Thursday, July 14, 2011

Wisang Geni part Two (22)

Kutukan Keris Berdarah

By John Halmahera

Published 22

Bab Sembilan

Tarung Kandangan

Malam itu, udara sangat dingin di desa Bangu, dikaki bukit Gunduk yang disiram hujan sejak pagi hingga siang. Puluhan pendekar berkumpul di sembilan bangunan rumah dibalik tebing dan lamping bukit yang merupakan markas dari kelompok anti-kerajaan, tersembunyi dari penglihatan orang. Di salah satu rumah, yang terbesar, sembilanbelas pendekar sila ditanah dihadapan adipati Linggapati yang duduk disatu-satunya kursi di ruangan luas itu.

Diantaranya, Dewi Kajoran, Dedes Ayu, Pulosari, Sangkapura dan Samba. Lima penasehat itu telah memilih empatbelas pendekar khusus untuk misi tarung di Kandangan. Mereka yang terpilih delapan pendekar wanita formasi Grasak Petung murid Dewi Kajoran, dua pimpinan pasukan rodra Hanggada dan Sangkala, Janda Genit Ngargoyoso, Purocana Si Gila dari Merbabu, Korowelang dari Utara Brangsong dan Si Cebol Keris Bayangan dari kali Panggul.

“Misi kalian membantu Brantas menghancurkan musuhnya, selain itu aku ingin tahu seberapa kuat serangan pasukan rodra.” Linggapati berhenti sejenak dan bertanya kepada Samba. “Sekarang berapa jumlah pasukan rodra?”

“Tadinya empatpuluh tiga, kini jumlahnya enampuluh delapan. Masih ada tigapuluh calon sedang diuji. Untuk misi Brantas kami pilih limapuluh orang dengan kemampuan merata, mohon persetujuan dan perkenan Paduka.” Jawab Samba.

“Aku setuju. Jadi rodra membawa limapuluh pemanah. Aku ingin melihat dengan mata kepala sendiri keampuhan pasukan panahmu.” Tukas Linggapati.

“Mohon maaf, apakah Paduka ikut ke Kandangan?” Dedes Ayu bertanya.

“Misi utama adalah uji-coba pasukan rodra, kesanggupan menciptakan hujan panah. Itu yang ingin kusaksikan.” Linggapati diam sesaat lalu memandang kakak perguruannya. “Kangmas Pulosari kutunjuk sebagai pemimpin pasukan, apa strategi kakang?”

“Maaf Paduka. Hamba akan mengatur dengan pimpinan Brantas, rencananya tahap awal Brantas siap dalam barisan berhadapan musuh. Pasukan rodra dibelakang Brantas, dimas Samba akan memberi aba-aba pasukan rodra menebar panah ke arah musuh. Tahap dua, Brantas dan para pendekar menyerang. Mohon petunjuk Paduka.” Kata Pulosari.

“Strategi sempurna. Semua kuserahkan kepadamu.” Tegas Linggapati, menambahkan. “Kuharap Wisang Geni hadir, jika tidak mati oleh hujan panah, aku akan membunuhnya. Itu menjadikan aku yang dipertuan di tanah Jawa sebagai pendekar nomor satu.”

Semua yang hadir tergugah semangatnya.

“Kalau berangkat siang hari ini, kita tiba di hutan Kandangan besok sore, satu hari sebelum pertemuan.” Pulosari menoleh pada senopati Samba. “Dimas, siapkan pasukanmu, pilih yang segar dan handal.”

Senopati Samba menyahut tegas. “Segera dilaksanakan, ketua” Jawabnya. Tapi dalam hati memikirkan keselamatan Sekar. “Jika Sekar berada di kelompok Lemah Tulis, mampukah dia menyelamatkan diri?”

Bagi Samba ikutsertanya dalam pasukan Linggapati bukan untuk mencari harta atau jabatan. Dia hanya mencari kesempatan menculik wanita idamannya. Hanya dengan meminjam tenaga pasukan Linggapati maksudnya bisa tercapai. Dia tahu diri tak mungkin merebut Sekar dari tangan Wisang Geni secara terang-terangan. Setelah mendapatkan Sekar dia akan melarikan wanita itu ke Tanjung Gerinting dan hidup bersamanya.

“Akan kuberi ramuan pelemas, Sekar tak akan memiliki tenaga-dalam, selama itu dia jadi isteriku. Setelah satu bulan, aku yakin dia akan mencintaiku, barulah tenaga dalamnya kupulihkan.” Dalam hati Samba puas dengan rencananya.

Pulosari dan Linggapati menyembunyikan rahasia, pertemuan bertiga dengan Ganggati beberapa hari lalu. Dalam pertemuan itu Linggapati menjanjikan bantuan kepada Brantas menghancurkan Mahameru dan Lemah Tulis. Imbalannya Brantas ikut serta dalam pasukan Linggapati saat menyerang keraton. Ganggati setuju.

Hari menjelang pagi, malam masih gulita. Embun dan kabut dingin menggayut disekitar kawasan luas dibatas desa Kandangan. Rombongan Lemah Tulis berada di Selatan, bercampur dengan Mahameru, berhadapan dengan kelompok Brantas di Utara.

Prastawana, ketua Lemah Tulis yang baru tetapi yang tetap menganggap Wisang Geni sebagai ketua, mondar mandir diantara para murid. Semalaman dia tak bisa memejam mata. Banyak pikiran berkecamuk.

Berulangkali dia mengusir pikiran buruk bahwa Wisang Geni, ketua dan gurunya, sudah mati. Keyakinannya akan ilmu-silat dan tenaga-dalam Wisang Geni yang tidak tertandingi selama ini menjadi jaminan ketuanya itu selamat.

Setelah sanggup menguasai dirinya, Prastawana mengumpulkan semua murid. Air mukanya tegang. Diantara rombongan ikut serta Gajah Watu sebagai sesepuh dan orang yang paling diandalkan.

“Aku tidak percaya ketua Wisang Geni mati, aku yakin dia hanya terluka. Sekarang yang kita hadapi kelompok Brantas yang didukung banyak pendekar bayaran. Singkirkan keragu-raguan, nama Lemah Tulis bertumpu pada sepakterjang kita hari ini.” Prastawana menggugah semangat tarung para murid. “Saat ini aku mengajak kalian bertarung dengan semangat, membayar jasa Lemah Tulis yang telah membesarkan kita.”

Gajah Watu mengangkat tangannya, para murid diam memerhatikan. “Brantas tidak memiliki pemimpin dengan ilmu-silat tinggi. Warok dan Manyar Edan sudah mati. Jadi kalau mereka berani menantang Mahameru dan Lemah Tulis, artinya punya kekuatan tersembunyi. Mereka dibantu para penjahat bayaran. Jumlah kita empatpuluh, Mahameru lima puluh. Brantas lebih banyak, kuperkirakan lebih dari duaratus orang.

Diam sesaat kemudian dia melanjutkan. “Ingat peristiwa tiga puluh tahun lalu ketika perguruan kita hancur. Tetapi Lemah Tulis tidak musnah dan bisa bangkit dihari kemudian sebab kangmas Bergawa memerintah para murid lari mundur karena situasi tak mungkin bisa bertahan. Para murid patuh. Sekarang aku perintahkan, jika terjadi situasi buruk dan kita tak bisa bertahan maka Prastawana dan Dipta memimpin para murid meninggalkan tarung dan pulang ke perguruan. Ingat, Prastawana dan Dipta akan jadi orang paling berdosa dalam sejarah perguruan jika berani membangkang perintahku!”

Terdengar protes diantara para murid.

Gajah Watu berseru. “Ini perintahku, perintah perguruan!”

Seketika para murid terdiam.

Tampak Prastawana mengeluh. Dipta pun terpukul. Perintah harus mundur dan lari dari medan tarung sungguh berat untuk dilaksanakan. Bagaimana mungkin meninggalkan medan tarung? Itu moral pengecut. Tetapi itu perintah perguruan yang harus ditaati. “Paman Guru. Aku tak mau lari, jika perlu aku mau mati dimedan tarung.” Kata Prastawana.

Dipta mengungkap ketidakpuasan. “Mengapa aku yang dipilih, mengapa tidak biarkan aku tarung dan mati demi perguruan. Cabut kembali perintahmu Paman Guru, aku mohon.”

Kali ini Gajah Watu berhasil menekan emosi protes para murid. Dia melanjutkan. “Aku akan memberi tanda dengan teriakan “lari” dan kalian cepat meninggalkan medan tarung. Aku akan menjadi benteng penghalang dibelakang kalian.”

“Aku bersama guru, kita berdua.” Kata Prastawana yang diikuti Gajah Lengar.

“Tidak! Hanya aku sendiri! Kalian semua harus pergi! Itu perintahku!” Tegas Gajah Watu. Raut wajah dan suaranya yang berwibawa membuat semua murid tunduk. “Hal ini juga berlaku bagi murid-murid Mahameru, mereka akan ikut kalian pergi ke Lemah Tulis. Tetapi kalau kita bisa bertahan apalagi berada diatas angin, kita bertarung terus dan membasmi Brantas yang telah membunuh banyak murid kita.”

Keadaan senyap lagi. Semua mata memandang kakek guru yang sudah berusia enam puluh lima itu. “Aku sepakat dengan dua guru Mahameru, Ki Bragalba dan Ki Rawaja. Jika situasi terancam, para murid Mahameru harus meninggalkan tarung. Kalian tidak boleh mati sia-sia, ada waktunya kalian membalas kekalahan. Aku bertiga Ki Bragalba dan Ki Rawaja akan bertahan, mencegah musuh mengejar kalian. Kalian bersama murid Mahameru pulang ke Lemah Tulis. Kalian dipimpin Prastawana dan Dipta, Mahameru dipimpin Narapati.”

“Guru, mengapa berkata seakan-akan kita akan kalah?” Desak Dyah Mekar.

“Hanya ada dua kemungkinan, menang atau kalah. Adalah bijak, kita mempersiapkan kemungkinan yang paling buruk.”

Para murid diam.

Gajah Watu melanjutkan. “Hari ini ada yang ingin kuceritakan, cerita keburukanku yang selama ini kusembunyikan. Puluhan tahun lalu aku berbuat buruk kepada keponakan muridku yang masih gadis. Aku memaksa menidurinya. Berulangkali. Dia tidak berdaya menentang paman gurunya yang biadab ini. Lalu aku pergi, lari dari tanggungjawab. Ingkar janji mengawininya. Dia merahasiakan, tetapi kangmas Bergawa mengetahui dan mengusir aku dari perguruan.”

Para murid terkejut. Gajah Watu melanjutkan. “Dia Walang Wulan, murid kesayangan kangmas Bergawa, yang kemudian jadi isteri Wisang Geni. Aku yakin dia menceritakan aib itu kepada suaminya. Belakangan aku sering bertemu dua suami isteri itu, tetapi keduanya tetap hormat kepadaku, hal ini membuat aku kian tersiksa.”

Gajah Watu tersenyum pahit. Wajahnya diselimuti rasa duka. “Perbuatanku pada Wulan tak bisa dimaafkan. Bisa saja Geni dan Wulan telah memaafkan, tetapi aku sendiri tak bisa memaafkan diriku. Sekarang setelah kuceritakan aibku ini, hatiku lega. Jika aku mati hari ini, sampaikan pada Wisang Geni, aku minta maaf padanya.”

Sinar kuning kemerahan matahari menyingsing diufuk Timur. Petuah Gajah Watu telah membangkit semangat tarung anak-anak Lemah Tulis. Begitu juga murid Mahameru setelah mendapat petuah dua gurunya, Bragalba dan Rawaja. Kedua perguruan ini dengan cepat membentuk barisan, bercampur satu sama lain.

Beberapa tahun belakangan hubungan dua perguruan makin erat bersahabat seiring terjadinya perkawinan antara para murid. “Hari ini kita membunuh atau dibunuh, tak boleh punya rasa kasihan. Harus telengas dan kejam. Ingat itu.” Seru Narapati, murid utama Mahameru yang berdiri dampingan dengan Prastawana. Mereka memandang kelompok musuh yang terpisah seratusan meter.

Di Utara hutan Kandangan yang berimpit dengan sungai, kelompok Brantas berdiri menanti aba-aba. Jumlahnya berkisar duaratusan, mereka berdiri diam dalam posisi siap. Di belakang mereka, pasukan pemanah Rodra siap dengan busur dan panah. Mereka bahkan sudah siap menyerang, merentang busur dan memasang anak panah. Menanti aba-aba dari Hanggada maka ratusan panah akan melesat ke udara menghujani kelompok dua perguruan yang berdiri dilapangan terbuka, bebas dari pepohonan.

Samar-samar Prastawana melihat gemerlap busur dan panah. Matahari pagi sudah mulai menyinar terang. “Apa itu?” Seru Prastawana, “Panah?”

Narapati yang juga melihat, berbisik. “Itu barisan pemanah!”

“Awas panah!” teriak Prastawana.

Saat berikut ketika sebagian murid dua perguruan belum sadar, ratusan panah yang susul menyusul melayang diudara, menyebar menghunjam ke kubu Mahameru dan Lemah Tulis. Kumpulan panah bagaikan awan hitam yang menutup langit dan mencurah kebawah mencari sasaran. Terjadi hiruk pikuk kekacauan. Puluhan murid dua perguruan berjatuhan. Tewas.

Sebagian murid sempat mundur berlindung dibalik pohon, sebagian memutar senjata bagai titiran, melolos diri dari sergapan ratusan panah yang tidak kenal ampun. Kemudian terdengar aba-aba keras mengguntur, “serang, bunuh Mahameru dan Lemah Tulis!”

Bragalba dan Gajah Watu tak pernah mengira serangan licik pasukan pemanah. Tapi kenyataan terjadi, separuh lebih murid dua perguruan tewas. Sementara musuh yang menyerang duaratusan orang. Dua tetua ini saling pandang lalu serentak berseru keras. “Lari, lari, cepat pergi! Sekarang juga!”

Murid dua perguruan yang tersisa sekitar tiga puluhan berlarian menyelamatkan diri dipimpin Prastawana, Dipta dan Narapati. Mereka lari berkelompok, tidak bercerai berai.

Gajah Watu, Bragalba dan Rawaja menyambut serangan musuh. Tiga pendekar tua ini dengan tenaga-dalamnya yang tidak terukur lagi dan ilmu silatnya yang tinggi mengamuk. Mereka membelah kelompok murid Brantas yang meluruk maju. Setiap bergerak musuh berjatuhan, tewas.

Sepak terjang mereka yang telengas dan kejam bagaikan raksasa haus darah membuat keder musuh. Dalam sekejap mata baju dan wajah mereka keciprat darah musuh.

Tigapuluhan murid Brantas tewas mengenaskan. Sepakterjang tiga pendekar tua ini tertahan ketika pendekar kelompok Linggapati datang menyerang. Terjadi tarung di tiga kelompok, delapan dewi formasi grasak petung mengepung Bragalba. Kelompok lain, Ganggati dibantu Kangsa dan Roro Gandis mengepung Gajah Watu. Kelompok lain Rawaja dikeroyok Samba, Hanggada dan Sangkala.

“Bunuh tiga kakek secepatnya, kita mengejar yang lari!” Teriak si Cebol kali Panggul yang meluruk maju mengeroyok Gajah Watu. Purocana si Gila dari Merbabu membantu Samba mengeroyok Rawaja.

Orang-orang Brantas lain mengejar kelompok Prastawana yang melarikan diri. Namun kehebatan sepak terjang tiga pendekar tua yang telah membunuh banyak murid Brantas dan menghalangi para pengejar, telah berhasil memberi waktu cukup bagi kelompok Prastawana melecut kudanya menjauh dari arena tarung.

Gajah Watu menggelar ilmunya yang paling dahsyat. Tangan kiri memainkan jurus penakluk raja, suatu pukulan tangan kosong yang angker dan menebar hawa panas. Tangan kanan dengan keris luk sebelas memainkan jurus garudamukha prasidha yang menjadi pusaka perguruan. Biasanya jurus ini merupakan pergerakan dari ilmu tangan kosong namun belakangan mengalami inovasi tarung menggunakan senjata. Itulah idea pemikiran Wisang Geni bertiga Padeksa dan Gajah Watu.

Tenaga-dalam pendekar tua dari Lemah Tulis ini sudah mencapai titik paling tinggi yang bisa dicapai hasil latihan puluhan tahun. Keris yang dia mainkan menguar hawa panas yang mengiris udara dengan suara mencicit. Tangan lainnya menebar maut dengan tepukan dan pukulan keras berhawa panas.

Kangsa dan Roro tidak berani mendekat setelah nyaris disambar dan dipatuk keris Gajah Watu. Melihat ini Ganggati menyeru dua muridnya menjauh dan menyerang dari kejauhan.

Ganggati sendiri meladeni dengan memainkan keris luk sembilan yang mengilap warna merah berhawa panas. Jurus lenyam-lenyom yang dia mainkan membuat kerisnya mematuk ke segala titik kematian tubuh lawan. Menikam, mematuk dan membabat dengan irisan tajam. Tidak terhindar beberapa kali terjadi benturan dua keris mengeluarkan suara keras dan percikan api. Tangan kiri Ganggati ikut memainkan jurus maut andalannya tapak racun panas yang menguar hawa panas.

Gajah Watu sangat perkasa. Sambil tarung menghadapi Ganggati dan dua muridnya, sekali-sekali dia melepas diri dan melabrak kumpulan Brantas. Sekali gebrak dia berhasil merenggut empat nyawa. Lalu berkelebat balik menempur Ganggati yang tentu saja bangkit amarahnya. Tetapi diam-diam Ganggati mengakui kehebatan Gajah Watu.

Sepak terjang Gajah Watu telah mengikat Ganggati dan dua muridnya serta belasan murid dan pendekar bayaran di kelompok Brantas. Mereka tak punya kesempatan mengejar para murid dua perguruan yang meloloskan diri itu.

Tidak kalah serunya sepakterjang dua tetua Mahameru, Bragalba dan Rawaja. Keduanya memainkan ilmu andalan brahmanagrha (rumah orang Brahma) diantaranya jurus dahsyat kadharmesta (kebajikan) dan amijilakna (bermanfaat) yang penuh perubahan tidak terduga.

Bragalba dikeroyok delapan pendekar wanita yang rata-rata usianya tigapuluhan murid utama Dewi Kajoran.

Delapan wanita ini mengepung Bragalba dengan formasi grasak petung yang aneh tetapi mematikan. Gerak semacam tari dengan liukan tubuh dan senyum menawan diselingi hentakan pinggul dan kaki namun dua tangan menebar hawa maut. Formasi itu sangat rapat dan kompak. Bragalba kewalahan, setiap dia menggedor salah seorang musuh, empat musuh memotongnya dengan pukulan hawa panas.

Sementara Rawaja berhadapan dengan tiga senopati lawas keraton Kediri, yakni Samba, Hanggada dan Sangkala yang dibantu Purocana dari Merbabu. Beberapa pendekar bayaran juga menyebar memasuki tarung mengeroyok tiga pendekar tua itu.

Mulanya Rawaja terdesak oleh keroyokan tiga senopati yang bersenjatakan keris. Dalam usianya yang enampuluhan tenaga-dalam Rawaja sudah sangat tinggi, dia menggunakan tangan kosong sasra ludira yang mengandung banyak perubahan dan tipuan. Terpaan dan tebasan tangan kosongnya dipergelangan tangan musuh mendatangkan rasa nyeri. Dalam duapuluh jurus, terjadi perubahan, Samba dan tiga temannya kewalahan.

Beberapa murid Brantas dan pendekar bayaran ikut menerjang masuk. Seketika itu Rawaja terdesak mundur. Dia melangkah mundur sambil menarik keluar tasbih yang terbuat dari batu granit lalu berseru. “Kangmas, kita tarung jurus gabungan.”

“Baik,” seru Bragalba yang lantas mendobrak kepungan lawan.

Dua kakak beradik ini lantas berjajar memainkan brahmanagrha yang jumlahnya 21 jurus dengan berpuluh-puluh pecahan. Bragalba memainkan kawikaran perubahan dari basis gereh (guntur) dan sedung (badai) sedangkan Rawaja menggelarnya dari basis karawistha (hiasan) dan muwun (menangis).

Jurus Rawaja biasanya jadi andalan murid wanita, namun sebagai guru dia dapat memainkan dengan sempurna. Sedang jurus Bragalba khusus untuk murid laki-laki. Jurus gabungan ini khusus dimainkan pasangan suami isteri atau pasangan kekasih karena saling mengisi, bantu membantu, bergantian menyerang dan bertahan.

Terdengar tawa Bragalba, keras. “Tak dinyana hari ini kita berdua memainkan jurus gabungan yang sudah lama tak pernah dimainkan para tetua Mahameru.”

Delapan dewi bersama Samba, Hanggada, Sangkala, Purocana, si Cebol mengepung dua jago tua ini. Tampaknya kepungan semakin rapat dengan penuh ancaman maut. Mendadak terjadi perubahan dua pendekar wanita kena gelontor pundaknya, luka parah. Sangkala kena terjangan kaki Rawaja yang melemparnya keluar gelanggang, dadanya remuk, mati.

(To be Continued 15 July/Published No 23 )

No comments: