Kutukan Keris Berdarah
By John Halmahera
Bab Tujuh
Tarung Hidup Mati
Satu hari menjelang pertemuan besar tiga perguruan di Kandangan. Di bagian Timur hutan perbatasan desa suasana sepi. Kabut dan embun masih bergantung meski sinar matahari mulai menerangi hutan. Udara sejuk.
Satu kilo menjelang masuk desa tampak Wisang Geni berjalan bersama tiga isterinya, Sekar, Prawesti dan Manohara. Mereka menuntun empat ekor kuda.
Tiba-tiba terdengar ringkikan kuda. Ternyata Batari, tunggangan Gayatri. Kuda putih itu berlari menghampiri pacarnya, Wulung. Kedua kuda meringkik panjang lalu berlari jingkrak memperlihatkan kegembiraan, lalu menjauh dari rombongan majikannya.
“Itu pasti Gayatri.”seru Manohara.
“Benar perkiraanmu, ternyata kita bertemu Gayatri disini,” tukas Prawesti menjawil lengan Sekar. Tiga perempuan ini berbisik-bisik, tak mau pembicaraan mereka didengar Wisang Geni yang melangkah satu tombak di depan.
“Kukira dia ikut pulang ke Himalaya?” Kata Manohara.
Menanggapi gurauan Manohara, Prawesti berbisik. “Sebaiknya memang begitu, disini dia hanya memancing masalah.”
Sekar diam. Firasatnya berbisik sesuatu bakal terjadi. Jantungnya berdenyut keras. “Apa? Ada apa?” Bisiknya.
Dari kerimbunan pepohonan, muncul Gayatri dengan langkah gontai. Tubuhnya yang tadinya gemuk tampak kurus dan langsing. Wajah jelitanya tampak memucat ketika dia berjalan cepat, setengah berlari menghampiri Wisang Geni.
Wisang Geni berseru. “Itu dia … Gayatri…”
Gayatri berlari menghampiri suaminya, sambil berseru pelahan. “Mas Geni!”
Wisang Geni melihat laki-laki berjubah hitam yang tadinya jalan berdampingan dengan isterinya, berhenti sesaat lalu melangkah perlahan menghampiri. Terpaut dua tombak.
“Siapa dia?” Sesaat Wisang Geni seperti mengenal lelaki itu. Tapi tidak ingat dimana pernah melihatnya.
Saat berikut Gayatri memeluk suaminya. Wajahnya yang jelita tampak berkeringat dan agak pucat, ketika dia berbisik mesra. “Geni, aku rindu ….”
Wisang Geni merangkul isterinya, menghibur. “Lihat aku sengaja mencarimu ….” Dia tak sempat menyelesaikan kalimatnya. Ada tenaga dingin yang sangat besar menerobos sisi perutnya, menikam dan mengiris bagai pisau gergaji.
Dia terkejut. Seketika dia merasa lumpuh.
Pada saat berbarengan tenaga wiwaha bereaksi menolak. Tapi terlambat.
Pukulan dingin itu telah menekan dan menghalangi reaksi tenaga wiwaha. Bahkan tenaga wiwaha yang biasanya bereaksi spontan terhadap pukulan lawan, kini buyar terpencar, membuat Wisang Geni benar-benar lumpuh.
Saat itulah pikiran Wisang Geni memastikan pukulan dingin itu bersumber dari tangan Gayatri. Dia tak mengerti sebab musabab Gayatri memukulnya.
“Mengapa kamu memukul aku?” Suaranya lirih parau penuh tandatanya dan keheranan.
Tak ada jawaban dari mulut Gayatri yang saat itu mundur dua langkah.
Pikiran Wisang Geni belum normal. Masih bingung. Saat itu matanya menangkap gerakan pesat dari laki-laki berjubah hitam yang datang bersama isterinya. Tiba-tiba dia teringat Wasudeva. “Tapi Wasudeva sudah mati..” Bisiknya.
Seketika dia sadar nyawanya terancam.
Tapi terlambat. Kejadian pukulan Gayatri dan saat Wisang Geni memergoki lelaki jubah hitam menyerangnya, hanya dalam hitungan detik. Terlalu singkat untuk bisa berpikir mengelak atau menghindar.
Dia tak pernah menyangka ada kejadian seperti itu.
Gayatri memukulnya pada saat yang tidak terduga, saat dimana pikirannya tidak menaruh curiga. Dia tak pernah curiga pada isterinya, dulu maupun sekarang.
Saat pikirannya kosong, otomatis tenaga wiwaha ikut “tidur”, saat itulah pukulan membokong Gayatri mengena telak membuyarkan tenaga wiwaha, tenaga-dalam yang selama ini menjadi perisai dirinya menghadapi berbagai macam pukulan musuh. Tenaga wiwaha kini cerai berai dalam tubuhnya. Tidak lagi bisa dihimpun menjadi satu kesatuan.
Celakanya, saat bersamaan itu pukulan Arjapura melanda dengan membawa angin dingin. Itulah pukulan racun dingin Himalaya, pukulan mematikan.
“Mampus kamu, ini hutang nyawa putraku Wasudeva!!” Teriak laki-laki jubah hitam itu.
Mendengar seruan si jubah hitam seketika Wisang Geni mengetahuinya sebagai Arjapura, ayah Wasudeva. Tapi mengapa bisa bersama-sama dengan Gayatri, isterinya?
Dia tak sempat berpikir. Saat itu dia tahu persis jiwanya terancam. Tubuhnya masih lemas akibat perbuatan culas Gayatri dan pukulan Arjapura itu membawa hawa maut. “Mati aku sekarang,” bisiknya.
Wisang Geni menggeram memancing tenaganya.
Seperti biasa jika menghadapi bahaya yang mengancam jiwa, secara otomatis tenaga wiwaha bereaksi. Namun saat itu tenaganya terhalang akibat pukulan Gayatri yang begitu telak. Dalam keadaan terjepit, tenaga wiwaha memperlihatkan kehebatannya.
Tenaga wiwaha yang terhimpun sejak lima tahun sudah menyatu dengan tubuh dan pikiran Wisang Geni masih bisa menerobos rintangan racun dingin pukulan Gayatri.
Dengan sisa-sisa tenaga yang sudah terpencar ke seluruh tubuh, sebagian kecil tenaga wiwaha sempat mengalir mengikuti jalan pikiran dan geraman sang majikan. Itulah yang menyelamatkan Wisang Geni dari maut.
Dia melihat pukulan dahsyat Arjapura mengancam dadanya. Dia sadar jika pukulan itu menggelontor dadanya, tulang-tulang dada dan seisinya akan remuk, nyawa pasti melayang. Pukulan Arjapura dadakan, telengas, keji, ganas dan cepat.
Tak ada waktu untuk mengelak.
Apalagi tenaga wiwaha hanya sebagian kecil yang bisa digunakan. Namun sebagai pendekar kelas utama dia bergerak refleks, menggeser dan memutar tubuh bagian atas, membiarkan pukulan lawan menghantam lengan bagian atas. Hanya itu dayanya.
Beralih pada Sekar.
Saat Gayatri berlari menghampiri Wisang Geni, saat itu Sekar tidak menaruh curiga. Dia melihat laki-laki berjubah hitam berdiri dua tombak dibelakang Gayatri, dan laki-laki itu melangkah terus menghampiri Wisang Geni.
Ketika melihat Gayatri memeluk suaminya. Mendadak Sekar kaget, bagai disengat listrik ribuan volt. Teringat akan firasatnya!
Firasat yang membisik akan terjadi suatu kejadian. Ternyata benar. Dia melihat gerak tangan Gayatri. Tangan kiri tetap memeluk leher Wisang Geni. Tapi tangan kanannya melepas rangkulan, bergerak turun dan mengayun sejengkal kebelakang. Lalu memukul sisi perut Wisang Geni.
Saat itu Sekar hanya bisa berseru keras. ”Heeeiiii…”
Dan Sekar tidak hanya berteriak.
Meskipun agak terlambat tapi refleksnya bergerak cepat. Dia melesat menggunakan ringan-tubuh yang paling mumpuni, jurus wimanasara, gerakan bagai pesatnya panah sakti. Tujuannya menyerang Gayatri, mencegah perempuan itu melancarkan jurus susulan yang pasti akan membahayakan jiwa Wisang Geni.
Sekejap melihat pukulan Gayatri dan tubuh limbung Wisang Geni, dia tahu persis suaminya terluka parah dan tak mungkin bisa menghindar dari jurus susulan Gayatri.
Ternyata Sekar salah hitung, Gayatri tidak menyerang susulan. Gayatri justru melangkah mundur dengan wajah pucat pasi. Tetapi laki-laki berjubah hitam itu yang menyerang. Serangannya telengas dan ganas.
Sekali lagi Sekar terkejut bagai disambar petir ketika matanya menangkap gerakan pesat laki-laki berjubah hitam yang menyerang Wisang Geni dengan pukulan mematikan.
Tidak mungkin dia bisa memotong serangan itu dan menolong Wisang Geni karena tubuhnya sedang melayang diudara mengarah Gayatri. Dia hanya bisa berseru keras, suaranya melengking memberitahu suaminya. “Geni…awas…”
Tadinya hanya ingin mengusir Gayatri, kini kebencian tumpah sepenuhnya dalam bentuk serangan kepada perempuan yang pernah menjadi sahabatnya dan setempat tidur dengannya bertiga Wisang Geni. Tidak tanggung-tanggung dia memilih jurus maut cumangkrama (menyetubuhi) salah satu dari 17 jurus aneh sapwa tanggwa warisan Nenek Sapu Lidi, jurus yang telengas dan mematikan.
Beralih pada Gayatri. Beberapa saat sebelum melukai suaminya dengan serangan gelap, benak dan perasaan Gayatri diliputi rasa benci. Pengaruh sihir dan doktrin Arjapura telah menyalin pikirannya menjadi seorang yang sangat asing. Dia bukan lagi Gayatri yang dulu.
Cintanya yang begitu besar pada suaminya tumpang-tindih dan campur baur dengan dendam dan kebencian. Dibenaknya masih terngiang suara Arjapura, yang selama beberapa hari mengiang ditelinganya. “Dia menipu kamu, gurunya membunuh kakekmu, dia suami yang jahat, pukul dia, bunuh dia!”
Sesaat ketika berlari memeluk suaminya, rasa cinta dan kangen menguasai pikirannya. Tapi saat berikut telinganya mendengar bentakan keras bagai guruh disiang bolong. “Pukul sisi perutnya Gayatri! Pukul dia Gayatri!” Itulah bentakan Arjapura sang majikan yang menggunakan ilmu pendam suara tapi yang dialiri tenaga sihir.
Dan Gayatri yang selama sepuluh hari menjadi budak Arjapura dan yang pikirannya sudah dikuasai Arjapura, secara tidak sadar mengerahkan segenap tenaganya dan memukul sisi perut suaminya.
Ketika pukulannya mengena seketika dia gembira. Saat berikut dia terpahna menatap wajah heran suaminya yang bertanya padanya, “mengapa kamu memukul aku?”
Dia mundur dua langkah.
Niatnya akan menyerang dengan jurus susulan, tertunda. Dia bingung. “Mengapa aku memukul suamiku?” Bisiknya.
Tetapi dia tak menemukan jawaban.
Saat itulah pukulan maut Sekar menerjangnya. Jurus cumangkrama yang digelar dengan tenaga-dalam segoro ciptaan Nenek Sapu Lidi tak bisa dianggap main-main.
Sesaat bingung saat berikutnya Gayatri sadar sepenuhnya. Tak punya waktu untuk berkelit dia terpaksa mengerahkan segenap tenaga-dalam menahan gempuran Sekar.
“….Deeesssss” dua pukulan saling bentur.
Gayatri melempar diri dua meter ke belakang, guna menghindari luka dalam. Dia memang kalah tenaga. Untuk sesaat Gayatri tak mampu bergerak, dia harus menenangkan tenaga-dalamnya yang kalang kabut.
Lain hal dengan Sekar, benturan itu tak memengaruhi tenaga-dalamnya.
Mengandalkan tenaga-dalam segoro dan ringan tubuh wimanasara dia meminjam tenaga benturan untuk melayang ke arah lain. Meluruk ke laki-laki jubah hitam.
Mengulang beberapa detik ke belakang.
Pada saat Sekar berteriak ”heeeiiii” saat itu Manohara dan Prawesti masih belum sadar apa yang terjadi. Ketika Sekar berkelebat menyerang Gayatri sambil berteriak memeringati suaminya dari serangan Arjapura, ”Geni awassss!!” Saat itulah mereka sadar bahaya maut mengancam Wisang Geni.
Kejadian itu sangat cepat. Terpaut satu tombak dari suaminya, Prawesti dan Manohara nyaris kejang saking kagetnya.
“Mas Geni awasss …..” teriak Manohara.
“Geni aku datang !!” Teriak Prawesti. Tak hanya berteriak, dia menghambur maju. Manohara yang berdiri di sampingnya ikut menyerang, memotong serangan Arjapura.
Gerakan dua macan betina terlambat.
Mereka datang setelah Wisang Geni terkena pukulan maut Arjapura. Namun kedatangan keduanya dengan serangan ganas telah menolong jiwa Wisang Geni, karena menggagalkan serangan susulan Arjapura. Kalau saja serangan susulan Arjapura melanda Wisang Geni, dipastikan pendekar Lemah Tulis itu akan tewas.
Dua macan betina ini meluruk langsung ke Arjapura karena melihat pendekar Himalaya ini telah melukai Wisang Geni yang mundur sempoyongan sambil muntah darah segar.
Demi mencegah serangan susulan, mereka menyerang dengan pukulan paling mematikan. Menyerang tanpa memikirkan pertahanan. Bertindak secara naluriah didasari cinta dan kesetiaan untuk menyelamatkan sang suami. Bela pati!
Sekar bukan sembarang pendekar, dia telah mewarisi seluruh ilmu Nenek Sapu Lidi dan mendapat banyak petunjuk Wisang Geni sehingga ilmu silatnya sudah jauh lebih mumpuni. Karenanya gerak Sekar secara naluriah itu sangatlah pesat. Tampak hebatnya ringan-tubuh wimanasara yang dilatih ditengah amuk ombak segoro kidul.
Saat itu pikiran yang menjadi sumber gerak Sekar yang serba cepat dan telengas hanya terpusat pada menolong menyelamatkan suaminya.
Selang satu detik, Sekar sudah sampai didekat suaminya. Tapi dia tak keburu mencegah pukulan pertama Arjapura yang lantas melanda lengan bagian atas Wisang Geni.
“Daaaasssss ….” Lengan Wisang Geni mengeluarkan asap. Pukulan dingin yang saking dinginnya seperti ledakan salju.
Terdengar suara Wisang Geni, “Uuuuhhh…”
Pada saat yang sama dalam keadaan melayang Sekar menyedot batu kerikil dari tanah, dia meraup sekenanya. Lima batu kerikil melesat ke tapak tangannya. Dalam keadaan biasa, gerakan melayang diudara sambil menyedot kerikil dari tanah, belum tentu bisa dia lakukan. Tapi saat itu gerakannya sempurna. Kerikil itu lantas disambit ke arah Arjapura. Seluruh tenaga-dalam segoro menerbangkan kerikil itu yang melesat membawa angin keras.
Arjapura kaget setengah mati. Dia batal menyerang susulan.
Itulah yang dimau Sekar.
Dia tahu tak sempat menangkis bokongan Arjapura, tapi masih bisa mencegah serangan susulan. Masih dalam gerak melayang dia mengirim pukulan keras dari jurus mawunyangken (menyakiti hati). Perbedaan melempar kerikil dengan pukulan itu hanya satu detik. Susulan yang nyaris berbarengan.
Dua serangan itu dilakukan dengan cepat dan ganas. Selama hidupnya Sekar jarang terlibat tarung adu nyawa, tapi kali ini justru jauh lebih penting dari sekedar adu nyawa.
Baginya Wisang Geni jauh lebih penting dari siapa pun dimuka bumi. Bahkan lebih penting katimbang dirinya sendiri. Kesetiaannya sebagai isteri berwujud dalam serangan bela pati. Dia harus selamatkan suaminya.
Dan serangan itu bertujuan merebut waktu untuk menolong suaminya.
Apa yang telah dia lakukan tak akan bisa ditiru siapa pun, bahkan dirinya sendiri tak akan mampu mengulang semua gerakannya itu. Besarnya cinta pada suaminya menjadikan dia pendekar sangat digjaya dalam sekian detik itu.
Wisang Geni berada antara sadar dan pingsan.
Tenaga-dalamnya berantakan. Pukulan Gayatri telah melumpuhkan dirinya. Serangan Arjapura yang mengena telak lengan atasnya telah mengguncang seluruh tubuhnya.
Tenaga wiwaha kini terkubur. Tak ada lagi yang tersisa.
Racun dingin Himalaya sudah merangsek kedalam tubuhnya, menerobos semua jalan darahnya. Dia tahu ajalnya sudah dekat.
Dia melihat sosok isterinya yang melayang ke arahnya. Dia sempat berbisik, ”Sekar pergi selamatkan dirimu, selamatkan anakku.” Lalu pandangannya gelap, hitam pekat diwarnai kebyar bintang-bintang kecil. Pikirannya kosong.
Seketika Wisang Geni merasa tubuhnya lemas, limbung, akan rubuh.
Saat itu pikiran Sekar hanya dipenuhi siasat menolong suaminya. Dia mendengar bisikan suaminya. Keinginan untuk adu jiwa dan bela pati, dia singkirkan.
Bisikan itu memastikan nyawa suaminya berada diujung tanduk. Luka parah. Tampak sekali ketika Wisang Geni muntah darah. Merah dan segar. Itulah tanda luka parah. Biasanya akan disusul kematian.
Sekar tahu satu detik pun sangat berarti untuk menolong suaminya. Tak ada gunanya bertarung bela pati, melawan Gayatri dan laki-laki jubah hitam itu. Lebih penting adalah menolong suaminya.
“Lari! Lari bersama Geni!” Teriak pikirannya.
Selanjutnya Sekar bertindak secara naluriah yang dilandasi kecerdasan pikirannya. Dia bersiul panjang dua kali, memanggil kudanya si Dawuk.
Beralih pada Arjapura.
Hanya sesaat Arjapura gembira. Saat berikut dia sibuk mengelak dari sambitan Sekar yang mengarah mata, pelipis, jantung, leher dan kemaluannya. Dia tak pernah menyangka Sekar memiliki ilmu-silat yang begitu tinggi, karenanya dia sangat terkejut, membuat gerakannya terhambat dan sibuk menghindar.
Selang sesaat kemudian hanya terpaut satu detik serangan susulan Sekar menerjangnya, salah satu pukulan ganas dari 17 jurus sapwa tanggwa digerakkan tenaga segoro itu lebih mengejutkannya lagi, angin pukulan itu terasa bagai air bah yang membawa bencana.
Tapi dia bukan sembarang pendekar, ilmu-silatnya sesungguhnya lebih tinggi dari Sekar. Namun perasaan gembira sesaat atas keberhasilan memukul Wisang Geni berbaur rasa terkejut serangan kerikil Sekar membuat geraknya terhambat.
Detik berikut Arjapura sadar dan pikirannya pulih, dia menyambut serangan Sekar dengan memukul keras. Dua tangannya bergerak ke dua arah, menyerang Sekar dan memukul Wisang Geni.
Dia belum puas hanya memukul Wisang Geni satu kali, dia berkeinginan melumat habis tubuh musuh yang telah membunuh putra harapannya. Itulah serangan mematikan yang sangat mematikan.
Tapi dia terkejut, angin serangan keras menyerangnya dari dua arah. Dia melirik. Dua wanita, Prawesti dan Manohara menyerangnya dengan ganas.
Prawesti tiba lebih cepat, serangannya ganas mengarah pelipis dan dada Arjapura. “Terimalah jurus Lemah Tulis.” Teriaknya.
Manohara menyerang Arjapura sambil berseru,”Sekar bawa Geni pergi!” Dia tidak lagi memanggil dengan sebutan mbakyu saking kritisnya situasi.
Prawesti ikut teriak. ”Pergi Sekar, pergi! Jangan pikirkan kami, pergi cepat.”
Arjapura mengubah keputusan.
Pukulannya ke arah Sekar tetap dilanjutkan karena itulah pemunah serangan Sekar. Serangan ke arah Wisang Geni dialihkan ke Prawesti.
“Daaaassss …. Daaassss ….” Pukulan Arjapura beradu dengan pukulan Sekar.
Wanita ini sangat cerdik. Bahkan sangat cerdas. Dalam waktu yang sangat singkat itu dia telah merancang jalan lolos bagi suaminya.
Menyerang memukul mundur Gayatri. Menyerang Arjapura dengan sambitan kerikil dan pukulan keras. Bersiul memanggil kuda. Semua dilakukan ringkas, cepat dan saling susul. Ringan tubuhnya pun sangat ungkulan.
Meminjam benturan tenaga Arjapura, dia melesat ke arah suaminya, menjambret lengan Wisang Geni sambil kakinya menjejak tanah dan melayang pergi. Pada saat itu kuda coklatnya Dawuk berlari di dekatnya. Dengan ringan dia hinggap dipunggung si Dawuk, meletakkan tubuh suaminya melintang di pangkuannya. Melecut kudanya.
Dia menoleh ke belakang, berseru, ”adik, kalian cepat lari. Aku pergi!!”
Saat itu dia melihat Prawesti terhuyung mundur sambil muntah darah. Detik berikutnya, Manohara terlempar membentur pohon. Dia tak sempat melihat apakah dua temannya mati atau masih hidup karena Dawuk sudah membawanya kabur dengan kecepatan maksimal.
Suara Sekar tersendat di tenggorokan.
Dia melanjutkan melecut kudanya. Dia berbisik pelan. “Maaf adik-adik, aku mengikuti naluri menyelamatkan Geni. Aku harap kita akan bertemu suatu saat nanti dan sama-sama membalas dendam.” Tanpa sadar dia menitik air mata. “Mungkin Mano dan Westi mati.”
Tak pernah dia menyangka hanya dalam waktu singkat, keluarganya berantakan. Tapi dia menguatkan diri, melecut si Dawuk menjauhi pertarungan.
Si Wulung kuda tunggangan Wisang Geni seperti punya firasat akan nasib majikannya, ikut kabur mengikuti Dawuk kekasihnya. Uniknya si Putih, Batari, kuda tunggangan Gayatri juga ikut-ikutan kabur bersama, mengikuti Wulung, kekasihnya.
Sambil melecut si Dawuk, Sekar berteriak. “Adik-adik lari selamatkan diri!!!”
Gayatri yang terpukul mundur oleh Sekar dan harus menenangkan tenaga, pada saat itu tenaganya sudah normal. Dia melesat mengejar ingin menghalangi gerak Sekar. Tapi mana bisa mengimbangi ilmu ringan-tubuh Sekar. Dia melihat tiga kuda berikut Wisang Geni dibawa kabur Sekar. Dia bersiul memanggil si Batari. Tapi kali ini si Putih membangkang, kuda betina ini lebih memilih Wulung dibanding majikan.
Gayatri memaki. “Kuda sundal beraninya kamu mengkhianati aku!”
Beberapa detik Arjapura tertahan gebrakan tiga pendekar wanita itu. Sehebat apa pun dia tetap saja terhalang. Berturutan dia memukul Sekar dan Prawesti, berlanjut membentur tangan Manohara terus menerobos menghantam dada Manohara.
Prawesti kalah tenaga, terlempar ke belakang sambil muntahkan darah segar. Tubuhnya membentur pohon dan ambruk diakar pohon. Manohara cerdik, menarik senjata keris panjang dan menikam Arjapura.
Terpecah perhatian melihat Sekar berhasil melarikan Wisang Geni dan melihat Prawesti muntah darah, Manohara berteriak, “lari!”
Manohara menangkis, tapi pukulan kedua Arjapura melanda dada. Tubuhnya terguncang dan terlempar lima tindak, muntah darah dan terjerembab di samping tubuh Prawesti.
Gayatri menghampiri tubuh dua wanita yang tadinya adalah sahabat. Dia menendang tubuh Prawesti dan Manohara. Keduanya tak bergerak. Tak bernafas. “Dasar goblok! Mau korban jiwa untuk suami yang tidak mencintai kalian… goblok…” Serunya.
Arjapura menggenggam tangan Gayatri.
“Wisang Geni pasti mati. Tak ada orang bisa hidup kena pukulan racun kalajengking biru.” Dia tertawa keras, sambil menengadah ke langit. “Sudah impas, hutang nyawa bayar nyawa. Dengarlah putraku Wasudeva, ayahmu sudah membalas hutang nyawamu.”
(To be Continued 10 July/Published No 19 )
No comments:
Post a Comment