Wisang Geni part Two (9)
Kutukan Keris Berdarah
By John Halmahera
(published 27 June 2011)
“Namaku Atis. Hanya Atis. Itu nama pemberian dari orangtuaku.”
“Kamu pelajari waringin sungsang dari Sagotra atau Manjangan Puguh?”
“Kita saudara perguruan, sama-sama murid Manjangan Puguh. Aku juga belajar dari kakek Sagotra, Pancasona dan Grajagan. Tapi waringin sungsang yang kamu miliki jauh lebih sempurna, membuat aku malu.” Dia memegang perut. “Aku lapar. Tadi siang sudah makan, tapi sekarang lapar lagi.”
“Aku cari makanan, kamu tunggu disini.“
Tak lama Wisang Geni kembali. “Kamu buat api unggun, aku kuliti ayam.”
Mereka menikmati ayam bakar. Atis makan dengan lahap.
“Sekarang ceritakan riwayatmu.”
“Tapi kamu janji, akan menyembuhkan aku sampai tuntas, tidak boleh tinggalkan aku sebelum benar-benar sembuh.”
Wisang Geni tertawa. “Kamu licik. Baiklah aku berjanji.”
“Ibuku itu putri kakek Sagotra. Ketika usiaku tujuh tahun, kami pergi mencari kakek. Kami dengar Lemah Tulis bersahabat dengan kakek, itu sebab kami ke Lemah Tulis. Kata bapak Padeksa, kakek tinggal bersama Ki Grajagan dan Nyi Pancasona di pulau Sempu. Di tengah jalan kami bertemu perampok, ayah mati dibunuh, aku dan dan ibu lolos. Tiba di pulau Sempu, ibu mati karena luka-lukanya memang berat.”
“Orangtuamu tidak bisa tarung?”
“Orangtuaku pendekar, mereka bertarung dengan gagah tapi mereka tak berdaya karena dikeroyok banyak orang.”
“Siapa mereka, kamu kenal? Dengar nama mereka?”
“Tidak. Aku tidak tahu.”
“Kamu tinggal bersama kakek?”
“Sejak itu aku dilatih kakek bersama dua sahabatnya nenek Pancasona dan kakek Grajagan. Kadang-kadang guru Puguh dan isterinya Mei Hwa datang.”
“Mengapa kamu berkeliaran sendiri, dimana kakekmu?”
“Kakek sudah pergi dari pulau Sempu. Aku pikir, ilmu-silatku sudah cukup tinggi jadi aku pergi merantau. Tapi ternyata ilmu-silatku masih rendah. Jika tidak kamu tolong, tentu aku diperkosa orang. Apakah semua laki-laki suka memerkosa wanita? Mas Geni apakah kamu pernah memerkosa wanita?” Atis memandang wajah Wisang Geni dengan sedih.
“Pertanyaan gila, aku tidak pernah memerkosa wanita.” Wisang Geni kesal.
“Kata kakek, isterimu banyak tetapi untukmu belum cukup, makanya kamu suka bepergian dan meniduri gadis-gadis atau janda. Benarkah?”
“Itu cerita ngawur, kakekmu itu sudah pikun.”
“Eh mas Geni jangan sembarangan mengatai kakekku pikun, aku marah.”
“Memang dia pikun, atau mungkin saja sudah gila, membiarkan kamu berkeliaran dengan modal kepandaian yang pas-pasan. Kamu lari atau ada ijin kakekmu?”
“Aku kabur tanpa setahu kakek.”
“Apa tujuanmu? Mau kemana?”
“Mau ke Lemah Tulis mencari kamu.” Tuturnya dengan wajah polos.
“Mencari aku? Ada urusan apa?” Wisang Geni heran.
“Aku mau menjadi isterimu.” Atis berkata jujur, tegas dan blak-blakan, Tapi dia merunduk malu, parasnya merona merah saking malunya.
“Kamu ngomong sembarangan, kamu masih kecil, anak kecil.”
Tiba-tiba Atis berdiri, sambil berseru. “Aku perempuan dewasa. Kamu sudah lihat dadaku, besar dan montok, iya kan? Lihat ini bokongku.” Dia berdiri sambil menepuk bokong dan pahanya. “Katakan sekarang apakah ini bokong anak kecil atau wanita dewasa, ayo jawab! Lihat yang jelas, aku tinggi langsing, bukan anak kecil!”
Wisang Geni tersenyum melihat lagak Atis yang memarahinya. “Iya, kamu sudah dewasa, Maafkan aku.”
“Tubuhku indah, iya kan Mas?” Desaknya.
“Iya, indah.” Wisang Geni menjawab asalan saja.
“Kamu terangsang, iya kan?” Desaknya sambil menuding.
Wisang Geni menggeleng kepala. “Tidak!”
“Bohong, kamu harus jujur, mengaku saja, iya kan?” Desaknya lagi.
Wisang Geni tak berdaya. Terpaksa mengangguk.
Mendadak Atis melompat menerkam. Khawatir si gadis jatuh, Wisang Geni memeluknya. Mereka bergulingan di rumput yang basah.
Wisang Geni menolak tubuh si gadis. “Jangan, jangan dengan cara ini.’
“Kenapa? Kamu tidak suka? Tapi kamu bernafsu, mengapa kamu menolak?” Atis duduk sila memandang laki-laki pujaannya.
“Kakekmu! Aku tak mau dia salah faham.” Wisang Geni malu dan geli, merasa diadili si gadis remaja itu.
“Tidak mungkin kakek salah faham. Seorang perempuan harus bersuami, itu sudah aturan hidup, kalau aku memilih kamu sebagai suami, tak seorang pun boleh melarang. Tidak juga kakek.” Suara Atis mengandung ketegasan.
“Tapi aku sudah beristeri.”
“Aku tahu, isterimu Sekar, Prawesti, Manohara, Gayatri. Mungkin ada yang lain yang kamu sembunyikan. Tetapi coba lihat, pandang aku yang jelas, aku lebih muda, masih segar, masih perawan. Dan aku sangat mencintaimu.” Kata Atis.
“Cinta? Bicaramu ngawur. Kamu baru ketemu aku.” Wisang Geni membantah.
“Sejak usia sepuluh tahun, aku mendengar cerita tentang kamu dari mulut kakek, guru Sona, guru Grajagan, guru Puguh dan bibi Mei Hwa. Aku mencintaimu sebelum bertemu denganmu. Pertemuan hari ini karma dewata bahwa aku jadi isterimu.” Diam sesaat, sambil menatap tajam, dia berkata tegas. “Kamu harus mengawini aku.”
“Mengapa harus?”
“Kamu sudah menggerayangi dadaku. Kalau kamu tidak mau mengawini aku, akan kulapor pada kakek dan guruku, juga kakek Padeksa dan semua murid Lemah Tulis bahwa kamu sudah memegang-megang dadaku.”
“Kamu mengancam aku?” Wisang Geni balas mengancam, tetapi hanya sikap pura-pura, dalam hati dia justru merasa aneh terlibat pembicaraan unik dengan Atis.
“Tidak. Aku tidak mengancam, aku akan jadi isterimu yang setia, manut pada perintahmu. Rela mati untukmu. Jadilah suamiku kangmas Geni.”
Wisang Geni menyahut. “Kamu cantik, masih muda, tapi aku sudah tua.”
“Aku tidak perduli.” Dia merunduk malu. “Aku mencintaimu.”
“Biarkan aku berpikir.”
“Aku mau besok sudah ada jawaban. Dan jawabannya, harus iya. Kamu harus mengawini aku.” Katanya tegas.
Wisang Geni kewalahan. “Sudah hampir malam. Sebaiknya kita balik ke desa, nginap dirumah penduduk, aku akan mengusir racun dalam tubuhmu.”
“Tapi aku tidak mau sendirian, aku mau kita satu kamar. Aku takut Jubah Hitam datang menculik lagi. Katakan iya.”
Wisang Geni bersiul panjang. Selang beberapa saat seekor kuda hitam berlari menghampiri. “Namanya Wulung, dia hanya manut padaku.”
Atis mengelus leher si hitam yang mendengus sambil menggerakkan kepalanya. “Wulung, kamu tampan dan jantan seperti majikanmu,” katanya.
Kuda itu meringkik sambil menaikkan dua kaki depannya. Atis terkejut, mundur dua langkah, terantuk akar pohon dan jatuh.
Wisang Geni menangkap tubuh langsing itu. “Baru sama kuda saja, kamu sudah kalah, bagaimana mau berkelana di dunia kependekaran.”
“Itu tadi aku pura-pura jatuh, karena aku menebak kamu akan menangkap dan memeluk tubuhku. Benarkan? Kamu senang memeluk aku?”
Apa yang dikatakan si gadis benar, Wisang Geni merasakan empuknya tubuh si gadis. Terutama bokongnya yang nempel dipangkuannya. Dia ingin melepas tapi tidak ingin Atis tersinggung.
“Sudah cukup memeluknya, malu dilihat Wulung.” Kata Atis.
Wisang Geni kewalahan. Dia memegang pinggang Atis dan mengangkatnya ke punggung Wulung. “Aku jalan kaki, kita kembali ke desa tadi.”
“Kamu naik sini, aku takut jatuh. Racun itu bisa menyerang dadakan.” Kata Atis menggoda. “Ayo mas Geni, naiklah, jangan takut, isterimu tidak ada disini.”
“Siapa bilang aku takut isteri?” Dia melompat ke belakang Atis.
“Jadi isterimu yang takut padamu. Mungkin kamu berlaku bengis, iya mas?”
“Aku penyayang isteri.” Wisang Geni tertawa.
Atis menggerakkan bokongnya, duduk dipangkuan Wisang Geni. “Begini lebih enak, supaya pantatku tidak sakit dan paha tidak lecet.” Dia menuntun tangan Wisang Geni memeluk tubuhnya. “Tidak usah takut, isterimu tidak ada disini.”
Memeluk dan merasakan pantat si gadis dipangkuannya, beberapa helai rambut si gadis menggelitik hidungnya, mencium aroma tubuh Atis, tanpa terasa birahi Wisang Geni lonjak-lonjak.
“Kamu terangsang birahi mas. Makanya tidak usah malu-malu atau takut isterimu, ambil aku jadi isterimu, pengantinmu yang paling muda, perawan dan yang sangat mencintaimu. Pasti kamu beruntung.” Atis tertawa geli.
“Benar-benar penggoda kecil yang licik. Tapi memang dia seksi, cantik membuat aku terangsang. Tetapi aku harus bisa menahan diri. Dia cucu Sagotra dan murid paman Puguh.” Pikiran Wisang Geni melayang-layang membayang tubuh Atis.
Pemilik warung ternyata orang jujur, kuda tunggangan Atis diselamatkan dan dikurung di kandang. Dia membantu mencarikan rumah penduduk yang kamarnya bisa disewa untuk bermalam.
Setelah makan malam, Wisang Geni menyalurkan tenaga panas untuk mengusir racun dingin. Dia mengajari Atis untuk perlahan-lahan mengerahkan tenaga. Hampir separuh malam berlatih, tubuh mereka basah keringat.
Paras Atis yang hanya diterangi sinar rembulan dari sela-sela dinding dan obor damar tampak keringatan. Gadis itu sangat cantik. Wisang Geni coba membanding dengan wanita-wanita yang sudah dikenalnya termasuk isteri-isterinya. Diakuinya Atis sangat cantik, kulit kuning sawo, bersih. Tubuhnya sekel. Atis memiliki banyak kelebihan, lebih muda, lebih cantik dan lebih segar.
Atis tidur di dipan. Wisang Geni ditanah beralas tikar bambu. “Kalau kamu tidak ada, tentu aku sudah diperkosa orang. Laki-laki memang jahat.” Kata Atis.
“Semua laki-laki termasuk aku?”
“Kamu tidak Mas. Kamu istimewa. Aku sudah pasrah menyerahkan perawanku padamu, dan aku tahu kamu sudah terangsang, tapi kamu bisa menahan diri.”
“Aku terlalu tua untukmu, kamu pantas jadi anakku. Nanti akan ada laki-laki lain yang pantas jadi suamimu.”
“Tidak.” Bisik Atis agak keras. “Aku hanya mau kawin dengan Wisang Geni.”
“Kamu tidak sadar apa yang kamu mau. Aku belum pernah mendengar cerita aneh, seorang gadis jatuh cinta pada laki-laki tanpa pernah bertemu dengannya.”
“Kamu menyinggung perasaanku. Bukan aneh, itu kenyataan. Aku memang cinta, kasmaran. Aku tidak perlu malu. Biar semua orang di tanah Jawa tahu rahasia cintaku ini, aku tidak malu. Malah aku bangga.” Tegas Atis.
“Apa yang dibanggakan?”
“Iya. Tidak semua orang bisa mencintai seseorang dengan sepenuh hati. Itulah cinta sejati, cinta yang dibawa sampai kedalam kubur. Sejak masih ingusan aku sudah mencintaimu, cintaku yang pertama dan terakhir.”
“Kamu pandai bicara.” Wisang Geni menahan ketawa.
“Kamu menertawakan aku. Tapi aku tidak peduli. Aku cinta kamu. Itu kenyataan! Sekarang katakan, kapan kamu mau ambil perawanku?” Tiba-tiba Atis tertawa lirih. “Aku akan telanjang bulat, memeluk dan merayu kamu. Apa kamu bisa menahan diri dan tetap menolak aku?”
Wisang Geni tertawa geli. “Awas kamu lakukan itu, kupukul pantatmu.”
“Nah kamu mulai terangsang, mau memegang pantatku.” Atis tertawa.
“Kataku akan memukul pantatmu, bukan memegang.”
“Ayo naik ke dipan, peluk aku, isterimu tidak tahu.” Goda Atis.
Wisang Geni diam. Atis manja, cerdas, pandai omong dan suka omong. Kalau bicara gerak mulutnya sangat memesona.
“Mengapa diam? Apa yang kamu pikirkan? Sudahlah, jangan banyak pikir.”
Wisang Geni masih diam.
“Sebenarnya kamu dari mana mau kemana?” Atis mengalih pembicaraan.
“Aku dari Lemah Tulis dalam perjalanan pulang ke Welirang. Sekarang aku balik ke Lemah Tulis, mengantar kamu. Biar beberapa murid mengantarmu pulang. Siapa tahu kamu berjodoh dengan salah seorang murid Lemah Tulis yang mengantarmu.”
Atis memperlihatkan air muka jengkel. “Masih saja kamu ngomong sembarangan. Sudah kukatakan, aku akan kawin dengan kamu, tidak mau dengan laki-laki lain.”
“Tapi kamu tetap harus diantar pulang ke rumah kakekmu.” Kata Wisang Geni.
“Sebenarnya kakek dan dua guruku meninggalkan pulau Sempu, kami tiba di lereng gunung Argo, ketika mereka sibuk mendirikan rumah, aku kabur. Kalau masih di pulau aku tidak bisa lari, aku takut menyeberang laut, ombaknya besar.”
“Gunung Argo tidak jauh dari Lemah Tulis.” Potong Wisang Geni.
“Aku masih belum sembuh.” Suara Atis mengandung isak. Tiba-tiba tubuhnya gemetaran. Menggigil keras, seluruh anggota tubuhnya bergerak nyaris kejang.
“Kamu kedinginan?” Wisang Geni terkejut. Lebih kaget lagi ketika meneliti paras Atis semakin biru, malahan warna biru sudah menjalar ke leher.
“Dingin. Aku tidak tahan, peluk aku Mas.”
Wisang Geni naik keatas dipan, memeluk erat si gadis. Dia mengerahkan hawa panas tubuhnya, menghangatkan tubuh Atis. “Mengapa mendadak dia kedinginan. Belum lama berselang tampaknya dia membaik. Mungkinkah ancaman Jubah Hitam jadi kenyataan bahwa umur Atis hanya tiga hari. Bagaimana cara menolongnya?”
Bingung, Wisang Geni benar-benar bingung. Dia memiliki ilmu pengobatan yang cukup lumayan dan mengerti banyak persoalan racun. Bahkan darah dalam tubuhnya mengendap zat anti racun yang dibekali gurunya Ki Waragang semasa dia kecil.
Atis masih menggigil, meskipun mulai berkurang. Wisang Geni tetap memeluk dan mengerahkan tenaga-dalam dari dada ke dada.
Wisang Geni teringat pengalamannya. Sepasang pendekar Himalaya, Kumara dan Malini pernah cekoki butiran racun kepadanya berdua Sekar, katanya racun ular salju. Ancamannya, racun akan membunuh dalam waktu tujuh hari.
Dewi Obat, nenek Sekar, berhasil menyembuhkan Sekar namun gagal mengusir racun dalam tubuhnya. Dewi Obat hanya bisa memperpanjang usianya beberapa bulan. Dia tertolong ketika terjatuh dijurang di lembah kera dan tanpa sengaja berlatih di kolam panas dan kolam dingin.
Tiba-tiba dia berseru. “Ikan di kolam dan buah merah. Itu pemunahnya.”
Atis kaget. “Apa? Ada apa?”
“Bagaimana rasanya sekarang?” Tanya Wisang Geni.
“Masih dingin, rasanya ngilu sampai di tulang. Tubuhku lemas, kata penjahat itu, umurku hanya sampai tiga hari, apakah aku akan mati?”
“Tis, aku harus singkirkan aturan, tubuh bagian atasmu harus telanjang, nempel dengan dadaku yang juga telanjang, aku akan kerahkan tenaga dalam. Ini pasti akan membantu. Aku harus mencegah racun menjalar ke bagian tubuh lain, jika warna biru sudah turun ke dada, artinya bagian jantungmu sudah kena racun.”
“Lakukan.” Dia senyum menggoda. “Tadi aku mau telanjang tapi kamu larang, kamu marah. Sekarang kamu suruh aku telanjang, mana yang harus kuikuti?”
“Hanya bagian dada. Ini pertolongan sementara. Kita ke gunung Lejar, obatnya ada disitu, selama perjalanan aku menolongmu dengan cara ini. Kamu akan sembuh.”
Atis tertawa paksa. Tubuhnya masih menggigil. “Kamu buka sendiri kebayaku.”
Wisang Geni melepas peniti kebaya bagian depan. “Hanya dibuka sedikit.”
“Sedikit juga sama. Tapi tak mengapa, kamu sudah melihat dadaku berulangkali, nantinya kalau kita sudah kawin, setiap hari kamu melihat dadaku.” Atis menggigil.
“Kamu sakit tapi masih saja nakal menggoda.” Wisang Geni memeluk erat hingga dada telanjang Atis menempel dadanya.
Atis diam, tetapi matanya tidak kedip mengamati wajah lelaki yang dicintainya.
Wisang Geni memejam mata, memusat pikirannya pada tenaga wiwaha. Atis merasa hawa hangat menjalar ke seluruh tubuhnya. Dia merasa kantuk. Tak lama kemudian dia tertidur. Kepalanya lunglai, mulutnya nempel dileher Wisang Geni.
(To be Continued 28 June/Part Two No 10 )
No comments:
Post a Comment