Kutukan Keris Berdarah
By John Halmahera
Bab Sepuluh
Penyesalan
Hari itu, satu hari setelah pertarungan mati hidup di hutan dekat batas desa Kandangan, Arjapura dan Gayatri tiba di desa kecil. Mampir di warung, makan sambil istirahat.
Arjapura memandang perempuan itu. Tubuhnya kini tampak kurus. Langsing. Paras yang tadinya cantik berseri, kini kusam dan muram. Tak ada lagi cahaya atau keceriaan. Dia menghela nafas panjang, tak ada lagi yang dia inginkan dari sosok wanita malang itu.
Dia telah menikmati tubuh yang tadinya begitu segar dan indah. Kini berubah kurus dan kumal. Perempuan itu tidak lagi merawat tubuh. Gayatri sangat bergantung pada racun bius. Ketagihan.
Sehari dia mengonsumsi dua atau tiga kali ayam panggang yang dioles bubuk bius. Belakangan Gayatri tidak lagi mengolesnya pada makanan melainkan memakan begitu saja. Proses keracunan semakin parah, membuat rasa ketagihan makin menguat.
Arjapura sudah bosan bergaul dengan Gayatri. Kini saatnya pergi. Tapi masih ada tugas yang dia ingin Gayatri menyaksikan. Membumihanguskan rumah-rumah di Welirang, bahkan dia berharap menemukan dua anak Wisang Geni disitu. “Aku akan membunuh anak-anak itu didepan mata Gayatri. Meninggalkan Gayatri dan beberapa orang menjadi saksi mata. Jika Wisang Geni masih hidup, maka dia akan sangat menderita mendengar kematian anaknya. Jika dia sudah mati, didalam kubur dia menangisi nasib buruknya.”
Selesai makan. Arjapura memegang dan mengelus-elus tangan Gayatri. “Sebaiknya kita berpisah sementara, kamu langsung menuju Welirang, lima hari lagi kita bertemu disana. Kita bawa si Angga dan hidup ditempat terpencil, sebagai suami isteri yang saling mencinta.”
DILARANG COPY/MENERBITKAN/PUBLISH DI WEBSITE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!
Gayatri terkejut. “Kamu mau kemana? Aku mau bersamamu ke Welirang.”
“Perbekalan bumbu masak sudah habis. Aku mencari bahan-bahan untuk membuat yang baru. Kalau bersama kamu akan makan waktu lama, supaya cepat maka aku harus pergi sendiri. Kuda ini biar kamu yang tunggangi.” Kata Arjapura. Tak ada rasa kasihan dalam dirinya lagi, seandainya Gayatri yang tenaga-dalamnya setengah lumpuh, bertemu perampok dan diperkosa atau dibunuh.
“Arja, aku butuh bumbu masak itu, masih adakah?”
Laki-laki itu merogoh saku, mengeluarkan sebungkus kecil bubuk racun bius. “Sudah kukatakan, bumbu masak hanya tinggal sedikit. Kamu gunakan sehemat mungkin. Lima hari lagi kita bertemu di Welirang, akan kuberi bumbu yang lebih banyak dan lebih kental.” Arjapura menemui pemilik warung, membayar harga makanan. Lalu kembali lagi ke meja. “Gayatri, jangan lupa, lima hari lagi di Welirang!” Katanya.
Perempuan malang itu mengangguk.
Arjapura melangkah keluar warung.
Gayatri menimang-timang bungkusan kecil itu. Matanya berbinar gembira mendapatkan bubuk bius itu seakan memperoleh permata yang tidak terbilang harganya. “Hemat-hemat, lima hari, ah bumbu masak ini hanya tahan lima kali makan, setelah itu aku harus mencari kemana?” Sesaat dia bingung.
Gayatri menunggang kuda, menuju Timur. Dia masih sadar, rumahnya di arah Timur.
Hari menjelang gelap, dia berada di hutan lebat. Matanya menangkap bayangan kuning bergerak ke arahnya. Orang itu berhenti didepan kudanya, yang meringkik ketakutan sambil mengangkat dua kaki depan. Gayatri nyaris jatuh, cepat memeluk leher kudanya.
“Kamu kemalaman di hutan. Mari kuantar ke tempat bermalam. Didekat sini ada gubuk tua yang bisa dijadikan tempat menginap.” Kata orang itu yang ternyata nenek tua berpakaian dan berjubah kuning. Nenek itu membawa buntalan yang diikat dipunggungnya.
Gayatri seakan mengenal si nenek tetapi lupa dimana dan kapan.
Tak ada gairah hidup, tak ada ketakutan, tak ada kecurigaan, Gayatri manda saja dituntun wanita tua jubah kuning.
Tidak berapa lama keduanya tiba di gubuk tua. Cukup besar. Atap dan dinding rusak parah, namun masih memadai untuk tempat bernaung.
Nenek itu membersihkan lantai tanah. Lalu menggelar selimut tipis yang diambilnya dari buntalan bawaannya. Dia menghampiri Gayatri. “Anakku. Mari istirahat didalam.”
Gayatri duduk sambil menatap wanita tua itu. “Rasanya aku pernah melihat nenek.”
Nenek itu tersenyum. “Di warung itu kamu memberiku makanan.”
Gayatri diam. Matanya menerawang. Tatapannya kosong. Tiba-tiba dikejutkan suara si nenek. “Mana bubuk itu? Boleh kulihat?”
“Mau apa? Itu milikku?” Tegas Gayatri, matanya memancar sinar marah dan curiga.
“Kamu suka bubuk itu? Mana kulihat, aku bisa membuat bubuk yang lebih enak, pasti kamu suka, tapi aku harus melihat bubukmu dulu.”
“Benarkah? Satu bungkus kecil memang tidak cukup untuk lima hari. Arjapura berjanji bertemu aku lima hari lagi, akan memberiku bumbu yang lebih kental dan lebih enak.” Kata Gayatri sambil merogoh sakunya menyodorkan bubuk bius.
Nenek itu membawa bubuk ke hidungnya, lalu menyentuh dengan jari dan mencicipi di ujung lidah. “Racun jahat!”
“Siapa bilang racun, itu bumbu masak. Kembalikan padaku!” Seru Gayatri.
Nenek melonjorkan tangan, menotok beberapa titik tubuh Gayatri. Gerakannya gesit.
Seketika tubuh Gayatri lemas, tenaganya lenyap, dia rebah. Matanya melotot marah tapi tak berdaya. “Mau apa kamu?”
“Menyembuhkan kamu. Mungkin memakan waktu beberapa hari untuk mengeluarkan racun dari dalam tubuhmu. Maafkan aku, anakku, penyembuhan ini akan terasa sakit, tetapi kamu harus bisa menahan rasa sakitnya.” Katanya.
“Aku tidak sakit.” Seru Gayatri. Tetapi suaranya lemah.
“Sebaiknya sekarang.” Sambil dia mengeluarkan beberapa macam akar serta daun dari buntalannya. Dia menggerakkan tubuh, seketika dia lenyap. Tak berapa lama dia kembali dengan segenggam daun, rumput dan akar. Dia menumbuk menghancurkan daun-daun dan akar lalu mencampur dengan air.
Dia menuang jamu cair ke atas daun waru yang dibuat seperti corong. “Rasanya pahit, kamu akan memuntahkan racun jahat itu. Perutmu akan sakit. Minum ini!”
“Aku tidak sakit.” Gayatri bersikeras.
“Kamu harus minum.” Dia memegang dan menekan dagu Gayatri, lalu menuang ramuan itu kedalam mulut Gayatri. Lalu menotok urat leher. Ramuan sudah tertelan.
Gayatri batuk-batuk, berseru. “Pahit. Pahit!”
Nenek bergerak cepat, mengatur letak tubuh Gayatri. “Umurmu hanya tinggal beberapa hari lagi. Kamu sudah keracunan hebat.”
“Aku sehat. Aku tidak sakit, aku tidak keracunan!” Seru Gayatri. “Mana bumbu masakku, aku mau bumbuku. Mana berikan padaku. Itu milikku, mengapa merampas milikku?”
Nenek itu melucuti kebaya Gayatri, tubuh atasnya bugil. “Kamu sekarat, anakku.”
“Jangan buka bajuku!” Seru Gayatri.
Nenek tidak menyahut. Dia membalik tubuh Gayatri menjadi telungkup. Tangannya menempel disisi perut Gayatri.
Seketika Gayatri merasa tenaga panas menyerbu dan berputar-putar diperutnya. Saat berikut dia merasa mual, lalu tanpa tertahan lagi dia muntah. Muntahan lendir kental berwarna kuning. Baunya bacin.
Tenaga itu berputar-putar terus, Gayatri tidak hanya muntah lendir juga mengeluarkan kentut dan kotoran dari anus. Celananya basah dengan air kencing dan kotoran. Air mata mengalir, dia menangis teriak-teriak sakit.
Gayatri merasa seakan seluruh tulang dan ototnya dicabut dari tubuhnya. Setiap muntah, perutnya terasa kaku dan kejang, namun tenaga-dalam sang Nenek bisa menetralisir kesakitan itu dengan kenyamanan. Silih berganti, sakit dan nyaman, sakit dan nyaman.
Selama satu jam pengobatan, makin lama makin sedikit muntahan lendir. Nenek itu melepas tangannya,
Gayatri terbaring lemah. Matanya menatap nenek. Tatapannya lemah mencerminkan tenaganya yang lemah. “Apa yang kamu lakukan, Nek?”
“Racun itu jahat. Kalau tidak ditolong, kamu akan mati. Kasihan kamu, anakku.”
“Aku sehat. Aku tidak sakit!” Seru Gayatri.
“Coba lihat, kamu muntah lendir warna kuning, kamu buang kotoran dan kencing di celana. Warnanya hitam, baunya bacin. Itu racun jahat yang sudah keluar dari tubuhmu. Tapi belum semua, masih ada lagi yang mengendap di tubuhmu.”
Pelahan-lahan kesadaran Gayatri mulai pulih.
Dia mengamati lendir muntahan, begitu banyak. Sebagian sudah meresap dalam tanah. Saking banyaknya muntahan sebagian tidak terserap tanah lagi. Hidungnya mencium bau bacin. Dia juga merasa bokongnya basah. Ada cairan.
“Benar kata Nenek, aku muntah, banyak lendir, juga buang kotoran. Akan kubersihkan.” Kata Gayatri, parasnya merah malu. Belum pernah dia mengalami kejadian memalukan, buang kotoran dan kencing di celana.
Nenek itu tertawa. “Tidak perlu.” Nenek mencengkeram lengan Gayatri membawanya berlari. Begitu ringan dia berlari seakan tubuh Gayatri hanya seonggok daging satu kiloan. Gayatri tercengang. Ketika Nenek membantunya dengan tenaga-dalam dia sudah mengira ilmunya sangat tinggi. Kini dia semakin yakin, Nenek itu berilmu tinggi.
Tidak berapa lama keduanya tiba di tepian sungai. Nenek melompat ketengah sungai, mencelup Gayatri kedalam air, tangannya tetap mencengkeram lengan. Saking kagetnya Gayatri menelan air dari mulut dan hidungnya. Dia terbatuk-batuk ketika diangkat keatas, lalu dicebur lagi. Berulang kali. Gayatri merasa segar. Dia sudah tidak ingat berapa lama dia tak pernah mandi. Dulu di Welirang dia sering berenang di danau.
Timbul kegembiraan Gayatri Tapi segera saja kegembiraan lenyap berganti takut melihat buaya-buaya pemangsa manusia berenang mendekat. Banyak. Dia tak sanggup menghitung. Lalu dia menyaksikan pertunjukan luar biasa, si Nenek unjuk aksi, memperlihatkan ilmu-silatnya yang tinggi.
Sebelah tangan menentang tubuh Gayatri, tangan lainnya memainkan kain bekas tiduran Gayatri yang penuh kotoran dan muntahan, mencelup kain. Dia memutar kain dan tiba-tiba kain yang tegak macam tongkat menjulur melilit tubuh buaya. Kain itu dikedut dan buaya itu terlempar ke tempat lain. Begitu seterusnya.
Tidak hanya mempermainkan buaya, si Nenek sambil tetap mencengkeram lengan Gayatri berlompat-lompatan dengan punggung buaya sebagai pijakan.
Selama main-main itu Gayatri berteriak-teriak, saking senang tapi juga takut.
Tingkah pola Gayatri macam anak kecil.
Air sungai bergolak. Hampir setengah jam lamanya Nenek bermain disungai. Dia mentas dengan melompati tubuh buaya, hinggap ditepi sungai. Kemudian berlari ke gubuk tua.
“Sudah bersih. Tubuhmu bersih. Pakaianmu bersih. Kain selimutku juga bersih. Sekarang kita keringkan pakaian. Kamu bawa pakaian ganti?” Tanya si Nenek dengan mimik lucu, dia tertawa geli memandang Gayatri yang mulutnya terbuka, melongo.
Gayatri masih telanjang tubuh bagian atasnya.
“Mengapa melongo?” Nenek tersenyum dan bertanya.
Gayatri tidak tahu bagaimana harus bersikap. Menjawab asalan saja. “Buaya-buaya itu jahat, pemangsa manusia.”
“Aku tidak membunuh mahluk hidup. Tidak juga buaya.” Nenek bersila, mengerahkan tenaga-panas untuk mengeringkan baju yang melekat ditubuhnya.
“Ilmu-silat Nenek sangat tinggi, siapa sebenarnya kamu?” Tanya Gayatri sambil mengenakan kebaya kering dan celana panjang yang dia ambil dari buntalannya. Dia telanjang didepan si nenek tanpa merasa risih. Seakan nenek itu sudah dikenalnya lama.
Wanita tua memandang kagum. “Kamu cantik, lihat tubuh dan parasmu, tidak ada cacat dan kekurangan sedikit pun.”
“Kecantikan ini membawa sial, nasibku sial.” Nada suara Gayatri nelangsa.
“Aku tahu kamu berasal dari Himalaya, benarkah?”
“Dari mana kamu tahu?” Tanya Gayatri.
“Aku melihatmu di pelabuhan Jedung. Namamu Gayatri, putri dari Yudistira.”
“Benar, kamu kenal ayahku?” Tanya Gayatri, heran.
“Tidak kenal.”
“Kamu siapa Nek, siapa namamu?”
“Aku sudah lupa namaku. Asalku dari negeri dingin, jauh diseberang laut di utara tanah Jawa. Sejak usia tujuhbelas sampai sekarang ini enampuluhan, aku menetap di Jawa jadi sudah jadi orang Jawa. Panggil aku nenek.”
Gayatri tertawa. Timbul kegembiraannya. “Nek, kamu membawaku ke sungai mencuci tubuhku bagaikan mencelup pakaian disungai.” Dia memandang keliling, khawatir ada orang lain yang melihatnya telanjang tadi.
“Cara itu lebih cepat. Dan kamu suka, buktinya kamu tertawa dan teriak-teriak senang macam anak kecil.” Kata si Nenek.
“Nek, kamu masih cantik, pasti waktu muda kamu sangat cantik. Siapa kamu?” Sambil Gayatri meneliti wajah wanita tua itu. Parasnya bersih, pipinya licin, matanya bening dan tajam. Rambutnya separuh ubanan lebat panjang melewati bahu, diikat dengan pita hitam. Dia tinggi langsing, kulit tubuhnya putih bersih.
“Tidak perlu tahu siapa aku. Yang penting kamu ketahui, bahwa kamu telah diracuni oleh suamimu itu, apa salahmu, mengapa dia mau membunuhmu?” tanya si Nenek.
“Dia bukan suamiku.” Potong Gayatri.
Nenek tua itu memandang penuh tanda-tanya.
Gayatri mengalihkan pembicaraan. “Katamu Nek, kamu melihat aku di Jedung?”
“Itu kebetulan. Aku melihat kamu dan langsung menyukaimu.”
“Menyukai aku, apa maksudmu?”
“Aku akan mewariskan padamu ilmu-silat tinggi.” Tegas si Nenek sambil tertawa. “Kamu belum menjawab, benarkah laki-laki itu bukan suamimu?”
“Memang dia bukan suamiku.”
“Tapi kamu berhubungan seperti suami isteri.”
Gayatri terdiam. Parasnya pucat. Seketika tahu apa yang terjadi pada dirinya. Arjapura telah menipu. Meracuni dengan bubuk bius. Racun yang membuat dia dirangsang birahi dan lupa daratan. Saking malunya dia menutup wajahnya dengan dua tangan, lalu menangis.
“Ceritakan anakku, nenek mendengar, nenek akan menolongmu. Sejak kapan kamu makan bumbu masak itu, racun bius itu?”
“Aku tidak tahu kapan, ketika di Jedung aku nginap di warung Minten, besoknya aku sakit dan diantar dengan kereta kuda. Ditengah jalan Arjapura menolongku, katanya para pengawal ekspedisi membius dan akan memerkosa aku, itu sebab dia bunuh mereka semua.” Ingatannya menerawang malam hari ketika hujan deras dihutan. Itu awal dia masuk perangkap Arjapura. Diperkosa. “Apakah aku diperkosa?” Bisiknya.
Dia menutup mukanya, menangis keras. Dia selingkuh. Membiarkan laki-laki lain memasuki tubuhnya yang merupakan hak mutlak Wisang Geni.
“Aku mengkhianati suamiku, aku selingkuh. Dosaku itu tidak terampun. Tidak ada orang seburuk aku. Aku manusia paling buruk dikolong langit.” Tutur Gayatri dengan isak tangis.
“Laki-laki itu menipumu. Dia membiusmu, menaruh racun bius di makanan, racun yang jika dimakan seseorang menjadi lemah dan lemas tetapi nafsu birahinya melonjak tinggi. Jika hari itu kamu makan bius itu, berarti sudah limabelas hari keracunan. Bisa diselamatkan, tapi jika lebih dari tigapuluh hari, kamu akan ketagihan dan pada akhirnya mati. Sekarangpun kamu sudah ketagihan, tetapi masih bisa disembuhkan.”
“Nek, sembuhkan aku!”
“Pasti kutolong! Sudah lebih dari separuh racun yang kukeluarkan.” Tukas Nenek.
Gayatri menceritakan pikirannya dipengaruhi sehingga dia mencurangi suaminya. Pada saat mana Arjapura memukul dengan jurus maut. “Aku tak tahu suamiku hidup atau mati.”
“Wisang Geni masih hidup!” Kata si Nenek.
Gayatri berteriak. “Nek darimana kamu tahu?” Ada harapan dalam suaranya itu.
“Aku yakin. Wisang Geni masih hidup, dan dia akan mencarimu.” Wanita tua itu sengaja meniup harapan kosong agar Gayatri tidak putus asa.
“Aku berdosa padanya, dia pasti marah dan akan membunuh aku.” Tegas Gayatri.
Nenek itu memandang ramah dan lembut. “Gayatri. Lapangkan dadamu, yakinkan dirimu bahwa kamu akan berubah, dan kamu akan minta ampun pada suamimu. Bisa?”
Gayatri mengangguk.
“Nek, katamu kamu melihatku di Jedung, lalu kamu muncul di warung dimana aku memberimu makanan, apakah kamu membuntuti aku?”
“Aku menyukai kamu, dan kamu cocok menjadi muridku, mewarisi ilmu-silatku dan juga jurus-jurus dari sebuah kitab pusaka, itu sebab aku membuntuti kamu.” Kata si Nenek. “Mau jadi muridku? Murid tunggal. Sebab aku tak pernah punya murid.”
Serta-merta Gayatri menjatuhkan diri, berlutut mencium kaki Nenek. “Guru. Muridmu berlutut memuja kamu. Aku akan setia memujamu Guru.”
Tangan Nenek mengelus-elus kepala Gayatri. Dia tertawa, suaranya lirih. “Akhirnya kutemukan seorang murid yang cocok dengan kata hatiku.”
Lalu Nenek itu memegang pundak Gayatri. “Bangun, anakku. Mungkin aku mati dalam waktu dekat. Tetapi sebelum ajalku datang, akan kuwariskan semua ilmu-silatku. Tidak mungkin dalam waktu singkat kamu menguasai semua ajaranku, jadi kamu hanya perlu mengingatnya, menghafal di kepalamu, setiap saat kamu merenung dan melatih sendiri. Setelah bertahun-tahun kamu akan menjadi pendekar yang sulit dikalahkan orang. Selain seluruh ilmu silatku, juga kuwariskan jurus-jurus hebat dari kitab Lhakeswara.”
Gayatri kaget. “Lhakeswara? Kamu punya kitab hebat itu, kitab itu dicari-cari dan diincar semua pendekar di dunia persilatan. Hati-hati Guru.”
“Orang tak akan bisa mencuri kitab itu dari aku.” Tegas si Nenek, nadanya sombong.
Gayatri tersenyum. “Kamu benar, Guru, dengan ilmu-silat setinggi yang kamu miliki siapa orang yang sanggup mengalahkan kamu?”
“Tidak benar. Diatas langit masih ada langit yang lebih tinggi. Ilmu-silatku bukanlah yang paling tinggi. Masih banyak pendekar yang ilmu-silatnya lebih tinggi dibanding aku. Yang kumaksud tadi, kitab itu ada dikepalaku.” Sambil dia menunjuk dahinya.
Melihat Gayatri tidak mengerti. Nenek melanjutkan. “Sesungguhnya Lhakeswara tidak pernah ditulis dalam buku. Tidak ada kitab Lhakeswara. Aku menerima ajaran ini dari seorang pendekar empatpuluh tahun lalu. Aku sudah bersumpah tak akan menyebut namanya. Kitab berisi dua ajaran, falsafah hidup dan ilmu silat. Falsafah untuk memahami hidup dan menolong sesama manusia. Ilmu-silat untuk menjaga keseimbangan antara kejahatan dan kebaikan, memelihara dunia agar tidak dikuasai kejahatan.”
DILARANG COPY/MENERBITKAN/PUBLISH DI WEBSITE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!
Gayatri memotong cepat. “Oh aku mengerti sekarang, itu sebab orang-orang menyebut kitab Lhakeswara terdiri dua jilid. Harus dipelajari dua-duanya sekaligus, tidak boleh belajar hanya dari satu jilid.”
Nenek mengangguk. “Sekarang, apakah kamu sudah siap?”
“Aku siap Guru.” Tegas Gayatri.
“Aku akan membacakan perlahan-lahan dan kamu menghafalnya. Kamu cerdas, tiga hari kamu sudah hafal. Setelah itu kujelaskan. Petunjuk silat, tidak mungkin bisa kamu pelajari sekarang, butuh waktu bertahun-tahun, makin lama makin sempurna.” Kata si Nenek.
Dia berhenti sejenak lalu melanjutkan. “Akan kuajari jurus pilih bumi melepas rembulan, kumpulan jurus-jurus ilmu silat yang kupelajari dan kudalami selama puluhan tahun. Kamu juga harus menghafalnya. Setelah hafal lalu aku akan melatihmu.”
Si Nenek kemudian menurunkan salah satu jurus dari kumpulan jurus hebat pilih bumi melepas rembulan.
“Satu jurus ini bisa kamu gunakan meskipun sekarang ini tenaga-dalam masih belum pulih seluruhnya. Jurus ini mengutamakan unsur tidak terduga, musuhmu akan kaget. Harus cepat dan tepat sasaran. Beberapa detik itu sudah cukup bagimu untuk mengalahkan musuhmu. Jangan ragu-ragu menggunakan jurus ini.” Si Nenek menyuruh Gayatri praktek.
Selama tiga hari, sambil membersihkan tubuh Gayatri dari racun bius, Nenek yang tak mau memperkenalkan diri mengajarkan Lhakeswara.
Hari keempat mereka tiba di lereng Welirang. “Aku belum mau bertemu orang-orang, aku malu Guru. Tetapi aku sangat rindu anakku si Anggreni.”
“Pada saatnya nanti kamu akan bertemu orang-orang itu, juga suamimu. Satu hal penting, kamu harus belajar menahan diri, jangan cepat terpengaruh perasaanmu. Itu kelemahanmu.”
“Aku sulit menahan diri, seringkali terpancing omongan orang.” Kata Gayatri.
“Mudah. Dalam pembicaraan dengan seseorang, kamu pusatkan pikiran pada pernafasan, tarik nafas, tahan nafas dan lepas nafas. Kerjakan secara diam-diam. Maka apapun omongan orang, perbuatan orang, tak akan bisa memancing emosimu.”
Mereka melakukan perjalanan ke Welirang sambil tetap berlatih ilmu silat. Nenek jubah kuning itu tetap melakukan penyembuhan. Setiap malam Gayatri telanjang bulat kemudian gurunya mengurut sekujur tubuhnya dengan pengerahan tenaga dalam.
Tiba di Welirang keduanya menetap di tempat terpencil. Nenek jubah kuning itu tidak memaksa muridnya untuk muncul dan bertemu orang-orang Welirang.
“Guru, aku betah tinggal bersamamu, banyak pelajaran yang kuperoleh. Kamu harus memberi aku kesempatan merawatmu. Ini pengalaman pertamaku sebagai murid, selama ini aku tak punya guru, yang mengajariku ilmu silat hanya kakek, ayah dan ibu.”
“Aku tetap bersamamu, kamu murid setia, banyak berbuat kebaikan kepadaku, memasak, memijit kakiku, ngobrol dan berbincang.” Kata si Nenek.
“Guru, kamu begitu yakin suamiku masih hidup?”
“Dia masih hidup. Ilmu-silatnya tinggi, tidak mudah dibunuh orang.”
Paras Gayatri berseri tapi saat berikut muram. “Apakah dia akan mengampuniku?”
Nenek mengangguk. “Dia akan mengampuni karena kamu ibunya Anggreni.”
“Maksud Guru?”
“Angga adalah perekat dia denganmu, dia tak akan mencelakakan ibu dari putrinya.” Nenek berdiam sejenak lalu bertanya. “Kamu mencintai suamimu itu?”
“Aku sangat mencintainya, sekarang ini hampir setiap malam aku membayang parasnya.”
“Sebaiknya kamu membenahi dirimu, rawat tubuhmu, kuras isi perutmu supaya bersih, agar kamu siap menerima tubuhnya kembali.”
Gayatri merunduk malu. “Guru, ajari aku.”
Melihat gurunya mengangguk, Gayatri lantas menjatuhkan diri, mencium kaki sang guru, “Terimakasih guru, kamu sungguh mulia.”
Tidak seperti janjinya Arjapura tiba di Welirang pada hari ketujuh sejak berpisah dengan Gayatri. Dia menyamar sebagai pengelana yang kelaparan. Jalan terseok-seok menuju rumah besar. Pikirannya tertuju pada seorang anak perempuan, cantik, kulit putih, usia sekitar tiga tahunan, namanya Anggreni.
Beberapa langkah dari rumah besar, seorang anak kecil berlarian sendirian. Dia berusaha menangkap kupu-kupu. Anak perempuan itu sesuai ciri yang diceritakan Gayatri.
Cepat dan gesit Arjapura menangkap Anggreni. Lalu tertawa keras, suaranya menggema ditebing-tebing. Anggreni dalam dekapannya, menangis ketakutan, menutup telinganya.
Semua orang berlarian keluar.
Prastawana dan semua murid Lemah Tulis terkesima, melihat laki-laki tinggi besar berewokan mendekap Anggreni.
Arjapura tertawa. “Aku yang membunuh Wisang Geni, hutang nyawa putraku. Sekarang anak Wisang Geni ini akan kubunuh didepan kalian. Jika Wisang Geni masih hidup, dia akan merasa betapa sakitnya kematian anak. Akan kubunuh juga semua anak dan isterinya.”
“Lepaskan anak itu, hadapi aku secara jantan!” Teriak Prastawana.
“Tidak mungkin. Akan kubunuh anak ini. Setelah itu baru kita tarung. Hari ini aku akan membunuh banyak orang.” Dia tertawa.
Sepanjang dialog tadi, Anggreni menangis.
Saat itu Gayatri dari tempat persembunyiannya tak lagi dapat menahan diri. Kini dia tahu tujuan Arjapura yang sebenarnya.
Dia tak perduli apa ang bakal terjadi, dalam pikirannya hanya bagaimana cara menolong putri semata wayangnya. Dia melangkah tertatih-tatih menghampiri Arjapura. Langkahnya yang bagaikan orang tak memiliki tenaga, bagian dari tipudayanya. Dia ingin Arjapura tahu bahwa dirinya masih lemah dan tak punya tenaga.
“Arja, jangan bunuh anakku. Kamu sudah berjanji.” Seru Gayatri.
Arjapura kaget. Semua yang ada disitu ikut kaget.
Anggreni menangis. “Ibu… ibu… aku takut, ibu … ibu…”
Gayatri kian mendekat. “Arja, bunuh aku saja sebagai ganti anakku.”
“Aku tidak perlu kamu lagi. Sudah puas aku memaksa kamu mengkhianati suamimu sendiri, kini siapa lagi orang yang percaya padamu.” Arjapura tertawa keras.
“Selama ini kamu menipu aku. Kamu memberi aku bubuk racun, apa nama racunnya?” Gayatri bertanya sambil beringsut, terseok-seok mendekati Arjapura.
Arjapura tertawa.
Anggreni menangis sambil menutup telinga.
Arjapura tertawa. “Itu racun bius, tenagamu lenyap tetapi nafsu birahimu melonjak-lonjak yang jika tidak bisa kausalurkan maka kamu jadi gila. Nah setelah itu kamu jadi milikku, jadi mainanku, kamu mengemis minta sanggama, setiap hari tiga kali kita sanggama, kamu jadi budakku bahkan kuperintah menipu Wisang Geni pun kamu bersedia.”
Gayatri menekan malu dan amarahnya, tekadnya hanya satu, menolong anaknya.
Dia ingat petuah gurunya, jangan ragu-ragu menggunakan jurus ini. Apakah sekarang waktunya, menolong Angga? Dia yakin akan jurus gurunya pilih bumi melepas rembulan.
Dia berpura-pura masih dalam keadaan ketagihan. Masih sebagai Gayatri yang lemah dan yang tak punya kepandaian karena tenaga-dalamnya sudah punah.
“Arjapura, mengapa kau hancurkan hidupku, aku tak pernah bermusuh denganmu, kamu sahabat ayahku. Mengapa kamu tega menghancurkan aku?” Gayatri mencari-cari kesempatan saat dimana Arjapura lengah. Dia ingat kata-kata Gurunya, “jurus ini harus mengandung kejutan, membuat musuh kaget.”
“Memang benar kamu bukan musuhku. Tapi dendamku pada Wisang Geni sedalam lautan, aku bertekad tidak hanya membunuhnya juga isteri dan anak-anaknya. Nasibmu buruk, begitu juga dua isteri Wisang Geni yang kubunuh di Kandangan. Sekarang Anggreni anaknya akan kubunuh didepan kalian.”
Gayatri memperpendek jarak, menjadi satu meter dari Arjapura, dia lalu memanfaatkan momen yang tepat. “Paman Arjapura, dia itu cucumu, putri tunggal Wasudeva!”
Arjapura kaget. Sesaat dia berpikir, “benarkah dia ini cucuku?”
Saat itulah, satu detik yang maha penting dalam hidupnya, membuat Gayatri bergerak cepat menggunakan salah satu jurus andalan dari kumpulan “pilih bumi lepas rembulan”. Jari tangan menusuk mata dan titik mati didada, kaki kanannya menendang selangkangan.
Semuanya titik kematian.
Arjapura tak menyangka Gayatri bisa menyerang. Pikirnya wanita itu masih lemah, masih ketagihan racun bius dan tak memiliki tenaga. Karenanya dia kaget.
Tetapi ilmu-silatnya tinggi, pengalaman tarungnya banyak, dia masih mampu menangkis tusukan jari dimata dan dada, satu kakinya diangkat menangkis tendangan Gayatri.
Namun dia kaget sebab saat yang sama dia mendengar desis angin tajam mengancam pelipis, pusar, dada, leher, hati, jantung dan selangkangan. Dia tak sempat menghitung dan tak bisa melihat siapa penyerangnya.
Seketika dia tahu, itulah serangan senjata rahasia dari seorang bertenaga-dalam tinggi. Tidak sempat berpikir, dia menggerakkan dua tangannya menangkis serangan Gayatri dan menyentil senjata rahasia yang mengarah pelipisnya, ternyata senjata rahasia itu hanyalah batu kerikil.
Kerikil yang mengarah jantung dan pusar tak bisa dihindari namun bisa dialihkan dengan putaran badan. Dua kerikil itu menerpa dada dan perut namun bukan di titik kematian. Kerikil yang mengarah selangkangan dia tangkis dengan pahanya.
Dia merasa akibatnya. Jari tangannya terluka, nyaris patah. Dada, perut, dan paha terluka, kerikil masuk satu senti kedalam tubuhnya, rasanya nyeri dan panas. “Bangsat, ilmu-silat orang itu dari tingkat tinggi.” Gumamnya dalam hati.
Pada saat Arjapura bergerak, menangkis dan menghindar serangan Gayatri dan sambitan kerikil orang tak dikenal, dekapannya pada Anggreni terlepas. Anak kecil itu jatuh.
Jurus pilih bumi lepas rembulan memiliki perubahan tak diduga.
Tendangan ke selangkangan berubah arah, Gayatri menarik kakinya, memutar arah kaki yang dengan lembut menyentuh tubuh Anggreni. Sekali kedut, tubuh Anggreni melayang menjauh dari arena tarung.
Perubahan itu membawa akibat. Tangkisan kaki Arjapura yang melindungi selangkangan ikut berubah, menghantam kaki Gayatri. Tepat di bagian betis.
“Akhhhh!!” Teriak Gayatri kesakitan.
Tulang betis itu tidak patah, karena seluruh tenaga Arjapura sibuk melayani senjata rahasia yang dilontar seseorang dengan tenaga-dalam tinggi. Tendangan yang mengena betis Gayatri, ibarat tendangan orang normal dengan kekuatan besar, tanpa disertai tenaga-dalam. Meskipun demikian, Gayatri merasa kakinya seakan copot. Dan maksudnya ingin menangkap tubuh putrinya, gagal.
Pada saat itu Prastawana melesat dengan jurus penakluk raja. Berbarengan Dyah Mekar dan Gajah Lengar melesat menggunakan jurus garudamukha prasidha. Seperti sudah diatur Laras melesat menangkap Anggreni, memeluk anak itu yang menangis keras, ketakutan.
Arjapura bukan pendekar biasa. Dia sudah malang melintang dalam pelbagai macam pertarungan. Dia bisa lolos dari serangan Gayatri dan senjata rahasia kerikil.
Tapi belum sempat menghirup nafas lega, dia harus meladeni gempuran Prastawana bertiga Gajah Lengar dan Dyah Mekar. Saat berikut Gajah Nila dan Sawitri ikut menyerang.
Menghadapi serangan dari para pendekar utama Lemah Tulis, hanya dalam dua jurus Arjapura pontang-panting. Dia tahu, bertahan lebih lama, bukan saja sulit meloloskan diri bahkan nyawa pun terancam. Apalagi masih ada seorang berilmu tinggi yang sewaktu-waktu bisa menyerangnya dengan senjata rahasia yang mematikan.
Tidak bisa lain, Arjapura melesat kabur sambil mengeluarkan ancaman. “Urusanku disini belum selesai. Aku akan membunuh tiap murid Lemah Tulis yang kutemui!”
Gayatri berseru keras. “Laras, kembalikan anakku!”
“Maaf Gayatri, tetapi Anggreni anak ketua kami!” Laras berkata tegas.
“Dia anakku!” Suara Gayatri makin keras saking marahnya.
Anggreni menangis, berteriak. “Ibu, ibu.” Meronta ingin lari kepelukan sang ibu.
Laras menahan Anggreni dengan memeluk lebih erat.
Anggreni menangis lebih keras sambil berteriak memanggil ibunya.
Timbul amarah yang menerbitkan keberanian, seperti macan betina terluka yang melihat anaknya terancam maut.
Gayatri berteriak. “Prastawana, aku adu-nyawa melawan kalian. Kembalikan Anggreni! Ayo Prastawana, jangan pengecut, pilih tarung atau serahkan anakku.”
Prastawana menahan diri, berkata kepada Laras. “Kembalikan Angga kepada ibunya.”
Anggreni berlari menghambur kedalam pelukan ibunya. Gayatri memeluk, menciumi wajah putrinya sambil menangis. “Oh Angga, kamu selamat, kamu sehat. Ibu sangat rindu padamu, hari ini ibumu dipermalukan penjahat itu didepan banyak orang, rasanya ibumu mau mati. Tetapi yang mencegah ibu bunuh diri hanyalah rindu padamu.”
“Jangan mati ibu.” Anggreni memeluk ibunya.
“Tidak. Ibu tak mau mati, ibu mau pelukan sama Angga.”
Ketika Gayatri hendak melangkah pergi, Prastawana menegurnya. “Akan kamu bawa kemana Anggreni?”
Langkah Gayatri terhenti, membalik badan. “Anggreni lahir dari rahimku, aku tinggal dekat danau, menunggu suamiku.” Tertatih-tatih sambil membopong Angga dia melangkah.
Baru beberapa langkah dia berhenti, menoleh ke belakang.
Matanya melotot, memancar sinar hawa amarah. “Nasibku memang buruk, gara-gara Arjapura. Aku akan balas dendam. akan kubunuh penjahat itu!” Suaranya parau.
Semua orang yang hadir disitu dan yang menyaksikan sepakterjang Gayatri, terdiam. Rasanya mengerikan melihat dendam yang terpancar dari sepasang mata merah Gayatri.
“Kamu isteri ketua, kamu orang yang kuhormati, kami berenam sedang mencari ketua, dimana kira-kira aku bisa menemukan ketua?” Kata Prastawana dengan ramah.
Gayatri menatap tak percaya. “Benarkah kamu masih menganggap aku isteri ketuamu?”
“Aku sudah diangkat sebagai ketua Lemah Tulis tetapi bagiku Wisang Geni tetap ketuaku dan aku hanya mewakilinya. Kamu isteri ketua, dan tetap sebagai isteri ketua, sampai saatnya ketua berkata yang berbeda.” Kata Prastawana, ramah dan sopan.
DILARANG COPY/MENERBITKAN/PUBLISH DI WEBSITE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!
“Prastawana, kamu pendekar sejati, tidak percuma suamiku mengagumimu menyebutmu yang paling layak menjadi ketua Lemah Tulis. Kata-katamu bagai emas yang bisa kupegang.” Tegas Gayatri datar.
“Isteri ketua, bisakah memberitahu, kira-kira kemana aku harus mencari ketua?”
Gayatri berkata. “Tunggu saja dilereng bukit Lejar. Pasti kamu akan bertemu ketuamu.”
Ketika itu sesosok bayangan berkelebat. Seakan turun dari langit, seorang nenek berjubah kuning berdiri didekat Gayatri. Tidak terlihat gerakannya, petanda ilmu-ringan tubuhnya sudah mencapai taraf kesempurnaan.
“Hai muridku, aku datang.” Kata si nenek.
“Guru!” Seru Gayatri. “Tadi aku gunakan jurus ajaranmu dan berhasil menyelamatkan Angga dari ancaman penjahat itu. Dia berniat membunuh anakku, sungguh jahat.” Saat berikut Gayatri tertawa. “Aku tahu diam-diam kamu menyambit penjahat itu dengan senjata rahasia membuat dia kalangkabut menari macam monyet.”
“Aku cuma perlu tujuh kerikil untuk mengusirnya.” Sahut nenek berjubah kuning.
Semua yang hadir disitu merasa heran, mendadak Gayatri memanggil nenek tua dengan sebutan guru. Saat itu terjawab sudah mengapa Arjapura lari terbirit-birit. Pasti nenek tua itu memiliki ilmu-silat sangat tinggi. Sejak kapan Gayatri berguru padanya?
Nenek itu meraih Anggreni, menimang-timang sambil tertawa gembira. “Anak ini cantik, namamu Anggreni?”
“Namaku Angga.” Sahut Anggreni.
Nenek itu tertawa mendengar jawaban dan mimik lucu Anggreni. “Anakmu ini cerdas dan punya tulang bagus untuk jadi pendekar.”
Dia menciumi paras Anggreni yang keringatan. “Muridku, aku masih harus mengusir sisa racun dalam tubuhmu, memulihkan tenaga-dalam dan menyempurnakan ilmu-silatmu.”
Gayatri tertawa senang. “Kita nginap di rumah dekat danau. Ayo Guru!”
Ketika itulah Dyah Mekar memanggil, “Gayatri, jangan pergi dulu.”
Gayatri mengenal suara itu. Suara Dyah Mekar.
Dia ingat masa sulitnya di perkampungan Lemah Tulis ketika banyak murid wanita tidak bersahabat dengannya, hanya Dyah Mekar yang memperlihatkan pertemanan murni. Malah isteri Prastawana itu tarung membelanya dengan mempertaruhkan nyawa menghadapi keroyokan para penjahat di bukit Kukun dekat Lemah Tulis.
Dia membalik badan, memandang Dyah Mekar yang melangkah perlahan mendekatinya.
“Mbakyu Dyah.” Gayatri tenggelam dalam pelukan Dyah Mekar.
“Adikku,” Tangan Dyah Mekar mengelus rambut sahabatnya.
Suara Gayatri bercampur isak tangis. “Nasibku buruk mbakyu. Aku menunggu hukuman suamiku, kalau aku mati tolong kamu melihat-lihat si Angga, dia belahan jiwaku.”
Tidak sanggup menyembunyikan kesedihannya, Dyah Mekar ikut menangis. “Aku berjanji akan melindungi Angga.”
“Terimakasih mbakyu.” Kata Gayatri.
“Aku akan membelamu, akan kujelaskan bahwa karma yang kamu alami itu bukan kesalahanmu, itulah tipu daya penjahat Arjapura itu.” Bisik Dyah Mekar.
“Mbakyu, kamu pergilah mencari suamiku. Aku yakin dia masih hidup. Sampaikan sembahku padanya, katakan aku menunggu hukumannya, aku legowo.” Gayatri melepas pelukannya, menghapus air matanya.
Malam itu Prastawana berkumpul dengan para murid Lemah Tulis. “Besok kita berangkat. Siapkan bekal, beberapa tabung tuak, aku yakin ketua pasti rindu rasanya tuak.” Kata Prastawana, nada suaranya gembira.
“Pasti. Kita beli tuak di tengah perjalanan. Tapi mas Pras, kamu tampaknya yakin akan bertemu ketua.” Kata Laras sambil memandang teman lainnya.
“Kita pasti menemukan ketua.” Prastawana yakin.
Mereka yang lain saling pandang. Laras berkata kepada Prastawana. “Kangmas, aku tidak percaya Gayatri. Satu kali dia mengkhianati ketua, pasti usulnya ke bukit Lejar juga tipuan untuk menyesatkan kita.”
“Apa alasanmu?” Prastawana bertanya.
Laras diam, tampaknya dia ragu.
“Aku percaya pada Gayatri!” Tegas Dyah Mekar.
Kali ini Sawitri yang menyahut. “Kita mendengar semua yang dikatakan Gayatri bahwa dia menunggu hukuman dari ketua. Aku yakin Gayatri tidak mau kita temukan ketua.”
“Justru omongan Gayatri itu yang paling benar, bukit Lejar!” Prastawana berkata tegas.
“Kangmas, kamu percaya omongan Gayatri?” Gajah Lengar bertanya.
“Kamu sendiri, apakah kamu percaya?” Prastawana balik bertanya.
Gajah Lengar menyahut pasti. “Aku percaya. Aku cukup kenal pribadinya. Dia tidak akan berbohong atau menyesatkan kita.”
“Sejak awal firasatku kuat, ketua Geni akan memaksa Sekar membawanya ke lembah kera, jurang di kawasan gunung Lejar. Tempat itu sangat penting artinya bagi ketua, disitu dia mendapatkan tenaga wiwaha, disitu dia mendapatkan kembali hidupnya. Disitu titik awal perjalanan panjang ketua mengarungi lautan ilmu-silat.” Tutur Prastawana sambil memainkan jari-jari tangannya.
Dyah Mekar tahu tabiat suaminya, jika memainkan jari-jari tangan pertanda dia sedang menimbang keputusan yang paling penting.
“Tetapi kamu tidak pernah memberitahu kami,” Kata Daraka.
“Memang aku tak pernah memberitahu siapa pun, tidak juga pada isteriku.” Pandangan Prastawana agaknya hendak minta maaf atas sikap tertutupnya.
“Mengapa? Apakah sebab kamu tidak yakin?” Dyah Mekar bertanya ramah.
“Yakin. Aku yakin. Aku hanya perlu seorang lain yang mengatakan itu. Dan tadi aku mendengarnya dari Gayatri, aku melihat matanya, tatapan matanya. Tidak ada kebohongan disitu, bahkan aku melihat ketulusan. Ketika dia menyebut lereng bukit Lejar, seketika aku tahu benarnya firasatku.”
“Mas Pras, katakan apa firasatmu itu.” Gajah Lengar masih penasaran.
“Aku… , aku sudah lama menyelami alam pikiran ketua, berpikir seperti dia berpikir.” Penuturan Prastawana terhenti, suaranya parau. Matanya berkaca-kaca. Dia menahan tangis.
Mereka semua diam.
Prastawana melanjut penuturannya. “Ketua pasti berpikir, satu-satunya tempat untuk sembuh adalah di lembah kera. Jikalau tidak sembuh maka dia mau mati dan dikubur disisi kuburan guru Lalawa.” Mata Prastawana berkaca-kaca.
Dyah Mekar memegang tangan suaminya. Seakan ikut merasakan duka yang dialami suaminya jika benar Wisang Geni mati.
Gajah Lengar berseru, mengejutkan semua orang. “Kini aku mengerti.”
“Apa? Kamu mengejutkan orang!” Kata Daraka.
“Itu sebab kangmas Prastawana cepat menguasai ilmu-silat yang diajarkan ketua, dia lebih cepat menguasai dan lebih sempurna ilmu-silatnya dibanding kita semua, padahal ketua mengajar dan membimbing kita semua tanpa pilih kasih.” Tegas Gajah Lengar.
Semua ingin mendengar.
“Karena kangmas Prastawana telah menyelami cara berpikir ketua, dia tahu apa maunya ketua, dia mengerti sebab akibat yang dijelaskan ketua yang terkadang sangat berbelit-belit saking tinggi ilmu-silat yang akan dibentang. Kita semua sulit mengerti, tetapi dia dengan mudahnya mengerti dan menyerap ajaran ketua.” Gajah Lengar berkata dengan penuh kagum, mengagumi kecintaan Prastawana terhadap ketuanya.
Prastawana menghela nafas lega. “Sudah kuputuskan, besok pagi-pagi aku berangkat ke bukit Lejar. Dyah Mekar harus ikut aku! Teman yang lain boleh ikut boleh tidak, mungkin saja kalian mau mencari ketua ditempat lain.”
“Mengapa kamu tidak mewajibkan kita semua ke bukit Lejar?” Seru Laras.
Prastawana tertawa. “Sekarang kuwajibkan kalian ikut aku!”
“Jangan lupa membeli tuak, ketua pasti sudah rindu rasanya tuak!” Seru Daraka gembira seakan sudah pasti akan bertemu Wisang Geni di bukit Lejar.
***
No comments:
Post a Comment