Saturday, July 9, 2011

Wisang Geni part Two (19)

Kutukan Keris Berdarah

By John Halmahera

Published 19

Arjapura menggenggam tangan Gayatri.

“Wisang Geni pasti mati. Tak ada orang bisa hidup kena pukulan racun kalajengking biru.” Dia tertawa keras, sambil menengadah ke langit. “Sudah impas, hutang nyawa bayar nyawa. Dengarlah putraku Wasudeva, ayahmu sudah membalas hutang nyawamu.”

Wisang Geni mati. Dua isterinya mati. Dibunuh pendekar Jubah Hitam dari Himalaya.” Kabar itu cepat tersiar ke penjuru desa. Semua pendekar mendengar kabar mengejutkan itu. Berita itu terdengar Kalandara dan dua muridnya. Mereka berlari menuju arah Barat.

Prastawana, Gajah Watu dan beberapa murid Lemah Tulis berlari ke tempat pertarungan. Arena sudah kosong. Tampak beberapa orang mengelilingi dua tubuh yang terkapar.

Kalandara dan dua muridnya datang lebih awal. Selang beberapa detik orang-orang Lemah Tulis menerobos kerumunan.

Prastawana memegang nadi Prawesti. Tak ada ketuk nadi tanda kehidupan. Wajah cantik Prawesti tampak tersenyum, darah meleleh dari sudut mulutnya. Baju dibagian dada basah oleh darah merah, muntahan dari mulutnya.

“Prawesti mati!” Desis Prastawana.

“Aku lihat dia dipukul laki-laki asing berjubah hitam,” kata seorang saksi.

Saat itu Kalandara sibuk mengurut tubuh Manohara.

“Manohara belum mati, bisa ditolong.” kata Kalandara dengan suara serak. Dumilah dan Kemara menempelkan tangan di punggung gurunya. Mereka bertiga mengirim tenaga dalam ke tubuh Manohara.

Gajah Watu memandang Prastawana. Keduanya mengangguk, duduk diseberang Kalandara disisi lain tubuh Manohara. Tangan Gajah Watu nempel di sisi perut Manohara. Tangan Prastawana menopang punggung sesepuh Lemah Tulis itu. Lima pendekar kelas utama itu mengeluarkan tenaga-dalam mencoba menyelamatkan Manohara.

Murid Lemah Tulis lainnya mengelilingi menjaga keamanan.

Sepenanakan nasi berlangsung. Manohara sadar. Matanya memandang keliling. Air mata mengalir dari matanya yang jelita.

Isak tangis keluar dari kerongkongan Manohara ketika bicara terpatah-patah. “Mbakyu Sekar membawa lari mas Geni yang luka parah. Semoga mbakyu Sekar bisa menolong mas Geni. Oh nasib keluargaku sungguh nelangsa. Mengapa? Apa dosa kami?”

“Siapa yang melukaimu? Bagaimana mungkin suamimu bisa kalah?” potong Kalandara, pertanyaan yang jawabannya ingin diketahui semua orang.

Manohara masih terisak. ”Laki-laki Jubah Hitam dari Himalaya menyerang mas Geni, kalau tidak dicurangi tak mungkin mas Geni bisa dilukai.”

“Siapa laki-laki itu?” Desak Prastawana. “Siapa yang curang?”

Tubuh Manohara mengejang, saat berikut wajahnya kaku, dia memejam mata.

“Jangan, jangan mati adikku?” Bisik Kemara dengan isak tertahan.

Manohara tidak menjawab, diam tidak bergerak. Mati.

Kalandara memandang Gajah Watu dan Prastawana.

“Terimakasih kalian sudah berusaha menolong Manohara,” Kalandara berkata dengan isak tangis. “Tapi mengapa dia mati? Mengapa? Dia masih muda.”

Tiga wanita itu menangis.

Beberapa orang yang mengerumuni ikut merasa sedih.

Gajah Watu, Prastawana dan murid-murid Lemah Tulis ikut berduka. Bagaimanapun juga ketidakcocokan dengan Kalandara, namun mereka tak bisa ingkar bahwa Manohara itu isteri Wisang Geni, sang ketua.

“Kita akan sempurnakan mayat Manohara dirumah kita,” bisik Kalandara.

Tanpa ragu Kemara menggendong mayat Manohara, lalu bersama gurunya dan Dumila meninggalkan desa menuju Lembah Bunga.

Sekar menunggang si Dawuk tanpa tujuan.

Dia mengarah ke Barat, berpikir akan memutar ke Utara menuju Lemah Tulis. Tapi apa yang akan diperbuat di Lemah Tulis, siapa yang sanggup menolong Wisang Geni?

Tiba-tiba dia teringat neneknya, si Dewi Obat di Lembah Cemara. Seketika pikirannya jernih, neneknya, Sapu Lidi, juga berada di sana. Keduanya pasti bisa menolong.

“Aku ke Barat dulu, seandainya Gayatri mengejar, dia menduga aku menuju Segoro Kidul tempat guru. Sore nanti aku putar arah ke utara lalu ke timur menuju Lembah Cemara. Tapi apakah waktuku cukup?” Dia terisak-isak.

Air mata mengalir deras menyusur pipinya yang halus.

Dia tidak tahu misteri dalam tubuh suaminya. Darah Wisang Geni mengandung anti racun yang dipasok guru Waragang sejak kecil. Anti racun ini mulai menolak racun dingin kalajengking biru Arjapura. Tenaga wiwaha meskipun sangat kecil ikut memerangi bisa racun dingin pukulan si Jubah Hitam.

Misteri inilah yang menyelamatkan nyawa Wisang Geni. Tetapi hanya sementara, untuk sembuh diperlukan pengobatan khusus.

Sekar meraba nadi leher suaminya yang masih dalam keadaan belum sadar. Kondisi suaminya sangat lemah, nyaris tak ada tanda kehidupan. “Celaka.” Katanya.

Dia menghentikan kuda, melompat dan menggendong suaminya turun, membaringkan di rerumputan dibalik batu besar. Dia menempelkan tangan ke punggung suaminya. Ketika mengibas dua tangan mengerahkan tenaga-dalam, tanpa sengaja tangannya membentur tabung kecil yang dia sembunyikan dibelahan dadanya.

Seketika dia teringat Susmita. Beberapa waktu lalu di Welirang, Susmita memberinya tabung kecil. “Ini pil penyambung nyawa. Orang yang sekarat jika makan pil ini usianya akan nyambung lima atau sepuluh hari. Terimalah Sekar, dua untukmu, aku masih punya lima buah, mungkin suatu waktu kamu butuh ini.”

Sekar merogoh saku, mengeluarkan pil dari tabung. Bentuknya kecil, keras putih mengilat seperti batu pualam. Suara Susmita seperti masih mengiang di telinganya. “Pil ini keras karena sudah beku, kamu basahi dengan liur dalam mulutmu, kerahkan tenaga panas. Pelan-pelan dia akan lumer. Telan, maka kamu akan tahu khasiatnya.”

Tangannya menimang-nimang pil pualam itu.

Dia mengingat pengkhianatan Gayatri. “Mereka sama-sama dari Himalaya, tapi tak mungkin Susmita menipu aku, apa untungnya dia menipu? Selama ini dia bersahabat denganku, tak mungkin dia menipuku.”

Sekar tahu dia tak punya banyak waktu untuk berpikir. “Kalau harus mati oleh tipuan Susmita, biarlah aku mati bersama suamiku. Tak perlu takut, Seno juga berada ditangan dua nenekku, tak ada yang perlu aku risaukan. Tapi Anggreni di Welirang bersama Gajah Nila dan keluarganya. Kasihan dia. Bapaknya sekarat, ibunya pengkhianat.”

Dia masukan pil dalam mulut lalu mengerahkan tenaga panas. Saat kemudian pil lumer. Rasanya dingin, amat dingin. Dia memegang mulut suaminya, dengan jarinya dia membuka paksa mulut kekasihnya yang selama ini sering menciumnya.

Mulut itu kaku, tapi tak lama kemudian membuka. Sekar merunduk menempel mulutnya ke mulut suaminya. Seluruh liurnya didorong dengan hembusan tenaga-dalam ke mulut suaminya. Dia merasa liurnya menerobos rongga mulut suaminya.

Seluruhnya, tidak tersisa sedikitpun dimulutnya. Tapi bekas rasa dingin masih melekat dilidah, dia menelan ludah. Sedikit bekas pil penyambung nyawa tertelan olehnya.

“Masih ada satu pil lagi. Mungkin akan dibutuhkan nanti. Kalau ini racun, biarlah kita berdua mati sambil berpelukan. Oh Geni betapa aku mencintaimu, jangan mati sayangku. Kasihan anak-anakmu. Aku masih ingin menikmati hidup disisimu.” Bisik Sekar sambil memeluk erat dan menciumi wajah suaminya.

Beberapa saat berlalu Sekar masih rebah disamping suaminya, tangannya memeluk dan mengurut tubuh kekasihnya sambil mengerahkan tenaga-dalam.

Tiba-tiba dia merasa tubuhnya segar, ada semacam tenaga halus menyebar disekujur tubuhnya. Rasanya sejuk, dingin yang nikmat. Apa itu?

Pikirannya masih bertanya-tanya, ketika dia mendengar suara suaminya.

“Sekar, bawa aku ke lembah kera. Aku mau dikubur disamping guru Lalawa.”

Terkejut. Sekar melepas pelukannya. Dia memandang suaminya. Mata Wisang Geni masih terpejam. Terdengar bunyi nafasnya. Wisang Geni belum mati.

“Oh Susmita, maafkan kalau aku curiga padamu, terimakasih obatmu telah menolong suamiku.” Bisik Sekar.

Bibir lelaki itu bergerak pelan. “Lembah kera di bukit Lejar.”

“Iya suamiku. Aku tahu tempatnya, kamu telah menceritakan pengalamanmu dilembah kera padaku. Letaknya sudah terekam dalam benakku, bagaimana dengan lukamu?”

“Tidak tahu. Lengan dan tubuh bagian kananku mati rasa, ada dua jenis rasa dingin dalam tubuhku, yang satu sangat dingin bagaikan gergaji yang mengiris daging, otot dan tulangku, satunya lagi dingin sejuk, sungguh aneh.”

Pil mujarab Susmita yang mengandung dingin membantu mendorong tenaga wiwaha dan anti-racun dalam tubuh Wisang Geni semakin membendung racun dingin kalajengking biru.

“Geni, dingin yang satu racun pukulan musuh, dingin yang sejuk itu pil salju pemberian Susmita. Kamu jangan bicara, aku bantu dengan tenaga dalam.” Berkata demikian Sekar memaksa suaminya duduk. Dia menempel tangannya ke dada Wisang Geni. Lalu tenaga segoro membanjir keluar menerobos ke dalam tubuh suaminya.

Sepenanakan nasi berlalu. Sekar memandang mesra wajah suaminya. Tampak wajah berewokan itu mulai berkeringat.

Sekar menunggang si Wulung, satu tangannya mengendali kuda, satu lainnya melingkar memeluk Wisang Geni yang duduk di depannya.

“Bagaimana tenagamu?” Tanya Sekar.

“Tak ada tenaga, lumpuh. Aku lebih lemah dari orang biasa. Racun dingin Arjapura sangat dahsyat, racun itu gabung dengan pukulan dingin Gayatri semakin merusak tenagaku. Kupikir, obat Susmita itu hanya bertahan beberapa hari.”

“Aku akan meracik ramuan nenek, obat yang pernah menyelamatkan kamu dulu. Aku yakin kamu akan sembuh. Tapi mengapa ke Lembah Kera, bukankah ke rumah nenekku lebih bagus. Dia bisa menyembuhkan lukamu.”

Wisang Geni tersenyum pahit. “Aku hidup dan selamat jika berada di Lembah Kera, atau kalau memang harus mati kuburkan aku di samping kuburan guru Lalawa. Itu sebabnya kamu harus membawaku ke Bukit Lejar, kamu mau …?”

Sekar menciumi leher suaminya. Berbisik mesra. “Kemana kamu perintah, aku manut suamiku. Aku hanya isteri yang tak punya apa-apa selain cintaku padamu dan kesetiaanku padamu. Jika kamu mati aku ikut mati, aku tak mau hidup merana mengenang dan merindu kamu. Kita akan berkuda terus sampai malam hari lalu istirahat.”

“Seandainya aku pingsan dalam perjalanan, tetaplah menuju bukit Lejar. Kamu harus berburu waktu, aku tak punya waktu panjang. Rasanya hidupku sudah sampai di penghujung jalan, aku hanya mau mati disisi makam guru Lalawa.”

Wanita itu menangis.

Airmatanya membasahi pipinya. “Jangan mati Geni. Jangan tinggalkan aku. Kamu sudah berjanji, tak akan meninggalkan aku apapun yang terjadi. Sekarang kamu terus-terusan bicara mati. Oh betapa teganya kamu meninggalkan aku merana seorang diri di dunia ini. Tidak ada lagi kesenanganku. Apa yang tersisa bagiku jika kamu mati? Geni jangan mati, berjanjilah untuk berjuang hidup, demi aku, demi Sekar, hiduplah bersamaku wahai kekasihku.”

Tak pernah selamanya Wisang Geni merasa tubuhnya lemah, hari ini dia merasakan betapa tidak berdayanya dia sebagai pendekar yang dijuluki nomor satu di tanah Jawa. “Aku lemah dan tak berdaya, Sekar. Lukaku parah, kini aku lebih lemah dari orang biasa.”

Mereka berhenti dua kali untuk mengisi perut. Sekar menggunakan kesempatan mengumpulkan bahan obat. Semua bahan yang diperlukan tersedia ditanah Jawa yang subur, Sekar meminumkan ramuan obatnya.

Sore hari menjelang gelap, mereka tiba di desa Pagu. Sekar tak mau masuk desa, memilih bermalam di hutan agak jauh dari desa. Esok hari sebelum matahari terbit, mereka melanjut perjalanan, berganti-ganti kuda sehingga mampu menempuh perjalanan lebih cepat.

Dia melecut kudanya secepat mungkin, “Wulung, Dawuk dan Batari, aku harus memaksa kalian. Kita harus berburu waktu, demi menolong majikanmu.”

Tiga ekor kuda seperti faham situasi kritis yang menggerayangi Wisang Geni, memaksa diri berlari secepat-cepatnya. Hari kedua menjelang sore mereka tiba dilereng Barat gunung Kelud. Samar-samar diantara kabut dan embun yang mulai menaungi lereng gunung, Sekar melihat sebuah kuil tua.

“Itu kuil, kuil apa? Apakah ada orang?” bisiknya.

Wisang Geni mendengar bisikan isterinya. Dia menyahut pelahan. “Kalau tak salah itulah kuil Ngancar, kuil pemujaan Batari Laksmi, kuil tua konon tempat para dewa berkumpul. Mungkin tak ada orang sebab sudah bertahun-tahun tak dikunjungi orang.”

“Kamu tunggu disini, tetap dipunggung kuda, aku akan menyelidik. Secepatnya aku kembali.” Sekar melompat dari punggung Dawuk, menyeret kuda-kuda itu kebalik batu besar. “Kalian diam, jangan bersuara.” katanya pada tiga kuda teman setianya.

Matahari sudah hampir terbenam.

Sekar menggelar ringan-tubuh yang paling mumpuni, mengelilingi bagian luar dan bagian dalam kuil. Ternyata benar seperti dikatakan suaminya, kuil itu kosong. Karena sudah lama tak dikunjungi orang, kuil tampak porak poranda. Disana sini dedaunan kering dan debu berserak, udara juga pengap.

Dia kembali menemui Wisang Geni. Menurunkan suaminya dari punggung kuda lalu memapahnya ke ruangan dalam kuil.

Dia membersihkan ruangan yang tersembunyi dibalik dinding.

Kuil itu didirikan untuk menangkal bencana amuk gunung Kelud seperti malapetaka puluhan tahun sebelumnya ketika gunung berapi itu memuntahkan lahar panas yang menelan banyak korban jiwa. Kuil itu dulunya ramai, banyak pengunjung. Tetapi sejak kerajaan Kediri runtuh, kekalahan Raja Dandang Gendhis dalam perang Ganter, kuil mulai sepi pengunjung. Tahun-tahun belakangan bahkan tak ada lagi orang yang mengunjungi.

“Kita bermalam disini. Esok pagi sebelum matahari terbit, kita langsung menuju Bukit Lejar.” Sekar berkata lirih kepada suaminya.

(To be Continued 11 July/Published No 20 )

No comments: