Kutukan Keris Berdarah
By John Halmahera
Published 21
Senyap seketika. Hening. Tak ada suara.
Lalu terdengar suara Wisang Geni. “Kamu Atis isteriku?”
“Oh kamu masih ingat aku, kangmasku?”
“Iya tak mungkin aku lupa.” Kata Wisang Geni, suaranya lirih, lemah.
“Janjimu, tigapuluh hari akan menjemputku.” Suara Atis agak manja.
“Maafkan aku. Ehh bagaimana kamu sampai disini?” Lanjut Wisang Geni dengan suara parau. “Kemari mendekat, aku ingin memandangmu.”
Atis melangkah mendekat, “tak boleh lama-lama nanti ayamnya gosong.”
Masih dalam posisi berbaring telentang Wisang Geni memandang teliti. Gadis itu masih cantik dan seksi seperti diawal pertemuan.
Gadis itu berdiri dan melangkah kembali sambil berkata. “Nanti ayamnya gosong.”
“Eh Atis bagaimana kamu bisa sampai dikuil ini?” Serunya agak keras.
Sambil membungkus ayam yang sudah matang dengan daun waru, Atis manggang potongan lainnya. “Ceritanya panjang. Aku putus asa, lalu berpikir mengejar kamu ke Kandangan. Tapi ditengah jalan berubah pikiran, aku terus ke Selatan, akhirnya aku tersesat ke kuil ini.”
“Kamu ketemu Sekar? Disini?”
Atis tertawa. “Iya dan mbakyu bersedia menerima aku jadi bagian keluargamu, sebagai isterimu.” Dia diam sejenak, menanti reaksi Wisang Geni. Lalu melanjutkan dengan suara bergetar. “Aku pikir mbakyu Sekar menyukai aku.”
Gadis itu menghirup nafas panjang lalu menghembusnya pelan-pelan. “Aku akan membantu mbakyu Sekar mengantar kamu ke lembah kera.” Kata Atis.
“Kamu tahu kita akan ke lembah kera?”
“Iya mbakyu yang memberitahuku.”
“Kamu masih ingat jalan kesana?” Desak Wisang Geni.
“Dulu kamu memuji kecerdasanku, ingatanku sangat tajam, apa yang sudah kulihat atau kudengar akan teringat terus.” Tutur Atis dengan pamer mulutnya yang indah memesona.
“Sungguh kebetulan, karena Sekar belum tahu jalan kesana.” Tegas Wisang Geni.
“Tidak usah khawatir, tidak akan tersesat kalau aku jadi penunjuk jalan.” Atis melompat berdiri. ”Ayamku gosong nanti.”
Tidak berapa lama Sekar datang, menghampiri suaminya. “Bagaimana keadaanmu?”
“Mulai sakit lagi. Obat Susmita hanya menahan sakit selama sehari.”
“Aku sudah dapatkan beberapa ramuan, daun-daun paku tiang, paku sutra, saninten, pulosari, sintok, hanya ki jowo yang belum ketemu. Mungkin ditengah jalan akan ketemu.”
Suara Atis menengahi. “Mbakyu, katamu daun ki jowo? Aku tahu. Warnanya kuning kemerahan, iya kan?”
“Benar. Dimana kamu melihatnya?” Tanya Sekar bersemangat.
“Mbakyu, lanjutkan manggang ayam beberapa potong ini untuk bekal kita di jalan. Aku pergi ambil daun ki jowo.” Gadis itu pergi tanpa menunggu jawaban Sekar.
Sekar tertawa. “Atis itu lugu dan setia.” Dia menoleh ke suaminya. “Kamu keterlaluan, hampir dia bunuh diri karena kamu tinggalkan tanpa pamit.”
“Aku sudah minta maaf padanya.” Kata Wisang Geni.
“Dia mencintamu, perlakukan dia sebagaimana isterimu.”
“Sekarang ini aku lumpuh, tak punya tenaga.”
“Kamu akan sembuh.” Suara Sekar mengandung semangat dan keyakinan besar.
“Tak mungkin sembuh, kekasihku.”
“Kau pasti sembuh! Aku akan membawamu ke lembah kera, mengobatimu dengan ramuan nenek, aku akan merawatmu, setiap saat aku disisimu.”
“Aku hutang nyawa padamu isteriku, jika tidak kau tolong.” Kata Wisang Geni.
“Tunggu dulu, aku masih punya satu lagi pil penyambung nyawa dari Susmita.” Dia memasukkan pil salju ke mulutnya, menunggu lumer.
“Buka mulutmu.” Kata Sekar yang kemudian mencium mulut suaminya, mendorong lumeran pil salju ke dalam mulut suaminya. “telan Mas.”
“Sekar kamu dewi penolongku.”
“Semua yang kulakukan karena cinta dan kewajiban seorang isteri.”
Tiba-tiba wajah Wisang Geni berubah, tampak duka. “Mengapa Gayatri memukulku? Sungguh aku tidak mengerti. Sulit bagiku untuk mengerti.”
“Mengapa kamu masih memikirkan dia?” Sekar tidak puas.
“Tak mungkin aku melupakan dia.”
Suara Sekar meninggi. “Apa? Kamu masih mengingatnya, mencintainya?”
“Bukan. Bukan itu. Aku tak bisa lupa perbuatan Gayatri padaku, memukul aku dengan curang, memberi kesempatan laki-laki itu membunuhku, itu yang tak bisa kulupa.”
“Kamu mau memaafkan dia?” Suaranya masih saja tinggi. Sekar tampak emosional.
Atis yang sudah kembali dan sempat mendengar percakapan yang sarat emosi dan amarah, jadi bingung. Dia bertanya-tanya dalam hati. “Ada apa dengan Gayatri, apakah dia yang melukai kangmas Geni?”
“Tidak. Aku tak pernah memaafkan orang yang mengkhianati aku, siapa pun dia!” Suara Wisang Geni datar, tawar tanpa emosi. “Sekar dan juga kamu Atis. Camkan kata-kataku. Tak boleh ada balas dendam atau sakit hati pada Gayatri. Hindari tarung dengan Gayatri.”
Mata Sekar berkaca-kaca, sakit hati, mengapa sampai detik ini suaminya masih mencintai Gayatri setelah perbuatan culasnya itu. “Apa alasanmu?” Suaranya serak menahan isak.
“Aku tak mau anakku Anggreni terlibat pertikaian antara kamu dan Gayatri, nantinya Antaseno ikut terlibat. Dan dua saudara itu akan tarung masing-masing membela ibunya. Mau jadi apa keluargaku, anak-anakku saling bermusuhan? Aku tak mau itu terjadi!” Suara Wisang Geni terdengar lirih namun mengandung ketegasan dan ancaman.
Sekar sadar. “Baik aku manut, tidak akan tarung dengan Gayatri demi Seno dan Angga. Tapi aku penasaran ingin tahu jawabanmu yang jujur, apakah kamu akan menghukum Gayatri atau menerimanya kembali?”
Wisang Geni menggeleng. “Aku tidak akan membunuhnya karena dia ibu dari Anggreni. Tetapi akan menghukum dia, apa hukumannya aku belum tahu.” Dia kemudian memejam mata. “Tak perlu bicarakan perempuan itu lagi!”
Sekar tahu suaminya marah.
Dia membungkuk, memeluk dan berbisik mesra. “Maaf kangmas, aku minta maaf. Jangan marah padaku. Jika kamu marah padaku, duniaku pasti akan gelap gulita.”
Wisang Geni diam tak menyahut. Tangannya meraih kepala isterinya dan mengelus-elus rambut panjangnya. “Bagaimana mungkin marah padamu.”
Takjub, melihat pemandangan itu, dalam hati Atis memuji Sekar. “Cepat sekali dia minta maaf, meskipun aku tak melihat kesalahannya, pantas mas Geni mencintainya. Aku harus belajar banyak dari perilaku mbakyu Sekar.”
Teringat sesuatu Atis berkata lirih. “Mbakyu, aku membawa daun ki jowo.” Dia memperlihatkan seonggok daun.
Sekar memandang sekilas, membenarkan. “Benar itu ki jowo, ehh Atis, suami kita sudah kelaparan. Ayo kita makan dulu, setelah itu berangkat.” Dia berhenti sejenak, bangkit duduk sambil berkata. “Adikku, bungkus makanan untuk bekal dijalan.”
Gadis itu mengangguk. “Sudah siap semua, mbakyu.”
Mereka makan dengan lahap.
Wisang Geni memandang dua isterinya, bergantian. “Kamu belum menceritakan keadaan Manohara dan Prawesti. Dan bagaimana kamu bisa meloloskan aku?”
Matanya berkaca-kaca. Sekar menahan isak.
“Semua kita luka parah. Itu tarung yang paling mengerikan, sekarang aku mengerti kata nenekku, seseorang yang terancam jiwanya akan sanggup mengeluarkan kekuatan melebihi tenaganya. Itulah yang kulakukan ketika meloloskan diri bersamamu.”
Dia menceritakan detil kejadian mengerikan itu. “Kalau saja Mano dan Westi tidak menyerang penjahat itu, aku tak akan bisa menolongmu. Mereka berdua menyerang tanpa memikirkan keselamatan diri. Tetapi penjahat itu memiliki ilmu-silat tinggi dan tenaga-dalamnya tangguh.”
“Siapa dia?” Tanya Atis.
“Dia Arjapura, putranya mati dalam tarung dengan Mas Geni,” Kata Sekar.
“Balas dendam.” Kata Atis.
Wisang Geni memotong pembicaraan. “Teruskan ceritamu.”
“Dari atas kuda aku menoleh ke belakang, kulihat Westi dan Mano kena pukulan telak, aku tidak tahu apakah hidup atau mati.”
“Firasatmu bagaimana? Mereka tewas?” Suara Wisang Geni bergetar, haru.
Sekar diam. Matanya berkaca-kaca. Dia tidak perlu menjawab.
“Kasihan, mereka mati membela aku.” Wisang Geni merunduk, suaranya penuh duka.
“Belum ada kepastian mereka mati.” Suara Sekar lirih mengandung keragu-raguan.
“Apakah mungkin selamat? Arjapura kejam dan berilmu tinggi, dia pasti akan membunuh orang-orang dekatku.” Tegas Wisang Geni dengan suara parau.
Mata Sekar berkaca-kaca. “Aku mengharap mereka lolos dan selamat.”
Mereka melakukan perjalanan cepat.
Atis menjadi penunjuk jalan, dia masih ingat liku-liku jalanan.
Ditengah jalan Sekar membuat ramuan dan meminumkan pada suaminya. Dia yakin ramuannya akan menyembuhkan suaminya.
Dari kuil mereka menuju Selatan lalu potong arah menuju ke Timur.
Hari ketiga sore menjelang malam, mereka tiba di kali Doho.
Wisang Geni berdiri di tepi sungai mengamati lereng pendakian. “Kita bermalam disini, besok pagi langsung mendaki menuju Utara, sekitar siang hari tiba di lereng Selatan bukit Lejar.” Dia menghirup udara pegunungan yang sejuk.
Saat tiba di bibir jurang, hari masih siang. Matahari sedang terik. Jurang tampak berkabut, pandangan mata tak bisa menembus ke bawah. Sekar bingung. Apalagi Wisang Geni sudah tak bertenaga lagi, lukanya makin parah. Tubuhnya limbung, Sekar cepat memeluknya.
Keadaan makin sulit. “Bagaimana caranya membawa suamiku turun ke dasar jurang?” Sekar bertanya kepada diri sendiri. Pertanyaan yang tak bisa ditemukan jawabannya.
“Mbakyu, aku ingat jalan turun yang lebih mudah, ketika mas Geni membawa aku turun.” Seru Atis bersemangat.
Keduanya memapah Wisang Geni. Tiba disana, persoalan lain muncul. “Sulit memapah mas Geni sebab jalannya sempit hanya cukup untuk seorang.” Kata Atis.
Sekar memandang Atis, saling pandang. “Biar aku yang menggendong.” Suara Sekar mengandung keraguan.
“Mbakyu, kangmas pingsan, tidak mungkin mbakyu menggendong dipunggung. Bahaya, bisa lepas dan jatuh. Mungkin bisa jika kangmas diikat menjadi satu dengan tubuhmu.”
Mata Sekar berbinar. “Dasar cerdas. Ayo kita cari tali.”
Atis mencabut kerisnya. Dia melayang ke salah satu pohon, mengulitinya dengan cepat lalu memotong kecil-kecil memanjang, menyerut agar halus lalu memintal menjadi tali.
Dia mengatur letak tubuh suaminya dipunggung Sekar kemudian mengikatnya erat. Tak lupa dia membawa seutas tali panjang, ujungnya diikat batu sebesar dua kepalan tangan.
“Mbakyu aku didepan.” Kata Atis.
“Kamu tahu jalannya Tis, masih ingat?”
“Aku masih ingat.”
Keduanya mulai menuruni jurang.
Pada beberapa bagian jalan yang terpotong, Atis melempar batu yang diikat dengan tali. itu. “Kata kangmas Geni, satu dua dua, satu satu lalu dua terus lompat sepuluh.”
“Apa maksudmu?” Tanya Sekar.
“Didepan ada bagian jalan yang hilang. Jarak antara ujung satu dengan ujung lainnya akan diukur dengan lemparan batu. Semuanya ada tujuh bagian yang hilang, kalau salah pijak kita jatuh kebawah, mati.” Suara Atis bergetar dan serak saking tegangnya.
Sekar ikut-ikutan tegang. “Tis, hati-hati Tis.”
Mereka jalan pelahan-lahan. Atis di depan, Sekar di belakangnya.
Setiap pandangannya terhalang kabut, Atis melempar batu ke depan. Mendengar jatuhnya batu, dia bisa mengetahui ada tidaknya jalanan didepan.
Sepenanakan nasi Atis mewaspadai adanya bagian jalan yang hilang. “Ini yang pertama, mbakyu.” Dia melempar batu. Terdengar bunyi batu membentur tebing. “Aku masih ingat kata Mas Geni, jaraknya sekitar satu tombak. Jadi kita bisa mengukur tenaga lompatan. Di bagian kedua, jaraknya dua kali lipat, jadi sekitar dua tombak. Itu yang dimaksud Mas Geni dengan satu dua dua satu satu dua dan yang terakhir sepuluh.”
“Yang terakhir katamu, sepuluh tombak. Dengan pijakan kaki yang sempit rasanya sulit bisa melompat sejauh itu. Apalagi kabut menghalangi pandangan. Atis, kita harus cari jalan lain, akan sia-sia jika tiba di ujung jalan dan harus kembali lagi karena tak mungkin melompat sejauh sepuluh tombak, apalagi dengan mas Geni dipunggung.” Kata Sekar.
“Jangan pikirkan itu, aku punya akal untuk menembus rintangan sepuluh tombak itu, sekarang didepan inilah yang harus kita lalui. Aku lompat dulu. Setiba disana aku lempar batu padamu, kamu pegang batu dan tali lalu lompat.” Dia bersiap untuk melompat.
Sekar mencegah. “Tunggu Atis.”
“Kenapa mbakyu?”
Sekar memeluk gadis itu, mencium wajahnya yang keringatan. “Hati-hati adikku, mbakyu sangat sayang sama kamu, aku tidak mau kehilangan kamu.”
Terharu sampai airmatanya mengembang Atis berbisik dalam pelukan Sekar. “Benar kamu sayang aku? Oh aku bahagia, mbakyu.”
“Hati-hati, kamu permata hatiku.” Suara Sekar parau menahan haru. Lalu mengeraskan hati. “Tis, kamu pegang ujung tali yang satu aku ujung yang lain. Sekadar berjaga-jaga kemungkinan yang paling buruk.”
Dia menghirup nafas panjang memenuhi paru-parunya dengan udara pegunungan yang segar. “Baik mbakyu aku segera melompat.”
Perjalanan yang berbahaya itu sangat dramatis.
Dua kali Atis jatuh, tetapi Sekar berhasil menariknya kembali keatas.
Setengah harian mereka menuruni jalanan kecil yang penuh bahaya.
Sekar memiliki ringan-tubuh yang lebih mumpuni dari Atis sehingga bobot tubuh suaminya bukan hambatan. Atis dengan waringin sungsang juga tak mengalami kesulitan. Hambatan yang berbahaya, hanya pada beberapa bagian jalan yang putus.
Akhirnya mereka tiba di ujung jalan.
“Sekarang bagaimana kita melalui jarak sepuluh tombak, mbakyu.” Ujar Atis.
Hari menjelang sore, kabut tebal menutupi pemandangan.
Samar-samar Atis melihat hijaunya pepohonan, dia sudah tiba di dasar jurang. Tetapi kenakalan gadis remaja muncul, ingin menggoda Sekar.
“Aku lompat duluan mbakyu.” Atis melesat.
Sekar tidak sempat mencegah. “Atis …” dia berteriak.
Sedetik kemudian terdengar seruan Atis. “Aku jatuh, tolong aku mbakyu.”
Sesaat Sekar panik. Saat berikut terdengar lengking hiruk-pikuk suara kera.
Tiba-tiba datang angin besar meniup kabut yang bertebar-pecah kemana-mana.
Sekar melihat pemandangan yang menggembirakan. Dia melayang pandang ke sekeliling, ternyata mereka berada di dasar jurang. Dia tertawa geli. “Kurangajar Atis, kamu menggoda, hampir aku menangis.”
Sekar memandang kagum.
Tampak pemandangan indah. Pepohonan hijau, rumput dan bunga-bunga.
Dia terkejut ketika puluhan ekor kera mendatangi sambil jingkrak dan teriak-teriak. Dia pernah mendengar cerita suaminya tentang lembah di dasar jurang yang seluruh penghuninya adalah bangsa kera. Tetapi menyaksikan sendiri banyaknya kera datang mengerubungi sambil jingkrak dan berceloteh membuat hatinya gentar.
Hatinya agak tenteram menyaksikan Atis berkomunikasi dengan para kera. Tampak Atis menggerak-gerakkan tangan dan berceloteh dengan mereka. Sekar kemudian melepas ikatan yang melilit tubuh Wisang Geni, menurunkannya dari gendongan dan membaring suaminya di rerumputan. Dia duduk sila disamping suaminya. Atis juga duduk sila disampingnya.
(To be Continued 14 July/Published No 22 )
No comments:
Post a Comment