Kutukan Keris Berdarah
By John Halmahera
Bab Sembilan
Tarung Kandangan
Malam itu, udara sangat dingin di desa Bangu, dikaki bukit Gunduk yang disiram hujan sejak pagi hingga siang. Puluhan pendekar berkumpul di sembilan bangunan rumah dibalik tebing dan lamping bukit yang merupakan markas dari kelompok anti-kerajaan, tersembunyi dari penglihatan orang. Di salah satu rumah, yang terbesar, sembilanbelas pendekar sila ditanah dihadapan adipati Linggapati yang duduk disatu-satunya kursi di ruangan luas itu.
Diantaranya, Dewi Kajoran, Dedes Ayu, Pulosari, Sangkapura dan Samba. Lima penasehat itu telah memilih empatbelas pendekar khusus untuk misi tarung di Kandangan. Mereka yang terpilih delapan pendekar wanita formasi Grasak Petung murid Dewi Kajoran, dua pimpinan pasukan rodra Hanggada dan Sangkala, Janda Genit Ngargoyoso, Purocana Si Gila dari Merbabu, Korowelang dari Utara Brangsong dan Si Cebol Keris Bayangan dari kali Panggul.
“Misi kalian membantu Brantas menghancurkan musuhnya, selain itu aku ingin tahu seberapa kuat serangan pasukan rodra.” Linggapati berhenti sejenak dan bertanya kepada Samba. “Sekarang berapa jumlah pasukan rodra?”
“Tadinya empatpuluh tiga, kini jumlahnya enampuluh delapan. Masih ada tigapuluh calon sedang diuji. Untuk misi Brantas kami pilih limapuluh orang dengan kemampuan merata, mohon persetujuan dan perkenan Paduka.” Jawab Samba.
DILARANG COPY/MENERBITKAN/PUBLISH DI WEBSITE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!
“Aku setuju. Jadi rodra membawa limapuluh pemanah. Aku ingin melihat dengan mata kepala sendiri keampuhan pasukan panahmu.” Tukas Linggapati.
“Mohon maaf, apakah Paduka ikut ke Kandangan?” Dedes Ayu bertanya.
“Misi utama adalah uji-coba pasukan rodra, kesanggupan menciptakan hujan panah. Itu yang ingin kusaksikan.” Linggapati diam sesaat lalu memandang kakak perguruannya. “Kangmas Pulosari kutunjuk sebagai pemimpin pasukan, apa strategi kakang?”
“Maaf Paduka. Hamba akan mengatur dengan pimpinan Brantas, rencananya tahap awal Brantas siap dalam barisan berhadapan musuh. Pasukan rodra dibelakang Brantas, dimas Samba akan memberi aba-aba pasukan rodra menebar panah ke arah musuh. Tahap dua, Brantas dan para pendekar menyerang. Mohon petunjuk Paduka.” Kata Pulosari.
“Strategi sempurna. Semua kuserahkan kepadamu.” Tegas Linggapati, menambahkan. “Kuharap Wisang Geni hadir, jika tidak mati oleh hujan panah, aku akan membunuhnya. Itu menjadikan aku yang dipertuan di tanah Jawa sebagai pendekar nomor satu.”
Semua yang hadir tergugah semangatnya.
“Kalau berangkat siang hari ini, kita tiba di hutan Kandangan besok sore, satu hari sebelum pertemuan.” Pulosari menoleh pada senopati Samba. “Dimas, siapkan pasukanmu, pilih yang segar dan handal.”
Senopati Samba menyahut tegas. “Segera dilaksanakan, ketua” Jawabnya. Tapi dalam hati memikirkan keselamatan Sekar. “Jika Sekar berada di kelompok Lemah Tulis, mampukah dia menyelamatkan diri?”
Bagi Samba ikutsertanya dalam pasukan Linggapati bukan untuk mencari harta atau jabatan. Dia hanya mencari kesempatan menculik wanita idamannya. Hanya dengan meminjam tenaga pasukan Linggapati maksudnya bisa tercapai. Dia tahu diri tak mungkin merebut Sekar dari tangan Wisang Geni secara terang-terangan. Setelah mendapatkan Sekar dia akan melarikan wanita itu ke Tanjung Gerinting dan hidup bersamanya.
“Akan kuberi ramuan pelemas, Sekar tak akan memiliki tenaga-dalam, selama itu dia jadi isteriku. Setelah satu bulan, aku yakin dia akan mencintaiku, barulah tenaga dalamnya kupulihkan.” Dalam hati Samba puas dengan rencananya.
Pulosari dan Linggapati menyembunyikan rahasia, pertemuan bertiga dengan Ganggati beberapa hari lalu. Dalam pertemuan itu Linggapati menjanjikan bantuan kepada Brantas menghancurkan Mahameru dan Lemah Tulis. Imbalannya Brantas ikut serta dalam pasukan Linggapati saat menyerang keraton. Ganggati setuju.
Hari menjelang pagi, malam masih gulita. Embun dan kabut dingin menggayut disekitar kawasan luas dibatas desa Kandangan. Rombongan Lemah Tulis berada di Selatan, bercampur dengan Mahameru, berhadapan dengan kelompok Brantas di Utara.
Prastawana, ketua Lemah Tulis yang baru tetapi yang tetap menganggap Wisang Geni sebagai ketua, mondar mandir diantara para murid. Semalaman dia tak bisa memejam mata. Banyak pikiran berkecamuk.
Berulangkali dia mengusir pikiran buruk bahwa Wisang Geni, ketua dan gurunya, sudah mati. Keyakinannya akan ilmu-silat dan tenaga-dalam Wisang Geni yang tidak tertandingi selama ini menjadi jaminan ketuanya itu selamat.
Setelah sanggup menguasai dirinya, Prastawana mengumpulkan semua murid. Air mukanya tegang. Diantara rombongan ikut serta Gajah Watu sebagai sesepuh dan orang yang paling diandalkan.
“Aku tidak percaya ketua Wisang Geni mati, aku yakin dia hanya terluka. Sekarang yang kita hadapi kelompok Brantas yang didukung banyak pendekar bayaran. Singkirkan keragu-raguan, nama Lemah Tulis bertumpu pada sepakterjang kita hari ini.” Prastawana menggugah semangat tarung para murid. “Saat ini aku mengajak kalian bertarung dengan semangat, membayar jasa Lemah Tulis yang telah membesarkan kita.”
Gajah Watu mengangkat tangannya, para murid diam memerhatikan. “Brantas tidak memiliki pemimpin dengan ilmu-silat tinggi. Warok dan Manyar Edan sudah mati. Jadi kalau mereka berani menantang Mahameru dan Lemah Tulis, artinya punya kekuatan tersembunyi. Mereka dibantu para penjahat bayaran. Jumlah kita empatpuluh, Mahameru lima puluh. Brantas lebih banyak, kuperkirakan lebih dari duaratus orang.
Diam sesaat kemudian dia melanjutkan. “Ingat peristiwa tiga puluh tahun lalu ketika perguruan kita hancur. Tetapi Lemah Tulis tidak musnah dan bisa bangkit dihari kemudian sebab kangmas Bergawa memerintah para murid lari mundur karena situasi tak mungkin bisa bertahan. Para murid patuh. Sekarang aku perintahkan, jika terjadi situasi buruk dan kita tak bisa bertahan maka Prastawana dan Dipta memimpin para murid meninggalkan tarung dan pulang ke perguruan. Ingat, Prastawana dan Dipta akan jadi orang paling berdosa dalam sejarah perguruan jika berani membangkang perintahku!”
Terdengar protes diantara para murid.
Gajah Watu berseru. “Ini perintahku, perintah perguruan!”
Seketika para murid terdiam.
Tampak Prastawana mengeluh. Dipta pun terpukul. Perintah harus mundur dan lari dari medan tarung sungguh berat untuk dilaksanakan. Bagaimana mungkin meninggalkan medan tarung? Itu moral pengecut. Tetapi itu perintah perguruan yang harus ditaati. “Paman Guru. Aku tak mau lari, jika perlu aku mau mati dimedan tarung.” Kata Prastawana.
Dipta mengungkap ketidakpuasan. “Mengapa aku yang dipilih, mengapa tidak biarkan aku tarung dan mati demi perguruan. Cabut kembali perintahmu Paman Guru, aku mohon.”
Kali ini Gajah Watu berhasil menekan emosi protes para murid. Dia melanjutkan. “Aku akan memberi tanda dengan teriakan “lari” dan kalian cepat meninggalkan medan tarung. Aku akan menjadi benteng penghalang dibelakang kalian.”
“Aku bersama guru, kita berdua.” Kata Prastawana yang diikuti Gajah Lengar.
“Tidak! Hanya aku sendiri! Kalian semua harus pergi! Itu perintahku!” Tegas Gajah Watu. Raut wajah dan suaranya yang berwibawa membuat semua murid tunduk. “Hal ini juga berlaku bagi murid-murid Mahameru, mereka akan ikut kalian pergi ke Lemah Tulis. Tetapi kalau kita bisa bertahan apalagi berada diatas angin, kita bertarung terus dan membasmi Brantas yang telah membunuh banyak murid kita.”
Keadaan senyap lagi. Semua mata memandang kakek guru yang sudah berusia enam puluh lima itu. “Aku sepakat dengan dua guru Mahameru, Ki Bragalba dan Ki Rawaja. Jika situasi terancam, para murid Mahameru harus meninggalkan tarung. Kalian tidak boleh mati sia-sia, ada waktunya kalian membalas kekalahan. Aku bertiga Ki Bragalba dan Ki Rawaja akan bertahan, mencegah musuh mengejar kalian. Kalian bersama murid Mahameru pulang ke Lemah Tulis. Kalian dipimpin Prastawana dan Dipta, Mahameru dipimpin Narapati.”
“Guru, mengapa berkata seakan-akan kita akan kalah?” Desak Dyah Mekar.
“Hanya ada dua kemungkinan, menang atau kalah. Adalah bijak, kita mempersiapkan kemungkinan yang paling buruk.”
Para murid diam.
Gajah Watu melanjutkan. “Hari ini ada yang ingin kuceritakan, cerita keburukanku yang selama ini kusembunyikan. Puluhan tahun lalu aku berbuat buruk kepada keponakan muridku yang masih gadis. Aku memaksa menidurinya. Berulangkali. Dia tidak berdaya menentang paman gurunya yang biadab ini. Lalu aku pergi, lari dari tanggungjawab. Ingkar janji mengawininya. Dia merahasiakan, tetapi kangmas Bergawa mengetahui dan mengusir aku dari perguruan.”
Para murid terkejut. Gajah Watu melanjutkan. “Dia Walang Wulan, murid kesayangan kangmas Bergawa, yang kemudian jadi isteri Wisang Geni. Aku yakin dia menceritakan aib itu kepada suaminya. Belakangan aku sering bertemu dua suami isteri itu, tetapi keduanya tetap hormat kepadaku, hal ini membuat aku kian tersiksa.”
Gajah Watu tersenyum pahit. Wajahnya diselimuti rasa duka. “Perbuatanku pada Wulan tak bisa dimaafkan. Bisa saja Geni dan Wulan telah memaafkan, tetapi aku sendiri tak bisa memaafkan diriku. Sekarang setelah kuceritakan aibku ini, hatiku lega. Jika aku mati hari ini, sampaikan pada Wisang Geni, aku minta maaf padanya.”
Sinar kuning kemerahan matahari menyingsing diufuk Timur. Petuah Gajah Watu telah membangkit semangat tarung anak-anak Lemah Tulis. Begitu juga murid Mahameru setelah mendapat petuah dua gurunya, Bragalba dan Rawaja. Kedua perguruan ini dengan cepat membentuk barisan, bercampur satu sama lain.
Beberapa tahun belakangan hubungan dua perguruan makin erat bersahabat seiring terjadinya perkawinan antara para murid. “Hari ini kita membunuh atau dibunuh, tak boleh punya rasa kasihan. Harus telengas dan kejam. Ingat itu.” Seru Narapati, murid utama Mahameru yang berdiri dampingan dengan Prastawana. Mereka memandang kelompok musuh yang terpisah seratusan meter.
Di Utara hutan Kandangan yang berimpit dengan sungai, kelompok Brantas berdiri menanti aba-aba. Jumlahnya berkisar duaratusan, mereka berdiri diam dalam posisi siap. Di belakang mereka, pasukan pemanah Rodra siap dengan busur dan panah. Mereka bahkan sudah siap menyerang, merentang busur dan memasang anak panah. Menanti aba-aba dari Hanggada maka ratusan panah akan melesat ke udara menghujani kelompok dua perguruan yang berdiri dilapangan terbuka, bebas dari pepohonan.
Samar-samar Prastawana melihat gemerlap busur dan panah. Matahari pagi sudah mulai menyinar terang. “Apa itu?” Seru Prastawana, “Panah?”
Narapati yang juga melihat, berbisik. “Itu barisan pemanah!”
“Awas panah!” teriak Prastawana.
Saat berikut ketika sebagian murid dua perguruan belum sadar, ratusan panah yang susul menyusul melayang diudara, menyebar menghunjam ke kubu Mahameru dan Lemah Tulis. Kumpulan panah bagaikan awan hitam yang menutup langit dan mencurah kebawah mencari sasaran. Terjadi hiruk pikuk kekacauan. Puluhan murid dua perguruan berjatuhan. Tewas.
Sebagian murid sempat mundur berlindung dibalik pohon, sebagian memutar senjata bagai titiran, melolos diri dari sergapan ratusan panah yang tidak kenal ampun. Kemudian terdengar aba-aba keras mengguntur, “serang, bunuh Mahameru dan Lemah Tulis!”
Bragalba dan Gajah Watu tak pernah mengira serangan licik pasukan pemanah. Tapi kenyataan terjadi, separuh lebih murid dua perguruan tewas. Sementara musuh yang menyerang duaratusan orang. Dua tetua ini saling pandang lalu serentak berseru keras. “Lari, lari, cepat pergi! Sekarang juga!”
Murid dua perguruan yang tersisa sekitar tiga puluhan berlarian menyelamatkan diri dipimpin Prastawana, Dipta dan Narapati. Mereka lari berkelompok, tidak bercerai berai.
Gajah Watu, Bragalba dan Rawaja menyambut serangan musuh. Tiga pendekar tua ini dengan tenaga-dalamnya yang tidak terukur lagi dan ilmu silatnya yang tinggi mengamuk. Mereka membelah kelompok murid Brantas yang meluruk maju. Setiap bergerak musuh berjatuhan, tewas.
Sepak terjang mereka yang telengas dan kejam bagaikan raksasa haus darah membuat keder musuh. Dalam sekejap mata baju dan wajah mereka keciprat darah musuh.
DILARANG COPY/MENERBITKAN/PUBLISH DI WEBSITE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!
Tigapuluhan murid Brantas tewas mengenaskan. Sepakterjang tiga pendekar tua ini tertahan ketika pendekar kelompok Linggapati datang menyerang. Terjadi tarung di tiga kelompok, delapan dewi formasi grasak petung mengepung Bragalba. Kelompok lain, Ganggati dibantu Kangsa dan Roro Gandis mengepung Gajah Watu. Kelompok lain Rawaja dikeroyok Samba, Hanggada dan Sangkala.
“Bunuh tiga kakek secepatnya, kita mengejar yang lari!” Teriak si Cebol kali Panggul yang meluruk maju mengeroyok Gajah Watu. Purocana si Gila dari Merbabu membantu Samba mengeroyok Rawaja.
Orang-orang Brantas lain mengejar kelompok Prastawana yang melarikan diri. Namun kehebatan sepak terjang tiga pendekar tua yang telah membunuh banyak murid Brantas dan menghalangi para pengejar, telah berhasil memberi waktu cukup bagi kelompok Prastawana melecut kudanya menjauh dari arena tarung.
Gajah Watu menggelar ilmunya yang paling dahsyat. Tangan kiri memainkan jurus penakluk raja, suatu pukulan tangan kosong yang angker dan menebar hawa panas. Tangan kanan dengan keris luk sebelas memainkan jurus garudamukha prasidha yang menjadi pusaka perguruan. Biasanya jurus ini merupakan pergerakan dari ilmu tangan kosong namun belakangan mengalami inovasi tarung menggunakan senjata. Itulah idea pemikiran Wisang Geni bertiga Padeksa dan Gajah Watu.
Tenaga-dalam pendekar tua dari Lemah Tulis ini sudah mencapai titik paling tinggi yang bisa dicapai hasil latihan puluhan tahun. Keris yang dia mainkan menguar hawa panas yang mengiris udara dengan suara mencicit. Tangan lainnya menebar maut dengan tepukan dan pukulan keras berhawa panas.
Kangsa dan Roro tidak berani mendekat setelah nyaris disambar dan dipatuk keris Gajah Watu. Melihat ini Ganggati menyeru dua muridnya menjauh dan menyerang dari kejauhan.
Ganggati sendiri meladeni dengan memainkan keris luk sembilan yang mengilap warna merah berhawa panas. Jurus lenyam-lenyom yang dia mainkan membuat kerisnya mematuk ke segala titik kematian tubuh lawan. Menikam, mematuk dan membabat dengan irisan tajam. Tidak terhindar beberapa kali terjadi benturan dua keris mengeluarkan suara keras dan percikan api. Tangan kiri Ganggati ikut memainkan jurus maut andalannya tapak racun panas yang menguar hawa panas.
Gajah Watu sangat perkasa. Sambil tarung menghadapi Ganggati dan dua muridnya, sekali-sekali dia melepas diri dan melabrak kumpulan Brantas. Sekali gebrak dia berhasil merenggut empat nyawa. Lalu berkelebat balik menempur Ganggati yang tentu saja bangkit amarahnya. Tetapi diam-diam Ganggati mengakui kehebatan Gajah Watu.
Sepak terjang Gajah Watu telah mengikat Ganggati dan dua muridnya serta belasan murid dan pendekar bayaran di kelompok Brantas. Mereka tak punya kesempatan mengejar para murid dua perguruan yang meloloskan diri itu.
Tidak kalah serunya sepakterjang dua tetua Mahameru, Bragalba dan Rawaja. Keduanya memainkan ilmu andalan brahmanagrha (rumah orang Brahma) diantaranya jurus dahsyat kadharmesta (kebajikan) dan amijilakna (bermanfaat) yang penuh perubahan tidak terduga.
Bragalba dikeroyok delapan pendekar wanita yang rata-rata usianya tigapuluhan murid utama Dewi Kajoran.
Delapan wanita ini mengepung Bragalba dengan formasi grasak petung yang aneh tetapi mematikan. Gerak semacam tari dengan liukan tubuh dan senyum menawan diselingi hentakan pinggul dan kaki namun dua tangan menebar hawa maut. Formasi itu sangat rapat dan kompak. Bragalba kewalahan, setiap dia menggedor salah seorang musuh, empat musuh memotongnya dengan pukulan hawa panas.
Sementara Rawaja berhadapan dengan tiga senopati lawas keraton Kediri, yakni Samba, Hanggada dan Sangkala yang dibantu Purocana dari Merbabu. Beberapa pendekar bayaran juga menyebar memasuki tarung mengeroyok tiga pendekar tua itu.
Mulanya Rawaja terdesak oleh keroyokan tiga senopati yang bersenjatakan keris. Dalam usianya yang enampuluhan tenaga-dalam Rawaja sudah sangat tinggi, dia menggunakan tangan kosong sasra ludira yang mengandung banyak perubahan dan tipuan. Terpaan dan tebasan tangan kosongnya dipergelangan tangan musuh mendatangkan rasa nyeri. Dalam duapuluh jurus, terjadi perubahan, Samba dan tiga temannya kewalahan.
Beberapa murid Brantas dan pendekar bayaran ikut menerjang masuk. Seketika itu Rawaja terdesak mundur. Dia melangkah mundur sambil menarik keluar tasbih yang terbuat dari batu granit lalu berseru. “Kangmas, kita tarung jurus gabungan.”
“Baik,” seru Bragalba yang lantas mendobrak kepungan lawan.
Dua kakak beradik ini lantas berjajar memainkan brahmanagrha yang jumlahnya 21 jurus dengan berpuluh-puluh pecahan. Bragalba memainkan kawikaran perubahan dari basis gereh (guntur) dan sedung (badai) sedangkan Rawaja menggelarnya dari basis karawistha (hiasan) dan muwun (menangis).
Jurus Rawaja biasanya jadi andalan murid wanita, namun sebagai guru dia dapat memainkan dengan sempurna. Sedang jurus Bragalba khusus untuk murid laki-laki. Jurus gabungan ini khusus dimainkan pasangan suami isteri atau pasangan kekasih karena saling mengisi, bantu membantu, bergantian menyerang dan bertahan.
Terdengar tawa Bragalba, keras. “Tak dinyana hari ini kita berdua memainkan jurus gabungan yang sudah lama tak pernah dimainkan para tetua Mahameru.”
Delapan dewi bersama Samba, Hanggada, Sangkala, Purocana, si Cebol mengepung dua jago tua ini. Tampaknya kepungan semakin rapat dengan penuh ancaman maut. Mendadak terjadi perubahan dua pendekar wanita kena gelontor pundaknya, luka parah. Sangkala kena terjangan kaki Rawaja yang melemparnya keluar gelanggang, dadanya remuk, mati.
Rawaja tertawa keras, menoleh pada Gajah Watu. “Kangmas, ayo gabung dengan kami, kita bersenang-senang bersama menikmati tarian maut para penjahat ini. Aku telah kirim beberapa penjahat ini ke neraka.”
Mendengar ajakan yang disertai tawa keras, Gajah Watu bangkit semangat tarungnya. “Baik. Tiga pendekar tua bersatu menghajar cecunguk busuk.” Seru Gajah Watu. “Kita jadikan peristiwa ini catatan sejarah buat dua perguruan kita Mahameru dan Lemah Tulis.”
Dalam posisi terdesak Gajah Watu menyerang Ganggati dengan jurus penakluk raja yang paling kejam yakni kapejah (kematian) berlebur dengan hayu (keselamatan). Angin keras menghantam Ganggati yang menahannya dengan pukulan tapak racun panas, terjadi benturan keras.
“Desss, desss, desss…”
Gajah Watu lincah mengunakan ringan-tubuh meminjam tenaga lawan melesat masuk arena tarung dua tetua Mahameru. Sambil masuk Gajah Watu menyerang Purocana yang kena gaplok kepalanya. Kontan Purocana mati ditempat dengan kepala pecah.
Gajah Watu tertawa keras. “Ini dia, persahabatan tulen kita bertiga, jalinan Lemah Tulis dengan Mahameru, bukan hanya perkawinan antara para murid kita, tetapi juga saat menyabung nyawa tiga tetua perguruan akan mati bersama.”
Bragalba tertawa sambil berseru. “Kita akan mati, tetapi kita akan mengajak banyak jiwa ikut jalan-jalan menembus lintas langit yang gelap misterius.”
Rawaja tak mau kalah menyahut. “Kita jalan menuju swargaloka, tapi mereka penjahat busuk ini kita kirim ke neraka tempat dedemit busuk berpesta pora dengan api.”
Tidak hanya berkoar, ketiga tetua ini menyebar maut lewat serangan yang kejam dan telengas. Tak ada ampun, siapa kena pasti mati atau minimal luka parah atau cacat. Berurutan Hanggada kena tampar pundaknya oleh Gajah Watu, masih untung Ganggati mengganggu sehingga senopati ini hanya luka ringan namun yang membuat dia harus keluar gelanggang.
Hadirnya Gajah Watu dalam barisan segitiga, meskipun tidak menyatu dalam ilmu dan jurus namun keberadaannya meningkatkan daya serang dua tetua Mahameru.
Hampir seratus jurus berlalu, beberapa pukulan dan torehan keris mulai menggoyah perlawanan ketiga tetua ini. Pada jurus sembilanpuluh Gajah Watu yang letih dan tubuhnya berdarah-darah dilukai senjata para pengeroyok, menggerung keras. Itulah jurus paling mendasar dari garudamukha tetapi yang paling telengas karena bertujuan membunuh atau dibunuh, jurus gongkrodha (besar amarah) dilebur dengan shuhdrawa (hancur luluh).
Ganggati menghindar sambil mendorong pundak muridnya Roro Gandis menjauh dari sasaran Gajah Watu, namun Kangsa yang berdiri dibelakangnya tidak sempat menghindar. Terpaksa Kangsa memukul dengan mengerahkan segenap tenaganya.
“Dess…. desss… desss…”
Tiga letupan tenaga terdengar keras. Kangsa berteriak keras, tubuhnya terhuyung ke belakang, muntah darah. Luka-dalam. Dia selamat karena tertolong gurunya, Ganggati, yang kaget dan lantas menyerang Gajah Watu dengan keris ampuhnya. Serangannya telengas karena ingin menolong murid kesayangannya.
Tenaga-dalam yang sudah berkurang, banyaknya luka ditubuhnya, membuat Gajah Watu tak bisa mengelak tebasan keris maut Ganggati. Keris itu mengiris melintang perut pendekar tua Lemah Tulis itu.
Perut Gajah Watu robek besar, sambil memegang perut menahan ususnya, dia melesat kedepan dengan tangan lain menghantam salah seorang murid Dewi Kajoran. Pendekar wanita itu terkejut berusaha mengelak namun sia-sia, kepalanya kena tampar, dia mati sebelum tubuhnya membentur bumi.
Berbarengan rubuhnya musuh, Gajah Watu ikut rubuh, tewas setelah mencabut beberapa nyawa pendekar pemberontak.
Bragalba dan Rawaja juga tidak luput dari kematian, Tubuhnya belepotan darah. Penuh luka tikaman senjata. Saat bersamaan tewasnya Gajah Watu, dua tetua Mahameru itu menggerung hebat. Mereka menggentak tasbihnya, seketika butiran tasbih terlepas dari ikatan. Sambil melontar butiran tasbih ke segenap arah, mereka menyerang dengan jurus maut, membunuh atau mati. Bragalba menyerang Samba dan si Cebol. Rawaja mengincar dua pendekar wanita adik perguruan dewi Kajoran.
Terdengar teriak sekarat butiran tasbih merenggut belasan nyawa murid Brantas. Dua adik perguruan dewi Kajoran mati dengan dada remuk dihantam Rawaja. Serangan Bragalba mengena, si Cebol kena gelontor kepalanya, mati ditempat. Samba sempat membungkus diri dengan jurus andalannya wrahaspati naracabala handagangi (mentari melepas seribu panah maut) membuatnya terhindar dari kematian.
Samba tak hanya menahan gempuran tetapi menyerang balik. Punggung Bragalba kena gempur, pada saat mana tikaman salah seorang murid dewi Kajoran menembus dadanya. Bragalba mati dengan senyum. Rawaja juga mati kena tusukan keris Ganggati yang kalap lantaran murid utamanya Kangsa, terluka.
Pertarungan berdarah itu selesai. Tiga pendekar tua itu tewas secara ksatria tetapi setelah memorak-poranda kelompok Brantas.
Puluhan murid Brantas mati. Kangsa murid Ganggati, terluka. Purocana dan si Cebol mati. Tiga anggota grasak petung mati, dua lainnya luka parah. Sangkala pembantu setia Samba, mati. Belum terhitung pendekar yang luka parah.
Dewi Kajoran datang terlambat. Air matanya menetes melihat tiga muridnya mati. Dua lainnya luka parah. Dia berteriak keras, macam kesetanan. Api dendamnya pada Lemah Tulis dan Mahameru berkobar bagaikan panasnya api lahar gunung berapi.
DILARANG COPY/MENERBITKAN/PUBLISH DI WEBSITE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!
Matahari belum menjulang dititik puncak tetapi pertarungan sudah selesai. Mayat-mayat bergelimpangan. Enampuluh murid dua perguruan besar itu tewas bersama tiga tetuanya. Di pihak Brantas, sekitar lima puluhan yang mati terbunuh.
Teriak kemenangan para murid Brantas menggema dikawasan itu.
Dari jauh, adipati Linggapati bersama Dedes Ayu mengamati dengan rasa puas. “Hebat, hujan panah rodra sangat mematikan. Aku puas. Pasukan rodra telah menjadi pasukan pembunuh yang paling mematikan.” Puji Linggapati kepada Pulosari.
“Tetapi sayang Wisang Geni tidak ada disini,” tukas Pulosari.
“Wisang Geni sudah mati, kalaupun dia hadir hari ini, nasibnya juga sama, mati!” Kata Linggapati dengan dingin.
Pada saat tiga tetua tarung mati hidup, Narapati dan teman-temannya berkuda menjauh dari pertarungan. Belum jauh berkuda, masih di hutan Kandangan, Narapati, berseru kepada Prastawana. “Pras, aku yakin musuh akan mengejar kita, sebaiknya kita cegat disini, ganti kita yang menyerang dadakan dan memberi kesempatan teman-teman lain lolos ke Lemah Tulis. Bagaimana pendapatmu?”
Prastawana tidak menyahut dengan kata-kata tetapi langsung bertindak. “Kita cegat disini, rimbunan pohon cocok buat bersembunyi. Ayo Pati.” Dia langsung melompat dari kuda. Semua murid ikut berhenti dan siap-siap hendak melompat turun dari kuda.
“Tidak semuanya. Kita hanya beberapa orang saja, yang lain tetap jalan terus ke Lemah Tulis, lebih cepat lebih baik. Setelah memberi kejutan dan merampas beberapa nyawa kita akan menyusul kalian!” Seru Narapati. Dia menyebut beberapa nama.
Kebo Lanang, Gajah Lengar, Daraka, Jokonang melompat turun. Murid perempuan ikut melompat Sawitri, Laras, Dyah Mekar dan Kirana.
“Aku ikut!” Teriak Dyah Mekar.
“Tidak boleh! Kamu harus pergi!” Seru Prastawana kepada isterinya Dyah Mekar. “Jangan membantah!” Tegasnya.
“Kamu juga harus pergi!” Narapati memerintah isterinya Kirana yang murid Kebo Jawa.
Prastawana berseru. “Kalian cepat pergi, waktu mendesak!”
Rombongan itu melecut kuda masing-masing mengarah Utara menuju Lemah Tulis. Narapati, Prastawana dan empat temannya memisah diri dibalik pepohonan, sebelumnya mereka mengikat kudanya ditempat yang terlindung.
“Aku tidak melihat guru kita.” Seru Jokonang.
“Sudah jelas ketika guru memerintah kita lari meninggalkan tarung, bahwa guru akan menjadi tumbal.” Seru Prastawana dengan suara haru.
“Firasatku juga sama, guru berkorban untuk menyelamatkan kita.” Tegas Narapati yang murid utama Ki Macukunda, ketua lama Mahameru.
Tak lama kemudian tampak segerombolan pengendara kuda mendatangi. “Mereka para pemanah itu.” Seru Kebo Lanang.
“Kita rebut busur dan panahnya,” seru Jokonang.
Belasan ponggawa musuh itu tidak menyangka serangan dadakan dari para pendekar itu. Dari balik pepohonan enam pendekar itu bagaikan terbang melayang ke arah musuh. Masih diudara mereka melontar dengan senjata, batu, pisau, paku.
Seketika musuh panik. Beberapa jatuh dari kuda.
Enam pendekar melanjut serangannya dengan telengas dan kejam. Teringat kematian teman-temannya yang diserang hujan panah secara licik membangkitkan amarah Prastawana dan kawan-kawannya.
Pertarungan singkat terjadi, para pemanah bukan pendekar dengan ilmu-silat mumpuni. Mereka hanya ahli dalam soal memanah, karenanya tak mampu menahan serangan kejam enam murid perguruan itu.
Enambelas pemanah itu tewas. Enam murid perguruan merampas busur dan anak panah, melempar mayat-mayat musuh ke balik pohon, dan gesit kembali bersembunyi dibalik pohon. Saat itu beberapa pendekar bayaran mendatangi dengan berlarian.
Sekali lagi secara dadakan Prastawana dan lima kawannya menyerang. Mereka melepas anak panah. Tenaga dalam yang rata-rata mumpuni menjadikan anak panah melayang pesat dengan kecepatan tinggi.
Para pendekar bayaran tidak menduga mendapat serangan anak panah yang beterbangan dari tempat tersembunyi. Beberapa orang terluka bahkan ada yang mati. Mereka panik dan kalut, bercerai berai bersembunyi dibalik pohon.
Para pengejar itu tidak tahu berapa banyak jumlah murid perguruan yang menghadang dengan panah. Melihat banyaknya panah yang menghujani mereka dan beberapa teman yang mati dan terluka, mereka menduga jumlah murid dua perguruan cukup banyak.
Tidak berlama-lama, Narapati yang mengetahui anak panah sudah menipis, berbisik pelan. “Kita lari! Sekarang!”
Enam murid perguruan itu melompat ke punggung kuda masing-masing dan melecut ke Utara. Sementara para pengejar ragu-ragu untuk mengejar, khawatir adanya jebakan. Mereka diam dalam persembunyian.
Air muka Linggapati tampak muram. Di balairung itu dia mengumpat habis kesalahan yang dilakukan pasukan pemanah. “Siapa yang memerintah mereka mengejar musuh yang lari?” Suaranya agak melengking kepada para penasehatnya.
“Hamba yang bersalah,” seru Pulosari merendah. “Tidak ada perintah. Hamba menduga mereka terlalu bersemangat ingin menghabisi musuh sampai tuntas.”
“Kejadiannya sangat mendadak, hamba tidak sempat mencegah.” Kata Samba.
“Berapa yang mati?” Tanya Linggapati.
“Enam belas orang yang semuanya mengejar musuh, mati terbunuh. Menurut keterangan Korowelang musuh menyergap dari balik pepohonan. Mereka membunuh enambelas pemanah, merampas busur dan panah, menggunakannya untuk menyerang para pengejar. Beberapa pendekar mati, lainnya luka-luka.” Tegas Pulosari.
“Selain enambelas anggota Rodra, ada orang kita yang mati?” Desak Linggapati.
Wajah Pulosari merah padam, malu. Begitu juga Samba dan penasehat lain. “Pendekar Cebol, Purocana, Sangkala, dan tiga pendekar wanita murid Kangmbok Dewi, semua mati. Tetapi pihak musuh lebih banyak yang mati!” Sahut Pulosari.
Tampak Linggapati tidak puas. Dia menggenggam tangannya sendiri. “Berapa banyak kerusakan musuh?” Tanya Linggapati, wajahnya masih tampak kesal.
“Tiga sesepuh mereka, Gajah Watu, Bragalba dan Rawaja tewas. Sekitar enam puluh musuh tewas, dipihak kita hanya enam belas pemanah. Korban lainnya, murid Brantas dan beberapa pendekar bayarannya.” Kata Pulosari.
“Sebenarnya hasilnya bagus, kalau saja enambelas pemanah itu disiplin dan tidak mengejar musuh tanpa perintah dari atasan.” Tegas Linggapati. Dia memegang tangan isterinya, lalu berkata kepada Pulosari. “Kakangmas, adakan rapat dengan semua jajaran, perbaiki kekurangan yang ada. Aku mau istirahat.”
Linggapati bersama Dedes Ayu meninggalkan ruangan menuju kamarnya. Diambang pintu dia berhenti, berbalik badan. “Kangmas Pulosari kamu memimpin teman-teman, kamu juga bertanggungjawab tidak boleh ada orang memasuki kamar pribadiku. Aku tak mau aura kamarku dikotori. Percayalah, aku pasti tahu jika ada yang masuk kamarku.”
“Baik. Aku terima tugas. Paduka hendak bepergian?” Tanya Pulosari.
“Aku bersama Dedes akan bepergian, mungkin separuh purnama atau satu purnama. Besok aku berangkat. Aku harap tuan penasehat berempat tidak menyia-siakan kepercayaan yang kuberikan.” Suara Linggapati tajam dan dingin, mengandung ancaman.
Pulosari berunding dengan Sangkapura, Dewi Kajoran, dan Samba.
“Aku akan menegur keras pasukan Rodra, kesalahan seperti itu tak boleh terjadi lagi.” Kata Samba dengan nada kesal.
Tetapi Samba tak pernah menduga adanya tiga pemanah dari enambelas yang mengejar musuh adalah mata-mata keraton. Mereka mata-mata keraton yang berhasil menyusup kedalam pasukan rodra pada saat Samba merekrut tenaga pemanah tambahan.
Seorang dari mata-mata itu tewas. Dua lainnya, Bangkira dan Sanggura pura-pura tewas terkena panah. Malam itu juga, ketika keadaan di hutan sudah sepi, dua mata-mata itu mengindap-indap, mencari kuda. Keduanya melecut kudanya menuju Selatan, tujuannya keraton Tumapel.
Malam itu Lemah Tulis dirundung duka. Semua murid berkumpul di balairung yang luas. Sebagian lain tetap berjaga-jaga ditempatnya. Sementara murid Mahameru istirahat di aula tamu. Mereka tidak ikut pertemuan yang khusus untuk murid Lemah Tulis.
Padeksa duduk sila dihadapan para murid. Air mukanya tampak kusam.
“Hidup tidak selalu diwarnai kebahagiaan dan kesenangan. Terkadang duka dan nestapa mengisinya. Sekali lagi perguruan kita dilanda duka besar. Dari empatpuluh murid, hanya sembilan yang pulang selamat. Itupun dengan luka-luka. Tetapi dengan perawatan yang telaten, akan cepat sembuh. Tigapuluh satu murid termasuk adik Gajah Watu, tewas. Tidak adanya dimas Gajah Watu, maka Lemah Tulis hanya menyisakan aku, Padeksa sebagai satu-satunya tetua angkatan. Ini menyedihkan.”
“Peristiwa tigapuluh tahun lalu jauh lebih parah dibanding sekarang ini. Namun dengan perjuangan keras kita bisa kembali mekar dan berkembang. Jasa Wisang Geni sangat besar telah mengembalikan persatuan dan kejayaan Lemah Tulis. Maka patut jika beberapa murid turun gunung mencari tahu keberadaannya. Bagaimana pun juga aku tidak percaya dia mati. Selama tidak ada yang menemukan jasadnya, selama tidak ada berita dari Sekar isterinya, selama itu juga Wisang Geni masih hidup. Aku yakin Geni masih hidup!”
“Jadi ada dua hal penting akan kita kerjakan. Mencari tahu keberadaan Wisang Geni dan membalas kekalahan di Kandangan. Tadi aku berembuk dengan Prastawana, menentukan para murid mencari Wisang Geni. Perihal balas dendam kepada Brantas belum saatnya sekarang, waktunya akan ditentukan kemudian. Balas dendam harus matang dan sekali pukul, Brantas tumpas!”
DILARANG COPY/MENERBITKAN/PUBLISH DI WEBSITE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!
Terdengar sorak teriak para murid menyambut semangat menumpas Brantas.
Padeksa mengumumkan, tiga pasang suami isteri Prastawana dan istrinya Dyah Mekar, Gajah Lengar dan Laras, Daraka dan Sawitri bertugas mencari berita tentang Wisang Geni dengan batas waktu tigapuluh hari. “Sebelum tiga puluh hari kalian harus pulang, mendapat berita atau tidak, nanti akan kita putuskan disini apa langkah lanjutnya.” Tegas Padeksa.
Pertemuan belum bubar. Prastawana dipanggil Padeksa maju kedepan untuk bicara.
“Aku hanya melaksanakan tugas untuk kebaikan Lemah Tulis. Itu pesan ketua Wisang Geni. Aku percaya dia masih hidup!”
“Aku tahu ilmu-silatnya tidak terbatas, aku yang menerima pelajaran darinya tak pernah bisa mengukur sampai dimana ujung ilmunya, tampaknya tak ada ujungnya, dia pengganti Eyang Sepuh Suryajagad, malang melintang tidak tertandingi. Jika tidak dicurangi, ketua Geni tak akan terluka.”
Murid-murid Lemah Tulis memandang Prastawana dengan kagum. Orang itu hatinya bersih dan bening, tak ada keculasan dan noda dalam hatinya, tidak ada keinginannya untuk menjadi ketua Lemah Tulis menggantikan Wisang Geni meskipun dia sudah resmi ditunjuk semua murid sebagai ketua. Itu sebab dia cepat melesat ilmunya menjadi lebih digjaya dari Padeksa maupun Gajah Watu. Kini dialah orang paling digjaya di Lemah Tulis, orang kedua setelah Wisang Geni.
Sejak ditunjuk sebagai ketua, dia banyak melakukan perubahan. Peraturan disiplin kian ketat. Dia sendiri yang mengawal peraturan, hampir setiap saat dia berada diantara para murid, bicara dan mencari tahu kekurangan dan kelebihan dirinya sebagai pemimpin.
“Aku ditunjuk paman Padeksa mencari ketua. Aku bangga mendapat tugas ini. Tetapi agak risau meninggalkan perguruan walaupun hanya tigapuluh hari. Aku sudah berunding dengan paman guru Padeksa, selama aku diluaran, paman guru menjadi penentu keputusan. Semua murid harus tunduk pada paman guru. Firasatku mengatakan diluaran ada kelompok yang ingin menghancurkan Lemah Tulis. Kekalahan kita di Kandangan jadi peringatan bagi kita. Kejadian tigapuluh tahun silam, tidak boleh terulang!”
Ketika pertemuan bubar. Semua murid kembali sibuk, Prastawana bertanya pada isterinya. “Bagaimana keadaan Jokonang? Mengapa kamu tinggalkan dia seharusnya kamu yang merawat karena kamu tahu cara mengatasi racun.”
“Kemuning kutinggalkan merawat Jokonang. Dia tahu banyak tentang racun,” sahut Dyah Mekar. Dalam hati dia berharap Kemuning, adik kandungnya berjodoh dengan pendekar Mahameru itu. Usia Jokonang empatpuluhan namun belum beristeri.
Prastawana menemui sahabatnya, Narapati dan isterinya Kirana.
“Apa rencanamu, Pati?” Tanya Prastawana.
“Besok aku dan teman-teman pulang ke Mahameru, melapor pada guru Antasena. Tetapi Jokonang belum bisa pergi, aku titip dia disini.” Kata Narapati.
“Kami tiga pasang suami isteri, aku, Daraka dan Gajah Lengar besok juga menuju Welirang, kita bisa sama-sama. Di Welirang kami singgah, kalian bisa terus pulang.”
“Begitu juga bagus. Aku masih mau banyak berbincang denganmu.”
“Tentang Jokonang, kamu tak perlu khawatir. Dia dirawat gadis cantik dan yang mengerti urusan racun.” Tukas Prastawana sambil senyum penuh arti.
Narapati tertawa. “Itu bagus, Pras. Semoga keduanya berjodoh, siapa si gadis?”
“Kemuning, dia murid ketua Geni, juga adikku, usianya dua puluh enam. Cantik dan berbudi, setia dan penurut.” Potong Dyah Mekar tersenyum bangga.
Kirana, murid Lemah Tulis yang sudah tiga tahun jadi isteri Narapati menyahut cepat. “Kangmas Jokonang sudah lama membujang, sudah waktunya beristeri, nanti biar kangmas Narapati yang memaksa dia menikah. Kemuning itu gadis yang baik, aku mengenalnya.”
Narapati memandang sahabatnya dengan mimik serius. “Pras, kematian tigapuluh sembilan murid Mahameru akan kami balas. Kami akan menyerang Brantas.”
“Tadi guru Padeksa sudah umumkan kami akan balas dendam. Tapi waktunya belum kita tetapkan. Mungkin sebaiknya kita gabung.” Kata Prastawana.
Beberapa hari setelah pertarungan Kandangan, dua mata-mata keraton, Bangkira dan Sanggura menemui Mahisa Cempaka, pangeran yang saudara permaisuri dan pimpinan kelompok mata-mata keraton. Keduanya melapor apa yang diketahuinya dari kelompok Linggapati. Markas dan jumlah anggotanya. Tetapi yang paling disoroti adalah pasukan pemanah rodra.
“Keberadaan pasukan rodra, suatu ancaman bagi keraton.” Tukas Mahisa Cempaka. “Jadi kalian tidak tahu kapan waktunya pemberontak itu beraksi?”
“Mohon ampun beribu ampun, paduka pangeran. Waktu tepatnya, tak seorang pun yang tahu, tetapi perkiraan hamba, begitu persiapan pasukan rodra sudah sesuai yang diinginkan maka itulah waktunya mereka menyerang.” Kata Bangkira.
“Apa yang kalian tahu mengenai persiapan pasukan rodra?”
“Persiapan mereka dari hari ke hari makin terlatih. Tetapi sampai saat ini, mereka belum bisa menyamai kemampuan pasukan pemanah alap-alap keraton.” Jawab Bangkira.
“Kualitasnya bagaimana?” Desak saudara permaisuri Tumapel.
“Mohon ampun paduka pangeran. Untuk menyamai kualitas pasukan alap-alap, mereka butuh enam bulan latihan. Apalagi hanya segelintir dari mereka yang berpengalaman dalam pertempuran. Kemarin mereka memperlihatkan hasil latihan dengan membunuh banyak murid Mahameru dan Lemah Tulis, tetapi kualitasnya belum sepadan dengan pasukan alap-alap kita.” Tutur Bangkira.
Mahisa Cempaka bergegas masuk istana menemui Raja.
“Laporan dua mata-mata tadi memperkuat dua laporan lain tentang kekuatan Linggapati. Mereka benar-benar sedang mempersiapkan pasukan. Tampaknya keraton harus beraksi segera membasmi kelompok pemberontak itu, sebelum pasukan mereka makin kuat,” kata Mahisa Cempaka ketika menemui Raja dan permaisuri di kamar istirahat penguasa Tumapel itu. Hanya Mahisa Cempaka yang memperoleh kebebasan masuk ruangan pribadi, itupun setelah melewati ijin Ranggawuni.
Raja Ranggawuni menoleh pada isterinya, permaisuri Waning Hyun. “Hyun, mimpimu benar-benar kejadian, kelompok makar itu bagai ular raksasa yang mengincar kepalaku. Ular raksasa itu adalah Linggapati, dan dia semakin besar dari satu hari ke hari esoknya.”
“Apa rencanamu kangmas Baginda?” Tanya permaisuri cantik itu.
Raja tidak menjawab langsung, tetapi berkata kepada Mahisa Cempaka. “Dimas, utus orang memanggil pulang Pamegat secepatnya. Adakan pertemuan kita berempat.”
Mahisa Cempaka tertawa. “Aku laksanakan!”
Hubungan Ranggawuni dengan dua bersaudara Mahisa Cempaka dan Waning Hyun sudah terjalin akrab jauh hari sebelum Ranggawuni menjadi raja Tumapel. Karenanya jika hanya bertiga, pembicaraan tak lagi menggunakan basa-basi dan tatakrama keraton.
***
No comments:
Post a Comment