Kutukan Keris Berdarah
By John Halmahera
(published 1 July 2011)
Hujan deras sejak pagi sampai siang, membawa hawa dingin di seputar desa Bangu di kaki bukit Gunduk. Bukit ini sebenarnya anak dari gunung Arjuno, letaknya jauh di Selatan gunung Arjuno. Udara pegunungan semakin dingin dengan derasnya hujan. Luapan air kali Bango yang mencurah dari mata airnya di ketinggian celah antara gunung Arjuno dan bukit Gunduk terdengar bagai air bah. Namun desa Bangu tidak terjamah terjangan air sungai karena kedudukannya di dataran yang lebih tinggi.
Desa Bangu tadinya tidak rame hanya sekitar dua puluhan rumah. Dalam empat purnama terakhir banyak pendatang yang menetap. Penduduk bertambah, jumlah rumahpun meningkat pesat, sudah melebihi jumlah seratusan.
Suasana aman dan tenteram, secara bergilir penduduk melakukan penjagaan siang dan malam di batas desa. Uniknya para pelancong dan pedagang hanya bisa mampir tetapi tidak untuk menetap. Ada persyaratan bagi siapapun untuk menjadi warga desa.
Selain itu ada warung makan besar dibatas desa menjadi semacam tempat kumpul para penduduk. Warung dan gerbang merupakan satu-satunya jalan masuk ke desa. Di ujung bagian dalam desa, berbatasan dengan jalan pendakian ada pos jaga. Tidak sembarang orang bisa melewati. Ada ijin khusus bagi mereka yang ingin mendaki ke puncak bukit.
Jarak sepenanakan nasi jalan kaki mendaki bukit, tampak beberapa rumah besar tersembunyi di balik tebing dan lamping bukit yang curam. Disitulah markas besar kelompok anti Tumapel yang dipimpin Linggapati. Letaknya yang strategis tidak memungkinkan adanya pendatang yang tidak terlihat dari markas.
Sang pemimpin besar, Linggapati tidak pernah terlihat. Hanya sedikit orang yang pernah melihat wajahnya. Dia seorang laki-laki bertubuh sedang, ramping dan agak jangkung, berusia sekitar limapuluhan. Parasnya lebih condong dingin menyeramkan dibanding ketampanannya.
Linggapati sangat teliti dan njelimet, menjalankan aturan organisasi. Aturan ketat diberlakukan secara bertingkat. Yang berada didekat sosok Linggapati hanya empat pengawal pribadinya yang sangat dipercaya. Dewi Kajoran, 50 tahun, ketua perguruan Manunggali yang memiliki jurus ampuh delapan dewi formasi Grasak Petung. Jurus yang dimainkan delapan muridnya yang semuanya perempuan dengan masing-masing menguasai jurus grasak butho.
Putri tunggalnya yang cantik jelita, Dedes Ayu, usia di awal duapuluhan menjadi isteri dan tangan kanan Linggapati. Boleh saja ilmu-silatnya paling lemah namun pengaruh Dedes Ayu sangat besar. Linggapati sangat mencintainya. Kepercayan lain, dua saudara perguruannya. Kakak tertua Pulosari usia hampir 60 tahun, terkenal di Utara gunung Slamet. Adik seperguruan Linggapati, Sangkapura dari Tanjung Anyar terkenal di daerah pesisir Utara.
“Mengingat kedudukan Samba dengan pasukannya yang besar, kuangkat dia sebagai penasehat kelima. Dua wakilnya, Sangkala dan Hanggada ditempatkan di gugus dua, bersama tigapuluh satu pendekar, menjadikan jumlah ganjil bagus, tigapuluh tiga.” Tegas Linggapati.
Pagi itu rombongan Samba, Hanggada dan Sangkala disertai duabelas ponggawa bertubuh kekar tiba di desa Dayu, satu hari jalan kaki dari bukit Gunduk. Mereka tiba selang beberapa saat setelah tibanya Linggapati yang didamping dua penasehat dan lima pendekar lain.
Pembicaraan antara dua pemimpin itu hanya disaksikan dua penasehat Linggapati dan dua wakil dari kubu Samba. Para pendekar lainnya, duduk dikejauhan.
Hanya dua pimpinan itu yang bicara.
“Aku membawa dua pengawal setiaku, Hanggada dan Sangkala serta duabelas pemanah jitu. Dulunya pasukan panah rodra jumlahnya seratus tujuh. Setelah tragedi empat tahun lalu, pasukan rodra tinggal empatpuluh tiga. Duabelas orang ini termasuk yang terbaik. Pasukanku sanggup melepas tiga panah dalam satu pelepasan, sehingga bisa menciptakan hujan panah. Sekali lepas enampuluh panah disusul enampuluh lainnya, demikian seterusnya. Jika mencapai kata sepakat dalam kerjasama, dalam waktu dekat kami rencanakan menambah sekitar limapuluh pemanah.”
Linggapati menenggak tuak, matanya bersinar tajam, berkilat. “Luar biasa, aku sudah mendengar kehebatan pasukan rodra. Jika dimas Samba mau bergabung akan mempermudah tujuanku menggulingkan Ranggawuni!”
“Berapa kekuatan tuan adipati sekarang ini?” Tanya Samba.
“Dua ratus orang, antaranya tigapuluh satu pendekar kelas utama yang saya sebut kelompok gugus dua, diantaranya lima yang berjaga-jaga diluar, Janda Ngargoyoso, Siluman Goa Paliyan, Purocana Si Gila lereng Merbabu, Korowelang pendekar Utara Brangsong dan Keris Bayangan dari kali Panggul. Beberapa lain menunggu di markas, Srimoyo Nenek Seribu Racun, Pecut Maut Probokesa, delapan pendekar wanita Grasak Petung anak murid ketua Manunggaling Dewi Kajoran.”
Kesepakatan tercapai dengan cepat. Jika usaha makar ini berhasil dan keraton Ranggawuni ditaklukkan maka Adipati Linggapati menjadi Maharaja, kekuasaan kedua dipegang Mahamenteri Samba. “Kekuasaan tuan seperti yang dipercayakan baginda Tohjaya kepada mahamenteri Pranaraja, tidak berkurang sedikit pun, malah mungkin saja akan bertambah seiring tugas dan kesibukan kerajaan.”
“Sekarang ini tempatku dimana?” Potong Samba.
“Tuan berada di dalam kelompok utama, sebagai penasehat lima. Kakak perguruan Pulosari pendekar Utara gunung Slamet, adik perguruanku Sangkapura dari Tanjung Anyar, isteriku Dedes Ayu dan ibu mertua Dewi Kajoran. Posisi penasehat sangat penting dalam menetap kebijakan. Dua wakil Dimas, Hanggada dan Sangkala masuk kelompok gugus dua menjadikan tigapuluh tiga anggota.”
Air muka Samba berseri-seri. “Kapan kita bergerak?”
“Kita putuskan dalam rapat lima penasehat. Sekarang kesepakatan telah tercapai, kita berangkat ke markas. Matahari belum tinggi, jika jalan cepat bisa tiba menjelang malam.” Dia memandang penuh selidik wajah Samba. “Ikuti aku, dimas Samba.”
Linggapati seorang yang sangat berhati-hati dan waspada. Tidak mempercayai seorang pun. Bilik pribadinya dirancang mirip benteng rahasia. Dia merancang markas besarnya, diawali penemuannya akan sebuah goa di tebing bukit. Bersama dua saudara perguruan, Pulosari dan Sangkapura, dia membangun kamar pribadinya. Salah satu dinding kamar adalah tebing dimana mulut goa berada. Tiga dinding lainnya dibangun dari kayu besar yang kuat dan rapat. Salah satu dinding dibuatkan pintu besar yang nyambung dengan ruang pertemuan.
Itulah bilik tempat istirahatnya, sedangkan goa merupakan ruang semedinya.
Hanya tiga bersaudara itulah yang tahu persis keberadaan goa semedi itu. Orang ketiga selain dua saudaranya yang mengetahui adanya goa semedi adalah isterinya Dedes Ayu yang sehari-hari melayaninya.
Bilik pribadi itu tidak begitu luas, tidak banyak perabotan. Hanya satu tempat tidur besar di tengah ruangan dan satu rak pakaian bersusun empat. Tak seorang pun boleh masuk bilik pribadi itu, hanya Linggapati dengan isterinya.
Meskipun sangat mencinta Dedes Ayu tetapi dia mewanti-wanti larangan keras memasuki goa semedi. Dia pernah membawa Dedes Ayu masuk goa memperlihatkan isi goa yang kosong. Setiap Linggapati masuk goa semedi berlatih tenaga-dalam, si isteri akan menyediakan semua keperluannya, air minum dan air kembang.
Linggapati memberitahu air kembang untuk memandikan keris prabakara. “Ini rahasia besarku, jangan ceritakan kepada siapa pun, meskipun kepada ibumu. Keris ini pertanda aku akan jadi raja tanah Jawa. Jika kejadian maka kamulah permaisuriku. Dulu Ken Arok punya permaisuri bernama Ken Dedes. Nanti akan ada permasiuri yang namanya hampir sama, Dedes Ayu.”
Dedes Ayu tersanjung, merasa sangat dihargai. Untuk penghargaan dan respek dari Linggapati itu dia akan memberikan apa saja miliknya, terutama kesetiaan.
Sore menjelang malam Linggapati berkata kepada isterinya di atas pembaringan. “Ayu, malam ini aku mau semedi,” Matanya menyelidik paras cantik isterinya.
“Engkau adalah junjunganku, aku hambamu. Akan kulaksanakan perintahmu itu, kangmas. Sempurnakan jurusmu yang hebat itu, aku akan menjaga agar tak seorang pun bisa mengganggumu.” Dedes Ayu memeluk suaminya.
Goa itu cukup luas bisa memuat sepuluh orang. Keadaannya gelap gulita. Tak ada seberkaspun cahaya masuk. Linggapati duduk sila diatas tatakan kayu. Dia memejam mata, menggerak-gerakkan dua tangannya. Dia melayang ke pojokan sambil tangan kanannya bergerak melingkar sejengkal diatas tanah, kemudian menggentak keatas. Kilatan cahaya keluar dari tanah. Tangannya menyamber cahaya itu. Tampak keris prabakara telanjang tanpa sarung digenggaman Linggapati.
Dia berbisik pada diri sendiri. “Karma dewata aku bisa mencuri keris ini dari keraton. Hebatnya lagi tak seorang pun tahu aku pemilik keris prabakara, bahkan saudara perguruanku tak ada yang tahu. Barangsiapa menguasai keris ini, jika dia memliki ilmu silat tinggi maka dia tak akan menemukan tandingan, jika memiliki pasukan maka dia akan menjadi raja penguasa tanah Jawa.”
Linggapati memegang keris itu yang meskipun didalam kegelapan goa, tetap bisa mengeluarkan cahaya warna warni. Ketika keris itu digerakkan tangannya, cahaya itu memantul dinding goa yang keras bak karang dan menyinari wajah angker Linggapati. Saat berikut dia memainkan jurus andalannya.
Semalam suntuk dia melatih jurus pamungkas “lokamandala nengkeringawiyat” (permukaan bumi naik terbang ke angkasa). Jurus warisan gurunya yang kemudian dia sempurnakan menjadi pamungkas bumi dan matahari. Diantaranya dua jurus andalan yakni “dhikara” (kemarahan) dan “kampita” (guncang-goyang) yang dia ciptakan khusus untuk memanfaatkan keangkeran keris prabakara.
Dia berputar-putar, melayang dan menerkam, keris saktinya bergerak bagai ular mematuk saat berikut bagaikan lidah naga menyembur api. Dinding goa yang adalah tebing keras bagian utuh dari lamping gunung berderit-derit diterpa angin keris.
Hawa dalam goa terasa membara, panas membakar. Tubuh Linggapati menguar keringat yang tak pernah habis. Dia bagaikan mandi. Gerakannya tak pernah henti seakan jurus-jurusnya tak pernah berujung.
Ketika Linggapati selesai berlatih dan keluar dari goa semedi dengan tubuh yang bermandi keringat, Dedes Ayu cepat menyediakan air untuk membasuh tubuh dan kain bersih sebagai pengering. Dia lantas mengambil makanan dan menyuap suaminya. Kemudian membelai dada dan memijit punggung Linggapati.
Dia berbisik ditelinga lelaki pujaannya. “Kangmas sembahanku, empat penasehat menanti paduka diruang rapat. Mereka akan melaporkan perkembangan terakhir.”
Linggapati memeluk isterinya. “Biar mereka menanti. Aku mau bersenang-senang denganmu.”
Sore hari menjelang malam, Linggapati melangkah keluar dari bilik pribadi. Dia mengenakan busana seorang raja. Celana kuning sebatas lutut dibungkus kain warna biru muda. Dadanya telanjang. Kopiah besar melekat dikepala menambah keangkeran wajahnya yang tanpa senyum. Gagang keris mencuat dari balik punggung, ikat pinggang lebar menjepit pinggangnya yang ramping. Itu keris pusaka prabakara.
Linggapati melangkah diikuti Dedes Ayu yang menghias diri sedemikian rupa sehingga kecantikan seorang dewi kahyangan pun sulit menyainginya. Keduanya pasangan sepadan. Samba mengikuti gerak tiga penasehat temannya, memberi hormat dengan merunduk menyembah.
Yang membuat Samba semakin terpahna adalah langkah Linggapati yang tidak memijak bumi. Dua kakinya melayang sejengkal diatas tanah. Setiap dia melangkah lantai terasa bergetar. “Sungguh tenaga dalam yang mungkin tak ada tandingannya.” Gumam Samba dalam hati.
Linggapati menuntun isterinya. Dia duduk di kursi besar, satu-satunya kursi diruangan itu. Empat penasehat duduk dilantai. Dedes Ayu sila ditanah beralas-duduk kasur kecil bersarung kain warna hijau, kepalanya menyender ke paha suaminya.
Suasana hening.
Empat penasehat mengangkat wajah dan memandang sang penguasa.
Wajah itu tampan, tapi dingin bagai es.
“Tuan berempat adalah pilar kekuatan pasukanku. Semua jerih payah tuan-tuan akan mendapat imbalan jasa, begitu juga pengkhianatan akan mendapat hukuman setimpal. Silahkan tuan-tuan bicara.”
Pulosari meskipun kakak perguruan Linggapati, namun bisa menempatkan diri sebagai bawahan dari seorang calon Raja. Dia memberi hormat sungkem. “Hamba telah bertemu Ganggati. Tigapuluh jurus tarung, kami berdua imbang. Hamba tidak menyebut rencana kita, sekadar mengajak berteman. Ganggati telah menguasai perguruan Brantas, muridnya Roro Gandis yang berjuluk Selendang Merah kini ketua Brantas. Tetapi dia belum mau bergabung, hamba menduga dia menanti tawaran yang lebih menguntungkan.”
Linggapati menoleh Dewi Kajoran. “Apa pendapat ibu Dewi?”
“Maafkan hamba, kalau pendapat hamba ini lancang. Beberapa tahun lalu Brantas pernah berantakan dihajar pasukan keraton. Sekarang mereka belum tahu rencana kita, tetapi begitu mengetahui akan bentrok dengan pasukan keraton, hamba yakin Brantas akan mundur teratur. Mungkin sebaiknya kita lupakan Brantas, tenaga pendekar Ganggati saja yang kita perlukan. Pada saatnya nanti hamba akan membuat penawaran yang dia tak mungkin akan menolak. Hamba tahu keinginannya.”
“Baik. Lupakan Brantas. Tetapi ada baiknya dicoba sekali lagi, tugaskan Siluman Goa Paliyan dan janda Ngargoyoso untuk pendekatan pada ketua Brantas, Roro Gandis. Sebab jika Roro Gandis setuju maka dia akan membujuk gurunya. Kalaupun Brantas tidak mau gabung maka Ganggati saja yang kita perlukan, kangmas Pulosari yang menghubungi pendekar Ganggati.” Suara Linggapati lirih tapi itulah keputusan.
Pertemuan itu selebihnya membahas perkembangan dunia kependekaran tanah Jawa. Adanya janji tarung Brantas dengan Mahameru yang mungkin berkembang jadi tarung besar yang melibatkan banyak pendekar. Kemungkinan besar Lemah Tulis bakal ikut campur tangan membantu Mahameru. Di kubu Brantas, banyak pendekar kalangan hitam menjanjikan bantuan.
Pada kesempatan itu senopati Samba minta restu ikut tarung. “Hamba akan memihak Brantas, inilah ajang ujicoba bagi pasukan pemanah kita, utamanya menguji anggota baru rodra. Hamba ingin tahu sampai dimana tingkat kerusakan yang bisa kita ciptakan, berapa banyak musuh yang mati. Hamba rencana akan membawa tiga puluh pemanah.”
Para penasehat menyetujui rencana Samba.
Linggapati pun merestui.
Samba merasa lega. “Lemah Tulis hadir, pasti Wisang Geni dan Sekar hadir. Ini kesempatan mendapatkan Sekar, wanita idamanku.” Katanya dalam hati.
(To be Continued 3 July/Published No 13 )
No comments:
Post a Comment