Kutukan Keris Berdarah
By John Halmahera
Published 30
Wisang Geni meneliti satu per satu kalimat.
“Mas, kamu baca agak keras, biar kita bantu menghapalnya. Kelihatan pesannya banyak dan panjang.” Tukas Sekar, nada suaranya khawatir.
Wisang Geni membaca pelan-pelan. Hurufnya kecil-kecil, bahasa sansekerta campur Jawa kuno dizaman Raja Erlangga, sekali lagi Wisang Geni berterimakasih pada guru Waragang yang telah mengajarinya sastra tingkat tinggi dari zaman kuno.
“Lalawa mengepak sayap menembus awan” Dia menoleh ke Atis dan Sekar. “Kalian dengarkan baik-baik.”
“Enam jadi satu, lalawa mengepak sayap menembus awan. Tak ada bilangan jurus, hanya satu jurus sinambungan, tak ada pangkal tak ada ujung, muncul begitu saja dan berakhir begitu saja. Dalam tarung berikutnya, awal tidak sama, ujung tidak sama. Begitu seterusnya. Jurus tanpa awal, tanpa ujung. Jurus ini hanya bisa kamu gelar dalam tarung jika sudah menguasai tenaga-dalam wiwaha dengan ringan-tubuh yang sangat mumpuni.
Kelelawar memiliki sayap halus, hidup digoa-goa gelap di malam hari. Penglihatan tidak tajam tapi mampu melayang terbang menembus kegelapan, dia memiliki pendengaran dan perasaan sangat peka. Kamu harus mengasah dua indera itu berikut dengan mata yang terlatih menembus gelap malam.”
Bagian berikut hanya dia baca dalam hati. Dia tak mau isterinya tahu. Sebab itu rahasia gurunya. “Aku tidak disukai orang, dahiku lebar, rambut sepanjang punggung yang kuikat jadi konde, muka lonjong, mataku sipit tajam mengilat, mulutku lebar dengan bibir tipis, gigiku tajam, kurus jangkung, jubahku hitam panjang, aku kejam karena itulah aku tak pernah kalah, aku tak percaya orang, wanita yg kutiduri harus wanita biasa, setelah kutiduri aku pergi, aku tak mau berpelukan sampai pagi.
“Tidak boleh punya rasa kasihan, tarung adalah membunuh, pukul dia sungguh-sungguh, apakah dia terluka atau mati, itu resiko tarung. Semua yang masuk tarung harus siap mati. Jurusku ini tak bisa dilakukan dengan setengah-setengah, kelelawar jika setengah-setengah dia akan mati terbentur tebing atau masuk jurang atau terbunuh senjata manusia. Dia selamat karena dia tak pernah lalai, tak pernah lengah. Itu sebab aku tak pernah temukan lawan setanding.”
Sekar dan Atis saling pandang. “Mas, jangan membaca dalam hati, bacalah yang keras biar kita berdua bisa mengingatnya.”
“Ada bagian yang kalian tidak boleh tahu, itu rahasia guruku.”
“Pasti tentang nafsu birahi dan wanita. Benar kan?” Desak Sekar.
“Bukan. Itu tentang rahasia kehidupan guruku, sebagai murid aku harus menyembunyikan kehidupan guruku.” Mata Wisang Geni melotot memandang dua isterinya, bergantian.
Dua wanita itu tersenyum malu.
Wisang Geni berhenti sejenak. Lalu membaca dengan hati-hati. Ada beberapa huruf yang sudah mulai luntur. Tetapi masih bisa terbaca.
“Enam jurus ini bisa memecah menjadi tigapuluh sampai sembilanpuluh jurus, dan pada akhirnya semuanya menjadi hanya satu jurus sinambungan. Jika tidak punya wiwaha dan ringan-tubuh mumpuni, tak boleh pelajari jurus ini, bisa gila. Prabanarawata manarawang hanggempung (sinar memancar menembus gelap), tambung hanging humawah (tidak melihat tapi merasa), wulangun humadhemmi carumuka (jatuh cinta membunuh musuh), rumaras sapudhendha rumuwek martana (merasa marah mencakar kehidupan), mangrawis guthaka lawa (cakar goa kelelawar), manarang manambayang majatha (menggantung ditempat tinggi melayang menggigit).”
Wisang Geni kemudian membaca rincian gerak jurus-jurus tersebut.
Tiba-tiba Atis protes. “Itu sulit dihafal. Sebaiknya, aku tulis didinding, nanti setelah kamu selesai pelajari akan kita hapus.”
Sekar membenarkan. “Begitu lebih aman.”
Wisang Geni mengulang rincian gerak jurus-jurus itu.
Atis sibuk menyalin pada dinding goa. Sekar ikut memeriksa tulisan Atis.
Pada akhirnya Wisang Geni membaca tulisan bagian akhir.
“Ada empat tingkatan berlatih. Tingkat satu, berlatih dengan mata terbuka sehingga hafal semua gerakan. Tingkat dua, berlatih dengan mata tertutup, konsentrasi tenaga-dalam dengan pandangan kedepan, menangkap gerak yang paling kecil dan bunyi yang paling lemah, berlatih dalam air mengenal getar dan gerakan ikan, pindah latihan di tebing-tebing. Tingkat tiga, enam jurus harus bisa dimainkan dengan mata tertutup diatas tebing atau permukaan kolam. Tingkat empat, enam jurus jadi satu gerak sinambungan, tak ada awal tak ada akhir. Jurus ini tak ada tandingan. Jadilah kamu pendekar budiman. Aku gurumu Lalawa.”
Wisang Geni berlutut mencium tanah. “Aku sungkem padamu guru, aku akan mengikuti perintahmu.”
Siang itu juga Wisang Geni mulai latihan lalawa mengepak sayap menembus awan. Dia menyukai tantangan, keinginan mengarungi jurus-jurus baru selalu menjadi tantangan paling menarik hatinya. Makin besar tingkat kesulitan semakin dia bergairah.
Bahwa enam jurus memecah menjadi enampuluh bahkan sampai sembilanpuluh jurus. Lantas dari puluhan pecahan jurus bisa menyatu menjadi satu jurus sinambungan. Tak ada awal, tidak ada ujung. Tampaknya jurus lalawa mengepak sayap menembus awan sesuatu yang mustahil.
Jika orang lain mengatakan ada jurus semacam ini, dia tak akan percaya. Jika seseorang mengaku telah mencipta jurus seperti itu, dia akan mengatakan orang itu berkhayal. Dia akan berkata jurus itu hanya satu khayalan yang jika dipelajari akan membuat seseorang tersesat dan akhirnya gila. Banyak contoh, seorang pendekar mempelajari jurus yang diciptakan berdasar khayalan seseorang, berakhir gila atau mati.
Wisang Geni merenung. Dia tiba disimpang jalan.
Jika percaya pada guru Lalawa, artinya dia akan pelajari jurus ini dan mempertaruhkan keselamatan diri. Jika tidak percaya, maka tak perlu beresiko, tutup saja selembar kulit itu, menganggapnya tidak pernah ada. “Buat apa ambil resiko sebesar itu, bukankah aku telah memiliki ilmu-silat tinggi. Mengapa harus serakah.” Katanya.
Dia membantah pikiran ini, bahwa bukan serakah, tapi tantangan pada keyakinannya akan sosok sang guru Lalawa. Ketika selesai mempelajari wiwaha dan tahu besarnya manfaat tenaga-dalam itu, terpikir olehnya sosok macam apa guru Lalawa itu sehingga bisa mencipta wiwaha?
Pasti Lalawa adalah seorang cerdas dan yang selalu bergelut dengan jurus-jurus ilmu-silat, seperti juga Eyang Sepuh Suryajagad. Seorang pemikir. Dan hanya pemikir yang bisa mencipta sesuatu menjadi “ada” dari “tidak ada”.
Dia ingat kata Eyang Sepuh ketika menjelaskan asal penciptaan jurus menunggang angin.
Menaklukkan angin? Ini juga mustahil.
Tidak mungkin ada jurus hebat yang bisa menaklukkan angin atau menunggang angin. Jika tidak mengalami sendiri, mempelajari dan menguasainya, tentu dia menganggapnya satu khayalan. Persoalannya tergantung pada kepercayaan. Dia percaya pada Eyang Sepuh.
Alasannya kuat, Eyang Sepuh telah mengajarinya banyak ilmu silat. Dia juga percaya guru Lalawa, buktinya kuat, dia telah merasakan besarnya manfaat tenaga-dalam wiwaha.
Berpikir demikian, dia menetapkan hatinya untuk melatih jurus mengepak sayap menembus awan. Wisang Geni juga sama seperti kebanyakan pendekar lain, ingin memiliki ilmu-silat yang tinggi yang membuatnya malang melintang tidak terkalahkan.
Dalam usianya yang hampir empatpuluh Wisang Geni telah mencapai kematangan jiwa dan ilmu silat. Kini didepan matanya terpampang jurus lalawa mengepak sayap menembus awan, jurus yang menurutnya sangat mustahil. Tetapi itulah tantangan.
Pertama-tama, menguasai enam jurus inti. Lalu berlatih dengan mata terbuka. Hanya satu hari, dia menguasainya. Tahap berikutnya memainkan enam jurus itu dengan mata tertutup, tenaga-dalam fokus pada pandangan kedepan, mengirim sinyal bolak balik guna menangkap gerakan yang paling kecil. Dia berlatih dalam air, merasakan getar dan alunan gerak ikan disekitar. Dia berlatih ditebing, menangkap ruang kosong di antara tebing dan jurang.
Pada tahapan berlatih didasar kolam dingin dan panas terjadilah penyatuan antara empat jurus wiwaha dengan enam jurus mengepak sayap itu. Gerakan dasar tangan direntang dan bergerak kedalam atau sebaliknya ternyata nyambung dengan enam jurus itu.
Inilah inti mengepak sayap, bertumpu pada kuda-kuda, dua tangan terentang digerakkan kearah dada dan sebaliknya. Bahwa jurus bisa memecah menjadi puluhan disebabkan banyaknya gerak tangan yang terentang, bisa berputar, bisa naik, bisa nyodok, bisa menyedot, menarik dan berbagai variasi yang mengikuti alur pikirannya.
Bedanya adalah ada tenaga-dalam yang digunakan. Ketika melatih wiwaha unsur panas dan dingin disedot kedalam tubuh dan dikumpulkan menjadi tenaga-dalam. Tenaga itu menyatu dengan fisik, jiwa dan pikirannya.
Sekarang ini, ketika melatih enam jurus mengepak sayap menembus awan maka gerakan yang sama digerakkan dengan tenaga besar wiwaha, itulah pukulan dahsyat. Seketika Wisang Geni mengerti kalimat yang ditulis sang guru didasar kolam dingin dikolam empat jadi satu, digoa enam jadi satu, lalawa tak ada tandingan, mengepak sayap menembus awan.
Selama latihan itu Wisang Geni tak pernah tidur digoa bersama dua isterinya. Dia selalu tidur digoa sang guru diatas tebing. Dia semedi melatih kepekaan indera berhadapan dengan angin keras, tebing curam dan gelap gulitanya malam serta pekatnya kabut.
Dia merasa sang guru Lalawa hadir bersamanya, seakan dia berhadapan dengan gurunya. Wajah dan bentuk tubuhnya dahi lebar, rambut yang dikonde, muka lonjong, mata sipit tajam mengilat, mulut lebar dengan bibir tipis, gigi tajam, kurus jangkung berjubah hitam panjang. Dia bisa melihat bentuk fisik gurunya. Dia menikmati pertemuan imajiner, bercakap-cakap dengan gurunya dalam monolog yang penuh nuansa bakti seorang murid terhadap gurunya.
Dia makan ikan mentah, buah merah yang disediakan kera. Terkadang dia bertemu dua isterinya makan siang bersama ditepi kolam. Terkadang dua isterinya menunggu sia-sia dan akhirnya menyantap makanan itu berdua. Karena Wisang Geni berlatih ditebing-tebing.
Hari Duabelas
Sekar dan Atis membawa makanan ditepi kolam. Menjelang tengah hari ketika keduanya mulai diserang kantuk dikejutkan celoteh kera-kera disekitar. Kera besar menunjuk ke arah kolam. Tampak permukaan air yang biasanya rata mulai beriak-gelombang seperti ada tenaga besar yang mengaduk-aduk.
Makin lama makin besar lalu mendadak air kolam berhamburan diikuti tubuh Wisang Geni yang melambung setinggi satu tombak, dua tangannya merentang kesamping diikuti tubuhnya yang berputar bagai gasing. Butiran air dari dua tangannya menyiprat kesana-sini, sebagian mengena kera-kera yang berteriak, lari dan melompat-lompat. Sekar dan Atis juga kebagian cipratan air.
Tubuh Wisang Geni turun dan tanpa memijak kakinya di permukaan, dia melayang ketepi kolam. Kera-kera berteriak dan melompat saking gembiranya melihat pertunjukan menarik itu.
Sekar dan Atis melongo, mata melotot tak bisa berkata-kata, saking takjubnya.
Wisang Geni berdiri dengan bertelanjang dada ditepi kolam. Kera Besar berteriak keras lalu memeluknya. Tampak dia sangat gembira. Kera-kera lain berlompatan, seakan memberi selamat atas keberhasilan Wisang Geni menuntaskan latihan silatnya.
“Selesai sudah latihanku, kini aku telah menguasai jurus kelelawar mengepak sayap menembus awan.” Dia memeluk dua isterinya yang sama-sama menghambur kedalam rangkulannya. “Aku lapar, mana makananku.”
“Dua hari kamu berlatih. Kamu tak pernah menjenguk kami, hanya bertemu di tepi kolam ini.” Kata Sekar sambil duduk merapat suaminya.
“Nanti malam aku mau dipijitin dua isteriku.” Wisang Geni memandang keliling. “Besok kita pulang ke Welirang. Tetapi sebelumnya, Atis harus melukis gambar kelelawar di dadaku, itu lambang guruku.”
“Bisa Mas, aku sudah lihat gambar lalawa yang dilukis gurumu di dinding goa. Sekarang masih siang, lebih baik sekarang kulukis sebelum gelap sudah harus rampung.” Tanpa malu atau segan kepada Sekar saingannya, Atis mencium mulut suaminya kemudian melangkah genit seakan tahu suaminya memerhatikan bokongnya. Saat berikut Atis melesat bagai anak panah menuju goa mengambil peralatannya. Atis tertawa dalam hati, menertawakan kemenangannya atas Sekar.
Sekar melihat mata Wisang Geni memancar birahi ketika memerhatikan gerak bokong Atis.
“Kamu ingin meniduri Atis?” Tanpa sadar pertanyaan itu keluar begitu saja.
Dan sungguh dia terkejut ketika Wisang Geni menjawab tegas. “Aku kasmaran akan tubuh Atis, aku ingin menidurinya, dia sungguh cantik dan memesona.”
Sekar terdiam. Dia ingin protes, tetapi mulutnya serasa terkunci. Ingin dia menangis, tetapi ditahannya. Ketika itu dia melihat bayangan Atis mendatangi.
“Ayo Mas, aku gambar sekarang!” Seru Atis sesaat dia tiba disisi suaminya.
Wisang Geni rebahan ditepi kolam. Dua isterinya duduk disisinya.
Atis mulai meracik obat ramuan dan mengasah ujung pena dari bumbu serta persiapkan alat semacam jarim tipis.
“Gambarnya harus agak besar dan warnanya hitam, supaya mencolok sebab kulitmu sawo matang dan juga bulu dadamu lebat.”Kata Atis bersemangat.
“Kalian dengarkan kidungan baruku, kidung jurus penakluk raja, tapi kutambahkan dengan syair memuji guru Lalawa.” Wisang Geni berkata, dilanjutkan dengan berkidung.
Ilmu dari seberang,
Tak boleh tepuk dada,
Di tanah Jawa ini
Dari gunung Lejar,
Jurus penakluk raja,
Ilmu dari segala ilmu
Dari lembah kera,
Jurus Lalawa mengepak sayap
Menembus awan
Melenggang ke barat,
Meluruk ke timur,
Merangsak ke utara,
Merantau ke selatan
Tak ada lawan,
Tak ada Tandingan,
Ilmu dari segala ilmu
Tanpa malu-malu Atis duduk diatas paha suaminya dan membungkuk sambil melukis didada bidang Geni. Jarumnya bekerja gesit, matanya menatap mata suaminya dengan mesra, mulutnya sekali-sekali mencium mulut Geni.
Memang hari-hari belakangan Atis makin agresif memperlihatkan cintanya pada Wisang Geni bahkan seringkali dengan gaya menggoda. Dan Atis tidak lagi toleransi atau berlaku segan kepada Sekar. Baginya Sekar adalah saingan yang harus dia kalahkan. Dia ingin Wisang Geni hanya untuk dirinya. Dia ingin Wisang Geni menjadikan dia isteri utama mengambil alih kedudukan Sekar.
Ketika dadanya selesai digambar, Wisang Geni memeluk gemas Atis yang membalas dengan gairah. Mereka ciuman lama. Dan Atis menoleh memandang Sekar dengan tatapan kemenangan yang tidak dimengerti Sekar.
Dan Sekar begitu tak berdayanya sehingga memberi tanda dengan tangannya mengisyaratkan agar Atis mengajak Wisang Geni ke goa.
“Mas bawa aku ke goa, hanya kita berdua.” Bisiknya mesra.
Dan Wisang Geni tanpa menoleh lagi kepada Sekar saking nafsunya membopong Atis melarikannya ke goa.
Sekar menyebur diri kedalam kolam, berenang kesana-kemari. Lalu dia mentas dan lari ke tebing yang tinggi. Duduk di bongkahan batu, menatap awan. Air-mata menetes dipipinya. Dia berbisik kepada diri sendiri. “Sekarang dia lebih mencintai Atis, yang lebih muda, lebih segar dan lebih cantik.”
Malam itu Sekar tidur diatas tebing. Sekali-sekali dia terjaga, udara sangat dingin. Dia semedi untuk menghangatkan tubuhnya.
Saat itu ingatan Sekar melayang ke sosok lelaki yang pernah bercinta dengannya empat tahun lalu, senopati Samba. Persebadanan yang tak pernah dia lupakan, begitu indah dan panas, lebih segala-galanya dibanding kehidupannya selama berada disisi Wisang Geni.
Waktu itu Samba ingin memboyongnya ke keraton Kediri. Tetapi dia bertindak bodoh, ingin ke Argowayang bertemu dengan Wisang Geni.
Ketika Wisang Geni akhirnya berhasil menyelamatkan dia dari tawanan Pranaraja dan Samba, hilanglah kesempatan hidup bersama lelaki hebat itu.”Betapa bodohnya aku, hatiku mengatakan aku sudah kasmaran sudah jatuh hati kepadanya dan ingin diboyong ke Kediri. Tetapi aku masih isteri Geni, tak mungkin aku kabur begitu saja dari suamiku. Jadi aku ingin diboyong secara paksa, sehingga aku tak merasa mengkhianati suamiku. Tetapi dia malah mengabulkan keinginanku ke Argowayang, dia yang bodoh. Samba, kamu dengar aku? Kamu yang bodoh!”
Airmata menetes dipipinya. “Inikah karma balasan bagiku, aku mengkhianati Geni, dan kini dia mengkhianati cintaku?”
Tetapi Sekar tahu, dalam hatinya, dia tak pernah menyesal mengenal Samba, tak pernah menyesal membiarkan Samba memasuki tubuhnya. “Dimana dia sekarang? Kediri kalah, pasukannya hancur, apakah Samba tewas?”
Pertanyaan ini sering mengganggunya. Malam ini pertanyaan itu membuat dia semakin nelangsa. “Apakah aku tak ada kesempatan bertemu lagi dengan Samba?”
Tangis Sekar menjadi-jadi. “Kalau bertemu dia aku akan memberitakan rahasia besar diriku terkait lima malam bersamanya. Dan aku tidak akan menolak lagi, atau pura-pura jual mahal jika dia ingin membawa aku lari menyepi di suatu tempat. Oh Samba, dimana kamu? Mengapa kamu tidak datang mencariku? Apakah lima malam itu hanya selingan bagimu? Apakah kamu lupa padaku? Semudah itu kau melupakan aku padahal malam itu kau berjanji padaku tak akan membiarkan aku pergi. Tahukah kamu setiap aku menciumi putraku Antaseno, memandang parasnya yang tampan, saat itu juga aku teringat padamu. Bagaimana mungkin aku lupa? Aku yakin kamu tidak melupakan aku, aku tahu kamu sangat kasmaran padaku, tetapi dimana kamu, apakah kamu sudah tewas? Sekarang apa yang harus kulakukan?”
Puas dialog dengan diri sendiri. Dia tertawa, menertawakan dirinya. “Aku melakukan dua kebodohan dalam kehidupan asmaraku. Pertama menolak Samba yang telah merebut jiwa ragaku. Dua, membiarkan Atis masuk dalam kehidupanku sehingga dia bisa merebut Wisang Geni dan melempar aku keluar gelanggang. Tak ada wanita sebodoh aku di tanah Jawa ini.”
Perlahan-lahan suara tawanya lenyap ditelan gelapnya malam. Dia melakukan semedi, menenteramkan emosi dan perasaan. Dia melupakan deritanya menghapus air matanya. Tengah malam itu juga dia kembali ke goa. Kembali memasuki kehidupan yang pahit dan nelangsa.
Di pintu goa dia memasang telinga, ternyata dua insan itu tidur pulas. Pelahan-lahan dia merebah diri dan tidur tanpa membangunkan Atis maupun Wisang Geni yang berpelukan. “Aku harus membiasakan diri dengan keadaan yang baru ini, keadaan yang sangat menyiksa diriku.” Dia menghela nafas duka, katanya dalam hati. “Semua salahku sendiri, memberi peluang kepada sainganku untuk merapat kepada suamiku. Sekarang aku turun derajad menjadi selir, Atis yang isteri utama. Oh Wisang Geni, sungguh kamu telah berlaku tidak adil kepadaku.”
To be Continued 23 July/Published No 31
No comments:
Post a Comment