Monday, August 15, 2011

Wisang Geni part Two (49)

Kutukan Keris Berdarah

By John Halmahera

Publish 49

Before :

Ketika itu terdengar suara panggilan “Seeekaaarrrrrr!” yang menggema dan memantul ditebing-tebing. Suara panggilan itu berulang-ulang dan berlangsung cukup lama. Sekar mengenali suara suaminya. Keduanya diam seakan tidak bernafas.

“Goa ini aman?” Sekar berbisik. Ada rasa takut. “Itu suara Wisang Geni!”

“Mereka tak mungkin menemukan goa ini.” Lalu Samba mencium leher Sekar, sambil berbisik lirih. “Pergilah Sekar, kembali kepada suamimu.”

Sekar cepat berpakaian. Samba juga mengenakan celananya, memandangnya dengan perasaan galau.

“Kamu bagaimana?” Tanya Sekar. Dia duduk di pinggiran pembaringan.

“Terimakasih Sekar, kamu telah memberiku persanggamaan yang akan kukenang sampai penitisan akan datang. Kali ini lebih hebat dan romantis dibanding empat tahun lalu. Tetapi apakah aku memuaskanmu?” Samba tersenyum.

Sekar tersenyum, mengangguk. “Tak perlu kujawab, kamu sudah tahu, tadi.”

Samba duduk disisi Sekar. Dia menoleh memandang wanita cantik yang telah merebut seluruh jiwa raganya. “Aku akan mengenangmu, kenangan abadi. Pergilah Sekar kembali kepada suamimu.” Suara Samba terdengar sendu.

Suara panggilan “seeekaaaarrrrr” masih diulang-ulang mengumandang diseantero lembah dan gunung, tebing dan batu cadas. Suara itu menembus kedalam goa dan bergaung lama membuat dua insan itu makin tidak nyaman.

“Pergilah Sekar. Ada pertemuan ada perpisahan.”

“Kamu mengusir aku?” Sekar mendesak. Nadanya agak marah.

“Tidak! Aku tidak mengusir, bagaimana mungkin mengusir seorang yang sangat kucinta. Maksudku, kamu bebas untuk pergi kembali kepada suamimu. Kalau itu pilihanmu, tetapi sebenarnya aku tak mau kamu pergi, aku ingin kamu berada disisiku sekarang dan selama-lamanya.”

Sekar menatap tajam Samba. Dia mencari-cari kelemahan lelaki itu yang bisa dijadikan alasan baginya untuk pergi. Tidak ada. Samba nyaris sempurna. Tampan dan atletis. Romantis dan sempurna dalam bercinta. “Cinta? Dia mencintaiku selama empat tahun lebih. Sekarang ini aku merasakan cintaku padanya mulai muncul lagi, aku menyukai percintaan dengannya, dia telah memberiku kepuasan.”

Sekar bimbang. Sesaat dia berpikir akan pergi menjumpai Wisang Geni, saat berikut dia menggeleng kepala. Dia memandang mata Samba, menemukan duka dan kesedihan yang mendalam. “Laki-laki ini telah memberiku kepuasan, dia memujaku, menyiram jiwaku dengan cinta, menyuburkan jiwaku yang belakangan ini menahan derita karena dilupakan Geni. Dia jantan dan sempurna ditempat tidur, dia sangat mencintaiku, aku yakin itu. Dulu aku mengambil keputusan yang salah, tidak mengikuti dia ke istana Kediri, itu keputusan yang salah. Kini aku tak akan ambil keputusan yang salah lagi, tak ada kesalahan yang sama dua kali.”

Terdengar lagi teriakan yang menggema diseantero lereng gunung. Teriakan Wisang Geni yang mencari isterinya. “Seeeeekaaaaaarrrrrrr…..”

Sekar menggeleng kepala. “Kamu butuh aku hanya untuk melayanimu, dan aku sudah bosan melayanimu, apa yang kubutuhkan tidak bisa kamu berikan, Geni. Aku butuh cinta dan kesetiaan, sedangkan kamu tak lagi mencintaiku seperti dulu, malah kamu sengaja memperlihatkan kemesraanmu kepada Atis didepan mataku, didepan banyak orang. Kamu menyakiti dan mempermalukan aku. Geni, kamu dan pelacurmu itu, kalian sengaja menyakiti hatiku.” Bisiknya dalam hati.

Lalu Sekar memandang Samba dengan mesra.

Sekar tersenyum telah memutuskan sesuatu yang penting yang menyangkut masa depan kehidupannya. “Tidak. Aku tetap disini.” Sekar memutuskan dengan hati yang bulat. Dia memegang tangan Samba, menciumi tangan kekar itu.

Terkejut, Samba menatap tidak percaya. “Kamu tidak pergi?”

PELANGGARAN HUKUM HAK CIPTA BAGI SIAPA YANG MENERBITKAN ATAU PUBLISH NOVEL INI DI WEBSITE/ONLINE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!

Kemarin Sekar begitu bimbang dan ragu, ingin melampiaskan hasrat cintanya kepada Samba tetapi dia malu mengakuinya. Antara mau dan malu. Hal yang membuat dia salah tingkah, bimbang dan putus asa. Kini dia seorang wanita yang tahu apa yang dia inginkan sekaligus tahu telah mendapatkan apa yang dia inginkan. Parasnya berseri, ceria, menyirat rasa bahagia. Dan sepasang matanya yang bening indah memancarkan sinyal cinta dan birahi yang tulus tak dibuat-buat.

“Tidak. Aku tak mau pergi!” Sekar mengerling.

“Ohhh Sekar. Aku sangat senang jika kamu masih bertahan beberapa hari disini.” Diam sesaat Samba melanjutkan. “Kamu mau bersamaku selamanya?”

Sekar mengangguk. “Yah selamanya.”

Samba memeluk erat. “Oh Sekar betapa aku bahagia.”

Sekar balas memeluk.

Mereka diam, merasakan debar jantung masing-masing. Suasana hening sesaat.

“Perutmu berbunyi, kamu lapar, aku juga lapar.” Samba turun dari pembaringan, mengambil makanan kering dan tuak. “Nanti malam kita keluar cari makanan, pasti suamimu dan orang-orang yang mencarimu sudah pergi jauh.”

“Aku ikut!” Seru Sekar.

“Sekarang kita makan seadanya.”

Setelah makan dan bercinta mereka tiduran hingga menjelang malam. Goa itu gelap hanya diterangi cahaya rembulan dari celah besar itu.

“Kita keluar sekarang, cari binatang buruan, aku lapar.”

“Kamu tidak takut bertemu Wisang Geni?” Tanya Samba. “Mungkin mereka masih keliaran mencari kamu.”

Sekar menggeleng. “Aku tidak takut!”

“Sebenarnya aku yang takut, dia pasti akan membunuhku.”

“Sudahlah, aku tidak suka membicarakan dia!” Sekar menatap tajam. “Aku mau keluar cari makanan, ayo ikut aku.”

Mereka berkeliling, tapi tidak menemukan buruan. Samba teringat anak sungai, agak jauh dari tebing. “Kita cari ikan. Tapi aku lupa bawa panah.”

Sekar menyodorkan senjata tongkat hitamnya yang berujung pisau.

Dibawah sinar rembulan, mereka berenang telanjang, bercanda di air. Berciuman. Merasakan nikmatnya berpelukan didalam air. Suasananya penuh keriangan.

Setelah puas berenang dan menangkap ikan, mereka mentas dan mengenakan pakaiannya kembali. Mereka menikmati ikan bakar, Samba yang memasak. “Kamu duduk diam saja, dewiku. Aku akan melayanimu, kalau perlu aku akan menyuapi.”

Udara dingin, Sekar harus mengerahkan tenaga-dalam untuk mengatasinya Sekar tertawa. “Katamu akan membawaku ke rumahmu di tanjung gerinting, menjadikan aku permaisuri, ratu dalam hidupmu, apakah benar-benar dari lubuk hatimu atau karena dorongan nafsu birahi saat itu.”

“Dari lubuk hati yang sarat mencintaimu, dewiku.”

Sambil mengenakan pakaiannya kembali Sekar bertanya. “Tadi kamu merayu, menyebut aku dewimu, dewi pujaanmu yang akan kamu layani, bahwa kamu akan membahagiakan aku. Apakah itu hanya dorongan nafsu birahi? Mungkin hanya sekadar rayuan?”

“Aku sadar ketika mengucap kata-kata itu.” Samba diam sesaat, memegang tangan Sekar dan menciumi tangan itu dengan mesra. “Dengar sayangku. Aku akan membawa kamu ke rumahku, disana kamu akan kulayani dan kupuja. Kamu isteriku, permaisuriku, pujaan dan ratu dalam hidupku. Hanya kamu seorang, tidak ada perempuan lain.”

“Aku punya seorang anak laki-laki namanya Antaseno.”

Mendengar itu Samba terdiam.

Sekar tersenyum, geli melihat wajah muram kekasihnya. “Kangmasku, jangan sedih, aku sudah mulai mencintaimu. Aku ingin bersamamu seterusnya. Tapi kamu harus berjanji, bersumpah, bahwa semua ucapanmu itu bukan dusta. Bersumpahlah kamu menjadi suamiku, suami yang akan menjadikan aku isteri tunggal dan permaisuri dalam hidupmu.”

Samba menyahut, wajahnya menjadi keras. “Aku bersumpah demi arwah orangtuaku, jika aku ingkar janji maka aku akan menjadi binatang melata dalam kehidupanku kelak.”

“Sumpahmu berat.” Sekar tersenyum. “Sekarang kita sudah suami isteri. Aku akan memanggilmu kangmas.”

Samba menimang-timang senjata tongkat Sekar. Detik berikutnya dia menebas separuh jari kelingking kirinya. Jari itu putus, darah bercucuran.

Sekar menjerit. “Hei apa yang kamu lakukan, mengapa jadi begini?”

“Itu bagian dari sumpahku. Itu sumpah setiaku. Aku laki-laki sejati, tidak akan ingkar janji, apalagi ingkar sumpah.” Tegas Samba.

Sekar memegang tangan yang berlumuran darah. “Aku tidak mau kamu menyakiti diri sendiri, bukan begitu cara mencintaiku. Akan kubikin ramuan obat.” Dia bangkit melangkah, lalu berhenti menoleh kebelakang. “Antar aku cari dedaunan obat, aku tak mau sendirian.”

Samba mengantar kekasihnya mencari daun-daun obat. “Malam gelap dan kelam. Bagaimana bisa mengenali daun dan akar obat?”

“Aku tahu. Aku ahlinya soal jamu dan ramuan.”

Laki-laki itu memandang sosok seksi yang menumbuk daun dan akar.

“Jarimu sakit? Mana jarimu biar kusambung, aku bisa jahit, tapi dimana mendapatkan jarumnya?” Kata Sekar bingung.

“Jariku sudah kubuang. Buntung begini juga bagus, biar kamu bisa mengingat bahwa aku bersungguh-sungguh dengan sumpahku.”

Sekar melabur obat di kelingking yang tinggal separuh. Membalut dengan sobekan kain bajunya. “Aku ingin hidup bersamamu, itu keinginanku, tetapi masih ada persoalan.”

“Apa Sekar?”

Sekar menarik tangan kekasihnya, “malam sudah larut, kita masuk kedalam, disini sangat dingin.” Dia membawa beberapa ekor ikan yang sudah matang, untuk bekal tengah malam.

Samba duduk di pembaringan bersandar ke dinding tebing. Sekar merebah di pangkuan kekasihnya. Dia melonggarkan ikatan celana yang melilit pinggangnya. Matanya memandang Samba, dengan pancaran sarat birahi.

PELANGGARAN HUKUM HAK CIPTA BAGI SIAPA YANG MENERBITKAN ATAU PUBLISH NOVEL INI DI WEBSITE/ONLINE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!

“Katakan apa persoalanmu dewiku?” Desak Samba.

“Aku ikut ke rumahmu! Kamu punya isteri dan selir?”

“Ada seorang namanya Harum, dia selir. Juga ada tiga selir lain.”

“Dulu aku bodoh, membiarkan suamiku kawin lagi. Sekarang aku tak mau kejadian terulang lagi. Aku mau kamu hanya untuk aku. Itu syaratku!” Tegas Sekar.

“Syaratmu itu sudah termasuk dalam sumpahku, aku tak akan melanggar sumpahku, aku akan memujamu, hanya kamu seorang, satu-satunya.” Dia mengubah posisi, memandang paras cantik Sekar. “Tetapi kamu perlu pelayan yang selalu melayanimu, pelayan wanita.”

“Cari saja pelayan wanita yang tua, usianya limapuluhan. Aku tak mau ada saingan.”

“Baik Sekar. Akan kulaksanakan.” Samba tersenyum.

“Ada lagi persoalan lain dan ini yang paling penting yang harus kamu tahu.” Suara Sekar terdengar mesra.

Samba menatap. “Apa lagi? Masih adakah yang lebih penting dari kamu jadi isteriku?”

Sekar bangkit duduk, berhadapan dengan kekasihnya. “Ada! Kamu punya seorang putra, putra tunggalmu.” Tegas Sekar.

Samba bingung. “Apa? Putra?”

“Antaseno yang kulahirkan itu, dia bukan putra Wisang Geni, dia putramu. Lima malam bersamamu, bercinta denganmu, aku yakin terjadi pembuahan dalam tubuhku. Seorang wanita akan tahu saat-saat itu. Setelah bersamamu, memang aku bercinta dengan Wisang Geni, tetapi keadaan sudah lain, karena bekas tubuh dan keringatmu masih melekat di tubuhku dan cintamu masih terasa menikam dalam-dalam lubuk hatiku. Dan pembuahan itu sudah terjadi. Dan aku memeliharanya sejak saat itu,” Tegas Sekar. “Sekarang aku semakin yakin, wajah Seno sangat mirip denganmu, matanya yang agak coklat, matamu juga coklat. Mulut dan hidungnya. Bentuk muka yang bulat telur. Dia sangat mirip denganmu. Kini usianya tiga tahun lebih. Persis dengan waktu kamu menggauli aku. Lima malam ternyata buahnya adalah Seno, kamu sungguh hebat kangmasku.”

Samba mendengarkan dengan perasaan yang berkecamuk. Airmata bening membasahi matanya yang memandang mesra mulut penuh pesona yang menutur hal yang paling menakjubkan yang pernah didengarnya.

“Kamu menangis Mas?” Sekar mengelus pipi kekasihnya.

“Aku bahagia. Tak kusangka kamu telah melahirkan anakku. Oh Sekar, aku sangat mencintaimu, kamu segala-galanya bagiku.” Samba menciumi perut wanita yang sudah ikrar menjadi isterinya. “Tadinya aku berpikir ingin memohon padamu melahirkan anak-anakku. Ternyata belum kesampaian justru aku sudah jadi bapak dari anak yang kamu lahirkan.”

“Waktu itu aku bersikap bodoh. Tetapi kamu lebih bodoh lagi, mengapa kamu tidak memaksakan niatmu. Bawa lari aku ke istana Kediri. Kamu punya kesempatan, karena aku sudah pasrah.” Bisik Sekar sambil mengelus kepala Samba yang masih menciumi perutnya.

Continue published 50 / August 16th

Note : Novel (part Two) ini belum pernah diterbitkan sebagai buku novel dan belum pernah dipublish di website lain.

No comments: