World Cup 2010 (36) Spanyol Juara Baru
Piala Dunia Afrika Selatan 2010
Dari Kesalahan Wasit Sampai Gurita
Oleh : John Halmahera
Published Sinar Harapan daily news 12 Juli 2010
Dimulai di Johannesburg 11 Juni berakhir di kota yang sama 11 Juli, Piala Dunia Afrika Selatan telah menjadi bagian sejarah, milik masa lalu. Menit 116 atau 26 menit perpanjangan waktu gol Andres Iniesta memenangkan Spanyol gelar 2010, gelar Piala Dunia yang belum pernah diraih skuad La Roja. Iniesta pemeran penting permainan Spanyol, juga aktor teatrikal yang sepanjang permainan melakukan intimidasi terhadap wasit Inggeris Howard Webb. Uniknya Webb juga tak memberi teguran kepada pemain Spanyol yang mendramatisir tackling lawan dan memancing Webb untuk mengeluarkan kartu untuk pemain Oranje.
Piala Dunia 2010 banyak diwarnai kontroversi wasit. Paling parah, adalah kesalahan wasit Uruguay, Jorge Larrionda dan asistennya Pablo Fandino yang tidak mensahkan shooting Frank Lampard yang mengena mistar dan memantul ke bawah, sekitar satu meter di dalam garis gawang. Gol. Memang gol! Tayangan ulang memperlihatkan error besar keputusan wasit FIFA itu. Seandainya gol, maka skor 2-2 dan mungkin hasil pertandingan akan jadi lain.
Wasit Italia, Roberto Rosetti mundur dari perwasitan. Dia malu atas error keputusannya yang mensahkan gol sundulan Carlos Tevez ke gawang Mexico. Gol pertama Argentina menit 26 itu nyata-nyata Tevez dalam posisi off-side. Dia tak mau mendengarkan protes pemain Mexico. Kejadian di stadion Soccer City Johannesburg sungguh dramatis, Mexico kalah 1-3.
Dua keputusan kontroversial wasit di partai Inggris vs Jerman dan Argentina vs Mexico memancing protes dan kritik pers dan publik kepada FIFA. “Sebaiknya FIFA menggunakan tehnologi video untuk membantu memutuskan bola masuk gawang atau tidak. Usul ini sudah pernah diajukan tapi ditolak FIFA. Kini melalui presiden Blatter, FIFA akan membuka peluang masuknya teknologi video untuk didiskusikan.
Partai USA versus Slovenia melibatkan error wasit Mali, Koman Coulibaly yang dengan pongah menganulir gol Maurice Edu ke gawang Slovenia. Katanya Edu offside padahal jelas-jelas onside. Gol Luis Fabiano ke gawang Pantai Gading, error wasit Stephane Lannoy yang tidak melihat handsball penyerang Brazil itu. Wasit Lannoy ini juga memberi kartu kuning kepada Kaka –kartu yang kedua yang berarti kartu merah- atas pelanggaran (sandiwara) pemain Pantai Gading, Kadar Keita. Lalu wasit Spanyol, Alberto Undiano mengkartu-merah (kuning yang kedua) kepada Miroslav Klose, Jerman versus Serbia.
Sebelum 2010, Perancis mendapat keuntungan dari error besar wasit Swedia Martin Hansson yang tidak melihat –padahal berada dalam jarak dekat dengan kejadian- “double handsball” Thierry Henry yang memberi passing kepada Gallas mencetak gol penting yang mengantar Perancis ke Afrika Selatan 2010, Republik Irlandia protes tapi FIFA bergeming. Perancis maju ke 2010 dengan kutukan orang-orang Irlandia. Perancis ternyata bawa sial, tersingkir di grup dan menjadi juara dunia yang pertama yang pulang kampung.
Mundur kebelakang, Piala Dunia 2002, tuan rumah Korea Selatan maju ke semifinal dengan beberapa error keputusan wasit ketika mengalahkan Italia dan Portugal. Tetapi paling kontroversial adalah error wasit Mesir, Gamal Ghandour yang menganulir dua gol Spanyol ke gawang Korea Selatan. Yang pertama gol bunuh diri Kim Tae Young menurut Ghandour terjadi pelanggaran pemain Spanyol Ivan Helguera atas Kim. Rekaman tidak terlihat adanya pelanggaran. Gol kedua sundulan Fernando Morientes dari umpan Joaquin, dianulir. Asisten wasit angkat bendera, bola sudah keluar garis duluan. Ternyata tidak. Skor 120 menit 0-0 dan Spanyol kalah adu pinalti.
Kontroversial wasit Tunisia, Bennaceur, yang tidak melihat gol handsball Diego Maradona partai Argentina vs Inggeris di stadion Azteca 22 Juni 1986. Penonton 114.580 melihat jelas Maradona melompat “duel” dengan Peter Shilton, tangan Maradona menyodok bola yang masuk ke gawang Shilton. Pemain Inggeris terpahna, penonton pun protes atas kelicikan Maradona dan “tidak bagusnya mata” wasit. Empat menit kemudian, Maradona menggiring melewati enam pemain Inggeris berikut Shilton dua nol. Penonton lupa akan kesalahan “tangan Tuhan” tadi. Gol balasan Gary Lineker menit 80 tidak menolong Inggeris yang terpaksa pulang kampung.
Kalau handsball Maradona dan Thierry Henry melahirkan gol, lain lagi dengan handsball Luis Suarez yang menggagalkan gol Ghana ke gawang Uruguay. Wasit Olegario Benquerenca dari Portugal mengkartumerah Suarez dan hukuman pinalti untuk Ghana. Tapi pinalti menit akhir itu gagal dimanfaatkan Asamoah Gyan. Skor draw dan Ghana “black star” wakil terakhir Afrika kalah adu pinalti terpaksa angkat koper dengan iringan tangis seluruh rakyat Afrika.
Dalam konperensi pers, Oscar Tabarez, pelatih Uruguay membela Suarez. “Itulah intuisi pemain, dan Suarez sudah dihukum kartu merah, juga pinalti, tapi Gyan tidak mencetak gol, apakah Suarez harus dihukum lagi?” Alasan dan komentar brilian, kasus ditutup. Mau protes apalagi Ghana?
Piala Dunia kali ini, binatang ikut masuk pasar tarohan. Dunia sudah berubah memang. Paranormal beralih ke binatang. Gurita yang bernama Paul, the octopus, dari akuarium Oberhausen Jerman ikut meramal. Jerman kalah, Spanyol menang. Ternyata benar. Karuan saja fans Jerman ngamuk maunya si Paul itu digoreng dan dimakan. Kepercayaan pemain Jerman yang memaksa pelatih Joachim Loew mengenakan sweater birunya juga tak menolong kekalahan dari Spanyol di semifinal.
Spanyol La Roja melengkapi jejak prestasi fantastisnya, juara Euro 2008 berlanjut juara Piala Dunia 2010. Jadi kalau Paul si gurita meramal Spanyol mengalahkan Belanda dan keluar sebagai juara, itu masuk akal juga sebab jauh hari sebelum dimulainya Piala Dunia 2010 rumah judi William Hill di London sudah menjagoi Spanyol sebagai juara 2010. Jadi sebenarnya Paul si Gurita hanya menjiplak dari rumah judi William Hill. Ada lagi, di Singapura burung parkit bernama Mani di distrik little indian meramal Belanda menang di final, tapi toh kalah. Jadi bukan gurita Paul yang hebat ramalannya, rumah judi William Hill lebih hebat.
Belanda memang kalah, kapten Giovanni van Bronckhorst sangat bersedih seperti juga Wesley Sneijder dan Arjen Robben, dan tentu saja Bert Van Marwijk si pelatih Oranje. Tapi Gio Van Bronckhorst patut bangga, diujung karirnya sebagai pemain dan di turnamen Piala Dunia, shooting-range jarak jauh yang menggeledek di menit 18 yang membobol gawang Uruguay yang dikawal Fernando Muslera mungkin tergolong gol paling spektakuler. Sampai jumpa di Brazil 2014 demikian komentar FIFA. ***
Tuesday, August 10, 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
1 comment:
Selamat siang Bapak.. salam sukses selalu.
Saya Antok, redaktur pelaksana Media Pressindo Group di Yogyakarta. Saya sangat tertarik dengan tulisan-tulisan bapak, jika berkenan bisakah bapak mengirimkan naskah-naskah buku karya bapak untuk penerbit kami di medpressgroup@yahoo.com UP: Antok Priyo R. Kami tunggu kabar baiknya. Terimakasih.
Post a Comment