Monday, July 25, 2011

Wisang Geni part Two Bab 12

Kutukan Keris Berdarah

By John Halmahera

Bab Duabelas

Mengepak Sayap Menembus Awan

Sekar dan Atis duduk sila disamping tubuh Wisang Geni yang telentang diatas hamparan rumput. Laki-laki itu tidak bergerak, nafasnya halus, begitu halusnya sehingga tampak seperti tidak bernafas.

Dua wanita itu lelah lunglai, seakan tak ada lagi sisa tenaga. Semua tenaga habis terkuras oleh perjuangan melelahkan berhari-hari diatas punggung kuda dari kuil Ngancar sampai ke lereng bukit Lejar. Berburu dengan waktu sekaligus mengatasi ketegangan.

DILARANG COPY/MENERBITKAN/PUBLISH DI WEBSITE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!

Sekar bahkan melalui ketegangan yang amat sangat, sejak meloloskan suaminya dari sergapan maut pertarungan di Kandangan sampai menuruni tebing-tebing terjal menggendong tubuh suaminya yang berat.

Semua itu, ketegangan, ketakutan dan kelelahan telah mengantar Sekar sampai dipuncak ketahanan diri. Dia pingsan, rebah menimpa tubuh Atis disebelahnya.

Atis pun tak kurang lelahnya, tangan dan kakinya lecet, berdarah-darah oleh kasarnya tali dan tajamnya cadas tebing ketika menuruni jurang. Atis masih memiliki sisa tenaga. Namun dia terkejut ketika tubuh Sekar rebah menyandar ke pundaknya. “Mbakyu, mbakyu kenapa?” Dia menggoyang-goyang tubuh Sekar.

Sesaat dia panik, Wisang Geni terkapar tak berdaya seperti tak bernafas diikuti Sekar yang pingsan mendadak. Sementara kera-kera berceloteh tidak karuan menimbulkan suara bising membuat pikiran Atis semakin kacau dan panik.

Tiba-tiba dia dikejutkan celoteh Kera Besar dan beberapa kera lainnya. Atis menoleh, tampak buah merah sebesar kepalan tangan. Lima buah. Kera-kera menunjuk Wisang Geni dan buah merah. Seketika dia mengerti apa yang harus dilakukan.

Dia menyambar sebuah dan melahap dengan rakus. Lalu menggoyang keras tubuh Sekar, menampar-tampar pipinya. “Mbakyu makan buah ini.”

Sekar sadar, matanya terbuka.

Atis menyodorkan buah. “Makan mbakyu.”

Sementara Sekar melahap buah, Atis lalu menyuap buah ke mulut suaminya.

Tapi mulut Wisang Geni tertutup rapat.

Tiba-tiba tangan Sekar merampas buah ditangannya. “Begini caranya.” Tangan Sekar memeras buah, sambil membuka paksa mulut suaminya. Susul menyusul dua buah merah pindah kedalam perut Wisang Geni. Tak lama kemudian Wisang Geni sadar.

Sekar menyodor satu buah yang masih segar ke mulut suaminya. “Makan ini Mas.”

Wisang Geni mengunyah buah merah.

Ketika itu kera membawa lagi, lima buah segar. Tiga pendekar itu melahap buah merah.

Sekar hendak membantu dengan tenaga-dalam, tetapi batal karena Kera Besar berteriak marah. Sambil menepuk dadanya, Kera Besar menunjuk ke arah kolam.

Atis berseru agak keras mengimbangi suara bising kera-kera. “Mbakyu, dia menyuruh kita memandikan mas Geni.”

Sekar pernah mendengar cerita suaminya tentang khasiat kolam air panas dan dingin. Dia segera mengangkat tubuh suaminya. Berdua Atis diiringi Kera Besar, mereka menuju kolam. Tanpa menanggalkan pakaian yang sudah compang-camping, sambil memegang sebelah tangan Wisang Geni, dua wanita itu nyebur.

Mereka mandi di kolam panas. Wisang Geni masih lemah sehingga memerlukan bantuan untuk tidak tenggelam. Mereka berkecimpung bergantian di kolam panas dan dingin. Hampir setengah jam kemudian dua wanita itu membantu suaminya ke tepian.

Kera Besar melompat-lompat kegirangan melihat Wisang Geni sadar. Dia meraih tubuh Wisang Geni, memeluk erat sambil teriak-teriak, saat berikut melempar tubuh Wisang Geni kembali ke kolam. Sekar dan Atis tak menunda waktu, ikut nyebur.

Hari sudah malam. Tak ada cahaya, tetapi Atis dan Sekar masih berendam bersama Wisang Geni. Udara yang dingin tidak terasa. Mereka mentas dan menikmati ikan merah yang disantap mentah juga buah merah segar.

“Kamu bawa baju ganti? Buntalanku dimana?” Tanya Sekar.

“Aku bawa selimut. Buntalanmu kusimpan di goa. Tadi aku sudah bebenah membersihkan goa, sudah siap ditempati.” Kata Atis.

“Terimakasih adik manis.”

Malam itu mereka nginap di goa.

Hari Tiga

Pagi itu kondisi tubuh Wisang Geni membaik. Racun dalam tubuhnya semakin berkurang begitu juga bekas biru lebam kemerahan dilengannya makin pudar. Tenaganya masih lemah. Dia tidak sadar tenaga wiwaha mulai bangkit, pelan-pelan tapi pasti, tenaga mulai mengumpul berupa gumpalan-gumpalan yang tersebar di tubuhnya.

Tenaga itu menggerakkan darah mengusir racun kalajengking biru. Darah Wisang Geni yang mengandung kekuatan anti-racun bikinan guru Waragang, telah dirangsang pil salju penyambung nyawa dari Susmita dan ramuan obat bikinan Sekar, ditambah lagi khasiat buah merah dan ikan merah, berhasil memunahkan racun kalajengking biru pukulan Arjapura.

Malam harinya Sekar dan Atis memeluk suaminya.

Wisang Gen mulai terangsang. Namun kejantanannya belum pulih. Hal ini membuatnya frustasi dan putus asa. Dia malu. Malu pada dua isterinya. “Aku tak berguna lagi. Bahkan untuk meniduri isteriku saja, aku tak mampu.” Katanya pada diri sendiri.

Berenang atau mandi di kolam air panas dan air dingin telah merangsang tenaga wiwaha. Makanan buah merah dan ikan segar memperkuat tenaga dan memproses pemunahan racun dalam tubuh. Tetapi sayangnya tidak diketahui Wisang Geni.

Karena ketidaktahuan ini, maka ketika kejantanan belum juga pulih, Wisang Geni pun terpuruk secara kejiwaan. Rasa malu membuatnya putus asa. Tak ada semangat hidup lagi.

Hari Empat

Sejak pagi Wisang Geni tak bergerak dari tempatnya berbaring. Suatu saat ingatannya melayang ke paras cantik Gayatri. Tanpa sadar dia menyebut nama, “Gayatri.” Suaranya lirih. Bisikan mesra mengandung penyesalan.

Sekar yang berbaring tidak jauh, mendengar bisikan yang mesra penuh kerinduan. Tanpa bisa dikendalikan, telah melecut rasa cemburu, amarahnya berkobar. Dalam suasana lain dia tidak akan cemburu, namun sekarang lain, baginya Gayatri tidak pantas lagi dikenang.

“Gayatri! Kamu nyebut Gayatri.” Seru Sekar. “Jadi itu sebabnya kamu berdiam diri, kamu merindukan Gayatri. Dia tak ada disini.” Nafasnya menderu macam orang usai lari jauh. Matanya berkaca-kaca. “Geni, aku sangat mencintaimu, tapi kalau kamu perlu Gayatri, aku akan mempertemukan kamu dengan dia, biar aku mengalah, aku yang pergi.”

Wisang Geni membalik badan memandang paras Sekar. “Mengapa menangis. Aku hanya berbisik nama Gayatri, tak ada maksud apa-apa. Apakah sampai detik ini kamu masih sangsi cintaku padamu, bahwa kamu adalah wanita nomor satu bagiku?”

“Mengapa kamu membisik namanya?” Suara Sekar masih mengandung cemburu.

“Sudah berhari-hari pikiranku terganggu, aku tidak mengerti mengapa dia memukulku.”

“Apakah kamu akan maafkan dia? Jika bertemu apa yang akan kamu lakukan?” Sekar bertanya, masih penasaran tentang perasaan suaminya terhadap Gayatri.

Wisang Geni menyahut tenang. “Aku akan diam, jika dia bahagia bersama orang lain, atau bahagia tidak bersamaku, maka aku relakan dia pergi.”

“Kalau dia mau kembali padamu?” Desak Sekar.

“Aku tidak tahu.”

“Jadi kamu maafkan dia, setelah apa yang diperbuatnya padamu?” Desak Sekar, lagi. Nadanya kesal.

Wisang Geni menggeleng. “Mengapa dia mau membunuhku? Apa salahku?”

“Pada dasarnya dia punya dendam keluarga padamu, kakeknya dendam karena kalah tarung dengan eyang sepuh gurumu. Gayatri tak bisa balas dendam pada eyang sepuh, jadi dia lampiaskan padamu.” Sekar berhenti lalu melanjutkan dengan sinis. “Jika dia tahu aku cucu eyang Suryajagad pasti dia juga akan balas dendam padaku.”

“Tapi Gayatri tak pernah membicarakan dendam. Malah dia pernah berkata kakeknya tidak menaruh dendam atas kekalahan dari Eyang Suryajagad.” Kata Wisang Geni.

“Dendam itu tak pernah hilang dari lubuk hatinya, meskipun tak pernah diucapkan. Suatu ketika dendam itu akan muncul ke permukaan. Kupikir itu soal biasa, dendam atau amarah merupakan sifat dasar manusia.” Tutur Sekar.

Wisang Geni menyahut spontan seperti apa yang dia pikirkan. “Aku tahu tentang dendam, aku pernah hidup dibakar dendam.” Dia merenung matanya menerawang jauh. “Dulu hidupku senang, ibuku selalu merawatku, aku dimanja, tidak seharipun dia tidak melayani aku. Dia selalu ada sewaktu aku membutuhkannya. Sungguh, aku rindu masa kecilku.”

Sekar membiarkan curahan perasaan suaminya, dia mendengarkan.

“Aku rindu ibuku, rindu pelukannya. Sejak kecil aku sudah kehilangan ibu, perang ganter telah merenggut kehidupanku yang nyaman, sejak itu aku tak punya kehidupan lagi, yang ada hanya kehidupan keras, berlatih silat, bertarung dan membunuh. Supaya tidak mati dibunuh maka aku harus membunuh. Tanganku berlumur darah. Aku tidak tahan hidup seperti ini. Jika ibuku masih ada aku akan lari sembunyi dalam pelukannya. Aku bosan jadi pembunuh!”

“Tapi yang kau bunuh semuanya orang jahat! Mereka pantas mati!” Kata Sekar.

“Siapa bilang Sam Hong orang jahat? Dia datang ke tanah Jawa mencari keadilan karena putranya mati dirampok di hutan. Dia pendekar budiman, laki-laki sejati, tidak pantas mati. Tetapi dia mati ditanganku. Aku pembunuh. Sikap pembunuh itu sombong dan temberang seakan penentu hidup mati orang lain. Dia menganggap dirinya paling benar, mereka yang menentangnya pantas dibunuh!” Ujar Wisang Geni berapi-api.

Sekar diam. Kehabisan akal. Dia menoleh memandang Atis yang tampak bingung.

“Aku akan menetap dilembah ini! Untuk selamanya!” Suara Wisang Geni lirih tapi tegas.

“Apa? Apa katamu?” Desak Sekar.

“Aku tak mau keluar dari lembah ini, mau menetap selamanya.”

Sekar masih tercengang mendengar ucapan suaminya. Atis ikut terkejut.

Atis mendengar percakapan Wisang Geni dan Sekar, sudah mencerna inti-sari percakapan.

“Mas Geni, kalau kamu putus asa semua kita mati! Kamu mati, mbakyu Sekar mati, aku mati, anak-anakmu ikut mati, siapa yang melindungi mereka dari incaran dendam musuh?” Atis berkata dengan nada tinggi.

Sekar menatap suaminya. “Apakah aku bisa mengubah keputusanmu?”

Wisang Geni tertawa. Dia menggeleng. “Aku tak berguna, lumpuh. Sekarang ini aku rindu ibuku, aku ingin diam, tidak bergerak, ingin dipeluk ibuku seperti masa kecilku.”

Hari Lima

Dini hari Sekar terkejut gembira mengetahui kejantanan suaminya pulih. Keduanya bercinta. Tetapi siangnya dia terkejut ketika ajakannya berlatih silat ditolak Wisang Geni.

“Aku tak mau berlatih. Hidup seperti ini lebih nyaman. Aku tak perlu bertarung atau membunuh. Hidup tenteram di lembah ini menjadi pilihan terbaik.”

Saat itu Sekar menganggapnya sebagai gurauan. “Ayo Mas, kita ke kolam.” Dia berlari keluar mengabari Atis kejantanan Wisang Geni sudah pulih. Atis pun sangat gembira.

Sepanjang pagi mereka bertiga berenang, makan buah segar dan ikan mentah. Wisang Geni tampak gembira. Sekar mengajaknya berlatih.

“Tadi sudah kukatakan aku tak mau berlatih lagi.”

“Kamu sungguh-sungguh?” Tanya Sekar tak percaya.

Wisang Geni mengangguk. “Aku tak mau berlatih silat lagi!”

Sepanjang siang sampai sore, Sekar dan Atis tak berhasil membujuk Wisang Geni untuk berlatih silat. Malamnya dua wanita ini sepakat mendesak suaminya.

“Geni, jangan tidur dulu, aku mau bicara.” Kata Sekar.

“Bicaralah, aku mendengarkan.” Wisang Geni membalik posisi, baring telentang.

“Tenagamu sudah pulih. Sebaiknya kamu berlatih kembali. Begitu kamu sudah pulih seperti semula, kita keluar dari lembah. Tak mungkin kita menetap disini selamanya.”

“Kamu telah menyembuhkan aku.” Potong Wisang Geni. “Tapi aku mau menetap disini, tak perlu bertarung, tak perlu membunuh. Hidup damai. Kalian menemaniku seperti janjimu.”

Ketetapan hati Sekar muncul, berseru. “Atis! Kamu jadi saksi apa yang kuucapkan.” Dia menatap tajam suaminya. “Aku tak mau menetap dilembah ini, tapi kalau kamu memaksa diri menetap disini. Baik, akan kutemani, tetapi tanpa jiwa, hanya jasadku saja.”

“Apa maksudmu?” Tanya Wisang Geni.

“Mati. Aku akan bunuh diri!” Tegas Sekar.

Mendadak Atis berseru. “Aku ikut kamu mbakyu, aku juga bunuh diri!”

“Atis kalau kamu ikut-ikutan mati, siapa yang melayani mas Geni?” Tanya Sekar.

“Mas Geni hanya mementingkan diri sendiri, pasti bisa mengurus dirinya.” Tegas Atis.

“Mas, kamu ingat pertarungan di Trawas? Kalau saja kamu tidak berada ditempat itu, pasti aku sudah diperkosa Siluman Goa Paliyan dan Manyar Edan, diperkosa lalu dibunuh! Diluaran banyak penjahat, apakah kamu tega melihat aku diperkosa seperti kelima Pandawa yang tak berdaya membela Drupadi saat dipermalukan Dursasana. Tetapi ada bedanya, lima Pandawa karena sudah kalah dalam permainan judi, kalah tarohan dan terbelenggu sebagai budak. Tetapi kamu Mas Geni, kamu membelenggu diri sendiri.” Sekar menoleh pada Atis.

Wanita muda yang waskita ini cepat mengerti. “Mbakyu, banyak kejadian di dunia kependekaran, laki-laki memerkosa wanita yang tidak berdaya. Aku nyaris diperkosa si Jubah Hitam, untung mas Geni menolongku. Tekadku sudah bulat, aku juga bunuh diri, biar mas Geni hidup sendiri.” Ada semangat dalam suara Atis.

Sekar menambahkan. “Aku wanita. Kekuatanku terbatas. Aku tak berdaya melindungi anakku. Selama ini aku berlindung dibelakang tubuhmu yang perkasa. Kamu ingat Ganggati yang bersumpah akan membunuh aku? Apakah kamu akan berdiam saja?”

Wisang Geni marah. “Tidak kubiarkan dia mengganggumu!”

“Penuhi permohonanku, aku mengemis padamu, berlatihlah kembali, jadilah Wisang Geni yang pernah ditakuti musuh-musuhmu.” Suara Sekar lembut, sarat cinta dan permohonan.

“Sulit. Aku tidak tahu apakah mungkin aku bisa kembali pulih seperti dulu, aku takut menghadapi kenyataan bahwa ilmu-silatku tak bisa pulih kembali.”

“Kejantananmu pulih. Pasti tenaga wiwaha ikut pulih. Tak ada yang sulit, aku selalu disisimu, aku sisianmu dalam suka dan duka.” Sekar membujuk-rayu.

“Mas Geni, berlatihlah kembali. Jangan sia-siakan cinta kami berdua yang begitu tulus dan penuh pengorbanan. Jangan sia-siakan Seno dan Angga.” Potong Atis. “Kami semua bergantung dan berlindung padamu.”

Sekar teringat kakeknya. “Jangan sia-siakan kepercayaan Eyang Sepuh yang telah menyempurnakan ilmu-silatmu agar kamu membela Lemah Tulis. Dia juga menitip aku padamu, kamu lupa itu? Kenapa kamu ingkar janji? Kamu mengkhianati Eyang Sepuh!”

Bulu roma Wisang Geni merinding. Teringat janjinya pada Eyang Sepuh, ikatan janji murid dengan gurunya, dia berjanji akan menjaga dan mencintai Sekar.

Lamunan Wisang Geni buyar dipotong suara Sekar. “Kami berdua sudah tekad, kalau kamu tetap tidak mau berlatih, esok pagi kamu akan temukan mayat kami.” Sekar berkata dengan suara lirih sambil memeluk Atis.

Wisang Geni memandang Sekar dan Atis yang menangis berpelukan.

Dia ingat nasehat Eyang Sepuh waktu itu. “Aku berdiri diatas kebenaran, hidup didalam nafas kebenaran dan keadilan. Karena itu musuhku banyak, tapi semakin banyak musuhku, semakin aku menjadi besar. Aku dibesarkan musuh-musuhku.”

Mendadak timbul semangat dalam dirinya. Gumparan api semangat membakar dadanya, dia bangkit, melompat dan berlari keluar goa.

Dua wanita itu terkejut, serempak ikut berlari, mengejar.

Wisang Geni melompat nyebur ke kolam dingin. Lama dia menyelam di dasar kolam. Tidak terlihat oleh dua isterinya. Apa yang dia lakukan?

Dua isterinya kehilangan jejak. “Kemana dia?” Tanya Atis.

“Itu dia!” Seru Sekar.

Tampak kepala Wisang Geni muncul di kolam panas, lalu menyelam lagi. Seketika dua wanita muda itu saling pandang, lalu tertawa dan berpelukan. Senang hati mereka melihat besarnya semangat sang suami. Keruan saja Sekar dan Atis gembira.

Keinginan melatih wiwaha muncul dan menggebu, dia nyebur ke kolam dingin, menyelam ke dasar kolam. Rasa dingin menusuk sampai ke tulang sumsum. Dia sudah pernah berada disitu dan merasakan dingin yang hebat. Yakin bisa bertahan dia menyelam sampai ke pusat pojokan kolam dimana sumber panas dan sumber dingin berasal.

Inti ilmu wiwaha adalah menyerap panas dan dingin dari luar tubuh dan meresapkannya ke dalam tubuh, lalu mengelolanya menjadi tenaga-dalam. Jurus satu tepung ropoh sambung kalen artinya mengawinkan dua unsur yang bertetangga. Dia masih ingat cara melatihnya.

Dia berdiri dan bertumpu pada ibu jari kaki, dua kaki lurus dengan dengkul ditekuk, dua tangan terentang ke samping. Di kolam dingin, dua tangan terentang dan digerak-gerakkan ke arah dalam sampai menyentuh dada. Dia mentas dan berganti di kolam panas dengan gerakan kebalikan, gerak tangan dan dengkul yang ditekuk dilakukan dengan lambat, makin lambat makin sempurna.

Berganti di kolam dingin, tangan bergerak dari dada kearah luar sampai terentang, sedang di kolam panas gerak kebalikannya. Penyempurnaan jurus satu dilakukan di udara terbuka. Dulu dia menyelesaikan latihan dalam waktu dua puluh enam hari, sekarang ini hanya satu hari dia telah merasakan tenaga wiwaha berputar-putar disekujur tubuhnya.

DILARANG COPY/MENERBITKAN/PUBLISH DI WEBSITE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!

Seketika Wisang Geni tahu sebabnya. Itulah sebab tenaga wiwaha sudah ada ditubuhnya, tidak pernah punah. Dan latihan sekarang hanya mengulang kembali, menyatukan serpihan yang terpencar. Dia makin semangat. Dia menyelesaikan latihan disore hari.

Dua isterinya setia menununggu di mulut goa dengan santapan malam.

Malam hari ketika dua isterinya pulas di goa, Wisang Geni sudah menghilang. Menuju kolam. Dia berlatih.

“Hebat, benar-benar keajaiban, tenagaku sudah pulih.” Gumamnya dalam hati.

Hari Tujuh

Siang itu sehabis makan. Wisang Geni kembali berlatih di kolam. Sekar duduk di tepi kolam, bersila disamping kera besar dan beberapa kera yang membawa buah merah.

Atis sibuk dengan pekerjaannya di tebing dekat goa.

Atis sedang meningkat birahi. Tubuhnya ramping seksi, bicaranya gandes dan luwes, agak kekanak-kanakan. Setiap gerak ulahnya pantas. Kelihatannya seperti acuh tak acuh, padahal sebenarnya dia menaruh perhatian sepenuhnya. Dia cerdas, dan sangat bijaksana, tanggap ing sasmita artinya meski diberi isyarat sedikit saja dia akan mengetahui apa yang dimaksud.

Diluar dia tampak tabah, tetapi dalam hati dia menangis.

Hatinya tercabik-cabik setiap saat memandang suaminya, begitu dekat tetapi juga sangat jauh. Dia mengharap sentuhan suaminya tetapi laki-laki itu tak pernah mendekatinya. Dia berpisah dengan Wisang Geni di lereng gunung Argo, menantinya selama tiga puluh hari dengan rindu dan kasmaran yang hampir-hampir tidak tertahankan.

Dia masih perawan, usia tujuhbelas, baru pertama mengenal persanggamaan. Berhari-hari dia memadu cinta dengan Wisang Geni, lalu mendadak si suami pergi. Tidak heran jika tubuhnya menuntut sentuhan dan belaian suaminya.

Tak sanggup bertahan dari kasmaran, dia putuskan lari dari rumah kakek Sagotra, pergi mencari suaminya. Pertemuan dengan Sekar dan Wisang Geni di kuil berlanjut perjalanan menuju gunung Lejar. Beberapa hari di lembah, dia mendapatkan kejantanan suaminya hilang. Bukan alang kepalang sedihnya. Tetapi kemudian dia melihat suaminya pulih.

Dia tidak mendengar percakapan Sekar dan suaminya, tetapi dia tanggap ing sasmita, tahu dua insan itu bercinta. Dia gembira, mengetahui kejantanan Wisang Geni sudah pulih, dia tidak iri akan kesenangan Sekar, baginya Sekar adalah penolongnya. Tetapi dia tak sanggup menahan diri, rasa birahi melonjak dan menendang-tendang dadanya.

Keadaan Atis tidak luput dari pengamatan Sekar. Ketika suaminya selesai berlatih, Sekar berkata. “Mas, Atis itu isterimu. Dia merindu kamu, gauli dia. Biar aku berlatih di luar.”

Diluar goa, Sekar memeluk Atis dari belakang. “Tis, masuklah kedalam goa, suamimu menanti. Aku akan berlatih silat diluar.”

Atis menoleh memandang wajah Sekar. Tiba-tiba Atis memeluk. “Mbakyu, terimakasih, kamu memberiku kesempatan.”

“Tis dia suamimu, suamiku, suami kita. Kamu isterinya, masuklah.” Tangan Sekar menepuk pantat semok Atis.

Atis melangkah masuk goa. Jantungnya berdebar keras. Bagaikan pengantin wanita yang masih perawan menanti dengan hati yang berdebar akan sentuhan suaminya.

Hari Sembilan

Wisang Geni berlatih tanpa kenal lelah. Dia menikmatinya. Karenanya cepat sekali dia telah memulihkan tenaga wiwaha seperti sediakala.

Jurus dua kitrang raja pati (pertengkaran hebat tentang bahaya maut yang mengancam) dulunya diselesaikan sembilan belas hari, sekarang pun hanya setengah hari.

Jurus tiga ngrupak jajahaning mungsuh (mempersempit dan melemahkan kekuatan musuh). Pada tingkat ini, dia berlatih bergantian di kolam dingin, kolam panas dan di udara terbuka. Mulainya penyesuaian dua unsur kolam, panas dan dingin dengan udara di luar kolam yang cuacanya berubah-ubah. Dulu enam belas hari, sekarang hanya setengah hari.

Jurus empat pethuk ati golong pikir (bersatunya hati, pikiran, tekad dengan perbuatan). Pada tingkat akhir ini, dua unsur panas dan dingin yang saling berlawanan itu sudah menyatu dengan pikiran dan tenaga batin. Sewaktu pikiran ingin mengeluarkan tenaga dingin, saat itu juga tenaga dingin muncul menyebar ke seluruh tubuh. Begitu pun tenaga panas.

Wisang Geni sudah menyelesaikan latihannya, mengembalikan tenaga wiwaha ke kondisi semula. Pemulihan tenaga wiwaha ternyata sangat cepat. Dia masih ingat dulu memerlukan waktu sembilanpuluh hari untuk melatih empat jurus wiwaha. Tetapi sekarang ini dia hanya butuh dua hari, itu diluar dugaannya.

Siang itu, Sekar dan Atis tampak bahagia, selama dua hari menyaksikan perkembangan suaminya berlatih.

“Dia bersemangat. Pagi ini latihannya rampung, tenaga-dalam wiwaha sudah pulih sediakala.” Bisik Atis yang duduk sila, Sekar berbaring dengan kepalanya dipangkuan Atis. Tangan wanita muda itu memijit-mijit kepala Sekar sambil mencari kutu.

“Tis. Kamu janji mau melukis bunga mawar didadaku, kapan kamu kerjakan?”

“Bahan-bahan sudah siap. Jadi terserah kamu, maunya kapan.”

“Berapa lama kamu melukis? Seharian?” Tanya Sekar.

“Tidak lama. Siang hari ini juga selesai. Kita bisa masak dan makan siang bersama mas Geni. Semuanya sudah kusiapkan.”

“Eh kamu belajar dimana melukis, bahkan bisa melukis ditubuh orang?”

Atis tertawa. “Dari kakak Mei Hwa, isteri Manjangan Puguh. Gambar bunga mawar di perutku dekat pusar dia yang lukis.” Atis membuka sebagian kebayanya, memperlihatkan lukisan bunga mawar warna merah tua. ”Bagus?” Dia bertanya.

“Iya bagus.” Sekar diam sejenak, seperti berpikir. “Aku mau gambar mawar sama seperti punyamu tapi warnanya lain, merah muda. Di Payudara bagaimana?”

Atis menyingkap kebaya Sekar. “Payudaramu bagus, cocok dengan gambar mawar merah muda. Tapi sebaiknya di bawah pusar seperti punyaku, tempat itu yang paling cocok dan merangsang suamimu. Nanti kugambar paling bagus.”

“Ayo kerjakan sekarang saja! Dibawah pusar yah.” Seru Sekar gembira. Dia bangkit, menarik tangan Atis. Mereka berlari menuju goa.

Matahari condong ke Barat Wisang Geni menghampiri dua istrinya yang setia menunggu di tepi kolam. “Tenaga wiwaha sudah pulih sediakala. Tinggal sekarang aku melatih kembali jurus-jurus yang dulu pernah kugunakan.” Ujar Wisang Geni kepada dua isterinya.

Dua isterinya tampak berbahagia.

“Ayo mbakyu kita keroyok mas Geni.” Tukas Atis.

Dua wanita itu mengeroyok suaminya. Pada mulanya Wisang Geni kewalahan, namun makin lama makin mulus. Pada jurus keseratus dia mulai mempermainkan dua isterinya. Bokong Atis dan Sekar dipukul berulang kali. Seharian mereka berlatih dan bercanda-ria, sekali-sekali Wisang Geni memberi petunjuk terutama pada Atis.

Selesai sudah tahapan mengembalikan tenaga wiwaha dan jurus-jurus ilmu silatnya. Dia gembira. Malamnya tiga insan itu tiduran sambil mengobrol.

“Kurasa tenaga wiwaha meningkat dibanding dulu. Sekarang tenaga-dalam makin cepat tersalur dan makin bertenaga.” Kata Wisang Geni.

“Rasanya aneh guru Lalawa hanya mewariskan wiwaha saja, seharusnya ada jurus-jurus yang melengkapi?” Atis mencetus apa yang dipikirnya.

“Benar pasti ada jurus-jurusnya, dulu kamu buru-buru mau keluar dari lembah atau saking girangnya telah menguasai wiwaha sehingga tidak mencari lebih teliti.” Kata Sekar.

Wisang Geni tertegun. Dia berusaha mengingat pengalaman waktu menemukan lukisan di dasar kolam kemudian menemukan batu hitam. Dia masih ingat tulisan di batu hitam itu, petunjuk melatih tenaga-dalam.

Tidak ada yang aneh. Dia ingat lukisan duabelas orang dalam berbagai posisi. Ada tulisan bahasa Sansekerta. “Dari ujung kolam menuju ukiran kera di tebing, di tengah jarak itu aku menyimpan jurus wiwaha ciptaanku, aku Lalawa, pendekar tanpa tandingan.”

Saat itu dia ingat sesuatu, ada tulisan dan lukisan kecil yang terpisah. Dulu dia tak begitu memperhatikan karena pikirannya tersita pada duabelas lukisan berikut pelajaran semedi. Tapi tulisan itu ada, begitu juga lukisan. Tiba-tiba dia melompat dan lari keluar goa. Dua isterinya cepat-cepat mengenakan pakaian seadanya, ikut membuntuti suaminya.

Mereka melihat Wisang Geni nyebur ke kolam dingin.

“Ada apa?” Tanya Sekar pada Atis.

“Pasti dia teringat sesuatu!” Sahut Atis.

Wisang Geni menyelam sampai di dasar kolam dingin dimana batu putih yang bersinar itu berada. Dia meneliti lukisan dan huruf-huruf, satu demi satu. Dia mentas ke permukaan, lalu balik lagi menyelam.

Lalu matanya menemukan apa yang dicari. Lukisan kelelawar sedang bergantungan. Ada tulisan “dikolam empat jadi satu, di goa enam jadi satu, lalawa tak ada tandingan, mengepak sayap menembus awan.”

Saat berikut dia mentas ke permukaan. Dia tertawa senang melihat dua isterinya duduk di tepi kolam. “Benar, ada jurus yang ditinggalkan guru, besok kita cari tempat simpanannya.” Suara Wisang Geni terdengar senang, ada semangat dan harapan.

Hari Sepuluh

Pagi hari Wisang Geni mengajak dua isterinya kebongkahan batu besar. Mereka berdiri memandang tebing yang menjulang seakan menembus awan. Tak ada ujungnya. Hanya kabut yang bergantung bagaikan payung putih besar menutup lembah. “Lihat. Bongkahan batu yang agak menonjol, sudah lihat?” Wisang Geni menunjuk keatas tebing.

Setelah beberapa saat Sekar dan Atis melihat apa yang dimaksud suaminya. “Iya, aku bisa melihatnya.” Tukas Sekar.

“Kira-kira dua tombak dibawah batu itu, ada celah. Itulah goa yang kumaksud dimana guruku semedi sampai dia moksa.” Kata Wisang Geni.

Sekar menggeleng kepala. “Tak mungkin aku bisa mendaki, tak ada tempat berpijak dan berpegangan di tebing yang begitu rata dan licin.”

“Tetapi mas Geni pernah kesana,” kata Atis tanpa menjelaskan apa maksudnya.

“Celah itu sempit, cukup untuk satu orang tiduran. Tetapi kita bertiga bisa saja berjejal tetapi hanya duduk sila, itupun salah seorang akan berada diambang goa.” Wisang Geni diam sesaat kemudian melanjutkan penuturannya. “Kita memanjat lewat jalan putar. Begitu tiba di bongkahan batu, kita bisa merosot pelan-pelan dan memijak kaki di goa.”

Atis meremas-remas tangan Sekar. “Aku tak mampu, aku tak perlu ikut.”

“Iya mas, mungkin kamu sendiri saja yang keatas.” Sekar memperkuat usul Atis.

“Tidak bisa. Kalian harus ikut naik!” Tegas Wisang Geni.

Tiba-tiba Sekar berseru. “Tali! Kita gunakan bantuan tali yang kemarin.”

“Iya pake tali. Aku bisa naik kalau pake tali.” Seru Atis gembira. Dia berlari ke goa.

Sekar menarik-narik tali, menguji kekuatannya. “Masih ulet! Bisa digunakan!”

Menggunakan ringan tubuh waringin sungsang dan tenaga wiwaha dalam sepenanakan nasi Wisang Geni bisa mencapai bongkahan batu yang dimaksud. Menggunakan tali satu persatu dia mengayun isterinya masuk ke goa. Kemudian menggunakan tenaga wiwaha dia merosot turun dan memijak kaki di goa. Mereka bertiga berjejal.

Atis masih gemetaran, memandang kebawah. Hanya tampak pepohonan kecil. “Aku dibagian dalam goa.” Katanya agak takut.

Wisang Geni dan Sekar duduk sila berdesakan dimulut goa. Atis di bagian dalam, berdiri memandang langit-langit goa. Dia membaca tulisan di dinding goa.

“Kamu pasti telah menguasai ilmu wiwaha. Kurestui kamu sebagai muridku, aku penemu dan pencipta jurus wiwaha di lembah kera ini. Aku mengembara dan tarung puluhan tahun, tak seorang bisa bertahan lebih dari dua puluh jurus. Aku tak punya tandingan. Aku kesepian, tak punya lawan tak punya kawan. Semua orang takut padaku, juga takut menjadi kawanku. Aku kembali ke lembah ini, mewariskan wiwaha entah siapa yang menemukannya. Selamat tinggal muridku. Gurumu, Lalawa.”

“Ilmu silatnya hebat, tidak heran kamu juga hebat,” puji Atis.

Atis yang menunjuk celah dipojokan atas. “Lihat ada tulisan dan gambar, kecil sekali.”

“Biar kugendong kamu, lihat yang teliti.” Wisang Geni memegang bokong isterinya dan mengangkat tubuhnya.

“Benar. Gambar lalawa dengan sayap merentang.” Seru Atis. “Ada celah sempit, diatasnya. Kelihatannya ada sesuatu didalamnya.” Tambahnya.

“Biar kuangkat lagi.” Wisang Geni mengangkat tubuh langsing isterinya.

Atis berseru girang. “Aku temukan sesuatu yang halus empuk, mungkin kain atau kulit.”

Wisang Geni ingat dia pernah menemukan kulit tipis digoa ini yang dia gunakan untuk membungkus tulang-tulang gurunya. “Hati-hati, itu kulit tipis, usianya sudah seratus tahun lebih. Meskipun menggunakan ramuan pengawet tapi bisa saja sudah lapuk. Kamu bisa mengambilnya?”

“Aku takut rusak. Mbakyu saja yang ambil.” Kata Atis.

Dua wanita itu bertukar posisi. Kini Sekar yang diangkat suaminya.

“Sudah kudapat. Benar, ini kulit tipis, halus.”

“Bentangkan, aku mau baca,” seru Wisang Geni.

“Goa sempit, tidak cukup luas untuk kita berjejal menghampar dan membaca kulit itu, lagipula angin kencang, aku khawatir kulit malah rusak.” Kata Sekar.

“Tetapi apakah benar ada tulisannya?” Tanya Wisang Geni.

Sekar mengamati dengan seksama. “Ada! Aku bisa melihatnya.”

“Kalau begitu kita bisa turun.” Seru Atis.

Turun dari goa itu lebih mudah dibanding ketika naik. Apalagi dengan bantuan tali.

Tiba di goa yang sudah seperti rumah sendiri, hati-hati dan lembut Sekar menghampar kulit tipis itu. Tanpa sengaja ujung kulit hancur ketika dipegang Wisang Geni.

Atis berseru. “Mas pelan-pelan dan lembut, jangan kasar.”

“Huruf kuno, aku tidak bisa membaca. Tapi gambar lalawa itu bagus.” Kata Sekar.

“Gambarnya bagus, kelelawar itu bagus, tapi tampaknya kejam dan bengis.” Ujar Atis. Dia menoleh pada suaminya. “Sebaiknya kamu hafal, karena kulit ini mudah rusak. Aku khawatir kulit tidak bertahan lama di udara ini.”

Wisang Geni meneliti satu per satu kalimat.

“Mas, kamu baca agak keras, biar kita bantu menghapalnya. Kelihatan pesannya banyak dan panjang.” Tukas Sekar, nada suaranya khawatir.

Wisang Geni membaca pelan-pelan. Hurufnya kecil-kecil, bahasa sansekerta campur Jawa kuno dizaman Raja Erlangga, sekali lagi Wisang Geni berterimakasih pada guru Waragang yang telah mengajarinya sastra tingkat tinggi dari zaman kuno.

“Lalawa mengepak sayap menembus awan” Dia menoleh ke Atis dan Sekar. “Kalian dengarkan baik-baik.”

“Enam jadi satu, lalawa mengepak sayap menembus awan. Tak ada bilangan jurus, hanya satu jurus sinambungan, tak ada pangkal tak ada ujung, muncul begitu saja dan berakhir begitu saja. Dalam tarung berikutnya, awal tidak sama, ujung tidak sama. Begitu seterusnya. Jurus tanpa awal, tanpa ujung. Jurus ini hanya bisa kamu gelar dalam tarung jika sudah menguasai tenaga-dalam wiwaha dengan ringan-tubuh yang sangat mumpuni.

Kelelawar memiliki sayap halus, hidup digoa-goa gelap di malam hari. Penglihatan tidak tajam tapi mampu melayang terbang menembus kegelapan, dia memiliki pendengaran dan perasaan sangat peka. Kamu harus mengasah dua indera itu berikut dengan mata yang terlatih menembus gelap malam.”

Bagian berikut hanya dia baca dalam hati. Dia tak mau isterinya tahu. Sebab itu rahasia gurunya. “Aku tidak disukai orang, dahiku lebar, rambut sepanjang punggung yang kuikat jadi konde, muka lonjong, mataku sipit tajam mengilat, mulutku lebar dengan bibir tipis, gigiku tajam, kurus jangkung, jubahku hitam panjang, aku kejam karena itulah aku tak pernah kalah, aku tak percaya orang, wanita yg kutiduri harus wanita biasa, setelah kutiduri aku pergi, aku tak mau berpelukan sampai pagi.

“Tidak boleh punya rasa kasihan, tarung adalah membunuh, pukul dia sungguh-sungguh, apakah dia terluka atau mati, itu resiko tarung. Semua yang masuk tarung harus siap mati. Jurusku ini tak bisa dilakukan dengan setengah-setengah, kelelawar jika setengah-setengah dia akan mati terbentur tebing atau masuk jurang atau terbunuh senjata manusia. Dia selamat karena dia tak pernah lalai, tak pernah lengah. Itu sebab aku tak pernah temukan lawan setanding.”

Sekar dan Atis saling pandang. “Mas, jangan membaca dalam hati, bacalah yang keras biar kita berdua bisa mengingatnya.”

DILARANG COPY/MENERBITKAN/PUBLISH DI WEBSITE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!

“Ada bagian yang kalian tidak boleh tahu, itu rahasia guruku.”

“Pasti tentang nafsu birahi dan wanita. Benar kan?” Desak Sekar.

“Bukan. Itu tentang rahasia kehidupan guruku, sebagai murid aku harus menyembunyikan kehidupan guruku.” Mata Wisang Geni melotot memandang dua isterinya, bergantian.

Dua wanita itu tersenyum malu.

Wisang Geni berhenti sejenak. Lalu membaca dengan hati-hati. Ada beberapa huruf yang sudah mulai luntur. Tetapi masih bisa terbaca.

“Enam jurus ini bisa memecah menjadi tigapuluh sampai sembilanpuluh jurus, dan pada akhirnya semuanya menjadi hanya satu jurus sinambungan. Jika tidak punya wiwaha dan ringan-tubuh mumpuni, tak boleh pelajari jurus ini, bisa gila. Prabanarawata manarawang hanggempung (sinar memancar menembus gelap), tambung hanging humawah (tidak melihat tapi merasa), wulangun humadhemmi carumuka (jatuh cinta membunuh musuh), rumaras sapudhendha rumuwek martana (merasa marah mencakar kehidupan), mangrawis guthaka lawa (cakar goa kelelawar), manarang manambayang majatha (menggantung ditempat tinggi melayang menggigit).”

Wisang Geni kemudian membaca rincian gerak jurus-jurus tersebut.

Tiba-tiba Atis protes. “Itu sulit dihafal. Sebaiknya, aku tulis didinding, nanti setelah kamu selesai pelajari akan kita hapus.”

Sekar membenarkan. “Begitu lebih aman.”

Wisang Geni mengulang rincian gerak jurus-jurus itu.

Atis sibuk menyalin pada dinding goa. Sekar ikut memeriksa tulisan Atis.

Pada akhirnya Wisang Geni membaca tulisan bagian akhir.

“Ada empat tingkatan berlatih. Tingkat satu, berlatih dengan mata terbuka sehingga hafal semua gerakan. Tingkat dua, berlatih dengan mata tertutup, konsentrasi tenaga-dalam dengan pandangan kedepan, menangkap gerak yang paling kecil dan bunyi yang paling lemah, berlatih dalam air mengenal getar dan gerakan ikan, pindah latihan di tebing-tebing. Tingkat tiga, enam jurus harus bisa dimainkan dengan mata tertutup diatas tebing atau permukaan kolam. Tingkat empat, enam jurus jadi satu gerak sinambungan, tak ada awal tak ada akhir. Jurus ini tak ada tandingan. Jadilah kamu pendekar budiman. Aku gurumu Lalawa.”

Wisang Geni berlutut mencium tanah. “Aku sungkem padamu guru, aku akan mengikuti perintahmu.”

Siang itu juga Wisang Geni mulai latihan lalawa mengepak sayap menembus awan. Dia menyukai tantangan, keinginan mengarungi jurus-jurus baru selalu menjadi tantangan paling menarik hatinya. Makin besar tingkat kesulitan semakin dia bergairah.

Bahwa enam jurus memecah menjadi enampuluh bahkan sampai sembilanpuluh jurus. Lantas dari puluhan pecahan jurus bisa menyatu menjadi satu jurus sinambungan. Tak ada awal, tidak ada ujung. Tampaknya jurus lalawa mengepak sayap menembus awan sesuatu yang mustahil.

Jika orang lain mengatakan ada jurus semacam ini, dia tak akan percaya. Jika seseorang mengaku telah mencipta jurus seperti itu, dia akan mengatakan orang itu berkhayal. Dia akan berkata jurus itu hanya satu khayalan yang jika dipelajari akan membuat seseorang tersesat dan akhirnya gila. Banyak contoh, seorang pendekar mempelajari jurus yang diciptakan berdasar khayalan seseorang, berakhir gila atau mati.

Wisang Geni merenung. Dia tiba disimpang jalan.

Jika percaya pada guru Lalawa, artinya dia akan pelajari jurus ini dan mempertaruhkan keselamatan diri. Jika tidak percaya, maka tak perlu beresiko, tutup saja selembar kulit itu, menganggapnya tidak pernah ada. “Buat apa ambil resiko sebesar itu, bukankah aku telah memiliki ilmu-silat tinggi. Mengapa harus serakah.” Katanya.

Dia membantah pikiran ini, bahwa bukan serakah, tapi tantangan pada keyakinannya akan sosok sang guru Lalawa. Ketika selesai mempelajari wiwaha dan tahu besarnya manfaat tenaga-dalam itu, terpikir olehnya sosok macam apa guru Lalawa itu sehingga bisa mencipta wiwaha?

Pasti Lalawa adalah seorang cerdas dan yang selalu bergelut dengan jurus-jurus ilmu-silat, seperti juga Eyang Sepuh Suryajagad. Seorang pemikir. Dan hanya pemikir yang bisa mencipta sesuatu menjadi “ada” dari “tidak ada”.

Dia ingat kata Eyang Sepuh ketika menjelaskan asal penciptaan jurus menunggang angin.

Menaklukkan angin? Ini juga mustahil.

Tidak mungkin ada jurus hebat yang bisa menaklukkan angin atau menunggang angin. Jika tidak mengalami sendiri, mempelajari dan menguasainya, tentu dia menganggapnya satu khayalan. Persoalannya tergantung pada kepercayaan. Dia percaya pada Eyang Sepuh.

Alasannya kuat, Eyang Sepuh telah mengajarinya banyak ilmu silat. Dia juga percaya guru Lalawa, buktinya kuat, dia telah merasakan besarnya manfaat tenaga-dalam wiwaha.

Berpikir demikian, dia menetapkan hatinya untuk melatih jurus mengepak sayap menembus awan. Wisang Geni juga sama seperti kebanyakan pendekar lain, ingin memiliki ilmu-silat yang tinggi yang membuatnya malang melintang tidak terkalahkan.

Dalam usianya yang hampir empatpuluh Wisang Geni telah mencapai kematangan jiwa dan ilmu silat. Kini didepan matanya terpampang jurus lalawa mengepak sayap menembus awan, jurus yang menurutnya sangat mustahil. Tetapi itulah tantangan.

Pertama-tama, menguasai enam jurus inti. Lalu berlatih dengan mata terbuka. Hanya satu hari, dia menguasainya. Tahap berikutnya memainkan enam jurus itu dengan mata tertutup, tenaga-dalam fokus pada pandangan kedepan, mengirim sinyal bolak balik guna menangkap gerakan yang paling kecil. Dia berlatih dalam air, merasakan getar dan alunan gerak ikan disekitar. Dia berlatih ditebing, menangkap ruang kosong di antara tebing dan jurang.

Pada tahapan berlatih didasar kolam dingin dan panas terjadilah penyatuan antara empat jurus wiwaha dengan enam jurus mengepak sayap itu. Gerakan dasar tangan direntang dan bergerak kedalam atau sebaliknya ternyata nyambung dengan enam jurus itu.

Inilah inti mengepak sayap, bertumpu pada kuda-kuda, dua tangan terentang digerakkan kearah dada dan sebaliknya. Bahwa jurus bisa memecah menjadi puluhan disebabkan banyaknya gerak tangan yang terentang, bisa berputar, bisa naik, bisa nyodok, bisa menyedot, menarik dan berbagai variasi yang mengikuti alur pikirannya.

Bedanya adalah ada tenaga-dalam yang digunakan. Ketika melatih wiwaha unsur panas dan dingin disedot kedalam tubuh dan dikumpulkan menjadi tenaga-dalam. Tenaga itu menyatu dengan fisik, jiwa dan pikirannya.

Sekarang ini, ketika melatih enam jurus mengepak sayap menembus awan maka gerakan yang sama digerakkan dengan tenaga besar wiwaha, itulah pukulan dahsyat. Seketika Wisang Geni mengerti kalimat yang ditulis sang guru didasar kolam dingin dikolam empat jadi satu, digoa enam jadi satu, lalawa tak ada tandingan, mengepak sayap menembus awan.

Selama latihan itu Wisang Geni tak pernah tidur digoa bersama dua isterinya. Dia selalu tidur digoa sang guru diatas tebing. Dia semedi melatih kepekaan indera berhadapan dengan angin keras, tebing curam dan gelap gulitanya malam serta pekatnya kabut.

Dia merasa sang guru Lalawa hadir bersamanya, seakan dia berhadapan dengan gurunya. Wajah dan bentuk tubuhnya dahi lebar, rambut yang dikonde, muka lonjong, mata sipit tajam mengilat, mulut lebar dengan bibir tipis, gigi tajam, kurus jangkung berjubah hitam panjang. Dia bisa melihat bentuk fisik gurunya. Dia menikmati pertemuan imajiner, bercakap-cakap dengan gurunya dalam monolog yang penuh nuansa bakti seorang murid terhadap gurunya.

Dia makan ikan mentah, buah merah yang disediakan kera. Terkadang dia bertemu dua isterinya makan siang bersama ditepi kolam. Terkadang dua isterinya menunggu sia-sia dan akhirnya menyantap makanan itu berdua. Karena Wisang Geni berlatih ditebing-tebing.

Hari Duabelas

Sekar dan Atis membawa makanan ditepi kolam. Menjelang tengah hari ketika keduanya mulai diserang kantuk dikejutkan celoteh kera-kera disekitar. Kera besar menunjuk ke arah kolam. Tampak permukaan air yang biasanya rata mulai beriak-gelombang seperti ada tenaga besar yang mengaduk-aduk.

Makin lama makin besar lalu mendadak air kolam berhamburan diikuti tubuh Wisang Geni yang melambung setinggi satu tombak, dua tangannya merentang kesamping diikuti tubuhnya yang berputar bagai gasing. Butiran air dari dua tangannya menyiprat kesana-sini, sebagian mengena kera-kera yang berteriak, lari dan melompat-lompat. Sekar dan Atis juga kebagian cipratan air.

Tubuh Wisang Geni turun dan tanpa memijak kakinya di permukaan, dia melayang ketepi kolam. Kera-kera berteriak dan melompat saking gembiranya melihat pertunjukan menarik itu.

Sekar dan Atis melongo, mata melotot tak bisa berkata-kata, saking takjubnya.

Wisang Geni berdiri dengan bertelanjang dada ditepi kolam. Kera Besar berteriak keras lalu memeluknya. Tampak dia sangat gembira. Kera-kera lain berlompatan, seakan memberi selamat atas keberhasilan Wisang Geni menuntaskan latihan silatnya.

“Selesai sudah latihanku, kini aku telah menguasai jurus kelelawar mengepak sayap menembus awan.” Dia memeluk dua isterinya yang sama-sama menghambur kedalam rangkulannya. “Aku lapar, mana makananku.”

“Dua hari kamu berlatih. Kamu tak pernah menjenguk kami, hanya bertemu di tepi kolam ini.” Kata Sekar sambil duduk merapat suaminya.

“Nanti malam aku mau dipijitin dua isteriku.” Wisang Geni memandang keliling. “Besok kita pulang ke Welirang. Tetapi sebelumnya, Atis harus melukis gambar kelelawar di dadaku, itu lambang guruku.”

“Bisa Mas, aku sudah lihat gambar lalawa yang dilukis gurumu di dinding goa. Sekarang masih siang, lebih baik sekarang kulukis sebelum gelap sudah harus rampung.” Tanpa malu atau segan kepada Sekar saingannya, Atis mencium mulut suaminya kemudian melangkah genit seakan tahu suaminya memerhatikan bokongnya. Saat berikut Atis melesat bagai anak panah menuju goa mengambil peralatannya. Atis tertawa dalam hati, menertawakan kemenangannya atas Sekar.

Sekar melihat mata Wisang Geni memancar birahi ketika memerhatikan gerak bokong Atis.

“Kamu ingin meniduri Atis?” Tanpa sadar pertanyaan itu keluar begitu saja.

Dan sungguh dia terkejut ketika Wisang Geni menjawab tegas. “Aku kasmaran akan tubuh Atis, aku ingin menidurinya, dia sungguh cantik dan memesona.”

Sekar terdiam. Dia ingin protes, tetapi mulutnya serasa terkunci. Ingin dia menangis, tetapi ditahannya. Ketika itu dia melihat bayangan Atis mendatangi.

“Ayo Mas, aku gambar sekarang!” Seru Atis sesaat dia tiba disisi suaminya.

Wisang Geni rebahan ditepi kolam. Dua isterinya duduk disisinya.

Atis mulai meracik obat ramuan dan mengasah ujung pena dari bumbu serta persiapkan alat semacam jarim tipis.

“Gambarnya harus agak besar dan warnanya hitam, supaya mencolok sebab kulitmu sawo matang dan juga bulu dadamu lebat.”Kata Atis bersemangat.

“Kalian dengarkan kidungan baruku, kidung jurus penakluk raja, tapi kutambahkan dengan syair memuji guru Lalawa.” Wisang Geni berkata, dilanjutkan dengan berkidung.

Ilmu dari seberang,

Tak boleh tepuk dada,

Di tanah Jawa ini

Dari gunung Lejar,

Jurus penakluk raja,

Ilmu dari segala ilmu

Dari lembah kera,

Jurus Lalawa mengepak sayap

Menembus awan

Melenggang ke barat,

Meluruk ke timur,

Merangsak ke utara,

Merantau ke selatan

Tak ada lawan,

Tak ada Tandingan,

Ilmu dari segala ilmu

Tanpa malu-malu Atis duduk diatas paha suaminya dan membungkuk sambil melukis didada bidang Geni. Jarumnya bekerja gesit, matanya menatap mata suaminya dengan mesra, mulutnya sekali-sekali mencium mulut Geni.

Memang hari-hari belakangan Atis makin agresif memperlihatkan cintanya pada Wisang Geni bahkan seringkali dengan gaya menggoda. Dan Atis tidak lagi toleransi atau berlaku segan kepada Sekar. Baginya Sekar adalah saingan yang harus dia kalahkan. Dia ingin Wisang Geni hanya untuk dirinya. Dia ingin Wisang Geni menjadikan dia isteri utama mengambil alih kedudukan Sekar.

Ketika dadanya selesai digambar, Wisang Geni memeluk gemas Atis yang membalas dengan gairah. Mereka ciuman lama. Dan Atis menoleh memandang Sekar dengan tatapan kemenangan yang tidak dimengerti Sekar.

Dan Sekar begitu tak berdayanya sehingga memberi tanda dengan tangannya mengisyaratkan agar Atis mengajak Wisang Geni ke goa.

“Mas bawa aku ke goa, hanya kita berdua.” Bisiknya mesra.

Dan Wisang Geni tanpa menoleh lagi kepada Sekar saking nafsunya membopong Atis melarikannya ke goa.

Sekar menyebur diri kedalam kolam, berenang kesana-kemari. Lalu dia mentas dan lari ke tebing yang tinggi. Duduk di bongkahan batu, menatap awan. Air-mata menetes dipipinya. Dia berbisik kepada diri sendiri. “Sekarang dia lebih mencintai Atis, yang lebih muda, lebih segar dan lebih cantik.”

Malam itu Sekar tidur diatas tebing. Sekali-sekali dia terjaga, udara sangat dingin. Dia semedi untuk menghangatkan tubuhnya.

Saat itu ingatan Sekar melayang ke sosok lelaki yang pernah bercinta dengannya empat tahun lalu, senopati Samba. Persebadanan yang tak pernah dia lupakan, begitu indah dan panas, lebih segala-galanya dibanding kehidupannya selama berada disisi Wisang Geni.

Waktu itu Samba ingin memboyongnya ke keraton Kediri. Tetapi dia bertindak bodoh, ingin ke Argowayang bertemu dengan Wisang Geni.

Ketika Wisang Geni akhirnya berhasil menyelamatkan dia dari tawanan Pranaraja dan Samba, hilanglah kesempatan hidup bersama lelaki hebat itu.”Betapa bodohnya aku, hatiku mengatakan aku sudah kasmaran sudah jatuh hati kepadanya dan ingin diboyong ke Kediri. Tetapi aku masih isteri Geni, tak mungkin aku kabur begitu saja dari suamiku. Jadi aku ingin diboyong secara paksa, sehingga aku tak merasa mengkhianati suamiku. Tetapi dia malah mengabulkan keinginanku ke Argowayang, dia yang bodoh. Samba, kamu dengar aku? Kamu yang bodoh!”

Airmata menetes dipipinya. “Inikah karma balasan bagiku, aku mengkhianati Geni, dan kini dia mengkhianati cintaku?”

Tetapi Sekar tahu, dalam hatinya, dia tak pernah menyesal mengenal Samba, tak pernah menyesal membiarkan Samba memasuki tubuhnya. “Dimana dia sekarang? Kediri kalah, pasukannya hancur, apakah Samba tewas?”

Pertanyaan ini sering mengganggunya. Malam ini pertanyaan itu membuat dia semakin nelangsa. “Apakah aku tak ada kesempatan bertemu lagi dengan Samba?”

Tangis Sekar menjadi-jadi. “Kalau bertemu dia aku akan memberitakan rahasia besar diriku terkait lima malam bersamanya. Dan aku tidak akan menolak lagi, atau pura-pura jual mahal jika dia ingin membawa aku lari menyepi di suatu tempat. Oh Samba, dimana kamu? Mengapa kamu tidak datang mencariku? Apakah lima malam itu hanya selingan bagimu? Apakah kamu lupa padaku? Semudah itu kau melupakan aku padahal malam itu kau berjanji padaku tak akan membiarkan aku pergi. Tahukah kamu setiap aku menciumi putraku Antaseno, memandang parasnya yang tampan, saat itu juga aku teringat padamu. Bagaimana mungkin aku lupa? Aku yakin kamu tidak melupakan aku, aku tahu kamu sangat kasmaran padaku, tetapi dimana kamu, apakah kamu sudah tewas? Sekarang apa yang harus kulakukan?”

Puas dialog dengan diri sendiri. Dia tertawa, menertawakan dirinya. “Aku melakukan dua kebodohan dalam kehidupan asmaraku. Pertama menolak Samba yang telah merebut jiwa ragaku. Dua, membiarkan Atis masuk dalam kehidupanku sehingga dia bisa merebut Wisang Geni dan melempar aku keluar gelanggang. Tak ada wanita sebodoh aku di tanah Jawa ini.”

Perlahan-lahan suara tawanya lenyap ditelan gelapnya malam. Dia melakukan semedi, menenteramkan emosi dan perasaan. Dia melupakan deritanya menghapus air matanya. Tengah malam itu juga dia kembali ke goa. Kembali memasuki kehidupan yang pahit dan nelangsa.

Di pintu goa dia memasang telinga, ternyata dua insan itu tidur pulas. Pelahan-lahan dia merebah diri dan tidur tanpa membangunkan Atis maupun Wisang Geni yang berpelukan. “Aku harus membiasakan diri dengan keadaan yang baru ini, keadaan yang sangat menyiksa diriku.” Dia menghela nafas duka, katanya dalam hati. “Semua salahku sendiri, memberi peluang kepada sainganku untuk merapat kepada suamiku. Sekarang aku turun derajad menjadi selir, Atis yang isteri utama. Oh Wisang Geni, sungguh kamu telah berlaku tidak adil kepadaku.”

***

No comments: