Go Garuda, Grab The Title !
Oleh : John Halmahera
Jakarta 28 Desember 2010
Boleh boleh saja melupakan kekalahan di Bukit Jalil, sekadar agar fresh dan fit di leg 2 nanti, tetapi jangan lupa beberapa hal penting. Jangan buat kesalahan atau error “buruk” seperti kemarin ketika digunduli Malaysia 0-3. Saya katakan terus terang, di Bukit Jalil kemarin Malaysia tidak akan bisa menang jika Timnas tidak bikin error.
Apalagi di Senayan Rabu malam nanti, timnas akan menang dan bisa mencetak beberapa gol. Tetapi jika satu saja error dilakukan dan Malaysia bisa mencetak gol balasan, maka peluang meraih gelar juara akan semakin tipis.
Pemain belakang harus berpikir sederhana selain memegang teguh prinsip bertahan. Jika Anda orang terakhir dibelakang, maka jangan main-main dengan bola, cepat sepak kedepan atau jika dibawah tekanan penyerang lawan lakukan “kick the ball out off play”. Itu prinsip, sebab begitu Anda berbuat error maka penyerang lawan merebut bola dan akan langsung berhadapan dengan kiper Anda.
Kemarin, gol pertama tidak akan terjadi, jika Maman Abdurachman menendang bola ke sisi lapangan menjadi “throw-in”. Maka dia enak, tak ada masalah, teman lain pun enak. Tetapi “stupid error” yang dibuatnya bisa juga terhindar kalau teman lainnya, terutama bek kiri Mhd Nasuha menerapkan prinsip melapis teman (defender) yang sedang berhadapan dengan musuh dan mendapat ancaman dari musuh. Prinsip harus dilapis.
Dan karena itu adalah wilayah Mhd Nasuha sebagai bek kiri maka dia yang harus melapis. Maman hanya mengisi sementara wilayah itu karena ditinggal Nasuha yang naik menyerang dan belum kembali, seharusnya Nasuha kembali turun dan langsung melapis Maman. Di level internasional pertahanan berlapis merupakan harga mutlak. Hampir tidak pernah kita melihat seorang defender tanpa dilapis berjuang sendirian menghadapi penyerang.
Jadi pelajaran kemarin adalah, jangan membuat “stupid error” dan dalam defence team-work harus saling melapis.
Pemain belakang atau gelandang atau siapa saja dalam Timnas, diharapkan jangan bikin pelanggaran bodoh di dekat kotak pinalti, di daerah 16 meter. Saya masih ngat skor 1-1 Timnas lawan Arab Saudi (Piala Asia 2007 di Senayan), memasuki injury-time. Lalu Ismet Sofyan bikin pelanggaran bodoh, menendang kaki lawan di pojok kiri atas kotak pinalti Timnas. Saat itu tanpa sadar saya berterak, “mati aku”.
Free-kick diambil gelandang Saudi, bola melengkung keras ke mulut gawang Timnas, di satu titik ketinggian jauh dari jangkauan kiper, dan tiga pemain Saudi melayang. Saya pastikan salah seorang diantaranya pasti bisa menyundul. Pemain Timnas selain kalah tinggi, juga tidak terlatih mengusir bola udara dengan baik. Maka sundulan itu dengan kerasnya menghunjam jaring dan Timnas kalah 1-2 di detik-detik terakhir. Pelanggaran bodoh! Stupid fault!
Banyak contoh, pelanggaran yang tidak perlu yang dilakukan pemain kita yang membuahkan kartu kuning atau bahkan merah. Kalau kita amati kompetisi ISL, wuahh banyak kali, pelanggaran bodoh yang tidak perlu. Lalu ketika wasit memberikan kartu kuning, pemain ybs berakting macam tidak bersalah. Ini juga salah satu tabiat buruk yang dibawa pemain kita dari kompetisi ISL ke level internasional.
Hindari bikin pelanggaran di daerah 16 meter, cukup melakukan pressure rapat atau membayang-bayangi pemain lawan tsb, tidak perlu melakukan tackling saat dia masih menguasai bola. Hindari juga terpancing provokasi pemain lawan, tetap main dingin dan menjalankan instruksi pelatih seratus persen.
Saya yakin jika pertahanan Timnas terkoordinir rapi, main efektif dan lugas maka sisanya hanya bagaimana Gonzales Cs mencetak gol kegawang Malaysia.
Saya yakin Rabu malam nanti Malaysia akan lebih bertahan, dengan menempatkan 8 atau 9 pemain di belakang, berjejer di depan kipernya. Mereka hanya akan menempatkan Mhd Safee sendirian di depan didukung 2 atau 3 gelandang yang posisinya bertahan tetapi siap “naik” melakukan “counter-attack” pada saat memenangkan bola.
Saya kira Riedle pasti tahu strategi bagaimana untuk mementahkan pola main defensif Malaysia seperti yang mereka lakukan ketika “away” lawan Vietnam. Taktik yang membuat Vietnam frustasi. Saya tidak khawatir, sebab daya-serang Timnas lebih tajam dan lebih produktif dibanding Vietnam, sehingga kita tidak akan mengalami hal frustasi seperti yang dialami pemain-pemain Vietnam.
Pemain kita jangan terburu-buru, main dengan elegan dingin tetapi manfaatkan kecepatan menyerang. Dan ketinggalan tiga gol harus disikapi dengan berani. Begitu punya kans lakukan shooting jarak jauh berbarengan penyerang lain naik mengantisipasi “rebound”.
Saya yakin Timnas bisa menang dengan selisih empat gol, apabila pertahanan Timnas seperti yang saya jelaskan dialinea sebelumnya. Jika Timnas bisa mencetak gol, satu gol (apalagi dua gol) sebelum babak pertama berakhir, maka Malaysia akan mengalami “under-pressure” yang akan membuat mereka cenderung berbuat error.
Semakin cepat Gonzales Cs mencetak gol pertama, semakin Malaysia mendapat tekanan mental yang berat. Go Garuda, grab the title! Ayo Garuda, rebut gelar itu! ***
No comments:
Post a Comment