Sunday, July 24, 2011

Wisang Geni part Two Bab 8

Kutukan Keris Berdarah

By John Halmahera

Bab Delapan

Lembah Kera

Setelah makan Sekar rebah disisi suaminya, sekali-sekali tangannya meraba dada kekasihnya yang bidang, merasakan nafas laki-laki itu. Berjaga-jaga jika Wisang Geni sulit bernafas. Dia ingin memastikan dada bidang itu tetap bergerak petanda masih ada kehidupan.

Sore baru saja berganti malam. Keadaan kuil tidak sepenuhnya gelap, ada berkas sinar rembulan yang menerobos masuk dari dinding dan pintu maupun atap yang berlubang.

DILARANG COPY/MENERBITKAN/PUBLISH DI WEBSITE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!

Mata Sekar yang setengah terpejam diserang kantuk berat, bergerak-gerak. Telinganya seakan tegak. Dia mendengar suara kaki kuda, pelahan tapi cukup jelas. Kuda tidak berlari, tapi melangkah pelahan.

Tiba-tiba Sekar sadar, “ada orang.” Bisiknya.

Terdengar bisikan Wisang Geni. “Tetap disini, jangan keluar.”

Tangan Sekar memeluk suaminya, mencium leher dan pipi orang yang dia cintai. “Tak akan kubiarkan siapa pun menyakitimu.”

Dia berduka. Sebelumnya tak pernah dia mengalami keadaan tak berdaya sebagaimana sekarang. Biasanya dia bersandar pada kemampuan suaminya. Kini terbalik, dia harus melindungi suaminya yang terluka parah.

Langkah kaki ringan memasuki kuil. Beberapa saat langkah berhenti. Sekar membayang orang itu pasti berhenti didepan arca Batari Laksmi. Tadi dia sudah meneliti ruangan kuil dan bisa mengira-ngira. “Dari getar langkahnya, dia seorang diri, pasti bukan Gayatri, karena perempuan itu pasti berdua bersama Arjapura. Lalu siapa orang ini, apakah pengunjung biasa? Seorang yang kebetulan kemalaman di jalan?” Pikirnya.

Sekar mendengar dengan teliti ketika mendengar orang itu bersuara, seperti bicara dengan diri sendiri. Suara perempuan. Suara yang dibalut rasa sedih, terdengar isak tangisnya.

“Aku nginap disini. Diluar gelap, aku takut. Oh seandainya dia berada disisiku pasti aku tidak takut. Mengapa dia ingkar janji? Dia hanya mau tubuhku padahal aku mencintainya. Tadinya aku hendak mencarinya didesa Kandangan. Tapi ditengah jalan berubah. Buat apa? Tak ada gunanya, dia tidak mencintaiku. Maunya cuma bersenang-senang dengan tubuhku. Lagipula disisinya ada Sekar yang lebih cantik.” Terdengar suara tangis memelas.

Sekar heran mendengar namanya disebut-sebut. “Ah mungkin Sekar yang lain, di tanah Jawa banyak perempuan bernama Sekar. Tapi siapa perempuan ini?” Bisiknya dalam hati.

Rasa penasaran dan ingin tahu mengganggu benaknya, Sekar berbisik ke telinga suaminya. “Kamu diam disini, aku mau ngintip.”

Tak ada jawaban. Dia meneliti suaminya. Rupanya Wisang Geni tidur lelap. Takut suara ngorok suaminya terdengar oleh perempuan itu, Sekar menotok urat leher suaminya.

Sekar melangkah ke batas dinding, dia tak berani terlalu jauh dari Wisang Geni, demi keselamatan suaminya.

Dia memandang ke bagian dalam kuil. Agak samar namun cukup jelas, dibawah sinar bulan yang menerobos atap kuil tampak punggung seorang perempuan rambut panjang, duduk melipat kaki di depan arca Dewi Laksmi.

Terdengar lagi suara perempuan itu. Suaranya merdu meski bercampur isak tangis.

“Aku tidak bisa membenci dia, aku mencintainya, semoga dia hidup bahagia bersama isterinya. Kupikir lebih baik aku bunuh diri. Tak ada gunanya aku hidup jika tidak bisa bersama laki-laki yang kucinta.

“Katanya dia mencintai aku, tapi mengapa dia meninggalkan aku? Pergi tak pernah kembali? Dia janji akan menjemput aku dan mengenalkan dengan mbakyu Sekar. Apa salahku? Apakah memang ada kesalahanku?”

Hening sesaat lalu terdengar isak tangisnya. “Mungkin dia lupa, tapi aku tak pernah lupa pengalaman di lembah itu, hidup sebagai suami isteri, bercinta setiap hari. Tak mungkin aku bisa melupakan dia. Aku tidak tahan merindu seperti ini. Lebih baik bunuh diri.”

Tiba-tiba ada angin sejuk mengelus punggung dan lehernya.

“Oh Dewi Laksmi, kamu datang menemuiku?” Dia menoleh ke belakang. Tapi tak melihat seseorangpun.

Seketika Sekar mengagumi wajah cantik dengan rambut panjang riap-riapan. Sinar bulan yang samar dengan latar belakang gelap, tak bisa menyembunyikan kecantikan alamiah yang begitu memesona. Sekar terpesona.

Sekar tidak mengenalnya, tetapi ada firasat suka. Sekilas dia menyimpulkan sebagai gadis polos dan jujur.

Mendadak saja timbul idea liarnya, ingin tahu siapa laki-laki yang membuat si gadis patah hati. ”Dan Sekar yang disebutnya, Sekar yang mana, Sekar diriku? Apakah laki-laki yang dimaksud itu Wisang Geni?”

Sekar menggunakan tenaga-dalam tingkat tinggi mengirim bisikan ke telinga si gadis. “Aku bukan Dewi Laksmi, aku nenek Astika penjaga kuil ini, aku sakti, kesaktianku tak ada tandingannya, siapa gerangan kamu, anakku?”

Atis celingukan mencari-cari. “Aku … aku … namaku Atis. Tapi kamu di… ma .. na…? Siapa itu Nenek Astika…?”

“Kamu tak bisa melihat aku. Tapi aku akan menolongmu Atis, katakan siapa laki-laki itu?” Sekar mengubah suaranya semerdu dan semesra mungkin. Saat itu dia teringat Geni mengaku telah mengawini gadis bernama Atis, cucu Ki Sagotra. ”Dia inikah Atis itu?”

“Aku mohon ampun Nenek, tapi sungguh aku tak mau hidup lagi.” Kata Atis.

“Katakan mengapa ingin bunuh diri, dan siapa laki-laki yang kurang ajar yang telah membuat kamu begitu nelangsa? Benarkah dia Wisang Geni?”

“Memang benar. Dia Wisang Geni, ketua Lemah Tulis. Bagaimana kamu bisa tahu namanya? Tetapi dia tidak kurang ajar, aku mencintainya!”

Sesaat Sekar terkejut. Refleks dia menoleh memandang suaminya dari jauh. Wisang Geni masih tidur pulas. Dia berbisik kepada Atis. “Sudah kukatakan, aku sakti, itu sebab aku tahu namanya. Katamu dia tidak kurangajar, tapi dia meniduri kamu, lalu meninggalkan kamu.”

“Oh tidak begitu Nek. Kami sudah jadi suami isteri. Dia istimewa, aku tidak menyesal menjadi isterinya meskipun kini dia meninggalkan aku, aku tetap mencintainya Nek.”

“Ceritakan semuanya Atis supaya hatimu lega, supaya aku bisa menolongmu.”

Atis menceritakan pengalaman sejak luka parah oleh pukulan si Jubah Hitam dan hanya bisa ditolong Wisang Geni dengan membawanya ke lembah kera. Lukanya sembuh dalam beberapa hari, mereka menjadi suami isteri dan menetap selama tigapuluh hari.

“Katanya dia mencintai aku. Dia akan mengenalkan aku dengan mbakyu Sekar, isteri yang sangat dia cintai. Meskipun menjadi pelayan mbakyu Sekar dan isteri-isterinya yang lain, aku mau saja. Aku hanya ingin berada didekatnya.”

Timbul sifat jenaka dan nakal Sekar untuk menggali lebih banyak perasaan wanita muda. “Tetapi kalau nomor buncit, kapan kamu dapat giliran bercinta dengan suamimu?”

“Aku punya rencana membujuk mbakyu Sekar supaya dapat giliran bercinta. Kata mas Geni, mbakyu Sekar bijaksana dan welas asih. Aku akan manut pada mbakyu Sekar.”

“Wisang Geni berjanji akan mengenalkan kamu dengan Sekar?” Tanya Sekar. Dalam hati dia memaki suaminya. “Dia merayu Atis menggunakan namaku, memang Geni itu perayu ulung. Semua isterinya terbujuk rayuannya, tidak heran karena kita semua perawan bodoh yang tak punya pengalaman dengan lelaki.” Sekar tersenyum, bukannya marah malah dia merasa geli akan kelakuan suaminya.

Atis tak lagi menangis, suaranya terdengar riang, terbayang pengalamannya bercinta dengan Wisang Geni. “Benar Nek, dia janji membawaku ke mbakyu Sekar. Katanya mbakyu Sekar pasti mau menerimaku sebagai anggota keluarga, katanya kalau mbakyu Sekar setuju maka isteri lainnya akan manut. Mbakyu Sekar itu permaisuri, yang lain itu selir.”

Sekar tertawa dalam hati. “Atis ini benar-benar lugu, mau saja dibohongi mas Geni.” Dia menoleh lagi memandang suaminya yang tampak tidur pulas. “Belum puas-puasnya dia menggoda dan meniduri perempuan bahkan gadis lugu ini pun tak luput dari godaannya.”

“Atis, usiamu berapa?” Desaknya.

“Kalau dihitung-hitung, kata kakek, usiaku tujuhbelas tahun, tapi aku sudah dewasa, sangat pantas jadi isteri kangmas Geni.”

Sekar diam sejenak. Dia bergerak pesat ke sisi suaminya, memerhatikan suaminya dengan cermat. Benar-benar suaminya tidur pulas. Dia balik ke tempat semula, mengintip Atis.

Mendadak dia terkejut, memergoki Atis memegang keris. Ujung keris dihadapkan ke dada persis dibagian jantung. “Nek selamat tinggal, kamu cari Wisang Geni dan katakan padanya aku mencintainya dan selalu mengingatnya. Aku berharap semoga dalam kehidupan yang akan datang aku bisa menjadi isterinya, katakan Nek.”

Sekar melayang pesat sambil membentak. “Hei goblok. Atis! Buat apa bunuh diri!” Dia memukul jatuh keris dari genggaman Atis.

Gadis itu terkejut mendengar bentakan yang keras. “Ohhh… siapa….?“ Dia menoleh ke belakang. Sesaat tubuhnya kejang, terkejut lalu ketakutan mewarnai wajahnya yang pucat pasi ketika memandang sosok wanita yang tiba-tiba muncul didepannya.

“Siapa kamu? Kamu bukan Nenek itu?” Atis bertanya dengan gemetaran.

“Aku Sekar, isteri Wisang Geni.” Suaranya diucapkan selembut mungkin.

“Oh mbakyu Sekar.” Suaranya bergetar menyimpan rasa takut dan malu. Dia merunduk sampai kepalanya menyentuh kaki Sekar. “Kamu mendengar semuanya? Oh ampuni aku, mbakyu. Aku pantas dihukum.” Dia mencium kaki Sekar, kemudian memeluk mencium lutut isteri Wisang Geni itu. “Ampuni aku, mbakyu.”

“Kesalahanmu besar, kamu kawin dengan Wisang Geni suamiku?” Desak Sekar.

“Ampun, ampuni aku, mbakyu. Bunuh saja aku. Tadi aku sudah tekad bunuh diri, bunuh aku, mbakyu. Aku rela dan nerimo, tak ada dendam.” Suara Atis ketakutan.

“Kamu mencintai Wisang Geni? Seberapa besar cintamu?”

Atis diam, tak berani menjawab.

Sekar membentak. “Jawab dengan jujur, seberapa besar cintamu pada Wisang Geni?”

Atis memberanikan diri. “Bagaimanapun juga aku akan mati, bunuh diri atau dibunuh, sama saja, jadi kenapa harus takut?” Lalu dia menjawab dengan suara tegas. “Tak ada lelaki lain dalam hidupku, aku mencintainya melebihi nyawaku sendiri. Aku mencintainya sejak belum bertemu dengannya, sejak usiaku sepuluh tahun.”

“Lantas padaku, aku kan isteri Wisang Geni, apakah kamu merasa bersalah padaku?” Tegas Sekar dengan suara galak yang dibuat-buat.

“Tak ada maaf. Aku sudah mencuri suamimu. Bunuhlah aku, sebagai ganti kesalahanku!” Suara Atis bergetar, tetapi kini lebih tegas.

“Benarkah kamu mau serahkan nyawamu padaku?”

“Iya mbakyu, bunuh aku saja, aku tidak dendam ... atau biarkan aku bunuh diri saja didepanmu. Jika aku mati urusanku juga beres.” Kata Atis tegar.

“Kamu mencintai suamiku, itu dosa besar. Kalau sekarang aku setuju kamu sebagai isteri Wisang Geni, apa yang akan kamu berikan padaku?” Tanya Sekar.

Atis terkejut, wajahnya pucat. Bibirnya gemetar. “Aku tidak mengerti, apa… apa maksud mbakyu?”

“Aku akan terima kamu sebagai isteri Wisang Geni, apa balas jasamu padaku?”

Atis terkejut tapi sekilas mengerti bahwa wanita didepannya sedang menggodanya, mengolok-oloknya. Dia menjawab sekenanya. “Aku rela menyerahkan nyawaku padamu.“

Sekar melotot. “Aku tidak mau nyawamu, tak ada gunanya membunuhmu.”

Kali ini Atis sadar pertanyaan Sekar itu tidak main-main melainkan serius. “Aku akan manut dan setia padamu. Tapi mbakyu, kamu tidak sungguh-sungguh.“

“Aku sungguh-sungguh, Atis. Aku terima kamu menjadi keluargaku, menjadi isteri Wisang Geni suamiku.“

Atis yang masih dalam posisi jongkok memeluk lutut Sekar, bergetar tubuhnya. Dia mencium lutut Sekar. “Mbakyu, jadi kamu sunguh-sungguh?”

Sambil mengelus ubun-ubun si gadis, Sekar menjawab lirih. “Aku sungguh-sungguh.”

Atis menangis bahagia. Dia tetap memeluk menciumi lutut Sekar.

Suara Sekar terdengar sendu. “Atis, apakah bicaramu bisa dipercaya?”

Gadis itu menyahut dengan suara tegas. “Dewi Laksmi menjadi saksi, aku bersumpah setia padamu, akan membela kamu dan kangmas Geni, aku akan mengabdi padamu mbakyu, semua perintahmu akan kulaksanakan.”

“Sumpahmu berat.”

“Rasa terimakasihku padamu dan cintaku pada kangmas Geni melebihi kepentinganku.”

“Kalau memang cinta kangmas Geni, sekarang waktunya kamu menolong dia.”

“Menolong Mas Geni? Ada apa mbakyu?” Atis bingung mendengar kata-kata Sekar.

Saat berikut Sekar mendorong bahu Atis, membantu gadis itu berdiri. Kaki Atis masih gemetaran sehingga berdirinya tidak tetap. “Bangun Atis. Sekarang ini Mas Geni sekarat, antara mati dan hidup, aku sedang berburu waktu untuk menyembuhkannya.”

Kali ini Atis terkejut bagai disengat kalajengking. “Aduh kangmas Geni kenapa? Oh mbakyu mengapa dia luka? Sekarat? Dia sekarat?” Atis bingung.

Sekar menarik tangan Atis, mengajaknya ke belakang pembatas bilik. “Cukup sudah, jangan bertanya lagi, kita bergantian berjaga, aku khawatir pengejarnya akan tiba disini.”

Ketika melihat keadaan Wisang Geni yang menggeletak di tanah, Atis membekap mulut sendiri. Suara gagapnya terdengar. ”Oh Mas Geni kenapa? Siapa melukainya?”

“Sudah dua hari berkuda, aku sangat lelah dan mengantuk.” Sekar mengeluh.

Mendadak kependekaran Atis muncul. Pikirannya jernih seketika. “Sekarang sudah larut malam. Kamu tidurlah, biar aku yang berjaga-jaga, besok pagi aku bangunkan kamu dan kita pergi membawa kangmas Geni? Kita kemana?”

“Gunung Lejar!”

“Maksudmu lembah kera di gunung Lejar?” Tanya Atis.

Sekar mengangguk. “Kamu tahu?” Sebenarnya Sekar sudah mendengar dalam keluh-kesah tadi Atis menyebut pernah ke lembah kera bersama Wisang Geni.

“Aku pernah kesana mbakyu, aku tahu jalannya, masih ingat!”

Sekar seakan mendapat sesuatu yang paling berharga. “Sungguh kebetulan yang mahal nilainya. Baiklah, sekarang kamu berjaga-jaga. Bangunkan aku jika ada orang datang.” Dia merebahkan diri disisi suaminya, tangan memeluk suaminya.

DILARANG COPY/MENERBITKAN/PUBLISH DI WEBSITE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!

Sekar tidur pulas, begitu juga Wisang Geni.

Matahari memperlihatkan tanda-tanda akan muncul. Sinarnya yang merah kuning menerobos kuil. Atis sibuk mengumpulkan kayu bakar dan bahan makanan. Dia menguliti ayam hutan, mengolesnya dengan bumbu lalu menyalakan api.

Dia sedang memanggang santapan lezat itu ketika Sekar bangun menghampiri. “Aduh baunya harum, kamu pakai bumbu apa?”

“Bumbu darurat mbakyu. Tidak banyak bahan yang kuperoleh, tapi lumayan untuk sarapan supaya kita bisa jalan jauh.”

“Kamu pintar masak rupanya.” Teringat sesuatu Sekar beranjak dari duduknya. “Kamu jaga kangmas Geni, aku mau cari bahan ramuan obat.”

Atis tersenyum. “Baik mbakyu, sebaiknya ke arah Timur, kemarin sore aku melewatinya, disitu banyak rumput dan bunga-bunga liar, mungkin yang kamu cari ada disitu.”

Atis memandang keluar, embun dan kabut agak tebal menghalangi sinar mentari.

Tiba-tiba dia dikejutkan suara Wisang Geni, suara lirih tak bertenaga. “Sekar apa yang kamu masak? Baunya harum, pasti lezat, aku sudah lapar.”

Sejak tadi malam Atis hanya bisa memandangnya dalam keadaan tidur. Wisang Geni bahkan belum tahu keberadaannya.

Jantungnya memukul keras saat dia berpikir akan menghampiri lelaki yang dicintainya. Dia ragu melangkah, tapi memberanikan diri menyahut. “Mbakyu sedang pergi mencari ramuan obat, aku yang masak.”

“Siapa kamu?” Tanya Wisang Geni, nadanya curiga, khawatir terjadi sesuatu pada Sekar.

“Aku Atis, kangmas.” Suara Atis parau, dia cemas, khawatir Wisang Geni ingkar janji dan tak mau mengakuinya sebagai isteri.

“Atis? Atis?”

“Iya aku Atis isterimu, kamu lupa? Kita sudah ikrar sebagai suami isteri di lembah kera.” Suara Atis kini bercampur tegang.

Senyap seketika. Hening. Tak ada suara.

Lalu terdengar suara Wisang Geni. “Kamu Atis isteriku?”

“Oh kamu masih ingat aku, kangmasku?”

“Iya tak mungkin aku lupa.” Kata Wisang Geni, suaranya lirih, lemah.

“Janjimu, tigapuluh hari akan menjemputku.” Suara Atis agak manja.

“Maafkan aku. Ehh bagaimana kamu sampai disini?” Lanjut Wisang Geni dengan suara parau. “Kemari mendekat, aku ingin memandangmu.”

Atis melangkah mendekat, “tak boleh lama-lama nanti ayamnya gosong.”

Masih dalam posisi berbaring telentang Wisang Geni memandang teliti. Gadis itu masih cantik dan seksi seperti diawal pertemuan.

Gadis itu berdiri dan melangkah kembali sambil berkata. “Nanti ayamnya gosong.”

“Eh Atis bagaimana kamu bisa sampai dikuil ini?” Serunya agak keras.

Sambil membungkus ayam yang sudah matang dengan daun waru, Atis manggang potongan lainnya. “Ceritanya panjang. Aku putus asa, lalu berpikir mengejar kamu ke Kandangan. Tapi ditengah jalan berubah pikiran, aku terus ke Selatan, akhirnya aku tersesat ke kuil ini.”

“Kamu ketemu Sekar? Disini?”

Atis tertawa. “Iya dan mbakyu bersedia menerima aku jadi bagian keluargamu, sebagai isterimu.” Dia diam sejenak, menanti reaksi Wisang Geni. Lalu melanjutkan dengan suara bergetar. “Aku pikir mbakyu Sekar menyukai aku.”

Gadis itu menghirup nafas panjang lalu menghembusnya pelan-pelan. “Aku akan membantu mbakyu Sekar mengantar kamu ke lembah kera.” Kata Atis.

“Kamu tahu kita akan ke lembah kera?”

“Iya mbakyu yang memberitahuku.”

“Kamu masih ingat jalan kesana?” Desak Wisang Geni.

“Dulu kamu memuji kecerdasanku, ingatanku sangat tajam, apa yang sudah kulihat atau kudengar akan teringat terus.” Tutur Atis dengan pamer mulutnya yang indah memesona.

“Sungguh kebetulan, karena Sekar belum tahu jalan kesana.” Tegas Wisang Geni.

“Tidak usah khawatir, tidak akan tersesat kalau aku jadi penunjuk jalan.” Atis melompat berdiri. ”Ayamku gosong nanti.”

Tidak berapa lama Sekar datang, menghampiri suaminya. “Bagaimana keadaanmu?”

“Mulai sakit lagi. Obat Susmita hanya menahan sakit selama sehari.”

“Aku sudah dapatkan beberapa ramuan, daun-daun paku tiang, paku sutra, saninten, pulosari, sintok, hanya ki jowo yang belum ketemu. Mungkin ditengah jalan akan ketemu.”

Suara Atis menengahi. “Mbakyu, katamu daun ki jowo? Aku tahu. Warnanya kuning kemerahan, iya kan?”

“Benar. Dimana kamu melihatnya?” Tanya Sekar bersemangat.

“Mbakyu, lanjutkan manggang ayam beberapa potong ini untuk bekal kita di jalan. Aku pergi ambil daun ki jowo.” Gadis itu pergi tanpa menunggu jawaban Sekar.

Sekar tertawa. “Atis itu lugu dan setia.” Dia menoleh ke suaminya. “Kamu keterlaluan, hampir dia bunuh diri karena kamu tinggalkan tanpa pamit.”

“Aku sudah minta maaf padanya.” Kata Wisang Geni.

“Dia mencintamu, perlakukan dia sebagaimana isterimu.”

“Sekarang ini aku lumpuh, tak punya tenaga.”

“Kamu akan sembuh.” Suara Sekar mengandung semangat dan keyakinan besar.

“Tak mungkin sembuh, kekasihku.”

“Kau pasti sembuh! Aku akan membawamu ke lembah kera, mengobatimu dengan ramuan nenek, aku akan merawatmu, setiap saat aku disisimu.”

“Aku hutang nyawa padamu isteriku, jika tidak kau tolong.” Kata Wisang Geni.

“Tunggu dulu, aku masih punya satu lagi pil penyambung nyawa dari Susmita.” Dia memasukkan pil salju ke mulutnya, menunggu lumer.

“Buka mulutmu.” Kata Sekar yang kemudian mencium mulut suaminya, mendorong lumeran pil salju ke dalam mulut suaminya. “telan Mas.”

“Sekar kamu dewi penolongku.”

“Semua yang kulakukan karena cinta dan kewajiban seorang isteri.”

Tiba-tiba wajah Wisang Geni berubah, tampak duka. “Mengapa Gayatri memukulku? Sungguh aku tidak mengerti. Sulit bagiku untuk mengerti.”

“Mengapa kamu masih memikirkan dia?” Sekar tidak puas.

“Tak mungkin aku melupakan dia.”

Suara Sekar meninggi. “Apa? Kamu masih mengingatnya, mencintainya?”

“Bukan. Bukan itu. Aku tak bisa lupa perbuatan Gayatri padaku, memukul aku dengan curang, memberi kesempatan laki-laki itu membunuhku, itu yang tak bisa kulupa.”

“Kamu mau memaafkan dia?” Suaranya masih saja tinggi. Sekar tampak emosional.

Atis yang sudah kembali dan sempat mendengar percakapan yang sarat emosi dan amarah, jadi bingung. Dia bertanya-tanya dalam hati. “Ada apa dengan Gayatri, apakah dia yang melukai kangmas Geni?”

“Tidak. Aku tak pernah memaafkan orang yang mengkhianati aku, siapa pun dia!” Suara Wisang Geni datar, tawar tanpa emosi. “Sekar dan juga kamu Atis. Camkan kata-kataku. Tak boleh ada balas dendam atau sakit hati pada Gayatri. Hindari tarung dengan Gayatri.”

Mata Sekar berkaca-kaca, sakit hati, mengapa sampai detik ini suaminya masih mencintai Gayatri setelah perbuatan culasnya itu. “Apa alasanmu?” Suaranya serak menahan isak.

“Aku tak mau anakku Anggreni terlibat pertikaian antara kamu dan Gayatri, nantinya Antaseno ikut terlibat. Dan dua saudara itu akan tarung masing-masing membela ibunya. Mau jadi apa keluargaku, anak-anakku saling bermusuhan? Aku tak mau itu terjadi!” Suara Wisang Geni terdengar lirih namun mengandung ketegasan dan ancaman.

Sekar sadar. “Baik aku manut, tidak akan tarung dengan Gayatri demi Seno dan Angga. Tapi aku penasaran ingin tahu jawabanmu yang jujur, apakah kamu akan menghukum Gayatri atau menerimanya kembali?”

Wisang Geni menggeleng. “Aku tidak akan membunuhnya karena dia ibu dari Anggreni. Tetapi akan menghukum dia, apa hukumannya aku belum tahu.” Dia kemudian memejam mata. “Tak perlu bicarakan perempuan itu lagi!”

Sekar tahu suaminya marah.

Dia membungkuk, memeluk dan berbisik mesra. “Maaf kangmas, aku minta maaf. Jangan marah padaku. Jika kamu marah padaku, duniaku pasti akan gelap gulita.”

Wisang Geni diam tak menyahut. Tangannya meraih kepala isterinya dan mengelus-elus rambut panjangnya. “Bagaimana mungkin marah padamu.”

Takjub, melihat pemandangan itu, dalam hati Atis memuji Sekar. “Cepat sekali dia minta maaf, meskipun aku tak melihat kesalahannya, pantas mas Geni mencintainya. Aku harus belajar banyak dari perilaku mbakyu Sekar.”

Teringat sesuatu Atis berkata lirih. “Mbakyu, aku membawa daun ki jowo.” Dia memperlihatkan seonggok daun.

Sekar memandang sekilas, membenarkan. “Benar itu ki jowo, ehh Atis, suami kita sudah kelaparan. Ayo kita makan dulu, setelah itu berangkat.” Dia berhenti sejenak, bangkit duduk sambil berkata. “Adikku, bungkus makanan untuk bekal dijalan.”

Gadis itu mengangguk. “Sudah siap semua, mbakyu.”

Mereka makan dengan lahap.

Wisang Geni memandang dua isterinya, bergantian. “Kamu belum menceritakan keadaan Manohara dan Prawesti. Dan bagaimana kamu bisa meloloskan aku?”

Matanya berkaca-kaca. Sekar menahan isak.

“Semua kita luka parah. Itu tarung yang paling mengerikan, sekarang aku mengerti kata nenekku, seseorang yang terancam jiwanya akan sanggup mengeluarkan kekuatan melebihi tenaganya. Itulah yang kulakukan ketika meloloskan diri bersamamu.”

Dia menceritakan detil kejadian mengerikan itu. “Kalau saja Mano dan Westi tidak menyerang penjahat itu, aku tak akan bisa menolongmu. Mereka berdua menyerang tanpa memikirkan keselamatan diri. Tetapi penjahat itu memiliki ilmu-silat tinggi dan tenaga-dalamnya tangguh.”

“Siapa dia?” Tanya Atis.

“Dia Arjapura, putranya mati dalam tarung dengan Mas Geni,” Kata Sekar.

“Balas dendam.” Kata Atis.

Wisang Geni memotong pembicaraan. “Teruskan ceritamu.”

“Dari atas kuda aku menoleh ke belakang, kulihat Westi dan Mano kena pukulan telak, aku tidak tahu apakah hidup atau mati.”

“Firasatmu bagaimana? Mereka tewas?” Suara Wisang Geni bergetar, haru.

Sekar diam. Matanya berkaca-kaca. Dia tidak perlu menjawab.

“Kasihan, mereka mati membela aku.” Wisang Geni merunduk, suaranya penuh duka.

“Belum ada kepastian mereka mati.” Suara Sekar lirih mengandung keragu-raguan.

“Apakah mungkin selamat? Arjapura kejam dan berilmu tinggi, dia pasti akan membunuh orang-orang dekatku.” Tegas Wisang Geni dengan suara parau.

Mata Sekar berkaca-kaca. “Aku mengharap mereka lolos dan selamat.”

DILARANG COPY/MENERBITKAN/PUBLISH DI WEBSITE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!

Mereka melakukan perjalanan cepat.

Atis menjadi penunjuk jalan, dia masih ingat liku-liku jalanan.

Ditengah jalan Sekar membuat ramuan dan meminumkan pada suaminya. Dia yakin ramuannya akan menyembuhkan suaminya.

Dari kuil mereka menuju Selatan lalu potong arah menuju ke Timur.

Hari ketiga sore menjelang malam, mereka tiba di kali Doho.

Wisang Geni berdiri di tepi sungai mengamati lereng pendakian. “Kita bermalam disini, besok pagi langsung mendaki menuju Utara, sekitar siang hari tiba di lereng Selatan bukit Lejar.” Dia menghirup udara pegunungan yang sejuk.

Saat tiba di bibir jurang, hari masih siang. Matahari sedang terik. Jurang tampak berkabut, pandangan mata tak bisa menembus ke bawah. Sekar bingung. Apalagi Wisang Geni sudah tak bertenaga lagi, lukanya makin parah. Tubuhnya limbung, Sekar cepat memeluknya.

Keadaan makin sulit. “Bagaimana caranya membawa suamiku turun ke dasar jurang?” Sekar bertanya kepada diri sendiri. Pertanyaan yang tak bisa ditemukan jawabannya.

“Mbakyu, aku ingat jalan turun yang lebih mudah, ketika mas Geni membawa aku turun.” Seru Atis bersemangat.

Keduanya memapah Wisang Geni. Tiba disana, persoalan lain muncul. “Sulit memapah mas Geni sebab jalannya sempit hanya cukup untuk seorang.” Kata Atis.

Sekar memandang Atis, saling pandang. “Biar aku yang menggendong.” Suara Sekar mengandung keraguan.

“Mbakyu, kangmas pingsan, tidak mungkin mbakyu menggendong dipunggung. Bahaya, bisa lepas dan jatuh. Mungkin bisa jika kangmas diikat menjadi satu dengan tubuhmu.”

Mata Sekar berbinar. “Dasar cerdas. Ayo kita cari tali.”

Atis mencabut kerisnya. Dia melayang ke salah satu pohon, mengulitinya dengan cepat lalu memotong kecil-kecil memanjang, menyerut agar halus lalu memintal menjadi tali.

Dia mengatur letak tubuh suaminya dipunggung Sekar kemudian mengikatnya erat. Tak lupa dia membawa seutas tali panjang, ujungnya diikat batu sebesar dua kepalan tangan.

“Mbakyu aku didepan.” Kata Atis.

“Kamu tahu jalannya Tis, masih ingat?”

“Aku masih ingat.”

Keduanya mulai menuruni jurang.

Pada beberapa bagian jalan yang terpotong, Atis melempar batu yang diikat dengan tali. itu. “Kata kangmas Geni, satu dua dua, satu satu lalu dua terus lompat sepuluh.”

“Apa maksudmu?” Tanya Sekar.

“Didepan ada bagian jalan yang hilang. Jarak antara ujung satu dengan ujung lainnya akan diukur dengan lemparan batu. Semuanya ada tujuh bagian yang hilang, kalau salah pijak kita jatuh kebawah, mati.” Suara Atis bergetar dan serak saking tegangnya.

Sekar ikut-ikutan tegang. “Tis, hati-hati Tis.”

Mereka jalan pelahan-lahan. Atis di depan, Sekar di belakangnya.

Setiap pandangannya terhalang kabut, Atis melempar batu ke depan. Mendengar jatuhnya batu, dia bisa mengetahui ada tidaknya jalanan didepan.

Sepenanakan nasi Atis mewaspadai adanya bagian jalan yang hilang. “Ini yang pertama, mbakyu.” Dia melempar batu. Terdengar bunyi batu membentur tebing. “Aku masih ingat kata Mas Geni, jaraknya sekitar satu tombak. Jadi kita bisa mengukur tenaga lompatan. Di bagian kedua, jaraknya dua kali lipat, jadi sekitar dua tombak. Itu yang dimaksud Mas Geni dengan satu dua dua satu satu dua dan yang terakhir sepuluh.”

“Yang terakhir katamu, sepuluh tombak. Dengan pijakan kaki yang sempit rasanya sulit bisa melompat sejauh itu. Apalagi kabut menghalangi pandangan. Atis, kita harus cari jalan lain, akan sia-sia jika tiba di ujung jalan dan harus kembali lagi karena tak mungkin melompat sejauh sepuluh tombak, apalagi dengan mas Geni dipunggung.” Kata Sekar.

“Jangan pikirkan itu, aku punya akal untuk menembus rintangan sepuluh tombak itu, sekarang didepan inilah yang harus kita lalui. Aku lompat dulu. Setiba disana aku lempar batu padamu, kamu pegang batu dan tali lalu lompat.” Dia bersiap untuk melompat.

Sekar mencegah. “Tunggu Atis.”

“Kenapa mbakyu?”

Sekar memeluk gadis itu, mencium wajahnya yang keringatan. “Hati-hati adikku, mbakyu sangat sayang sama kamu, aku tidak mau kehilangan kamu.”

Terharu sampai airmatanya mengembang Atis berbisik dalam pelukan Sekar. “Benar kamu sayang aku? Oh aku bahagia, mbakyu.”

“Hati-hati, kamu permata hatiku.” Suara Sekar parau menahan haru. Lalu mengeraskan hati. “Tis, kamu pegang ujung tali yang satu aku ujung yang lain. Sekadar berjaga-jaga kemungkinan yang paling buruk.”

Dia menghirup nafas panjang memenuhi paru-parunya dengan udara pegunungan yang segar. “Baik mbakyu aku segera melompat.”

Perjalanan yang berbahaya itu sangat dramatis.

Dua kali Atis jatuh, tetapi Sekar berhasil menariknya kembali keatas.

Setengah harian mereka menuruni jalanan kecil yang penuh bahaya.

Sekar memiliki ringan-tubuh yang lebih mumpuni dari Atis sehingga bobot tubuh suaminya bukan hambatan. Atis dengan waringin sungsang juga tak mengalami kesulitan. Hambatan yang berbahaya, hanya pada beberapa bagian jalan yang putus.

Akhirnya mereka tiba di ujung jalan.

“Sekarang bagaimana kita melalui jarak sepuluh tombak, mbakyu.” Ujar Atis.

Hari menjelang sore, kabut tebal menutupi pemandangan.

Samar-samar Atis melihat hijaunya pepohonan, dia sudah tiba di dasar jurang. Tetapi kenakalan gadis remaja muncul, ingin menggoda Sekar.

“Aku lompat duluan mbakyu.” Atis melesat.

Sekar tidak sempat mencegah. “Atis …” dia berteriak.

Sedetik kemudian terdengar seruan Atis. “Aku jatuh, tolong aku mbakyu.”

Sesaat Sekar panik. Saat berikut terdengar lengking hiruk-pikuk suara kera.

Tiba-tiba datang angin besar meniup kabut yang bertebar-pecah kemana-mana.

Sekar melihat pemandangan yang menggembirakan. Dia melayang pandang ke sekeliling, ternyata mereka berada di dasar jurang. Dia tertawa geli. “Kurangajar Atis, kamu menggoda, hampir aku menangis.”

Sekar memandang kagum.

Tampak pemandangan indah. Pepohonan hijau, rumput dan bunga-bunga.

Dia terkejut ketika puluhan ekor kera mendatangi sambil jingkrak dan teriak-teriak. Dia pernah mendengar cerita suaminya tentang lembah di dasar jurang yang seluruh penghuninya adalah bangsa kera. Tetapi menyaksikan sendiri banyaknya kera datang mengerubungi sambil jingkrak dan berceloteh membuat hatinya gentar.

Hatinya agak tenteram menyaksikan Atis berkomunikasi dengan para kera. Tampak Atis menggerak-gerakkan tangan dan berceloteh dengan mereka. Sekar kemudian melepas ikatan yang melilit tubuh Wisang Geni, menurunkannya dari gendongan dan membaring suaminya di rerumputan. Dia duduk sila disamping suaminya. Atis juga duduk sila disampingnya.

***

No comments: