Serial World Cup 2010 (19)
Serial Piala Dunia Afrika Selatan 2010
Portugal vs Korea Utara
Menanti Kejutan “Chollima”
Oleh : John Halmahera
Published by Sinar Harapan daily news 21 Juni 2010
Korea Utara dan Portugal, dua tim yang akan berlaga malam nanti tidak hanya memperjuangkan nilai tiga sebagai bekal lolos ke putaran dua, juga episode lanjutan sejarah 44 tahun silam. Unik memang, dua kali tampil di Piala Dunia, kedua-duanya bertemu Portugal dalam partai penentu. Malam nanti di stadion Green Point Cape Town dipimpin wasit Chili Pablo Pozo Korea Utara butuh nilai tiga untuk menyambung “nyawa” ke putaran dua. Kalah, berarti peluang lolos sangat tipis, karena pada pertandingan pertama kalah 1-2 dari Brazil.
Dulu 44 tahun silam di Piala Dunia 1966 Korea Utara yang dijuluki “Chollima” ketemu Portugal di perempat final di Goodison Park Liverpool 23 Juli. Korea Utara mengejutkan 51.780 penonton dengan tiga gol beruntun Park Seung Zin menit 1, Lee Dong Won 22, Yang Sing Kook 25. Portugal bangkit dan superstar “si kijang” Eusebio memberondong 4 gol pada menit 27, 43, 56, 59 dan satu lagi dari rekannya Jose Agusto menit 80. Skor 3-5 dan Chollima angkat koper pulang kampung.
Sebelum itu di penisihan grup, Korea kalah 0-3 dari Uni Soviet, bangkit dan menahan Chili 1-1 serta membuat kejutan besar 1-0 atas Italia sang juara dunia 1934 dan 1938 sekaligus mengirim Italia pulang kampung yang disambut lemparan tomat dan telur busuk di airport Roma. Empat partai heorik itu masih diingat rakyat negeri yang beribukota Pyongyang. Pemain legendaris Park Doo Ik yang menvcetak gol tunggal ke gawang Italia, masih hidup. Kemarin dia memberikan komentar atas penampilan heroik “Chollima” ketika tanding lawan Brazil.
Dia memuji team negerinya yang memperlihatkan disiplin dan fighting spirit tinggi. “Saya tak pernah mimpi bisa menyaksikan penampilan Chollima seperti hari ini. Kejutan besar. Sepakbola Korea Utara akan kembali mengguncang dunia,” kata Park di website koran Chosun Sinbo.
Hari itu Brazil diuji kesabarannya untuk menerobos benteng beton pertahanan berlapis 9-10 orang yang baru bisa ditembus bek kanan Inter Milan, Maicon pada menit 55 dengan tembakan pelintir melengkung dari sudut sempit ke tiang jauh, disusul shoting akurat Elano menit 72. Dan Ji Yun Nam membalas pada menit 89. Penampilan heroik Chollima membendung juara dunia lima kali Brazil yang punya nama besar, suka atau tidak suka membuat 54.331 penonton yang kedinginan di Ellis Park terpesona.
Chollima memperlihatkan team-work yang luar biasa padu, terorganisir dengan baik, semangat dan spirit yang menyala-nyala sepanjang 90 menit, fisik dan tehnik perorangan yang memadai serta strategi yang jitu. Menunggu serangan lawan, merebut bola dan menyerang balik tapi hanya dengan dua atau tiga pemain yang memiliki kecepatan tinggi. Hong Yong Jo, kapten dan striker usia 27 tahun yang main di klub FC Rostov Moscow menjadi andalan bersama Jong Tae Se, pemain J-League, dengan kerjasama dan speednya membuat pertahanan Brazil pontang panting menjaganya. Dua lagi pilar tim yang sangat diandalkan, gelandang domestik Mun In-Guk dan kiper Ri Myong Guk. Hampir semua pemain adalah produk lokal dari klub setempat.
Kim Jong-Hun baru merangkak usia 3 tahun ketika Chollima membuat sejarah di Inggeris 1966, dia sekarang 43 tahun, membangun skuad yang hanya terdiri dari pemain domestik yang tak punya pengalaman internasional dalam strategi pragmatis dan pertahanan berdasar disiplin dan kerjasama team. Sungguh kerja keras. Ada tekad besar sejak dini, keinginan berlaga dengan tim-tim Eropa dengan harapan mengulang sukses para pendahulunya. Tiba harinya dimana mereka bertekad mengalahkan Portugal, membalas sejarah kekalahan tahun 1966.
Poker-face Kim Jong Hun tetap optimis melaju ke putaran 16 Besar. Mereka main bertahan dengan baik dan meskipun akhirnya harus menelan kekalahan skuad telah memetik pengalaman berharga dan menambah percaya diri, karenanya Kim yakin teamnya akan memenangkan dua pertandingan sisa. Apa yang jadi tstrateginya? Tak seorang pun tahu. “Pada harinya nanti kami akan putuskan apakah tampil menyerang atau tetap dengan pertahanan. Namun menang tetap saja jadi target kami. Karena tujuan dan misi kami, lolos ke putaran dua. Kami akan buktikan lawan Portugal dan Pantai Gading,” kata si “Poker-face”.
Di kubu Portugal yang diujuluki Selecção das Quinas partai lawan Korea Utara sangat penting artinya. Setelah hanya draw dengan Pantai Gading, misi menang atas tim Chollima merupakan satu keharusan. Sebab lawan terakhir adalah Brazil, satu tim yang belum tentu bisa dikalahkan. Portugal, finalis Euro 2004 dan semifinalis Germany 2006, memperlihatkan sepakbola indah dalam beberapa tahun terakhir tapi tanpa satu gelarpun.
Kini “Selecção das Quinas” mengincar gelar juara 2010. Pelatih kelahiran Mozambik, Carlos Querioz dengan materi pemain talenta kelas dunia, superstar Cristiano Ronaldo, Pepe, Deco, Tiago, Simao dan lini belakang veteran Ricardo Carvalho dan Paulo Ferreira dia berharap skuad bisa menembus final dan merebut gelar 2010.
Tidak dipungkiri bahwa Querioz adalah master-mind dari generasi emas Potugal sejak membawa Luis Figo, Rui Costa dan Fernando Couto di piala dunia yunior 1989 dan 1991. Di level senior dia menjadi assisten Alex Ferguson di Manchester United. Dia kemudian mengambil alih kursi panas pelatih Portugal menggantikan Luis Felipe Scolari pasca Euro 2008. Ini kali keduanya, menangani Portugal setelah yang pertama 1991-1993 dimana dia gagal membawa Portugal lolos ke Euro 1992 dan Piala Dunia 1994.
Para pemain “seleccao das quinas” bukannya tidak tahu tekad besar Korea Utara, namun dengan materi yang dimilikinya serta strategi jitu Querioz, Portugal yakin meraih tiga point. Sepakbola menyerang akan ditampilkan Portugal, bahkan Querioz sudah siap menanggapi pertahanan beton Chollima jika memang skuad Kim Jong Hun menerapkan skema main seperti ketika mereka menghadapi Brazil.
Portugal terutama Ronaldo menghadapi masalah setelah permohonan Federasi Portugal kepada FIFA agar kartu kuning Ronaldo diicabut telah ditolak Komdis FIFA. Dengan demikian maka Ronaldo harus ekstra hati-hati karena satu kartu kuning di partai lawan Korea Utara maka dia harus absen ketika lawan Brazil. Persoalan Portugal adalah bagaimana harus bersabar dan mengendalikan diri menghadapi pressure dan pertahanan Korea Utara yang pasti akan ketat.
Saya pikir Korea Utara tidak sepenuhnya bertahan seperti skema main lawan Brazil, tetapi mereka akan menunggu dengan sabar dan merebut bola dari kaki Ronaldo Cs untuk kemudian membangun serangan dengan memanfaatkan speed. Kecepatan atau speed dari penyerang Korea Utara akan menjadi ancaman bagi duo Ricardo Carvalho usia 32 tahun dan Paulo Ferreira 31 tahun yang sudah tidak cepat lagi. Portugal bisa menang tapi jika tidak waspada justru akan menelan pil pahit, tampaknya peluang draw lebih terbuka.
***
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment