Sunday, July 24, 2011

Wisang Geni part Two (32)

Kutukan Keris Berdarah

By John Halmahera

Published 32

“Pertarungan di Kandangan itu jebakan. Ketika fajar mulai menyingsing saat kita siap berunding damai atau tarung, mendadak ratusan anak panah melayang ke arah kami. Banyak murid tak sempat menghindar. Empatpuluh murid Mahameru dan tigapuluhsatu pihak kami, tewas terpanah. Kami kalah total, hancur. Yang selamat hanya sebelas murid Mahameru dan sembilan murid Lemah Tulis,” Tutur Prastawana dengan suara duka. “Paman guru Gajah Watu tewas begitu juga dua sepuh Mahameru Bragalba dan Rawaja.” Lanjutnya.

“Bagaimana kalian bisa lolos?” Wisang Geni bertanya.

“Menjelang tarung, paman Gajah Watu memerintah kami untuk meloloskan diri apabila keadaan terdesak. Itu perintah, tak boleh ada yang membangkang. Begitu juga dari sesepuh Mahameru, Bragalba memerintah hal yang sama. Tampaknya mereka punya firasat akan mengalami kekalahan.” Tutur Gajah Lengar. “Dan rupanya diam-diam mereka bertiga sepakat menjadi tumbal untuk menyelamatkan kami beberapa orang murid dari Lemah Tulis dan juga Mahameru.”

“Malah pada kesempatan itu paman Gajah Watu seakan mengerti ajalnya sudah dekat, menceritakan aibnya, memaksa memerawani murid-ponakannya Walang Wulan, dia merasa bersalah pada bibi Wulan dan ketua Geni. Dia minta maaf.” Tutur Dyah Mekar.

Tiba-tiba saja Wisang Geni berdiri sambil berseru keras. “Minta maaf? Kakek bodoh itu minta maaf? Isteriku Wulan sudah dikubur, tetapi dia masih tega menceritakan aib isteriku kepada semua murid.”

DILARANG COPY/MENERBITKAN/PUBLISH DI WEBSITE LAIN TANPA SEIJIN PENGARANG PEMEGANG COPYRIGHT JOHN HALMAHERA !!!

Wisang Geni sangat marah. “Seringkali Wulan menangis teringat pemerkosaan itu. Guru bejat itu memerkosanya berulang kali selama tiga bulan. Kami berdua menderita tapi kami maafkan. Semula hanya kita bertiga yang tahu rahasia ini, tetapi sekarang mulut Guru bejat yang kotor telah menyebar aib itu kesemua orang. Gajah Watu, kamu binatang melata, kamu tidak lebih baik moralmu dibanding penjahat yang memerkosa anaknya sendiri.”

“Tidak sepantasnya paman Gajah Watu membeber rahasia itu, kasihan ketua yang harus menanggung aib itu.” Dyah Mekar berkata lirih tetapi yang didengar semua temannya. “Meskipun itu pengakuan dan penyesalannya.”

Matahari sudah agak tinggi.Mereka duduk menikmati daging rusa panggang ditemani tuak yang masih tersisa.

Prastawana memberanikan diri memandang Wisang Geni. “Ketua, engkau guru dan ketua bagi kami semua. Aku menghormatimu, tetapi aku harus bicara meskipun kamu akan marah.”

Wisang Geni menatap tajam. “Kalau tahu aku akan marah, sebaiknya tak usah bicara. Kamu tahu kemarahanku sekarang ini sedang memuncak.”

“Sudah lama kupendam ini, aku harus bicara, ketua.” Prastawana juga menatap mata ketuanya. Dua mata laki-laki itu saling tatap.

“Bicaralah, aku mendengarkan.” Kata Wisang Geni.

Semua yang mendengar, berdebar jantung saking tegangnya. “Apa yang mau dikatakan, buat apa dia bicara kalau tahu ketua akan marah.” Daraka bergumam dalam hati sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Aku bicara blak-blakan, tak ada yang kusembunyikan. Aku dan semua murid tahu persis ilmu-silatmu sangat tinggi, sekarang ini di tanah Jawa sulit mencari pendekar yang bisa menandingimu. Lemah Tulis hancur tak ada lagi di peta dunia kependekaran, tetapi dengan melewati banyak pertarungan hebat kamu telah mengibar panji-panji kejayaan perguruan. Sekarang ini Lemah Tulis disegani semua pendekar. Kamu hebat, itu sebab terpilih sebagai ketua. Kami bangga dipimpin ketua sehebat kamu. Meski kamu tak mau diakui sebagai guru, tetapi sesungguhnya kamu adalah ketua dan guru kami.” Tutur Prastawana.

Dyah Mekar yang tadinya tegang, khawatir suaminya mengucap kata-kata kasar yang membuat sang ketua marah, kini merasa tenteram. Begitu juga yang lain.

Prastawana tertawa lirih, suaranya agak sinis. “Tetapi kamu meninggalkan kami pada saat kebanggaan dan kecintaan kepadamu begitu tinggi, kamu lepas jabatan ketua. Lalu aku yang bodoh ini harus menerima hinaan, terpilih menjadi ketua. Kamu pikir murid-murid mengakui aku sebagai ketua? Jangankan mereka, aku sendiri tak pernah merasa sebagai ketua. Kamu memberiku benda panas, sementara kamu bebas melenggang, kamu tidak bertanggungjawab, kamu pengecut!”

Semua yang mendengar terkejut. Prastawana beraninya memaki sang ketua dengan ungkapan tajam “pengecut”. Mereka memandang paras Wisang Geni, khawatir amarah sang ketua.

Prastawana berhenti sesaat lalu dengan air mukanya yang merah padam, berkata. “Aku akan minggat ke tempat sunyi, tinggalkan isteri dan anak-anakku juga perguruan. Pikirmu hanya kamu yang bisa bawa maumu? Aku juga bisa bertindak semauku, aku tidak takut marahmu, jangan coba menggertak aku. Karena aku sudah bosan menjadi ketua yang bodoh, sekarang katakan, kamu mau jadi ketua lagi atau tetap jadi pengecut?”

Dia berhenti sedetik lalu berseru dengan nada tinggi. “Jawab aku, Wisang Geni!”

Semua terdiam. Was-was, khawatir reaksi marah sang ketua.

Wisang Geni diam. Kata-kata kasar Prastawana menusuk nuraninya. Selama ini belum ada murid Lemah Tulis, bahkan juga Padeksa, berani mengucap kata-kata kasar padanya. Dia memandang semua yang ada disitu.

“Baik. Aku ambil alih jabatan ketua! Sekarang juga kita berangkat ke Lemah Tulis. Akan kuselesaikan apa-apa yang sudah kumulai dahulu.” Sikap dan ucapan Wisang Geni diluar dugaan para murid. Tadinya khawatir sang ketua marah kini malah kagum bahwa Wisang Geni bisa menerima baik teguran Prastawana. Tak ada yang menduga sang ketua akan menyahut dengan ringan tanpa amarah. Seketika mereka berlutut memberi hormat. “Ketua, kami patuh dan setia padamu.”

Mereka memilih jalan melalui kawasan Timur menyusur pinggiran daerah kekuasaan kerajaan Tumapel. Perjalanan akan jauh lebih singkat dibanding jika melalui kuil Ngancar yang di kawasan Barat. Diperkirakan dalam waktu tiga hari akan tiba di Welirang.

Malam harinya mereka istirahat dan nginap di hutan. Esok paginya mereka singgah di desa Karangplosos yang merupakan pusat keramaian dan perdagangan kerajaan Tumapel.

“Siapa yang punya keping emas?” Wisang Geni bertanya. “Kita mampir di warung makan. Aku mau makan dan minum tuak.”

“Aku punya!” Seru Sawitri.

Mereka masuk desa.

Prastawana berkata lirih. “Ada orang yang mengikuti kita, ketua.”

“Mereka selalu curiga pada orang asing.” Sahut Sekar lalu menoleh ke suaminya. “Mas, sebaiknya kamu pakai baju, dada telanjangmu itu menarik perhatian orang.”

“Aku memang menantang orang, mau pamer lalawa mengepak sayap menembus awan.” Wisang Geni tertawa sombong. “Aku ingin menjajalnya dalam tarung.”

Sekar saling pandang dengan Atis. Enam murid merasa geli dalam hati akan tingkah laku ketuanya yang terkadang aneh dan sulit ditebak. Mereka tidak menaruh perhatian kata-kata dan tidak tahu apa itu lalawa mengepak sayap menembus awan.

Warung makan itu besar dan luas, paling banyak pengunjung. Tetapi hari masih pagi, warung baru dibuka. Karenanya belum ada tamu. Mereka duduk di meja besar. Begitu duduk, Wisang Geni berseru kepada pelayan. “Bawakan aku tuak.”

Sawitri menghampiri pemiliknya, sepasang suami isteri yang sibuk memerintah para pelayan.

Sawitri melempar senyum ramah. “Ibu, sediakan makanan dan tuak buat kami, dan nasi bungkus untuk bekal di jalan. Ini keping emas.” Dia menyodor satu keping emas ke tangan wanita tua itu.

“Aduh wongayu, satu keping emas terlalu banyak. Ibu tidak punya keping perak untuk kembalian,” dia tampak bingung sambil menimang-timang keping emas ditangannya.

“Ambil semuanya. Jangan lupa nasi bungkus untuk bekal kami.” Kata Sawitri.

Tidak berapa lama, warung mulai sibuk, Beberapa tamu masuk dan duduk.

Rombongan Wisang Geni menikmati santapan yang memang lezat.

Mereka selesai makan dan sedang menikmati tuak. Dua ponggawa menghampiri. Salah seorang berkata dengan angkuh. ”Kalian pendatang asing, dari mana dan mau kemana?”

Gajah Lengar menyahut datar. “Dari Selatan, mau ke Utara.”

Ponggawa tidak puas. “Jawab yang benar, mau kemana?” Suaranya keras membentak.

Tidak ingin suasana menjadi panas, Laras mendahului suaminya. “Ke Lemah Tulis.”

Ponggawa itu tertawa. “Rupanya wongayu ini lebih tahu tatakrama.”

“Mungkin tertarik parasmu yang ganteng, dimas.” Potong ponggawa temannya.

Paras Laras merah padam. Tersinggung dan marah akan komentar tidak sopan itu.

Ketika itu lima ponggawa lain masuk warung.

Saat bersamaan wanita tua pemilik warung datang membawa kantong besar berisi nasi bungkus. Dia serahkan kepada Sawitri. Dia berkata agak keras mungkin sengaja. “Nona ini nasi bungkusnya.” Lalu dia berbisik lirih. “Cepat pergi, ponggawa ini galak dan suka cari keributan, lebih baik kalian pergi.”

Sawitri berdiri sambil mengucap, “terimakasih”.

Prastawana mengajak semua temannya pergi. “Ayo kita pergi.”

Seorang ponggawa menghalangi, enam temannya berdiri disampingnya. “Kalian pasti mata-mata, katakan apa maksud mampir di karangplosos?”

Tujuh ponggawa menatap lima wanita itu. Matanya memancar sinar birahi. “Dua wanita disamping laki-laki rambut putih itu, cantik dan montok. Aku gemas melihatnya. Satu malam dengannya mau kubayar satu bulan gajiku.” Kata ponggawa yang tubuhnya gempal.

“Semuanya cantik dan montok, aku mau yang mana saja.” Ujar temannya.

Sekar kesal, tangannya meraih beberapa butir kacang dimeja. Dia berbisik, “kurangajar.” Sambil jari-jarinya menyentil.

Butiran kacang saling susul menghantam mulut si ponggawa. Dia berteriak kesakitan. “Akhhh..” Bibirnya pecah-pecah, sederet gigi depannya rontok. Mulutnya berdarah-darah.

“Mulutmu bau busuk, beraninya kamu mengganggu aku,” seru Sekar.

“Kepung. Mereka pemberontak, mau makar pada kerajaan.” Teriak ponggawa temannya.

Tamu-tamu serempak lari keluar warung. Pada saat yang sama tujuh ponggawa membawa busur dan panah masuk warung, berjajar menghadang di pintu keluar.

“Bunuh semua. Yang wanita biarkan hidup, mereka akan kita adili.” Teriak ponggawa yang mulutnya berdarah-darah.

Wisang Geni maju menghalangi, dia melihat tujuh pemanah jitu sudah siap dengan busur dan panah. “Hati-hati tujuh pemanah itu dari pasukan panah keraton,” bisiknya lirih tetapi bisa didengar Prastawana dan yang lain.

Daraka berkata lantang. “Kami dari Lemah Tulis, dalam perjalanan pulang ke perguruan, kami tidak mencari keributan, tolong beri kami jalan.”

“Tidak bisa begitu mudah. Pelacur itu sudah melukai temanku.” Seru ponggawa lainnya. Pada saat itu tujuh ponggawa lain masuk warung. Jumlah seluruhnya empatbelas ponggawa berseragam dan tujuh pemanah jitu.

Wisang Geni menyahut datar, suaranya dingin. “Dia isteriku, bukan pelacur.”

“Kataku dia pelacur, aku bayar berapa saja untuk satu malam.” Kata ponggawa itu.

Wisang Geni menyahut. “Dia isteriku, isteri Wisang Geni ketua Lemah Tulis. Mereka lainnya murid-murid Lemah Tulis, mereka bukan seperti yang kamu bayangkan.”

“Kamu tahu apa yang kubayangkan, meniduri mereka semalaman.” Kata ponggawa itu. Dia dan teman-temannya tertawa. Mereka senang bisa menggoda wanita cantik apalagi seksi seperti rombongan Wisang Geni.

“Kamu kurang ajar, lancang, mulutmu busuk.” Seru Sawitri.

Wisang Geni menengahi. “Sudahlah lupakan semua omongan ini, kami mau pergi.”

“Kamu mengaku Wisang Geni. Apa hebatnya penjahat cabul itu? Kerjanya memerkosa gadis. Dia menguasai ilmu sesat. Dia mati dibunuh gundiknya. Itu akibat nafsu bejatnya.”

Wisang Geni benar-benar marah, meraih kacang dimeja dan menyentil. Ponggawa coba mengelak, menutup wajahnya dengan tangan. Tetapi kacang melesat dan memburu mulut si ponggawa. Kontan bibir, pipi dan beberapa giginya rontok. Dahi dan pipinya berlumur darah.

Satu ponggawa bergerak menyerang.

Wisang Geni melonjor tangan kedepan. Angin pukulan dingin menerjang. Ponggawa itu terpental, jatuh terduduk dilantai, saat berikut menggigil kedinginan. Tubuhnya gemetaran. Giginya saling beradu. “Dingin… dingin…”

Melihat peragaan ilmu-silat yang begitu tinggi seharusnya para ponggawa mundur teratur. Tetapi mereka tidak tahu diri, bukannya mundur, malah maju sambil mencabut senjata. “Serang!” Teriak ponggawa Tumapel.

Para murid bangkit amarahnya, bergerak serentak. Terjadi pertarungan tidak beraturan. Prastawana dan tujuh temannya mengamuk, sedangkan Wisang Geni duduk diam seakan tidak melihat yang terjadi disekitarnya.

Tarung berlangsung singkat, hanya beberapa jurus bentrok, empatbelas ponggawa menggeletak di tanah, mengerang dan mengaduh kesakitan. Ada yang tangannya patah, kaki patah, gigi rontok. Tapi tak seorang pun yang mati. Tampaknya para murid Lemah Tulis tidak ingin membunuh.

Saat itu Wisang Geni melihat tujuh pemanah menarik busur. Dia berseru. “Awas panah!” Sambil dia membalik meja, kakinya mendorong meja menghadap sergapan anak panah.

Apa yang dipikirkan Wisang Geni juga dilakukan Prastawana, dua meja jadi tameng.

Wisang Geni melompat dari balik meja. Dua tangannya mengembang ke kiri kanan, lalu digerakkan kedepan mengarah tujuh pemanah. Salah satu gerakan “lalawa mengepak sayap menembus awan”. Tubuh para ponggawa yang menggeletak ditanah terangkat memapak terjangan anak panah gelombang kedua yang dilepas tujuh pemanah itu.

Wisang Geni melayang terus. Menggebrak dengan sebat, melancarkan pukulan dingin. Tujuh pemanah roboh di tanah. “Kamu membunuh temanmu dengan panah sendiri, betapa bodohnya! Kalian bertujuh bertanggungjawab dan siap diadili majikanmu Sang Pamegat.” Dia menyeret tujuh pemanah yang menggigil kedinginan, melempar mereka bertumpuk dengan empatbelas ponggawa temannya yang menggeletak ditanah mengerang kesakitan.

Para penonton diluar warung bertepuk tangan, mengagumi sepak terjang Wisang Geni.

Saat itu dua bayangan putih bergerak pesat, tiba-tiba saja muncul didalam warung. Sebat dan ringan petanda ilmu ringan-tubuhnya mumpuni.

Seketika Wisang Geni tahu dua kakek itu dari kalangan kelas utama. Pikirannya teringat kabar adanya sembilan kakek jubah putih yang menjadi pengawal utama istana dan keraton yang konon ilmu-silatnya sangat tinggi. “Apakah keduanya dari sembilan sesepuh itu?”

“Siapa kalian berani temberang di lingkungan kerajaan, kalian cari mampus?” Matanya tajam meneliti tubuh yang bergelimpang didekat Wisang Geni. “Kalian telah membunuh ponggawa kerajaan.” Serunya berang.

“Keliru. Mereka dibunuh, dipanah oleh tujuh pemanah ini.”

Dua kakek jubah putih terdiam.

“Mereka berdua anggota dari sembilan sepuh jubah putih pengawal istana dan keraton, ilmu-silatnya tinggi, tanganku gatal ingin tarung.” Bisik Wisang Geni kepada pengikutnya, bisikan lirih namun bisa didengar Prastawana dan kawan-kawannya.

Semua terkejut mendengar niat sang ketua.

Sekar berkata. “Para ponggawa ini keterlaluan, menyebut aku pelacur, ponggawa keraton ternyata ulah kelakuannya tidak bermoral.”

“Apakah memang kamu pelacur?” Tanya kakek yang berjenggot.

Sekar terdiam. “Kakek ini kurangajar.” Gumamnya dalam hati.

Tetapi Atis dengan tangkas menyahut. “Kakek rupanya suka melacur, tapi sayang kami ini wanita terhormat, silahkan cari pelacur ditempat lain.” Lalu Atis tertawa geli melihat perubahan paras si kakek. “Dasar kakek pelacur!” Atis melanjutkan.

Wajah si kakek yang agak hitam semakin gelap saking marahnya.

Prastawana yang ingin menghindar dari pertikaian, mengingat tarung dikawasan kerajaan sangat membahayakan keselamatan mereka. Dia memberi hormat. “Kami dari perguruan Lemah Tulis, ini ketua kami Wisang Geni, dan ini isterinya.” Dia menunjuk Wisang Geni, Sekar dan Atis. “Kami dalam perjalanan pulang ke Lemah Tulis, mampir makan di warung ini, tak ada maksud mencari ribut atau berbuat onar.”

To be Continued 26 July/Published No 33

No comments: