Kutukan Keris Berdarah
By John Halmahera
Publish 43
Before :
Sang Pamegat menggeleng. “Kamu tahu aturannya. Ini misi rahasia. Kamu tidak bisa kembali sekarang, kamu ikut pasukan ini, dan akan mendapat kesempatan maju bersama pasukan pemukul yang terdepan, untuk menolong teman-temanmu.”
Rombongan Wisang Geni melakukan perjalanan cepat. Siang hari kedua, mereka tiba di pinggiran desa Bangu. Di sebelah kiri tampak gapura desa, beberapa pengawal berjaga-jaga. Sebelah kanan tiga gubuk darurat, tampak beberapa orang lelaki wanita tidur-tiduran istirahat, makan dan ngobrol.
Wisang Geni dan para murid memperlambat kuda, agar tidak memancing kecurigaan. Tak ada orang yang menegur. Para pengawal gapura hanya memandang penuh selidik. Mata mereka memandang penuh curiga, tetapi tidak bereaksi lanjut.
Ketika sudah menjauh dari desa Bangu, Wisang Geni berkata kepada para muridnya. “Itu pasti desa Bangu, markas pemberontak, kita tetap menuju selatan.”
Mereka berhenti di hutan jauh, beberapa kilometer dari desa Bangu. “Kita istirahat disini, memelihara semangat dan tenaga. Kalian bergantian berkeliling memantau kedatangan pasukan keraton. Mungkin hari ini atau besok.” Wisang Geni kemudian sila bersemedi.
Seharian menunggu, esok harinya dari pagi sampai sore tak ada tanda-tanda.
Malam harinya, rembulan belum lama muncul. Dipta berlari-lari menghampiri Wisang Geni. “Guru, aku mendengar derap pasukan. Coba dengarkan.” Katanya sambil menelungkup merapatkan telinganya ke tanah.
Gajah Nila dan yang lain ikut-ikutan.
Mereka saling menyahut, “benar pasukan besar.”
Wisang Geni mengajak rombongan menyongsong pasukan.
Samar-samar dibawah sinar rembulan, tampak beberapa orang berkuda, grup pemandu. Di belakangnya pasukan kecil terdiri tigapuluh prajurit. Dibelakangnya, pasukan besar keraton Tumapel. Tidak ada pengenal seperti bendera dan umbul-umbul, tetapi seluruh pasukan mengenakan seragam.
Rombongan Lemah Tulis berdiri ditepi jalan. Wisang Geni mengirim suara menggunakan tenaga-dalam tingkat tinggi. “Kangmas Pamegat, aku Wisang Geni menunggu disini, siap bergabung.”
Suaranya tidak keras namun sanggup menembus sampai ketengah rombongan.
Pamegat berbisik pada Sang Raja. “Paduka Raja, Wisang Geni menepati janjinya.”
“Sambut dia, supaya pasukan kita tidak salah faham.” Titah Raja.
Sang Pamegat melecut kudanya, diiringi dua pendekar Tumapel. Tak lama kemudian dia melihat sebelas orang diatas punggung kuda berdiri di pinggir hutan. Dia mengenalnya, Wisang Geni dan rombongan Lemah Tulis.
“Dimas Geni, lama kamu menanti? Bagaimana dengan Brantas?” Tanya Sang Pamegat.
“Kami tiba sejak kemarin. Brantas sudah kami tumpas. Sebagian besar muridku pulang ke Lemah Tulis.” Lalu Wisang Geni balik bertanya. “Pasukan Tumapel begini besar dan angker, kupikir tenagaku tidak lagi diperlukan, kangmas?”
“Ini perang. Kita tak akan pernah bisa mengira apa bakal terjadi. Tentu saja kamu dan para murid Lemah Tulis sangat membantu keraton.” Sang Pamegat menyodor sebelas ikat kepala kuning emas bersulam gambar keris. “Kenakan dikepala, agar pasukan bisa membedakan teman dan lawan. Dimas, kamu akan ditempatkan didekat barisan Baginda Raja.”
Wisang Geni menerima ikat kepala dan memberikan kepada Dipta untuk dibagikan. Dia terkejut mendengar kehadiran Raja. “Benarkah Baginda ikut perang?”
“Malah Baginda yang menyuruh aku menjemputmu.” Tegas Sang Pamegat tersenyum.
“Terimakasih atas perhatian Baginda. Tetapi berada didekatnya aku risih sebab telanjang dada, bagaimana baiknya?” Tampak Wisang Geni bingung.
Sekar mengambil baju hitam dari buntalannya. “Ini bajumu Mas.” Betapapun cemburu dan kekecewaan atas perlakuan mesra suaminya terhadap Atis, Sekar tetap menjaga sikap sebagai isteri yang telaten memerhatikan suaminya.
PELANGGARAN HUKUM HAK CIPTA BAGI SIAPA YANG MENERBITKAN ATAU PUBLISH NOVEL INI DI WEBSITE/ONLINE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!
Sang Pamegat tertawa. Para murid Lemah Tulis dan pendekar Tumapel ikut tawa.
Tersipu malu Wisang Geni mengenakan baju sambil berbisik. “Terimakasih adindaku.”
Malam hanya disinari rembulan, pasukan berhenti di hutan radius satu kilo dari desa Bangu. Raja Ranggawuni, Mahisa Cempaka, Sang Pamegat, pimpinan sepuh jubah putih Ki Astika serta Wisang Geni berunding didalam kemah darurat. Diseputar kemah dijaga ketat. Penjagaan berlapis para sepuh jubah putih dilingkar dalam. Pendekar Tumapel dan murid Lemah Tulis di lingkar dua dan pasukan pemukul di lingkar luar.
“Di penghujung malam, sebelum dini hari, kelompok penelik Jedung yang dikirim Gajah Pringgon akan beraksi. Begitu pertunjukan kidung dan tari selesai enambelas pesinden akan melayani para penjahat dan membunuhnya. Mereka bersama penabuh musik tak mungkin bisa keluar tanpa bertarung. Karenanya sangat berharap serangan pasukan kita tepat waktunya.” Tutur Sang Pamegat.
“Baginda Raja, pertama-tama pasukan khusus menyusup, membunuh dan membakar sekaligus menolong para penelik Jedung. Pasukan khusus ini terdiri delapan belas pendekar, empat sesepuh jubah putih, kangmas Wisang Geni dan muridnya dibantu tigapuluh ponggawa. Secepatnya mereka menyelesaikan tarung kemudian mundur keluar dari radius panah. Saat itulah pasukan panah beraksi melepas hujan panah. Saat berikut pasukan pemukul kedua bersama pasukan khusus masuk menyerbu lebih jauh kedalam desa.” Tutur Mahisa Cempaka.
Raja Ranggawuni duduk ngangkang dengan dua tangannya menekan lutut. Sikap tidak lagi seperti Raja yang berbasa-basi, melainkan gaya pendekar. “Rencana bagus dan matang. Aku masuk setelah hujan panah selesai. Hati-hati bentrok dengan Linggapati, dia bersenjata keris prabakara. Aku sendiri yang akan membunuhnya, dan menjemput kembali keris pusaka keraton itu.” Suaranya berwibawa menggetarkan nyali semua orang didalam kemah.
“Dia bukan lagi Ranggawuni yang kukenal dulu, dia sungguh-sungguh penguasa tanah Jawa, pasak bumi tanah Jawa.” Kata Wisang Geni dalam hati.
Lamunannya buyar ketika Sang Raja menyapanya. “Kangmas Geni, terimakasih kamu telah datang bergabung, hadiah apa yang akan kuberikan?”
Wisang Geni gugup, terbata-bata menyahut. “Tidak perlu Baginda. Hamba sudah senang memperoleh kuda hitam Wulung dan si putih Batari, serta perhiasan untuk isteriku. Sudah cukup Baginda.”
“Kangmas Geni, kamu mau keris prabakara? Keris itu cocok untuk kamu sebagai pendekar nomor satu tanah Jawa.” Kata Raja menguji kesetiaan ketua Lemah Tulis.
Tidak hanya Wisang Geni yang kaget, semua yang mendengar terkejut.
“Ampun Baginda, jangan, jangan berikan kepadaku, hamba tidak berani menerimanya.” Sahut Wisang Geni hormat sambil membungkuk dan merangkap dua tangannya.
“Tidak pernah berubah. Benar kata Hyun permaisuriku, bahwa kakak perguruannya tak akan pernah berubah, tetap setia dan rendah hati. Pendekar nomor satu tanah Jawa yang selalu merendah. Aku sungguh menawarkan keris itu padamu.” Sang Raja menguji lagi.
Dan sekali lagi Wisang Geni menolak. “Ampuni hamba. Keris itu harus sanding dengan Ki Gandring di keraton menjadi tanda kekuasaan Baginda atas tanah Jawa, menjadi tumbal kebesaran dan keagungan Tumapel.”
“Kangmas Geni, berapa isterimu sekarang?” Pertanyaan yang sangat mendadak itu mengejutkan semua orang terutama Wisang Geni.
“Tiga.” Suaranya agak malu-malu.
“Mereka bersamamu disini?”
“Tidak Baginda. Hanya dua. Yang seorang menunggu di Lemah Tulis.”
Sang Raja menoleh ke sepuh jubah putih. “Panggil dua isterinya.”
Pendekar tua itu keluar kemah. Tidak lama kemudian masuk bersama Sekar dan Gayatri.
Dua wanita ini agak bingung dan canggung. Mereka memandang suaminya, lalu duduk bersimpuh diatas lutut, memberi hormat kepada Sang Raja.
“Aku menyampaikan hadiah perhiasan dari permaisuriku untuk isterimu.” Sambil dia memberi isyarat dengan tangannya kepada Mahisa Cempaka.
Pangeran ini menyodor kotak perhiasan. “Kotak berisi tiga kalung emas yang masing-masing bergantung leontin, tiap leontin dihiasi batu jamrud persia. Ada tiga warna, merah delima, biru muda dan hijau. Terimalah.”
Gayatri menyenggol lengan Sekar. “Mbakyu, kamu yang terima.”
Sekar menerima kotak dari tangan Mahisa Cempaka. “Terimakasih Baginda atas hadiah pemberian ini. Dulu, permaisuri memberi kami hadiah kalung emas. Terimakasih Baginda atas kemurahan hati permaisuri.” Kata Sekar. Bersama Gayatri, dia memberi hormat.
Sang raja memberi isyarat.
Sepuh Jubah Putih dengan sopan dan ramah mempersilahkan dua wanita itu keluar kemah. Pertemuan selesai.
Pertunjukan kidung dan tari yang meriah, usai sudah. Retno mengeluh ketika lengannya digenggam seseorang. Laki-laki itu menariknya melangkah.
“Ayo Retno, aku sudah kasmaran selama dua hari, ayo kita ke rumah.” Kata Prabakesa yang lalu membopong Retno, menciuminya sambil melangkah ke rumah tak jauh dari gapura. Di tengah jalan Retno melihat semua teman sindennya sudah digendong para pendekar.
Begitu mengunci pintu dengan palang kayu, langsung dia memeluk erat Retno. Suaranya macam dengus kuda habis berlari puluhan kilometer, saking kebeletnya, ingin cepat-cepat meniduri wanita sinden yang menggemaskan itu.
Dan Retno ingin muntah diciumi mulut yang berbau tuak yang tak pernah dicuci. “Tunggu Mas, aku lepas kebaya dulu.” Kata Retno.
Prabakesa makin mabuk melihat dada Retno. Dia lantas memeluk. “Tunggu, sanggul aku lepas dulu.” Kata Retno. Dia melepas sanggul dan memegang erat tusuk kondenya. “Ayo lepas celanamu Kangmasku.” Bisik Retno sambil memeluk, dua tangan melingkar dileher dan tusuk konde itu ditikamkan ke urat nadi dileher. Benda itu masuk sampai separuh gagangnya.
“Aduh apa itu Retno.” Prabakesa merasa kesakitan. Dia curiga. Dia kaget ketika tangan Retno telah menekan urat nadinya yang membuat dia lemas.
“Apa? Semut? Kamu digigit semut?” Tanya Retno.
Laki-laki itu masih melepas celananya. “Bukan semut, ada benda menikam leherku.”
Retno tersenyum menggoda, mengenakan kembali kebayanya.
Prabakesa limbung. “Mengapa aku lemas, pusing?”
“Tidurlah selama-lamanya, tusuk konde mengandung racun, tiga kali kamu menarik nafas, racun langsung menyerang jantung. Tiga kali nafas lagi, mati.” Kata Retno tertawa.
Prabakesa tidak mendengar lagi.
PELANGGARAN HUKUM HAK CIPTA BAGI SIAPA YANG MENERBITKAN ATAU PUBLISH NOVEL INI DI WEBSITE/ONLINE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!
Retno menendang laki-laki bugil itu merapat dinding. Terdengar ketukan dipintu.
“Buka pintu! Retno, aku tahu kamu didalam! Buka pintunya!” Suara laki-laki.
“Tunggu. Aku pakai baju dulu!” Seru Retno sambil melangkah melepas palang pintu.
Laki-laki itu menerobos masuk, menutup pintu dengan palang. “Aduh Retno, aku cari-cari kamu.” Matanya melihat punggung Prabakesa yang bugil di pembaringan. “Siapa itu?”
“Oh itu Prabakesa, orangnya gede tapi tidak tahan lama, langsung tertidur.” Retno tidak mengancing kebayanya, sengaja perlihatkan payudaranya yang indah, khawatir sandiwaranya ketahuan. “Ayo kamu pendekar Kulon Semeru pasti lebih jantan.”
Mata Kulon Semeru nanar mengamati dada Retno. Dia berlutut memeluk paha, meremas bokong Retno dan menciumi perut yang putih mulus. “Aduh biyung, betapa cantiknya kamu.”
“Mas, aku tadi belum puas. Kamu mau obat kuat? Aku punya.” Tanya Retno.
Sambil menciumi dada Retno, dia menyahut sekenanya. “Mau, aku mau, sayangku.”
Jari-jari lincah Retno menusukkan tusuk kondenya ke urat nadi leher. “Sakit sedikit, tetapi nantinya enak, tubuh jadi segar.” Kata Retno.
Pendekar itu yang sesaat merasa sakit, lenyap rasa curiganya. Dia melepas celananya, sambil tetap menciumi dada Retno.
Retno menggiring si laki-laki ke pembaringan. “Bagaimana rasanya, mulai enak?”
“Pusing, aku pusing Retno, obat kuat apa tadi?” Tanya si laki-laki, nafasnya mulai menyesak.
“Tadi itu racun, tiga kali kamu menarik nafas, racun langsung menyerang jantung. Tiga kali nafas lagi, mati.” Ujar Retno sambil menoleh ke pintu.
Tidak ada yang mengetuk pintu. Dia mengira-kira waktu yang sudah terbuang.
Sambil menyanggul kembali rambutnya, tak lupa menyisip tusuk konde dia mengenakan ikat kepala kuning emas. Saat itu terdengar pintu rumah dipukul, seorang lelaki berikat kepala kuning emas masuk. “Ayo keluar!” Kata lelaki itu.
Di luar rumah tampak para pendekar berikat kepala kuning emas menerobos ke rumah-rumah. Para pesinden berlarian dan bergabung dengan rombongan.
Pemimpin pasukan bertanya dengan suara keras. “Mundur cepat!”
Bersama-sama mereka mundur. Pada saat itu pasukan panah melepas panah api. Seketika panah api menerangi gelapnya malam, menghunjam puluhan rumah. Pasukan menerobos jauh kedalam kampung sambil melepas panah api.
Dari beberapa rumah berlarian keluar para pendekar yang masih terpengaruh tuak. Mereka berpapasan dengan pasukan panah yang tanpa ragu sedikit pun melepas hujan panah.
Dari dalam rumah-rumah yang agak jauh di dalam desa yang tidak terjangkau panah api, keluar puluhan pemberontak, tergopoh-gopoh. Lalu terdengar perintah dan aba-aba. “Siapkan panah, cepat, musuh menyerang!”
Namun mereka menjadi korban pasukan panah yang melepas hujan panah. Ratusan anak panah meleset memenuhi langit yang gelap dan hanya diterangi temaram sinar bulan. Sesuai rencana pasukan keraton menyerbu bergelombang. Wisang Geni dan murid-muridnya ikut bergabung. Ratusan prajurit keraton mendesak maju sampai dekat tebing membuat Linggapati terjaga dari tidurnya
Serangan Tumapel melumpuhkan kekuatan Linggapati, separuh lebih anggota rodra mati diterkam hujan panah atau roboh ditebas para murid Lemah Tulis. Tidak hanya itu, sebagian besar pendekar bayaran ikut mati mengenaskan.
Namun pasukan Linggapati masih memiliki kekuatan tersembunyi. Pendekar gugus dua yang semula berjumlah tigapuluh tiga sudah susut menjadi duapuluh. Mereka bersama empat penasehat, Dewi Kajoran, Pulosari, Sangkapura dan Samba memberikan perlawanan gencar. Linggapati bersenjatakan keris prabakara bersama isterinya Dedes Ayu ikut mengamuk.
Pertarungan terjadi dimana-mana.
Linggapati mengamuk, kerisnya menebar hawa maut. Prastawana dan Dipta yang diserang dipaksa mundur. Hawa panas keris menyergap dengan ancaman maut. Dua ponggawa keraton dari pasukan pemukul, mati hangus kena sabetan keris haus darah itu.
Wisang Geni melihat keadaan membahayakan jiwa dua muridnya, melayang masuk arena. “Kalian mundur. Biar kuhadapi.”
Tapi Wisang Geni tak menyangka keris prabakara segarang itu. Keris itu bergerak pesat bagai petir penebar hawa maha panas. Ketika keris memotong, terpaut dua jengkal dari tubuhnya, terasa hawa panas seakan membakar dadanya, membuat Wisang Geni terkejut.
Continue published 44 / August 10th
Note : Novel (part Two) ini belum pernah diterbitkan sebagai buku novel dan belum pernah dipublish di website lain.
No comments:
Post a Comment