Monday, August 9, 2010

World Cup 2010 (seri 25) Brazil And Netherlands

sSerial World Cup 2010 (25)
Serial Piala Dunia Afrika Selatan 2010

Peluang Brazil dan Belanda
Oleh : John Halmahera
Published Sinar Harapan daily News 24 Juni 2010

Brazil sedikit nervous dalam laga pertamanya, Korea Utara memberikan perlawanan ekstra ketat dengan pertahanan massal melibatkan 9 pemain, taktik yang sempat membuat fans Brazil tegang. Faktanya memang demikian, sepuluh menit babak kedua berlangsung barulah Brazil menembus kebuntuan dengan gol bek kanan Maicon. Gol kedua dari Elano mulai menurunkan tensi yang kemudian menanjak tegang lagi ketika Ji Yun Nam menembus gawang Julio Cesar.
Pada pertandingan kedua lawan Pantai Gading, Brazil memperlihatkan kelasnya sebagai juara dunia 5 kali, dengan skill dan semangat, menang 3-1 lewat dua gol Luis Fabiano dan satu lagi dari Elano yang lalu diperkecil Didier Drogba. Brazil pun lolos ke 16 Besar. Pada pertandingan ketiga yang tidak berpengaruh lagi, kecuali ingin mempertahankan posisi juara grup, Brazil tampil mengecewakan dengan performans dibawah standar plus 3 kartu kuning untuk Fabiano, Juan dan Felipo Melo. Turun tanpa Kaka yang kena kartu merah saat lawan Pantai Gading dan Elano yang masih cidera serta Robinho yang diistirahatkan, Brazil main untuk cari aman.
Kali ini di babak 16 Besar “seleccao” terlibat tanding “do or die” lawan Chili, rival Conmebol yang terkenal keras dan tidak mudah ditaklukkan. Catatan pertemuan dua tim, dominan Brazil. Di Copa America Venezuela 2007, penyisihan grup tgl 1 Juli 2007 di Maturin, hattrick Robinho 3-0 dan di perempat final 7 Juli di Puerto la Cruz keduanya ketemu lagi, Brazil menang 6-1 dua gol Robinho, Juan, Baptista, Josue dan Vagner Love. Di Copa America itu Brazil keluar sebagai juara, di final 15 Juli di Maracaibo, mengandaskan Argentina 3-0. Itulah sukses awal Dunga sebagai pelatih “seleccao” menjawab kritik pedas pers dan rakyat Brazil.
Di babak kualifikasi zone Conmebol menuju 2010 Brazil dua kali menang atas Chili. Dalam away ke kandang Chili, tgl 7 September 2008 Santiago De Chile, Brazil membungkam Chili 3-0. Lalu pada leg kedua di kandang sendiri 9 September 2009 di kota Salvador De Bahia pasukan Dunga kembali mendulang kemenangan 4-2 atas Chili. Sejarah pertemuan selengkapnya, Brazil menang 46, draw 12, kalah 7 dengan selisih gol 152 – 55.
Brazil tampak lebih superior, tetapi bukan jaminan untuk suatu kemenangan. Chili tidak akan terbelenggu dengan sejarah kekalahan itu, “kami akan bertahan lebih lama di Afrika,” kata sang pelatih Marcelo Bielsa yang orang Argentina. Artinya, dia optimis akan melangkahi Brazil.
Marcelo Bielsa yang dijuluki El Loco pernah mencicipi pil pahit ketika skuad Argentina yang ditanganinya gagal lolos ke putaran 16 Besar di Piala Dunia 2002. Ketika menangani Chili dia berjanji akan membawa Chili ke posisi atas dunia. Komitmen kuat El Loco memengaruhi skuadnya, pemain respek dan berjanji akan berjuang bersama-sama meraih ambisi besar itu. Tahapan kualifikasi dilangkahi dengan sukses, runnerup zone Conmebol, dibawah Brazil dan diatas Paraguay, Argentina dan Uruguay.
Permainan ofensif Chili menanjak sejak lawan Honduras, Swiss, kemudian Spanyol. Kesalahan kiper Claudio Bravo yang memudahkan David Villa mencetak gol dari jarak jauh. Lalu kartu kuning kedua Marco Estrada memaksa Chili main dengan 10 orang, lalu gol kedua Spanyol lewat Andres Iniesta, nyaris mengubur impian mereka. Chili bangkit, membalas lewat Rodrigo Milar. Seharusnya tersisih jika Swiss menang atas Honduras. Beruntung bagi Bielsa dan skuadnya Honduras tahan Swiss 0-0.
Mendapat keberuntungan itu, kini Chili menatap partai lawan Brazil dengan berani. Chili lebih bergairah dan semangat, tak ada lagi beban berat. Sebagai underdog menantang “raksasa” Brazil yang memiliki rekor panjang kemenangan atas mereka, skuad Bielsa ini main tanpa ragu dan tanpa takut kalah.
Dibalik optimisme dan ketidakgentaran, skuad La Roja Chili kehilangan duo centreback yang tangguh Gary Medel dan Waldo Ponce, jelas jantung pertahanan menjadi titik lemah meskipun bek kiri tangguh Gonzalo Jara diperkirakan akan mengisi salah satu tempat itu. Bielsa juga kehilangan gelandang Marco Estrada yang diusir wasit saat lawan Spanyol.
Mendukung ambisinya melaju ke 8 Besar Dunga akan memainkan the winning teamnya, Julio Cesar, Maicon, Lucio, Juan, Michel Bastos, Felipe Melo, Gilberto Silva, Kaka, Elano, Robinho dan Luis Fabiano. Jika Elano yang telah mencetak masing-masing satu gol ke gawang Korea Utara dan Pantai Gading, masih belum pulih, kemungkinan Dani Alves atau Ramires atau siapa saja. Dunga tak akan pernah kesulitan mencari pengganti saking banyaknya talenta bagus dan seimbang dalam skuadnya. Brazil berpeluang menang.
Jika lolos dari hadangan Chili, Brazil akan berhadapan dengan sandungan besar lainnya, Belanda yang kemungkinan besar akan mengalahkan Slovakia 4 jam sebelum laga Brazil pada hari yang sama. Partai Belanda versus Slovakia kemungkinan besar ditandai dengan kembalinya bintang Oranje, Arjen Robben yang sudah fit saat turun selama 15 menit di partai Belanda vs Kamerun.
Meskipun tak diperkuat Robben yangwaktu itu masih dalam pemulihan cidera Belanda menjadi tim pertama lolos ke 16 Besar setelah merengkuh dua kemenangan beruntun 2-0 atas Denmark dan 1-0 atas Jepang. Kali ini menghadapi Slovakia dengan hadirnya Robben maka skuad Oranje besutan Bert van Marwijk bakal turun dengan lineup terbaiknya.
Tetapi kubu Belanda tetap mewaspadai tim asuhan pelatih Vladimir Weiss yang didukung spirit pantang menyerah, kecepatan dan disiplin dalam organisasi. Diduga Slovakia akan bertahan rapat dan memanfaatkan serangan balik lewat sayap, strategi yang ternyata berhasil membuat frustasi lini depan Italia dan memorakmorandakan pertahanan juara bertahan itu. Mengalahkan Italia adalah lompatan besar bagi negeri pecahan Cekosloawakia itu.
Slovakia akan memainkan skema dan skenario yang sama, bertahan dengan sabar dan menanti kelengahan Belanda. Jika Oranje lengah, terutama saat pemainnya menggebu bernafsu mencetak gol sehingga membuka lubang-lubang pertahanan, maka Slovakia akan menerkam mencetak gol. Seperti itu juga skuad Vladimir Weiss menyingkirkan Italia. Didukung striker Robert Vittek 28 tahun si pencetak 2 gol ke gawang Italia, pemain muda 21 tahun klub Belanda, FC Twente Miroslav Stoch, dua gelandang Marek Hamsik 23 th (Napoli) dan Vladimir Weiss, 21 th, putra sang pelatih (Manchester City), serta Jan Durica komandan lini belakang dari klub Hannover. Tanpa merendahkan kualitas Slovakia, peluang menang berada di Belanda. Kita lihat saja.

***

No comments: