Wednesday, June 22, 2011

Wisang Geni Part Two (6)

Wisang Geni Part Two (6)

Kutukan Keris Berdarah

(published 23 June 2011)

Warok minum.

Roro ikut minum.

Warok tidak keluar lagi dari kamar. Sampai matahari terbit, keduanya masih pulas berpelukan.

Malam-malam berikut Warok semakin tenggelam dalam kemahiran Roro memainkan kecantikan tubuhnya. Warok jarang keluar kamar. Maunya tiduran dan memeluk isterinya. Dan Roro Gandis makin menanamkan pengaruh peletnya.

Dari hari ke hari Roro Gandis tersenyum licik melihat Warok terperangkap dalam jaring asmara yang dia kembangkan. “Ibarat bertarung silat, aku harus menyerang gencar, tidak memberinya kesempatan bernafas dan berpikir. Dia seorang pendekar dengan ilmu-silat yang katanya semahir Manyar Edan, jadi aku harus benar-benar menguasainya, memerangkap tubuh dan pikirannya.”

Sepuluh hari Roro Gandis sudah bisa membuat Warok tekuk lutut dan merangkak dibawah kakinya. Tidak hanya kecantikan paras dan kemolekan tubuh tetapi Roro mahir membujuk-rayu dan memuji serta kepura-puraan jatuh cinta, membuat Warok merasa diri sebagai laki-laki perkasa yang paling beruntung di tanah Jawa.

Perahu besar itu tidak langsung berlayar ke Jedung, mampir ke beberapa desa dan menetap beberapa hari. Tapi Roro tidak perduli. Baginya tujuan Jedung hanya alasan, maksud utamanya adalah menguasai lelaki bernama Warok. Selanjutnya menguasai perguruan Brantas sebagaimana rencana dan perintah gurunya.

Hari kedua belas, Manyar Edan muncul di kapal. Dia memperoleh kabar dari anak buah Brantas lainnya. Warok putranya sudah menjadikan Roro Gandis yang cantik sebagai isteri dan wakil ketua.

Kakek tua berusia enampuluhan ini terkenal hidung-belang.

Bayangan kecantikan Roro Gandis samar-samar merasuk benaknya. “Kurangajar Warok telah mendahului bapaknya.”

Tanpa tedeng aling-aling dia memerintah Warok untuk mengalah. “Kamu suruh isterimu Roro ke kamarku, katakan aku biasa dipijit. Awas kamu membangkang!”

Warok tak punya nyali menentang perintah ayahnya yang bagaikan dewa bagi semua putra dan murid Brantas.

Semula Roro Gandis menolak perintah suaminya melayani Manyar Edan. Tapi hanya pura-pura, dalam hati justru dia melihat kesempatan besar untuk menguasai perguruan Brantas. Menguasai Manyar Edan sama dengan menguasai Brantas.

Dia tertawa dalam hati. “Begitu Manyar Edan masuk perangkap, Brantas sudah mutlak dalam kekuasaanku, selanjutnya akan lebih mudah.”

Dua malam Roro membuat Manyar Edan melambung ke alam nirwana.

Kakek itu kehilangan akal waras. Dia mabuk kepayang, tenaganya terkuras selama dua hari, dia kabur pergi diiringi tangis pura-pura Roro.

“Sudah jangan menangis, aku pergi tidak lama, pasti aku kembali lagi,” Manyar Edan puas merasa dicintai wanita cantik itu.

Setelah kakek itu pergi, Roro menangis dalam pelukan Warok. “Mas, ayahmu memang benar-benar edan, dia menjengkelkan?”

“Aku senang dia pergi. Dua hari aku kesal tidak bisa memeluk tubuhmu, tapi mengapa kamu jengkel?”

“Ayahmu itu sudah lemah. Tak punya daya, nafsunya saja yang besar. Dia tidak sebanding dengan kamu Mas, kamu kuat perkasa dan jantan.”

Kontan Warok merasa dilambung ke langit yang paling tinggi.

Suatu pagi perahu tiba di kawasan hutan Munung, Roro duduk dekat jendela memandang ke tepian sungai di sebelah kanan perahu. Sungai Brantas sangat lebar, dari tepian ke tepian, orang sulit mengenali seseorang saking jauhnya.

Perahu berlayar pelahan menyisir tepian, Roro melihat seorang penunggang kuda berlari perlahan mengiringi perahu. Wajahnya bersinar sesaat, ketika mengenali si penunggang. Dia melambai memberi isyarat akan menemui si penunggang kuda.

Dia menoleh memandang Warok yang telanjang di pembaringan, tergeletak tak berdaya. Laki-laki itu pulas.

Roro senyum mengejek, menghampiri dan menelungkup diatas tubuh telanjang itu. Berbisik di telinganya. “Mas, aku mau jalan-jalan ke tepi, kamu tunggu disini.”

Warok memeluk erat kekasihnya. “Jangan, jangan pergi dewiku.”

“Mas, aku perlu tenaga baru, aku ingin melihat-lihat hutan, bermain-main dengan pohon, dedaunan dan rumput. Kita berpisah satu hari atau paling lama dua hari.”

“Jangan tinggalkan aku, Roro.”

“Tidak kangmasku, aku tak mungkin meninggalkan kamu, mana mungkin pergi karena aku kasmaran sama kamu, laki-laki jantan dan perkasa. Kudaku tidak kubawa, keris dan buntalanku masih di kamar ini. Aku pasti kembali. Tapi kamu jangan main dengan selirmu, awas jika kamu selingkuh. Aku mau tenagamu kuat kembali untuk memuaskan hasrat birahiku, yah kangmas?”

Dan Warok hanya sanggup mengangguk lemah.

Roro menemui sipenunggang kuda. Mereka pelukan mesra. Ciuman yang panjang. Mereka menunggang kuda berpelukan. “Malam nanti kita ketemu guru.”

“Masih ada waktu Kangsa. Kamu puaskan hasrat dan cintaku. Aku bosan dengan permainan palsu merayu ketua Brantas itu.”

Mereka mencari rumah penduduk. Sepanjang siang mereka bercinta.

Menjelang malam, Roro menyiapkan ayam bakar. “Kita tak pernah mencari guru, beliau selalu bisa menemukan kita,” Kata Roro.

“Tenaga dalamnya tidak terukur lagi tingginya. Itu guru datang.” Ujar Kangsa.

Terdengar siulan burung. Suaranya masih bergema, bayangan sudah menerobos pintu. Ganggati muncul begitu saja di ambang pintu. Kangsa dan Roro separuh jongkok merunduk mencium lutut sang guru.

“Kamu sudah masak buat aku Roro?”

“Sudah siap Guru.” Sahut Roro.

Mereka bertiga menangsal perut. Tiga ekor ayam bakar.

Ganggati, pendekar gunung Limas duduk sila di atas meja. Tubuhnya sedang, tidak kurus dan tidak gemuk. Kulitnya bersih, rambutnya hitam panjang. Dia masih cantik, parasnya bening tak ada kerut keriput yang biasanya menghiasi wajah wanita usia lima puluhan. Dia mengenakan jubah panjang warna hijau muda.

Lengan jubahnya digulung memperlihatkan sepasang tangannya yang langsing berisi. Dia duduk sedemikian rupa sehingga tampak celana hitam sebatas betis. Sinar matanya tajam, bagai pisau mengilap dan mengandung hawa kematian. Dia menatap dua muridnya yang membuat Kangsa dan Roro terpaksa merunduk.

“Sekarang sudah saatnya kalian mendengar ceritaku, kisah pengalamanku, karena kalian akan menghadapi tugas berat. Ada hubungannya dengan masa laluku.“ Dia tertawa, tapi suaranya mengandung duka yang sangat dalam.

“Bapakku, juga guruku, Tangan Seribu dari gunung Limas, tak ada tandingan. Aku sudah mewarisi hampir seluruh ilmu bapakku. Ketika usiaku delapan belas, aku dikawinkan dengan kakak perguruanku. Bapak hanya punya dua murid, aku dan mas Purwo. Kami beda usia sepuluh tahun. Dia jantan dan sangat mencintaiku, apa saja yang kuminta akan dia berikan, seandainya aku minta nyawanya pun akan dia berikan. Bapak memilih suami yang sangat istimewa untuk putrinya.”

Dia menghela napas. “Tapi aku menyakiti hatinya. Suatu hari Purwo sedang melatih jurus dahsyat, selama tujuh hari dia tak boleh diganggu. Aku marah karena merasa diabaikan. Aku pergi dari perguruan tanpa arah tujuan. Dalam pengembaraan aku bertemu Suryajagad, laki-laki berusia limapuluh tahun. Dia tampan, jangkung dengan tubuh sekel. Kami bertemu di warung makan. Aku mencintainya. Suryajagad itu licik dan genit. Aku terlena bujuk-rayunya. Kami bercinta hampir setiap hari. Aku lupa suamiku karena tergila-gila pada Suryajagad. Dia mengaku sangat mencintaiku. Satu purnama kami mengembara, pesiar ke berbagai tempat dan bercinta. Tetapi dasar penipu, Setelah puas menikmati tubuhku, dia pergi. Kabur selamanya.

Aku sakit hati, pulang ke perguruan. Kangmas Purwo gembira melihat aku.

Tapi aku tak bisa menerima cintanya, aku mengaku bahwa selama ini aku tak punya perasaan cinta padanya, aku hanya merasa sebagai saudara dan persanggamaan dengannya hanya biasa-biasa saja. Tapi bercinta dengan Suryajagad membuat aku hanyut ke suatu alam yang penuh kenikmatan.

Kangmas Purwo marah tapi dia bijaksana dan mengerti perasaanku. Sejak itu kami tidak pernah bercinta lagi, hanya saling menyapa sebagai suami isteri.

Suatu hari, satu tahun sekembali aku ke perguruan, Kangmas Purwo menghadap Bapak. Dia mohon pamit karena tak tahan melihat aku yang begitu dekat jaraknya tapi tidak terjamah. Kami berpisah.

Sebelum mati, bapak berkata padaku, bahwa Purwo menetap dilereng gunung Lawu, mendalami “jurus tapak racun dingin” ciptaan Bapak yang paling baru.”

Ganggati diam.

Mata Roro Gandis berkaca-kaca, bertanya dengan suara sendu. “Guru masih ketemu lagi dengan paman Purwo?”

“Tidak pernah. Karena aku tak pernah mencarinya. Pikiranku hanya terpusat pada Suryajagad. Bertahun-tahun kemudian aku menyesal, aku ingin menemui kangmas Purwo, tapi aku malu dan merasa tidak layak menemui laki-laki yang semulia dia.”

“Guru tidak mendengar kabar dari paman?”

“Kangmas Purwo memperdalam jurus warisan guru, terkenal dengan julukan Tangan Dingin dari Gunung Limas meski dia menetap di lereng gunung Lawu. Dia masih hidup sekarang ini, usianya sekitar enam puluhan, ilmu-silatnya sangat tinggi.”

“Bagaimana dibanding ilmu-silat guru?” Desak Roro Gandis.

“Aku bukan apa-apa dibanding paman gurumu, dia jauh lebih unggul.” Ganggati melanjutkan ceritanya. “Sepeninggal kangmas Purwo aku berlatih lebih giat. Lima tahun aku menimba ilmu-silat dari bapakku. Aku ingin menaklukkan Suryajagad membuat dia tekuk lutut. Tapi aku kalah, selama lima tahun berpisah ternyata ilmunya semakin sulit diukur tingginya. Sekali lagi dia mempermainkan aku. Aku tak berdaya oleh bujukrayunya. Setelah tarung itu kami bercinta lagi. Sekali lagi dia menipuku, dua hari bercinta, dia pergi tanpa pamitan. Dia hanya main-main dengan tubuhku, mempermainkan cintaku yang tulus, sungguh aku sakit hati.”

Dua muridnya tetap merunduk.

“Waktu itu aku masih muda, cantik jelita, ilmu silatku tinggi. Banyak laki-laki mencintaiku. Tapi aku sudah terjerat dan sangat mencintai Suryajagad. Kejadiannya sudah lama tapi masih membekas dalam sanubari dan pikiranku. Sungguh aku sakit hati, membencinya, ingin aku membunuhnya dengan tanganku sendiri.”

“Aku akan balaskan sakit hatimu, guru!” seru Kangsa tanpa sadar, asal nyeplos.

Perempuan tua itu tertawa. “Tak mungkin dengan ilmu yang kuwariskan padamu kamu bisa mengimbangi Suryajagad. Kecuali ….” Dia diam sejenak.

“Kecuali apa, guru?”sergah Roro.

“Jika kalian bisa merebut kembali keris prabakara dan memperoleh kitab pusaka Lhakeswara maka mungkin bisa mengimbangi ilmu-silat Suryajagad. Itupun belum pasti, setahuku di rimba kependekaran, Suryajagad tak ada tandingan.”

Ganggati diam sejenak, matanya menerawang jauh seakan hendak menyelam kembali ke masa lalu.

“Sejak itu aku tak pernah bertemu dengannya. Aku tahu dia menyepi di suatu tempat sunyi. Belakangan aku tahu dia punya isteri dan anak. Aku marah, mencari isteri dan anaknya, niat membunuh mereka. Aku ingin menyakiti dia sebagaimana dia menyakiti hatiku, mempermainkan cintaku yang tulus. Tapi sampai hari ini aku tak pernah tahu siapa isteri dan anaknya.”

Roro Gandis mengelus kaki gurunya. “Guru, kamu menderita.”

“Tidak Roro, aku tidak menderita. Aku bahagia. Setiap rinduku datang, aku menghirup udara sepuasnya memenuhi paru-paruku, sambil mengenang suaranya yang berwibawa melagukan kidung jurus penakluk raja.”

“Guru, aku ingin mendengar kidung cinta itu.”

“Bukan kidung cinta, itu kidung yang menantang tanah Jawa, seakan bertanya siapa mampu mengalahkan aku? Kalian belum pernah mendengar kidung itu?”

“Belum.” Dua muridnya menyahut serempak.

“Tembang itu ciptaannya.” Ganggati mengidungkan lagu kenangan itu.

Ilmu dari seberang,

Tak boleh tepuk dada,

Di Tanah Jawa ini,

Dari Gunung Lejar,

Jurus Penakluk Raja,

Ilmu dari segala ilmu,

Melenggang ke Barat,

Meluruk ke Timur,

Merangsak ke Utara,

Merantau ke Selatan,

Tak ada lawan,

Tak ada tandingan,

Ilmu dari segala ilmu

Selesai berkidung, nenek tua itu tertawa. Air mata meleleh dari sudut matanya. “Seandainya memiliki keris prabakhara, aku tetap sulit mengalahkan dia.”

“Sehebat itu ilmu-silatnya, guru?” Desah Roro Gandis kagum.

“Tembang jurus penakluk raja itu, sungguh temberang, sungguh dia sejago itu?” Kangsa merasa jantungnya berdebar-debar.

Ganggati hanya mengangguk.

“Aku pernah mendengar keris prabakara muncul sekitar lima tahun lalu, seorang gadis belia bertualang di rimba kependekaran mengandalkan keris dahsyat itu. Aku mengejar, ingin merebut, tapi terlambat. Banyak pendekar juga terlambat. Gadis itu seorang putri keraton, dia masuk keraton dan tak pernah muncul lagi. Ternyata dialah yang kemudian menjadi permaisuri raja Ranggawuni. Dia putri Waning Hyun.”

“Jadi keris itu sekarang di keraton?” Kangsa tampak bernafsu.

“Kenapa? Berani kamu menyatroni keraton? Di dalam istana itu, ada empat ratus pemanah jitu, delapan belas pengawal raja yang ilmu-silatnya tidak lebih rendah dari kalian berdua, selain itu konon ada delapan pendekar tua tanpa nama yang memiliki ilmu-silat dahsyat. Mungkin juga bukan delapan, bisa sepuluh, tak ada yang tahu pasti jumlah sesepuh itu. Orang menyebut mereka Sesepuh Jubah Putih. Mereka pengawal keraton yang ilmunya tidak terukur. Banyak pendekar yang mencoba masuk keraton mencuri keris itu, mati mengenaskan, mayatnya dibuang di pintu gerbang.”

“Jadi tak mungkin bisa merebut keris itu?” Roro Gandis mengeluh.

“Lima purnama lalu terdengar kabar keris itu berada diluar keraton. Aku rasa ada ponggawa istana yang berkhianat dan membawa kabur keris pusaka itu.”

Dua muridnya saling pandang dengan rasa ingin tahu.

Ganggati menatap tajam dua muridnya. “Roro telah menguasai Brantas. Itu baru awal. Berikutnya kalian berdua menyebar permusuhan di tanah Jawa, membuat semua orang bertarung. Rencanamu bagus Roro! Pertarungan Brantas dengan Mahameru akan memancing Lemah Tulis dan banyak pendekar lain ikut campur. Dua hal yang bisa dipetik, Lemah Tulis dilenyapkan dari tanah Jawa dan siapa pendekar pemegang keris prabakara akan muncul.

“Aku akan laksanakan perintah guru!” Tegas Kangsa.

“Guru, aku ingin menambah sihir pelet dan ramuan bius cinta itu.” Roro merayu.

“Sudah kurencanakan akan mewariskan sihir dan ramuan bius cinta itu.”

“Terimakasih Guru.” Bisik Roro Gandis. “Waktu masih bersama Suryajagad, guru tidak menggunakan bius dan pelet?”

Ganggati tertawa keras. “Dia tertawa ketika aku menciumnya dengan racun bius dimulutku. Dia mengisapnya dengan rakus lalu berkata, Ganggati racun biusmu wangi, aku ingin mengisapnya lagi. Dia tidak mempan racun, tenaga-dalamnya sudah sempurna sehingga bisa menolak apa saja yang tidak disukai tubuhnya.”

Kangsa dan Roro meleletkan lidah saking kagumnya.

Mendadak Ganggati berkata serius. “Roro dengarkan aku, sudah saatnya kamu bunuh si Warok, buang mayatnya di sungai, tubuhnya lenyap di perut buaya Porong, setelah itu dengan memengaruhi Manyar si tua goblok itu, kamu paksa dia mengumumkan kamu sebagai ketua Brantas.”

Ganggati memandang lekat-lekat murid lelakinya. “Kangsa, apakah kamu cemburu, melihat adikmu bercinta dengan laki-laki lain?”

“Aku tak boleh cemburu. Itu perintah guru waktu memerintah kami turun gunung, mana berani aku melanggarnya.”

“Bagus, Kangsa. Dan sekarang Roro tugas untukmu yang menyangkut masa laluku. Suryajagad punya pewaris ilmunya, entah murid atau cucu murid, namanya Wisang Geni, pernah dengar namanya?”

“Namanya tersohor sebagai pendekar nomor satu tanah Jawa.” Potong Kangsa.

“Bunuh dia! Hancurkan Lemah Tulis, itu balas dendamku pada Suryajagad. Roro gunakan pelet dan racun bius untuk menguasai Wisang Geni. Sekali kamu menguasai dia maka semua pendekar tanah Jawa akan tunduk padamu, saat itu akan mudah bagimu mencari keris prabakara dan kitab Lhakeswara.” Kata Ganggati. “Setelah itu bunuh dia!” Ganggati diam sesaat. “Mungkin sebaiknya aku yang membunuhnya.”

“Akan kulaksanakan, Guru.”

Ganggati tertawa lirih. “Aku mau tidur, anak-anakku.”

“Guru, sebelum kamu pulas, ceritakan kepada kami tentang kitab Lhakeswara,” bisik Kangsa sopan.

Suara Ganggati terdengar lirih. “Kitab Lhakeswara itu banyak petuah dan nasehat, tetapi diantara kalimat-kalimat sastra dan wejangan itu terselip jurus-jurus sakti. Penciptanya, Mpu Tanakung, pendekar yang ilmu silatnya tinggi, dia juga ahli sastra, hidup dimasa kekuasaan raja Jayabaya. Siapa menguasai jurus-jurus saktinya bisa jadi pendekar nomor satu tanah Jawa. Kitab itu terdiri dua jilid. Hebatnya, kitab itu tak bisa dipelajari hanya satu jilid saja, orang bisa tersesat atau gila. Seseorang harus mempelajari dua jilid sekaligus.”

Suaranya melemah, Ganggati pulas. Tapi dua muridnya tidak beranjak dari tempatnya tetap memijit kaki sang guru. Bagi Kangsa dan Roro, gurunya bagai orangtua sendiri yang memelihara mereka sejak usia kecil.

Bagi Kangsa, gurunya adalah kekasih.

Usia mereka terpaut duapuluh tahun. Ketika usia Kangsa tujuhbelas tahun, dia sudah harus memenuhi hasrat seks gurunya. Saat itu Roro masih tujuh tahun usianya. Tidak heran jika Ganggati dijuluki wanita kejam tak punya rasa kasihan, wataknya aneh. Bagi Ganggati bercinta dengan murid sendiri bukan sesuatu yang tabu.

Ketika Roro menginjak remaja, Ganggati membiarkan Kangsa meniduri adik perguruannya. Dia tak cemburu meskipun masih sekali-sekali memanggil murid laki-lakinya memenuhi hasrat seks dan birahinya. Maka tidak heran jika dua muridnya juga mewarisi sifat aneh, liar dan kejam.

***

Roro mulutmu wangi.”

“Iya aku minum jamu, sengaja supaya kamu senang, lebih gairah, itu tandanya aku sangat cinta padamu kangmas Warok.”

Mulutnya mengandung racun bius. Roro sudah menelan obat penawarnya. Malam itu usai bercinta Warok terbaring lemas. Dia tak berdaya diatas perut kekasihnya yang beracun.

Tanpa ragu dan rasa kasihan sedikitpun Roro Gandis menghunus keris Warok dan menghunjam ke jantungnya. Warok mati, matanya melotot penasaran menatap Roro.

Diam-diam di malam hari dari jendela kamarnya dia membuang mayat Warok ke sungai membiarkan buaya Porong berpesta pora.

Keesokan harinya dia menyuruh anak buahnya memanggil Manyar Edan.

Dua hari kemudian kakek itu muncul di kamar pribadi Warok yang kini dihuni Roro Gandis. Manyar Edan minum tuak sampai mabuk, dia menari-nari diatas tubuh wanita cantik dengan nafsu seorang tua yang kesetanan.

Roro Gandis merayu Manyar Edan. “Anakmu Warok pergi ke gunung Argo, dia mau berguru pada seorang sakti yang tak mau disebut namanya.”

“Goblok! Warok itu goblok dan edan. Dia tidak lapor sama aku.” Manyar Edan marah. Sedetik terbersit kecurigaan, tetapi cepat sirna ketika elusan tangan halus Roro Gandis membelainya.

Roro mengelus-elus lebih romantis. “Kata Warok dia pergi selama dua tahun, dan dia percaya padaku untuk menjadi ketua.”

Lalu Roro memperlihatkan cincin dan logam tanda ketua dari tumpukan pakaian. “Ini cincin dan lambang ketua dititipkan kangmas Warok padaku.”

Manyar Edan memerhatikan dua benda itu. “Bagus dia percaya padamu untuk menjalankan peran ketua. Tak ada orang lain yang cocok selain kamu.”

Roro memeluk pendekar tua itu dan berbisik ditelinganya. “Seharusnya kamu kangmas yang jadi ketua untuk sementara.”

“Tidak. Aku tidak mau. Aku sudah bosan jadi ketua. Warok pintar telah memilih kamu jadi ketua.” Manyar Edan sudah terbelenggu kenikmatan yang dimainkan Roro dengan sangat mahirnya, percaya begitu saja. Kecerdasan dan kejeliannya, lenyap ditelan senyum dan elusan tangan Roro.

Pelet Roro Gandis telah merasuk dalam nafas kehidupannya, menutup pikiran dan nuraninya. “Kangmas aku mau sekarang kamu umumkan kepergian mas Warok, umumkan juga aku sebagai ketua, nanti setelah dia kembali akan kukembalikan jabatan ketua ini.” Desak Roro Gandis manja.

Manyar Edan menatap wanita itu. Matanya berkilat-kilat. “Tapi Roro, ada upahnya, aku minta upah. Kamu jadi milik Manyar Edan selamanya.”

“Cuma itu?” Tanya Roro genit, sambil menebar senyum menggoda.

“Yah cuma itu.”

Roro pura-pura gembira. “Aku juga mau. Kamu jantan dan perkasa.”

Manyar Edan tertawa puas. Jawaban Roro Gandis itu melambungkan dia ke alam maya. Semua lelaki akan bangga saat kejantanannya dipuji sang isteri. Dia mengajak Roro Gandis keluar kamar. Dia berseru memanggil semua murid dan anak buahnya.

Dalam sepenanakan nasi sebagian besar anak buah Brantas berkumpul dan duduk sila di geladak perahu. Tidak semua bisa hadir. Tetapi para murid utama dan pemimpin pasukan semuanya hadir.

Manyar Edan berseru dengan lantang dan wibawa. “Aku Manyar Edan pemilik Brantas.” Lalu dia mengumumkan, kepergian mendadak Warok yang menjalankan tugas rahasia, memperdalam ilmu-silat di suatu tempat.

“Satu atau dua tahun, dia akan kembali dan akan memimpin Brantas lagi. Selama kepergiannya dia telah mempercayakan Roro Gandis sebagai ketua. Aku restui. Ingat mulai sekarang, kalian semua harus patuh perintah ketua Roro Gandis.”

Langkah berikutnya. Roro mulai menggoda putra Manyar. Dia menuntut kesetiaan yang mutlak. Prabowo dan Santiyaki yang paling disegani anak buah jadi sasaran utama. Dan wanita cantik itu yang kini penguasa Brantas tidak butuh waktu lama untuk menarik dua pendekar itu ke kamar pribadinya.

(To be continue 24 June)

***

No comments: