Wednesday, July 20, 2011

Wisang Geni part Two (28)

Kutukan Keris Berdarah

By John Halmahera

Published 28

Bab Duabelas

Mengepak Sayap Menembus Awan

Sekar dan Atis duduk sila disamping tubuh Wisang Geni yang telentang diatas hamparan rumput. Laki-laki itu tidak bergerak, nafasnya halus, begitu halusnya sehingga tampak seperti tidak bernafas.

Dua wanita itu lelah lunglai, seakan tak ada lagi sisa tenaga. Semua tenaga habis terkuras oleh perjuangan melelahkan berhari-hari diatas punggung kuda dari kuil Ngancar sampai ke lereng bukit Lejar. Berburu dengan waktu sekaligus mengatasi ketegangan.

Sekar bahkan melalui ketegangan yang amat sangat, sejak meloloskan suaminya dari sergapan maut pertarungan di Kandangan sampai menuruni tebing-tebing terjal menggendong tubuh suaminya yang berat.

Semua itu, ketegangan, ketakutan dan kelelahan telah mengantar Sekar sampai dipuncak ketahanan diri. Dia pingsan, rebah menimpa tubuh Atis disebelahnya.

Atis pun tak kurang lelahnya, tangan dan kakinya lecet, berdarah-darah oleh kasarnya tali dan tajamnya cadas tebing ketika menuruni jurang. Atis masih memiliki sisa tenaga. Namun dia terkejut ketika tubuh Sekar rebah menyandar ke pundaknya. “Mbakyu, mbakyu kenapa?” Dia menggoyang-goyang tubuh Sekar.

Sesaat dia panik, Wisang Geni terkapar tak berdaya seperti tak bernafas diikuti Sekar yang pingsan mendadak. Sementara kera-kera berceloteh tidak karuan menimbulkan suara bising membuat pikiran Atis semakin kacau dan panik.

Tiba-tiba dia dikejutkan celoteh Kera Besar dan beberapa kera lainnya. Atis menoleh, tampak buah merah sebesar kepalan tangan. Lima buah. Kera-kera menunjuk Wisang Geni dan buah merah. Seketika dia mengerti apa yang harus dilakukan.

Dia menyambar sebuah dan melahap dengan rakus. Lalu menggoyang keras tubuh Sekar, menampar-tampar pipinya. “Mbakyu makan buah ini.”

Sekar sadar, matanya terbuka.

Atis menyodorkan buah. “Makan mbakyu.”

Sementara Sekar melahap buah, Atis lalu menyuap buah ke mulut suaminya.

Tapi mulut Wisang Geni tertutup rapat.

Tiba-tiba tangan Sekar merampas buah ditangannya. “Begini caranya.” Tangan Sekar memeras buah, sambil membuka paksa mulut suaminya. Susul menyusul dua buah merah pindah kedalam perut Wisang Geni. Tak lama kemudian Wisang Geni sadar.

Sekar menyodor satu buah yang masih segar ke mulut suaminya. “Makan ini Mas.”

Wisang Geni mengunyah buah merah.

Ketika itu kera membawa lagi, lima buah segar. Tiga pendekar itu melahap buah merah.

Sekar hendak membantu dengan tenaga-dalam, tetapi batal karena Kera Besar berteriak marah. Sambil menepuk dadanya, Kera Besar menunjuk ke arah kolam.

Atis berseru agak keras mengimbangi suara bising kera-kera. “Mbakyu, dia menyuruh kita memandikan mas Geni.”

Sekar pernah mendengar cerita suaminya tentang khasiat kolam air panas dan dingin. Dia segera mengangkat tubuh suaminya. Berdua Atis diiringi Kera Besar, mereka menuju kolam. Tanpa menanggalkan pakaian yang sudah compang-camping, sambil memegang sebelah tangan Wisang Geni, dua wanita itu nyebur.

Mereka mandi di kolam panas. Wisang Geni masih lemah sehingga memerlukan bantuan untuk tidak tenggelam. Mereka berkecimpung bergantian di kolam panas dan dingin. Hampir setengah jam kemudian dua wanita itu membantu suaminya ke tepian.

Kera Besar melompat-lompat kegirangan melihat Wisang Geni sadar. Dia meraih tubuh Wisang Geni, memeluk erat sambil teriak-teriak, saat berikut melempar tubuh Wisang Geni kembali ke kolam. Sekar dan Atis tak menunda waktu, ikut nyebur.

Hari sudah malam. Tak ada cahaya, tetapi Atis dan Sekar masih berendam bersama Wisang Geni. Udara yang dingin tidak terasa. Mereka mentas dan menikmati ikan merah yang disantap mentah juga buah merah segar.

“Kamu bawa baju ganti? Buntalanku dimana?” Tanya Sekar.

“Aku bawa selimut. Buntalanmu kusimpan di goa. Tadi aku sudah bebenah membersihkan goa, sudah siap ditempati.” Kata Atis.

“Terimakasih adik manis.”

Malam itu mereka nginap di goa.

Hari Tiga

Pagi itu kondisi tubuh Wisang Geni membaik. Racun dalam tubuhnya semakin berkurang begitu juga bekas biru lebam kemerahan dilengannya makin pudar. Tenaganya masih lemah. Dia tidak sadar tenaga wiwaha mulai bangkit, pelan-pelan tapi pasti, tenaga mulai mengumpul berupa gumpalan-gumpalan yang tersebar di tubuhnya.

Tenaga itu menggerakkan darah mengusir racun kalajengking biru. Darah Wisang Geni yang mengandung kekuatan anti-racun bikinan guru Waragang, telah dirangsang pil salju penyambung nyawa dari Susmita dan ramuan obat bikinan Sekar, ditambah lagi khasiat buah merah dan ikan merah, berhasil memunahkan racun kalajengking biru pukulan Arjapura.

Malam harinya Sekar dan Atis memeluk suaminya.

Wisang Gen mulai terangsang. Namun kejantanannya belum pulih. Hal ini membuatnya frustasi dan putus asa. Dia malu. Malu pada dua isterinya. “Aku tak berguna lagi. Bahkan untuk meniduri isteriku saja, aku tak mampu.” Katanya pada diri sendiri.

Berenang atau mandi di kolam air panas dan air dingin telah merangsang tenaga wiwaha. Makanan buah merah dan ikan segar memperkuat tenaga dan memproses pemunahan racun dalam tubuh. Tetapi sayangnya tidak diketahui Wisang Geni.

Karena ketidaktahuan ini, maka ketika kejantanan belum juga pulih, Wisang Geni pun terpuruk secara kejiwaan. Rasa malu membuatnya putus asa. Tak ada semangat hidup lagi.

Hari Empat

Sejak pagi Wisang Geni tak bergerak dari tempatnya berbaring. Suatu saat ingatannya melayang ke paras cantik Gayatri. Tanpa sadar dia menyebut nama, “Gayatri.” Suaranya lirih. Bisikan mesra mengandung penyesalan.

Sekar yang berbaring tidak jauh, mendengar bisikan yang mesra penuh kerinduan. Tanpa bisa dikendalikan, telah melecut rasa cemburu, amarahnya berkobar. Dalam suasana lain dia tidak akan cemburu, namun sekarang lain, baginya Gayatri tidak pantas lagi dikenang.

“Gayatri! Kamu nyebut Gayatri.” Seru Sekar. “Jadi itu sebabnya kamu berdiam diri, kamu merindukan Gayatri. Dia tak ada disini.” Nafasnya menderu macam orang usai lari jauh. Matanya berkaca-kaca. “Geni, aku sangat mencintaimu, tapi kalau kamu perlu Gayatri, aku akan mempertemukan kamu dengan dia, biar aku mengalah, aku yang pergi.”

Wisang Geni membalik badan memandang paras Sekar. “Mengapa menangis. Aku hanya berbisik nama Gayatri, tak ada maksud apa-apa. Apakah sampai detik ini kamu masih sangsi cintaku padamu, bahwa kamu adalah wanita nomor satu bagiku?”

“Mengapa kamu membisik namanya?” Suara Sekar masih mengandung cemburu.

“Sudah berhari-hari pikiranku terganggu, aku tidak mengerti mengapa dia memukulku.”

“Apakah kamu akan maafkan dia? Jika bertemu apa yang akan kamu lakukan?” Sekar bertanya, masih penasaran tentang perasaan suaminya terhadap Gayatri.

Wisang Geni menyahut tenang. “Aku akan diam, jika dia bahagia bersama orang lain, atau bahagia tidak bersamaku, maka aku relakan dia pergi.”

“Kalau dia mau kembali padamu?” Desak Sekar.

“Aku tidak tahu.”

“Jadi kamu maafkan dia, setelah apa yang diperbuatnya padamu?” Desak Sekar, lagi. Nadanya kesal.

Wisang Geni menggeleng. “Mengapa dia mau membunuhku? Apa salahku?”

“Pada dasarnya dia punya dendam keluarga padamu, kakeknya dendam karena kalah tarung dengan eyang sepuh gurumu. Gayatri tak bisa balas dendam pada eyang sepuh, jadi dia lampiaskan padamu.” Sekar berhenti lalu melanjutkan dengan sinis. “Jika dia tahu aku cucu eyang Suryajagad pasti dia juga akan balas dendam padaku.”

“Tapi Gayatri tak pernah membicarakan dendam. Malah dia pernah berkata kakeknya tidak menaruh dendam atas kekalahan dari Eyang Suryajagad.” Kata Wisang Geni.

“Dendam itu tak pernah hilang dari lubuk hatinya, meskipun tak pernah diucapkan. Suatu ketika dendam itu akan muncul ke permukaan. Kupikir itu soal biasa, dendam atau amarah merupakan sifat dasar manusia.” Tutur Sekar.

Wisang Geni menyahut spontan seperti apa yang dia pikirkan. “Aku tahu tentang dendam, aku pernah hidup dibakar dendam.” Dia merenung matanya menerawang jauh. “Dulu hidupku senang, ibuku selalu merawatku, aku dimanja, tidak seharipun dia tidak melayani aku. Dia selalu ada sewaktu aku membutuhkannya. Sungguh, aku rindu masa kecilku.”

Sekar membiarkan curahan perasaan suaminya, dia mendengarkan.

“Aku rindu ibuku, rindu pelukannya. Sejak kecil aku sudah kehilangan ibu, perang ganter telah merenggut kehidupanku yang nyaman, sejak itu aku tak punya kehidupan lagi, yang ada hanya kehidupan keras, berlatih silat, bertarung dan membunuh. Supaya tidak mati dibunuh maka aku harus membunuh. Tanganku berlumur darah. Aku tidak tahan hidup seperti ini. Jika ibuku masih ada aku akan lari sembunyi dalam pelukannya. Aku bosan jadi pembunuh!”

“Tapi yang kau bunuh semuanya orang jahat! Mereka pantas mati!” Kata Sekar.

“Siapa bilang Sam Hong orang jahat? Dia datang ke tanah Jawa mencari keadilan karena putranya mati dirampok di hutan. Dia pendekar budiman, laki-laki sejati, tidak pantas mati. Tetapi dia mati ditanganku. Aku pembunuh. Sikap pembunuh itu sombong dan temberang seakan penentu hidup mati orang lain. Dia menganggap dirinya paling benar, mereka yang menentangnya pantas dibunuh!” Ujar Wisang Geni berapi-api.

Sekar diam. Kehabisan akal. Dia menoleh memandang Atis yang tampak bingung.

“Aku akan menetap dilembah ini! Untuk selamanya!” Suara Wisang Geni lirih tapi tegas.

“Apa? Apa katamu?” Desak Sekar.

“Aku tak mau keluar dari lembah ini, mau menetap selamanya.”

Sekar masih tercengang mendengar ucapan suaminya. Atis ikut terkejut.

Atis mendengar percakapan Wisang Geni dan Sekar, sudah mencerna inti-sari percakapan.

“Mas Geni, kalau kamu putus asa semua kita mati! Kamu mati, mbakyu Sekar mati, aku mati, anak-anakmu ikut mati, siapa yang melindungi mereka dari incaran dendam musuh?” Atis berkata dengan nada tinggi.

Sekar menatap suaminya. “Apakah aku bisa mengubah keputusanmu?”

Wisang Geni tertawa. Dia menggeleng. “Aku tak berguna, lumpuh. Sekarang ini aku rindu ibuku, aku ingin diam, tidak bergerak, ingin dipeluk ibuku seperti masa kecilku.”

Hari Lima

Dini hari Sekar terkejut gembira mengetahui kejantanan suaminya pulih. Keduanya bercinta. Tetapi siangnya dia terkejut ketika ajakannya berlatih silat ditolak Wisang Geni.

“Aku tak mau berlatih. Hidup seperti ini lebih nyaman. Aku tak perlu bertarung atau membunuh. Hidup tenteram di lembah ini menjadi pilihan terbaik.”

Saat itu Sekar menganggapnya sebagai gurauan. “Ayo Mas, kita ke kolam.” Dia berlari keluar mengabari Atis kejantanan Wisang Geni sudah pulih. Atis pun sangat gembira.

Sepanjang pagi mereka bertiga berenang, makan buah segar dan ikan mentah. Wisang Geni tampak gembira. Sekar mengajaknya berlatih.

“Tadi sudah kukatakan aku tak mau berlatih lagi.”

“Kamu sungguh-sungguh?” Tanya Sekar tak percaya.

Wisang Geni mengangguk. “Aku tak mau berlatih silat lagi!”

Sepanjang siang sampai sore, Sekar dan Atis tak berhasil membujuk Wisang Geni untuk berlatih silat. Malamnya dua wanita ini sepakat mendesak suaminya.

“Geni, jangan tidur dulu, aku mau bicara.” Kata Sekar.

“Bicaralah, aku mendengarkan.” Wisang Geni membalik posisi, baring telentang.

“Tenagamu sudah pulih. Sebaiknya kamu berlatih kembali. Begitu kamu sudah pulih seperti semula, kita keluar dari lembah. Tak mungkin kita menetap disini selamanya.”

“Kamu telah menyembuhkan aku.” Potong Wisang Geni. “Tapi aku mau menetap disini, tak perlu bertarung, tak perlu membunuh. Hidup damai. Kalian menemaniku seperti janjimu.”

Ketetapan hati Sekar muncul, berseru. “Atis! Kamu jadi saksi apa yang kuucapkan.” Dia menatap tajam suaminya. “Aku tak mau menetap dilembah ini, tapi kalau kamu memaksa diri menetap disini. Baik, akan kutemani, tetapi tanpa jiwa, hanya jasadku saja.”

“Apa maksudmu?” Tanya Wisang Geni.

“Mati. Aku akan bunuh diri!” Tegas Sekar.

Mendadak Atis berseru. “Aku ikut kamu mbakyu, aku juga bunuh diri!”

“Atis kalau kamu ikut-ikutan mati, siapa yang melayani mas Geni?” Tanya Sekar.

“Mas Geni hanya mementingkan diri sendiri, pasti bisa mengurus dirinya.” Tegas Atis.

“Mas, kamu ingat pertarungan di Trawas? Kalau saja kamu tidak berada ditempat itu, pasti aku sudah diperkosa Siluman Goa Paliyan dan Manyar Edan, diperkosa lalu dibunuh! Diluaran banyak penjahat, apakah kamu tega melihat aku diperkosa seperti kelima Pandawa yang tak berdaya membela Drupadi saat dipermalukan Dursasana. Tetapi ada bedanya, lima Pandawa karena sudah kalah dalam permainan judi, kalah tarohan dan terbelenggu sebagai budak. Tetapi kamu Mas Geni, kamu membelenggu diri sendiri.” Sekar menoleh pada Atis.

Wanita muda yang waskita ini cepat mengerti. “Mbakyu, banyak kejadian di dunia kependekaran, laki-laki memerkosa wanita yang tidak berdaya. Aku nyaris diperkosa si Jubah Hitam, untung mas Geni menolongku. Tekadku sudah bulat, aku juga bunuh diri, biar mas Geni hidup sendiri.” Ada semangat dalam suara Atis.

Sekar menambahkan. “Aku wanita. Kekuatanku terbatas. Aku tak berdaya melindungi anakku. Selama ini aku berlindung dibelakang tubuhmu yang perkasa. Kamu ingat Ganggati yang bersumpah akan membunuh aku? Apakah kamu akan berdiam saja?”

Wisang Geni marah. “Tidak kubiarkan dia mengganggumu!”

“Penuhi permohonanku, aku mengemis padamu, berlatihlah kembali, jadilah Wisang Geni yang pernah ditakuti musuh-musuhmu.” Suara Sekar lembut, sarat cinta dan permohonan.

“Sulit. Aku tidak tahu apakah mungkin aku bisa kembali pulih seperti dulu, aku takut menghadapi kenyataan bahwa ilmu-silatku tak bisa pulih kembali.”

“Kejantananmu pulih. Pasti tenaga wiwaha ikut pulih. Tak ada yang sulit, aku selalu disisimu, aku sisianmu dalam suka dan duka.” Sekar membujuk-rayu.

“Mas Geni, berlatihlah kembali. Jangan sia-siakan cinta kami berdua yang begitu tulus dan penuh pengorbanan. Jangan sia-siakan Seno dan Angga.” Potong Atis. “Kami semua bergantung dan berlindung padamu.”

Sekar teringat kakeknya. “Jangan sia-siakan kepercayaan Eyang Sepuh yang telah menyempurnakan ilmu-silatmu agar kamu membela Lemah Tulis. Dia juga menitip aku padamu, kamu lupa itu? Kenapa kamu ingkar janji? Kamu mengkhianati Eyang Sepuh!”

Bulu roma Wisang Geni merinding. Teringat janjinya pada Eyang Sepuh, ikatan janji murid dengan gurunya, dia berjanji akan menjaga dan mencintai Sekar.

Lamunan Wisang Geni buyar dipotong suara Sekar. “Kami berdua sudah tekad, kalau kamu tetap tidak mau berlatih, esok pagi kamu akan temukan mayat kami.” Sekar berkata dengan suara lirih sambil memeluk Atis.

Wisang Geni memandang Sekar dan Atis yang menangis berpelukan.

Dia ingat nasehat Eyang Sepuh waktu itu. “Aku berdiri diatas kebenaran, hidup didalam nafas kebenaran dan keadilan. Karena itu musuhku banyak, tapi semakin banyak musuhku, semakin aku menjadi besar. Aku dibesarkan musuh-musuhku.”

Mendadak timbul semangat dalam dirinya. Gumparan api semangat membakar dadanya, dia bangkit, melompat dan berlari keluar goa.

Dua wanita itu terkejut, serempak ikut berlari, mengejar.

Wisang Geni melompat nyebur ke kolam dingin. Lama dia menyelam di dasar kolam. Tidak terlihat oleh dua isterinya. Apa yang dia lakukan?

To be Continued 21 July/Published No 29

No comments: