Serial World Cup 2010 (18)
Serial Piala Dunia Afrika Selatan 2010
Brazil, Dunga dan Jogo Bonito
Oleh : John Halmahera
Published by Sinar Harapan daily news 20 Juni 2010
Tahun 1942 dan 1946 Piala Dunia tidak dipentaskan disebabkan Perang Dunia meletus di Eropa dan belahan dunia lain. Sejak Uruguay 1930 sampai dengan South Africa (SA) 2010, Piala Dunia sudah dipentaskan 19 kali. Tak sekalipun Brazil absen bandingkan dengan dua kekuatan lainnya. Jerman dua kali absen 1930 dan 1950. Italia dua kali absen 1930 dan 1958.
Tidak dipungkiri Brazil mendominasi Piala Dunia sebagai yang terbaik, dari 18 kali partisipasi sampai dengan 2006 kemarin, Brazil telah mencatat 92 penampilan, antaranya 64 menang, 14 draw dan 14 kalah, mencetak gol terbanyak 201 dibanding Jerman yang 190 gol juga dari 92 pertandingan dalam 16 partisipasinya.
SA 2010 mungkin kompetisi paling ketat selama Piala Dunia berlangsung. Tujuh juara dunia hadir memperebutkan gelar paling bergengsi. Tim non-juara yang punya peluang besar seperti Spanyol, Belanda, Portugal dan beberapa wakil benua Afrika pun mengincar juara dunia. Akan lahirkah negara ke-delapan atau masih dimonopoli juara-juara lama 1998?
Brazil diunggulkan setelah Spanyol - juara Eropa 2008 - yang makin gemerlap setelah kemarin menghancurkan Polandia 6-0 dalam ujicoba terakhirnya. Fase pertama harus dilewati tim samba yakni mengatasi persaingan dalam grup maut atas Portugal, Pantai Gading dan Korea Utara dan menjadi pemuncak grup. Brazil masih ditukangi Dunga.
Pelatih Dunga eks kapten samba dengan 91 caps, mencetak 9 gol. Dia bukan penyerang, lebih sering berperan sebagai penyeimbang tim di midfield. Tahun 1994 dia mengusung tropy dunia sebagai juara, itulah prestasi puncaknya sebagai kapten. Kini dia berambisi mengusung piala kebanggaan itu sebagai pelatih. Track recordnya sebagai pelatih punya bobot, dua trophy besar telah direbutnya, juara Copa America 2007 dan Cenfederation Cup 2009. Juara di Afrika Selatan akan menjadikan dia salah satu pelatih terbaik Brazil, yang mampu meraih treble trophy. Tidak perlu kalah dibanding legenda Mario Zagalo ataupun Carlos Albertto Pareira.
Sebagai pemain Dunga sangat pragmatis bahwa dua hal –kemenangan dan keindahan- tidak bisa menjadi satu. Brazil sebelumnya menekankan kemenangan lewat keindahan –jogo bonito- dan beruntun menemui kegagalan. Selama 24 tahun setelah Mexico’70, Brazil tak bisa lagi jadi juara. Datanglah era Dunga. Memenangkan piala dunia, adu pinalti atas Italia, tanpa menyajikan jogo bonito. “Tim ini mengajarkan kepada negerinya bagaimana cara menang. Kami datang tanpa gelar selama 24 tahun, kami memperlihatkan bahwa kerja keras harus diutamakan.” Kata Dunga, suatu penolakan terhadap jogo bonito. Filosofinya sebagai pelatih jelas, menang meskipun tidak jogo bonito. “Brazil’94 main buruk tapi juara dunia. Mungkin skuad’82 akan menang 5 gol atas skuad’94, tapi skuad’82 tidak juara.”
Brazil membawa serta semua pemain terbaiknya yang cocok dengan skema permainan ala Dunga. Dua talenta muda, Pato dan Neymar serta dua veteran 2006 Ronaldinho dan Adriano, tidak dipanggil. Dia ingin pemain yang memiliki mental kompetisi yang prima. Piala dunia tak punya tempat untuk sentimentil.
Tim samba telah menyelesaikan ujicoba, dua pertandingan terakhirnya adalah penyesuaian pada gaya Afrika. Robinho dan Ramires memborong masing-masing dua gol ditambah Kaka satu gol lengkap kemenangan 5-1 Brazil atas Tanzania di stadion Benjamin Mkapa National kota Dar Es Salaam. Dunga memainkan full skuadnya tanpa kiper utama Julio Cesar yang masih recovery dari cidera punggung.
Heurelho Gomes (Tottenham Hotspur) mengambil alih posisi kiper Inter Milan itu. Pergantian juga dilakukan di babak kedua Luisao masuk menggantikan Lucio di centre-back dan Josue untuk posisi Gilberto Silva. Dan Kaka main di belakang dua triker Robinho dan Luis Fabiano. Dunga tampaknya terpikat pada pemain muda Ramires, dulu main di Cruzeiro kini di Benfica Portugal. Ramires lebih bertenaga dari Gilberto Silva atau Felipo Melo.
Sebelumnya Samba menekuk Zimbabwe 3-0 di stadion Harare National disaksikan presiden Robert Mugabe dan perdana menteri Morgan Tsvangirai. Gol defender Michel Bastos dari freekick. Dua gol lain oleh Robinho dan Blumer Elano.
Dunga boleh gembira Selasa kemarin Julio Cesar sudah bisa berlatih dan optimis main di partai perdana versus Korea Utara. Di lini depan Dunga punya 4 striker handal. Luis Fabiano dan Kaka masing-masing telah mencetak 20 gol lebih untuk tim samba.
Kaka punya kemampuan mengubah permainan, dia sering turun ke bawah mengambil bola dan mendrible ke pertahanan lawan menarik lawan, kemudian memberi passing pada rekannya. Luis Fabiano, striker Sevilla yang peraih sepatu emas di Confederation Cup 2009, usia 29 tahun, 36 caps dengan 25 gol samba. Dua diantaranya ke gawang Argentina dalam kualifikasi Conmebol, total 9 gol selama kualifikasi, dia membuktikan bisa mencetak gol di berbagai level kompetisi.
Kehebatan Brazil selalu mengundang minat dan kerja keras lawan-lawannya. Pelatih Kim Jong-Hun sesumbar akan mengalahkan Brazil (16 Juni), itu akan meningkatkan moral timnya. Apa senjatanya, pertahanan ketat dan serangan balik? Korea Utara punya andalan kapten Hong Yong-Jo (FC Rostov Russia) dan Kim Kuk-Jin (FC Wil Swiss), Jong Tae-Se yang dijuluki Wayne Rooney Asia dan yang mencetak dua gol menyamakan skor 2-2 dengan Yunani dalam ujicoba pekan lalu.
Tanggal 21 Juni lawan keras lainnya, Pantai Gading menghadang Brazil. Bahwa Didier Drogba patah tangan dan belum pasti bisa main, tidak mengurangi kekuatan tim asuhan Sven Goran-Eriksson. Dalam skuad Les Elephants masih memiliki pemain bagus lain, Emmanuel Eboue (Arsenal), Kolo Toure (Manchester City), Yaya Toure (Barcelona), Salomon Kalou (Chelsea).
Grup G dimana Brazil diunggulkan merupakan grup maut, Korea Utara yang bandel dan fanatik yang terbiasa dalam sistem pemerintahan sosialis komunis, Les Elephants yang mengincar gelar juara dunia serta Portugal yang kental dengan gaya Euro-Latinnya.
Kabar buruk melanda Portugal Nani bintang Manchester United cidera dan out dari team, digantikan pemain Benfica Ruben Amorim. Pelatih Carlos Queiroz meskipun kecewa namun tetap optimis akan lolos dari grup maut itu. Dia mengandalkan Ricardo Carvalho dan Paulo Ferreira yang pengalaman di lini belakang, Pepe dan Deco di midfield serta “kartu as” Cristiano Ronaldo di lini depan. Dalam ujicoba beberapa hari lalu, skuad Quieroz menang 2-0 atas Mozambique, itulah bagian dari persiapan duelnya lawan Pantai Gading 15 Juni mendatang. Pasar tarohan menaroh Brazil pemuncak grup. Satu tiket lainnya akan diperebutkan Portugal dan Pantai Gading yang hampir sama peluangnya untuk lolos ke 16 Besar. Pasar tarohan boleh bertaruh namun tetap saja belum jaminan. ***
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment