Kutukan Keris Berdarah
By John Halmahera
Published 5 July
Prawesti mengempos semangatnya. “Kalau musti mati, biar aku mati duluan, kalian cari jalan meloloskan diri.”
“Tidak bisa begitu. Kita sama-sama, hidup atau mati.” Seru Sekar dan Manohara. ***
Dari lereng gunung Argo, Wisang Geni mampir satu hari di Lemah Tulis kemudian melanjutkan perjalanan menuju Welirang. Ditengah jalan dia mampir di desa Trawas.
Istirahat makan di warung. Selesai makan dia mengamati gelas bambu yang berisi tuak. Sudah dua tabung diminumnya. Pengaruh tuak mulai mengaduk-aduk pikirannya. Itu hari keempat setelah berpisah dengan Atis. Pikirannya masih melamun paras dan tubuh Atis. Dia sadar ternyata dirinya sangat mencintai dan kasmaran akan Atis.
Wisang Geni terjaga dari lamunan oleh teriakan pemilik warung. “Tuan pendekar, cepat pergi, aku mau tutup warung. Di warung pojok sana ada pertarungan, tiga pendekar wanita dikeroyok rame-rame. Aku takut perkelahian menjalar ke warungku.”
Wisang Geni agak malas melangkah. Dia bersiul memanggil Wulung.
Pada saat yang bersamaan Sekar mendengar siulan suaminya. Dia mengenal siulan khas lembah kera. Dia mengempos tenaga lalu berteriak. “Geeniii tolooong …..”
Wisang Geni terkejut. “Sekar! Itu suara Sekar!”
Dia menoleh memandang ke arah datangnya suara. Samar-samar dia melihat bayangan Sekar yang dikeroyok belasan orang. Sekar bersama Manohara dan Prawesti.
“Kurang ajar! Beraninya ganggu isteriku!” Dia bergerak sangat pesat menggunakan jurus menunggang angin sambil berteriak. “Tahan Sekar, aku datang.”
Dia bergerak bagai bayangan, gerakannya yang pesat membawa serta angin kencang. Semakin mendekat, semakin besar angin yang dibawanya. Debu, daun-daun kering bahkan ranting patah pun ikut terbawa.
Jarak seratus meter itu ditempuhnya lewat dua tarikan nafas. Begitu memasuki arena dia menggelar jurus agniwisa (bisa api, pijar) dari garudamukha prasidha. Dua tangannya berkembang dan memukul sana-sini.
Semua yang sedang tarung terkesiap, melihat gumpalan debu menyerang bagai tiupan angin topan bersama lengking suara amarah puluhan kera. Wisang Geni memang kelewat marah, pikirnya “jika saja aku tak ada ditempat mungkin Sekar akan mati seperti halnya Wulan yang membuat aku menyesal sepanjang hidup.”
Pukulannya telengas. Tujuannya membunuh!
“Geni, kamu sudah melupakan aku!” Seru Sekar dengan nada tinggi.
“Tidak. Aku tidak lupa, Aku kasmaran setiap hari mengingat kamu.” Serangan dua tangan yang dahsyat tadi telah membunuh sebelas murid Brantas, memaksa sisanya mundur. Mereka mundur ketakutan meskipun tetap dalam posisi mengurung.
“Kenapa baru sekarang datang, aku sudah hampir mati dikeroyok. Dua kakek penyok itu bahkan mau memerkosa aku, balas sakit hatiku, hajar mereka semua. Pelacur selendang merah dan pelacur tua busuk ini biar aku hadapi.” Dibantu Manohara, Sekar mendesak Janda Ngargoyoso dan Roro Gandis.
Wisang Geni melihat tiga isterinya tarung tetapi tidak terdesak. “Sekar, Mano, Westi hati-hati!” Teriaknya.
“Setelah kamu datang, kami pasti bisa bertahan.” Seru Prawesti keras.
Wisang Geni menoleh menuding Manyar Edan. “Kurangajar, Manyar tua bangkotan tak tahu diri, terimalah pukulanku.” Dia memukul dengan jurus gongkrodha (besar amarah) disusul shuhdrawa (hancur luluh). Pukulan yang disertai hawa kapejah (kematian).
Manyar Edan terkesiap. Saat itu dia sedang sibuk menahan serangan Siluman Goa Paliyan, membuatnya tak siap mengelak atau menghindar. Tetapi dia pendekar tua banyak pengalaman tarung, segera menemukan cara. Dia menyerang untuk menahan serangan lawan, memukul dengan jurus cambuk maut, namanya pecut tetapi itulah jurus tangan kosong meniru sifat pecut, memukul lurus sambil menggentak.
Saat itu Manohara yang bangkit semangatnya menyerang gencar janda genit Ngargoyoso. “Nenek tua bangkotan tak tahu diri.”
“Aku belum tua, dasar kamu perempuan sundal!” Ngargoyoso marah.
Prawesti yang dikeroyok beberapa murid Brantas menyahut. “Mano jangan segan-segan, tampar si nenek tua genit itu, nenek tua tidak tahu diri!”
Pada saat yang sama Siluman Goa Paliyan melihat peluang mencurangi Wisang Geni. Tadi dia sempat kaget melihat gebrakan jurus menunggang angin yang bagaikan terjangan angin topan dan sekali gebrak menewaskan belasan murid Brantas.
Dia tahu ilmu-silat Wisang Geni kelewat tinggi dan sulit ditandingi. Tetapi dia licik, prinsipnya membokong dulu, jika lawan telah terluka parah baru memperkenalkan diri. Dia meninggalkan Manyar mengalih serangannya kepada Wisang Geni dengan gelap ngampar yang paling brutal tamparan membelah gunung batu. Tiga tamparan saling susul.
Wisang Geni tidak mengendur, benturan dengan Manyar Edan dua kali. Tubuh Manyar Edan sempoyongan, darahnya bergolak, mulutnya terasa asin lalu darah meleleh dari ujung bibirnya. Luka dalam. Beberapa anak buahnya memeluk, menahan tubuhnya agar tidak jatuh.
Pertarungan jalan terus. Tahu diserang lawan secara membokong, Wisang Geni tidak keder sedikitpun. Seorang dengan ilmu silat sehebat dia tidak lagi dipengaruhi rasa takut, percaya dirinya membawa pengaruh pada sikap tarungnya. Dia meminjam tenaga benturan Manyar Edan lalu memutar tubuh dan memukul dengan gabungan tiga jurus garudamukha prasidha yakni prasadha atishasha, akwamatyana dan kacakrawartyan.
“Tarrr tarrr tarrr…” suara ledakan keras akibat benturan tenaga Wisang Geni dengan Siluman Goa Paliyan.
“Gelap ngampar, itu mainan anak ingusan.” Wisang Geni mengejek, dan tanpa perlu mengirup udara lagi, dia menyerang dengan dua jurus langit yakni rasa suwung wenganing bumi dan ngesti suwung wenganing bumi.
Siluman Goa Paliyan tidak mengira ilmu-silat lawannya sehebat itu. Tanpa istirahat dari menyerang Manyar Edan langsung menyambut serangannya. Pukulan Geni yang pertama berbobot tenaga wiwaha dingin, yang kedua panas membara.
Siluman Goa Paliyan terkejut bagai disambar halilintar, belum pernah dia mendengar seseorang bisa memukul dengan dua tenaga dingin dan panas secara beruntun. Umumnya orang memerlukan fase istirahat dari satu serangan menggunakan tenaga dingin ke serangan lain yang bertenaga panas, paling tidak sekitar lima atau sepuluh detik. Namun Wisang Geni tidak memerlukan fase istirahat, dua serangan itu beruntun bagaikan satu serangan.
Tetapi Siluman Goa Paliyan pendekar yang berpengalaman tarung puluhan tahun, dia tidak hilang akal. Dia merunduk dan mengelak serangan sambil menyerang balik dengan melontar senjata rahasia, duabelas pisau terbang beracun sambil berteriak, “kamu membunuh adikku, hutang nyawa bayar nyawa!”
Dia berani berteriak memberi peringatan sebab yakin serangannya dari jarak satu tombak tidak mungkin bisa dihindari, sehebat apapun ilmu-silat lawan. Tampaknya memang keadaan Wisang Geni dalam bahaya. Jiwanya terancam.
Wisang Geni pernah melihat gerakan itu dalam tarungnya dengan Lembu Ampal di lereng gunung Argowayang empat tahun lalu. Ketika itu Lembu Ampal membokong dengan serangan gelap, dua belas pisau terbang dalam jarak satu tombak. Dan dia sanggup mengelak dengan menggunakan jurus menunggang angin memutar tubuhnya bagai gasing sehingga menyedot pisau-pisau terbang ikut kedalam pusingannya. Sebelas pisau terlempar keluar, hanya satu yang lolos dan menusuk pundaknya.
Dia tahu serangan Siluman Goa Paliyan adalah jurus dua belas pisau terbang formasi bunga mawar. Empat tahun lalu Lembu Ampal yang menyerang dengan jurus dahsyat itu. Kini kakak perguruannya yang menyerang, pasti akan lebih mumpuni. Tetapi setelah empat tahun berlalu ilmu-silat Wisang Geni pun berkembang makin matang.
Wisang Geni berseru. “Pengecut tua!” Refleks dia memainkan jurus menunggang angin.
“Jadilah seperti angin bajra, semilir sirir membuat orang ngantuk dan nyaman, tetapi saat yang sama hamuk macam lesyus, nilapraconda dan bajrapati menghancurkan apa saja yang dilewati.” Itulah intisari jurus mautnya itu.
Pada detik itu juga Wisang Geni bergerak pesat memutar tubuh bagaikan gasing sambil dua tangannya mengepak bagai sayap burung yang terbang. Gerakan itu menyedot debu, ranting, batu kerikil masuk dalam pusaran. Gerakan itu tidak ada jurusnya, tercipta begitu saja dalam keadaan terancam, angin topan sangat cepat tetapi pikiran lebih cepat dari angin, itu juga intisari ajaran Eyang Sepuh Suryajagad yang sempurna digelar Wisang Geni.
Tak ada suara. Duabelas pisau terbang itu seakan lenyap, ditelan pusaran angin.
Tidak berhenti sedetik pun, Siluman Goa Paliyan menyerbu masuk pusaran menemukan tubuh musuhnya. Dia menyerang lanjutan dengan tusukan keris jurus tujuh kembang, diikuti tamparan tangan kanan gelap ngampar. “Mati kamu!” Teriak Siluman Goa Paliyan.
Terdengar jerit kesakitan, “ahhhhh …ahhhhh….”
“Jadi Lembu Ampal si pengecut itu adikmu, kalian sama pengecutnya! Menyerang secara menggelap. Pikirmu dua belas pisau terbang itu bisa membunuhku? Kamu mimpi!”
Pertarungan terhenti lagi. Orang-orang memandang ke kumpulan debu. Perlahan-lahan debu menipis, tampak Wisang Geni berdiri dengan sombongnya. “Berani-beraninya kamu mau memerkosa isteriku, pergilah ke neraka, temui adikmu Lembu Ampal!”
Siluman Goa Paliyan mundur sempoyongan, dua belas pisau terbang nancap di tubuhnya. Tangannya lunglai memegang keris. Matanya melotot tidak percaya. Darah menetes dari dua sudut mulutnya dan dua belas luka di tubuhnya. Sempoyongan mundur tiga langkah, dia jatuh tengadah, matanya melototi langit. Mati mengerikan.
Pertarungan itu terjadi sangat cepat. Hanya beberapa detik. Jurus-jurus kelas utama yang mematikan. Tarung selesai.
Selang sesaat terdengar tepuk tangan. Perempuan separuh baya yang cantik berpakaian hitam, Ganggati bersama muridnya Kangsa, berdiri tak jauh dari arena tarung.
Ganggati bertepuk tangan, berseru. “Kamu telah mewarisi ilmu-silat dari Suryajagad.”
Wisang Geni memberi hormat pada wanita itu. “Tidak seluruhnya, aku hanya beruntung memperoleh setitik dari ilmu Eyang Sepuh yang luas bagai samudera.”
Terdengar pekik marah Roro Gandis.
Tarung dua macan betina memasuki masa kritis.
Roro Gandis menyerang dengan keris terhunus. Sekar membabat dengan tongkat pendek. Tongkat hitam mengilat, sepanjang empat jengkal dengan logam setajam silet diujungnya.
Serangan ampuh dari tujuhbelas jurus sapwa tanggwa berhasil melukai Roro. Ujung tongkat menukik dari atas kebawah melukai dada sepanjang satu jengkal sekaligus membelah kebaya Roro Gandis membuat payudaranya nyembul keluar.
Luka ringan, sedalam setengah senti tapi pasti akan meninggalkan bekas codetan.
Berbarengan Manohara berhasil memukul Janda Ngargoyoso dibagian pundak membuat pendekar itu terhuyung mundur tiga langkah.
Bayangan melesat ke arah Sekar. Itulah Ganggati yang marah mendengar jerit kesakitan murid kesayangannya.
Wisang Geni juga melejit ke arah yang sama, memotong jalur Ganggati. Keduanya berbenturan dengan beberapa pukulan yang mematikan. Pada saat yang sama Prawesti sudah mendampingi Sekar, sedetik lebih cepat dari serangan Kangsa.
Terjadi pertarungan sengit Wisang Geni lawan Ganggati. Kangsa dan Roro Gandis berlawanan dengan Sekar dan Prawesti. Manohara masih tarung lawan Janda Ngargoyoso.
Beberapa murid Brantas yang cukup mumpuni, Prabowo, Santiyaki dan lima saudaranya yang lain maju mengeroyok Sekar dan dua temannya.
Sambil tarung Sekar berbisik pada temannya. “Musuh terlalu banyak. Kita kalah jumlah. Kita ke perahu, bakar perahunya, mereka akan sibuk, kita punya peluang meloloskan diri.”
Manohara menyambut dengan tegang. “Bagus mbakyu.”
Sekar berseru pada suaminya. “Geni jemput kami di perahu, sekarang!” Dia berkelebat bersama dua temannya ke perahu layar Brantas yang sedang berlabuh.
Kangsa, Roro Gandis dan Janda Ngargoyoso mengejar.
Ganggati dan Wisang Geni sambil tarung sengit, juga mengejar ke arah perahu.
Prawesti dan Manohara melesat ke palka bawah, menemukan beberapa tong besar berisi minyak damar. Sekali hantam tong yang terbuat dari kayu, pecah. Minyak tumpah, Prawesti cepat menyulut api, melepas sumbu kain ditangannya, seketika api besar menyala.
Keduanya naik ke geladak, cepat-cepat membantu Sekar yang didesak Kangsa dan Janda Ngargoyoso, sedang Roro Gandis sibuk membenahi luka didadanya sambil menangis. “Luka ini meninggalkan cacat di payudaraku, guru, bunuh perempuan bernama Sekar itu!” Teriak Roro Gandis marah.
Ganggati dan Wisang Geni sudah menjejak kaki di geladak, masih terlibat tarung sengit. Adu tenaga-dalam yang beruntun memaksa Ganggati tidak berani buka mulut menjawab teriakan Roro Gandis, dia sibuk melayani tenaga-dalam Wisang Geni yang panas membara.
Terdengar ledakan keras dari palka bawah. Api berkobar dengan cepat menjalar ke atas geladak. Seketika itu juga terdengar hiruk-pikuk murid Brantas berlarian berusaha memadam api. Kangsa dan Ganggati meninggalkan tarung, mencari-cari Roro Gandis. Mereka temukan ketua Brantas itu yang menangis sambil memegangi dadanya yang penuh darah.
Wisang Geni bersama tiga isterinya melesat ke selatan. Setelah agak jauh mereka bersiul memanggil kudanya. Empat kuda itu muncul. Wisang Geni diatas punggung Wulung, Sekar menunggang Dawuk. Manohara dan Prawesti diatas kuda masing-masing. Mereka pergi sambil tertawa-tawa, menuju Welirang.
Orang-orang Brantas menangisi matinya Manyar Edan, pendiri perguruan. Roro Gandis ikut menangis sambil menyumpahi nama Wisang Geni sebagai pembunuh Manyar Edan.
“Aku akan balas dendam, membunuh murid Lemah Tulis yang kutemui. Wisang Geni akan kubunuh, kubuang mayatnya di kali porong jadi santapan buaya. Akan kubunuh Sekar yang telah melukai aku. Tunggu saja, pembalasan Roro Selendang Merah akan lebih kejam.”
Murid-murid Brantas ikut bersumpah akan menuntut balas pada Wisang Geni, Sekar dan Lemah Tulis.
Sebenarnya kejadian tidak seperti yang diceritakan Roro Gandis. Pukulan Wisang Geni hanya menyebabkan luka-dalam yang meskipun parah namun masih bisa disembuhkan.
Kejadian sebenarnya, Roro Gandis yang membunuh Manyar Edan. Membunuhnya dengan cerdik memanfaatkan suasana yang kacau. Tak seorang pun murid Brantas berada didekatnya, semua sibuk memadam api.
Ketika itulah Roro Gandis memeluk Manyar Edan sambil menangis, tangis keras seperti orang histeris. “Manyar jangan mati dulu. Jangan mati.”
Sambil memeluk dia menekan dengan tapak tangannya di bagian luka pukulan Wisang Geni, mencium mulut dan mendorong racun dimulutnya kedalam mulut Manyar Edan.
Racun itu tertelan. Manyar mendelik marah, tapi sudah tak mampu bergerak. Pukulan Roro Gandis telah membuat tubuhnya lemas tak berdaya. Dia mati penasaran.
Roro Gandis menyebar berita palsu. Dia memanggil Prabowo, Santiyaki, beberapa murid dan putra Manyar Edan. “Hari ini kita dilanda petaka. Manyar Edan tewas dibunuh Wisang Geni. Tadi sebelum mati Manyar berpesan aku harus kawin dengan salah seorang putranya karena dia sudah bertemu dengan suamiku Warok. Kata Manyar Edan, suamiku mati karena jalan darahnya terbalik waktu melatih tenaga-dalam.”
Pengumuman itu membuat semua murid yang mendengar berduka, sebagian bahkan menangis. Roro Gandis kemudian berkata dengan suara yang dibuat-buat sedih.
“Aku akan menepati pesan Manyar, aku akan menikah dengan seorang putra Manyar, dalam waktu dekat aku akan memilih.” Dia lalu membubarkan pertemuan.
Semua murid masih sibuk memperbaiki perahu yang rusak parah akibat kebakaran.
“Bagus Roro. Kerjamu bagus, sempurna.” Kata Ganggati.
“Terimakasih atas pujianmu guru. Tapi guru tolong lukaku diobati, disembuhkan supaya pulih seperti sediakala. Lihat dadaku luka.”
Ganggati mengobati. “Luka bisa sembuh tapi codet ini tak bisa dihilangkan.”
“Guru balaskan sakit hatiku.” Roro Gandis menangis. “Dadaku cacat. Dendamku kelewat besar. Kangmas Kangsa, bunuh Sekar, cincang tubuhnya jadi potongan kecil-kecil.”
“Pasti. Akan kubalas sakit hatimu!” Tegas Kangsa.
Ganggati seperti tidak mendengar pembicaraan dua muridnya, tenggelam dalam renungan sendiri. Dia menggeleng-geleng kepala.
“Tak kusangka ilmu-silat Wisang Geni sehebat itu. Jurusnya yang membunuh Siluman Goa Paliyan belum pernah kutemui. Rupanya Suryajagad telah menyempurnakan jurus anginnya dan mewariskan pada muridnya. Dalam tarung tadi, ternyata tenaga-dalamnya tidak berada dibawah aku, jurusnya kuat. Terus terang aku tidak yakin bisa mengalahkannya meskipun dia belum tentu bisa mengalahkan aku. Wisang Geni itu musuh kuat. Kalian jangan bentur dia, biar aku yang hadapi. Akan kupikirkan cara membunuhnya.” Katanya kepada dua muridnya.
(To be Continued 6 July/Published No 16 )
No comments:
Post a Comment