Kutukan Keris Berdarah
By John Halmahera
(published 25 June 2011)
Bab Tiga
Misteri Cinta
Suatu siang di awal bulan Phalguna hujan deras mengguyur desa Sajan, desa kecil dekat kali Bangsal yang hanya dihuni duapuluhan rumah penduduk. Seekor kuda berlari kencang menuju warung makan. Penunggang kudanya, seorang gadis berusia tujuhbelas tahun melompat dengan gerakan ringan, mengambil buntalan dipunggung kudanya lalu menerobos masuk warung. Bajunya basah kuyup melekat ditubuhnya yang langsing kurus. Dia melongok sana sini mencari tempat kosong.
Seorang pelayan menyambutnya. “Silahkan masuk, ada tempat yang bagus.” Dia mengajak si gadis masuk kedalam warung.
“Eh wong ayu, sini duduk dekat kangmasmu, makananmu nanti aku yang bayar.” Seru seorang laki-laki brewok yang duduk bersama empat temannya.
Gadis itu pura-pura tidak mendengar, tetap melangkah mengikuti si pelayan. Dia duduk di kursi pojokan dekat jendela.
“Aku pesan nasi dan satu ekor ayam bakar, minumnya wedang jahe,” katanya kepada pelayan.
Laki-laki brewok masih penasaran, menghampiri si gadis dan duduk didepannya. “Wong ayu, mau pergi kemana? Mau aku antar?”
Gadis itu menyahut datar. “Kamu kembali ke mejamu, perutku lapar. Nanti selesai makan, baru kita bicara, iya Mas?”
“Oh kalau itu maumu, yah, kangmas manut saja.” Dia kembali gabung dengan empat temannya sambil tertawa-tawa, berpikir berhasil membujuk-rayu si gadis.
Gadis itu mengamati sekeliling. Warung itu sederhana. Hanya enam meja dengan belasan kursi. Tidak semuanya ditempati orang. Selain laki-laki brewok dan empat temannya. Sepasang suami isteri paruh baya, dan dua laki-laki paruh baya. Empat orang ini tampak biasa-biasa saja.
Si gadis melihat seorang laki-laki duduk sendirian dipojokan dekat jendela disisi berseberangan dengan tempat duduknya. Dia memperhatikan lebih teliti. Laki-laki itu mengenakan caping lebar dari anyaman kulit bambu, dua sisinya diikat dengan tali tipis yang disimpul dibawah dagunya. Wajahnya tidak tampak.
Si gadis merogoh buntalan pakaian, mengeluarkan sepotong kain, mengeringkan rambutnya yang panjang sebahu. Mengikat rambutnya dengan sepotong pita warna biru. Ketika pelayan membawa makanannya, dia mengeluarkan sekeping uang tembaga. “Cukup, Pak?”
“Cukup, cukup.”
Dia melahap makanan dengan rakusnya. Dalam sekejap makanan itu ludes. Dia menghirup wedang jahe dan merasakan nikmat hangatnya minuman itu.
Hujan sudah reda. Matahari siang mulai muncul dari balik mendung.
Melihat si gadis selesai makan, laki-laki brewok tadi berseru. “Hai wong ayu, sini duduk dekat kangmasmu, biar kamu tidak kedinginan.” Dia tertawa keras.
Si gadis tidak menyahut, melangkah keluar warung.
Salah seorang teman si brewok mencegat. “Eh wong ayu, jangan pergi begitu saja, kamu dipanggil kangmasmu itu.”
Si gadis menghentikan langkah. Tidak menyahut hanya matanya menatap tajam.
“Kamu cantik. Mau jadi isteri kakak perguruanku?”
“Hargaku mahal.” Tukas si gadis.
“Seberapa mahalnya, kakak perguruanku bisa memberimu harta banyak, dia orang kaya.”
“Aku mau kepalamu!” Seru si gadis sambil menampar.
Laki-laki itu menangkis. “Wah galak juga.”
Terdengar benturan tangan seperti ledakan. “Tarrrrr…”
Laki-laki itu berteriak kesakitan. “Aduuuhhh…” Dia mundur, tangannya lunglai.
Empat kawannya segera menghampiri, siap-siap menyerang si gadis.
Si brewok berseru. “Aduuuh wong ayu, kamu bisa silat rupanya, cocok dengan seleraku, kamu harus jadi isteriku.”
Gadis itu melejit keluar warung. “Ayo keluar, jangan merusak warung.”
Lima laki-laki itu melesat keluar. Berdiri mengurung si gadis.
“Kamu harus jadi isteriku!” Seru si brewok sambil menyerang. Empat temannya ikut menyerang.
“Jangan lukai dia, tangkap saja!” Teriak si Brewok.
Dalam sekejap terjadi perkelahian. Seorang gadis langsing kurus dikeroyok lima laki-laki bertubuh kekar.
Terlihat pemandangan unik. Lima laki-laki itu kewalahan, jangankan menangkap, menyentuh tubuh si gadis selalu gagal. Ilmu ringan-tubuhnya mumpuni, gerakannya teramat gesit, langkahnya aneh.
“Huh memalukan, beraninya main keroyok, ini rasakan pukulanku,”teriak si gadis yang mulai melancarkan serangan balik.
Si gadis menampar. Si brewok menangkis.
Terdengar suara keras benturan dua tangan. “Tarrrr… tarrr… tarrr…”
Kali ini si gadis tak bisa melukai lawannya. Rupanya tenaga-dalam si brewok lebih tinggi dari temannya yang terluka tadi.
“Huuuh aku tidak sungguh-sungguh ingin melukai kamu.” Si gadis tertawa sinis. Mengurangi kerasnya pukulan si brewok, dia melayang menggunakan ilmu ringan-tubuh. Melayang seperti kupu-kupu lalu melejit ke pengeroyok yang lain.
Kejadian itu tidak luput dari mata jeli laki-laki bercaping lebar yang duduk di pojok dekat jendela. “Itu pukulan nanawidha (beraneka warna) dari bangbang alum alum (semua merah, semua hidup atau semua mati), gerakan kaki itu dari waringin sungsang. Siapa gadis itu? Murid siapa? Apa hubungannya dengan perguruan Merapi dan paman Puguh?”
Tiba-tiba muncul seorang berjubah hitam masuk arena tarung, menyerang gencar sambil menuding musuh si gadis. “Uuh uh uh..”
“Hei gagu, bisu, jangan ikut campur urusanku,” seru si Brewok.
Jubah hitam tak perduli, tetap menyerang. Jubah Hitam itu tubuhnya sedang tapi kekar, wajahnya tersembunyi di balik topeng yang menutupi bagian dahi, mata dan sebagian hidungnya. Dua lobang sebesar bola mata di topeng memungkinkan dia melihat. Dia menyerang bergantian mengarah lima pengeroyok. Pukulannya membuat lima orang itu mundur.
Si gadis gembira memperoleh bantuan. “Terimakasih Pak, ayo kita pukul lima pengecut ini.” Serunya. Dari posisi terdesak, si gadis kini diatas angin.
Pada jurus kesepuluh, pukulan si Brewok melanda dada Jubah Hitam. “Buk… “
Jubah Hitam mundur terhuyung-huyung….. “huuuk..” Dia batuk.
Gadis itu terkejut cepat menghadang di depan Jubah Hitam menangkis serangan si Brewok. Dia melindungi Jubah Hitam. Tapi mendadak terasa angin keras disisi tubuhnya saat berikut si Brewok terlempar dengan jeritan memilukan. Dia mati sebelum tubuhnya menyentuh tanah.
Kejadian berikutnya berlangsung cepat. Teramat cepat.
Setelah menyerang si Brewok dengan serangan ganas, Jubah Hitam melejit memukul dua musuh lainnya yang terpental muntah darah. Dia berbalik badan menghadap si gadis, menyerang mengarah dada.
Gadis itu berseru kaget, “heiii…”
Tidak sempat mengelak. Serangan Jubah hitam mengena telak dadanya. Limbung. tapi sebelum dia jatuh, Jubah Hitam bergerak pesat, menyambar dan memanggulnya, lari menuju hutan diarah Timur.
Sesaat laki-laki bercaping yang masih duduk di warung, terkesima. Dia tersentak saking kagetnya.
“Kurangajar… dia menculik si gadis!” Dia melompat dan bergerak pesat menuju hutan, mengejar si penculik. Khawatir kehilangan arah si Jubah Hitam, laki-laki bercaping menggelar ilmu-silatnya yang paling handal, jurus menunggang angin.
Dalam sekejap dia melihat bayangan si penculik. Tidak jauh. Dia mengerahkan segenap tenaga, bergerak lebih pegas. Tak lama kemudian dia mendekati si Jubah Hitam. “Berhenti kamu!!!” Serunya.
Tahu si pengejar memiliki ringan-tubuh yang tinggi, sedangkan dia sendiri harus memanggul tubuh seorang gadis, dia tahu tak mungkin lolos begitu saja. Jubah Hitam mendadak menghentikan langkah. Dia memutar badan menghadap si lelaki pengejar. “Kalau masih mau hidup, jangan campuri urusanku, pergilah!” Serunya tegas.
Mereka bertatapan. Terpisah hanya sepuluh meter.
“Lepaskan gadis itu!”
“Jangan ikut campur! Aku butuh gadis ini dua hari, lalu kamu boleh mendapatkan gadis ini! Itu lebih baik daripada kamu hilang nyawa.” Dia menekan rahang si gadis yang terpaksa membuka mulutnya. Dia mencekoki sesuatu ke dalam mulutnya.
Lelaki bercaping tidak curiga, apalagi melihat si gadis mulai sadar. “Kamu tadi pura-pura bisu dan tolol, ternyata ilmu-silatmu tinggi. Kamu pasti dari golongan pendekar kelas utama, tidak pantas menculik seorang gadis.”
“Kenapa tidak pantas? Apakah kamu lebih pantas?” Meskipun bahasa Jawanya jelas tapi masih ada aksen asing.
Laki-laki bercaping tertawa. “Kamu pendekar, aku juga pendekar. Siapa menang, dia mendapatkan gadis itu, tapi kamu ini laki-laki pengecut, pasti maunya kabur. Kamu boleh kabur tapi tinggalkan gadis itu!”
“Jadi kamu memilih mati? Baiklah.” Dia melempar si gadis ke tanah.
Terantuk di tanah berumput yang masih basah oleh hujan, si gadis berteriak kesakitan. Matanya membelalak melihat si Jubah Hitam. Dia ingat Jubah Hitam itu telah memukul dadanya dan dia pingsan. Dia memegang dadanya, seketika dia menjerit mengetahui bagian depan kebayanya robek dan dadanya telanjang.
“Kurangajar, penjahat busuk!” Dia menutupi dadanya dengan tangan. Dia mencoba bergerak tapi tubuhnya lemas, tenaganya lenyap.
Lalu dia mendengar suara seorang laki-laki. Dia menoleh memandang laki-laki bercaping yang tadi dilihatnya di warung makan.
“Mengapa kamu melukainya?” Tanya laki-laki bercaping.
“Pukulanku itu biasa-biasa saja, tapi racun kalajengking biru yang dia telan, itulah yang berbisa, dia hanya bertahan tiga hari, hari keempat dia akan mati.”
“Kejam! Buka topengmu, perlihatkan wajahmu!” Seru laki-laki bercaping.
“Banyak omong!” Jubah Hitam melancarkan pukulan keras.
Laki-laki bercaping menangkis.
Benturan tenaga membuat keduanya mundur satu langkah.
Saat berikut terjadi pertarungan dahsyat, saling adu pukulan, keras lawan keras. Pohon-pohon yang kena benturan tubuh atau angin pukulan, terguncang. Sebagian patah, tumbang. Debu serta daun-daun berterbangan kena pusaran angin.
Mata si gadis membelalak. Tak pernah sebelumnya dia menyaksikan tarung dahsyat seperti itu. Matanya tak bisa melihat jelas, dua orang itu bergerak amat pesat, hanya terlihat bayangan.
Dia tak tahu siapa yang lebih unggul dan siapa yang kewalahan. Tapi dia berharap agar laki-laki bercaping yang menang. Membayangkan akan diperkosa Jubah Hitam, tubuhnya gemetaran takut.
Tadinya dia hanya bisa melihat bayangan kedua petarung itu saking pesatnya mereka bergerak. Tarung berlangsung puluhan jurus. Tiba-tiba keduanya berhenti dalam jarak sepuluh meter. Nafas keduanya tersengal-sengal.
Terdengar suara laki-laki bercaping. “Tenagamu hebat. Tapi aku belum kerahkan seluruh tenaga dan jurusku, kalau kamu masih mau berlanjut, kita adu sepuluh atau bahkan seratus pukulan.” Suaranya datar, pernafasannya telah pulih normal.
Jubah Hitam masih tersengal-sengal. “Baik. Sepuluh pukulan. Sebutkan namamu sebelum mati!”
“Namaku, Wisang Geni!”
(To be Continued 26 June)
***
No comments:
Post a Comment