Serial World Cup 2010 (15)
Serial Piala Dunia Afrika Selatan 2010
Argentina vs Korea Selatan
Pertaruhan Huh Jung-moo dan Maradona
Oleh : John Halmahera
Published by Sinar Harapan daily news 17 Juni 2010
Laga Korea Selatan versus Argentina di stadion Soccer City Johannesburg 17 Juni malam nanti mengingatkan saya akan persaingan dua nama Huh Jung-Moo dan Diego Maradona, sebagai pelatih kedua tim. Dulu, 24 tahun lalu, tepatnya tanggal 2 Juni 1986 di Piala Dunia Mexico’86 dua nama ini sudah saling berhadapan sebagai pemain yang membela negara masing-masing. Kala itu Korea Selatan kalah 1-3 dari Argentina dalam pertandingan perdananya.
Pertandingan kedua Korea Selatan meningkat dan menahan imbang Bulgaria 1-1. Sayang di pertandingan ketiga yang menentukan lolos tidaknya ke babak 16 Besar, Korea Selatan waktu itu ditukangi Kim Jung Nam kalah 2-3 dari Italia. Salah satu gol ke gawang Italia dicetak Huh Jung Moo, tim Korea Selatan angkat koper alias tersingkir.
Laga malam nanti sangat serius bagi kedua pelatih. Suatu tantangan untuk membuktikan diri sebagai pelatih yang sukses ditengah kritik pers setempat. Huh Jung Moo bekas pemain 1986, pernah pelatih fisik tim 1990, asisten pelatih di tim 1994, diragukan kemampuannya setelah diangkat sebagai pelatih tim ginseng pada Desember 2007. Pers membandingkan Jung Moo dengan pelatih Belanda Guus Hiddink yang membawa Korea Selatan semifinalis kala menjadi tuan rumah bersama Jepang di 2002. Maradona tidak punya pengalaman pelatih dan hanya berbekal nama besar sebagai superstar era 1980-an, sering jadi bulan-bulanan pers karena memanggil 100 pemain lebih untuk menyusun timnya.
Kemenangan para pertandingan awal menempatkan kedua tim pada posisi krusial. Argentina sukses menaklukkan Nigeria 1-0 lewat sundulan bek Gabriel Heinze. Korea Selatan mencatat nilai 3 lewat kemenangan 2-0 atas Yunani, lewat gol Lee Jung Soo dan Park Ji Sung. Pada posisi ini satu kemenangan lagi akan meloloskan ke putaran 16 Besar, mendorong kedua tim untuk ngotot memenangkan pertandingan.
Di atas kertas Argentina dengan tradisi, sejarah dan materi pemain diunggulkan untuk keluar sebagai pemenang. Lionel Messi yang sempat diragukan tampil bagus jika membela Albiceleste julukan tim Argentina, sudah tampil sebagaimana formnya ketika membela klubnya Barcelona. Berkali-kali dia melakukan penetrasi, dribling, umpan dan shot ke gawang. Jika bukan Vincent Enyeama yang dijuluki “the cat” (si kucing) yang mengawal gawang Nigeria, pasti Messi sudah menjaringkan gol. Bagaimana pun juga menang 1-0 sudah sangat memuaskan skuad asuhan Maradona. Hanya perlu satu kemenangan lagi untuk memastikan lolos ke babak knock-out.
Argentina tidak hanya punya Lionel Messi masih ada beberapa nama yang tidak kalah penting. Maradona telah mencoba beberapa pola main, bersama Messi maupun tanpa Messi. Artinya dia sudah siap jika Messi tidak juga kunjung main pada formnya, maka alternatif tanpa Messi akan dia jalankan. Tapi setelah penampilan pertama yang begitu mengesankan, Maradona memeluk keras Messi seusai pertandingan saking gembiranya melihat penampilan Messi, maka alternatif pola tiga penyerang tetap akan dia mainkan. Messi sebagai link-man antara Carlos Tevez dan Gonzalo Higuain. Peranan Messi berada di belakang dua rekan seniornya.
Sesungguhnya Maradona yang paling berjasa. Dia menanyakan pada Messi, posisi mana yang disukai anak muda itu untuk bisa bermain maksimal. Dan Maradona menerapkan pola main sesuai maunya Messi. Hal ini mengingatkan dia ketika menjadi sentra team atau pemain nucleus team Argentina di Piala Dunia 1986 yang sukses merebut gelar juara itu. Waktu membangun timnya pelatih Carlos Bilardo sempat tukar pikiran dengan pelatih Cesar Menotti yang sukses merebut gelar 1978. Kata Menotti kepada Billardo, kamu dekati Maradona, beri dia kekuasaan dan kebebasan maka semua pemain akan patuh padanya. Hal itu juga yang Menotti lakukan pada teamnya, memberi kapten Daniel Passarella kekuasaan penuh di lapangan bahkan sampai pada batasan minta pergantian pemain.
Tetapi Messi lain, Maradona dan Passarella lain. Messi hanya diberi pilihan memilih posisi yang paling enak. Dia tak punya kekuasaan. Tapi dia punya kebebasan untuk inisiatif pergerakan di lapangan. Javier Mascherano yang dipercaya kapten dan penguasa. Juan Veron sebagai pengatur tim. Jika Veron yang sudah veteran letih atau cidera, salah satu dari dua penggantinya akan masuk, Maxi Rodriguez atau Mario Bolatti. Kemarin ketika lawan Nigeria, Maxi masuk menggantikan Veron pada menit 74.
Di atas kertas Argentina diunggulkan menang. Tapi dalam sepakbola sering terjadi tim underdog bisa mengalahkan tim yang mungkin satu kelas diatasnya. Contoh yang paling segar adalah sukses Swiss menaklukkan juara Euro 2008 Spanyol di kota Durban Rabu kemarin. Pasar tarohan, pers bahkan semua pengamat bola menjagokan Spanyol. Tetapi fighting spirit yang tak kenal lelah, tak kenal takut, tim Swiss telah membalik semua ramalan.
Korea Selatan juga membalik ramalan ketika mengalahkan Yunani telak 2-0 di laga perdana, kejutan meskipun tidak sebesar kejutan Swiss kalahkan Spanyol. Tetapi permainan kolektif, semangat tanding yang pantang menyerah dan strategi memanfaatkan kecepatan telah membuat Yunani kedodoran.
Pasukan Huh Jung Moo sudah siap-siap untuk membuat kejutan lagi. Di kandang sendiri 2002 mereka telah mengalahkan tim unggulan Polandia, Portugal dan Italia. Namun kemenangan itu dicurigai adanya bantuan tangan wasit. Tetapi satu hal yang tak bisa dipungkiri bahwa gaya speed and power Korea Selatan yang didukung stamina dan fisik prima, telah membawa tim negeri ginseng itu ke jajaran elit.
Permainan agresif, menyerang dan bertahan tanpa kenal lelah digerakkan oleh kapten Park Ji-Sung yang sering jadi starting lineup klub Manchester United. Selain pekerja keras, Ji Sung juga disegani karena dalam karirnya dia yang paling sukses dibanding pemain lain. Ji Sung didukung pilar lain Lee Jung-Soo (Kashima) si pencetak gol pertama ke gawang Nigeria, Cha Du-Ri (Freiburg), Kim Sung-Yueng (Celtic), Lee Chung Yong (Bolton), Park Chu Young (Monaco). Mereka inilah yang jadi penggerak Korea Selatan mendorong semua pemain bekerja keras.
Huh Jung Moo telah memberi peringatan kepada semua tim, bahwa skuadnya bisa bermain di top level dan bisa mengimbangi tim mana pun juga. Jelas mereka akan menyerang, targetnya mengalahkan Argentina dan secepatnya memosisikan diri di putaran 16 Besar. Argentina menyerang, Korea Selatan juga menyerang, tentunya pertandingan ini akan menarik ditonton. Bagaimanapun juga pasar tarohan tetap mengunggulkan Argentina. Kita lihat saja nanti. ***
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment