kalau kita kangen kita bisa ke lembah cemara, sekali-sekali dia bersama nenek tinggal di rumah kita. Bagaimana, setuju kangmas?”

Samba tersenyum, mengangguk. “Setuju.”

Malam itu mereka nginap.

Esok paginya mereka bermain disungai. Sekar tampak sangat bahagia, wajahnya selalu berseri-seri. Kecantikannya kian memesona Samba yang makin tenggelam dalam kenikmatan cinta dan birahi. Dia merayu memuja wanita idamannya itu. Tidak jarang Samba merendah, merunduk menciumi lutut kekasihnya.

Dulu Wisang Geni pernah tergila-gila seperti itu, tetapi Sekar merasa risih dan mencegah suaminya merendah sedemikian rupa. Kali ini tidak. Sekar membiarkan Samba bertekuklutut dibawah kakinya. Malah dia makin menggoda Samba kedalam perangkap kecantikannya. Godaan Sekar ibarat tentakel gurita raksasa yang lilitannya membuat Samba tidak berdaya melepas diri. Jerat cinta yang mematikan.

Samba makin terperangkap dalam jejaring cinta Sekar apalagi setelah pengakuan Sekar bahwa Antaseno itu adalah putranya. Bukan putra Wisang Geni. Sekar juga makin pengalaman dalam bercinta dan menggunakan seantero pesonanya untuk menjerat Samba agar tetap tekuk-lutut dibawah kakinya.

Mereka sedang duduk ditepi sungai, ketika terdengar suara seseorang. “Sekar!”

Bagai disambar petir Sekar dan Samba menoleh kearah datangnya suara.

“Gayatri!” Seru Sekar, ada ketakutan dalam nadanya.

“Aku sendirian, mbakyu. Tak ada yang membuntuti. Kamu aman mbakyu.”

“Apa maksudmu aman?” Sekar menghampiri. Ototnya tegang, dia tak pernah percaya Gayatri sejak wanita itu mengkhianati Wisang Geni. “Jika suami sendiri bisa dia khianati apalagi aku, saingannya dalam rumahtangga Wisang Geni.”

Gayatri balik bertanya. “Dia kekasihmu? Sepertinya aku pernah mengenalnya.”

Sekar masih curiga akan kehadiran Gayatri, tetapi tak mau sembunyi-sembunyi. “Katakan dulu maksudmu dengan aman tadi.”

“Aman, artinya aku sahabatmu, rahasiamu rahasiaku.” Dia teringat seseorang. “Aku ingat sekarang, dia senopati Samba yang dulu menawan kamu. Oh sudah lama hubungan ini?”

Samba menghampiri. “Aku mengenal Sekar empat tahun lalu, selama itu aku tak pernah bertemu dengannya. Aku mencintainya dulu hingga sekarang, baru kemarin aku mendapatkan dia sebagai kekasih.”

“Aku melihat saat kamu memanggul tubuh mbakyu Sekar mendaki lereng. Tetapi aku tidak memberitahu siapa pun.” Tegas Gayatri.

“Mengapa?” Tanya Samba.

Gayatri hanya tersenyum, misterius.

“Kemarin Geni mencari dan teriak-teriak namaku.” Sekar berkata, curiganya berkurang.

“Wisang Geni dan murid-muridnya mencarimu, sejak dini hari ketika kamu hilang hingga siang hari, mencari di lereng dan tebing sampai ke hutan dibawah. Aku ikut mencari tapi aku tidak memberitahu seseorang telah menculikmu.” Tutur Gayatri. “Kemarin aku pamitan padanya, mengatakan mencarimu di lembah cemara.”

Tidak mendesak lagi, Samba menoleh memandang Sekar. “Kamu akan pergi?” Pertanyaan yang menandakan ketakutannya ditinggal pergi wanita yang telah menyedot habis jiwa raganya. Samba memang tak lagi berkuasa atas dirinya lagi, Sekar telah menguasainya.

Sekar menggeleng. “Tidak! Aku tidak akan meninggalkan kamu. Tapi sekarang ini kamu menepi dulu kangmas, biarkan kami bicara dari hati ke hati.”

“Kusiapkan ikan bakar.” Samba melangkah pergi.

Gayatri merentang dua tangannya, Sekar mendekat. Keduanya berpelukan.

Mereka ngobrol akrab.

Samba menghampiri membawa empat ekor ikan dibungkus daun waru. “Kalian makan sambil berbincang-bincang.” Dia melangkah dan duduk agak jauh.

Gayatri menyambar satu. “Kelihatan dia mencintaimu.”

“Samba lak-laki sejati, jantan.” Sekar mengambil seekor, makan dengan lahap. “Aku mulai mencintainya, tetapi aku memberinya syarat dan dia bersumpah bahwa hanya aku isterinya seorang, tak ada wanita lain, tak ada selir dan tak boleh kawin lagi.” Tutur Sekar.

“Kulihat kamu sudah menguasainya.” Gayatri menatap sahabatnya. “Kamu mau kembali ke Welirang?” Dalam hati Gayatri mengharap Sekar tidak kembali kepada suaminya.

“Sudah bulat tekadku meninggalkan Geni.”

“Kamu mau pamitan padanya.” Gayatri bertanya. Dia menyembunyikan rasa senangnya.

“Tidak, aku tidak akan menemuinya lagi. Cerita Sekar sebagai isteri Wisang Geni sudah tamat. Sekarang babak baru, Sekar sebagai isteri Samba.” Dia tertawa lepas.

Mereka masih ngobrol lama sebelum berpisah.

PELANGGARAN HUKUM HAK CIPTA BAGI SIAPA YANG MENERBITKAN ATAU PUBLISH NOVEL INI DI WEBSITE/ONLINE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!

Keduanya berpelukan, perpisahan.

“Katakan pada Geni, tak usah mencariku, aku sudah pergi dan tak mau bertemu lagi dengannya. Katakan aku bertemu lelaki yang mencintaiku lebih tulus dan lebih jujur. Lelaki yang hanya beristerikan aku seorang.”

Sekar diam sejenak lalu merogoh kantongnya, menyodorkan kalung emas pemberian Raja Ranggawuni. “Bawalah kalung ini tunjukkan kepada Geni bukti kamu bertemu aku, lalu kamu berikan untuk Angga putrimu, katakan ini hadiah dari bibi Sekar.”

“Kamu tinggal dimana?”

“Aku percaya padamu, tapi belum waktunya kuberitahu.” Sekar tertawa. “Aku sendiri belum kesana.”

Continue published 51 / August 17th

Note : Novel (part Two) ini belum pernah diterbitkan sebagai buku novel dan belum pernah dipublish di website lain.

No comments: