Part Two (7 Juli 2011)
Setelah Wisang Geni (Part One) Pendekar Tanpa Tanding, terbit sebagai novel, ternyata banyak berdatangan berbagai komentar pembaca terutama yang bermain di dunia maya. Tentu saja ada pro kontra. Saya suka pro kontra, suatu keseimbangan dalam hidup. Pro kontra dan kritik adalah suatu bentuk pemikiran pembaca sebagai mana juga bentuk pemikiran penulis.
Pembaca yang menyukai WG cukup lumayan banyak. Prinsipnya setuju bahwa dalam dunia kependekaran berlaku hukum rimba, siapa menang dia berkuasa. Tentang cinta pasangan anak manusia, kalau suka sama suka yah bisa saja terjadi perkawinan. Apakah perlu adanya seremonial nikah? Dimana di tengah hutan? Bahkan di masa kini, hukum rimba itu masih sering terjadi. Lihat berita-berita perkosaan, pembunuhan, merebut hak orang, terorisme dll.
Pembaca yang tidak menyukai juga lumayan banyak. WG mata keranjang, suka wanita, nafsu birahinya kelewat besar, dia bejat karena mengumpulkan banyak isteri. Ini cerita silat atau cerita asmara? Bagaimanapun juga inilah cerita silat versi baru, versi yang lain dari yang lain, versi yang keluar dari tatanan yang sudah establis sejak saya masih kanak-kanak. Inilah cerita silat versi pemberontakan.
Tetapi hampir semua pembaca tidak protes terhadap konsep, dalam satu tarung harus ada yang mati atau luka parah, tidak boleh ada faktor kebetulan –munculnya inkong penolong entah dari mana- hanya untuk memelihara kiprah sang tokoh jahat hanya serta untuk memperpanjang jalan cerita. Datangnya inkong from nowhere persis turunnya Mr Bean dari langit entah berantah, ini menurut saya tidak logik.
Saya termenung cukup lama. Obsesi ingin menulis Wisang Geni (WG) Part Two semakin lama tidak bisa saya bendung. Maka mulailah saya menulis lanjutan petualangan WG. Lebih seru? Pasti lebih seru. Banyak tokoh baru yang muncul. Bahkan keris gandring yang tak punya tandingan, kini muncul keris prabakara.
Keris ini menjadi sebab matinya ratusan pendekar tanah jawa. Benar-benar kejadian, kutukan sang empu yang menciptakan keris berdarah prabakara. Tak heran saya memilih “kutukan keris berdarah” sebagai judul WG Part Two ini.
Masihkah Wisang Geni itu tiada tandingan? Tak siapapun bisa menandingi dia? Saya tidak setuju. Konsep “diatas langit masih ada langit lebih tinggi” tetap berlaku di bidang mana pun juga. Kedaulatan kekuasaan para penguasa abad milenium pun akhirnya tumbang oleh “langit lain yang lebih tinggi”, tengok Mesir, Lybia, tengok juga nasib pemimpin Serbia yang diadili di mahkamah internasional.
Saya sendiri, tidak terpengaruh oleh pro dan kontra ini. Tetapi saya terpengaruh oleh tokoh WG itu sendiri, tokoh yang saya ciptakan sebagai bentuk pemberontakan terhadap cersil yang terlalu lembut, sopan dan kebanci-bancian.
Tetapi tokoh WG yang tiada lawan, tiada tandingan, nomor satu di tanah Jawa,tidak boleh dilestarikan. Harus ada pendekar yang mengalahkan WG, cara apa pun saya anggap halal. Pokoke WG harus kalah, luka parah. Apakah dia mati? Jangan mati. Sebab dia tokoh utama dan sejak awal sudah diset untuk jadi the number one.
WG memang super, semua wanita takluk olehnya. Dia punya pesona kejantanan, juga fisik lantaran tenaga-dalam wiwaha yang menyatu dalam tubuhnya. Tetapi kehebatan WG dalam soal asmara ini harus ada tandingannya. Harus ada gadis cantik yang membuat WG kasmaran ndak karuan.
Harus ada wanita yang mbalelo, yang tidak mau tunduk padanya. Siapa dia? Salah seorang isterinya akan mbalelo dan lari kedalam pelukan laki-laki lain, konyolnya laki-laki selingkuhannya adalah pendekar yang ilmunya dibawah standar kehebatan WG. Bagaimana perasaan WG? Kecewa? Marah? Biar dia tahu rasa!
Kehebatan WG sebagai pemimpin rumahtangganya juga tidak selamanya harmonis. Timbul pertengkaran Gayatri dengan Sekar. Lalu persaingan Sekar dengan Atis, isteri baru WG yang cucunya pendekar Merapi. Bagaimana dengan Manohara dan Prawesti, bagaimana kelanjutan nasib mereka?
Jangan biarkan WG malang-melintang tiada lawan. Itu konsep penulisan Wisang Geni Part Two yang sudah saya selesaikan awal tahun ini. Dan sekarang ini bisa Anda ikuti di blog saya, ketik saja: johnhalmahera.blogspot.com. Setiap hari saya published bagian per bagian. Banyak tarung dahsyat dalam part Two ini. Banyak juga drama kemanusiaan, jalan pikiran masing-masing tokoh.
Sayang sekali bahwa penerbit Wisang Geni pendekar tanpa tanding, tidak berkenan menerbitkan part two ini. Alasannya jelas, komunitas pembaca cersil (mayoritas) masih menyukai cersil terjemahan. Saya anggap sah-sah saja dan masuk akal. Bagaimana pun juga bisnis harus tetap dikedepankan.
Namun saya tidak berhenti dengan penulisan cersil jawa, ini ada hubungannya dengan budaya adat istiadat dan kultur jawa yang saya kagumi sebagai salah satu asset bangsa sebagaimana adat kultur daerah lain. Maka saya pun merilis part two ini publish dalam blog saya khusus untuk para pembaca. Saya sedang persiapkan cersil jawa lain, atau mungkin saja WG part Three, siapa tahu?
Note : Baca juga “Wisang Geni, John Halmahera, Alternatif dan Jawaban”
No comments:
Post a Comment