Wisang Geni part Two (10)
Kutukan Keris Berdarah
By John Halmahera
(published 29 June 2011)
Atis diam, tetapi matanya tidak kedip mengamati wajah lelaki yang dicintainya.
Wisang Geni memejam mata, memusat pikirannya pada tenaga wiwaha. Atis merasa hawa hangat menjalar ke seluruh tubuhnya. Dia merasa kantuk. Tak lama kemudian dia tertidur. Kepalanya lunglai, mulutnya nempel dileher Wisang Geni.
Tenaga-dalam wiwaha merambah ke seluruh tubuh Atis. Satu jam berselang Wisang Geni merasa cukup, membuka matanya. Dia mencium aroma khas tubuh Atis. Dia mengusir pikiran liarnya. “Anak ini lugu dan sangat mencintaiku, kalaupun aku mengawininya, harus dengan jalan yang baik. Aku harus menyembuhkan dia..”
Wisang Geni diam tidak bergerak, tak mau Atis terbangun.
Atis terjaga. Tetapi dia diam tidak bergerak. Dia merasakan kenikmatan dan rasa aman berada dalam pelukan laki-laki yang dicintainya. Rangsangan birahi menuntun mulutnya mencari-cari.
“Jangan Atis. Jangan sekarang.” Tukas Wisang Geni lirih.
“Aku mau berterimakasih,” Katanya malu-malu.
“Tubuhmu sudah hangat sekarang.” Pelan-pelan Wisang Geni mendorong tubuh Atis, menggeser tubuhnya sendiri dan duduk sila. “Benahi kebayamu.”
Sambil tertawa geli, Atis memegang payudaranya. Dia bicara sendiri. “Ada saatnya bagian tubuh ini disukai laki-laki yang bernama Wisang Geni.”
“Siap-siap Atis.”
“Kita berangkat sekarang? Hari masih gelap. Berapa hari perjalanan?”
“Sekitar lima hari.”
“Umurku cuma tiga hari. Sekarang sisa dua hari.” Atis mengeluh.
“Kamu tak akan mati, tidak kubiarkan kamu mati. Kubantu dengan tenaga-dalam, meracik ramuan untuk mengendalikan racun itu.”
Pagi hari itu Wisang Geni menunggang Wulung berdua si gadis sementara kuda Atis membuntut dari belakang. Sepanjang jalan Wisang Geni berhenti beberapa kali menolong si gadis dengan penyaluran tenaga-dalam. Agar tidak menarik perhatian orang, mereka jalan di hutan-hutan, kalau malam istirahat dibawah pohon.
Siang hari kelima mereka tiba di bibir jurang. Atis berteriak saking ngeri melihat jurang yang tidak tampak dasarnya. Hanya kabut putih yang terlihat. “Tidak mungkin bisa turun kebawah, kita akan jatuh.” Katanya.
“Tidak perlu takut, aku sering naik turun jurang ini. Aku tahu jalan turun yang tidak curam.” Katanya kepada Atis. Dia menoleh memeluk kudanya dan mengelus-elus leher si Wulung. “Kamu tunggu aku!”
Wisang Geni menggendong Atis di punggungnya. Gadis itu memeluk erat dan meletakkan wajahnya dilekukan leher Wisang Geni. “Mas, mengapa kamu mau susah payah menolongku, padahal baru kenal?”
“Banyak alasan. Kamu pewaris waringin sungsang, kamu mencintai aku, kamu cucu dari sahabatku, kamu … kamu ..”
“Apalagi Mas?” Atis menciumi leher yang basah keringat itu.
“Kamu cantik.” Bisik Wisang Geni.
“Semua isterimu, siapa yang paling cantik?”
“Sekar.”
“Katakan jujur, siapa lebih cantik aku atau Sekar?” Tanya Atis.
“Kamu! Kamu lebih muda, cantik, segar.”
“Terus apalagi?” Desak Atis.
“Kamu bersedia menjadi isteriku.”
“Apa lagi?” Desak Atis, lagi.
“Kamu harus sembuh supaya kita bisa bercinta sebagai suami isteri, iya kan?”
Atis tertawa. “Katakan lagi Mas.”
Wisang Geni mengulang kata-katanya yang terakhir.
Atis tertawa. “Aku bahagia.”
Mereka menuruni jurang melalui jalan yang tidak terjal. Jalan setapak itu agak licin, basah embun, dinding tebing pun berlumut dan licin. Setelah menuruni jurang sepenanakan nasi, kabut tebal menutupi jalan. Tapi Geni sudah hapal jalannya, saking tinggi tenaga-dalamnya, matanya terang bisa melihat jalanan yang berliku.
“Aku menetap lama di jurang, jadinya tahu jalan mendaki dan jalan turun. Cuma harus hati-hati mungkin ada yang berubah belakangan ini.”
Pada beberapa bagian, jalan terputus. Wisang Geni mengerahkan ringan tubuh waringin sungsang, meskipun tetap menggendong si gadis, tidak sulit baginya untuk melompat dari satu bagian ke bagian lain. Ada kalanya untuk memastikan adanya jalanan di depan yang terhalang kabut tebal, dia melempar batu. Dan mendengar jatuhnya batu, dia bisa mengira jarak lompatan.
Tangan Atis menggelayut dileher dan kakinya melingkar diperut Wisang Geni. Sekali-sekali tubuhnya menggeletar, karena serangan racun dingin dan rasa takut melihat jurang tak berdasar. Pertolongan melalui tenaga-dalam dan ramuan jamu cukup menolongnya. Tidak menyembuhkan namun bisa mencegah meluasnya racun ke bagian tubuh yang mematikan.
Hari masih siang ketika mereka tiba di dasar jurang. Wisang Geni bersiul panjang, menggema dan memantul di tebing-tebing, bersahut-sahutan. Tidak lama kemudian serombongan kera mendatangi, terdengar ribut celotehan. Mereka jingkrak-jingkrak, mengenali Wisang Geni.
Seekor kera besar menghampiri. Teriakannya keras sambil memukul-mukul dadanya. Wisang Geni meletakkan Atis ditanah. Lalu menghampiri kera besar, keduanya berpelukan.
Atis tadinya ketakutan melihat banyaknya kera yang mengerubungi. Tetapi hatinya tenang melihat Wisang Geni akrab dengan para kera. Mendadak dia lemas, pingsan. Wisang Geni cepat memeluknya memberi bantuan dengan tenaga dalam.
Kera besar berteriak-teriak.
Beberapa kera membawa buah merah yang masih segar. Itulah buah yang selama Wisang Geni menjalani pengobatan racun ular salju menjadi santapan sehari-hari. Dia meletakkan kepala Atis di pangkuannya. Satu tangan meremas buah, tangan lainnya membuka mulut si gadis. Air perasan buah itu menerobos mulut Atis. Tiga buah sekaligus diminumkan.
Wisang Geni kemudian membantunya dengan tenaga dalam.
Kera besar berteriak, menunjuk kolam besar.
Wisang Geni mengerti. Dia membopong tubuh Atis lalu bersama-sama menyebur ke kolam air panas, berenang ke tengah kolam.
Atis sadar. Dia ketakutan mengetahui tubuhnya berada di dalam kolam.
Dia berteriak. “Panas, aku tidak tahan.”
“Inilah penyembuhan. Kamu sudah minum air buah, kini mandi air panas, lalu air dingin, makan ikan dari kolam ini. Kamu akan sembuh Atis.”
Geni membawa Atis ke tepi kolam. Dia kembali berenang dan menangkap tiga ekor ikan sebesar tapak tangan. Mulanya Atis enggan makan ikan mentah. Tetapi karena ingin sembuh, dia menelannya. Ternyata rasanya manis dan gurih. Dua ekor habis dimakannya, dia tertawa. “Enak, dagingnya empuk manis.”
Geni tertawa melihat mulut si gadis yang belepotan darah ikan.
Mendadak Atis meraba perutnya. “Hangat. Perutku hangat.”
“Iya pengaruh makan ikan tadi.”
“Kita tidur dimana?”
Wisang Geni tertawa. “Dulu aku punya goa, tempat tinggal selama aku disini, ayo kita lihat.” Dia menggendong Atis, berlari ke tebing. Goa itu masih terpelihara. Rupanya selama Wisang Geni berada di dunia luar, kera-kera itu memelihara goanya. Tak ada yang menghuni.
Wisang Geni telaten menyembuhkan Atis. Dari pagi sampai siang berlatih di kolam panas dan dingin. Malam harinya penyembuhan dengan tenaga-dalam.
Buah-buahan dan ikan menjadi santapan lima sampai enam kali dalam sehari. Atis lincah dan cepat berkawan dengan kera-kera, bisa bicara dengan bahasa isyarat.
Hari ketiga tenaga Atis mulai pulih, sedikit demi sedikit. Racun sudah keluar dari tubuhnya. Warna biru sudah lenyap dari parasnya.
“Tenagaku sudah mulai pulih,” mata Atis berbinar-binar dengan senyum dikulum. “Mas aku mau malam nanti aku jadi isterimu, aku akan bersumpah setia padamu.”
Malam harinya mereka bersumpah setia sebagai suami isteri, lalu bercinta.
Selama beberapa hari Wisang Geni terpesona kecantikan fisik dan pribadi Atis.
Atis cerdas dan terampil bekerja. Dia membuat api, memanggang ikan, membuat bumbu, semua dilakukan dengan teliti dan cekatan. Lincah, mahir berkidung, pandai menghibur. Dia selalu menemukan bahan pembicaraan, membujuk dan merayu. Dia tidak memberi kesempatan Wisang Geni menyendiri.
Tadinya hanya terangsang birahi. Lambat laun timbul rasa cinta. Isterinya itu telah memberinya candu, kenikmatan yang membuat dia lupa segala-galanya.
Tanpa terasa dua puluh hari berlalu. Tenaga Atis sudah pulih. Dalam beberapa hari terakhir dia mulai berlatih tenaga-dalam dan ringan-tubuh dengan bimbingan Wisang Geni. Sepanjang hari berlatih silat, malam harinya bercinta.
“Mas kamu lebih cinta aku daripada mbakyu Sekar dan isterimu yang lain?”
“Benar. Aku sangat mencintaimu.”
“Aku bahagia, Mas.”
Wisang Geni menghela nafas. Dia sadar Atis telah menguasai pikiran dan akal sehatnya. “Besok kita pergi, kembali ke dunia ramai.”
“Aku ikut kamu ke Welirang.” Atis meneliti suaminya.
“Berulang kali kujelaskan, disana masih ada keluarga Gayatri, mereka akan segera pulang ke negerinya. Setelah mereka pulang, barulah aku perkenalkan kamu kepada Sekar dan semua keluargaku.”
(To be Continued 30 June/Part Two No 11 )
No comments:
Post a Comment