Kutukan Keris Berdarah
By John Halmahera
Publish 48
Before :
Samba menghampiri dan memeluknya, khawatir wanita itu jatuh. Samba tetap menutup mulut, diam, membiarkan Sekar memuntahkan segenap isi hati, kesal dan kemarahannya. Dia tahu semua riwayat Sekar, bahwa Wisang Geni memiliki banyak isteri dan juga wanita simpanan.
Sekar membiarkan dirinya dipeluk, dia masih menangis, makin terisak-isak.
“Aku memang bodoh, percaya mulut manisnya, percaya rayuannya. Aku setia. Aku bertarung dalam semua pertarungannya, aku membela dia dengan pertaruhkan nyawaku, dia terluka parah dihajar musuhnya dan dia sudah mati jika tidak kutolong, tapi apa imbalan jasa yang dia berikan padaku? Di lembah kera dia meniduri Atis, terang-terangan dia mengatakan padaku dia kasmaran dan ingin meniduri Atis. Jahat! Geni itu jahat, aku dibuang!” Sekar menangis dalam pelukan Samba. Dia mengosok-gosokkan wajahnya yang penuh air mata ke dada bidang yang ditumbuhi bulu-bulu lebat. Sesaat dia merasa aman dan nyaman.
Samba merasa kasihan. “Sekar, kamu juga tidak setia. Waktu itu kamu bercinta dengan aku. Apakah kamu lupa?”
Sekar teriak. “Dia tidak tahu peristiwa itu, jadi dia tak pernah sakit hati, dia tidak pernah merasa kukhianati. Tetapi yang dia lakukan kepadaku itu terang-terangan, meninggalkan aku, lupa akan kesetiaanku, dia mengawini banyak wanita, dia tidak setia. Jika aku sedang dilanda birahi ingin sanggama, seringkali aku harus antri dan menunggu giliran.”
Samba tertawa. “Menunggu giliran. Benar-benar Geni itu kurangajar, wanita secantik kamu dibiarkan antri menunggu giliran, dia gila. Aku akan memelukmu seantero malam bahkan selama hidupku, aku rela mati tanpa makan tanpa minum asalkan memelukmu. Wiang Geni tidak setia padamu. Tetapi aku? Aku akan setia padamu, aku tak akan kawin dengan wanita selain kamu, tidak akan ada selir, tidak ada wanita lain, kamu wanita utamaku, kamu ingat itulah janjiku padamu dulu?”
Sekar terdiam. Dia ingat. Setelah lima malam dalam tawanan Pranaraja dan Samba, dia ditolong Wisang Geni. Dia ingat kata-katanya kepada Wisang Geni. “Lelaki itu, Pranaraja kasmaran padaku, tetapi dia sopan, selama tiga hari bersamanya, dia tidak berani menyentuhku. Dia tahu aku akan melawan meskipun harus korban jiwa.”
Memang dia tidak berbohong, Pranaraja tidak menyentuhnya, tetapi Samba yang menyentuhnya, Samba bahkan menidurinya. Pranaraja telah merestui dia menjadi isteri adik kandungnya Samba. Waktu itu dia menolak. Tetapi malamnya bujuk-rayu Samba telah melumpuhkan akal-sehatnya dan dia manda bercinta dengan lelaki itu. Bercinta dengan rasa suka dan dia menikmatinya.
Amarah Sekar meluap. “Aku membunuh banyak orang dalam tarung, membunuh untuk membelanya. Semua bukan pertarunganku, aku tak pernah tarung untuk kepentinganku. Lalu apa yang kuterima sebagai balasan? Sakit hati! Disakiti!” Tiba-tiba dia berteriak keras. “Dusta. Bohong! Semua bohong.” Sekar lalu mendorong dada Samba, tangannya memukul. “Kamu juga bohong. Kamu tidak mencariku.”
“Plaaakkk!” Tangan Sekar menampar pipi Samba.
Samba tidak mengelak, juga tidak menangkis. Dia membiarkan pipinya kena tampar. Seketika pipinya merah bengap. Meskipun tenaga-dalam Sekar belum pulih, tetap saja tamparan itu keras, tenaga orang biasa.
“Mengapa kamu diam? Mengapa tidak menangkis?” Teriak Sekar, menyesal.
“Mau pukul aku, pukul sepuasmu, bunuh pun aku akan diam.”
“Mengapa kamu memeluk aku? Kamu kurangajar.” Teriaknya. “Kamu sama dengan Geni, laki-laki culas.”
PELANGGARAN HUKUM HAK CIPTA BAGI SIAPA YANG MENERBITKAN ATAU PUBLISH NOVEL INI DI WEBSITE/ONLINE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!
Samba diam, memandang dengan penuh cinta wanita yang sedang hilang keseimbangan. Paras cantiknya belepotan air mata bercampur debu. Kebayanya robek di beberapa tempat, juga ada percikan bekas darah musuh yang dibunuhnya dalam tarung tadi malam.
“Mengapa kamu memeluk aku, jawab!” Teriaknya lagi. “Mengapa dulu kamu merayu aku, meniduri aku, setelah itu kamu pergi tinggalkan aku. Mengapa kamu membohongi aku?”
Samba memandang mesra wajah Sekar, memandangnya dengan pandangan penuh misteri. “Dulu aku pernah memelukmu kemudian kita bercinta selama lima malam di dalam kemah. Kamu ingat? Pelukan itu masih kurasa sampai sekarang, sejak tadi aku ingin memelukmu lagi. Tapi kalau kamu membenciku, pergilah, aku bebaskan kamu, dan kamu boleh membunuh aku.”
“Apa gunanya membunuhmu?” Suara Sekar tiba-tiba melemah.
Samba menghampiri Sekar yang tubuhnya masih lemas.
“Mau apa kamu?” Seru Sekar.
“Memelukmu lagi, mendekapmu, melindungimu.”
“Kalau berani memeluk aku, kubunuh kamu.” Kata Sekar, marah tapi juga bimbang.
Samba berdiri dekat, menatap Sekar. Memegang pundaknya, menariknya dengan lembut. “Kemarilah dewi pujaanku. Aku tak akan menyakitimu.”
Bagaikan robot. Sekar menatap Samba. Tak ada perlawanan.
Sekar memandang lelaki yang ketampanannya pernah membuat jantungnya berdebar kencang, dulu. Sekarang juga, jantungnya berdegup kencang membuat tubuhnya lemas.
Samba menariknya lembut. Dua tangannya memeluk lembut.
Tadi ketika dipeluk, Sekar tidak sadar sepenuhnya. Kini dia sadar. Sesaat Sekar merasa kaku, detik berikutnya dia merebah kepalanya di dada bidang Samba.
Dia mencium aroma jantan yang keras dari tubuh yang berkeringat. Tanpa sadar Sekar melingkar dua tangannya ke punggung telanjang Samba, merasakan kulit halus dari tubuh yang keras bagaikan batu granit.
Sekar menangis, lagi.
Sekar teringat kejadian empat tahun lalu. Lima malam mereka bercinta. Dia kasmaran pada lelaki ini. Tetapi dia merasa malu karena mengkhianati suaminya sehingga dia meminta percintaan itu dilakukan dalam gelap gulita.
Sekar masih ingat, kata-kata yang dibisik Samba ditelinganya waktu itu.
“Oh Sekar betapa nikmat bisa memelukmu, aku sungguh mencintaimu. Satu hal bukti cintaku, betapapun aku kasmaran tapi aku bisa menahan diri tidak memerkosamu, kita melakukan ini suka sama suka.”
Sekar bertanya. “Empat tahun berpisah denganku, sudah berapa wanita yang menjadi istrimu? Kekasihmu pasti banyak?”
Samba mengecup kening Sekar. “Aku punya selir. Karena laki-laki seperti aku pasti tak bisa hidup tanpa wanita. Tetapi aku katakan kepada mereka, bahwa aku telah beristeri, namanya Sekar, suatu waktu dia akan jadi permaisuriku di rumah ini.”
“Kamu tidak lupa padaku.” Sekar mendesis.
“Percintaan kita sangat aneh, aku tak pernah melihat kamu telanjang karena kita bercinta dalam gelap gulita, tetapi selama empat tahun berpisah denganmu, aku sering berfantasi membayang tubuhmu tanpa busana.”
Sekar merasa jantungnya bedebar kencang, dipicu kata-kata Samba yang sarat cinta. Lalu dia mendengar lagi bisik-rayu yang lembut. “Sekar, aku ingin membawamu ke rumahku di Tanjung Gerinting. Kamu akan kupuja. Para pelayan akan memandikan kamu, melulur tubuhmu yang indah, merias paras cantikmu, memasak makanan lezat, mereka akan melayani semua keperluan dan dalam setiap tarikan nafasku aku akan memujamu. Tidak ada orang yang akan menyakitimu, kamu aman, aku akan melindungimu dengan nyawaku sebagai taruhan.”
Sekar terbuai. “Itu semua keinginanku yang terpendam selama ini, aku ingin dipuja, dilayani dan dicintai seorang suami yang hanya aku isterinya, aku permaisuri dalam rumah tangganya dan rumah hatinya.” teriak hatinya. “Aku bosan hidup dalam pertarungan, bosan melayani Wisang Geni yang nyatanya suami yang culas.”
“Tanjung Gerinting itu dimana?” Sekar bertanya.
“Lima hari perjalanan ke arah Timur.”
“Katamu kamu kasmaran selama empat tahun? Kamu pasti bohong Samba.” Katanya lirih.
Samba menyahut mesra. “Aku mencintaimu, setiap hari selama empat tahun. Kupikir, kamu pasti isteriku pada penitisan lalu, dan akan menjadi isteriku lagi dikehidupan sekarang.”
Semilir angin pegunungan dari celah belakang goa, yang sejuk mengelus tubuhnya serasa elusan tangan lelaki, lembut penuh cinta. Sekar menahan nafas, ada rasa birahi yang asing dalam dirinya. Dia merasa tubuhnya menuntut sentuhan lelaki. Dia juga merasa aman dalam pelukan Samba.
Lagi-lagi jantung Sekar berdebar kencang.
Suara Samba berbisik di telinganya. “Kalau tak bisa mendapatkan kamu, lebih baik aku mati, Sekar. Tapi tak mungkin aku bunuh diri, hanya pengecut yang bunuh diri, dan aku bukan pengecut, aku laki-laki. Sekar, kamu bebas pergi, pulang kepada suamimu.”
Mendengar suaminya disebut-sebut seketika Sekar teringat lagi akan kebohongan Wisang Geni. “Dia mengkhianati aku. Sekarang dia lebih mencintai Atis, hanya Atis. Dia telah membuang aku keluar dari hati dan pikirannya.”
“Kamu boleh pergi.” Kata Samba lirih.
Suara Samba menyadarkan dia dari lamunan. Dia sadar masih dalam pelukan Samba. Keduanya berdiri ditengah goa.
“Mengapa kamu diam? Aku sungguh-sungguh, kamu bebas pergi kembali ke suamimu tetapi tolong bunuh aku.” Kata Samba.
“Mengapa ingin mati, kamu masih muda, usiamu kutaksir empatpuluhan, masih bisa hidup lama. Sebagai adik mahamenteri kamu pasti kaya, banyak harta, kamu juga tampan, ilmu-silatmu lumayan tinggi, pasti banyak gadis rela menjadi isteri dan selirmu.” Sekar menghibur.
“Usiaku empatpuluh lima, aku ingin hidup normal, punya isteri, makan bersama, tidur bersama, berpelukan dan bercinta setiap hari. Tetapi hanya kamu Sekar yang aku mau. Tidak yang lain.” Dia menunjuk ke pojokan. “Disitu ada senjataku, keris, busur dan anak panah, ambil dan bunuh aku. Setelah itu pergilah.” Tetapi Samba tidak melepas Sekar dari pelukannya, malah memeluk lebih erat.
“Samba mengatakan ingin hidup normal, punya satu isteri. Aku juga ingin hidup normal, hanya aku dan Geni. Tetapi semua janji Geni dusta belaka, dia tidak cinta padaku, dia lebih mencintai Atis. Aku dianggap perempuan tidak berharga lagi.” Pikiran ini memancing amarahnya. Lalu ide liar mengamuk dibenaknya. “Dia tidak setia, mengapa aku harus setia padanya? Aku juga menyukai Samba? Jika dia membawa aku ke rumahnya aku akan mulai mencintainya, dia lebih jantan dibanding Geni.”
“Benarkah kamu ingin aku membunuhmu, setelah itu aku pergi?” Desak Sekar.
Samba menyahut ringkas. “Benar. Kamu bunuh aku, bebaskan aku dari derita mencintaimu namun tak bisa memilikimu.”
“Aku tak akan membunuhmu, tidak mungkin.” Kini Sekar memeluk erat Samba.
“Kalau begitu pergilah, tinggalkan aku sendiri, aku akan duduk bertapa disini.”
Perasaan asing tadi kembali mengganggu Sekar, ingin menghibur menasehatinya agar tetap hidup. “Buat apa mati, kalau benar cinta padaku mengapa kamu memilih mati?” Tangan Sekar mengelus pungung Samba.
Elusan itu membuat Samba memeluk erat tubuh wanita yang dicintainya itu. “Aku sangat mencintaimu, dan karena tidak bisa memiliki kamu, maka mati adalah lebih baik bagiku.”
Sekar mendorong pelahan tubuh Samba melepas dari pelukan. Menatap laki-laki itu. Dia merasa trenyuh, nelangsa melihat laki-laki itu yang dalam pandangannya makin lama makin tampan dan menarik. Tiba-tiba tercetus begitu saja ucapannya yang terasa asing ditelinganya sendiri. Jantungnya berdebar kencang. “Kamu ingin memiliki aku?” Suaranya parau. Dia melangkah dengan kaki gemetar, membaring tubuhnya di amben.
Matahari pagi terik tetapi udara pegunungan terasa sejuk. Goa itu terang benderang oleh cahaya mentari yang menerobos dari celah besar. Dua anak manusia masih berpelukan.
PELANGGARAN HUKUM HAK CIPTA BAGI SIAPA YANG MENERBITKAN ATAU PUBLISH NOVEL INI DI WEBSITE/ONLINE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!
Ketika itu terdengar suara panggilan “Seeekaaarrrrrr!” yang menggema dan memantul ditebing-tebing. Suara panggilan itu berulang-ulang dan berlangsung cukup lama. Sekar mengenali suara suaminya. Keduanya diam seakan tidak bernafas.
“Goa ini aman?” Sekar berbisik. Ada rasa takut. “Itu suara Wisang Geni!”
Continue published 49 / August 15th
Note : Novel (part Two) ini belum pernah diterbitkan sebagai buku novel dan belum pernah dipublish di website lain.
No comments:
Post a Comment