Saturday, June 25, 2011

Wisang Geni Part Two (8)

Kutukan Keris Berdarah

By John Halmahera

(published 26 June 2011)

Terdengar suara laki-laki bercaping. “Tenagamu hebat. Tapi aku belum kerahkan seluruh tenaga dan jurusku, kalau kamu masih mau berlanjut, kita adu sepuluh atau bahkan seratus pukulan.” Suaranya datar, pernafasannya telah pulih normal.

Jubah Hitam masih tersengal-sengal. “Baik. Sepuluh pukulan. Sebutkan namamu sebelum mati!”

“Namaku, Wisang Geni!”

Si gadis dan Jubah Hitam, keduanya sama-sama terkejut.

Si gadis menggumam dalam hati. Parasnya tiba-tiba merona merah malu. “Oh dia Wisang Geni yang kucari selama ini, yang kumimpi selama ini, ternyata lebih tampan dan lebih jantan dari laki-laki dalam mimpiku. Oh oh Penguasa Hutan dan Penguasa Angin, menangkan Mas Geniku.”

Jubah Hitam tertawa. “Jadi inilah pendekar nomor satu tanah Jawa yang namanya menggema kemana-mana.” Dalam hati dia sangat girang. “Hari ini aku bisa menaksir tingkat ilmu-silatnya, tetapi belum saatnya kubunuh. Kubunuh anak isterinya dulu supaya dia menderita seperti deritaku.”

“Sekarang perkenalkan namamu, buka topengmu!” Wisang Geni melepas caping melempar kepangkuan si gadis. “Tutupi dadamu, adik kecil!” Tampak rambutnya yang panjang penuh uban keperakan.

“Tak perlu basa-basi, ayo adu pukulan!” Teriak Jubah Hitam sambil melangkah maju, bersiap melancarkan pukulan keras.

“Kulayani kamu penjahat busuk!” Wisang Geni berseru tak kalah kerasnya.

“Wisang Geni bersiaplah ke neraka!” Serunya sambil dua tangannya mengirim pukulan saling susul menguar angin keras yang dingin.

Si gadis yang berada beberapa meter dari arena tarung, menggigil dingin kena pengaruh angin pukulan itu.

Tidak tinggal diam, Wisang Geni beraksi memukul dengan gongkrodha salah satu jurus paling mendasar dari 12 jurus garudamukha, pukulan yang membawa perbawa kekerasan dan amarah. Pukulan itu mendatangkan angin panas dengan kekuatan besar karena menggunakan tenaga panas wiwaha.

Tenaga panas lawan dingin.

“Braaakkkk…. Braaakkk…”

Benturan tenaga terdengar memekak telinga.

Wisang Geni mundur satu langkah untuk mengurangi hempasan tenaga lawan. Jubah Hitam mundur dua langkah. Dia menggerung keras lalu memukul dengan tenaga lebih dahsyat.

Wisang Geni memukul dengan prasadha kuntihasha (menara tinggi bukan main) dari kumpulan prasidha dalam sikap prabhawa dilandasi tenaga dingin wiwaha. Itulah jurus penakluk raja yang sudah sangat jarang dia mainkan karena telah lama tidak menemui lawan seimbang.

Kali ini tenaga dingin lawan dingin.

“Braaakkkkk ….. Braaakkk…..”

Wisang Geni tetap berdiri tegak, hanya dua tangannya tampak berputar-putar untuk membuang dampak pengaruh pukulan lawan.

Langkah Jubah Hitam terseret mundur dua langkah, nafasnya mendengus macam kuda habis berlari seharian. Tubuhnya sedikit gemetar, dia batuk-batuk. Darahnya bergolak, dia tahu tenaga dalamnya tergoncang.

“Wisang Geni bukan nama kosong. Ilmu-silatnya sulit diukur, tenaga-dalamnya hebat. Tidak heran Wasudeva mati ditangannya. Sekarang belum saatnya aku tarung habis-habisan. Ada saatnya nanti.”

Matanya berapi-api. “Wisang Geni! Kita akan bertemu lain waktu.” Serunya sambil melayang pergi.

Si gadis menatap Wisang Geni yang masih berdiri tegap, mengatur nafas dengan memainkan dua tangannya. Sesaat kemudian Wisang Geni menghela nafas panjang, “siapa orang itu, tenaga-dalamnya besar, jurusnya aneh, seorang musuh yang sangat kuat. Mungkin dari negeri seberang.” Katanya sambil menghampiri si gadis.

“Dia hebat, tapi kamu lebih hebat. Terimakasih Mas Geni sudah selamatkan aku.”

“Mengapa memanggilku Mas Geni, siapa kamu?” Wisang Geni memandang dada si gadis yang terbuka menantang. “Tutupi dadamu!” Tegasnya.

Si gadis melempar caping ke tangan Wisang Geni sambil berkata. “Kamu lihat, bajingan itu melukai dadaku, lihat warnanya agak biru pasti racun. Katanya aku akan mati tiga hari lagi. Jadi kupikir tidak ada salahnya kamu melihat dadaku. Bagus kan? Tidak besar dan tidak kecil.”

Dia berkata seakan tanpa malu tapi parasnya merona merah saking malunya. Dia memegang dada sebelah kirinya, mulutnya menyeringai, mengerang sakit. “Sakit, nyeri, dinginnya menusuk.” Katanya dengan suara menahan sakit.

“Namamu siapa? Kamu murid siapa?” Wisang Geni bertanya.

“Mas Geni, jangan berdiam diri, apakah kamu mau membiarkan aku mati? Kamu harus sembuhkan lukaku.”

Wisang Geni mengerut dahi. “Siapa kamu? Akan kutolong kalau kamu berterusterang!”

“Tidak mau! Sembuhkan aku dulu, nanti baru aku bercerita. Atau biarkan saja aku mati. Kamu pasti akan menyesal membiarkan gadis tidak berdosa mati didepan matamu tanpa berusaha menolong.” Gadis itu merogoh buntalan mengeluarkan kebaya hitam, mengibas-kibas kebayanya memeriksa masih layak pakai atau tidak.

Parasnya merona merah malu ketika dia melepas kebayanya yang robek, lalu mengenakan yang baru. “Kamu jangan melihat dadaku, itu tidak sopan.” Katanya sambil mengancing kebayanya.

Wisang Geni tertawa. “Tadi kamu menyuruh aku melihat dadamu, memujinya bagus, sekarang kamu melarang, mana yang harus kuikuti.”

“Sudahlah aku tidak mau berdebat. Ayo sembuhkan aku!” Dia menatap tajam.

Untuk sesaat Wisang Geni sadar betapa cantiknya gadis remaja itu. Mata, hidung, alis dan mulut yang indah cantik. Rambutnya ikal agak keriting, sepanjang bahu, awut-awutan namun menampakkan kecantikan yang liar.

Gadis itu merunduk malu. “Mas, kamu jangan menatap aku seperti itu, aku takut.”

“Kenapa takut?”

Dia menyahut lirih. “Seperti laki-laki lain, mereka memandang aku sepertinya aku makanan yang enak dan harus dinikmati.”

“Karena kamu cantik.” Sesaat Wisang Geni merasa tak pantas dengan pujiannya.

“Benarkah aku cantik?” Kemudian dia melanjutkan dengan suara lemah. “Dingin, aku kedinginan.” Lalu dia menggigil dan tiba-tiba saja rubuh telentang.

Wisang Geni terkejut. Sekilas menduga si gadis pura-pura pingsan. Dia meraba nadi si gadis. Pingsan. Benar-benar pingsan. Dia membuka kancing kebaya, meneliti luka lebam di dada si gadis. “Benar-benar kejam. Ini pukulan racun dingin.”

Tidak mengulur waktu lagi, dia menempel satu tangannya tepat ditengah antara dua bukit kembar. Tangan lainnya di perut. Dia memejam mata lalu mengempos tenaganya. Tenaga-dalamnya mengalir deras ke seluruh tubuh si gadis.

Tidak berapa lama Wisang Geni terperanjat. Luka di dada hanya luka luar. Hanya beberapa saat luka memar kemerahan itu merata dan kembali seperti biasa. Tetapi ada tenaga dingin di dalam dada yang menggumpal dan bergerak-gerak. Apa itu?

Dia berusaha menggiring gumpalan itu ke satu tempat lalu menekannya dengan tanaga panas. Tapi sia-sia. Gumpalan itu melejit ketempat lain. Hilang lenyap. Tapi saat berikut gumpalan itu muncul lagi di tempat lain.

Wisang Geni heran dan tak mampu memastikan apa gumpalan dingin itu. Namun dia tetap menyalurkan tenaga dalamnya.

Beberapa saat kemudian si gadis sadar. Bulu matanya pelahan-lahan membuka, menatap wajah Wisang Geni yang berkeringat. Dia merasa hawa panas menerobos dadanya menjalar ke segenap pembuluh darahnya. Dia sadar, laki-laki itu sedang menolongnya. Mata Wisang Geni terpejam. Dia tak tahu si gadis sudah sadar.

Gadis itu melirik tangan Wisang Geni, satu menempel di dadanya, satu di pusar perutnya. Kini dia punya waktu untuk meneliti wajah laki-laki yang sudah dicintainya bahkan sejak dia masih diawal masa remaja.

Wajah yang coklat, penuh cambang kasar bekas dipotong dengan pisau. Matanya terpejam, Rambutnya putih keperakan, semuanya beruban. Mulutnya agak lebar, hidung agak mancung. Wajah itu tidak berkesan tampan melainkan kejam dan kasar. “Dia menjalani kehidupan kasar seperti cerita kakek, melalui banyak tarung yang mempertaruhkan nyawanya. Musuhnya banyak. Kasihan. Dia patut dikasihani.” Bisiknya dalam hati.

Dia mengamati dada dibalik baju yang robek penuh tambalan dengan bagian dada yang terbuka. Tampak bulu dadanya yang kasar. Otot-otot dadanya memperlihatkan kekuatan jasmani yang diatas laki-laki normal. Ada bekas luka semacam codet di beberapa tempat.

Gadis itu memejam matanya kembali dan mencoba membayangkan kembali gambaran Wisang Geni yang dilihatnya sekarang ini, menanamnya kedalam benak sanubarinya, menindih imajinasi gambaran wajah yang sudah dibangunnya sejak dia mendengar kehebatan Wisang Geni dari kakek dan guru-gurunya. Saat berikutnya dia tertidur, pulas. Tidur dengan senyuman.

Hampir sepenanakan nasi Wisang Geni kerahkan tenaga-dalam menyembuhkan si gadis. Merasa pengobatan sementara sudah cukup Wisang Geni melepas tangannya dari tubuh si gadis. Dia membuka mata memandang si gadis yang tidur pulas. Dia memperhatikan kecantikan yang terpampang dihadapannya. Parasnya yang cantik, polos dan tidak berdosa, tubuhnya yang remaja, segar dan molek.

“Siapa dia? Pasti ada hubungan dengan Manjangan Puguh atau Sagotra. Tidak mungkin dia memperoleh waringin sungsang dari orang lain. Di bumi ini hanya Sagotra, Manjangan Puguh dan aku yang menguasai ringan-tubuh itu. Siapa dia?”

Tiba-tiba terdengar suara merdu. “Sudah puas mengamati tubuhku? Memegang dan meraba dadaku?”

Wisang Geni terkejut.

Dia merasa malu. Seakan si gadis bisa membaca pikirannya yang mengagumi kecantikannya. “Tutupi dadamu dengan bajumu.”

“Berapa lama kamu memegang dan meraba dadaku?” Si gadis mendesak.

“Aku tidak memegang, aku mengobatimu dengan pengerahan tenaga-dalam.” Sahut Wisang Geni, agak malu-malu.

“Tapi kamu menyentuhnya, malahan tadi kamu mengelusnya. Ayo mengaku saja, kenapa takut? Aku tidak marah, asalkan kamu mengakui aku cantik, lebih cantik dari isterimu.” Dia berkata dengan senyum menggoda sambil mengancing kebayanya.

“Mulutmu lancang, kamu murid siapa? Sagotra atau Manjangan Puguh?”

“Apakah aku sudah sembuh? Memar di dada sudah lenyap. Tapi rasa dingin masih terasa sampai ke dalam tulang, aku kedinginan Mas Geni.”

Tiba-tiba dia menggigil. Bibir memutih pucat, bergerak-gerak.

“Kamu kedinginan?” Tanya Wisang Geni.

Gadis itu mengangguk. Masih gemetaran, malah semakin hebat.

Wisang Geni memegang dua tangan si gadis, lalu mengerahkan tenaga panasnya. Tenaganya yang paling besar.

Tapi dia heran karena gumpalan benda dingin itu masih beredar di tubuh si gadis. Liat dan licin. Apa itu? Dia teringat ucapan si Jubah Hitam. Racun kalajengking biru! Racun apa itu? Mendadak dia melihat warna biru di paras si gadis. Samar-samar. Tapi tadinya tidak ada, kini muncul. Apa itu?

“Eh adik kecil, orang itu memberimu makanan?” Tanya Wisang Geni.

Si gadis menggeleng. Lalu berkata suara gemetaran dan bibir menggeletar. “Aku dicekoki, dipaksa menelan sesuatu.”

“Dicekoki apa?”

“Tidak tahu, satu butir sebesar kuku ibujari.” Rasa dingin sudah mulai mereda tertolong tenaga panas dari tangan Wisang Geni.

“Kamu dalam keadaan pingsan, bagaimana bisa tahu?” Sahut Wisang Geni.

“Semula aku pingsan. Tadi sebelum tarung denganmu dia memijit rahangku, aku siuman, lalu dia cekoki butiran aneh itu.”

“Kamu telan?”

“Tadi sudah kubilang, aku dicekoki, dipaksa menelan.” Seru si gadis agak marah.

“Tenagamu sangat lemah. Aku membantumu dengan tenaga-dalam, sementara ini kamu tidak boleh mengerahkan tenaga, mungkin satu minggu sudah pulih.”

Gadis itu merunduk malu. “Terimakasih sudah mau menolongku.”

Wisang Geni menghela nafas. “Racun itu ganas, penjahat itu menyebutnya racun kalajengking. Kalau tidak cepat ditolong, kamu akan mati, atau lumpuh kehilangan tenaga-dalam selamanya. Ancamannya kamu mati dalam waktu tiga hari.”

Sesaat kemudian dia melanjutkan. “Aku akan menolongmu dengan menyalurkan tenaga-dalam dan ramuan obat. Kamu belum menjawab pertanyaanku, siapa kamu?”

“Namaku Atis. Hanya Atis. Itu nama pemberian dari orangtuaku.”

“Kamu pelajari waringin sungsang dari Sagotra atau Manjangan Puguh?”

“Kita saudara perguruan, sama-sama murid Manjangan Puguh. Aku juga belajar dari kakek Sagotra, Pancasona dan Grajagan. Tapi waringin sungsang yang kamu miliki jauh lebih sempurna, membuat aku malu.” Dia memegang perut. “Aku lapar. Tadi siang sudah makan, tapi sekarang lapar lagi.”

(To be Continued 27 June/Part Two No 9 )

No comments: