Monday, August 9, 2010

Piala Dunia 2010 Serial (16) Jerman vs Serbia

Serial World Cup 2010 (16)
Serial Piala Dunia Afrika Selatan 2010

Jerman vs Serbia
Mempertahankan “the Winning Team”
Oleh : John Halmahera
Published by Sinar Harapan daily news 18 Juni 2010

Ketika Jurgen Klinsmann menggantikan Rudi Voller sebagai pelatih Jerman menyusul kegagalan di Euro 2004, dia merekrut Joachim Low sebagai asistennya. Keduanya menjadi pasangan serasi yang mengubah paradigma permainan “die mannschaft” yang tadinya statis dan cenderung defensif ke filosofi menyerang. Joachim Low yang akrab dipanggil “Jogi” cukup jenius untuk berperan dibelakang layar sebagai perancang taktik.
Maka penampilan Jerman pun berubah. Pola menyerang Jerman yang sudah lama hilang kini muncul kembali. Kombinasi pemain muda dan senior dalam pola menyerang mulai ditampilkan di FIFA Confederations Cup 2005. Jerman dengan “attacking-squad”nya gagal merebut gelar juara di Piala Dunia 2006 yang berlangsung di negeri sendiri.
Semifinal di WM Stadion Dortmund tanggal 4 Juli Jerman kalah dari Italia 0-2 dalam extra-time setelah masa 90 menit berakhir kosong kosong. Dalam perebutan peringkat tiga Jerman menang 3-1 atas Portugal, dua gol dicetak Schweinsteiger, satu lainnya bunuh diri pemain Portugal, Petit.
Fans dan publik Jerman memuji tim polesan Klinsmann, menganggap peringkat tiga bukan kegagalan. Tetapi lebih dari itu penampilan Michael Ballack Cs telah mengembalikan cinta dan harapan fans Jerman kepada “die mannschaft”.
Pasca Germany 2006 Juergen Klinsmann mundur meskipun Federasi dan fans mengimbau agar tetap duduk sebagai pelatih. Singkat cerita, Joachim “Jogi” Low naik pentas sebagai pelatih. Dia meneruskan konsep dan filosofi menyerang Jerman dengan ramuan pemain muda. Menjelang berangkat ke Afrika Selatan 2010 Michael Ballack cidera dan terpaksa keluar dari skuad. Fans dan publik terpukul.
Low cepat bertindak, dia mematangkan Sami Khedira sebagai playmaker dan pekerja di midfield sebagaimana peran Ballack. Ketika dia memainkan pemain berusia 23 tahun dengan tinggi189 cm dari klub VfB Stuttgart menghadapi Australia, orangpun terperangah. Hanya berbekal 5 caps Khedira yang lahir dari ayah Tunisia ibu Jerman, berhasil memainkan peran sentral teamnya dengan bekerja keras dan tanpa kesalahan.
Orang juga terpikat dengan penampilan Mesut Oezil gelandang Werder Bremen yang beroperasi dari sayap kiri. Gerakan tanpa bola, penetrasi dribling, kerja kerasnya dengan kecepatan menjadi sempurna sebagai motor penggerak serangan Jerman yang mengoyak pertahanan Australia. Oezil usia 22 tahun dari orangtua Turki yang lahir di Gelsenkirchen baru 10 caps namun kemampuan dan percaya dirinya ibarat senior yang sudah malang-melintang di klub Eropa.
Empat gol yang dijaring Lukas Podolski, Miroslav Klose, Thomas Muller dan Cacau telah menenggelamkan Australia. Kemenangan itu menempatkan Jerman diambang babak perdelapan final knock-out systeem. Satu kemenangan lagi maka loloslah Jerman mengikuti Argentina yang sudah memastikan lolos setelah menghancurkan Korea Selatan 4-1 Kamis kemarin. Tetapi jelas tidak mudah. Serbia akan melawan. Setelah kekalahan 0-1 dari Ghana, Serbia akan tanding “all-out” merebut kemenangan. Bagi Serbia, kalah dari Jerman artinya peluang tersisih terbuka lebar.
Serbia yang tampil di 2006 dengan nama Serbia Montonegro datang dengan harapan setinggi langit akan lolos ke putaran dua. Skuad asuhan Radomir Antic ini berharap banyak pada sosok defender Manchester United Nemanja Vidic dan Branislav Ivanovic dari Chelsea di lini belakang, sayap CSKA Moscow Milos Krasic dan striker andalan Nikola Zigic yang main di Birmingham. Tidak lupa adalah midfielder Inter Milan, Dejan Stankovic yang tetap diandalkan sebagai kapten yang menjaga keseimbangan tim.
Kalah dari Ghana lahir dari error perorangan, pertama menit 74 Aleksandar Lukovic menerima kartu kuning kedua dan harus menginggalkan lapangan, kedua adalah handsball yang dimanfaat Asamoah Gyan menjadi gol tunggal di menit injury-time. Seria masih bisa memberi perlawanan pada Jerman, permainan kolektif dan keras yang cenderung defensif, kini harus menyerang untuk mencetak kemenangan. Jelas misi yang sulit bagi pelatih Radomir Antic.
Melihat peta kekuatan dan kedudukan dua tim, akan terjadi permainan terbuka. Artinya kedua tim akan ofensif. Jerman ingin cepat lolos ke putaran dua. Serbia ingin menyambung nafas dan membuka kembali pintu ke putaran 16 Besar. Seyogyanya pertandingan Jerman vs Serbia di Nelson Mandela Stadium di Port Elizabeth malam nanti akan enak ditonton.
Jerman masih akan menurunkan “the winning-team”. Kapten Philipp Lahm di bek kanan akan melengkapi kwartet lini belakang bersama bek kiri Holger Badstuber dan pasangan centreback pengalaman Arne Friedrich dan Per Mertesacker melapis penjaga gawang Schalke 04, Manuel Neuer. Peran penyeimbang team masih dipegang Sami Khedira dibantu Thomas Mueller sebagai pekerja keras. Formasi 4-2-3-1 masih dengan pasangan trisula Lukas Podolski, Mesut Oezil, Bastian Schweinsteiger dibelakang striker Miroslav Klose yang sedang memburu gol untuk menyamai rekor striker Brazil Ronaldo. Di bangku cadangan, Cacau striker kelahiran Brazil yang mencetak gol ke-4 ke gawang Australia menunggu giliran, begitu juga gelandang serang Mario Gomez.
Pelatih Radomir Antic mungkin akan mengubah line-up dengan pasangan yang lebih ofensif dan pekerja keras. Bisa saja 4 legiun yang main di bundesliga akan diturunkan Antonio Rukavina (1860 Munich), Neven Subotic (Borussia Dortmund), Gojko Kacar (Hertha Berlin) and Zdravko Kuzmanovic (Stuttgart) dengan kapten Dejan Stankovic serta bintang Standard Liege Milan Jovanovic sebagai motor penggerak tim.
“Jerman sangat impresif ketika menang atas Australia. Mereka juga punya reputasi dan sejarah selama ini di Piala Dunia. Mereka bagaikan mesin, memiliki tujuh pemain yang bisa naik menyerang. Untuk mengimbangi mereka, kita tidak boleh memperlihatkan rasa takut dan main dalam performans kita yang terbaik karena yang kita hadapi adalah tim yang lebih baik dalam segala hal.” Komentar Milan Jovanovic. Tapi dia juga menjanjikan timnya akan “fight”.
Jerman terutama para bintang Bayern Munich terinspirasi jejak langkah Munich yang bisa menembus final Piala Champions musim ini. Skuad Low meskipun tetap merendah namun menyimpan “greget” melaju ke final dan merebut gelar juara. Tampaknya Jerman akan mudah mengatasi Serbia dan meloloskan diri ke putaran 16 Besar. ***

No comments: