Kutukan Keris Berdarah
By John Halmahera
Bab Enam
Cinta dan Dendam
“Tanpa terasa sudah hampir empat tahun kita tinggal di Welirang. Setiap pertemuan pasti diakhiri perpisahan, kita masih punya tugas dan kewajiban. Aku harus kembali ke Himalaya, kalian tetap disini.” Katanya kepada Wisang Geni.
Yudistira berhenti sejenak, sambil memandang alam sekitarnya dia melanjutkan. “Sayang harus berpisah dengan alam yang begini indah, entah kapan aku kembali lagi kesini.”
Satyawati berdiri disisi suaminya menggandeng Gayatri. “Anak mantu Geni, istrimu bersikeras mengantar kami ke Jedung. Sebaiknya kamu menyusul menjemputnya.”
“Tidak perlu, ibu. Aku pulang sendiri. Nanti ketemu didesa Gondang, kumpul bersama para murid Lemah Tulis, rencananya kita semua mau ke Kandangan. Ada keramaian disana.” Gayatri berkata sambil mengerling tajam suaminya.
Wisang Geni menyahut. “Aku akan jemput kamu.”
“Tidak perlu. Tadi malam kita sepakat bertemu di Gondang. Tidak perlu ada perubahan lagi.” Suara Gayatri ketus. Matanya tetap bersinar tajam mengawasi suaminya. Dalam hati dia ingin suaminya ikut mengantar ke Jedung.
Satyawati menghela napas, dia sering gelisah melihat hubungan Gayatri dengan Wisang Geni yang tak pernah akrab lagi sejak satu tahun belakangan. Dia merasa tidak nyaman harus meninggalkan Gayatri dalam keadaan seperti itu.
Dia pernah mengusul agar Gayatri bersama Anggreni ikut ke Himalaya, semacam liburan untuk satu atau dua tahun. Tapi Wisang Geni berkeras tak mau berpisah dengan putrinya. Penolakan itu memancing kemarahan Gayatri. “Aku tahu watak Gayatri sangat keras, sama keras dengan ayahnya. Dia tak pernah mau mengalah.” Katanya dalam hati sambil memeluk erat putrinya. Dia memandang Wisang Geni dan tersenyum.
Mereka salam-salaman mengucap kata perpisahan. Yudistira menciumi Anggreni dengan kasih sayang. Satyawati menangis memeluk cucunya.
Gayatri menciumi putrinya. “Aku akan kembali secepatnya, Angga kamu baik-baik bersama bibimu yah.” lalu kepada Sekar dia berkata seramah mungkin. “Aku selalu percaya kamu menyayangi Angga, sampai jumpa di Gondang.”
“Aku pasti menyayangi Angga seperti sayangku pada Seno.” Sahut Sekar.
Gayatri memandang Wisang Geni, tapi tak bergerak ketika suaminya menghampiri.
Wisang Geni memeluknya. Sesaat laki-laki itu merasa ada penolakan dari tubuh isterinya. Tapi dia tetap memeluk. Mereka berkata-kata dengan saling berbisik, tak mau didengar orang.
“Aku tahu kamu tidak suka tubuhku gemuk begini. Tetapi aku janji akan berubah, aku akan menguruskan tubuh, biar kamu kasmaran lagi padaku.” bisik Gayatri menahan tangis.
“Aku selalu mencintaimu, percayalah hubungan kita akan membaik.” Bisik Wisang Geni.
“Iyah Mas, aku selalu mencintaimu, jaga Angga baik-baik. Aku pergi tidak lama, setelah kapal berangkat, aku segera menemuimu di Gondang.” Gayatri menangis ketika suaminya memeluk dan mengecup dahinya. Kecupan yang hangat dan lama.
Dia ingin berteriak, minta suaminya bersikeras ikut mengantar atau menjemputnya, bukan sekadar basa-basi. “Mengapa kamu tidak memaksa akan menjemputku di Jedung, mengapa?” Tetapi pikirannya tidak sinkron dengan mulut dan lisannya. Dia tetap diam.
Pagi itu rombongan Yudistira meninggalkan Welirang. Gayatri ikut mengantar dengan menunggang Batari, kuda putihnya.
Ketika Wisang Geni menghampiri mereka berdua, Sekar berbisik. “Mas, kemarin katamu ada yang ingin kamu bicarakan dengan aku. Soal apa?”
Wisang Geni tertawa. “Ada seseorang yang ingin kuperkenalkan kepada kalian, namanya Atis, cucu pendekar Merapi Ki Sagotra.”
Sekar kaget, bertanya. “Maksudmu isterimu?”
“Iya Atis sudah jadi isteriku, dua purnama lalu.”
“Dimana dia sekarang?” Tanya Sekar. Dalam hati dia mengeluh dan kecewa, tetapi tidak diperlihatkan, mimiknya tidak berubah.
“Aku titipkan pada kakeknya, nanti akan kujemput.”
“Jadi isterimu lima. Ada rencana menambah lagi?” Sekar memaksa senyum.
“Aku tidak berencana banyak isteri. Tapi aku heran banyak perempuan mau jadi isteriku, dan kelemahanku adalah sulit menolak perempuan cantik.” Dia menggoda. Diam sesaat dia menambahkan, “Atis juga cantik.”
Ketika itu Manohara dan Prawesti ikut bergabung. Wisang Geni kemudian memanggil Gajah Nila dan Gajah Lengar serta beberapa murid lain, memberitahu perihal Atis.
Setelah nginap semalam di pelabuhan Jedung, esok siangnya kapal layar tiba dari Puchet. Beberapa penumpang menuruni jembatan kapal. Para kuli penjual jasa antri dan bersiap-siap bekerja mengangkut barang.
Perbaikan dan pengaturan yang lebih tertata di pelabuhan melancarkan arus turun naik barang dan penumpang. Biasanya kapal akan menunggu sampai sepuluh hari sejak tiba baru bisa berlayar, kini penantian lebih singkat hanya tiga atau empat hari.
Siang itu Minten dan para pelayannya bersiap-siap melayani orang banyak. Dia tampak puas dengan suasana pelabuhan yang mulai ramai. “Tamu mulai banyak, tingkatkan lagi pelayanan kita,” kata Minten kepada adiknya dan juga para pelayannya.
Tadinya Arjapura berada diruang depan warung, dia cepat menyelinap keluar lewat pintu belakang. Mata jelinya, melihat rombongan Yudistira sedang mendatangi pelabuhan.
Dia bergerak cepat menghilang kedalam kerumunan orang. Hatinya berdebar mengetahui rombongan itu sedang mengatur barang-barangnya. “Mereka pulang ke Himalaya, aku sudah bisa memulai balas dendam, membunuh keluarga Wisang Geni.” gumamnya lirih.
Dia menggali informasi dari penjaga pelabuhan ternyata rombongan yang berlayar, terdiri dari Yudistira, Arjun, Shankar, Satyawati, Ayeshak, Susmita dan anak kecil Nanggala. Tidak ada nama Gayatri. “Isteri Wisang Geni itu pasti tetap tinggal bersama suaminya.”
Arjapura tidak hirau masalah itu, dia gembira karena Yudistira dan Satyawati pulang. Mendadak muncul rencana dalam pikirannya. “Jadi Gayatri akan pulang ke Welirang sendirian, atau Wisang Geni datang menjemputnya?” Dia tersenyum licik.
Arjapura menghubungi seorang penjaga pelabuhan, memberinya uang kecil sekadarnya. “Kamu perhatikan perempuan cantik berbaju hitam itu, namanya Gayatri. Dia mengantar keluarganya, setelah kapal berangkat, dia tinggal sendirian, nah kamu tawarkan makan di warung Minten. Katakan masakan di warung itu paling enak, bisa juga untuk tempat menginap. Wanita muda itu dalam keadaan berduka, jadi perlu perlindungan.”
Gayatri memandang dengan mata berkaca-kaca kapal layar yang makin lama makin kecil dikaki langit. Dia menghirup nafas dan melepasnya dengan perasaan galau. Hatinya serasa kosong. Kepergian ayah dan ibunya sangat memukul batinnya. Sekian lama bergaul dan berlindung dalam kasih sayang orangtuanya, kini mendadak hilang.
Matanya memandang ke laut lepas, seakan berharap perahu layar besar itu kembali ke Jedung. Dan keluarganya kembali ke Welirang, dia bisa bermanja lagi di pangkuan ibunya. Timbul gejolak perasaan yang menjeritkan tanya, “mengapa aku tidak ikut saja ke Himalaya, bagaimanapun juga Wisang Geni sudah tidak seperti dulu.”
Suaminya kini lebih berat sebelah kepada Sekar. Kecantikan Sekar tidak mengendur meskipun sudah punya putra. Tetapi tubuhnya sendiri berubah menjadi gemuk. Hal itu mungkin yang membuat Wisang Geni tidak lagi segairah dulu-dulu ketika masih pengantin baru. Tetapi Gayatri tak berpikir itu buah perbuatannya sendiri yang tak mau menurut anjuran ibu dan keluarganya untuk mengurangi makan atau merawat tubuh supaya tetap langsing.
Dia bahkan menyusun alasan mempersalahkan Wisang Geni yang berlaku tidak jujur dan tidak adil padanya. “Dulu dia kasmaran, selalu terangsang dan menyeretku dalam permainan cinta. Belakangan, setelah lahirnya Anggreni, dia menjauh dariku.”
Bulan terakhir Gayatri makin putus asa, perasaan mendesaknya untuk pulang bersama orangtuanya. Namun cintanya terhadap Anggreni, telah menahan langkahnya. Tak mungkin dia berpisah dengan anaknya. Tapi dia mengakui juga masih mencintai suaminya. “Aku masih mencintai Wisang Geni, cintaku tak pernah luntur.”
Meski terkadang ada rasa kecewa terutama iri hati pada Sekar yang melahirkan anak laki-laki sedangkan dia dikaruniai anak perempuan namun dia mulai bisa menyesuaikan diri.
Dia tertawa bahagia setiap melihat anaknya menyusu, menyesap air susu dari payudaranya dengan rakus. Sudah satu tahun berhenti menyusu namun Anggreni tetap minta dimanja dalam pelukan ibunya. Bagi Gayatri kini Anggreni adalah cahaya hidup dan tambatan hatinya. Satu-satunya tambatan hatinya.
Saat itu Gayatri bukan lagi seorang pendekar perkasa, lebih tepatnya seorang wanita, seorang ibu dan isteri yang merasa terpencil di dunia yang asing. Sendiri, keterasingan, tak ada teman, tak ada yang mencintainya, tak ada yang bisa dipercaya.
Gayatri mendengar langkah mendekatinya. Seorang laki-laki petugas pelabuhan. “Nona pendekar sebaiknya istirahat dulu di warung Minten, masakannya lezat. Setelah perasaan risau mereda baru nona melanjutkan perjalanan.”
Melihat pandangan curiga Gayatri, laki-laki itu tersenyum ramah. “Keadaan pelabuhan kini lebih aman dibanding dulu-dulu. Tugas kami petugas keamanan melindungi tamu karenanya aku hanya membantu nona pendekar istirahat diwarung Minten, masakannya enak dan murah.” Kata petugas pelabuhan itu.
“Baik.” Kata Gayatri sambil menuntun kuda putihnya.
Minten masuk kedalam mempersiapkan pesanan.
Minten tersenyum ketika suaminya, Arjapura, membantu menyediakan tuak.
Tanpa setahu isterinya, Arjapura mencampur bubuk racun bius kedalam tuak. Siapa yang menelan bubuk racun itu, akan kehilangan sebagian tenaga dalam. Tetapi pengaruh paling besar adalah rangsangan birahi yang akan mencapai puncaknya pada hari kedua.
Gayatri tidak menaruh curiga, dia makan dan minum dengan lahap. Racun bius mulai bekerja perlahan-lahan. Gayatri hanya merasa kantuk dan lemas. Dia tidak curiga karena perasaannya masih diacak-acak kepergian orangtuanya.
Sore itu hujan deras membuat Gayatri terpaksa bermalam di warung. Minten melayani, mengira tamunya sakit, memberinya kamar yang terbaik. “Sebaiknya nona pendekar nginap disini semalam ini.” Kata Minten dengan ramah.
Gayatri mengangguk lemah. “Iya, terimakasih, aku nginap disini.”
“Besok pagi nona pendekar bisa menggunakan jasa ekspedisi Brantas untuk mengantar. Mereka punya kereta kuda. Nona bisa melanjut perjalanan dengan beristirahat diatas kereta. Kalau setuju, besok pagi akan kupanggil ekspedisi Brantas itu.” Tutur Minten.
Saat itu Gayatri dalam kondisi rapuh. Perasaan yang sedang galau serta rasa kantuk akibat obat bius itu membuat Gayatri cepat-cepat masuk kamar. Gayatri semedi beberapa saat, tidak merasa curiga akan tenaganya.
Sesungguhnya tenaga-dalamnya berkurang sekitar separuh namun sebab tidak digunakan untuk tarung maka Gayatri tak pernah tahu apa yang menimpa dirinya. Sepenanakan nasi melatih tenaga-dalam rasa hangat menjalari sekujur tubuhnya. Dia pun tidur pulas.
Arjapura berbisik pada isterinya. “Kasihan pendekar itu, dia sedih ditinggal keluarganya, menyebabkan tubuhnya lemah. Mungkin saja dia sakit. Bagus juga kamu tawarkan ekspedisi kereta kuda. Dia mau pulang kemana?”
“Katanya, ke Gondang.” Jawab Minten. “Mas Pura, sebaiknya kamu ikut mengantar dia.”
“Memang sebaiknya aku mengawasi dari kejauhan, takut terjadi sesuatu padanya.” Jawab Arjapura yang semakin bergairah dengan rencananya.
Besok pagi tujuh pendekar Brantas siap didepan warung dengan kereta yang ditarik dua ekor kuda. Kereta berukuran panjang dan lebar dua meter itu dilengkapi atap, dinding dan tirai sehingga Gayatri yang berbaring didalamnya tidak terlihat.
Gayatri merasa nyaman. “Kudaku jangan diikat, biar dia bebas. Jika kuperlukan akan kupanggil.” Kata Gayatri kepada kepala rombongan ekspedisi.
Dari kejauhan Arjapura mengikutinya.
“Wisang Geni harus dibunuh pelan-pelan, aku akan menikmati saat-saat dia sekarat. Tetapi sebelum itu aku akan menyakitinya. Pertama-tama isterinya, Gayatri, akan kujadikan tawanan. Racun bius birahi akan membuat dia tak berdaya dan mengikuti semua kemauanku. Huh Wisang Geni, kamu tak pernah tahu separah apa derita yang kuciptakan untukmu.” Berpikir demikian Arjapura tersenyum puas.
Hari pertama rombongan nginap di desa kecil yang merupakan pos perhentian bagi semua ekspedisi Brantas. Mereka melayani Gayatri, makan dan minum dengan penuh hormat.
Keesokan hari mereka melanjutkan perjalanan. Siang hari istirahat, makan.
Sore hari mereka memasuki kawasan hutan lebat. Saat itulah Arjapura menyerang. Sekali gebrakan, dua murid Brantas tewas.
“Kurangajar! Dasar penjahat, kalian meracuni makanannya lalu sekarang merencanakan memerkosanya.” Teriak Arjapura sambil tetap menyerang gencar.
Lima pendekar Brantas kaget. Tak pernah menyangka akan diserang seorang pendekar yang ilmu-silatnya begitu unggul. Sekali serang, dua rekannya tewas.
Mendengar suara ribut perkelahian Gayatri melompat keluar dari kereta. Dia melihat seorang laki-laki tegap, berpakaian hitam dikepung para pengawalnya. Dia mendengar ucapan Arjapura tadi, bahwa dia diracuni, dia kaget.
“Benarkah aku diracuni?” Berpikir demikian dia memutar dua tangannya mengerahkan tenaga-dalam, mempersiapkan jurus andalan.
Seketika dia terkesiap mengetahui tenaganya tidak terkumpul sebagaimana mestinya. Tenaga-dalamnya tidak lancar mengaliri dua tangan dan kakinya. “Tenaga dalamku tidak bisa kugunakan sepenuhnya, ternyata benar aku keracunan!” Bisiknya.
Gayatri lalu mengamati pertarungan.
Saat itu terdengar teriakan saling susul. Tiga pendekar Brantas terkapar tak bernyawa. Dua lainnya yang menjadi pimpinan masih bertahan.
Sejak awal perkelahian mereka hendak protes membantah tuduhan. Tetapi serangan Arjapura sengit dan telengas, membuat mereka tak mampu bicara, bahkan bernafas pun sengal-sengal.
“Kalian pantas mati, aku tak mungkin mengampuni jiwa penjahat licik dan pemerkosa macam kalian.” Seru Arjapura. Dalam beberapa jurus berikutnya dua pendekar Brantas itupun tewas mengikuti lima rekannya. Mereka mati penasaran.
Arjapura memandang Gayatri. Seorang wanita matang dengan perawakan tubuh agak gemuk. Dia pura-pura mengingat-ingat lalu menepuk dahinya. “Aku ingat sekarang, kamu Gayatri putri Yudistira?”
“Kamu siapa?” Tanya Gayatri, pandangannya curiga, penuh selidik.
Selama ini keduanya tidak pernah bertemu muka. Hanya satu kali Gayatri pernah melihat Arjapura ketika laki-laki itu berkunjung ke rumahnya bertemu ayahnya. Itu pun sekilas dan tidak secara langsung. Tetapi wajah Arjapura yang sangat mirip Wasudeva, membuat jantungnya berdebar.
“Aku pamanmu Arjapura, sahabat ayahmu!” Serunya girang. “Beberapa tahun lalu aku melihatmu dirumahmu. Eh kamu tidak ikut pulang bersama ayahmu?”
Gayatri masih curiga, menggeleng. “Aku tidak ikut. Aku menetap di tanah Jawa, suamiku akan menjemputku didesa Gondang.”
“Aku tahu, suamimu Wisang Geni, pendekar hebat yang membunuh putraku Wasudeva, benarkah?” Suaranya datar malah terdengar ramah karena diulas senyum.
Gayatri mengangguk, tetap curiga. “Jangan-jangan paman ini datang untuk balas dendam, lalu apa yang akan dilakukan padaku?” Pikiran ini membuatnya tidak nyaman.
“Tidak usah khawatir. Aku sudah mendengar cerita matinya Wasudeva dalam tarung yang jujur, satu lawan satu. Lagipula aku dalam perjalanan dagang, dua isteriku dan beberapa murid saat ini berada di Karangplosos sedang menjual barang dagangan yang kami bawa dari Puchet. Kami tidak lama di tanah Jawa, mungkin bulan depan sudah kembali ke Himalaya.” Arjapura tersenyum, lalu bertanya. “Mengapa kamu naik kereta dan diantar orang-orang ini, apakah kamu terluka?”
“Tidak paman, aku sehat-sehat saja.”
“Kamu tidak bisa membohongi aku,” Arjapura menyerang dengan pukulan keras.
Gayatri kaget, tak menyangka akan diserang. Tidak tinggal diam, dia berkelit dan balas memukul. Arjapura menangkis.
“Dessss…” Dua tangan bentrok.
Gayatri terhuyung-huyung. Wajahnya pucat. Kaget, tahu tenaganya melemah.
“Benar dugaan paman, kamu terluka, jurusmu bagus, tapi tenagamu lemah. Maaf, paman hanya menguji kamu, mencari tahu kamu terluka atau tidak. Ternyata kamu terluka. Itu sebab kamu naik kereta?” Arjapura bicara dengan senyum ramah.
Gayatri diam sesaat, berpikir. “Tampaknya dia tidak punya maksud buruk, lagipula dia sahabat ayah.” Tanpa ragu lagi, dia mengaku tenaga-dalamnya sulit dikumpulkan.
“Pasti para penjahat itu telah mencampur makananmu dengan racun.”
“Kemarin aku makan bersama mereka. Tadi pagi dan siang juga.” Gayatri bertanya. “Racun apa, paman? Apakah paman punya obat?”
Arjapura menghampiri, lalu memegang nadinya. “Ini racun biasa, hanya membuat kamu lemas, sekarang baru sebagian tenagamu yang hilang, nanti malam mungkin tenagamu hilang seluruhnya. Mereka merencana akan memerkosa kamu malam nanti.” Dia memerintah Gayatri duduk di kereta. “Aku akan membantumu dengan tenaga-dalam. Ulurkan tanganmu.”
Hampir satu jam Arjapura mengerahkan tenaga panasnya.
Gayatri merasa tubuhnya hangat, segar dan nyaman.
Dia membuka mata, memperhatikan laki-laki separuh baya yang sedang memejam mata dengan wajah berkeringat. “Paman ini sungguh-sungguh tulus membantuku. Aku bersalah telah mencurigainya, apalagi dia datang ke tanah Jawa untuk berdagang, dia tak menyebut-sebut balas dendam kepada Wisang Geni, malah dengan jujur dan jiwa besar mengakui putranya mati dalam tarung yang adil.”
Gayatri tidak tahu semua itu siasat Arjapura.
Laki-laki itu memang membantu-pulihkan tenaga-dalam Gayatri tetapi diam-diam tenaga panas itu justru mengaktifkan reaksi birahi dari racun yang dimakan Gayatri di warung Minten kemarin.
Gayatri merasa tubuhnya segar, berkeringat.
Dia gembira bahwa tenaga-dalamnya mulai pulih, diam-diam dia berterimakasih. Dia memperhatikan Arjapura, tubuhnya yang gempal dengan dada berbulu hitam, basah keringat menguarkan aroma laki-laki. Jantung Gayatri berdebar mengencang. Wajahnya merona merah ketika sepasang mata Arjapura melek dan menatapnya tajam.
“Sudah. Cukup sekian dulu. Sekarang bagaimana rasanya?” Tanya Arjapura sambil mulai melancarkan sihir lewat pandangan matanya.
“Paman, tenagaku sudah mulai pulih, rasanya segar dan bersemangat.” Gayatri menyahut sekaligus mengusir rasa malu karena sempat terpikirkan olehnya kejantanan laki-laki itu.
“Gayatri. Tidak lama lagi malam tiba, aku pikir sebaiknya kita istirahat disini, tapi kita sebaiknya menjauh dari mayat-mayat ini, besok aku antar kamu ke desa Gondang menemui suamimu. Tetapi aku hanya mengantar dibatas desa, aku tak mau bertemu suamimu.”
Gayatri mengangguk.
Arjapura menjalankan kereta kuda, berhenti ditempat yang banyak pepohonan.
Beberapa saat kemudian suara guruh menggelegar, sahut-sahutan dengan halilintar yang memekak telinga.
“Hari akan hujan. Kamu tetap didalam kereta. Kuda-kuda akan kuikat dipohon supaya tidak lari.” Arjapura melepas tali kekang dua kuda kereta.
Gayatri menyahut. “Paman, kudaku jangan diikat, dia lebih suka bebas, lagipula dia tak akan lari jauh.”
Arjapura mencabut golok pendek dan mulai menebang pohon-pohon kecil. Cepat dan cekatan, dalam beberapa menit dia telah mendirikan gubuk kecil. “Kamu tidur di kereta, biar paman tidur disini sambil menjagamu.”
“Terimakasih paman.” Sahut Gayatri bersemangat mengetahui tenaga-dalamnya mulai pulih. “Aku sudah pulih, paman!”
“Bagus, tidurlah, besok pasti semangatmu makin besar.”
Hujan deras mencurah dari langit, air menetes deras dari sela-sela rimbunan pohon di tengah hutan itu. Gayatri gelisah. Masih terbayang wajah terutama sepasang mata Arjapura yang lembut mesra penuh kasih sayang.
Di luar hujan deras. Udara sangat dingin. Tapi tubuhnya berkeringat, panas. Jantungnya berdebar-debar. Dia duduk sila, melakukan semedi. Tapi gagal. Pikirannya tak bisa fokus. Malah membayang tubuh Wisang Geni, masa-masa romantis dimana dia didekap dengan peluk dan ciuman. Birahinya mulai bangkit.
Dia ingat pengalaman pertamanya dengan Wisang Geni. Ciuman itu.
Gayatri gelisah, merasa gairah. Ciuman itu seakan masih terasa dimulutnya. Tanpa sadar dia meraba mulutnya. Birahi mulai mengacak benaknya. Bunyi butiran hujan yang deras menghantam atap kereta terdengar bising. Diluar kereta, hujan masih mencurah deras. Udara malam dingin, hujan deras menambah dingin.
Gayatri mulai merasa dingin tapi dalam tubuhnya justru hangat oleh birahi. Racun bius sudah bekerja dan tiba di fase serangan puncak. Gayatri melamun. “Ciuman itu telah membuat aku jatuh cinta. Oh Geni, dimana kamu? Aku kasmaran sentuhan dan ciumanmu.”
Dia membayang lagi pengalaman paling hebat dalam hidupnya, ketika Wisang Geni merenggut perawannya di rumah penginapan desa Gondang di tengah malam.
Gayatri tak pernah melupakan kejadian itu. Wisang Geni mengaku bernama Ambara dan berjanji akan mengawininya. Tetapi itu tidak penting. Belaian itu. Ciuman itu. Gayatri gelisah, semakin gelisah ketika dia melamun detail percintaannya.
Bius racun birahi itu makin mendesak ke fase puncak, melumpuhkan akal sehatnya.
Diluar kereta, digubuk sederhana, Arjapura semedi, mengerahkan segenap tenaga-dalam menyihir Gayatri, membuat Gayatri makin merindukan sentuhan suaminya. Sentuhan lelaki.
Gayatri makin gelisah. Nafasnya terasa panas. Dia berusaha tidur, memejam mata. Tapi justru makin gelisah. Pada klimaksnya dia mengintip dari tirai. Diantara putihnya kabut hujan tampak Arjapura duduk sila diatas pokok kayu.
Tiba-tiba saja Gayatri berseru. “Paman …. Paman!!” Suara itu keluar begitu saja, tanpa sadar dan tanpa maksud tujuan.
Arjapura melompat ke kereta. Dari luar dia mengintai kedalam. “Ada apa? Ada musuh?”
Gayatri tak mampu berpikir waras. Birahinya sudah menguasai akal pikirannya. “Paman, aku sakit paman, kamu naiklah kemari.”
“Sakit? Tadi kan sudah sembuh?” Arjapura masih memainkan tipudayanya. Dia masuk kedalam kereta. Dia melihat perempuan itu membelakanginya. Tampak kulit punggungnya yang putih, agak terbuka karena pakaian sarinya acak-acakan.
“Gayatri balik badanmu, lihat aku!” Suara Arjapura bagaikan perintah.
Dia menanam sihir kuat dalam suaranya. Dia tahu Gayatri tak punya lagi pertahanan diri, sudah patuh dan pasrah padanya. Racun itu sudah bekerja dan membawa Gayatri pada kondisi yang tidak lagi sanggup menggunakan akal sehatnya.
Gayatri membalik badan, memandang Arjapura.
Arjapura menatap dengan sihir yang lebih kuat melalui mata dan kata-katanya. “Kamu memerlukan aku Gayatri. Kamu kedinginan. Kamu ingin ditemani, dipeluk, disayang.”
Wajah Gayatri merah. Dia tidak lagi memikirkan malu, karena desakan nafsu birahi sudah
meledak membakar seluruh tubuh.
Suaranya bergetar, serak dan parau. “Peluk aku, paman, aku kedinginan. Peluk aku.”
Tidak pernah terpikir olehnya, akan terjerembab dalam nista selingkuh, aib yang teramat besar bagi seorang isteri. Akal sehatnya terkubur jauh dibawah rangsangan birahi, pikirannya yang cerdas dan cermat lenyap ditelan nafsu manusiawi yang seringkali membuat manusia terjerumus dalam kejahatan dan pengkhianatan. Gayatri menjadi korban permainan tipu daya Arjapura yang memang punya niatan menghancurkan Wisang Geni dari segala aspek.
Matahari mulai bersinar, menyiram bumi dengan kehangatan yang menghidupi semua mahluk hidup. Gayatri membuka mata, seiring pintu hati dan akal sehatnya mulai bekerja. Dia ingat kejadian semalam.
Tiba-tiba ada rasa malu ketika sadar Arjapura sedang memeluknya. Tangan laki-laki itu berada diatas dadanya. Suaranya bergetar. “Paman apa yang telah paman lakukan padaku?”
Arjapura tetap memeluknya. Menanam sihir lewat ucapannya. “Kamu ingat Gayatri, tadi malam kamu memanggil dan menyuruh aku masuk kereta. Katamu, kamu kedinginan, minta dipeluk. Lalu kamu membalik tubuh dan menciumi aku. Aku tak bisa menolakmu, kamu wanita paling cantik yang pernah kutemui. Aku tak berdaya menahan diri, apalagi kamu begitu agresif dan haus cinta. Maafkan aku Gayatri.”
Tangan Gayatri memegang erat tangan Arjapura yang hendak memisah diri. “Jangan pergi paman, tetap peluk aku.” Gayatri merasa birahinya memuncak lagi.
“Hari sudah pagi. Kamu harus cepat sampai di Gondang.”
“Tidak perlu ke Gondang. Bawa aku ke tempat sepi, paman. Kamu telah memberi aku warna lain dalam permainan asmara” Dia memeluk erat Ajapura.
Selesai bercinta. Gayatri berbisik. “Paman aku lapar.”
“Kamu tunggu disini. Aku berburu ayam hutan.” Arjapura melompat, berlari pesat.
Tak lama kemudian dia kembali, menenteng dua ekor ayam hutan ukuran besar. Cekatan dan gesit dia memanggang ayam setelah dibumbui dengan bumbu yang dibawanya.
“Ini bumbu buatanku, mengingatkan kamu akan masakan Himalaya,” kata Arjapura.
Gayatri melompat turun dari kereta. Gerakannya gesit karena tenaganya sudah pulih.
Dia duduk disamping Arjapura. “Baunya harum, pasti rasanya lezat.” Katanya.
Arjapura tertawa. “Aku selalu membawa bumbu ini.”
Gayatri tidak tahu bahwa bumbu itu sudah dicampur racun bius pembangkit birahi.
Mereka makan dengan lahap.
Gayatri tidak curiga.
Tanpa sadar dia menelan racun bius yang tidak hanya merangsang birahi juga rasa ketagihan. Arjapura tidak hanya menguasai sihir tingkat utama juga berbagai jenis racun. Bagi Arjapura racun bius itu, untuk memperkuat daya tahan tubuh.
Malam harinya, setelah memuaskan hasrat si perempuan, Arjapura menggunakan sihir sejenis hipnotis untuk menggali semua perasaan dan pengalaman Gayatri.
Sepanjang malam ditengah permainan cinta, Gayatri menceritakan keluh kesahnya.
“Dulu dia kasmaran padaku. Dia membuat aku mabuk kepayang. Belakangan setelah aku melahirkan Anggreni, dia menjauh dan jarang bercinta denganku. Dia lebih mencintai isterinya yang lain, dia melupakan aku.” Kata Gayatri.
“Perkawinanmu dengan Wisang Geni tidak direstui kakek dan leluhurmu. Dia dari kasta rendah, kamu lebih tinggi, kakekmu pasti kecewa dan menangis mengetahui cucunya kawin dengan murid dari musuh besarnya, kawin dengan laki-laki kasta rendah. Dia telah menyihir kamu dan ayahmu.” Tegas Arjapura sambil menatap tajam Gayatri. Lalu dia memegang pipi perempuan itu, ”pandang aku, Gayatri. Tatap mataku!”
Dia mulai menanamkan pengaruh sihir melalui pandangan mata.
Mata Gayatri tak berkedip menatap mata Arjapura yang tampak merah saga, bulat besar dan mengirim sinyal panas.
Gayatri tidak berdaya, dia telah dikuasai sihir sepenuhnya. Sebenarnya pengaruh sihir itu tidak akan bertahan lama, pada saatnya akan melemah. Namun Arjapura selalu menambah porsi sihirnya pada setiap kesempatan, membuat Gayatri terbelenggu sihir terus-menerus.
Arjapura melanjutkan dengan kata-kata yang lebih jelas. “Kita semua orang Himalaya masih menganut tradisi kasta. Perkawinan atau percintaan atau kehidupan suami isteri tak akan bisa langgeng jika seorang isteri datang dari kasta yang lebih tinggi dari suaminya. Itu sebab hubunganmu dengan Wisang Geni makin memburuk, hubungan itu tidak bisa langgeng, para dewa akan mengutuk kamu.”
“Tapi suamiku mencintai aku.” Debat Gayatri setengah hati.
“Dia tidak cinta padamu. Dia menipu kamu. Dia membohongi kamu.” Suara Arjapura yang didorong kekuatan sihir, meledak dan memendam dalam-dalam di benak Gayatri.
“Memang dia bohong, dia menipu aku. Dia merampas perawanku dengan bujuk rayu dan tipuan, dia tahu bahwa aku sedang mencari Suryajagad untuk balas dendam kekalahan kakek. Dia sengaja menodai aku, perbuatannya itu menggagalkan rencana balas dendamku.”
“Suryajagad telah membunuh kakekmu.”
“Tidak. Bukan begitu ceritanya. Kakek hanya kalah, tetapi tidak luka. Dan kakek tidak mati karena pukulan Suryajagad.” Kata Gayatri yang masih dalam pengaruh sihir.
“Kamu salah Gayatri! Kakekmu terkena pukulan beracun Suryajagad, dia dipukul dengan cara pengecut. Dan dia mati karena pukulan beracun itu.” Sekali lagi kata-kata itu menusuk sampai ke alam bawah sadar. Provokasi beracun itu telah meracuni pikiran Gayatri. “Kamu harus balas dendam!” Desak Arjapura.
Gayatri menyahut dengan lemah. “Suryajagad sudah mati. Aku tidak bisa balas dendam!”
“Bunuh Wisang Geni! Dia murid kesayangan Suryajagad yang telah menipu merampas perawanmu.” Desak Arjapura. “Dengan demikian kakekmu akan bahagia dan berterimakasih padamu dan dia akan membalas jasa kebaikan cucunya di kehidupan akan datang. Sebaliknya Suryajagad akan menangisi kematian Wisang Geni, itulah balas dendam untuk membalas kebaikan kakekmu.”
“Aku mencintai Wisang Geni, dia suamiku, aku sangat mencintainya.”
“Gayatri, kamu tertipu. Kamu tidak cinta Wisang Geni. Kamu membencinya.”
“Tidak! Aku tidak membencinya, aku mencintainya.” Suara Gayatri melemah.
“Kamu tidak mencintai Wisang Geni, kamu benci dan akan membunuhnya! Katakan Gayatri, kamu tidak cinta Wisang Geni!”
Gayatri berkata tegas. “Aku tidak cinta Wisang Geni. Aku membencinya!”
“Katakan, kamu akan membunuh Wisang Geni untuk balas dendam kematian kakekmu!”
“Aku akan membunuh Wisang Geni untuk balas dendam kematian kakek.” Tegas Gayatri.
“Kamu tahu Gayatri, kalau Wisang Geni mati maka Suryajagad akan sakit hati dan tersiksa dimanapun dia berada dan kakekmu akan tertawa bangga padamu. Bukankah kamu sangat menyayangi kakekmu? Dan kakekmu sangat menyangi kamu?”
“Benar paman, aku harus membalas dendam kakek.” Suara Gayatri terdengar kasar dan sarat amarah.
Hari itu juga Arjapura membawa Gayatri ke hutan yang sepi, yang belum pernah dijamah manusia, dia mendirikan gubuk sederhana.
Dua hari berlalu, hubungan mereka sudah bagaikan suami isteri. Gayatri tidak lagi memanggil paman melainkan kekasih atau Arja atau Pura atau suamiku.
Pada hari kelima di hutan, Gayatri makin ketagihan bius birahi.
“Arja kekasihku, jangan lupa mengoles dengan bumbu lezat,” dia selalu mengingatkan jika mereka memasak makanan. “Aku tidak bisa makan jika tidak dioles bumbu.”
Selain ketagihan obat bius Gayatri juga tergila-gila akan kejantanan Arjapura.
Dan selama itu Arjapura berhasil menanam kebencian dan dendam dalam diri Gayatri terhadap Wisang Geni. Dendam dan benci yang semakin dalam.
Hari ketujuh. Gayatri sudah lupa daratan. Tubuhnya yang tadinya gemuk dan sehat, berubah kurus dengan wajah yang tirus. Matanya cekung, sinar matanya redup.
Hari itu Arjapura dan Gayatri mampir di warung makan di sebuah desa kecil. Mereka sedang menikmati makanan ketika seorang wanita tua kurus langsing terseok-seok berjalan ke arah warung.
Wanita tua itu mengenakan jubah kuning yang penuh tambalan namun bersih, wajahnya bersih bening dengan rambut hitamnya panjang terurai. Tampak tua namun masih cantik. Wanita itu berhenti diambang pintu, melihat-lihat kedalam. Matanya bentrok pandangan Gayatri yang mengawasinya sambil tetap menyuap makanan kemulut.
Wanita tua tampak menghela nafas panjang.
“Mengapa nenek tua itu menatap aku, tatapannya tajam.” Bisik Gayatri dalam hati. “Oh dia kelaparan, tidak punya uang membeli makanan, tetapi dia tak mau mengemis sebab bukan pengemis.” Berpikir demikian, timbul rasa kasihan, Gayatri bangkit dari kursinya.
“Mau kemana kamu?” Tanya Arjapura.
“Nenek itu kelaparan, aku mau memberinya makanan.” Gayatri menuju ke meja pemilik warung, mengambil sepinggan singkong dengan ayam bakar, membungkusnya dengan daun waru. Juga air minum satu kendi kecil.
Gayatri menghampiri dan menyodorkan makanan itu kepada si nenek. “Nek, ini makanan, buat bekal dijalan,” kata Gayatri.
“Terimakasih,” kata wanita tua itu sambil matanya yang tajam menatap Gayatri, tatapan yang sejuk dan ramah. “Kasihan. Kamu sakit.” Bisiknya.
Gayatri tersenyum. “Tidak nenek, aku tidak sakit.” Dia melangkah kembali ke meja. Dua langkah, dia menoleh ke belakang. Dia heran, nenek tua itu sudah pergi. Matanya memandang keluar warung, mencari-cari tetapi si nenek tidak kelihatan.
Gayatri duduk kembali melanjutkan makan. Tanpa sadar dia menggumam sendiri, agak keras. “Kemana nenek itu? Aneh, dia bisa menghilang begitu saja?”
Arjapura tidak menanggapi.
Hanya dalam waktu sepuluh hari Arjapura telah menyempurnakan rencananya, mengubah Gayatri dari seorang isteri setia dan yang sangat mencintai suaminya menjadi isteri culas yang sangat ingin menghancurkan Wisang Geni, suaminya sendiri.
Hari itu Arjapura mengajak Gayatri ke desa Kandangan. Gayatri tidak bertanya untuk apa ke desa itu, dia sudah manut dan patuh kepada Arjapura bagaikan budak yang nyawanya berada ditangan sang majikan.
Dalam sepuluh hari itu tidak hanya mental pikiran Gayatri yang berubah, juga tubuhnya yang kini lebih kurus dan langsing. Parasnya agak pucat, muram dan kusam. Pipinya cekung, matanya kuyu, pandangannya tidak lagi berseri, tidak bergairah. Namun dia tetap saja Gayatri yang parasnya cantik liar.
“Kita langsung ke Kandangan. Wisang Geni pasti hadir disana.” Kata Arjapura.
“Pertemuan itu tepat tengah bulan waisaka. Masih ada waktu lima hari,” Jawab Gayatri.
“Baiklah, kita nginap disini. Kita berangkat satu hari sebelum pertemuan, kita tunggu Wisang Geni dibatas desa, sebelum dia bergabung dengan banyak orang, agar lebih mudah membunuhnya.” Dia memegang dua pundak Gayatri, lalu menatap tajam. “Gayatri, kamu sungguh-sungguh ingin membunuh Wisang Geni untuk membalas dendam kakek Lahagawe?”
“Iya, tekadku sudah bulat, dendam kakek harus dituntaskan. Seperti rencanamu, aku akan memukulnya, membuyarkan tenaga dalamnya dan saat itu kamu menyerang dengan jurus maut. Hanya dengan cara itu kita bisa mengalahkan Wisang Geni.” Kata Gayatri.
Arjapura berbisik. “Jangan berubah pikiran, Gayatri.”
Gayatri memeluk Arjapura. “Tapi ilmu-silat Wisang Geni jauh diatas kemampuanku.”
“Akan kuajari cara mengalahkan Wisang Geni.” Bisik Arjapura.
Gayatri makin tenggelam dalam pengaruh sihir dan birahi, memeluk erat Arjapura sambil berbisik. “Benarkah?”
Arjapura tertawa. “Banyak jurus andalanku yang tidak diketahui orang. Mengalahkan dan membunuh Wisang Geni bagiku bukan persoalan sulit. Kamu bisa lihat nanti dalam tarungku dengan penjahat yang sudah memerkosa dan menipu kamu.”
“Aku percaya kamu bisa mengalahkan dia.” Tegas Gayatri.
Arjapura menyusun rencana detail menyerang musuh besarnya. Sebagian dikerjakan Gayatri, sisanya akan dia selesaikan. Sebenarnya dia merasa belum saatnya membunuh Wisang Geni tetapi kesempatan bagus didepan mata, sayang jika dibiarkan lewat.
***
No comments:
Post a Comment